Dewi, dkk / Tropical Animal Science 7. :277-288 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 Tropical Animal Science. November 2025, 7. :277-288 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas EVALUASI KARAKTERISTIK FISIK DAN KIMIA COMPLETE FEED FERMENTASI BERBASIS VARIETAS SORGUM (SORGHUM BICOLOR (L. MOENCH) DAN PERBEDAAN LEVEL PROTEIN EVALUATION OF PHYSICAL AND CHEMICAL CHARACTERISTICS OF FERMENTED COMPLETE FEED BASED ON SORGHUM (SORGHUM BICOLOR (L. ) MOENCH) VARIETIES AND PROTEIN LEVELS Anggi Derma Tungga Dewi1. Herdiyon Banu Sanjaya2. Eka Rizky Vury Rahayu2. Bambang Suhartanto3* 1Jurusan Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Jalan Prof. Dr Jl. Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro No. Kota Bandar Lampung. Lampung 35141 2Program Studi Agribisnis Peternakan. Politeknik Negeri Lampung Jl. Soekarno Hatta No. Rajabasa Raya. Kec. Rajabasa. Kota Bandar Lampung. Lampung 35141 3Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Jl. Fauna No. Bulaksumur. Yogyakarta 55281. Indonesia *Email korespondensi: bamsuhar@mail. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dua varietas sorgum dan level protein dalam complete feed fermentasi memengaruhi karakteristik fisik dan kimianya. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial 2 x 2, melibatkan dua varietas sorgum, yaitu BMR dan Super-2, yang diformulasikan ke dalam complete feed dengan dua level protein berbeda . % dan 11%), kemudian difermentasi selama 7 hari. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Analisis terhadap sampel complete feed fermentasi dilakukan untuk mengamati karakteristik fisik seperti aroma, warna, tekstur, dan pertumbuhan jamur, serta parameter kimia seperti kadar bahan kering (BK), bahan organik (BO), protein kasar (PK), lemak kasar (LK), dan serat kasar (SK). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) berdasarkan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial, dan perbedaan antar perlakuan diuji menggunakan uji lanjutan DuncanAos Multiple Range Test. Hasil analisis menunjukkan bahwa complete feed fermentasi yang disusun menggunakan varietas sorgum BMR memberikan kualitas fisik . arna, tekstur, dan keberadaan jamu. serta kualitas kimia . adar bahan kering, bahan organik, protein kasar, serat kasar, dan lemak kasa. yang lebih unggul secara signifikan (P<0,. dibandingkan dengan varietas Super-2. Selain itu, complete feed dengan level protein 11% menunjukkan mutu fisik . arna dan jamu. dan kimia . adar BK. BO. PK. SK, dan LK) yang lebih baik secara signifikan (P<0,. dibandingkan dengan level protein 8%. Kata Kunci: Hijauan sorghum varietas BMR dan super-2, complete feed, fermentasi, level protein ABSTRACT This study was carried out to determine the effect of sorghum varieties and protein levels of fermented complete feed on physical and chemical quality on completely randomized design with a 2 x 2 factorial pattern. Dewi, dkk / Tropical Animal Science 7. :277-288 two varieties of sorghum forage namely BMR and Super-2 were used to make a complete feed with 2 different protein levels, 8 and 11%, then fermented for 7 days. Each treatment was in 3 replications. Fermented complete feed was sampled for physical quality, including smell, color, texture, and presence of fungus, as well as chemical quality analysis, including dry matter (DM), organic matter (OM), crude protein (CP), and crude fiber (CF). Data were analyzed for variance according to a completely randomized design with a factorial pattern, and differences between treatments were tested by Duncan's multiple range test. The results showed that the complete feed fermented sorghum of the BMR variety had better physical . olor, texture, and fungu. and chemical quality (DM. OM. CP, and CF) (P<0. compared to super-2. 