Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra P-ISSN: 1978-8800. E-ISSN: 2614-3127 http://journal. um-surabaya. id/index. php/Stilistika/index Vol. 17 No. Juli 2024, hal 147-168 MAKNA LEKSIKAL. MAKNA KULTURAL. DAN KEARIFAN LOKAL DALAM LEKSIKON PETERNAKAN SAPI PERAH DI KECAMATAN CEPOGO. KABUPATEN BOYOLALI LEXICAL MEANING. CULTURAL MEANING. AND LOCAL WISDOM IN THE LEXICON OF DAIRY CATTLE FARMING IN CEPOGO DISTRICT, BOYOLALI REGENCY Brenzila Rendy Yordania1*. Nur Fateah2 Sastra Jawa. Universitas Negeri Semarang. Indonesia1,2 brenzila02@students. id1, alfath23@mail. *penulis korespondensi Info Artikel ABSTRAK Sejarah artikel: Diterima: 28 Mei 2024 Direvisi: 25 Juni 2024 Disetujui: 12 Juli 2024 Setiap bidang pekerjaan biasanya memiliki leksikon khusus yang sering digunakan, termasuk dalam peternakan sapi perah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis makna leksikal, makna kultural, dan kearifan lokal dari leksikon yang berkaitan dengan peternakan sapi perah menggunakan teori dari Abdul Chaer dengan pendekatan semantik serta teori dari Robert Sibarani dengan pendekatan antropolinguistik. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah masyarakat di Kecamatan Cepogo. Kabupaten Boyolali yang berprofesi sebagai peternak sebanyak 8 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara yaitu observasi, wawancara, serta teknik catat dan teknik rekam sesuai dengan teori dari Ardiansyah. Kemudian dilakukan triangulasi data menggunakan teori dari Susanto & Jailani. Data yang diperoleh berupa leksikon seputar peternakan sapi perah yang kemudian dianalisis. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa penggunaan leksikon dapat mencerminkan makna leksikal dan kultural serta kearifan lokal yang mengandung nilai budaya, pengetahuan tradisional tentang interaksi manusia dengan hewan ternak, serta pengetahuan peternak untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas hewan ternak. Kata kunci: makna leksikal dan makna kultural, kearifan lokal, leksikon sapi perah Article Info ABSTRACT Article history: Received: 28 May 2024 Revised: 25 June 2024 Accepted: 12 July 2024 Each field of work typically has its own specialized lexicon, including in dairy farming. This research aims to analyze the lexical meanings, cultural meanings, and local wisdom related to dairy farming using theories by Abdul Chaer with a semantic approach and Robert Sibarani with an anthropolinguistic approach. The method used is qualitative descriptive The data sources are members of the community in Cepogo District. Boyolali Regency, specifically 8 dairy farmers. Data collection involves methods such as observation, interviews, note-taking, and recording techniques, following theories by Ardiansyah. Data triangulation is conducted using theories by Susanto & Jailani. The obtained data consist of lexicons related to dairy farming, which are then analyzed. The research findings indicate that the use of lexicons can reflect lexical and cultural meanings as well as local wisdom containing cultural values, traditional knowledge of livestock, and the knowledge of farmers in maintaining and improving livestock productivity. Keyword: lexical meaning and cultural meaning, local wisdom, semantics, dairy cow lexicon Copyright A 2024. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra DOI: http://dx. org/10. 30651/st. Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 PENDAHULUAN Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Melalui bahasa, orang dapat berinteraksi, mengomunikasikan ide, pesan, serta pengetahuan dengan baik secara lisan maupun tertulis. Oleh karena itu, masyarakat selalu memelihara bahasa mereka dengan penuh kepedulian. Di sisi lain, bahasa adalah hasil dari budaya yang bisa dilihat dari beragam cara berbicara atau kosakata yang digunakan oleh suatu kelompok masyarakat (Emha et al. , 2. Bahasa serangkaian bunyi yang memiliki Bentuk makna dapat berbentuk makna kata, makna dalam istilah khusus atau peristilahan, dan lain sebagainya. Makna peristilahan ini sering ditemui dalam berbagai bidang di masyarakat (Rizki et al. Peristilahan adalah istilah atau kombinasi kata yang secara proses, situasi, atau karakteristik yang spesifik dalam suatu bidang tertentu (Karana et al. , 2. Contohnya kedokteran, pertanian, perdagangan, pendidikan, perkebunan, peternakan, dan sebagainya. Satu di antara beberapa bidang tersebut memiliki istilah yang khas di dalamnya. di bidang peternakan. Terdapat peternakan di Indonesia, salah satunya adalah peternakan sapi Di Jawa Tengah, ada salah satu kabupaten yang dikenal sebagai kota susu, yaitu Kabupaten Boyolali. Disebut sebagai kota susu karena menjadi salah satu daerah penghasil susu sapi perah terbesar dan paling produktif di Jawa Tengah. Terletak di dataran tinggi, wilayah ini menjadikan kondisi lingkungan yang sangat mendukung untuk budi daya sapi perah, dengan ketinggian tempat berkisar antara 75 hingga 1. meter di atas permukaan laut . dan rata-rata curah hujan 2. 