Jurnal Volume 6. Nomor 3 JAPS Desember 2025 P-ISSN: 2722-161X E-ISSN:2722-1601 DOI: 10. 46730/japs. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Politik Bobby Nasution terhadap Efektivitas Program Kerja sebagai Walikota Medan 1Alex Prayoga, 2Halking Universitas Negeri Medan Email: alexprayogasidabutar@gmail. Kata kunci Gaya Kepemimpinan Politik. Program Kerja. Bobby Nasution Abstrak Kepemimpinan . merupakan kemampuan seorang pemimpin untuk mempengaruhi orang lain dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam konteks politik, gaya kepemimpinan merujuk pada cara seorang pemimpin untuk dapat mempengaruhi masyarakat agar mengikuti pemimpin Gaya kepemimpinan politik seorang pemimpin dapat dilihat melalui cara komunikasinya pada masyarakat, keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, hingga kebijakan yang dihasilkan. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh gaya kepemimpinan politik Bobby Nasution terhadap efektivitas program kerja sebagai Walikota Medan. Metode penelitian kuantitatif digunakan dalam penelitian ini dengan melakukan observasi, penyebaran angket/kuesioner, serta dokumentasi. Kemudian data yang diperoleh di lapangan akan dianalisis dengan uji korelasi product moment, uji validitas, uji reliabilitas, dan uji hipotesis menggunakan aplikasi SPSS 22. Berdasarkan hasil analisis uji statistik yang telah peneliti lakukan, maka hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dan korelasi yang kuat antara kedua variabel yakni gaya kepemimpinan politik terhadap efektivitas program kerja dengan memperoleh thitung sebesar 5,2679. Maka dari itu berdasarkan hipotesis yang telah ditetapkan, thitung 5,2679 dengan ttabel 2,002 berdasarkan ketentuan uji dua arah taraf signifikansi 0,05. Dengan demikian thitung 5,2679 Ou ttabel 2,002 mengindikasikan bahwa hipotesis Ha diterima dan H0 ditolak yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara Gaya Kepemimpinan Politik terhadap Efektivitas Program Kerja. Pengaruh positif yang kuat ini didukung oleh dimensi kepemimpinan transformasional yakni kharisma, motivasi, stimulasi intelektual, dan perhatian individual yang berfungsi sebagai katalisator . rang yang mempercepat perubahan atau kemajua. inovasi dalam mengoptimalkan efektivitas program kerja oleh Bobby Nasution sebagai Walikota Medan. Keywords Political Leadership Style. Work Program. Bobby Nasution Abstract Leadership . Leadership style is a leader's ability to influence others to achieve desired goals. In a political context, leadership style refers to how a leader influences the public to follow him or her. A leader's political leadership style can be seen through their communication with the public, their involvement in the decision-making process, and the resulting policies. Based on the description above, this study aims to determine whether Bobby Nasution's political leadership style influences the effectiveness of his or her work program as Mayor of Medan. Quantitative research methods were used in this study, including observation, questionnaire distribution, and documentation. The data obtained in the field were then analyzed using correlation tests. moment, validity test, reliability test, and hypothesis test using the SPSS 22 application. Based on the results of the statistical test analysis that the researcher has conducted, the results of the study show a significant influence and strong correlation between the two variables, namely political leadership style on the effectiveness of the work program by obtaining tcount of 5. Therefore, based on the established hypothesis, tcount 5. 2679 with ttable2. 002 based on the two-way test provisions with a significance level of 0. Thus, tcount 5,2679 Ou ttable2. 002 indicates that the hypothesis Ha is accepted and H0 is rejected, which means there is a significant influence between Political Leadership Style on the Effectiveness of Work Programs. This strong positive influence is supported by the dimensions of transformational leadership, namely charisma, motivation, intellectual stimulation, and individual attention that function as catalysts . eople who accelerate change or progres. of innovation in optimizing the effectiveness of work programs by Bobby Nasution as Mayor of Medan. Pendahuluan Pemimpin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna perihal cara memimpin. Kemudian Pasolong dalam (Aprilia et al. , 2. mendefinisikan bahwa pemimpin adalah orang yang berfungsi memimpin, atau orang yang membimbing atau menuntun. Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, seorang pemimpin dituntut untuk mampu memberikan pengaruh yang positif kepada Gaya kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dapat menjadi tokoh politik dalam pemerintahan. Gaya kepemimpinan politik merupakan salah satu strategi atau cara yang dilakukan untuk menentukan keberhasilan seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus mampu memberikan perilaku yang menarik dan disukai agar mendapatkan perhatian dari masyarakat. Pada umumnya, di Indonesia gaya kepemimpinan politik terbagi menjadi beberapa bagian, yang pertama gaya kepemimpinan otokratis . yang memiliki arti pemimpin membuat keputusan sendiri tanpa melibatkan partisipasi orang banyak, atau gaya kepemimpinan yang memusatkan semua keputusan dan kebijakan yang akan diambil sepenuhnya pada dirinya sendiri, kemudian kekuasaan terpusat pada satu orang saja yaitu pemimpin. Indonesia pada rezim orde baru merupakan negara yang menganut pola kepemimpinan ini. Pada masa orde baru, proses pembuatan kebijakan sangat berbeda dengan era reformasi. Dalam masa jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Soeharto menggunakan koneksinya untuk menang dalam Pilpres sehingga menjadikannya Presiden terlama di Indonesia yakni sekitar 32 tahun. Dalam era kepemimpinannya. Soeharto yang merupakan Presiden sekaligus jenderal besar TNI, menjadikannya sebagai tokoh politik terkuat dan disegani pada masa itu (Mudjiyanto et al. , 2. Fenomena gaya kepemimpinan Soeharto ini menjadikan dirinya dinilai terlalu tegas dan meninggalkan kesan buruk pada masyarakat terkhususnya pada kasus penembakan 4 mahasiswa Trisakti sebagai demonstran tahun 1998 (Syugiarto & Mangngasing, 2. Kemudian, gaya kepemimpinan demokratis merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama dalam mencapai tujuan yang telah disepakati, melalui berbagai cara atau kegiatan yang ditentukan secara bersama antara pimpinan dan anggota. Demokratisasi adalah sebuah proses dari perubahan dari struktur dan tatanan pemerintahan yang otoriter kearah yang struktur yang