11% protein level of fermented complete feed had better physical . olor and fungu. and chemical quality (DM. OM. CP, and CF) (P<0. compared to the 8% protein Keywords: sorghum forage. BMR and super-2 variety, complete feed, fermentation, protein levels PENDAHULUAN Kemajuan dalam pengembangan varietas sorgum (Sorghum bicolo. telah memberikan kontribusi nyata dalam sektor peternakan sebagai sumber pakan, dengan beberapa varietas yang dapat dimanfaatkan, antara lain varietas Super-2 dan BMR (Brown Midrib Resistanc. (Aqil et al. , 2. Sorgum ruminansia, terutama pada bagian hijauannya . atang dan dau. yang berperan sebagai sumber serat. Masing-masing varietas sorgum memiliki keunggulan tersendiri. Varietas Super-2, kelebihan seperti tinggi tanaman mencapai 2,16 meter, umur panen 105 hari, potensi hasil biji 5,75 ton/ha, kadar gula Brix sebesar 13,47%, produksi biomassa 38,70 ton/ha, serta potensi menghasilkan etanol hingga 4. 220 liter/ha. Sorgum mutan Brown Midrib Resistance (BMR) merupakan hasil pemuliaan melalui mutasi yang ditujukan secara khusus untuk keperluan pakan ternak. Dibandingkan dengan varietas sorgum konvensional, sorgum BMR memiliki kadar lignin yang lebih rendah dan tingkat kecernaan yang lebih tinggi, sehingga lebih cocok digunakan sebagai hijauan pakan. Mutasi ini menyebabkan perubahan pada struktur dinding sel tanaman, yang berakibat pada penurunan lignin serta (Water Soluble Carbohydrate/WSC). Kandungan nutrisi hijauan sorgum dibutuhkan oleh ternak ruminansia, namun pemberian pakan secara tunggal masih kurang Teknologi complete feed dapat menjadi solusi karena merupakan campuran bahan pakan dapat berupa hijauan atau silase dengan konsenstrat yang mampu memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi ternak tanpa adanya tambahan substansi lain kecuali Complete feed dari campuran hijauan sorgum dan konsentrat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, namun kandungan serat kasar pada sorgum . ,4%) cukup tinggi. Teknologi pengolahan pakan fermentasi dengan penambahan inokulum tertentu dapat dilakukan sebagai salah satu cara mengatasi permasalahan tersebut. Pada umumnya, hasil akhir dari proses fermentasi mengandung senyawa-senyawa yang lebih sederhana dan lebih mudah dicerna dibandingkan dengan bahan dasarnya (Laelasari dan Purwadaria, 2. Berdasarkan potensi dan kandungan nutrisi sorgum dan pengaruhnya pada pembuatan complete feed fermentasi, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh varietas sorgum yang dibuat complete feed fermentasi dengan level protein kasar yang berbeda terhadap kualitas fisik dan kimia. Dewi, dkk / Tropical Animal Science 7. :277-288 MATERI DAN METODE Materi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2019 sampai dengan Januari 2020. Penanaman sorgum dan pembuatan complete feed fermentasi dilakukan di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT). Desa Kalitirto. Kecamatan Brebah. Kabupaten Sleman Universitas Gadjah Mada. Analisis kualitas fisik dan kimia dilakukan di Laboratorium Hijauan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Bahan yang digunakan berupa hijauan sorgum varietas BMR dan super-2 yang ditanam dan dipanen pada saat 60 hari setelah tanam (HST). Inokulum yang digunakan untuk fementasi sorgum yaitu Saus Burger PakanA (SBP) dan tambahan molases sebagai substrat. Konsentrat penyusun complete feed fermentasi yaitu bungkil kopra, pollard, kleci, onggok, dan dedak padi halus. Bahan-bahan lain berupa bahan-bahan untuk analisis proksimat. Selanjutnya campuran bahan pakan dimasukkan ke dalam botol fermentor . oples kac. dengan kapasitas 500 g. Selama proses pengisian dilakukan pemadatan untuk mengurangi udara yang terperangkap di antara bahan