000 mm per tahun (Parmawati et al. , 2. Kecamatan Cepogo, yang terletak di Kabupaten Boyolali. Jawa Tengah, memiliki potensi luar biasa sebagai pusat pengembangan usaha ternak sapi perah. Keberadaan dataran tinggi dengan temperatur yang rendah membuatnya sangat cocok untuk kegiatan peternakan sapi perah. Menurut Rachmawanto . , faktor ketinggian dari permukaan air laut menjadi indikator penting dalam menentukan kondisi mendukung pertumbuhan optimal bagi sapi perah. Tingginya produktivitas sapi perah sangat tergantung pada manajemen pemeliharaan yang baik. Aspek-aspek manajemen pemeliharaan sapi perah meliputi pembibitan ternak dan reproduksi, pemberian makanan ternak, kondisi perkandangan, proses pemerahan, dan upaya menjaga kesehatan hewan (Nugraha et al. Masyarakat Cepogo dalam memilih calon indukan biasanya melihat dari ciri fisiknya. Cara ini tergolong sangat mudah karena dapat dilakukan hanya dengan melihat Salah satu ciri fisik sapi yang baik adalah sapi yang memiliki postur tubuh yang lebar dan besar, masyarakat biasanya menyebutnya dengan istilah ebyah. Sapi ebyah banyak diminati oleh para peternak karena sapi dengan ciri fisik ini Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 biasanya dapat menghasilkan susu dengan jumlah yang banyak. Selain ebyah terdapat juga ciri fisik sapi yaitu merit. Istilah merit dapat diartikan sebagai lawan kata dari istilah ebyah. Karena sapi dengan ciri fisik merit merupakan sapi yang memiliki postur tubuh kecil. Selain untuk ciri fisik tubuh, istilah merit juga sering digunakan untuk menggambarkan bentuk dari ekor Ebyah dan merit merupakan istilah atau leksikon lokal di Kecamatan Cepogo dalam budi daya sapi perah yang menggambarkan ciri fisik sapi. Ebyah merujuk pada sapi dengan postur tubuh lebar dan besar, sementara merit mengacu pada sapi dengan postur tubuh kecil. Secara kultural, ebyah dapat diartikan sebagai kekayaan dan kemakmuran karena sapi yang besar sering dianggap lebih menguntungkan dalam produksi susu dan daging. sisi lain, merit diartikan sebagai efisiensi dan kepraktisan karena sapi yang kecil memerlukan lebih sedikit sumber daya untuk pemeliharaan dan dapat lebih mudah diatur. Meskipun peternakan sapi perah merupakan bagian dari mata pencaharian masyarakat Cepogo, namun penelitian dan eksplorasi mengenai leksikon yang terkait dengan aktivitas peternakan sapi perah masih sangat terbatas. Banyak penelitian ilmiah telah mencakup aspek-aspek manajemen, nutrisi, dan kesehatan sapi perah, akan tetapi tidak adanya penelitian pada kebahasaan dalam konteks ini membuat kurangnya pengetahuan tentang bahasa yang terkait. Penelitian ini menggunakan kajian semantik untuk menganalisis makna peristilahan dalam budi daya sapi perah di Kecamatan Cepogo. Kabupaten Boyolali. Fokus pada penelitian ini adalah pemahaman istilah-istilah digunakan dalam peternakan sapi Pendekatan memahami konsep-konsep yang terkandung dalam istilah-istilah budi daya sapi perah. Hasil penelitian ini wawasan bagi pengembangan dan peningkatan praktik budi daya sapi perah di wilayah tersebut. Selain makna leksikal dan makna kultural, penelitian ini juga kearifan lokal yang ada pada peternakan sapi perah menggunakan Kearifan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat di suatu tempat atau daerah yang berkaitan dengan cara lingkungan di sekitar mereka. Membahas tentang kearifan lokal berarti merujuk pada nilai-nilai yang dianggap baik oleh masyarakat di suatu daerah tertentu (Hartati et al. Hal ini mencakup nilai-nilai dan perilaku yang diterapkan oleh masyarakat lokal untuk menjaga dan memanfaatkan lingkungan dengan baik (Manurung et al. , 2. Sejalan dengan itu. Fateah & Sartika . mengatakan bahwa kearifan lokal terwujud dalam kehidupan seharihari sebagai pengetahuan, pola interaksi . , dan pola tindakan dalam praktik hidup masyarakat. Dengan kata lain, kearifan lokal masyarakat untuk hidup secara harmonis dengan alam dan cara mengambil keputusan yang bijak dalam menggunakan sumber daya Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 Sejauh penelusuran yang telah dilakukan peneliti, belum pernah ada penelitian yang membahas terkait leksikon peternakan sapi perah. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan di antaranya dari sektor perekonomian (Panyuluh et al. dan (Kartika et al. , 2. sektor kesehatan (Susilaningrum et , 2. (Tanuwiria et al. , 2. (Munawaroh et al. , 2. (Aldeyano et al. , 2. (Ningrum et al. , 2. (Nuraini et al. , 2. (Rokhayati et , 2. , dan (Savitri et al. , 2. dan sektor manajemen (Kolo et al. dan (Sari et al. , 2. Selain internasional terkait sapi perah. Yaitu penelitian yang berkaitan dengan kesehatan sapi perah. antaranya penelitian dari (Ricci et al. (Khaneabad et al. , 2. (Kostyunina et al. , 2. (Antanaitis et al. , 2. Masingmasing membahas tentang pengoptimalan susu yang dihasilkan dari sapi perah, pengaruh suhu lingkungan untuk perkembangan sapi perah, vaksinasi untuk menunjang kesehatan sapi perah, dan campuran makanan yang cocok untuk pertumbuhan sapi Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori leksikal. Makna leksikal mengacu pada arti dasar dari suatu lambang kebahasaan, yang belum memperoleh konotasi atau hubungan gramatika khusus (Kirana et al. Dengan kata lain, makna leksikal mencakup esensi dasar suatu kata atau lambang bahasa tanpa tambahan yang mungkin muncul akibat penggunaan atau konteks Makna interpretasi yang timbul dari pola pikir dan kebiasaan masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan dapat bervariasi tergantung pada konteks budaya yang berbeda (Rizkia et al. , 2. Dalam konteks simbol-simbol membawa makna yang bersifat khusus dan tergantung pada nilainilai, norma, dan tradisi yang dianut oleh masyarakat setempat. Dengan mencerminkan bagaimana suatu kelompok masyarakat memberikan arti dan nilai terhadap elemenelemen simbolis dalam kehidupan sehari-hari mereka. Menurut Chaer . alam Nafinuddin, 2. , semantik merupakan istilah yang digunakan dalam bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tandatanda linguistik dengan hal-hal yang Definisi lain dari semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan makna dari ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu wicara (Gani, 2. Antropolinguistik adalah kajian keterkaitan budaya dan bahasa. Dalam antropolinguistik, lebih digunakan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sosial