dan tatanan yang lebih demokratis (Mukmin, 2012. Dalam kepemimpinan demokratis pemimpin tetap menghargai hak pada anggota atau masyarakat untuk bersama-sama membuat sebuah keputusan yang bertujuan untuk kepentingan bersama (Mattayang, 2. Gaya kepemimpinan ini merupakan gaya kepemimpinan politik yang digemari oleh masyarakat karena pemimpin tetap menghargai masyarakat dan memperdulikan akan haknya untuk berpartisipasi. Bacharuddin Jusuf Habibie atau B. J Habibie merupakan salah seorang pemimpin yang dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang demokratis. Ia dikenal dengan julukkan bapak teknologi dan bapak demokrasi Indonesia. Pasalnya, dalam era kepemimpinannya yang tergolong sangat singkat yakni hanya 1 tahun 5 bulan Habibie telah melakukan reformasi besar-besaran terhadap negara Indonesia (Syugiarto & Mangngasing, 2. Perubahan rezim diikuti dengan perubahan sistem pemerintahan negara setidaknya telah membawa perubahan yang besar bagi perubahan geo-politik di Indonesia (Mukmin, 2012. Selama menjadi presiden Republik Indonesia, ia mampu mencuri hati rakyat dengan pola fikirnya yang menarik dengan mengatakan bahwa kekuasaan adalah sarana perjuangan dalam pengabdian bangsa dan negara. Serta dengan gaya kepemimpinannya yang berbanding terbalik dengan Soeharto. J Habibie memberikan kebebasan akses terhadap media, memberikan kebebasan berbicara dan berserikat dan berbanding terbalik dengan Soeharto (Kurniawan et al. , 2. Kemudian yang terakhir gaya kepemimpinan kharismatik yang didefinisikan seorang yang disukai atau dikagumi oleh banyak orang karena kepribadian dan Dalam gaya kepemimpinan ini, seorang pemimpin dapat memberikan pengaruh kepada masyarakat atau anggota kelompok karena adanya daya tarik pada orang tersebut. Daya tarik ini bisa berupa kharisma yang dimiliki oleh orang tersebut dan mereka akan terpesona dan terpengaruh dari cara bicaranya yang membangkitkan semangat (Mattayang, 2. Gaya kepemimpinan ini terlihat di masa kepemimpinan Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Soekarno atau kerap disapa Bung Karno yang merupakan Presiden Pertama Republik Indonesia memiliki gaya kepemimpinan kharismatik. Hal ini terlihat dari gaya komunikasinya dalam berbicara, berdialog kepada banyak orang yang cenderung menginspirasi, memotivasi, dan membangun semangat. Dengan modal karisma pribadinya sebagai intelektual, aktivis-pejuang, komunikator politik, dan tokoh pergerakan ternama. Soekarno mampu memanfaatkan karisma pribadinya menjadi modal politik untuk mengkomunikasikan visi dan tujuan perjuangan kemerdekaan Indonesia sebagai Aopesan politikAo yang jelas, tegas, dan lugas kepada rakyat Indonesia (Mudjiyanto et al. , 2. Gaya Kepemimpinan juga tercermin ketika pemimpin memberikan ruang kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam ruang politik sebagai bentuk hak pada Sejatinya partisipasi politik tidak hanya terhenti pada kegiatan pemungutan suara saja tetapi juga pada proses pengawasan setelah pemungutan suara berlangsung (Prayetno & Anandhi, 2. Partisipasi ini merupakan kegiatan dari masyarakat baik secara langsung ataupun tidak langsung yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah atau pemimpin (Ivanna et al. , 2. Secara keseluruhan tingkatan kebijakan menggambarkan proses pengambilan kebijakan di tingkat pemerintahan, dimana keberhasilan suatu kebijakan bergantung pada partisipasi masyarakat (Rahma et al. Partisipasi politik pada hakikatnya merupakan tindakan yang sukarela, penuh kesadaran tanpa paksaan atau tekanan dari siapapun (Pinem et al. , 2. Namun, meskipun pentingnya partisipasi masyarakat telah diakui secara luas, tantangan tetap Ada berbagai kendala seperti ketidaksetaraan akses informasi, kurangnya pemahaman politik, dan keterbatasan sarana untuk berpartisipasi (Nababan et al. , 2. Salah satu bentuk partisipasi dalam menentukan seorang pemimpin terlihat dalam proses Pilkada. Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkad. merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan demokrasi yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia (Nainggolan & Kapita, 2. Proses pemerintahan yang baik tentunya tercermin dari gaya kepemimpinan politik seorang pemimpin. Kepemimpinan terbagi menjadi banyak bagian, misalnya kepemimpinan seorang Presiden yang memimpin suatu negara, kepemimpinan Gubernur yang memimpin dalam cakupan provinsi, kemudian kepemimpinan Bupati/Walikota yang memimpin di tingkat kabupaten dan kota. Muhammad Bobby Afif Nasution atau Bobby Nasution merupakan mantan Walikota Medan yang menang dalam pilkada pada tahun 2020. Pilkada dapat dimaknai sebagai proses pemilihan kepala daerah yang melibatkan masyarakat sebagai pemilih, dan merupakan bagian dari hak kita sebagai masyarakat untuk memilih, kebebasan berpendapat, dan pentingnya pilkada sebagai mekanisme untuk menentukan pemimpin (Pinem et al. , 2. Bobby Nasution yang menjabat pada tahun 2021-2025 sebagai Walikota Medan terpilih kembali dalam Pilkada 2024 menjadi Gubernur Provinsi Sumatera Utara yang dilantik pada 20 Februari 2025. Alasan seseorang memilih calon pemimpin biasanya dipengaruhi oleh faktor yang mempengaruhi perilaku. Hal ini dapat berupa isu-isu dan kebijakan politik, pertimbangan agama yang dianut, kelas sosial, figur, serta pengaruh partai politik dan aliran ideologi politik sang calon pemimpin (Prayetno & Lubis, 2. Pemimpin yang terpilih, nantinya akan menentukan arah kebijakan dan program-program pembangunan yang akan dijalankan, baik di tingkat nasional maupun daerah (Halking et al. , 2. Terpilihnya Bobby Nasution menjadi pemimpin Sumatera Utara merupakan sebuah pencapaian baik dalam karirnya. Hal ini tentunya di dasari oleh kinerja dan gaya kepemimpinannya selama menjadi Walikota Medan yang disukai oleh masyarakat. Gaya kepemimpinannya yang cenderung komunikatif, menerima kritik dan masukkan serta melibatkan masyarakat secara aktif. Bobby kerap memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan pesan dan mengarahkan masyarakat pada keputusan yang Pemanfaatan media sosial merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh Bobby Nasution untuk memperlihatkan gaya kepemimpinannya yang membuka komunikasi aktif melalui media digital serta adanya transparansi dalam kegiatan kerja dan informasi yang disampaikan (Damanik et al. , 2. Indikator tersebut dapat mengkategorikan Bobby sebagai pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan Tidak hanya itu saja, kemenangannya menjadi Gubernur Provinsi Sumatera Utara juga dipengaruhi oleh pengimplementasian good governance pada masyarakat Medan. Hal ini merupakan