JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. Analisis Failure Mode And Effect Analysis Proyek X Di Kota Madiun Aan Zainal Muttaqin. Yudha Adi Kusuma. Program Studi Teknik Industri. Universitas PGRI Madiun Email: aanzainal@unipma. Abstrak Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah suatu prosedur terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak mungkin mode kegagalan. Suatu mode kegagalan adalah apa saja yang termasuk dalam kecacatan, kondisi diluar spesifikasi yang ditetapkan, atau perubahan dalam produk yang menyebabkan terganggunya fungsi dari produk. Metodologi yang digunakan adalah penelitian deskriptif dimana pengumpulan data didapatkan dari penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan yang berupa wawancara dan pengamatan langsung. Pada analisis data yang dilakukan terdapat 46 potensi kegagalan dari kegiatan proyek. Kemudian dilakukan perhitungan pada nilai dampak yang ditimbulkan, kemudian nilai pada kegagalan yang ditimbulkan dan nilai pada cara pencegahan. Dari ketiga nilai tersebut dikalikan untuk menghitung nilai prioritas. Didapatkan RPN tertinggi pada 9 indikator yaitu perencanaan, kontrak kerja, kegiatan Workshop dan pasca proyek, kejadian tak terduga, kondisi politik, biaya, mutu dan waktu. Tiga indikator tertinggi adalah perencanaan dengan RPN 179,65, kemudian kontrak kerja RPN sebesar 137,09 dan kegiatan Workshop dengan RPN 170,85. Total RPN dari 9 indikator adalah 1289,37 dan nilai kritis sebesar 143,26. Kata kunci: FMEA. RPN. Mode kegagalan Abstract Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) is a structured procedure to identify and prevent as many failure modes as possible. A failure mode is anything that is included in the defect, conditions outside the specified specifications, or changes in the product that cause disruption of the function of the product. The methodology used is descriptive research where data collection is obtained from library research and field research in the form of interviews and direct observation. In the data analysis conducted there were 46 Potential failures of the project activities. Then do the calculations on the value of the impact caused, then the value on the failure caused and the value on Of the three values are multiplied to calculate the priority value. The highest RPN is obtained on 9 indicators, namely planning, work contracts. Workshops and postproject activities, unexpected events, political conditions, costs, quality and time. The three highest indicators are planning with RPN 179. 65, then RPN employment contract 09 and Workshop activities with RPN 170. The total RPN of the 9 indicators 37 and the critical value is 143. Keyword : FMEA. RPN, failure mode Pendahuluan Failure Mode And Effect Analysis (FMEA) adalah suatu prosedur terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah mode kegagalan . ailure mod. yang kemungkinan terjadi . Suatu mode kegagalan adalah apa saja yang termasuk dalam kecacatan, kondisi diluar spesifikasi yang ditetapkan, atau perubahan dalam produk yang menyebabkan terganggunya fungsi dari produk . Beberapa JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. kasus FMEA ini juga bisa diterapkan dalam penilaian risiko dengan cara memperluas Matrix tingkat keparahan risiko dengan memasukkan kemudahan mendeteksi pada kasus proyek . Menurut . tujuan yang dapat dicapai dengan penerapan FMEA: Mengidentifikasi mode kegagalan dan tingkat pengaruh efeknya Mengidentifikasi karakteristik kritis dan karakteristik signifikan Mengurutkan desain potensial dan defisiensi proses Membantu fokus para engineer dalam mencegah timbulnya permasalahan Pada dasarnya terdapat dua jenis FMEA . Design FMEA Digunakan untuk memastikan bahwa Potential failure modes, sebab dan akibatnya telah dipastikan memiliki keterkaitan dengan karakteristik desain. Design FMEA akan menguji fungsi dari komponen, sub sistem dan sistem, dengan potensialnya dapat berupa kesalahan pemilihan material, ketidaktepatan spesifikasi dan sebagainya . Process FMEA Digunakan untuk memastikan bahwa Potential failure modes, sebab dan akibatnya telah dipastikan memilki keterkaitan dengan karakteristik prosesnya. Process FMEA akan menguji fungsi dari komponen, sub sistem dan sistem. Modus potensialnya dapat berupa kesalahan operator dalam merakit part, terdapat variasi proses yang terlalu besar sehingga produk berada diluar batas spesifikasi yang telah ditentukan . , . Menurut . yang pertama dan paling penting tugas tim FMEA adalah