pakan yang difermentasi. Toples berisi complete feed fermentasi disimpan selama 7 hari. Proses fermentasi dilakukan dengan mencampurkan hijauan sorgum dengan bahan pakan lain sehingga terbentuk pakan dengan kandungan protein 8,0 dan 11,0% ditambah dengan SBPA (Saus Burger Paka. dan molases masingmasing sebanyak 0,5% dari total bahan kering. Komposisi bahan pakan penyusun complete feed fermentasi berbasis hijauan sorgum varietas BMR dan super-2 tersaji pada Tabel 1 dan 2. Tabel 1. Kandungan Nutrisi bahan pakan penyusun complete feed Bahan pakan BK(%) PK(%) LK(%) SK(%) Abu(%) Sorgum BMR** Sorgum super-2** Bungkil kopra* Onggok* Kleci* Pollard* Dedak padi* 23,66 21,81 86,00 84,63 90,00 86,00 86,00 7,77 5,00 21,60 2,20 14,45 18,70 13,80 2,90 2,56 10,20 6,42 1,86 52,50 14,00 27,17 33,68 12,10 13,57 36,36 7,70 11,60 9,95 9,41 6,40 3,08 3,15 4,90 11,70 BETN(%) 48,20 48,20 49,70 43,98 43,98 16,40 48,70 TDN( 57,00 57,00 85,00 78,30 63,54 86,00 74,00 Keterangan : *Data didapat dari buku Hartadi. , et al. **Analisis dilakukan di Laboratorium Hijauan Makanan Ternak Dan Laboratorium Biokimia Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Tabel 2. Komposisi bahan pakan penyusun complete feed berbasis hijauan sorgum varietas BMR dengan kandungan protein kasar berbeda Level Protein Kasar (PK) Bahan Pakan 8,0% 11,0% Hijauan sorgum varietas BMR Bungkil kopra Onggok Kleci Pollard Dedak Padi Total Dewi, dkk / Tropical Animal Science 7. :277-288 Kandungan Nutrien ransum (%) BK * Bahan kering (BK) 48,86 48,76 Bahan organik (BO 91,83 92,46 Protein kasar (PK) 8,54 11,72 Serat kasar (SK) 22,96 36,53 Lemak kasar 9,26 4,07 Bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 51,79 50,45 Total digestible nutrient (TDN) 62,72 65,01 Keterangan : *Analisis dilakukan di Laboratorium Hijauan Makanan Ternak Dan Laboratorium Biokimia Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada dilanjutkan dengan uji lanjutan DuncanAos Metode Penelitian Multiple Range Test (Steel dan Torrie, 1. Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial 2 x 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor pertama adalah varietas sorgum yaitu super-2 dan BMR, faktor kedua adalah level Kualitas Fisik Complete Feed Fermentasi protein complete feed yang terdiri dari 8 dan Kualitas fisik complete feed fermentasi berbasis Setiap perlakuan dilakukan masinghijauan sorgum dan level protein yang berbeda masing 3 kali sebagai replikasi sehingga tersaji pada tabel 5. terdapat 12 unit percobaan. Aroma Analisi Kualitas Fisik Complele Feed Tabel 5 menunjukkan bahwa aroma Pengamatan kualitas fisik Complete feed complete feed pada varietas BMR tidak berbeda fermentasi dilakukan dengan menggunakan nyata secara statistik dengan varietas Super-2. uji fisik yang meliputi warna, bau, tekstur dan Hasil penelitian menujukkan bahwa nilai ratakeberadaan jamur. Dengan menggunakan 10 rata aroma complete feed pada varietas BMR dan orang panelis yang merupakan mahasiswa Super-2 masing-masing adalah 2,17 dan 2,50. Fakultas Peternakan UGM. Variabel yang Hasil yang tidak berbeda nyata disebabkan diamati dalam penelitian ini adalah uji kualitas dalam pembuatan complete feed menggunakan fisik meliputi tekstur, warna dan aroma dan bahan-bahan yang sama, yaitu sorghum, keberadaan jamur. onggok, dedak, pollard, dan kleci. BahanAnalisis Kualitas Kimia Complete Feed bahan lain yang dicampur dalam pembuatan Fermentasi complete feed menghasilkan aroma khas. Komposisi kimia sampel complete feed sehingga pengaruh dari varietas sorgum tidak fermentasi yang telah digiling dianalisis yang mendominasi hasil akhir. meliputi bahan kering, bahan organik, protein Aroma pada perlakuan varietas BMR kasar, dan serat kasar dengan metode dan Super-2 menujukkan hasil 