masyarakat (Hamriani et al. , 2. Mempelajari budaya dalam antropolinguistik berarti melibatkan pemahaman yang mendalam tentang budaya melalui analisis bahasa atau memahami bahasa sebagai sarana untuk memahami kebudayaan, terutama dari perspektif linguistik (Sibarani dalam Sofiani et al. , 2. Berdasarkan hal yang telah diuraikan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 makna leksikal dan makna kultural dari leksikon yang ada pada peternakan sapi perah serta kearifan lokal yang ada di dalamnya. Dalam konteks ini, penelitian ini tidak hanya memberikan wawasan mendalam terhadap aspek linguistik dari peternakan sapi perah tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keragaman dan kompleksitas aktivitas peternakan yang sering kali Dengan merinci leksikon ini dengan makna leksikal dan penelitian ini dapat memberikan sumbangan signifikan pada literasi mendorong pemahaman yang lebih praktik-praktik peternakan sapi perah. METODE Penelitian ini menggunakan Penelitian deskriptif adalah jenis penelitian menggambarkan berbagai fenomena yang ada, baik yang alami maupun yang diciptakan oleh manusia. Fenomena tersebut dapat mencakup bentuk, aktivitas, karakteristik, kesamaan dan perbedaan antara satu fenomena dengan fenomena lainnya (Rusli, 2. Dengan demikian, penelitian deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran yang akurat dan komprehensif tentang situasi yang diamati. Penelitian ini didasarkan pada objek yang berupa leksikon pada peternakan sapi perah di Kecamatan Cepogo. Kabupaten Boyolali. Bentuk penelitian ini adalah penelitian Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengamati perilaku sosial, manusia, atau objek yang diteliti melalui observasi langsung mendapatkan informasi yang valid. Hasil penelitian ini kemudian dilaporkan dalam bentuk narasi atau tulisan dengan pendekatan ilmiah (Rahadi, 2. Sumber data pada penelitian ini adalah narasumber yang telah ditetapkan oleh peneliti. Narasumber masyarakat di Kecamatan Cepogo. Kabupaten Boyolali sebanyak 8 orang yang berprofesi sebagai peternak sapi perah minimal 10 tahun beternak dan minimal berusia 40 tahun. Narasumber dengan ketentuan tersebut dipilih karena sudah menguasai berbagai hal tentang peternakan sapi perah. Data dalam penelitian ini berupa leksikon yang berkaitan dengan peternakan sapi perah. Leksikon tersebut mencakup ciri fisik sapi, perawatan sapi, penyakit dan kesehatan sapi, dan tingkah laku sapi. Menurut Ardiansyah et al. , metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif di antaranya adalah metode observasi. Metode pertama yang dilakukan peneliti adalah observasi. Peneliti langsung terjun ke lapangan untuk melakukan pengamatan terhadap objek yang akan diteliti. Metode observasi digunakan oleh peneliti untuk mencari dan mendapatkan data berupa leksikon di peternakan sapi Kedua menggunakan metode wawancara, penulis melakukan metode ini menggunakan daftar pertanyaan yang sudah disiapkan dan dengan teknik pancing. Disiapkan daftar pertanyaan bertujuan agar tidak membuang waktu dan dapat Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 pancing dilakukan agar narasumber merasa nyaman saat diwawancara. Ketiga menggunakan teknik catat penggunakan alat tulis untuk mencatat leksikon yang dituturkan oleh narasumber dan menggunakan alat perekam suara untuk merekam Data yang telah terkumpul kemudian dilakukan triangulasi data. Triangulasi merupakan metode analisis yang menggabungkan data dari beberapa sumber untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif (Susanto & Jailani. Triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan hasil data dari satu tempat dengan sumber dan informan yang berbeda yaitu dengan beberapa peternak sapi perah yang telah terpilih. Menurut Wijaya . , dalam analisis data terdapat beberapa prosedur di antaranya adalah membuat daftar data yang sesuai dengan tujuan penelitian dari hasil pengumpulan data, membuat label atau mengklasifikasikan data, dan memberikan simpulan pada hasil Dari paparan tersebut, teknik analisis data yang dilakukan peneliti sebagai berikut. Mencatat rekaman suara yang telah dilakukan mengklasifikasikan data berdasarkan ciri fisik sapi, perawatan sapi, penyakit dan kesehatan sapi, dan tingkah laku sapi. menganalisis data berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan yaitu makna leksikal dan makna kultural dalam kajian semantik serta kearifan lokal yang ada pada peternakan sapi perah. yang terakhir mengambil simpulan dari hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Makna Leksikal dan Makna Kultural Penelitian ini menganalisis leksikon yang terdapat pada peternakan sapi perah untuk dijelaskan makna leksikal dan kultural dalam kajian semantik serta kearifan lokal dengan kajian Data wawancara yang telah dilakukan Leksikon tersebut mencakup ciri fisik sapi, perawatan sapi, penyakit dan kesehatan sapi, dan tingkah laku Leksikon yang Berkaitan dengan Ciri Fisik Sebelum beternak sapi perah, para pedagang dan peternak biasanya melihat sapi dari ciri fisiknya untuk dijadikan acuan dari kondisi sapi tersebut. Terdapat beberapa leksikon yang biasa digunakan oleh peternak sebagai penanda dari ciri fisik sapi, di antaranya. Tabel 1. Leksikon ciri fisik Leksikon Fonetik Ebyah . Merit . Caruk . Daplang . aplaU] Mopor . OpO. Poel . Geretan . Tracak . Ebyah . Secara mengacu pada sapi dengan badan yang lebar dan besar. Seperti yang Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 dikatakan Kirana et al. bahwa makna leksikal adalah makna asli dari lambang suatu Makna leksikal ini berkaitan dengan dimensi fisik sapi dalam konteks peternakan. Badan yang lebar menjadi ciri yang diinginkan