mengumpulkan informasi tentang proyek atau proses secara keseluruhan dengan cara melakukan identifikasi dan implementasi pada kegiatan dan proses secara hati-hati melalui survei. Pengumpulkan informasi yang akurat, berguna dan menyeluruh tentang proyek dapat dilakukan dengan cara melalui wawancara, brainstorming dan study pustaka . Ae. Kemudian, daftar semua kesalahan yang menjadi penyebab dan kemungkinan terjadi secara singkat dan benar. Pengetahuan yang memadai dalam tindakan evaluasi dapat membantu untuk mengidentifikasi munculnya risiko . Untuk lebih mengetahui kemungkinan risiko perlu memperhatikan data historis, standar operasi, persyaratan dan peraturan yang mengatur tempat kerja dan kondisi kerja. Ketika menerapkan FMEA, setiap komponen diperiksa untuk mengidentifikasi kemungkinan Tiga langkah yang diperhatikan: kemungkinan terjadinya kegagalan (Occurrenc. , dampak atau keparahan kegagalan (Severit. , dan kemampuan untuk mendeteksi kegagalan sebelum terjadi (Detectio. , . Severity Keparahan atau penurunan risiko hanya dipertimbangkan pada "efek", mengurangi keparahan risiko hanya mungkin dilakukan melalui perubahan dalam proses dan kegiatan. Ada beberapa faktor kuantitatif untuk tingkat keparahan risiko ini yang dinyatakan pada skala 1 sampai 10. Tingkat keparahan ditunjukkan pada Tabel 1 dengan urutan prioritas . , . Tabel 1 Nilai Severity Effect Severity Of the Effect Hazardous Risiko menyebabkan dampak pada biaya, waktu, dan / atau ruang lingkup begitu parah sehingga tidak ada kesempatan untuk pemulihan. Hal ini mengharuskan penutupan proyek proses pada praktekkan. Serious Risiko mempengaruhi biaya, waktu dan / atau ruang lingkup, memerlukan tindakan oleh manajer untuk mencapai tujuan . Dampaknya memerlukan penundaan dan / atau peningkatan yang signifikan dari biaya, dan hilangnya fungsional dalam proyek. Ini memerlukan manajemen perubahan proyek, persetujuan, rencana kontingensi, dan review tujuan baru bagi kelangsungan proyek. Rank JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 Effect Extreme Major Significant Moderate Low Minor Very Minor None ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. Tabel 2 Nilai Severity . Severity Of the Effect Rank Risiko mempengaruhi biaya, waktu dan / atau ruang lingkup, dan memerlukan tindakan dari manajer proyek untuk mencapai tujuan proyek. Dampaknya memerlukan penundaan dan / atau peningkatan yang signifikan dalam biaya, dan dapat diterjemahkan ke dalam hilangnya proyek fungsi. Hal ini membutuhkan manajemen perubahan, perencanaan kontingensi, dan persetujuan proses proyek. Risiko mempengaruhi biaya, waktu dan / atau ruang lingkup, dan memerlukan tindakan dari manajer untuk mencapai tujuan proyek. Hal ini membutuhkan proses manajemen perubahan proyek pada praktiknya, dengan persetujuan pihak perusahaan atas perubahan ini. Risiko mempengaruhi biaya, waktu dan / atau ruang lingkup, dan memerlukan tindakan dari manajer untuk mencapai tujuan proyek. Ini mungkin mengharuskan proses manajemen perubahan proyek dipraktekkan, tanpa harus meminta persetujuan perusahaan. Risiko mempengaruhi biaya, waktu dan / atau ruang lingkup, dan memerlukan tindakan dari manajer untuk mencapai tujuan proyek. Risiko menyebabkan penundaan dalam kegiatan yang tidak pada jalur proyek kritis. Selain itu. Risiko dapat melibatkan dampak terhadap resources proyek, tanpa mempengaruhi batas waktu, anggaran dan ruang lingkup proyek. Risiko tidak menyebabkan ada kerugian kecil untuk tujuan proyek, memerlukan pengerjaan ulang atau koreksi minor dalam deliverable proyek, tidak ada waktu tambahan atau anggaran yang dibutuhkan. Risiko menyebabkan ada penundaan dan / atau biaya tambahan, tanpa mempengaruhi tujuan proyek atau keseimbangan terhadap biaya dan Risiko menyebabkan ada pembatasan pengetatan kecil di proyek, dengan tidak berdampak pada kualitas, biaya, waktu dan ruang lingkup. Detection Probabilitas pada Detection adalah salah satu jenis penilaian untuk mengidentifikasi penyebab / mekanisme risiko. Tim proyek harus menggunakan kriteria evaluasi dan dasar sistem jika beberapa perubahan diperlukan dalam kasus khusus. Penentukan pengendalian terbaik dilakukan sedini mungkin selama proses Selain itu, tim harus meninjau potensi skor risiko setelah mencetak skor dan memastikan bahwa peringkat ini masih tetap. Meskipun FMEA memprioritaskan kegagalan lebih kritis, hal itu juga memerlukan analisis setiap komponen sistem dan ini mungkin memakan waktu sumber daya yang tersedia. Cara menentukan