Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Amherstia Pasca(Prin. Rina. Rahma Kusumandari. Yanto P. ISSN. (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 30996/persona. Website: http://jurnal. untag-sby. id/index. php/persona Volume 7. No. Desember 2018 Volume 7. No. Desember 2018 Kedisiplinan Berlalu Lintas Pada Siswa SMA Amherstia Pasca Rina. Rahma Kusumandari. Yanto Prasetyo E-mail: pascarina@untag-sby. Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Abstract The purpose of this study is to examine whether there is a relationship between role taking ability and social support with traffic discipline in This study involved 292 high school students taken using cluster random sampling techniques from 5 Public and Private High Schools in Surabaya. The measuring instruments used are role taking scale, social support scale, and traffic discipline scale. The results showed a correlation between role taking ability and discipline of traffic amounting to rxy = 0. 148 with a value of p = 0. <0. That is, there is a significant positive correlation between role taking ability and traffic discipline. While the correlation between social support and traffic discipline is rxy = 0. 712, with a value of p = 0. <0. That is, there is a significant positive correlation between social support and traffic discipline. The results of the study also showed that role taking ability and social support together could influence the discipline of traffic, with a value of R = 0. The effective contribution of role taking and social support for traffic discipline is Key word: Discipline, role taking, social support Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah ada hubungan antara kemampuan role taking dan dukungan sosial dengan kedisiplinan berlalu lintas pada remaja. Penelitian ini melibatkan 292 siswa SMA yang diambil menggunakan teknik cluster random sampling dari 5 SMA Negeri maupun Swasta di Surabaya. Alat ukur yang digunakan adalah skala role taking, skala dukungan sosial, dan skala kedisiplinan berlalu lintas. Hasil penelitian menunjukkan korelasi antara kemampuan role taking dengan kedisiplinan berlalu lintas sebesar rxy= 0. 148 dengan nilai p=0. <0. Artinya, ada korelasi positif yang signifikan antara kemampuan role taking dengan kedisiplinan berlalu lintas. Sedangkan korelasi antara dukungan sosial dengan kedisplinan berlalu lintas sebesar rxy= 0. 712, dengan nilai p = 0. <0,. Artinya, ada korelasi positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan kedisiplinan berlalu lintas. Hasil penelitian juga menunjukkan, kemampuan role taking dan dukungan sosial secara bersama-sama dapat mempengaruhi kedisiplinan berlalu lintas, dengan nilai R=0. Adapun sumbangan efektif role taking dan dukungan sosial terhadap kedisiplian berlalu lintas sebesar 50,7%. Kata Kunci: Disiplin, role taking, dukungan sosial Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Persona: Jurnal Psikologi Indonesia E-mail: jurnalpersona@untag-sby. ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Page | 200 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Pendahuluan Permasalahan lalu lintas di Indonesia menjadi semakin kompleks seiring dengan berkembangnya jumlah penduduk dan jumlah kendaraan bermotor yang ada. Hasil penelitian yang ada sebelumnya menunjukkan bahwa remaja abai terhadap himbauan dari kepolisian untuk disiplin berlalu lintas (Rakhmani, 2. Jenis-jenis pelanggaran yang dilakukan dalam berlalu lintas antara lain: menggunakan jalan dengan cara yang dapat membahayakan dirinya dan pengendara lain, mengendarai kendaraan tanpa disertai SIM dan STNK, tidak memenuhi ketentuan terkait dengan plat nomor dan kelengkapan kendaraan bermotor yang dikendarai, serta pelanggaran