2,17 dan 2,50, proksimat menurut AOAC, 2005. sedangkan pada perlakuan level pk 8% dan Analisa Data 11% menunkukkan hasil 2,17 dan 2,51. Hasil Data mengenai kualitas fisik seperti tekstur, tersebut menunjukkan bahwa complete feed warna, aroma, dan keberadaan jamur serta menghasilkan aroma asam segar dan asam kualitas kimia meliputi bahan kering/BK, dengan sedikit aroma amoniak. Hal tersebut bahan organik/BO, protein kasar/PK, dan serat menujukkan tidak adanya kerusakan pada kasar/SK dianalisis menggunakan analisis kuliatas silase yang dihasilkan dari kedua varians sesuai dengan rancangan acak lengkap perlakuan tersebut. Aroma asam merupakan pola faktorial. Apabila ditemukan perbedaan pengaruh dari proses fermentasi karbohidrat yang signifikan antar perlakuan, maka yang terdapat pada sorghum, onggok, pollard. Dewi, dkk / Tropical Animal Science 7. :277-288 dedak, dan kleci yang menghasilkan asam laktat yang beraroma asam. Hasil ini seseuai dengan pendapat Kim et al. , bahwa aroma asam timbul akibat proses fermentasi bakteri anaerab menghasilkan asam organik. Tabel 5. Kualitas fisik complete feed fermentasi berbasis hijauan sorgum dengan varietas dan level protein kasar (PK) yang berbeda Perlakuan Parameter Aroma Warna Tekstur Jamur Varietas BMR Super-2 Rerata BMR Super-2 Rerata BMR Super-2 Rerata BMR Super-2 Rerata Level PK 2,01A1,01 2,34A0,58 2,17A0,76ns 1,34A0,58 3,01A0,01 2,17A0,98x 2,34A0,58 3,01A0,01 2,67A0,52ns 2,01A0,01 1,34A0,58 1,67A0,52x 2,34A1,16 2,67A0,58 2,51A0,84ns 3,01A0,01 3,01A0,01 3,01A2,58y 2,01A0,01 3,01A0,01 2,50A0,55ns 3,01A0,01 2,01A0,01 2,50A0,55y Rata-Rata 2,17A0,98ns 2,50A0,55ns 2,17A0,98a 3,01A0,01b 2,16A0,41a 3,01A0,01b 2,51A0,55a 1,67A0,52b Keterangan: Superskrip a,b: terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (P<0,. Superskrip ns: tidak terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (P<0,. Aroma pengaruh bungkil kopra dalam pembuatan complete feed. Tama et al. dalam penelitiannya menyatakan bahwa aroma amonia muncul akibat berubahnya nitrogen menjadi amonia. Bungkil kopra mengandung protein tinggi, sehingga mengandung nitrogen (N) yang menghasilkan amoniak ketika Warna Data pada Tabel 5 menujukkan bahwa varietas sorghum memberikan pengaruh (P<0,. terhadap warna complete feed. Warna pada complete feed pada perlakuan varietas BMR menghasilkan nilai lebih rendah . dibandingkan dengan variertas Super-2 . Warna pada complete feed dengan perlakuan sorghum varietas BMR berwarwa hijau kecoklatan menujukkan kualitas fermentasi yang baik karena menyerupai warna asal. Buhi et al. menyatakan bahwa warna pakan fermentasi yang baik adalah yang menyerupai warna asal. Warna dari sorghum BMR adalah berwarna hijauan kecoklatan. Sedangkan pada perlakuan varietas Super-2 terjadi perubahan warna dari hijau menjadi hijau kekuningan. Data pada Tabel 5 menunjukkan bahwa level PK memberikan pengaruh (P<0,. terhadap warna complete feed. Warna pada compete feed yang pada level PK 8% menghasilkan nilai lebih rendah . dibandingkan pada level PK 11% . Hal ini disebabkan perbedaan formulasi bahan pakan penyusun complete feed. Pada complete feed dengan level PK 11% berwarna kekuningan karena kandungan bungkil kopra yang lebih banyak . ,60%) dibandingkan dengan complete feed pada level PK 8% . ,00%). Proses fermentasi yang menghasilkan warna produk fermentasi yang mendekati warna asal. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Sandi et al. , bahwa warna produk fermentasi Dewi, dkk / Tropical Animal Science 7. :277-288 yang menyerupai warna asal menandakan proses ferementasi yang berkualitas tinggi. Tekstur Hasil penelitan (Tabel . menunjukkan memberikan pengaruh (P<0,. terhadap tekstur complete feed. Nilai tekstur complete feed pada perlakuan varietas BMR menujukkan hasil yang lebih rendah . dibandingkan perlakuan varietas Super-2 . Hasil tersebut menunjukkan bahwa tekstur complete feed pada perlakuan varietas BMR lembut dan mudah dipisahkan, sedangkan pada perlakuan varietas Super-2 kokoh, lebih lembut dan sulit Perbedaan tekstur pada kedua perlakuan tersebut disebabkan perbendaan BK complete feed. Data pada Tabel 6 menunjukkan bahwa kandungan BK pada complete feed dengan perlakuan varietas BMR dan Super-2 berturut-turut adalah 48,73 dan 38,51. Kandungan air yang lebih tinggi pada complete feed dengan perlakuan varietas sorghum Super-2 menyebabkan pakan menjadi lebih menggumpal dan sulit Di sisi lain, complete feed dengan perlakuan varietas shorghum BMR memiliki kandungan air yang lebih rendah sehingga tidak menggumpal dan lebih mudah untuk Hasil ini sesuai dengan penelitian Nasution et al. yang menujukkan bahwa kandungan air mempengaruhi tekstur complete Complete feed dengan perlakuan varietas sorghum BMR menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan varietas sorghum Super-2 karena memiliki tekstur yang hampir sama dengan kondisi awal. Aglazziyah et al. menyatakan bahwa tekstur bahan pakan fermentasi yang berkualitas baik adalah yang masih seperti tekstur bahan dasarnya. Perbedaan level PK tidak memberikan pengaruh (P>0,. terhadap tektur complete Tidak adanya perbedaan tekstur disebabkan perbedaan kandungan air pada complete feed tidak terlalu jauh. Tabel 6 menunjukkan bahwa kandungan air pada complete feed dengan level PK 8% dan 11% berturut-turut adalah 42,92% dan 44,32%. Jamur Data pada Tabel 5 menunjukkan bahwa perbedaan varietas sorghum pada complete feed memberikan pengaruh (P<0,. terhadap keberadaan jamur. Complete feed dengan perlakuan varietas sorghum BMR menujukkan hasil 2,51, sedangkan pada perlakuan varietas sorghum Super-2 menunjukkan hasil 1,67. Nilai tersebut berarti bahwa ken complete feed pada varietas sorghum BMR ditemukan jamur hanya di permukaan atau tidak ada sama sekali, sedangkan complete feed pada perlakuan varietas sorghum Super-2 jamur ditemukan di semua titik pengamatan atau hanya di Kondisi complete feed yang lebih baik pada perlakuan varietas sorghum BMR terjadi karena kandungan pati yang tinggi. Penelitian Sriagtula et al. menunjukkan bahwa sorghum varietas BMR mengandung water soluble carbohydrate (WSC) yang tinggi. WCS yang tinggi meningkatkan proses fermentasi, sehingga jamur sulit untuk Berdasarkan hasil penelitian, complete feed pada perlakuan varietas sorghum BMR dibandingkan dengan perlakuan varietas sorghum BMR. Hal ini sesuai dengan penelitian Sandi et al. yakni complete feed dengan kandungan jamur di bawah 10% . umlah jamur sediki. termasuk dengan pakan fermentasi dengan kualitas baik. Rahmat & Hariyanto . menyatakan bahwa tidak adanya jamur menunjukkan kualitas complete feed yang baik. Kualitas kimia complete feed fermentasi Kualitas kimia complete feed fermentasi berbasis hijauan sorgum dan level protein yang berbeda tersaji pada tabel 6. Kandungan Bahan Kering (BK) Hasil penelitian (Tabel . menujukkan bahwa perbedaan level PK berpengaruh (P<0,. terhadap keberadan jamur pada complete feed. Complete feed dengan level PK 11% dibandingkan dengan complete feed dengan level PK 8%. Data ini menunjukkan bahwa complete feed dengan level PK 11% berkualitas Dewi, dkk / Tropical Animal Science 7. :277-288 Sesuai dengan McDonald et al. silase yang berkualitas baik adalah yang tidak Kandungan bahan kering complete feed fermentasi pada Tabel 6 menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,. pada perlakuan varietas dan level PK. Complete feed fermentasi dengan perlakuan varietas BMR menunjukkan nilai yang lebih tinggi . ,73%) dibanding dengan perlakuan varietas super-2 . Hal