nilai Detection dengan menggunakan rating 1-10, dimana setiap rating memiliki kriteria tersendiri dapat dilihat pada Tabel 2 berikut . , . Tabel 3 Nilai Detection Deteksi Kemungkinan deteksi Rank Tidak Tidak ada tindakan pencegahan terhadap risiko, atau tindakan sistematis untuk memantau dan mengendalikan risiko. (Deteksi kurang dari 1% dari waktu, dan risiko biasanya mempengaruhi proye. Sangat Tidak ada tindakan pencegahan terhadap risiko, dan tindakan untuk pengawasan dan pengendalian risiko jarang terjadi, tanpa menunjukkan kemungkinan tingkat lanjutan yang menjamin keefektifan manajemen risiko proyek. (Tidak ada pencegahan risiko, tetapi mendeteksi 10% setelah terjadinya, sebelum mempengaruhi tujuan proye. JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. Tabel 4 Nilai Detection . Deteksi Kemungkinan deteksi Rank Sedikit Tidak ada tindakan pencegahan terhadapa risiko, tetapi ada tindakan kemungkinan untuk monitoring dan kontrol risiko, dengan tidak ada tingkat lanjutan untuk menjamin pengulangan, prosedur dan frekuensi yang diperlukan untuk manajemen yang efektif. (Tidak mencegah risiko, tetapi mendeteksi 50% setelah terjadinya, sebelum mempengaruhi tujuan proye. Sangat Tidak ada mekanisme pencegahan penyebab risiko, tapi ada proses pemantauan dan pengendalian risiko selama proyek, dengan cara sistemik. (Tidak mencegah risiko, tetapi mendeteksi 90% setelah terjadinya, sebelum mempengaruhi tujuan proye. Rendah Ada sangat sedikit kesempatan untuk mendeteksi risiko sebelum (Mendeteksi dan menghindari terjadinya 10% dari waktu, dan hanya mendeteksi untuk sisany. Sedang Ada sedikit kesempatan untuk mendeteksi risiko sebelum terjadi. (Mendeteksi dan menghindari terjadinya 30% dari waktu, dan hanya mendeteksi untuk sisany. Cukup tinggi Ada kesempatan besar untuk mendeteksi risiko sebelum terjadi. (Mendeteksi dan menghindari terjadinya 50% dari waktu, dan hanya mendeteksi untuk sisany. Tinggi Kemungkinan tinggi mendeteksi penyebab risiko sebelum terjadi. (Mendeteksi dan menghindari terjadinya 70% dari waktu, dan hanya mendeteksi untuk sisany. Sangat tinggi Kemungkinan yang sangat tinggi untuk mendeteksi penyebab risiko sebelum terjadi. (Mendeteksi dan menghindari terjadinya 85% dari waktu, dan hanya mendeteksi untuk sisany. Hampir pasti Penyebab risiko pasti akan terdeteksi sebelum terjadi (Mendeteksi dan menghindari terjadinya 100% dari wakt. Occurrence Occurrence adalah probabilitas munculnya penyebab atau mekanisme tertentu. Dengan kata lain, probabilitas pada Occurrence spesifik pada frekuensi kejadian kesalahan potensial. Probabilitas pada Occurrence dinilai dengan angka 1 sampai 10 dari bantuan survei arsip dan dokumen sebelumnya, memeriksa proses kontrol dan hukum perburuhan. Pencegahan atau pengendalian dari satu atau beberapa mekanisme kesalahan adalah satu-satunya cara yang dapat mengurangi tingkat Occurrence melalui pembentukan perubahan dalam rencana atau proses desain seperti checklist desain, desain review, pedoman desain dan lain-lain. Jadi, hanya dengan menghilangkan atau mengurangi penyebab atau mekanisme setiap bahaya diharapkan mengurangi jumlah nilai probabilitas Occurrence, ditunjukkan pada Tabel 3 . , . , . Tabel 5 Nilai Occurrence Probability of Failure Sangat tinggi: kegagalan hampir tidak bisa dihindari. Tinggi: umumnya berkaitan dengan poses terdahulu yang sering menimbulkan kegagalan Sedang : umumnya berkaitan dengan proses terdahulu yang kadang mengalami kegagalan tetapi tidak dalam jumlah Rendah : kegagalan terisolasi berkaitan denganproses yang Possible Failure Rates >1 in 2 1 in 3 1 in 8 1 in 20 1 in 80 1 in 400 1 in 2,000 1 in 15,000 Rank JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. Tabel 6 Nilai Occurrence . Probability of Failure Possible Failure Rates Sangat rendah : hanya kegiatan terisolasi yang berkaitan 1 in 150,000 dengan proses yang hampir identik. Hampir tidak mungkin : kegagalan yang mustahil, tidak < 1 in 1,500,000 pernah ada kegagalan dalam proses yang identik. Rank Dari nilai Severity . Occurrence dan Detection dapat diperoleh nilai RPN, yaitu dengan cara mengalikan ketiga unsur tersebut (RPN = S X O X D). Berdasarkan nilai RPN yang telah diperoleh maka dilakukanlah pengurutan berdasarkan nilai RPN tertinggi sampai dengan terendah. Kegiatan produksi dengan nilai RPN tertinggi merupakan sasaran utama perbaikan yang harus segera Contoh penggunaan FMEA bisa dilihat pada Tabel 4: Peristiwa risiko Masalah antarmuka System freezing Reaksi pemakai yang tidak Malfungsi