terhadap ketentuan tentang jumlah muatan yang diijinkan. Siswa siswi SMA dan SMK yang berada fase remaja, merupakan fase yang penuh tantangan. Terkadang jiwa muda yang menggelora membuat siswa siswi secara sengaja maupun tidak sengaja mecoba untuk berkendara secara ugal-ugalan karena terburu-buru, sehingga melanggar aturan lalu lintas atau tersulut emosi dijalan. Hal ini akan berdampak buruk, yaitu terjadinya kecelakaan lalu lintas yang bukan hanya merugikan diri, tetapi juga merugikan masyarakat luas. Banyaknya mengindikasikan rendahnya kedisiplinan berlalu lintas yang dimiliki. Hal tersebut juga dapat berdampak pada meningkatnya jumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi. Hasil survey dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan bahwa 57% korban kecelakaan lalu lintas berpendidikan sekolah lanjutan atas, dan pada peringkat kedua sebanyak 17% berpendidikan sekolah lanjutan pertama . Lebih jauh lagi, hasil survey menemukan bahwa kecelakaan kendaraan bermotor banyak melibatkan pengguna jalan yang berusia remaja akhir. Disiplin berlalu lintas mempunyai peran yangpenting untuk menjaga keselamatan diri maupun para pengguna jalan lainnya. Disiplin artinya tertib mematuhi aturan dan norma norma lalu lintas dijalan. Pada prakteknya, disiplin berlalu lintas di jalan dapat berupa tindakan mematuhi rambu lalu lintas, mengontrol emosi, mengontrol diri selama berkendara, menghargai hak orang lain untuk menggunakan fasilitas yang ada, serta sabar dan fokus. Kedisiplinan berlalu lintas dapat dilihat menggunakan beberapa aspek berikut: . Alertness . , pengendara yang memiliki kewaspadaan akan Amherstia Pasca Rina. Rahma Kusumandari. Yanto Prasetyo | 201 selalu siaga dan waspada terhadap pengguna jalan. Sikap waspada membuat pengendara akan lebih berhati-hati terhadap diri sendiri maupun orang lain. Awarenes . , pengendara yang memiliki kesadaran berlalu lintas akan memahami prosedur berkendara yang baik, benar dan aman serta memiliki pengetahuan tentang aturan-aturan berkendara. Kesadaran akan pentingnya mengemudi dengan benar, membuat pengendara mematuhi rambu-rambu lalu lintas dalam berkendara. Attitude . ikap dan menta. , sikap dan mental pengendara yang baik ditunjukkan dengan lebih mementingkan kepentingan umum, kepentingan dan keselamatan orang lain. Dengan mementingkan kepentingan orang lain, secara tidak langsung pengendara telah menjaga keselamatan diri sendiri. Pengendara yang memiliki sikap dan mental yang baik akan lebih menghargai dan menghormati pengguna jalan (Sutawi, 2. Berdasarkan aspek-aspek kedisiplinan berlalu lintas yang disampaikan oleh Sutawi . , sikap mental pengendara yang memiliki kedisiplinan berlalu lintas adalah mementingkan kepentingan umum. Agar dapat mementingkan kepentingan umum, individu harus mampu memahami perasaan dan perspektif orang lain. Kemampuan tersebut disebut sebagai kemampuan role taking. Kemampuan role taking melibatkan kemampuan untuk membuat kesimpulan khusus mengenai kemampuan, atribut, harapan, perasaan, dan potensi reaksi dari orang lain (Selman, 1. Lebih jauh. Selman . menyebutkan bahwa kematangan dalam role taking ability mendukung kemampuan individu untuk dapat mengambil tindakan yang lebih baik dengan mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Kemampuan role taking yang memungkinkan individu untuk dapat mempertimbangkan dampak tindakannya bagi orang lain. Selain itu, kemampuan memahami harapan, keyakinan, dan emosi orang lain akan mendukung kemampuan individu untuk mengambil keputusan dalam seting sosial (Frith & Singer, 2. Implikasinya pada pengendara kendaraan bermotor, kemampuan role taking akan mendukung kemampuan individu untuk memahami dampak tindakan yang diambil saat mengemudi terhadap pengguna jalan yang lain. Dengan demikian, ia mampu mengontrol dirinya saat mengendarai kendaraannya sehingga tidak mengganggu atau menghalangi pengguna jalan yang lain. Dengan kata lain, indvidu akan lebih mampu mengambil keputusan yang terbaik dalam situasi yang dihadapi saat mengendarai kendaraan bermotor. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 202 Remaja seringkali dipengaruhi oleh lingkungan sosial dalam pembentukan Dukungan sosial yang positif akan dapat membantu remaja untuk menunjukkan perilaku yang positif dalam lingkungan sosialnya. Baron dan Byrne . menyebutkan bahwa dukungan sosial merupakan kenyamanan secara fisik & psikologis yang diberikan oleh teman/anggota keluarga. Dukungan sosial dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain untuk meningkatkan produktivitas kerja, meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kemampuan penyesuaian diri, memperjelas identitas, menambah harga diri dan mengurangi stress, dan meningkatkan serta memelihara kesehatan fisik, serta belajar lebih lanjut untuk mengelola stress dan tekanan yang dihadapi (Johnson & Johnson, 1. Dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial dapat mendukung para remaja sebagai pengguna jalan dapat lebih adaptif dalam mengambil tindakan saat mengendarai kendaraan bermotor. Penelitian ini memfokuskan untuk melihat pengaruh dukungan sosial dari keluarga terhadap remaja. Sarafino . menjelaskan bahwa dukungan sosial mengacu pada memberikan kenyamanan pada orang lain, merawatnya atau menghargainya. Dukungan sosial yang diterima dapat membuat individu merasa tenang, diperhatikan, timbul rasa percaya diri dan kompeten. Sarason . menyebutkan bahwa dukungan sosial memiliki 4 aspek, yaitu: . Dukungan emosional: berupa penghargaan, perhatian, dan keterbukaan. Dukungan instrumental: berupa penyediaan sarana yang dapat mempermudah tujuan yang ingin dicapai dalam bentuk materi, pemberian kesempatan waktu, pekerjaan, peluang, serta modifikasi perilaku. Dukungan kognitif: berupa informasi, nasehat dan petunjuk yang diberikan untuk menambah pengetahuan seseorang dalam mencari jalan keluar pemecahan masalah, . Dukungan perilaku: berupa pemberian penghargaan atas usaha yang dilakukan, memberikan umpan balik mengenai hasil atau prestasi, penghargaan dan kritik yang membangun. Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti ingin menguji hubungan antara role taking dan dukungan sosial terhadap kedisiplinan berlalu lintas pada remaja. Remaja yang dimaksudkan disini adalah remaja yang sedang menempuh pendidikan tingkat SMA/SMK di Surabaya. Hipotesis dari penelitian ini adalah ada hubungan antara role taking dan dukungan sosial dengan kedisiplinan berlalu lintas pada remaja. Implikasi dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi wacana mengenai faktor-faktor yang dapat memberikan pengaruh pada kedisiplinan berlalu lintas pada remaja. Dengan Amherstia Pasca Rina. Rahma Kusumandari. Yanto Prasetyo Page I 203 demikian, program-program meningkatkan kedisiplinan berlalu lintas pada remaja dapat lebih tepat dalam membidik faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan termasuk dalam jenis penelitian korelasional, yaitu penelitian yang bertujuan untuk melihat hubungan antar Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara kemampuan role taking dan dukungan sosial dengan kedisiplinan berlalu lintas. Penelitian ini memiliki dua variabel bebas yaitu kemampuan role taking (X. dan dukungan sosial (X. , serta satu variabel tergantung yaitu kedisiplinan berlalu lintas (Y). Secara operasional, kedisiplinan berlalu lintas adalah tingkah laku para pemakai jalan di jalan umum yang baik dan benar, dengan mengikuti dan mematuhi peraturan dan ketertiban (BPKP) dan