dalam penilaian kesehatan, dan kemampuan untuk menghasilkan susu yang baik. Sedangkan aspek-aspek budaya, tradisi, atau konvensi yang terkait dengan kata tersebut dalam masyarakat atau kelompok Dalam konteks peternakan sapi perah, ebyah memiliki makna kultural yang melambangkan nilai tertentu yang dimiliki oleh para peternak. Sapi dengan badan yang lebar kekayaan, kemakmuran, atau keuntungan karena sapi yang besar sering dianggap lebih menguntungkan dalam produksi susu dan daging. Banyaknya susu yang dihasilkan jika dikaitkan dengan genetik, maka sejalan dengan pendapat Nugraha et al. yang mengatakan bahwa genetik mempengaruhi beberapa aspek yang berkaitan dengan produksi susu dan kualitas daging. Merit . Makna definisi literal atau konsep yang terkandung dalam kata itu sendiri. Dalam konteks ini, merit mengacu pada ciri fisik sapi yang memiliki tubuh kecil. Makna leksikal ini berkaitan dengan ukuran tubuh sapi, menunjukkan bahwa sapi tersebut memiliki tubuh yang lebih kecil dari rata-rata sapi pada Selain sebagai ciri tubuh sapi, merit juga sering dijadikan penanda dari ciri ekor Secara pemilihan dan penilaian sapi. Sapi dengan tubuh kecil dianggap memiliki kelebihan tertentu, seperti efisiensi pakan dan kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan yang baru. Sejalan Antanaitis et al. , yang mengatakan bahwa sapi dapat lingkungan dan aktivitas sapi itu Oleh karena itu, merit dalam konteks peternakan sapi dapat merujuk pada preferensi atau standar tertentu dalam pemilihan dan manajemen ternak. Caruk . Dalam kajian semantik, caruk menggambarkan ciri fisik tanduk sapi yang tumbuh melengkung ke arah dalam, menuju arah kepala atau tubuh Secara leksikal, caruk adalah deskripsi anatomi pada sapi, merujuk pada karakteristik tanduk yang menonjol pada sapi. Sedangkan dari segi kultural, tergantung pada budaya atau tradisi peternakan setempat. Seperti yang diketahui bahwa makna kultural merupakan makna dari hasil pemikiran masyarakat mengenai bahasa dalam konteks budaya (Rizkia et al. , 2. Beberapa melengkung ke dalam sebagai tanda keindahan atau keaslian dari Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 tanduk sapi tersebut, sementara yang lain melihatnya sebagai masalah kesehatan atau potensi risiko terhadap sapi itu sendiri karena tanduk yang tumbuh melengkung ke arah kepala dapat melukai sapi itu sendiri. Penilaian terhadap caruk juga dapat mencerminkan preferensi atau norma dalam pemilihan atau pemeliharaan ternak. Daplang . aplaU] Daplang juga diartikan sebagai ciri dari tanduk sapi, namun berbeda dengan merit. Daplang merupakan sebutan untuk tanduk sapi yang tumbuh lurus memanjang. Secara kultural, daplang mencerminkan preferensi atau keindahan atau keaslian. beberapa peternakan, tanduk sapi yang tumbuh lurus seperti daplang dapat dipandang sebagai indikator keunggulan genetik atau kesehatan yang diinginkan. Nilai simbolis dari daplang juga dapat berkaitan dengan tradisi atau mempengaruhi cara sapi dilihat dan dipelihara. Dalam arti lain, tanduk yang tumbuh lurus kekuatan atau keanggunan dan menambah nilai estetika sapi Mopor . OpO. Secara adalah istilah yang merujuk pada ciri fisik dari mulut sapi yang Istilah ini sering digunakan khususnya di daerah Kabupaten Boyolali untuk menggambarkan ciri-ciri fisik sapi, terutama pada sapi-sapi yang memiliki mulut yang lebar. Dalam kajian semantik, pemahaman tentang istilah mopor tidak hanya mencakup dimensi fisik saja, tetapi juga memiliki aspek kultural yang penting. Konsep pemahaman budaya tentang sapi sebagai hewan ternak untuk peternakan dan produksi susu. Sapi dengan mulut yang lebar dianggap memiliki kemampuan untuk mengonsumsi lebih banyak pakan, sehingga dianggap sebagai ciri fisik yang diinginkan oleh para peternak. Seperti yang dikatakan oleh Nuraini et al. bergantung pada kondisi sapi dan manajemen peternakan. Dengan demikian, sapi yang memiliki mulut yang lebar dianggap lebih bagus atau menguntungkan dalam produksi dan pertumbuhannya. Poel . Poel adalah istilah yang menggambarkan sapi yang sudah ganti gigi atau sudah dewasa. Secara leksikal, poel mengacu pada tahap perkembangan sapi Istilah tentang fase kehidupan hewan ternak, khususnya sapi. Makna poel tidak hanya mencakup deskripsi fisik atau tahap perkembangan biologis. Poel juga mencerminkan nilai-nilai budaya yang terkait dengan kedewasaan, kekuatan, dan kesuburan. Sapi poel dianggap lebih berharga di peternakan karena dianggap lebih kuat, memiliki daya tahan yang Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 Oleh karena itu, memiliki sapi poel dianggap sebagai aset yang bernilai tinggi. Selain itu, poel juga mencerminkan simbolisme dalam kehidupan masyarakat. Sapi poel sering dihubungkan kemapanan dan kemakmuran karena dianggap sebagai hasil dari upaya dan perawatan yang baik dari peternak. Menurut Rokhayati et al. , sapi yang sudah berumur atau sudah dewasa maka produksi susu. Konsep ini menjadi bagian dari kesadaran budaya dalam masyarakat, di mana memiliki sapi poel bukan hanya tentang keuntungan materi, tetapi juga tentang status sosial Geretan . Geretan adalah istilah yang digunakan untuk menentukan usia sapi berdasarkan tanduknya. Secara leksikal, geretan mengacu tanda-tanda pada tanduk sapi yang menandakan usia atau Istilah tradisional yang telah diperoleh secara turun temurun dalam Geretan menjadi bagian dari kearifan lokal dalam pengelolaan ternak sapi, di mana peternak dapat memperkirakan usia sapi dengan memperhatikan karakteristik pada tanduknya. Aktivitas ini mencerminkan keterlibatan manusia dengan lingkungan, di mana pengamatan karakteristik hewan menjadi Geretan juga mencerminkan hubungan antara manusia dan hewan dalam