perangkat keras Tabel 7 Contoh penggunaan FMEA Kemungkinan Dampak Deteksi Kesulitan Kapan Konversi Start-up Pascainstalansi Instalansi Metode Penelitian Dalam pelakasanaan penelitian ini digunakan penelitian deskriptif . , yaitu penelitian yang menggambarkan sejumlah data yang kemudian dianalisis dengan menggunakan metode tertentu lalu diinterpretasikan berdasarkan kenyataan yang sedang berlangsung. Penelitian ini dilakukan untuk mencari dan mengumpulkan data untuk memperoleh fakta-fakta yang jelas terkait dengan berbagai keadaan dan situasi yang ada dalam perusahaan. Pada penelitian deskriptif ini, pengumpulan data didapatkan dari penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan yang berupa wawancara dan pengamatan langsung terhadap keadaan yang sebenarnya dalam perusahaan. Hasil dan Pembahasan Failure Mode And Effect Analysis (FMEA) merupakan tahapan penilaian risiko terhadap risiko proyek X yang sudah diidentifikasi dari aspek pelaksanaan, eksternal dan perencanaan operasional. Hasil dari penilaian risiko dengan FMEA ini berupa Risk Priority Number (RPN) . , . Sebelum penentuan Risk Priority Number (RPN) dilakukan pembobotan pada nilai Severity . Occurrence dan Detection. Perhitungan Nilai Severity Nilai Severity merupakan langkah untuk menghitung seberapa besar dampak atau intensitas kejadian dapat mempengaruhi hasil akhir proses. Dampak tersebut dinotasikan dengan skala 1 sampai 10, dimana nilai 1 merupakan dampak yang terendah dan nilai 10 adalah dampak yang terburuk. Sebagai contoh, pada risiko jenis produk menyebabkan perbedaan tingkat kesulitan pengerjaan akibat tidak fokusnya proyek produkyang diterima. Sehingga penilaian Severity berdasarkan Tabel 1 adalah sebesar 7, karena bentuk dari risiko memerlukan tindakan dari manajer untuk mencapai tujuan Nilai Severity dari masing-masing Potential failure pada proyek X dapat dilihat pada Tabel 5: Potential Failure Perbedaan jenis produk Teknologi baru yang Tabel 8 Nilai Severity untuk failure Potential Effect of Failure Tidak fokus dari perusahaan tentang proyek produk yang diterima. Perlu biaya untuk studi lanjutan terhadap proyek. Sev. JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. Kompleksitas pekerjaan Keberagaman pekerjaan, kemampuan Workshop tidak Keterlambatan pengiriman Terjadi perubahan jadwal produksi proyek. Tabel 9 Nilai Severity untuk failure . Potential Failure Potential Effect of Failure Barang rusak saat diterima Komponen belum bisa dipasang. Alternative penilaian supplier Kesulitan mencari pilihan apabila supplier langganan tidak bisa memenuhi pesanan. Perencanaan BOM. BQ. Sub preparation belum bisa dilaksanakan, terjadi delay Tespek lma pekerjaan di Workshop . Lambatnya respon pelanggan Waktu design drawing terlambat. design arrangement Beberapa aspek belum Terjadi revisi pada Work Instruction, beberapa proses dimasukkan dalam working yang dikerjakan berhenti sementara. Sistem kontrak yang Biaya proyek ditanggung perusahaan. Waktu nota dinas dan Menggangu progres pengerjaan proyek produklainnya. kontrak masuk tidak berjalan Penalti bila terjadi Kerugian finansial sehingga keuntungan berkurang. Kejelasan dan kelengkapan Disingkirkan pesaing, kehilangan kesempatan dapat dokumen tender Prosedur tender Pembatatalan kontrak. Pengaturan alokasi pekerja Pekerja sulit beradaptasi. Perilaku pekerja Banyak terjadi reproses dalam pekerjaan Ketersediaan alat kerja Pekerjaan di Workshop terhambat, waktu proses produksi tidak berjalan seimbang. Perbedaan tingkat Sering terjadi kecelakaan pekerja. kemampuan kerja Kemampuan luas area Kapasitas produksi perusahaan tidak mencukupi. Hubungan dengan beberapa Lalu lintas antar workstation padat, terjadi overload pekerjaan pada workstation tertentu Pengaturan lalu lintas Jenis alat angkut tidak sesuai dengan fungsi, jalur rel kendaraan proyek tidak dapat dilintasi. Menunggu proses Terjadi delay di unit fabrikasi, bebrapa pekerja sub engineering selesai kontrak dialihkan pada unit pekerjaan lainnya. Pekerjaan terhenti akibat Perencanaan cutting plan menjadi tersendat, material belum datang pada subpreparation belum bisa dilakukan. lot berikutnya Banyak terjadi reproses Waktu pekerjaan diunit berikutnya menjadi berkurang, setelah dilakukan inspeksi penambahan biaya produksi untuk melakukan tindakan Percepatan proses Perusahaan menambah pekerja subkontrak, perubahan jadwal produksi tidak berjalan normal. Tidak semua kegiatan dapat Beberapa proses tidak bisa diajalankan bersamaan, di kerjakan secara