SIM. Aspek-aspek dalam kedisiplinan berlalu lintas adalah alertness . , awareness . , dan attitude . Kemampuan Role Taking . emampuan mengambil pera. adalah kemampuan individu dalam mengambil peran. Kemampuan tersebut meliputi bagaimana individu menghadapi tekanan ekspektasi-ekspektasi sosial terhadap peran yang diambil, bagaimana individu mampu melihat sudut pandang orang lain, dan bagaimana individu memahami pikiran dan perasaan orang lain. Dukungan sosial adalah pemberian kenyamanan pada orang lain, merawatnya atau menghargainya. Dukungan sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dukungan sosial dari keluarga yang meliputi: dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan kognitif, dan dukungan perilaku. Pemilihan subjek dalam penelitian ini menggunakan metode cluster random sampling dengan memilih secara random sekolah yang akan dijadikan sasaran Sekolah yang menjadi sasaran adalah SMA atau SMK di Surabaya yang oleh tim peneliti dibagi kedalam 5 zona: Surabaya pusat. Surabaya utara. Surabaya timur. Surabaya selatan, dan Surabaya barat. Masing-masing zona dipilih satu sekolah dengan cara mengundi sekolah-sekolah yang berada pada zona yang dimaksudkan. Seteah ditentukan 5 sekolah secara random, pemilihan siswa yang menjadi responden Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 204 didasarkan pada rekomendasi dari pihak sekolah. 5 sekolah yang terlibat dalam penelitian ini terdiri dari SMA Negeri. SMK dan SMA Swasta yang berada di Surabaya. Jumlah subjek yang didapatkan dari peneitian ini adalah 292 siswa SMA se Surabaya. Pengumpulan data penelitian menggunakan skala kedisiplinan berlalu lintas, s k a l a k e m a m p u a n role taking dan sk al dukungan sosial yang disusun sendiri oleh Sebelum dilakukan untuk mengumpulkan K e d i s i p l i n a n b e r l a l u l i n t a s , s k a l a kemampuan role-taking dan s k a l a dukungan sosial terlebih diuji validitas serta reliabilitasnya. Pengujian validitas meliputi validitas isi melalui professional judgement, selanjutnya dilakukan uji diskriminasi item untuk melihat daya beda dari masing-masing item. Uji diskriminasi item ditentukan dengan mengikuti aturan uji diskriminasi item, yaitu berdasarkan nilai indeks Corrected Item-Total Correlation yang diperoleh melalui analisis program SPSS. Selain uji validitas, dilakukan pula uji reliabilitas atau keajegan alat ukur menggunakan fungsi Reliability Analysis yang dianalisa dengan program spss. Setelah dilakukan pengujian terhadap alat ukur, maka data yang diperoleh dapat dikatakan sebagai data yang Nilai indeks diskriminasi dan reliabilitas dari masing-masing alat ukur dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini: Tabel 1. Indeks diskriminasi dan reliabilitas alat ukur Jumlah Indeks Alat ukur Skala kedisiplinan berlau lintas 0,323 Ae 0,506 Skala dukungan sosial 0,429 Ae 0,602 Skala role taking 0,267 Ae 0,400 Reliabilitas 0,801 0,867 0,570 Analisis data penelitian dilakukan menggunakan teknik analisis regresi berganda. Sebelum analisis dilakukan, uji prasyarat pada data penelitian dilakukan terlebih dahulu. Hasil uji normalitas data menggunakan teknik Kolmogorov Smirnov mendapatkan nilai 705 dengan signifikansi p=0. 702 (P>0. Artinya sebaran data hasil peneitian ini berdistribusi normal. Amherstia Pasca Rina. Rahma Kusumandari. Yanto Prasetyo Page I 205 Tabel 2. Uji Normalitas Sebaran One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parametersa Most Extreme Differences Unstandardized Residual Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. -taile. Hasil uji linieritas hubungan antara variabel kemampuan role taking dengan kedisiplinan berlalu lintas diperoleh skor linearity sebesar F=6. 511 dengan signifikansi sebesar p= 0. 