bagian dari responsivitas untuk mengembangkan program pelayanan berdasarkan kebutuhan masyarakat (Hodriani et al. , 2. Good governance . ata kelola pemerintahan yang bai. menunjuk pada pengertian bahwa kekuasaan tidak lagi semata-mata hanya menjadi urusan pemerintah saja, melainkan adanya keterlibatan aktif pada Masyarakat (Ivanna. Simamora, et al. , 2. Artinya warga negara ikut serta dalam berbagai proses politik seperti ikut dalam pengambilan keputusan, kebijakan mulai dari sejak pembuatan keputusan sampai dengan penilaian keputusan, termasuk juga peluang untuk ikut serta dalam pelaksanaan keputusan (Halking & Lubis, 2. Pelayanan publik yang baik tidak hanya bersumber dari mekanisme dan sistem serta sumber daya manusia yang kompeten, tetapi tidak kalah pentingnya adalah pemimpin (Patarai, 2. Pelayanan ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal dan meningkatkan penduduk di wilayah tertentu (Achmad & Zubakhrum, 2. Lolosnya Bobby Nasution dalam Pilkada 2024, juga dipengaruhi oleh strategi kampanye politiknya yang tergolong cukup menarik bagi masyarakat kota Medan. Hal ini dikarenakan Bobby Nasution lebih memilih untuk melakukan pertandinganpertandingan olahraga yang dilihat sebagai pendekatan inovatif dan strategis untuk mencuri hati masyarakat (Astaman & Manihuruk, 2. Pendekatan semacam ini menghubungkan elemen hiburan dengan promosi politik, yang berpotensi menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan, terutama mereka yang menyukai aktivitas fisik dan olahraga. Dalam masa jabatannya menjadi Walikota Medan. Bobby Nasution memiliki 5 program prioritas yakni penanganan di bidang kesehatan, infrastruktur jalan, penanggulangan banjir, kebersihan dan pengelolaan sampah, serta pemberdayaan ekonomi dan UMKM. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menjadikan Medan sebagai kota layak huni bagi lapisan masyarakat. Program ini terlihat dari banyaknya pembangunan ataupun perbaikan yang dilakukan di Kota Medan, salah satunya perbaikan infrastruktur jalan di Medan. Kelima program prioritas yang dilakukan oleh Bobby dalam masa jabatannya sebagai Walikota Medan, memperlihatkan dirinya salah seorang pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan transformatif/ transformasional karena berfokus pada visinya untuk mewujudkan masyarakat Kota Medan yang berkah, maju dan kondusif (Damanik et al. , 2. Hal ini berarti pemimpin merupakan agen perubahan, karena memang erat kaitannya dengan transformasi yang terjadi dalam sebuah organisasi. Fungsi utamanya adalah sebagai katalis . rang yang mendorong dan menginspiras. , perubahan, bukan sebagai pengontrol perubahan (Mufidah & SyafiAoaturrosyidah, 2. Program prioritas di bidang pembangunan infrastruktur kota Medan dengan menambahkan lampu jalan menjadi sorotan publik karena dana yang dikeluarkan oleh Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) menyentuh angka 25,7 miliar (Prayudha & Sigalingging, 2. Pengeluaran dana ini menjadi perdebatan, karena diharapkan mampu memberikan perubahan dan pembangunan yang akan menjadikan kota Medan sebagai kota yang layak huni. Hal ini bertujuan dengan harapan pembangunan dapat dinikmati secara merata (Hodriani et al. , 2. Namun kenyataannya berbanding terbalik, faktanya proyek yang telah dinantikan oleh masyarakat kota Medan dinyatakan gagal (Ivanna, et al. , 2. Hal ini terjadi oleh beberapa faktor, diantaranya kualitas dan material yang digunakan dalam pembuatan lampu tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Kegagalan yang dilakukan dalam proyek ini tentunya berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat kota Medan yang menurun kepada Walikota Medan Bobby Nasution, pasalnya masyarakat merasa hal ini seharusnya dapat ditangani dengan baik tanpa adanya kendala. Tidak hanya itu saja, dalam kepemimpinannya yang menjanjikan Kota Medan layak huni. Masyarakat kota Medan memiliki harapan agar permasalahan banjir dapat tertangani dengan tuntas. Namun faktanya masih terdapat wilayah yang belum mengalami perbaikan sehingga banjir masih terjadi. Fenomena banjir yang menjadi permasalahan bagi masyarakat kota Medan ternyata memberikan dampak yang sangat signifikan dalam proses pilkada tahun 2024 Pasalnya fenomena banjir ini memberikan pengaruh terhadap tingkat partisipasi masyarakat yang menurun dalam menggunakan hak pilihnya dalam pilkada tahun 2024 (Pia & Jahroh, 2. Hal ini terjadi karena masyarakat yang lebih mengutamakan barang mereka untuk diselamatkan dan juga tidak tersedianya akses bagi masyarakat menuju TPS. Berdasarkan hasil pengamatan penulis di Medan Amplas. Kota Medan, penulis mendapatkan data sementara berupa perspektif masyarakat Medan Amplas terkait dengan gaya kepemimpinan dari Bobby Nasution selama menjabat menjadi Walikota Medan. Hal ini penulis dapatkan dari data hasil observasi dengan salah seorang masyarakat Medan Amplas yang berpendapat bahwa Bobby Nasution merupakan Walikota Medan yang memiliki gaya kepemimpinan tegas, dan juga mampu untuk berbaur atau mendekatkan diri dengan masyarakat. Keberhasilan Bobby sebagai Walikota merupakan bagian dalam sejarah yang menjadikan dirinya sebagai seorang kepala daerah dengan umur yang cukup muda untuk menjadi seorang pemimpin politik. Hasil observasi yang penulis dapatkan menjelaskan bahwa kemenangan dan keberhasilan Muhammad Bobby Afif Nasution atau Bobby Nasution dalam Pilkada Tahun 2020 tidak terlepas dari hubungan kekerabatan yang dimiliki dengan mantan Presiden Republik Indonesia yang ketujuh yaitu Joko Widodo. Pasalnya. Bobby Nasution belum pernah menjabat dalam pemerintahan dan menjadikan koneksi yang dimilikinya dengan Joko Widodo sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kemenangannya dalam Pilkada 2020. Namun, terdapat masyarakat yang membantah hal tersebut dan merasa bahwa visi dan misi yang dimiliki olehnya adalah faktor yang menjadikannya sebagai Walikota Medan. Berdasarkan penjelasan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Gaya Kepemimpinan Politik Bobby Nasution terhadap Efektivitas Program Kerja sebagai Walikota Medan. Tinjauan Pustaka Pemimpin atau leader mempunyai macam-macam makna dan pengertian. Definisi mengenai pemimpin ada banyak, yaitu sebanyak pribadi yang meminati masalah pemimpin tersebut. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan atau kemampuan dalam suatu bidang sehingga ia mampu mempengaruhi orang-orang lain atau orang banyak untuk bersama-sama melakukan aktivitas tertentu yang diinginkan atau yang dipimpin oleh sang pemimpin. Pemimpin juga dapat diartikan seorang yang memiliki beberapa kelebihan sebagai predisposisi . akat yang telah dimiliki sejak ia lahi. dan digunakan sebagai bentuk kebutuhan untuk mengarahkan serta membimbing bawahan. Menurut (Rivai, 2014, p. pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan memengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Selanjutnya jika pemimpin dilihat dari sisi bahasa Inggris menjadi "LEADER", yang mempunyai tugas untuk meLEAD . anggota di sekitarnya. John Gage Allee dalam (Kartono, 2016, p. menyatakan AuleaderA a guide. a commanderAy yang berarti pemimpin ialah pemandu, penunjuk/penuntun. Kemudian Henry Pratt Fairchild dalam (Kartono, 2016, p. menyatakan pemimpin ialah seorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prastise, kekuasaan atau posisi. (Maxwell, 2. menjelaskan bahwa kepemimpinan itu bukan hanya karena mereka Audilahirkan berbakatAy tetapi melalui suatu proses belajar dan bergumul. Tidak ada orang yang hanya dilahirkan dengan bakat seorang pemimpin dapat menjadi pemimpin tanpa melalui proses. John C. Maxwell menyatakan bahwa proses kehidupan dapat menjadikan seorang pemimpin yang baik. Ia mengungkapkan bahwa kepemimpinan adalah pengaruh, yaitu kemampuan untuk mempengaruhi komunitas. Teori kepemimpinan berbicara perihal bagaimana seseorang menjadi pemimpin, atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin. Menurut (Robbins, 2. , kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati dan diinginkan. Terdapat tiga teori kepemimpinan yang didefinisikan oleh Robbins, hal tersebut meliputi: Teori Sifat Menurut (Robbins dan Judge: 2007, . dalam (Marianti, 2. , teori kepemimpinan sifat adalah suatu pandangan atau pendapat yang mengatakan bahwa efektivitas seorang pemimpin banyak ditentukan oleh sifat-sifat atau karakter yang dimiliki oleh pemimpin tersebut. Teori kepemimpinan sifat membedakan pemimpin dari non pemimpin dengan memusatkan perhatian pada kualitas dan karakteristik pribadi Terdapat beberapa indikator yang memperlihatkan seorang pemimpin dengan teori sifat, yaitu pemimpin adalah individu dengan kualitas dan karakteristik bawaan tertentu yang membedakan dengan pemimpin non-pemimpin, seperti percaya diri, keinginan kuat, ketegasan, karisma, antusiasme, dan keberanian. Teori Perilaku Robbins dan Judge menjelaskan bahwa perilaku organisasi merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan eksaminasi pada tindakan individual di dalam konteks Kajian ini secara spesifik menganalisis hubungan kausalitas antara perilaku mikro personel dengan efektivitas dan kinerja makro organisasi secara Karena perilaku organisasi bersangkutan secara khusus dengan situasi yang berhubungan dengan pekerjaan, memeriksa perilaku dalam konteks kepuasan kerja, ketidakhadiran, perputaran pekerjaan, produktivitas, kinerja manusia dan Kepemimpinan dengan teori perilaku meliputi motivasi . enghargaan, kebutuhan sosial, kebutuhan hidup, dan keberhasilan kerj. , kepuasan kerja . erasaan positif dari evaluasi karakteristik pekerjaa. , serta dimensi stres kerja . ejala fisik seperti peningkatan tensi dan pusin. Teori Kontingensi Mengacu pada pandangan Robbins. Teori Kontingensi berfungsi sebagai kerangka teoritis yang mendesak pemimpin untuk memiliki kesadaran diri terhadap gaya kepemimpinan mereka. Premis utamanya adalah bahwa efektivitas kepemimpinan . eadership effectivenes. merupakan variabel dependen yang ditentukan oleh fungsi dan interaksi dari berbagai aspek atau variabel situasional yang melingkupi. Kinerja seorang pemimpin dipengaruhi oleh beberapa faktor situasional yang mengharuskan pemimpin harus fleksibel dan mampu menyesuaikan pendekatan mereka kepada kondisi yang ada. Indikator teori kontingensi mencakup penekanan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan atau struktur organisasi terbaik yang cocok untuk semua situasi. Sebaliknya, efektivitas bergantung pada penyesuaian gaya kepemimpinan terhadap faktor-faktor situasional, seperti tugas, struktur organisasi, dan karakteristik bawahan, karena teori ini melihat gaya kepemimpinan yang optimal sangat bergantung pada situasi internal dan eksternal yang spesifik. Gaya kepemimpinan politik pada umumnya berfokus pada pengaruh yang diberikan seorang pemimpin dalam proses politik. Gaya kepemimpinan sendiri adalah faktor yang mempengaruhi berjalannya suatu proses dalam pemerintahan. Apabila seorang pemimpin mampu memberikan gaya kepemimpinan yang baik maka hal tersebut akan memberikan dampak terhadap hasil yang diterima. Gaya kepemimpinan politik terbagi menjadi beberapa bagian, menurut Duncan dalam (Rivai, 2. dan Robbins dalam (Simbolon, 2. , gaya kepemimpinan meliputi beberapa hal, yakni sebagai berikut: Gaya Kepemimpinan Otoriter Gaya kepemimpinan otoriter menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan suatu hal yang mutlak bagi seorang pemimpin. Dapat dimaknai bahwa pemimpin dalam gaya kepemimpinan otoriter ini adalah seorang dictator, yang bertindak mengarahkan pikiran, perasaan dan tingkah laku orang lain untuk mencapai suatu tujuan yang telah Namun, dalam hal ini tujuan yang diinginkan dan ditetapkan adalah sesuatu yang bersumber dari pemimpin tanpa melibatkan partisipasi orang lain dan tidak menerima aspriasi dari bawahannya (Rivai, 2. Indikator gaya kepemimpinan otokratis ditandai dengan keputusan yang sepenuhnya ditentukan oleh pemimpin tanpa melibatkan bawahan dalam proses pengambilan Keputusan, pemimpin menjalankan pengawasan yang ketat terhadap seluruh aktivitas bawahannya, komunikasi dalam kepemimpinan ini berlangsung satu arah, yaitu dari pemimpin ke bawahan, sehingga bawahan hanya berperan sebagai pelaksana tanpa kesempatan untuk memberikan masukan. Pemimpin juga menuntut kepatuhan mutlak dan tidak memberikan ruang bagi inisiatif atau kreativitas individu. Hubungan antara pemimpin dan bawahan bersifat formal serta berjarak, mencerminkan struktur hierarki yang tegas dan dominasi penuh dari pemimpin terhadap bawahannya. Gaya Kepemimpinan Demokratis Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang berfokus pada dasar kemanusiaan dan menjunjung tinggi derajat dan harkat manusia yang dipimpinnya. Gaya kepemimpinan demokratis merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama dalam mencapai tujuan yang telah disepakati, melalui berbagai cara atau kegiatan yang ditentukan secara bersama antara pimpinan dan Sebagai negara demokrasi. Indonesia menempatkan kedaulatan di tangan rakyat (Ndona & Yasmin, 2. Dalam kepemimpinan demokratis pemimpin tetap menghargai hak pada anggota atau masyarakat untuk bersama-sama membuat sebuah keputusan yang bertujuan untuk kepentingan bersama (Rivai, 2. Gaya kepemimpinan demokratis adalah