paralel waktu penyelesaian pekerjaan tidak bisa dipercepat. Sub preparation terlambat Pekerjaan mengalami delay, harus dilakukan percepatan proses untuk mengejar waktu yang Sev. JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 Maintenace pasca proyek Sistem pembayaran ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. Memakan tempat penyimpanan. Terkendala biaya operasional, pembelian material tersendat. Tabel 10 Nilai Severity untuk failure . Potential Failure Potential Effect of Failure Proyek berjalan tidak Waktu serah terima poyek berjalan molor. Pengiriman tidak sesuai Kepercayaan pelanggan menurun, terjadi penalty Reproses akibat pengiriman Perbaikan produksaat di tempat tujuan. Perbedaan tingkat kecerahan Dilakukan reproses terhadap proses pengecetan. pada proses pengecataan Perpindahan Delivery carbody tidak bisa diproses ke tahap produkdihentikan sementaran berikutnya. Terjadi korosi pada produk Pengecatan ulang. Kondisi pasar Daya beli konsumen menurun, terjadi penurunan pekerja subkontrak. Pola kebiasaan masyarakat Klaim masyarakat akibat terjadi kebakaran saat proyek Inflasi Biaya produksi perusahaan naik. Pergantian pemerintahan Perbedaan jumlah order, ada tidaknya suntikan modal usaha, kebijakan hukum dan regulasi yang dibuat. Hubungan internasional Kelancaran pengiriman bahan baku dari luar negeri. Sumber pembiayaan Pengunaan aset perusahaan untuk menutup biaya produksi sementara. Pembengkakan biaya operasional. Bunga dan pinjaman Berkurangnya keuntungan, waktu pembayaran pembelian material bisa diatasi. Spesifikasi mutu dari pemilik Penyesuaian Mutu produkdengan berstandard ISO. Kesesuaian mutu dengan Reproses sesuai kriteria pemilik spesifikasi yang ditentukan Pembengkakan waktu Baik tidaknya kuailitas produk yang dikerjakan. Jadwal pelaksanaan yang Pekerjaan tidak sesuai dengan jadwal produksi di awal. Sev. Perhitungan Nilai Occurrence Nilai Occurrence (O), adalah suatu perkiraan tentang probabilitas atau peluang bahwa penyebab akan terjadi dan menghasilkan modus kegagalan yang menyebabkan akibat tertentu. Nilai Occurrence didapatkan dengan cara melihat langsung kondisi yang sebenarnya di lapangan, wawancara dengan divisi terkait dan melihat laporan progres proyek produk sebelumnya . Sebagai contoh, pada penyimpangan jenis produkperbedaan tingkat kesulitan pengerjaan. menyebabkan kontaminasi pada produk akibat menempelnya kotoran pada karyawan. Sehingga penilaian Occurrence berdasarkan Tabel 3 adalah sebesar 9, karena berdasarkan master plan, jenis produk yang dikerjakan ada 4 jenis. Nilai Occurrence dari masing-masing Potential failure dapat dilihat pada Tabel 6: Tabel 11 Occurrence untuk setiap failure Potential Failure Potential Effect of Failure 1 Perbedaan jenis produk Tingkat kesulitan pengerjaan. 2 Teknologi baru yang Belum pernah diterapkan dalam proyek sebelumnya. Occ. JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 Kompleksitas pekerjaan ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. Setiap rangkainnya terdapat 4 jenis produkyang Tabel 12 Occurrence untuk setiap failure . Potential Failure Potential Effect of Failure 5 Barang rusak saat diterima Kesalahan prosedur pengiriman oleh supplier, perusahaan ingin cepat sampai sebelum waktu 6 Alternative penilaian Perusahaan menginginkan terjalin hubungan erat supplier sedikit dengan supplier langganan, masih menunggu keputusan pihak keuangan untuk mengganti supplier. 7 Perencanaan BOM. BQ. Menunggu desain arangemen dan MD selesai. Tespek lma 8 Lambatnya respon Kurangnya pelanggan mengenai pelanngan belum bisa dipenuhi perusahaan. design arrangement 9 Beberapa aspek belum Pembuatan WI belum melihat kualifikasi proyek saat dimasukkan dalam working 10 Sistem kontrak yang Jumlah proyek yang diterima, kemampuan perusahaan untuk menyelesaikannya. 11 Waktu nota dinas dan Pelanggan tidak melihat kondisi perusahaan, kontrak masuk tidak berjalan pekerjaan pada proyek sebelumnya belum selesai. 12 Penalti bila terjadi Waktu kerja terpakai dalam pengerjaan proyek 13 Kejelasan dan kelengkapan Dokumen tender tidak lengkap, usulan metode dokumen tender pelaksanaan salah. 14 Prosedur tender Terdapat permintaan perubahan persyaratan yang tidak sesuai. Kesalahan menghitung harga karena belum mempunyai pengalaman. 15 Pengaturan alokasi pekerja Penempatan pekerjaan tidak sesuai skill yang dimiiki, terjadi kelebihan pekerja pada unit tertentu. 16 Perilaku pekerja Pekerja tidak memperhatikan aspek K3. 17 Ketersediaan alat kerja Banyak alat kerja yang rusak, peremajaan tidak berjalan seimbang. 