000 (P<0. Artinya terdapat hubungan yang linier antara variabel kemampuan role taking dengan kedisiplinan berlalu lintas. Hasil uji linieritas hubungan antara variabel dukungan sosial dan kedisiplinan berlalu lintas diperoleh skor linearity sebesar F=358. 128 dengan signifikansi sebesar p= 0. 000 (P <0. Artinya terdapat hubungan yang linier antara variabel dukungan sosial dengan kedisiplinan berlalu lintas. Berdasarkan hasil uji prasayarat pada data penelitian yang menyatakan bahwa data dalam sebaran yang normal dan linier maka analisis data menggunakan teknik analisis regresi berganda dapat dilanjutkan. Tabel 3. Uji Linieritas Kemampuan Role Taking dengan Kedisiplinan Berlalu Lintas ANOVA Table Kedisiplinan Berlalu Lintas * Kemampuan Role Taking Between Groups (Combine. Sum of Squares Sig. Mean Square Linearity Deviation Linearity Within Groups Total Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 206 Tabel 4. Uji Linieritas Dukungan Sosial dengan Kedisiplinan Berlalu Lintas Kedisiplinan Berlalu Lintas * Dukungan Sosial ANOVA Table Sum of Squares (Combine. Linearity Between Groups Deviation Linearity Within Groups Total Mean Square Sig. Hasil Hasil analisis deskriptif pada data penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kedisiplinan berlalu lintas yang didapatkan sebesar 56,34. Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa 1% subyek memiliki kedisplinan berlalu lintas yang rendah, 59% memiliki kedisiplinan berlalu lintas yang tergolong sedang, dan sisanya 40% memiliki kedisiplinan berlalu linats yang tergolong tinggi. Kemampuan role taking yang dimiliki siswa memiliki nilai rata-rata 14. Sejumlah 2% dari subjek penelitian memiliki kemampuan role taking yang rendah, 49% memiliki kemampuan role taking sedang, dan 49% memiliki kemampuan role taking yang tinggi. Sedangkan rata-rata skor dukungan sosial yang diperoleh adalah 63,51. Hasil analisa data deskriptif menunjukkan bahwa tidak ada subjek yang memiliki dukungan sosial keluarga yang rendah, 17% subjek memliki dukungan sosial yang tergolong sedang, dan 83% subjek memiliki dukungan sosial yang tergolong tinggi. Hasil deskriptif dari data penelitian tersebut adalah sebagai berikut: Tabel 5. Hasil Analisis Deskriptif Variabel Kedisilinan Berlalu Lintas Kemampuan Role Taking Dukungan Sosial Mean Rendah Kategori Sedang Tinggi Amherstia Pasca Rina. Rahma Kusumandari. Yanto Prasetyo Page I 207 Tabel 6. Kategorisasi Skor Kedisiplinan Berlalu Lintas Kategori Tinggi Sekali Tinggi Sedang Rendah Rendah Sekali Rentang Skor > 66 59 Ae 66 52 Ae 58 45 Ae 51 < 45 Tabel 7. Kategorisasi Skor Kemampuan Role Taking Kategori Tinggi Sekali Tinggi Sedang Rendah Rendah Sekali Rentang Skor > 18 15 Ae 18 13 Ae 14 9 Ae 12 Tabel 8. Kategorisasi Skor Dukungan Sosial Kategori Tinggi Sekali Tinggi Sedang Rendah Rendah Sekali Rentang Skor > 80 69 Ae 80 57 Ae 68 46 Ae 56 < 46 Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa nilai korelasi antara kemampuan role taking dengan kedisiplinan berlalu lintas sebesar rxy=0. 148 dengan signifiknasi sebesar p=0. <0. Artinya terdapat hubungan positif yang signifikan antara kemampuan role taking ability dengan kedisiplinan berlalu lintas. Hal ini berarti semakin tinggi kemampuan role taking maka akan semakin tinggi kedisiplinan berlalu lintas. Selanjutnya, korelasi antara dukungan sosial dengan kedisiplinan berlalu lintas sebesar rxy=0. 712 dengan signifikansi sebesar p=0. <0. Artinya terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan kedisiplinan berlalu lintas. Hal ini berarti semakin tinggi dukungan sosial yang diterima maka akan semakin tinggi kedisiplinan berlalu lintas. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 208 Tabel 9. Nilai Korelasi Dukungan Sosial dan Role Taking dengan Kedisiplinan Berlalu lintas Kedisilinan Berlalu Dukungan Role Taking Lintas Sosial Ability Pearson Correlation Sig. -taile. Kedisilinan Berlalu Lintas Role Taking Ability Dukungan Sosial Kedisilinan Berlalu Lintas Role Taking Ability Dukungan Sosial Kedisilinan Berlalu Lintas Role Taking Ability Dukungan Sosial Pengaruh dukungan sosial dan kemampuan role taking terhadap kedisiplinan berlalu lintas sebesar R= 0. 712, artinya terdapat pengaruh positif yang signifikan dukungan sosial dan kemampuan role taking terhadap kedisiplinan berlalu lintas. Skor R-Square sebesar 0. 507 menunjukkan sumbangan efektif variabel kemampuan role taking dan dukungan sosial terhadap kedisiplinan berlalu lintas sebesar 50. Dapat diartikan variabel lain memiliki pengaruh sebesar 49,3% terhadap kedisiplinan berlalu Tabel 10. Pengaruh antara Dukungan Sosial dan Role Taking Ability Terhadap Kedisiplinan Berlalu Lintas Std. Error of the Model R Square Adjusted R Square Durbin-Watson Estimate Predictors: (Constan. Role Taking Ability. Dukungan Sosial Dependent Variable: Kedisilinan Berlalu Lintas Persamaan model regresi yang diperoleh adalah Y= 27. X1 0. X2. Konstanta sebesar 27. 122 dapat diartikan jika tidak ada kemampuan role taking dan dukungan sosial maka kedisiplinan berlalu lintas adalah 27. endah sekal. Koefisien regresi kemampuan role taking sebesar 0. 048 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 skor kemampuan role taking akan meningkatkan kedisiplinan berlalu lintas sebesar Selanjutnya, koefisien regresi dukungan sosial sebesar 0. 449 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 skor dukungan sosial akan meningkatkan kedisiplinan berlalu lintas sebesar 0. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dukungan Amherstia Pasca Rina. Rahma Kusumandari. Yanto Prasetyo Page I 209 sosial memberikan pengaruh lebih besar terhadap kedisiplinan berlalu lintas, jika dibandingkan dengan kemampuan role taking. Adapun penambahan 1 angka pada variabel kemampuan role taking dan dukungan sosial secara bersama-sama dapat meningkatkan kedisiplinan berlalu lintas sebesar 0. Tabel 11. Koefisien Regresi Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Sig. Coefficients Std. Error (Constan. Role Taking Ability Dukungan Sosial Beta Dependent Variable: Kedisiplinan Berlalu Lintas Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan korelasi antara kemampuan role taking dengan kedisiplinan berlalu lintas sebesar rxy= 0. 148 dengan sig. = 0. <0. , sedangkan dukungan sosial memiliki korelasi yang lebih kuat dengan kedisiplinan berlalu lintas sebesar rxy= 0. 712 dengan sig. = 0. <0. Artinya, baik variabel kemampuan role taking maupun variabel dukungan sosial keduanya memiliki hubungan positif yang signifikan dengan kedisiplinan berlalu lintas, tetapi dukungan sosial memiliki hubungan yang lebih kuat. Hal ini berarti jika kemampuan role taking atau dukungan sosial tinggi maka kedisiplinan berlalu lintas juga akan tinggi. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Selman . yang mengatakan bahwa kemampuan role taking mendukung kemampuan individu untuk dapat mengambil tindakan yang lebih baik dengan mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Kemampuan role taking membuat individu mampu melihat sudut pandang orang lain, dan bagaimana individu memahami pikiran dan perasaan orang lain. Tingginya kemampuan role taking inilah yang menyebabkan siswa SMA/SMK di Surabaya dapat dikatakan cukup memiliki kesiagaan dan kewaspadaan pada pengguna mengetahui aturan-aturan dan prosedur berkendara. serta dapat mengutamakan kepentingan umum, keselamatan diri sendiri, dan orang lain. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 210 Tingginya kedisiplinan berlalu lintas pada siswa SMA/SMK di Surabaya dapat dilihat dari hasil uji deskriptif pada data penelitian yang menunjukkan bahwa rata-rata nilai kedisplinan berlalu lintas yang diperoleh subjek penelitian adalah 56,34 . ategori Sejumlah 59% subjek penelitian memiliki kedisplinan berlalu lintas yang tergolong sedang, dan 40% memiliki tingkat kedisplinan berlalu lintas yang tergolong Disisi lain, rata-rata nilai kemampuan role taking yang diperoleh subjek adalah sebesar 14 . ategori sedan. Hanya sejumlah 2% dari subjek yang memiliki kemampuan role taking rendah, sedangkan 49% memiliki kemampuan role taking yang tergolong sedang dan 49% lainnya tergolong tinggi. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa SMA/SMK di Surabaya memiliki kemampuan yang cukup memadai dalam melihat sudut pandang orang lain, memahami pikiran, dan perasaan orang lain. Hasil penelitian membuktikan bahwa kemampuan role taking yang cukup baik ini mempengaruhi kedisiplinan berlalu lintas yang cukup baik. Dengan kata lain, kemampuan siswa untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain memungkinkannya untuk lebih memperhatikan bagaimana tindakan yang dilakukan saat berkendara dapat berdampak pada keselamatan dirinya dan orang lain. Hasil penelitian ini juga mendukung pendapat Kendall . yang mengatakan bahwa dukungan dari lingkungan sekitar bagi remaja, khususnya keluarga, akan melindungi siswa dari hal-hal buruk sebagai konsekuensi dari tindakannya yang tidak disiplin dalam berlalu lintas. Dukungan sosial yang diterima siswa SMA/SMK di Surabaya dapat membuat mereka merasa dicintai, diperhatikan, dihargai, dihormati dan dianggap sebagai bagian kelompok (Taylor, 2. Hal inilah yang kemudian dapat meningkatkan kedisiplinan dalam berlalu lintas. Tingginya dukungan sosial yang diterima oleh siswa SMA/SMK di Surabaya dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif yang menunjukan rata-rata skor dukungan sosial yang diperoleh subjek adalah 63,51 . , dengan 17% subjek memiliki dukungan sosial yang tergolong sedang, dan 83% tergolong tinggi. Dapat disimpulkan bahwa siswa SMA/SMK di Surabaya mendapatkan cukup dukungan sosial dari keluarga, sekolah dan orang-orang terdekat yang dapat membuat mereka menjadi cukup disiplin dalam berlalu lintas. Dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga ini meliputi dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan kognitif, dan dukungan perilaku Amherstia Pasca Rina. Rahma Kusumandari. Yanto Prasetyo Page I 211 (Saronson, 1. Menurut hasil wawancara dengan pihak sekolah, diperoleh informasi bahwa sekolah-sekolah SMA/SMK di Surabaya telah memprogramkan kegiatan sosialiasi tentang pentingnya disiplin dalam berlalu lintas. Sosialisasi tentang kedisiplinan berlalu lintas pada siswa SMA/SMK di Surabaya biasanya dilaksanakan oleh guru Bimbingan Konseling, atau diselenggarakan oleh pihak sekolah bekerjasama dengan Kepolisian. Kegiatan-kegiatan sosialisasi inilah yang menyebabkan tingginya kedisiplinan berlalu lintas pada siswa SMA dan SMK di Surabaya. Menurut Santrock . dukungan sosial yang diterima oleh seseorang akan meningkatkan rasa percaya diri individu. Selain itu orang yang merasa mendapatkan dukungan sosial akan menjadi lebih kompeten dan mampu melakukan hal-hal yang Diperkuat dengan pendapat Leddy . , menurutnya dukungan sosial memberikan dampak yang positif baik secara sosial, psikologis dan perilaku. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan adanya pengaruh kemampuan role taking dan dukungan sosial terhadap kedisiplinan berlalu lintas dengan R=0. 712, yang berarti pengaruhnya tergolong kuat. Nilai R-Square yang diperoleh adalah 0. 