cara memimpin yang dilakukan secara demokratis, dan bukan karena dipilihnya si pemimpin secara demokratis. Indonesia, sebagai negara yang berfondasi pada Pancasila, mengakui bahwa setiap warga negara memiliki kesetaraan di mata hukum (Nababan et al. , 2. Dalam hal ini seseorang diberikan kebebasan dan keluasan untuk memberikan aspirasinya, memberikan saran, masukkan, mengemukakan pendapat, dan selalu berpegang pada nilai-nilai demokrasi. Hal ini juga telah diatur dalam konstitusi yang menjamin hak berpendapat rakyat dan menjamin terselenggaranya pemerintahan sesuai kehendak rakyat (Batu, 2. Gaya kepemimpinan demokratis dapat terlihat ketika seorang pemimpin berfokus pada kerja sama, partisipasi masyarakat, dan penghargaan terhadap setiap anggota dalam pengambilan keputusan. Pemimpin memberi kebebasan bagi bawahan untuk menyampaikan pendapat, saran, dan masukan demi kepentingan bersama. Gaya ini berlandaskan pada nilai kemanusiaan, keterbukaan, serta tanggung jawab bersama sesuai prinsip demokrasi yang menempatkan kedaulatan di tangan rakyat. Demokrasi bukan sekadar prosedur politik, tetapi merupakan praktik kebajikan sipil . ivic virtu. (Dharma et al. , 2. Komunikasi yang baik juga menjadi cerminan dalam gaya kepemimpinan demokratis ketika pemimpin mampu berkomunikasi dan berinteraksi kepada masyarakat secara aktif untuk mengetahui apa yang menjadi masalah di masyarakat (Rivai, 2. Gaya Kepemimpinan Bebas (Laisez Faire Leadershi. Gaya kepemimpinan ini, seorang pemimpin biasanya menunjukkan suatu perilaku yang pasif dan sering kali menghindari dirinya dari tanggung jawab. Dalam praktiknya, seorang pemimpin hanya memberikan perintah kepada anak buahnya, seperti memberikan apa yang dibutuhkan oleh mereka namun sang pemimpin tidak berpartisipasi dalam mewujudkan tujuan yang disepakati, melainkan tujuan tersebut akan dilakukan oleh anak buahnya untuk dilakukan. Pemimpin dalam tipe kepemimpinan ini adalah seorang yang selalu berada di sekitar anak buahnya, namun tidak memberikan motivasi dan tidak arahan, petunjuk dan segala pekerjaan diberikan kepada anak buahnya (Rivai, 2. Gaya kepemimpinan bebas . aissez-fair. terlihat ketika pemimpin bersikap pasif dan cenderung menghindari tanggung jawab. Pemimpin hanya memberikan perintah umum serta memenuhi kebutuhan bawahannya tanpa terlibat langsung dalam pelaksanaan tugas. Dalam gaya ini, pemimpin tidak memberikan motivasi, arahan, maupun bimbingan, sehingga bawahan memiliki kebebasan penuh dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai cara mereka sendiri. Gaya Kepemimpinan Situasional Gaya kepemimpinan situasional adalah suatu cara yang dilakukan oleh seorang pemimpin untuk dapat memahami dan menyesuaikan responnya menurut kondisi atau tingkat perkembangan kematangan, kemampuan, dan minat bawahannya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan. Sementara itu pemimpin harus menyesuaikan tingkat kematangan bawahannya. Tingkat kematangan bawahan diartikan sebagai tingkat kemampuan yang dimiliki oleh bawahannya dalam bertanggung jawab atas tugas yang akan diberikan oleh pemimpin tersebut kepadanya (Rivai, 2. Indikator dalam gaya kepemimpinan situasional yakni pemimpin yang menyesuaikan cara memimpin dengan kondisi, kemampuan, dan tingkat kematangan Pemimpin dalam gaya ini bersikap fleksibel, menyesuaikan pendekatan dan arahan sesuai kebutuhan situasi serta kesiapan bawahan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Gaya Kepemimpinan Transformasional Robbins (Simbolon, transformasional adalah pemimpin yang mampu memberi inspirasi kepada karyawan/bawahan untuk lebih mengutamakan kemajuan organisasi daripada kepentingan pribadi. Kemudian pemimpin juga harus memberikan perhatian yang baik kepada seluruh karyawan/bawahan dalam organisasi serta mampu merubah kesadaran karyawan/bawahan dalam melihat permasalahan lama dengan cara baru. Indikator dari gaya kepemimpinan transformasional dapat terlihat ketika pemimpin memiliki kharisma dalam memimpin, mampu untuk memotivasi dan menginspiratif, stimulasi Intelektual yang bertujuan untuk untuk memecahkan masalah, serta terakhir perhatian yang individual. Gaya kepemimpinan di atas, akan menjadi tolak ukur terhadap riset yang penulis Hal ini berarti, dari salah satu indikator pada masing-masing gaya kepemimpinan, akan memiliki kaitan erat dengan gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh Bobby Nasution selama menjabat menjadi Walikota Medan. Indikator yang terdapat juga akan menjadi kunci, untuk dapat menentukan gaya kepemimpinan Bobby Nasution sebagai Walikota dan memberikan pengaruh terhadap kelima program prioritas yang dijalankan. Metode Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Pendekatan penelitian yang mengumpulkan, menganalisis, dan menampilkan data dalam bentuk numerik atau angka, bukan dalam bentuk deskripsi atau narasi (Sugiyono, 2. Penelitian ini juga bersifat korelasional, yaitu suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna memastikan apakah ada hubungan dan tingkatan antara dua variabel. Terdapatnya hubungan dan tingkatan variabel penting, sebab dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, penulis akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Menurut (Sugiyono, 2. metode kuantitatif adalah metode yang berdasar filsafat positivisme bertujuan menggambarkan dan menguji hipotesis yang dibuat Penelitian ini akan dilakukan di wilayah Kecamatan Medan Amplas. Kota Medan. Sumatera Utara. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini yaitu Masyarakat Kecamatan Medan Amplas. Kota Medan yang terdiri dari 7 kelurahan yakni Kelurahan Amplas. Kelurahan Bangun Mulia. Kelurahan Harjosari I. Kelurahan Harjosari II. Kelurahan Sitirejo II. Kelurahan Sitirejo i, dan Kelurahan Timbang Deli, yang berjumlah 133. Kemudian penulis menggunakan rumus slovin untuk menentukan sampel berdasarkan populasi di Kecamatan Medan Amplas, dengan jumlah sampel sebanyak 58 Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Hasil Uji Koefisien Korelasi (Product Momen. Berdasarkan hasil perhitungan uji koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, maka diperoleh jumlah nilai kuantitatif sebagai berikut: = 58 = 3. = 3. = 189. = 185. XY = 186. Untuk menguji signifikansi korelasi antara variabel X dan variabel Y, digunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut: n AexyOe(Ae. (Ae. ycycuyc = EnAnAeycu 2Oe(Aeyc. 2 AAnAey2Oe(Ae. 2A 58 . Oe. ycycuyc = EnA. Oe. 2AA. Oe. Oe. ycycuyc = En. Oe. Oe. ycycuyc = En. ycycuyc = En26. ycycuyc = 163. 