budaya peternakan. Pengetahuan tentang geretan tidak hanya diturunkan dari generasi ke generasi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang dijunjung tinggi. Menurut Ningrum et al. usia sapi menjadi faktor yang mempengaruhi kesehatan sapi jika dijadikan sebagai indukan sapi perah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya hewan ternak, seperti sapi, dalam kehidupan sehari-hari dan budaya peternakan masyarakat Jawa. Tracak . Tracak adalah istilah yang merujuk pada kuku sapi yang sudah tua. Secara leksikal, tracak mengacu pada kondisi kuku sapi yang sudah tua atau telah mengalami proses Istilah deskripsi fisik dari kondisi kuku sapi, di mana kuku yang sudah tua cenderung lebih keras dan lebih susah untuk dipotong. Secara tentang siklus kehidupan hewan Kuku sapi yang sudah tua menandakan usia sapi yang telah lama hidup, dan sering dianggap sebagai simbol kekuatan dan Dalam budaya Jawa, sapi yang telah bertahan hidup lama dianggap memiliki nilai yang tinggi, karena dianggap kekuatan yang lebih baik. Selain itu, dengan adanya sapi perah dengan kualitas yang baik, maka dapat meningkatkan Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 perekomian peternak (Panyuluh et , 2. Pemahaman tentang pentingnya sapi sebagai aset dalam kehidupan masyarakat Jawa, tidak hanya sebagai sumber makanan atau tenaga kerja, tetapi juga sebagai bagian penting dari identitas budaya dan kehidupan sehari-hari. Leksikon yang Berkaitan dengan Perawatan Sapi Tabel 2. Leksikon perawatan sapi Leksikon Fonetik Guyang . uyaU] Kombor . OmbO. Keloh . Ngepoh [UypO. Ibek . Guyang . uyaU] Makna leksikal dari guyang Guyang adalah deskripsi literal dari aktivitas yang dilakukan terhadap sapi Jadi, secara leksikal, guyang merujuk pada sapi yang sedang dalam proses mandi. Di sisi lain, guyang juga memiliki makna kultural yang lebih luas. Memandikan sapi adalah bagian penting dari perawatan hewan ternak. Mandi tidak hanya membersihkan sapi dari kotoran, tetapi juga dianggap meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan sapi tersebut. Oleh karena itu, dalam konteks kebersihan, dan kesejahteraan hewan ternak. Di dalam budaya masyarakat, memandikan sapi juga bisa memiliki makna simbolis yang Memandikan sapi dapat dianggap sebagai tindakan yang memperkuat ikatan antara pemilik menunjukkan perhatian dan kasih sayang terhadap sapi. Seperti yang dikatakan Aldeyano et al. beternak yang lama akan manajemen dan interaksi dengan hewan ternak. Dengan demikian, guyang dalam konteks makna kultural tidak hanya merujuk pada aktivitas memandikan sapi, tetapi juga pada nilai-nilai seperti perawatan, kesejahteraan, dan hubungan antara manusia dan hewan ternak. Kombor . OmbO. Makna leksikal dari kombor adalah memberikan makanan kepada sapi berupa campuran yang terdiri dari air, ampas tahu, dan singkong. Kombor adalah deskripsi dari jenis makanan yang diberikan kepada sapi dalam proses pemberian makan. Kombor makna kultural yang cukup luas. Di dalam peternakan, pemberian makanan kepada sapi bukan hanya sekadar tindakan memberi makan, tetapi juga bagian penting dari perawatan dan kebiasaan sehari-hari. Campuran makanan seperti yang terdapat dalam kombor sering kali dipilih karena kandungan nutrisinya yang sesuai dengan kebutuhan sapi. Menurut Tanuwiria penambahan campuran pada meningkatkan jumlah produksi Oleh karena itu, kombor dalam konteks makna kultural Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 melambangkan perawatan yang terhadap sapi Kombor juga bisa memiliki nilai-nilai sosial dan budaya yang Proses memberi makan kepada sapi sering kali menjadi waktu untuk berinteraksi dengan hewan ternak, mengamati kondisi mereka, dan merawat mereka dengan penuh perhatian. Dengan demikian, kombor tidak hanya merujuk pada campuran makanan saja, tetapi juga pada nilai-nilai seperti perawatan, interaksi, dan hubungan manusia dengan hewan ternak dalam. Keloh . Secara leksikal, keloh adalah bagian dalam hidung sapi yang diberi lubang dan diberi senar agar sapi lebih jinak. Keloh merupakan kondisi sapi yang telah dimodifikasi untuk tujuan tertentu yaitu dengan memberi lubang di dalam hidungnya, di mana senar atau tali diikat untuk mempengaruhi perilaku sapi. Selain itu, keloh juga memiliki makna kultural. Dalam peternakan, sapi sering digunakan untuk bekerja di ladang atau sebagai hewan ternak untuk membantu pekerjaan sehari-hari. Penggunaan keloh merupakan salah satu cara tradisional untuk mengendalikan sapi agar lebih mudah diatur dan lebih patuh pada perintah pemiliknya. Penggunaan keloh juga bisa memiliki makna lain. Keloh mencerminkan pengetahuan dan keterampilan tradisional yang diwariskan dari generasi ke mengelola dan merawat hewan Ngepoh [UypO. Makna leksikal dari ngepoh adalah proses pengambilan susu sapi menggunakan tangan. Secara leksikal, kata ini merujuk pada tindakan fisik mengambil susu dari sapi dengan cara langsung menggunakan tangan. Namun, di dalam kajian semantik, ada juga makna kultural yang terkandung di dalamnya. Secara kultural, ngepoh merujuk pada sebuah kegiatan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat peternak sapi perah. Kegiatan ini tidak hanya sekadar cara untuk mendapatkan susu, tetapi juga menjadi momen sosial di dalam Namun, cara pengambilan susu sapi dengan cara ngepoh, tidak lebih steril dari cara pengambilan Seperti yang dikatakan Susilaningrum et al. bahwa hasil pengambilan susu secara modern lebih steril karena langsung terkumpul dalam wadah penampung susu tanpa kontak dengan udara langsung. Ngepoh juga merupakan bagian dari budaya lokal yang kaya akan nilai-nilai tradisional. Proses ini tidak hanya menjadi cara untuk memperoleh susu, tetapi juga membawa makna kebersamaan, dan kerja keras. Dengan demikian, secara kultural, ngepoh mencerminkan kekayaan masyarakat peternak sapi. Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 Ibek . Ibek memiliki makna leksikal yaitu kawin suntik sapi, yang secara harfiah mengacu pada proses pengawinan antara sapi betina dengan menggunakan Secara leksikal, leksikon ini merujuk pada tindakan teknis dalam peternakan untuk memperbanyak jumlah sapi. Di dalam kajian semantik, ibek juga memiliki makna kultural yang penting. Praktik ini teknologi dalam peternakan modern yang memungkinkan peternak untuk mengoptimalkan reproduksi hewan ternak mereka. Inseminasi alternatif yang lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan metode kawin konvensional atau Namun, inseminasi buatan juga memiliki risiko keguguran. Seperti yang dikatakan Khaneabad et al. , terdapat infeksi virus yang dapat menyebabkan keguguran pada sapi betina. Sebelum perkawinan, sebaiknya peternak harus memperhatikan manajemen pemeliharaan, manajemen pakan, dan kesehatan (Munawaroh et al. Namun di sisi lain, ibek juga mencerminkan perubahan budaya dalam cara pandang masyarakat terhadap peternakan. Di peternakan sapi, sapi tidak hanya dipandang sebagai sumber penghasil susu dan daging, tetapi juga sebagai simbol kekayaan. Dalam menunjukkan perubahan dalam cara masyarakat memandang reproduksi hewan ternak, dari sebuah proses alami menjadi sebuah proses yang direkayasa. Leksikon yang Berkaitan dengan Penyakit dan Kesehatan Sapi Tabel 3. Leksikon penyakit dan kesehatan sapi Leksikon Fonetik Majer . Genjah . Ngenomi [UynOm. Majer . Makna leksikal dari majer adalah sapi betina yang tidak bisa hamil atau mandul. Secara harfiah, majer mengacu pada keadaan reproduktif sapi betina yang tidak mampu menghasilkan Majer mendeskripsikan secara teknis merujuk pada ketidaksuburan pada hewan ternak. Sapi yang mandul biasanya terjadi karena alat-alat reproduksi yang kurang baik sehingga menjadikan mandul (Kurnianto et al. , 2. Majer juga memiliki makna kultural yang perlu dianalisis. Dalam peternakan, sapi betina yang mandul seringkali dianggap sebagai aset yang kurang bernilai karena tidak dapat menghasilkan Hal ini bisa menjadi beban ekonomi bagi peternak, karena sapi yang tidak bisa berkembang biak tidak dapat Sejalan dengan pendapat Ricci et al. bereproduksi dengan baik akan lebih menguntungkan. Tidak ekonomi, majer juga membawa dampak sosial dan budaya. Dalam Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 keturunan dari hewan ternak bisa jadi simbol kekayaan dan Sapi betina yang kegagalan dalam mencapai tujuan dan bisa dianggap sebagai sumber masalah bagi peternak yang bergantung pada produksi ternak untuk mencari nafkah. Genjah . Genjah memiliki makna leksikal sebagai sapi betina yang subur atau mudah hamil. Gejah reproduksi yang baik pada sapi betina, di mana sapi tersebut cenderung mudah hamil dan Menurut Kurnianto et al. dipengaruhi oleh hewan ternak itu sendiri dan dari faktor keturunan. Di dalam kajian semantik, genjah juga memiliki makna Dalam masyarakat peternakan, genjah dianggap sebagai aset yang sangat Sapi betina yang subur merupakan modal utama bagi peternak karena kemampuannya untuk menghasilkan keturunan Hal memungkinkan peternak untuk memperluas ternaknya dengan cepat, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan ekonomi peternak. Di sisi lain, genjah juga mencerminkan pandangan sosial dan budaya terhadap reproduksi hewan ternak. Memiliki sapi betina yang subur dianggap sebagai tanda keberuntungan dan Hal ini karena reproduksi yang baik dari hewan ternak dianggap sebagai faktor penting dalam keberlangsungan hidup dan kesejahteraan keluarga Ngenomi [UynOm. Secara leksikal, ngenomi berarti sapi yang kakinya sakit di bagian kuku sehingga kakinya tidak bisa untuk menapak. Ngenomi mengacu pada kondisi medis pada sapi di mana ada masalah atau sakit pada kuku kaki sehingga sapi tersebut kesulitan atau bahkan tidak mampu menopang berat badannya dengan kaki yang sakit. Sedangkan secara kultural, ngenomi seringkali dianggap sebagai kondisi yang menyulitkan dan bahkan merugikan bagi Sapi yang mengalami masalah pada kuku kakinya tidak dapat berjalan dengan normal, sehingga memungkinkan sapi kesulitan untuk berdiri dan Hal mengakibatkan penderitaan bagi sapi tersebut dan menurunkan produktivitas dalam peternakan. Sejalan Aldeyano et al. , bahwa sapi yang kukunya sedang sakit akan merugikan peternak karena sapi akan sering duduk, bobot berkurang, dan produksi susu Dari segi kultural, ngenomi juga mencerminkan pentingnya perawatan dan pengawasan yang baik dalam peternakan. Peternak yang berhasil dalam memelihara ternaknya biasanya memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan hewan dan mampu masalah kesehatan pada hewan Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 Leksikon yang Berkaitan dengan Tingkah Laku Sapi Tabel 4. Leksikon tingkah laku sapi Leksikon Fonetik Njerum . Nyondhol . OndhO. Nggayemi [Ugayym. Mbajaki . Njerum . Makna leksikal dari njerum adalah sapi yang sedang duduk atau istirahat. Njerum mengacu pada posisi tubuh sapi yang berada dalam keadaan duduk atau beristirahat di tanah. Njerum ini dideskripsikan sebagai posisi fisik sapi dalam suatu kondisi tertentu. Dalam kajian semantik, njerum juga memiliki makna kultural yang penting. Di dalam budaya peternakan, aktivitas njerum bagi sapi bukan hanya sekadar proses fisik untuk mengistirahatkan tubuh, tetapi juga mencerminkan pola hidup dalam kehidupan sapi di dalam Sapi yang sedang njerum menunjukkan bahwa mereka sedang beristirahat dari aktivitas sehari-hari mereka, dengan sesama sapi, atau bergerak di sekitar peternakan. Njerum juga