507 yang menunjukkan bahwa 50,7% dari kedisiplinan berlalu lintas dipengaruhi oleh variabel kemampuan role taking dan dukungan sosial. Dapat dikatakan variabel lain memiliki pengaruh sebesar 49,3% terhadap kedisiplinan berlalu lintas. Menurut Unaradjan . kedisiplinan dapat dipengaruhi oleh faktor: . keadaan keluarga. keadaan lingkungan sekolah: . keadaan masyarakat. keadaan fisik seperti kesehatan dan. Secara lebih detail dapat dijelaskan, hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa model regresi yang dihasilkan dalam penelitian ini efektif jika digunakan untuk memprediksi pengaruh kemampuan role taking dan dukungan sosial terhadap kedisiplinan berlalu lintas, dengan skor F=148. 835 dengan sig. =0. <0. Persamaan model regresi yang diperoleh adalah Y= 27. X1 0. X2. Konstanta sebesar 27. 122 dapat diartikan jika tidak ada kemampuan role taking dan dukungan sosial maka kedisiplinan berlalu lintas adalah 27. endah sekal. Koefisien regresi kemampuan role taking sebesar 0. 048 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 skor kemampuan role taking akan meningkatkan kedisiplinan berlalu lintas sebesar Selanjutnya, koefisien regresi dukungan sosial sebesar 0. 449 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 skor dukungan sosial akan meningkatkan kedisiplinan berlalu Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 212 lintas sebesar 0. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial memberikan pengaruh lebih besar terhadap kedisiplinan berlalu lintas, jika dibandingkan dengan kemampuan role taking. Adapun penambahan 1 angka pada variabel kemampuan role taking dan dukungan sosial secara bersama-sama dapat meningkatkan kedisiplinan berlalu lintas sebesar 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kedisiplinan berlalu lintas. Kondisi ini sesuai dengan tahapan perkembangan remaja yang lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Oleh karena itu dukungan sosial lebih memberikan pengaruh pada kedisiplinan berlalu lintas dibandingnkan kemampuan internal individu dalam mengambil peran. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa dukungan sosial terutama keluarga yang memberikan pengaruh besar pada kedisiplinan berlalu lintas pada remaja menyiratkan bahwa diperlukan adanya intervensi yang dapat menguatkan pemberian dukungan sosial tersebut. Dengan kuatnya peran keluarga dalam memberikan dukungan sosial, maka remaja akan semakin menaati aturan saat berkendara sehingga kecelakaan yang terjadi dapat diminimalisir. Simpulan Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh kemampuan role taking dan dukungan sosial terhadap kedisiplinan berlalu lintas. Penambahan 1 angka pada variabel kemampuan role taking dapat meningkatkan kedisiplinan berlalu lintas sebesar 0. sedangkan penambahan 1 angka pada variabel dukungan sosial dapat meningkatkan kedisiplinan berlalu lintas sebesar 0. Berdasar pada hasil penelitian, dapat disarankan beberapa hal berikut: . sekolah dan pemerintah perlu lebih banyak memberikan penyuluhan atau pelatihan untuk meningkatkan kemampuan role taking siswa dan meningkatkan dukungan sosial yang diberikan dalam bentuk memberikan penyuluhan atau pelatihan yang terkait dengan kedisiplinan berlalu lintas. orang tua perlu meningkatkan dukungan sosial kepada siswa dalam bentuk memberikan perhatian, kenyamanan dan penghargaan . eperti memberikan pujian ketika anak memeriksa kendaraan sebelum digunaka. peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian serupa dengan melibatkan variabelvariabel lain yang turut mempengaruhi kedisiplinan berlalu lintas. Selain itu dapat juga Amherstia Pasca Rina. Rahma Kusumandari. Yanto Prasetyo Page I 213 dikembangkan penelitian eksperimental untuk melihat pengaruh pelatihan-pelatihan peningkatan kemampuan role taking terhadap kedisiplinan berlalu lintas. Referensi