994,26 ycycuyc= 0,6013 Dari hasil perhitungan koefisien korelasi antara variabel X (Gaya kepemimpinan politi. terhadap variabel Y (Efektivitas program kerj. dapat diketahui bahwa nilai rhitung sebesar 0,6013. Korelasi ini apabila diinterpretasikan pada nilai r korelasi dapat dikategorikan tingkat hubungan korelasi kuat. Adapun pedoman derajat hubungan atau interval koefisien menurut Sugiyono . yakni sebagai berikut: Nilai interval koefisien 0,00 s/d 0,199 = tidak ada korelasi Nilai interval koefisien 0,20 s/d 0,399 = korelasi lemah Nilai interval koefisien 0,40 s/d 0,599 = korelasi sedang Nilai interval koefisien 0,60 s/d 0,799 = korelasi kuat Nilai interval koefisien 0,80 s/d 1,000 = korelas sempurna/sangat kuat Dari hasil perhitungan di atas, antara variabel X (Gaya kepemimpinan politi. terhadap variabel Y (Efektivitas program kerj. diketahui bahwa nilai rhitung sebesar 0,6013 menandakan bahwa adanya korelasi kuat dari kedua variabel tersebut, dan apabila dihubungkan dengan nilai rtabel pada signifikan dua arah 0,05 dengan df = (N-. , 58-2=56 adalah 0,2586, maka dapat juga disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara variabel X (Gaya kepemimpinan politi. terhadap variabel Y (Efektivitas program Uji Validitas Validitas tes dilakukan di 7 Kelurahan. Kecamatan Medan Amplas. Kota Medan, dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Uji coba kuesioner ini disebar dan diuji coba kepada 58 orang dengan jumlah item pernyataan 20 pada variabel X yaitu Gaya Kepemimpinan Politik, dan 20 pada variabel Y yaitu Efektivitas Program Kerja dan telah dihitung dengan menggunakan SPSS 22 untuk perhitungan yang lebih akurat. Pengujian menggunakan uji dua arah taraf signifikansi 0,05. Uji validitas dilakukan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner menggunakan teknik pearson Dengan pengambilan keputusan uji validitas: Jika rhitung Ou rtabel maka pernyataan dianggap valid . Jika rhitung O rtabel maka pernyataan dianggap tidak valid Pengukuran rtabel dengan jumlah sampel uji coba sebanyak 58, ditetapkan df . Pada rtabel yang menetapkan df=56 dengan tingkat signifikansi dua arah 0,05 menunjukkan jumlah sebesar 0,258 sehingga tetap butir jumlah pernyataan akan dinyatakan valid apabila memiliki nilai corrected item soal Ou 0,258. Berikut hasil uji coba validitas dalam penelitian: Tabel 2 Uji Validitas Variabel Gaya Kepemimpinan Politik (X) Item Pernyataan r hitung r tabel Keputusan Pernyataan 1 0,258 Valid Pernyataan 2 Pernyataan 3 Pernyataan 4 Pernyataan 5 Pernyataan 6 Pernyataan 7 Pernyataan 8 Pernyataan 9 Pernyataan 10 Pernyataan 11 Pernyataan 12 Pernyataan 13 Pernyataan 14 Pernyataan 15 Pernyataan 16 Pernyataan 17 Pernyataan 18 Pernyataan 19 Pernyataan 20 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 0,258 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Sumber: Hasil olah data pada SPSS 22 Pada tabel 4. 10 memperlihatkan bahwa pernyataan yang disajikan pada variabel Gaya Kepemimpinan Politik (X) semua terbukti valid, karena semua nilai rhitung Ou rtabel 0,258 Dari pada ini, pernyataan-pernyataan variabel gaya kepemimpinan politik dinyatakan lolos dari hasil pengujian pada uji validitas. Tabel 3 Uji Validitas Variabel Efektivitas Program Kerja (Y) Item Pernyataan r hitung r tabel Keputusan Pernyataan 1 0,258 Valid Pernyataan 2 0,258 Valid Pernyataan 3 0,258 Valid Pernyataan 4 0,258 Valid Pernyataan 5 0,258 Valid Pernyataan 6 0,258 Valid Pernyataan 7 0,258 Valid Pernyataan 8 0,258 Valid Pernyataan 9 0,258 Valid Pernyataan 10 0,258 Valid Pernyataan 11 0,258 Valid Pernyataan 12 0,258 Valid Pernyataan 13 0,258 Valid Pernyataan 14 0,258 Valid Pernyataan 15 0,258 Valid Pernyataan 16 0,258 Valid Pernyataan 17 0,258 Valid Pernyataan 18 0,258 Valid Pernyataan 19 0,258 Valid Pernyataan 20 0,258 Valid Sumber: Hasil olah data pada SPSS 22 Pada tabel 4. 11 memperlihatkan bahwa pernyataan yang disajikan pada variabel Efektivitas Program Kerja (Y) semua terbukti valid, karena semua nilai rhitung Ou rtabel 0,258 Dari pada ini, pernyataan-pernyataan variabel efektivitas program kerja dinyatakan lolos dari hasil pengujian pada uji validitas. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas bertujuan untuk melihat apakah kuesioner memiliki konsistensi, jika pengukuran dilakukan dengan kuesioner tersebut dilakukan secara berulang-ulang. Uji reliabilitas variabel dilakukan dengan teknik cronbach's alpha. Dasar pengambilan uji reliabilitas menurut Sujerweni . , kuesioner dinyatakan reliabel jika nilai cronbach's alpha > 0,6, sedangkan apabila cronbach's alpha < 0,6 maka instrumen dikatakan tidak reliabel. Setelah dilakukan pengujian SPSS berikut adalah hasilnya: Tabel 4 Uji Reliabilitas Variabel Gaya Kepemimpinan Politik (X) Reliability Statistics Cronbach's N of Items Alpha 0,895 Sumber: Hasil olah data pada SPSS 22 Pada tabel 4. 12 terlihat bahwa variabel gaya kepemimpinan politik memiliki nilai cronbach's alpha sebesar 0,895 yang berarti data yang diuji reliabel karena memiliki nilai cronbach's alpha > 0,6 Tabel 5 Uji Reliabilitas Variabel Efektivitas Program Kerja (Y) Reliability Statistics Cronbach's N of Items Alpha 0,868 Sumber: Hasil olah data pada SPSS 22 Pada tabel 4. 13 terlihat bahwa variabel gaya kepemimpinan politik memiliki nilai cronbach's alpha sebesar 0,868 yang berarti data yang diuji reliabel karena memiliki nilai cronbach's alpha > 0,6. Uji Hipotesis (Uji T) Uji T dilakukan untuk mengukur seberapa jauh pengaruh variabel independen penelitian dalam menjabarkan pengaruhnya kepada variabel dependen secara individu. Selanjutnya untuk menguji hipotesis pengaruh Gaya Kepemimpinan Politik terhadap Efektivitas Program Kerja digunakan rumus uji t yaitu: yc OoycuOe2 Oo1Oeyc 2 0,6013 Oo58Oe2 t = 1Oe0,60132 Oo 0,6013 Oo56 Oo1Oe0,36156169 0,6013 Oo7 Oo0,63843831 4,2091 t = 0,7990 t = 5,2679 Hasil penelitian analisis dengan menggunakan uji "t" untuk melihat pengaruh Gaya kepemimpinan politik terhadap Efektivitas program kerja, maka diperoleh thitung 5,2679. Dalam hal ini untuk menentukan derajat ttabel, maka digunakan tabel distribusi t dengan df = 58, maka diperoleh ttabel 2,002. Berdasarkan hasil analisis yang telah peneliti lakukan, hasil memperlihatkan bahwa thitung > ttabel . ,2679 >2,. pada taraf 0,05 pada uji dua pihak dk = 58. Sehingga hipotesis alternatif menyatakan jika thitung > ttabel maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh gaya kepemimpinan politik Bobby Nasution terhadap Efektivitas program kerja sebagai Walikota Medan. Pembahasan Hasil Penelitian Gaya kepemimpinan merupakan sekumpulan cara yang dilakukan oleh pemimpin untuk dapat mempengaruhi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan bahkan