ini mengindikasikan bahwa complete feed berbasis hijauan sorgum varietas BMR lebih kering setelah fermentasi, yang penting untuk memperpanjang umur simpan dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang tidak Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan morfologi tanaman dan kadar air awal pada hijauan masing-masing varietas, sesuai dengan hasil analisis komposisi kimia hijauan sorgum varietas super-2 dan BMR yang memiliki kandungan bahan kering masing-masing 21,81% dan 23,66% (Tabel . Tabel 6. Nilai kualitas kimia complete feed fermentasi berbasis hijauan sorgum dengan varietas dan level protein kasar (PK) yang berbeda Perlakuan Parameter Level PK Rata-Rata Varietas BMR 47,89A0,06 49,57A0,30 48,73A0,94b Kandungan BK (%) Super-2 37,94A0,31 39,08A1,17 38,51A0,99a Average 42,92A5,45 44,32A5,80 BMR 88,78A0,07 91,24A0,06 90,01A1,35b Kandungan BO (%) Super-2 79,15A0,89 90,28A0,01 84,71A6,12a Average 83,96A5,30 90,76A0,53 BMR 9,34A0,08 11,85A0,03 10,59A1,38a Kandungan PK (%) Super-2 9,16A0,14 11,46A0,20 10,31A1,32b Average 9,25A0,10x 11,65A0,22y BMR 33,79A0,86 22,56A0,34 28,17A6,17x Kandungan SK (%) Super-2 36,18A0,64 23,44A0,30 29,81A6,98y Average 35,16A0,97b 21,50A1,20a BMR 2,61A0,39 3,74A0,35 3,17A0,71a Keterangan: Superskrip a,b,x,y: terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (P<0,. Complete perlakuan level PK 11% menunjukkan nilai bahan kering yang lebih tinggi . ,32%) dibanding dengan level PK 8% . ,92%). Hal ini disebabkan karena persentase bahan pakan yang digunakan pada complete feed (Tabel 2 dan . dengan level PK 11% lebih tinggi dibanding dengan level PK 8%. Selain itu, kandungan bahan kering complete feed sebelum dan sesudah fermentasi mengalami penurunan, menurut Wulandari et al. , proses fermentasi pada umumnya mengakibatkan penurunan kadar bahan kering (BK) dan bahan organik (BO), yang disebabkan oleh aktivitas respirasi dan fermentasi. Respirasi memicu pemecahan kandungan nutrien, sehingga mengurangi kadar BK dan BO dalam silase, sementara fermentasi menghasilkan asam laktat dan air. Kandungan Bahan Organik (BO) Kandungan bahan organik pada complete feed fermentasi menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,. pada perlakuan varietas dan level PK. Complete feed fermentasi dengan perlakuan varietas BMR memiliki nilai bahan organik lebih tinggi . ,01%) dibanding dengan perlakuan varietas super-2 . , begitu juga dengan perlakuan level PK 11% Dewi, dkk / Tropical Animal Science 7. :277-288 memiliki nilai bahan organik yang lebih tinggi . ,76%), dibanding dengan level PK 8% . ,96%). Nilai bahan organik yang tinggi mencerminkan kandungan nutrien yang lebih banyak, terutama dari komponen yang dapat dicerna seperti karbohidrat, protein, dan BMR tampaknya memiliki potensi lebih baik sebagai sumber energi bagi ternak melalui kandungan bahan organik yang tinggi. Nilai bahan organik juga sejalan dengan nilai bahan kering, menurut Manikari et al. peningkatan kandungan bahan organik sejalan dengan peningkatan kandungan bahan kering sehingga faktor-faktor yang memengaruhi tinggi rendahnya bahan kering akan memengaruhi tinggi rendahnya bahan Kandungan Protein Kasar (PK) Kandungan protein kasar pada complete feed fermentasi pada Tabel 6 menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,. pada perlakuan varietas dan level PK. Complete feed fermentasi berbasis varietas BMR menunjukan kadar protein kasar yang lebih tinggi . ,59%) dibandingkan dengan varietas super-2 . ,31%). Demikian pula, perlakuan dengan level PK sebesar 11% menghasilkan kandungan protein kasar yang lebih tinggi . ,65%) dibandingkan level PK 8% . ,25%). Dalam penelitian ini, kandungan protein kasar yang lebih tinggi pada varietas BMR berkorelasi dengan komposisi nutrien