mencerminkan hubungan yang erat antara peternak dan hewan. Peternak dapat mengamati perilaku sapi mereka dengan cermat, termasuk saat sapi sedang istirahat. Seperti yang dikatakan Kurnianto et al. , bahwa peternak harus menjaga lingkungan, memberikan pakan yang tepat dan cukup, mengganti pakan secara berkala, menghindari membuat sapi stres. Dengan begitu dapat membantu kondisi kesehatan hewan ternak mereka, serta membantu dalam pengelolaan peternakan. Nyondhol . OndhO. Secara leksikal, nyondhol merujuk pada anakan sapi yang Nyondhol menggambarkan situasi di mana anak sapi masih bergantung pada induknya untuk Menurut Kolo et al. , anakan sapi harus menyusu pada indukannya karena untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya. Secara kultural, nyondhol juga membawa makna yang lebih Di kalangan masyarakat, nyondhol memiliki konotasi emosional yang kuat. Nyondhol menandakan kesatuan keluarga dan ikatan antara induk dan anak. Hal ini mencerminkan pentingnya hubungan keluarga dan nilai-nilai kebersamaan dalam budaya di lingkungan masyarakat. Selain itu, nyondhol juga sering dijadikan sebagai keadaan untuk menggambarkan kebersamaan, perlindungan, dan perawatan, baik dalam konteks keluarga maupun masyarakat luas. Dengan demikian, leksikon nyondhol tidak hanya merujuk pada gambaran fisik, tetapi juga membawa nilai-nilai budaya yang Nggayemi [Ugayym. Nggayemi memiliki makna menghaluskan kembali makanan yang sudah dimakan dengan cara menegembalikannya ke mulut. Nggayemi mengacu pada perilaku Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 sapi yang makanan yang telah dikunyah sebelumnya, dicerna, dan dimuntahkan kembali ke dalam mulut untuk dikunyah Secara kultural, nggayemi mencerminkan hubungan yang erat antara sapi dan alam Dalam menggunakan cara ini untuk mendapatkan manfaat maksimal dari makanan yang mereka Menurut Antanaitis et al. , salah satu faktor cepatnya adalah dari lingkungan sekitar. Jadi, aktivitas pentingnya adaptasi hewan ternak terhadap lingkungannya untuk memastikan kelangsungan hidup dan kesejahteraan. Secara budaya, nggayemi juga dapat dilihat sebagai bagian dari pengetahuan tradisional yang Pengetahuan tentang perilaku makan sapi, yaitu nggayemi turuntemurun yang membantu peternak dalam merawat ternak mereka dengan baik. Mbajaki . Makna leksikal dari mbajaki adalah sapi jantan yang sedang menaiki sapi betina untuk kawin. Mbajaki mengacu pada aktivitas reproduksi di mana sapi jantan sedang melakukan hubungan seksual dengan sapi betina dalam rangka mengawinkannya. Selain mbajaki juga memiliki makna Dalam peternakan, proses pembiakan sapi seringkali dianggap sebagai salah satu aspek paling penting dalam menjaga kelangsungan hidup usaha peternakan. Mbajaki merupakan bagian dari proses reproduksi yang sangat penting populasi ternak dan memperbaiki kualitas genetik dari sapi. Seperti yang dikatakan Sammad et al. , bahwa solusi peternakan untuk jangka panjang adalah direncanakan dan perbaikan Secara kultural, mbajaki mencerminkan pandangan sosial Sapi melakukan mbajaki sering kali kelangsungan hidup peternakan. Di dalam kalangan masyarakat, keberhasilan sapi jantan dalam melakukan proses kawin terhadap sapi betina dianggap sebagai keberuntungan bagi peternak. Mbajaki menggambarkan keahlian dan pengetahuan peternak dalam memilih waktu yang tepat untuk melakukan pembiakan. Sejalan dengan pendapat Aldeyano et al. , pengalaman beternak peternak memiliki manajemen yang baik. Peternak biasanya memperhatikan siklus reproduksi sapi betina dan tanda-tanda memutuskan waktu yang tepat untuk membiakkan sapi jantan dengan sapi betina. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pengalaman dan pengetahuan Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 Kearifan Lokal yang Terdapat Masyarakat Sekitar Peternakan Sapi Perah Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat di suatu tempat atau daerah yang berkaitan dengan cara lingkungan di sekitar mereka (Hartati et al. , 2. Kearifan lokal mendalam tentang hubungan antara bahasa, budaya, dan lingkungan dalam konteks peternakan sapi Antropolinguistik sendiri merupakan kajian yang membahas mengenai keterkaitan budaya dan bahasa (Sibarani dalam Sofiani et al. Peternakan sapi perah di Kecamatan Cepogo. Kabupaten Boyolali bukan hanya tentang perekonomian, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat yang bergantung pada lingkungan dan tradisi budaya mereka. Dalam kearifan lokal dalam peternakan sapi perah fokus pada penggunakan leksikon dan budaya lokal dalam kegiatan sehari-hari. Bahasa merupakan alat yang pengetahuan, tradisi, dan praktik budaya dari generasi ke generasi. Para peternak sapi perah di Kecamatan Cepogo, seringkali mendeskripsikan ciri fisik, perilaku, perawatan, dan penyakit sapi perah yang bertujuan untuk pemahaman dan pengelolaan ternak. Misalnya pada leksikon majer dan genjah, para peternak menggambarkan leksikon tersebut sebagai kondisi sapi betina antara mandul atau subur. Dari leksikon tersebut mencerminkan pengetahuan peternak yang mendalam tentang karakteristik ras atau keturunan tertentu dari sapi perah. Penggunaan leksikon ini memungkinkan peternak memahami karakteristik dari setiap memengaruhi pada pembiakan dan manajemen peternakan. Selain itu, budaya lokal juga memengaruhi pemahaman tentang perawatan dan keberlangsungan peternakan mereka. Jumlah dari hewan ternak merupakan indikator dari kesejahteraan sosial mereka. Untuk memperbanyak hewan ternak, mereka tidak harus membeli hewan tetapi dapat dilakukan pembiakan. Ibek merupakan penyebutan untuk kawin suntik pada sapi betina. Ibek mencerminkan pengetahuan tentang proses reproduksi hewan ternak mereka yang mana merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka. Penggunakaan kata ibek juga mencerminkan hubungan sosial antara para peternak dengan lingkungan sekitar. Istilah ini digunakan dan dikenal secara luas di dalam suatau kelompok peternakan sapi perah dan menunjukkan bahwa bahasa memiliki peran penting dalam membentuk identitas budaya dan sosial. Kecamatan Cepogo terletak beternak sapi perah karena cuacanya yang dingin. Di dataran tinggi tentunya menyediakan pakan alami yang segar untuk makanan sapi Sejalan dengan pendapat Nugraha memerlukan asupan energi yang cukup untuk mendukung produksi susu yang optimal. Pakan yang Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 mengandung karbohidrat tinggi, seperti rumput segar, jerami, atau pakan konsentrat, memberikan sumber energi yang baik untuk metabolisme dan produksi susu. Namun, selain makanan tersebut. Cepogo memberikan pakan campuran kepada sapi perah meraka. Masyarakat menyebutnya dengan istilah kombor. Kombor merupakan penyebutan khusus bagi sapi yang diberikan makanan berupa campuran air, ampas tahu, dan singkong. Dari mencerminkan bahwa masyarakat Cepogo memiliki pengetahuan turun temurun yang biasanya digunakan untuk perawatan hewan ternak mereka agar mendapatkan hasil yang Kearifan lokal di Kecamatan Cepogo. Kabupaten Boyolali, tercermin dalam leksikon yang berkaitan dengan peternakan sapi perah yang menunjukkan hubungan erat antara bahasa dan budaya masyarakat setempat. Istilah-istilah seperti ebyah dan merit, yang menggambarkan pengetahuan yang karakteristik fisik sapi yang ideal untuk produksi susu. Di Kecamatan Cepogo, masyarakat menganggap sapi yang memiliki ukuran besar lebih menguntungkan karena dapat memproduksi susu yang lebih Namun tidak semua sapi perah yang memiliki tubuh besar juga memproduksi susu yang Poel yang berarti sapi dewasa berdasarkan gigi, serta geretan, yang tanduknya, menunjukkan metode tradisional yang digunakan oleh peternak untuk mengelola ternak mereka tanpa teknologi modern. Kearifan lokal dalam kajian antropolinguistik di Kecamatan Cepogo, dapat dilihat melalui istilah Penggunaan istilah poel dan geretan mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap lingkungan mereka serta kemampuan mereka dalam memanfaatkan sumber daya lokal tanpa bergantung pada teknologi modern. Peternak di Cepogo menggunakan tanda-tanda fisik alami pada sapi, seperti perubahan gigi dan pertumbuhan tanduk untuk menentukan usia dan Pengetahuan ini sangat penting kesehatan, dan produktivitas ternak. Leksikon ngepoh, yang merujuk pada pengambilan susu sapi secara tradisional dengan tangan, adalah contoh kearifan lokal di Kecamatan Cepogo. Kabupaten Boyolali. Dalam mencerminkan hubungan erat antara bahasa, budaya, dan pengetahuan tradisional masyarakat setempat. Istilah menggambarkan pengambilan susu, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai norma-norma Penggunaan teknik tradisional ini terhadap metode yang telah orang-orang terdahulu di masyarakat setempat. Hal ini mencerminkan keberlanjutan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Meskipun teknologi modern seperti mesin pemerah susu sudah tersedia dan mungkin lebih efisien, peternak di Cepogo mempertahankan cara tradisional ini. Tetapi ada juga peternak yang sudah Yordania. Fateah/Makna Leksikal Makna A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Juli 2024. Hal 147-168 menggunakan cara modern untuk memerah susu sapi. Istilah nyondhol merujuk pada anak sapi yang sedang menyusu induknya, serta istilah mbajaki yang menggambarkan perilaku kawin alami sapi jantan. Kedua istilah ini masyarakat terhadap siklus hidup menunjukkan bagaimana bahasa berfungsi sebagai alat untuk Nyondhol dan mbajaki menunjukkan bahwa masyarakat Cepogo memiliki pengetahuan yang luas mengenai manajemen ternak yang mencakup aspek nutrisi, kesehatan, dan reproduksi. Dengan pendekatan antropolinguistik dapat mengungkapkan bahwa bahasa lokal tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai alat untuk menyalurkan pengetahuan praktik-praktik kesejahteraan hewan ternak. PENUTUP Dari hasil yang telah menggambarkan bagaimana bahasa dan budaya berperan penting dalam peternakan sapi perah di Kecamatan Cepogo. Kabupaten Boyolali. Beberapa istilah khusus yang digunakan oleh masyarakat setempat menggambarkan kearifan lokal dan pengetahuan mereka tentang ternak Leksikon tersebut tidak hanya menjelaskan aspek seputar fisik, perawatan, kesehatan, dan tingkah laku sapi tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya, tradisi, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Misalnya, istilah poel menunjukkan sapi yang sudah dewasa berdasarkan gigi, sedangkan geretan menunjukkan usia sapi dari tanduknya. Kearifan lokal ini menunjukkan adaptasi Cepogo lingkungan mereka dan kemampuan sumber daya lokal tanpa bergantung pada teknologi modern. Hubungan memberikan pandangan yang luas tentang bagaimana masyarakat Cepogo mengelola ternak mereka dengan baik. Oleh karena itu, dengan hubungan antara semua leksikon ini, kita dapat mengembangkan wawasan yang lebih dalam tentang dunia dampaknya pada lingkungan sekitar. Selain itu, penting untuk dilakukan peningkatan pemahaman tentang leksikon terkait dengan sapi perah, baik di kalangan peternak maupun masyarakat umum agar interaksi antara manusia dan hewan ternak dapat ditingkatkan menjadi lebih Perlu juga diadakan program pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai budaya dan pengetahuan lokal dalam praktik peternakan sapi. Dengan cara ini, diharapkan dapat produktivitas hewan ternak dengan memperhatikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat peternak dan lingkungan sekitarnya. DAFTAR PUSTAKA