18 Perbedaan tingkat Jarang dilakukan traning lanjutan, adaptasi lam saat kemampuan kerja dilakukan rotasi lama. 19 Kemampuan luas area Perusahaan menerima proyek perbaikan produkyang belum ada nota dianasnya, sistem penyimpanan material yang bulk storage. 20 Hubungan dengan beberapa Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan, perbedaan penyelesaian antar proyek. 21 Pengaturan lalu lintas jumlah tidak mencukupi, tidak ada perbaikan/ kendaraan proyek penataan ulang jalur rel untuk pemindahan produk. 22 Menunggu proses Fokus perkerjaan saat itu dilakukan pada pekerjaan engineering selesai 23 Pekerjaan terhenti akibat Perusahaan tidak melakukan stock terhadap material material belum datang pada yang sering digunakan. lot berikutnya Occ. JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 Banyak terjadi reproses setelah dilakukan inspeksi Percepatan proses Tidak semua kegiatan dapat di kerjakan secara paralel Proyek berjalan tidak Pengiriman tidak sesuai Reproses akibat pengiriman Kondisi pasar Pola kebiasaan masyarakat Inflasi Pergantian pemerintahan Hubungan internasional Sumber pembiayaan Bunga dan pinjaman Spesifikasi mutu dari Kesesuaian mutu dengan spesifikasi yang ditentukan Pembengkakan waktu Jadwal pelaksanaan yang Proyek mengalami banyak kesalahan pengerjaan ketika carbody dilakukan. Waktu delivery carbody ke finishing terlambat. Kemampuan alat kerja di unit finishing belum Tabel 13 Occurrence untuk setiap failure . Sub preparation terlambat Perencaan material tidak memperhatikan jadwal Maintenace pasca proyek Penanganan pemberian garansi tidak di lakukan pada Workshop anak perusahaan Sistem pembayaran Pembayaran dilakukan di akhir setelah proyek jadi. Perbedaan tingkat kecerahan pada proses pengecataan Perpindahan produkdihentikan sementara Terjadi korosi pada produk ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. Tidak ada kejelasan dari pihak konsumen kapan penandatangan kontrak terjadi. Pengerjaan proyek berjalan molor. Terjadi benturan, produkditumpuk untuk menghemat Pengeringan tidak sempurna, pengerjaan dipercepat dari waktu normal. Terjadi jarak antar workstation saling berjahuan dan tidak disetai atap untuk menghalau hujan. Produkjadi maupun setengah jadi tidak diletakkan pada ruangan beratap. Harga biaya material naik. Aktifitas kenyamanan penduduk sekitar. Nilai mata dolar naik sehingga nilai mata uang turun. Perbaikan infrastruktur dalam hal alat trasportasi, membantu menstabilkan kondisi perusahaan. Hubungan bilateral antar negara pemasok dengan negara Indonesia. Tidak ada sumber dana dalam operasional karena pembayaran diakhir perioden penyelesaian proyek. Pinjaman di bank dengan kurs dolar sehingga rawan apabila mata uang rupiah melemah. Spesifikasi produkbelum semua berstandar ISO. Pihak pemasaran kurang tanggap dalam respon Pengaturan pelaksanaan antar proyek yang dikerjakan belum berjalan baik Banyak revisi terhadap pembuatan jadwal produksi Perhitungan Nilai Detection Nilai Detection (D), adalah nilai perkiraan subyektif tentang bagaimana efektifitas dan metode pencegahan atau pendektesian. Nilai Detection didapatkan melalui wawancara dan melihat laporan progres lapangan dari proyek yang sejenis pada periode sebelumnya. Sebagai contoh, pada risiko jenis produkmenyebabkan perbedaan tingkat kesulitan pengerjaan akibat tidak fokusnya proyek produkyang diterima. Sehingga penilaian Detection berdasarkan adalah sebesar 4 karena telah JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. dilakukan joint project oleh pihak perusahaan. Nilai Detection dari masing-masing Potential failure dapat dilihat pada Tabel 7 berikut . Potential Failure Perbedaan jenis produk Teknologi baru yang Kompleksitas pekerjaan Keterlambatan pengiriman Barang rusak saat diterima Alternative penilaian supplier sedikit Perencanaan BOM. BQ. Tespek lma Lambatnya respon pelanggan mengenai Tabel 14 Potensi kegagalan Potential Effect of Failure Pengerjaan proyek harus diselesaiakan sesuai jadwal produksi walaupun waktu proses lama, dilakukan joint Perlunya studi pendahuluan efektif terhadap proyek bagaimana langkah terbaik dalam pengerjaan proyek. Proses manufacturing drawing. WP. PI tidak jangan sampai molor, alokasi pekerja harusmencukupi selama proses proyek berlangsung. Pembayaran perencanaan material setelah nota dinas karus segera Supplier memberikan kelebihan barang untuk mengganti saat barang rusak saat pengiriman, terjalin komunikasi interaktif saat