sampai pelaksanaan keputusan. Dalam hal ini, kepemimpinan terbagi menjadi beberapa bagian yakni kepemimpinan demokratis, kepemimpinan otokratis, kepemimpinan bebas, kepemimpinan situasional hingga kepemimpinan transformasional. Seorang pemimpin yang memiliki kepemimpinan yang baik, tentunya akan terlihat dari hasil kinerja yang telah dilakukan dalam masa kepemimpinannya. Sebagai contoh nyata yakni pemimpin yang dikenal responsif terhadap keluhan masyarakat dalam proses pembangunan, pemberdayaan masyarakat menengah, hingga keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam proses politik. Gaya kepemimpinan ini dapat dilihat melalui berbagai aspek/indikator, yakni kharisma, motivasi inspiratif, stimulus intelektual hingga perhatian yang individual, yang merupakan indikator dari gaya kepemimpinan transformasional. Dalam konsep gaya kepemimpinan transformasional. Robbins dalam (Simbolon, 2. pemimpin harus mampu memberi inspirasi kepada karyawan/bawahan untuk lebih mengutamakan kemajuan organisasi dari pada kepentingan pribadi. Kemudian pemimpin juga harus memberikan perhatian yang baik kepada seluruh karyawan/bawahan dalam organisasi serta mampu merubah kesadaran karyawan/bawahan dalam melihat permasalahan lama dengan cara baru. Dalam konteks kepemimpinan lokal, gaya kepemimpinan ini cenderung berorientasi pada perubahan melalui visi dan misi yang dimiliki oleh pemimpin. Menurut (Robbins, 2. , pemimpin harus mampu bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati dan diinginkan. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada pembangunan kota terlihat dalam kepemimpinan Bobby Nasution pada masa jabatannya sebagai Walikota Medan. Hal ini terlihat dalam beberapa aspek yang membuktikan bahwa Bobby Nasutin tergolong responsif terhadap kebutuh masyarakat di Kota Medan, terkhususnya Kecamatan Medan Amplas. Berdasarkan penyebaran instrumen penelitian yang peneliti berikan kepada masyarakat Kecamatan Medan Amplas. Kota Medan, hasil memperlihatkan bahwa gaya kepemimpinan politik Bobby Nasution berada pada tahap yang cukup baik. Hasil analisis korelasi Pearson Product Moment menunjukkan koefisien korelasi rhitung sebesar 0,6013. Nilai ini berada dalam interval 0,60 s/d 0,799, yang berdasarkan pedoman interpretasi Sugiyono . , dikategorikan sebagai tingkat korelasi kuat. Temuan ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan timbal balik yang signifikan dan kuat antara Gaya Kepemimpinan Politik (X) dengan Efektivitas Program Kerja (Y). Arah hubungan yang positif menunjukkan bahwa perubahan atau peningkatan kualitas dalam Gaya Kepemimpinan Politik akan diikuti oleh peningkatan Efektivitas Program Kerja. Hal ini diperoleh dari data hasil penelitian yang menjelaskan masing-masing indikator kepemimpinan yang diteliti mengadopsi empat dimensi utama dari gaya kepemimpinan transformasional, yaitu Kharisma. Motivasi Inspiratif. Stimulasi Intelektual, dan Perhatian yang Individual, yang secara kolektif menjelaskan kuatnya pengaruh yang ditemukan. Nilai korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa daya tarik pribadi dan kemampuan pemimpin untuk membangkitkan emosi positif pada masyarakat telah berhasil menciptakan fondasi kepercayaan dan dukungan dari masyarakat. Adanya kharisma memungkinkan pemimpin untuk mengarahkan dan memobilisasi sumber daya dengan lebih mudah, yang merupakan prasyarat penting untuk mencapai efektivitas program kerja. Tidak hanya itu saja hasil yang signifikan mengimplikasikan bahwa komunikasi yang bersemangat dan berorientasi masa depan yang dilakukan pemimpin berhasil menumbuhkan optimisme kolektif di masyarakat. Pengaruh yang kuat . yang tinggi menunjukkan bahwa dengan mendorong pemikiran kritis dan inovatif, pemimpin telah menciptakan lingkungan kerja yang tidak takut mengambil risiko yang terukur. Hasil penelitian menunjukkan korelasi kuat . hitung = 0,6. dan pengaruh yang signifikan . hitung = 5,2. antara Gaya Kepemimpinan Politik terhadap Efektivitas Program Kerja. Temuan ini dapat dihubungkan dan diperkuat melalui tiga teori kepemimpinan umum yang didefinisikan oleh (Robbins, 2. dan Robbins & Judge . Kuatnya korelasi yang ditemukan menunjukkan bahwa sifat-sifat pribadi pemimpin sebagaimana diukur melalui kharisma memainkan peran penting dalam memobilisasi dukungan dan kesediaan bawahan untuk bekerjasama, yang merupakan definisi dasar kepemimpinan menurut (Robbins, 2. Hasil yang signifikan juga membuktikan bahwa perilaku pemimpin dalam menginspirasi dan memperhatikan masyarakat, yang merupakan elemen kunci dalam mencapai Efektivitas Program Kerja. Studi terdahulu yang membahas secara komprehensif mengenai gaya kepemimpinan Bobby Nasution sebagai Walikota Medan oleh (Syahlani et al. , 2. mengindikasikan bahwa gaya kepemimpinan Bobby Nasution memiliki pengaruh yang cukup signifikan. Hal ini diperkuat dengan adanya persamaan hasil penelitian dengan penelitian (Syahlani et al. , 2. yang menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan Bobby cenderung berorientasi pada pembangunan Kota Medan dan kesejahateraan pada masyarakat. Indikator keberhasilan pembangunan ini tercermin dalam program kerja dan tujuan utamanya, yaitu memulihkan perekonomian dan mencapai kepuasan masyarakat atas layanan publik yang diberikan. Kemudian dalam kepemimpinannya yang digemari oleh masyarakat, penelitian ini juga menjelaskan bahwa masa kepemimpinan Bobby Nasution sebagai Walikota Medan berhasil membawa Kota Medan meraih penghargaan terbaik kedua pada Anugerah Layanan Investasi (ALI) 2022. Prestasi ini merupakan pengakuan atas kinerja unggul Kota Medan dalam Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan Percepatan Pelaksanaan Berusaha (PBB). Penelitian terdahulu oleh (Damanik et al. , 2. juga memiliki persamaan dengan penelitian ini dengan menjelaskan Bobby Nasution dikenal dengan pemimpin yang memiliki visi pembangunan yang kuat dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Salah satu program prioritas utamanya difokuskan pada perbaikan infrastruktur jalan guna mengubah citra kota yang sebelumnya dijuluki kota sejuta lubang. Tidak hanya itu saja, pemimpin yang dikenal memiliki personal branding yang tinggi dan mampu memotivasi masyarakat melalui katakatanya, juga menjadi bagian penting masyarakat menggemari kepemimpinan Bobby Nasution sebagai Walikota Medan. Penelitian terdahulu oleh Sari et al. , . juga memperkuat bahwa kepemimpinan Bobby yang komunikatif menjadi indikator penting masyarakat menyukainya. Perihal tersebut dikarenakan ia mampu memberikan janji yang manis kepada masyarakat untuk mengubah dan menyelasikan permasalahan