bahan baku sorgum sebelum proses fermentasi (Tabel . , di mana sorgum BMR memiliki kadar protein kasar sebesar 7,77%, sedangkan varietas Super-2 hanya sebesar 5,00%. Perbedaan serupa juga terlihat pada kandungan protein kasar complete feed fermentasi pada level PK yang berbeda. varietas BMR, kandungan protein kasar masing-masing sebesar 8,54% (PK 8%) dan 11,72% (PK 11%) (Tabel . , sementara pada varietas Super-2 sebesar 8,33% dan 11,39% (Tabel . Peningkatan kandungan protein kasar pada varietas BMR diduga erat kaitannya dengan kandungan lignin yang lebih rendah, yang diketahui meningkatkan kecernaan dan ketersediaan nutrien (Derma et al. , 2021. Yang et al. , 2. Penelitian oleh Yang et al. mengemukakan bahwa modifikasi genetik BMR menurunkan sintesis lignin berkontribusi pada peningkatan daya cerna protein. Sebaliknya, varietas Super-2 memiliki kadar protein yang relatif lebih rendah, yang dapat menurunkan nilai nutrisi keseluruhan ketika digunakan sebagai bahan baku silase (Astuti et al. , 2. Kandungan Serat Kasar (SK) Kandungan serat kasar pada complete feed fermentasi pada Tabel 6 menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,. pada perlakuan varietas dan level PK. Complete feed fermentasi berbasis varietas BMR menunjukan kadar protein kasar yang lebih rendah . ,17%) dibandingkan dengan varietas super-2 . ,81%). Demikian pula, perlakuan dengan level PK sebesar 11% menghasilkan kandungan serat kasar yang lebih rendah . ,50%) dibandingkan level PK 8% . ,16%). Dalam penelitian ini, kandungan serat kasar yang lebih rendah pada varietas BMR berkaitan dengan sifat fisiologis dari tanaman tersebut, terutama kandungan lignin yang lebih rendah. Kandungan lignin yang rendah pada varietas BMR mampu menurunkan kandunagn serat kasar total, karena lignin merupakan komponen serat yang tidak tercerna dalam pakan. Hasil penelitian ini juga memperkuat hasil penelitian sebelumnya bahwa varietas BMR lebih unggul dalam hal kualitas nutrien dan efisiensi kecernaan (Yang et al. , 2019. Dewi et al. , 2. Selain pengaruh varietas, level PK juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kandungan serat kasar. Dalam penelitian ini, kandungan serat kasar yang rendah pada level PK 11% dibandingkan level PK 8% disebabkan karena adanya sinergi antara kadar protein dalam pakan selama proses fermentasi. Kehadiran nitrogen dari sumber protein tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan mikroba pemecah serat, menghasilkan Dewi, dkk / Tropical Animal Science 7. :277-288 fermentasi yang lebih kuat yang selanjutnya menurunkan kandungan serat. Ketika substrat dengan daya cerna rendah . ering ditandai dengan kandungan serat tingg. difermentasi dengan adanya sumber protein tinggi, dinamika fermentasi berubah (Shi et al. , 2015. Sundu et al. , 2. Selain itu, telah diketahui bahwa kandungan serat kasar sering kali menurun sebanding dengan peningkatan kandungan protein selama fermentasi karena proses transformasi yang terjadi. Laksono et al. , penurunan signifikan serat kasar didokumentasikan bersamaan dengan peningkatan protein kasar, yang menunjukkan adanya hubungan Pola ini konsisten di beberapa fermentasi ampas sagu dan ampas kelapa, yang menunjukkan tren serupa di mana kandungan serat menurun sementara kadar protein meningkat secara signifikan (Laksono et al. , 2023. Lani et al. , 2. Proses mengakibatkan berkurangnya serat dan peningkatan konsentrasi protein tetapi juga keseluruhan dan nilai gizi. Oleh karena itu, kombinasi penggunaan varietas sorgum BMR dan level PK yang lebih tinggi . %) dapat dianggap sebagai strategi formulasi yang efektif untuk menghasilkan complete feed fermentasi dengan kandungan serat kasar yang lebih rendah dan kualitas pakan yang lebih baik. Kandungan Lemak