serah terima barang dengan pihak supplier. Respon pihak akutansi dipercepat dalam penentuan supplier untuk mengatasi supplier langgan tidak dapat memenuhi pesanan. Material harus datang tepat waktu. Det. Perusahaan harus lebih tanggap dalam respon pelanggan, kejelasan saat spesifikasi dilakukan. Proses WI harus seseuai kualifikasi proyek saat ini,walaupun beberapa aspek mungkin sama dengan proyek sebelumnya. Perusahaan harus memperhatikan kapasitas produksi sat ini walaupun nilai kontrak besar saat tender Hubungan proses antar proyek yang dikerjakan harus berjalan seimbang supaya bisa menghindari overload Percepatan proses proyek sebelumnya, proses enginering fabrikasi serta finishing berjalan sesuai dengan jadwal produksi yang ditentukan. Rincian aspek adminstrasi , spesifikasi teknis, lingkup kerja selama tender harus disusun secara terperinci. Mengadakan joint project dengan perusahaan sejenis untuk mendukung pemenangan tender. Perekrutan subkontak maupun tenaga PKWT hanya dilakukan saat terjadi percepatan proyek. Pekerja harus mematuhi aturan K3 perusahaan. Peremajaan alat kerja harus dilakukan secara berkala Supervisor melakukan evaluasi ulang terhadap pekerja yang baru dirotasi. design arrangement Beberapa aspek belum dimasukkan dalam working Sistem kontrak yang Waktu nota dinas dan kontrak masuk tidak berjalan seimbang Penalti bila terjadi Kejelasan dan kelengkapan dokumen tender Prosedur tender Pengaturan alokasi pekerja Perilaku pekerja Ketersediaan alat kerja Perbedaan tingkat kemampuan kerja JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 Kemampuan luas area Hubungan dengan beberapa proyek ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. Perbaikan jalur yang sudah lama tidak digunakan. Perlunya dilakukan perhitungan waktu normal ulang karena pmbuatan jadwal produksi berdasarkan data historis kurang relevan untuk kondisi sat ini. Tabel 15 Potensi kegagalan . Pengaturan lalu lintas Penambahan armada terutama towing tractor karena kendaraan proyek jumlahnya masih minim. Menunggu proses Pengerjaan proses enginering harus segera dilakukan engineering selesai sesuai jadwal produksi yang telah di buat. Pekerjaan terhenti akibat Perusahaan harus menyediakan stock terhadap material belum datang pada komponen material yang sering digunakan, pemilihan lot berikutnya supplier ditambah. Banyak terjadi reproses Supervisor harus teliti dalam melakukan pemantauan setelah dilakukan inspeksi erhadap pekerjaan yang dilakukan. Percepatan proses Pengerjaan proses enginering harus tepatwaktu, order material jangan sampai terlambat. Tidak semua kegiatan Pecepatan dilakukan di unit fabrikasi untuk mengejar dapat di kerjakan secara waktu terhadap proses yang berlangsung seri. Sub preparation terlambat Kegiatan sub preparation dilakukan di luar perusahaan melalui subkontraktor. Maintenace pasca proyek Waktu perawatan tidak lebih dari 1 bulan supaya tempat storage bisa digunakan untuk proyek Sistem pembayaran Sistem pembayaran dilakukan dengan cara DP diawal untuk menutup biaya pembelian material. Proyek berjalan tidak Tidak ada kejelasan dari pihak konsumen kapan penandatangan kontrak terjadi. Pengiriman tidak sesuai Jadwal produksi harus jadi dalam kurun waktu 2 minggu setelah nota dinas masuk. Reproses akibat Membawa peralatan untuk perbaikan dilokasi tujuan, selama pengiriman dilakukan pengecekan secara berkala untuk memperkecil kerusakaan. Perbedaan tingkat Penambahan fasilitas pengeringan pada Workshop kecerahan pada proses Perpindahan Penutupan produk produk dengan lapisan kedap air saat terjadi pengiriman carbody antar unit di Workshop. Terjadi korosi pada produk Ditempatkan ruangan tertutup, prosedur pengecetan harus dilakukan secara benar. Kondisi pasar Perusahaan mengadakan perjanjian dengan supier supaya harga yang sesuai kontrak di awal. Pola kebiasaan masyarakat Penambahan jumlah CSR tiap tahunnya untuk masyarakat sekitar Inflasi Pengurangan tenaga kontrak dengan mengoptimalkan tenaka organik. Pergantian pemerintahan Pengajuan pemberian modal untuk pelaksanaan. Hubungan internasional Menjalin hubungan yang harmonis tanpa melihat JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 Sumber pembiayaan Bunga dan pinjaman ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. masalaha polik yang sedang terjadi antar negara Pengoptimalan keuntungan yang diperoleh untuk kegiatan proyek selanjunya. Pengajuan modal dengan kurs rupiah. Tabel 16 Potensi kegagalan . Spesifikasi mutu dari Melakukan standardisasi dengan