Kota Medan dari banjir dan jalan berlubang. Keberhasilan program prioritas Bobby Nasution selama menjadi Walikota Medan dipengaruhi oleh bebapa faktor yang mendukung, salah satunya adalah gaya kepemimpinannya yang transformasional dan berorientasi pada kemajuan dan pembangunan kota. Penelitian ini juga diperkuat dengan adanya persepsi publik dalam penelitian terdahulu . oleh Afandi Tanjung . yang menguraikan bahwa masyarakat menyukai Bobby Nasutin sebagai seorang pemimpin yang mampu memiliki visi untuk pembangunan dan perubahan kota yang lebih baik serta sebagai pemimpin yang mampu menyelesaikan permasalahan kronis, terutama isu-isu mendasar seperti gorong-gorong yang tersumbat dan banjir di Kota Medan. Sejalan dengan hal tersebut, kepemimpinan Bobby Nasution sebagai Walikota Medan tidak hanya dikenal sebagai pemimpin yang berorientasi pada perubahan dan pembangunan Akan tetapi, penelitian terdahulu . oleh Sabarina . menguraikan bahwa Bobby dikenal sebagai pemimpin yang demokratis dalam memimpin. Hal tersebut dibuktikan dengan Bobby Nasution melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses pengambilan keputusan politik. Penelitian ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan penelitian yang penulis lakukan di Kecamtan Medan Amplas. Kota Medan. Berdasarkan hasil penyebaran instrumen angket kepada masyarakat menunjukkan frekuensi respons yang tinggi terhadap item pernyataan yang mengindikasikan bahwa Bobby Nasution dikenal kurang melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian ini menjadi temuan baru terhadap gaya kepemimpinan politik Bobby Nasuiton sebagai Walikota Medan, terlepas Bobby Nasution memiliki pengaruh dalam kepemimpinannya akan tetapi masih menimbulkan kritik dari masyarakat di Medan Amplas agar lebih dilibatkan dalam proses pengambilan dan pembuatan keputusan. Secara keseluruhan, kepemimpinan Bobby Nasution diterima karena visi pembangunan dan kemampuannya menyelesaikan masalah fisik kota, namun terjadi polarisasi persepsi mengenai derajat pelibatan dan keterbukaan pemimpin dalam proses pengambilan keputusan politik. Kontradiksi ini menyajikan celah penelitian yang menarik dan menunjukkan adanya perbedaan antara citra pemimpin yang demokratis dengan pengalaman riil masyarakat di Kecamtan Medan Amplas. Tidak hanya itu saja, terlepas dari keberhasilan program kerja yang telah dilakukan dalam kepemimpinaannya. Penelitian yang peneliti lakukan menyoroti pada kritik terhadap Bobby Nasution agar rutin secara berkala untuk melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap keberhasilan program prioritas di bidang infrastrukur. Penyebaran instrumen angket memperlihatkan tingginya frekuensi respons masyarakat yang tidak setuju terhadap item pernyataan bahwa Bobby melakukan evaluasi terhadap infrastruktur jalan terkhsusnya di Kecaamatan Medan Amplas. Kota Medan. Hasil penelitian ini menjadi temuan baru dan perbedaan bagi penelitian sebelumnya yang hanya menyoroti keberhasilan program kerja, namun tidak secara objektif menilai seberapa efektif program kerja tersebut dalam jangka panjang dengan tujuan kesejahteraan masyarakat Kota Medan. Meskipun kepemimpinan Walikota Bobby Nasution secara umum diterima dan berhasil dalam menyukseskan program kerja yang proaktif dalam menyelesaikan masalah fisik Temuan penelitian ini di Kecamatan Medan Amplas justru menyajikan perbandingan signifikan terhadap citra demokratis yang diuraikan oleh penelitian terdahulu (Sabarina, 2. Keterlibatan aktif masyarakat dalam pembuatan keputusan politik serta kebutuhan akan pemantauan dan penilaian rutin terhadap infrastruktur merupakan temuan penting yang menyoroti bahwa meskipun kinerja program dianggap efektif, masih diperlukan perbaikan dan peningkatan lebih lanjut di waktu mendatang. Simpulan Berdasarkan hasil analisis data kuantitatif, diperoleh koefisien korelasi rhitung sebesar 0,6013 yang menunjukkan adanya hubungan korelasi yang kuat antara kedua variabel. Selain itu, uji signifikansi korelasi menguatkan temuan ini karena nilai rhitung . ,6. Ou rtabel . ,2. mengkonfirmasi adanya keterikatan yang erat dan tidak terjadi secara kebetulan antara variabel kepemimpinan politik dan efektivitas program kerja. Pengujian hipotesis melalui Uji T lebih lanjut membuktikan sifat kausal dari hubungan tersebut. Nilai thitung yang diperoleh adalah 5,2679. Nilai ini jauh melampaui nilai ttabel sebesar 2,002 pada uji signifikansi 0,05 taraf uji dua Berdasarkan kriteria statistik apabila thitung Ou ttabel maka hipotesis Alternatif Ha Maka dari itu berdasarkan data hasil uji analisis statistik yang diperoleh, thitung 5,2679 Ou ttabel 2,002 yang mengindikasikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Gaya Kepemimpinan Politik terhadap Efektivitas Program Kerja. Kuatnya pengaruh ini secara teoritis sejalan dengan model kepemimpinan transformasional yang diadopsi, di mana aspek-aspek seperti kharisma, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual, dan perhatian individual berfungsi sebagai katalisator . empercepat perubahan atau kemajua. utama yang mendorong komitmen, inovasi, dan kinerja kolektif aparatur, yang pada akhirnya memuncak pada peningkatan efektivitas program kerja di Kecamatan Medan Amplas. Kota Medan. Sumatera Utara. Berdasarkan uraian kesimpulan di atas, dan setelah adanya penyebaran instrumen penelitian, yaitu angket, maka beberapa saran peneliti berdasarkan penelitian ini diantaranya adalah perluasan keterlibatan masyarakat dalam proses politik dan pengambilan keputusan program kerja, khususnya melalui forum konsultasi publik yang terstruktur, untuk meningkatkan legitimasi dan relevansi program, mempercepat dan menjamin penyaluran bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan agar tepat sasaran, sebagai wujud nyata kepedulian dan responsivitas kepemimpinan, melakukan reformasi birokrasi yang berfokus pada efisiensi proses guna memastikan pemberian pelayanan publik yang cepat dan memuaskan bagi seluruh warga, terkhususnya di Kecamatan Medan Amplas. Kota Medan, memastikan adanya tindak lanjut terhadap infrastruktur yang telah diperbaiki, khususnya kondisi jalan, agar hasil perbaikan memiliki durabilitas jangka panjang dan menerapkan sistem monitoring dan evaluasi . secara berkala dan terukur untuk setiap program kerja, guna mengidentifikasi secara dini potensi penyimpangan atau kegagalan program, menjadikan aduan dan masukan masyarakat sebagai komponen wajib dalam proses perumusan dan pengambilan kebijakan infrastruktur, sehingga kebijakan yang dihasilkan bersifat bottom-up dan responsif terhadap kebutuhan warga. Referensi