Kasar (LK) Kandungan lemak kasar pada complete feed fermentasi pada Tabel 6 menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,. pada perlakuan varietas dan level PK. Complete feed fermentasi berbasis varietas BMR menunjukan kadar lemak kasar yang lebih rendah . ,17%) dibandingkan dengan varietas super-2 . ,65%). Demikian pula, perlakuan dengan level PK sebesar 11% menghasilkan kandungan lemak kasar yang lebih tinggi . ,17%) dibandingkan level PK 8% . ,63%). Dalam penelitian ini, kandungan lemak kasar yang rendah pada varietas BMR disebabkan karena secara genetik sorgum BMR mengandung lignin yang rendah, yang dapat memengaruhi keseluruhan komposisinya, termasuk kandungan lemak. Tinjauan tentang komposisi berbagai jenis sorgum menunjukkan bahwa sorgum BMR mengandung kadar ekstrak eter (EE) yang jauh lebih rendah, yaitu indikator kandungan lemak dibandingkan dengan varietas sorgum lainnya (Dewi et al. , 2021. Sriagtula et al. , 2. Sebaliknya, varietas Super-2 cenderung memiliki kadar lemak yang lebih tinggi karena menghasilkan lebih banyak gula yang dapat menyebabkan peningkatan penumpukan lemak. Kandungan gula yang meningkat dalam Super-2 dikaitkan dengan lebih banyak karbohidrat non-struktural, yang berpotensi berkontribusi pada kadar lemak kasar yang lebih tinggi, karena produk metabolisme ini dapat diubah menjadi berbagai konstituen lemak selama fermentasi (Rahayu et al. , 2. Dengan demikian, profil nutrisi Super-2 sering kali mencerminkan kadar asam lemak yang lebih tinggi dibandingkan dengan BMR sorgum (Rahayu et , 2. Selain pengaruh varietas, level PK juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kandungan lemak kasar. Dalam penelitian ini, kandungan lemak kasar yang tinggi pada level PK 11% dibandingkan level PK 8% disebabkan karena proporsi bahan pakan penyusun complete feed. Pada level PK 11% mengandung bungkil kopra lebih tinggi . ,6%) dibandingkan level PK 8% . ,0010,00%). Penggunaan bahan pakan sumber protein yang juga mengandung lemak, seperti bungkil kopra juga dapat meningkatkan sintesis senyawa lipid. Bungkil kopra merupakan produk sampingan dari ekstraksi minyak kelapa yang mengandung sejumlah besar lemak . ekitar 7-10%) (MladenoviN et al. Sumber protein tinggi lemak ini berfungsi sebagai substrat untuk fermentasi Dewi, dkk / Tropical Animal Science 7. :277-288 makronutrien tetapi juga meningkatkan hasil fermentasi, terutama dalam hal sintesis lipid. Mikroorganisme kemampuan untuk memanfaatkan lemak sebagai sumber energi, mengubahnya menjadi senyawa lipid baru selama fermentasi. Penelitian penambahan sumber lemak tinggi seperti bungkil kopra dapat meningkatkan sintesis lipid karena kapasitas mikroorganisme untuk memetabolisme lemak ini secara efektif . botaleeb & Arafa, 2. Dengan demikian, proses fermentasi dapat menghasilkan konsentrasi asam lemak yang bermanfaat, termasuk asam lemak omega-3 dan omega-6, sebagai hasil dari aktivitas enzimatik mikroba (Nasir & Kamaruddin, 2. Selain itu, penambahan molase, yang kaya akan gula yang dapat pertumbuhan dan aktivitas mikroba, yang mengarah pada peningkatan sintesis lipid. Molase menyediakan sumber karbon yang mudah tersedia yang dapat meningkatkan laju fermentasi dan memperbaiki profil nutrisi keseluruhan dari pakan yang difermentasi. Pemecahan gula melalui fermentasi juga lipogenik yang digunakan oleh mikroba untuk mensintesis lipid (Djulardi et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian perlakuan kombinasi terbaik dari segi nilai kualitas fisik dan kimia terdapat pada perlakuan varietas BMR dan level protein kasar 11%. Kombinasi terbaik dari hasil ini dapat dipertimbangkan untuk pengembangan formulasi pakan fermentasi yang efisien, stabil, dan bernutrisi tinggi bagi ternak. DAFTAR PUSTAKA