standar ISO untuk semua spesifikasi dalam produk. Kesesuaian mutu dengan Pihak pemasaran tanggap respon pelanggan. spesifikasi yang ditentukan Pembengkakan waktu Dilakukan penelitian masalah penentuan waktu normal saat ini yang digunakan sebagai pembuatan jadwal Jadwal pelaksanaan yang Pembuatan jadwal tidak melebihi satu bulan. Perhitungan Risk Priorty Number (RPN) Setelah diperoleh nilai Severity. Occurrence dan Detection dari setiap penyimpangan aspek GMP . , maka dapat dilakukan proses perhitungan RPN. RPN didapatkan dari hasil perkalian antara nilai Severity . Occurrence dan Detection . , . Nilai indikator risiko tertinggi dari nilai RPN Average tertinggi merupakan sasaran utama perbaikan yang harus segera diselesaikan. Contoh perhitungan RPN pada indikator risiko perencanaan yaitu sebagai berikut: Severity = . 8 7 10 6 7 7 9 . /9 = 7,67 Occurrence = . 7 10 7 9 9 7 9 . /9 = 8,11 Detection = . 3 2 5 2 2 1 4 . /9 = 2,89 RPN = Severity x Occurrence x Detection = 7,67 X 8,11 X 2,89 = 179,65 Maka untuk RPN pada indikator risiko perencanaan yaitu sebesar 179,65. Hasil dari perhitungan RPN pada setiap Potential failure tentang risiko proyek X disajikan pada Tabel 8 berikut: Tabel 17 Peristiwa risiko Waktu Perencanaan Jenis produk Pra tender Teknologi baru yang digunakan Kompleksitas pekerjaan Keterlambatan pengiriman Sub preparation Barang rusak saat diterima Sub preparation Alternatif pemilihan supplier sedikit Sub preparation Perencanaan BOM. BQ. Tekspek lama Lambatnya respon pelanggan mengenai design Manufacturing drawing. WP. PI Beberapa aspek belum dimasukkin dalam WI Working instruction Average (Bobot SOD Indikato. 7,67 8,11 2,89 Kontrak kerja Sistem kontrak yang digunakan Komersial Waktu nota dinas dan kontrak masuk tidak berjalan Penalti jika ada keterlambatan Delivery Peristiwa risiko JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. Kejelasan dan kelengkapan dokumen tender Average (Bobot SOD Indikato. Tabel 18 Peristiwa risiko . Peristiwa risiko Kegiatan di work shop Pengaturan alokasi pekerja Perilaku pekerja Waktu Planning Fabrication,finishing Fabrication,finishing Fabrication,finishing Ketersediaan alat kerja Perbedaan tingkat kemampuan pekerja Luas area Hubungan dengan beberapa proyek Pengaturan lalu lintas kendaraan proyek Menunggu proses engineering selesai Pekerjaan terhenti akibat material belum datang pada lot Banyak terjadinya re-proses setelah dilakukan inspeksi Percepatan proses Tidak semua kegiatan dapat dikerjakan secara paralel Perencanaan Sub pre-paration terlambat Average (Bobot SOD Indikato. 7,46 Kegiatan pasca proyek Maintenance pasca proyek Proyek berjalan tidak konsisten Pengiriman tidak sesuai dengan ketentuan Re-proses akibat pengiriman Average (Bobot SOD Indikato. Kejadian tak terduga Perbedaan tingkat kecerahan pada proses pengecatan Perpindahan produk dihentikan sementara Terjadi korosi pada produk Kondisi pasar Pola kebiasaan masyarakat Average (Bobot SOD Indikato. 7,17 Kondisi politik Pergantian pemerintahan Hubungan internasional Average (Bobot SOD Indikato. 7,17 7,46 3,08 Planning Planning Fabrication,finishing Fabrication process Fabrication,finishing Fabrication process Fabrication process Fabrication,finishing Finishing process Pasca proyek Pasca proyek Pasca proyek Delivery 2,67 Finishing process Delivery carbody Storage Budgetting Work in process Budgetting Material order 2,67 JATI UNIK, 2018. Vol. No. 2,Hal 81-96 ISSN : 2597-6257 (Prin. ISSN : 2597-7946 (Onlin. Biaya Sumber pembiayaan Bunga dan pinjaman Average (Bobot SOD Indikato. Mutu Spesifikasi mutu dari pemilik Kesesuaian mutu dengan spesifikasi yang ditentukan Average (Bobot SOD Indikato. Tabel 19 Peristiwa risiko . Peristiwa risiko Waktu Pembengkakan waktu pelaksanaan Jadwal pelaksanaan yang terbatas Average (Bobot SOD Indikato. Indikator risiko Perencanaan Kontrak Kerja Kegiatan Di Workshop Tabel 20 Peristiwa risiko . Indikator risiko Kegiatan Pasca Proyek Kejadian Tak Terduga Kondisi Politik Biaya Mutu Waktu Total RPN Nilai kritis Inspeksi Inspeksi Waktu Work in process RPN 179,65 137,09 170,85 RPN 157,25 143,33 134,33 96,25 1289,37 143,26 Kesimpulan Analisis dengan menggunakan metode FMEA terhadap proyek X didapatkan hasil berupa 3 indikator risiko kritis tertinggi yaitu perencanaan, kegiatan di work shop dan kegiatan pasca proyek. Masin-gmasing nilai Risk Priority Number dari ketiga indikator tersebut yaitu 179,65 untuk 170,85 untuk kegiatan di Workshop dan 157,25 untuk kegiatan pasca proyek. Daftar Pustaka