Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab E-ISSN 2657-2206 / P-ISSN 2252-9926 https://journal. id/index. php/AJamiy/index http://dx. org/10. 31314/ajamiy. Konstruksi Makna Cinta dalam Puisi f al-ubb al-Baur Karya Nizar Qabbani: Semiotika Roland Barthes Ahmad Rezikusumah1. Rohanda Rohanda2 . Yayan Rahtikawati3 1-3Program Studi Bahasa dan sastra Arab. UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Indonesia Corresponding Author ahmadrezzi10@gmail. Abstract This study analyzes Nizar QabbaniAos poem F al-ubb al-Baur using Roland BarthesAo semiotic framework of denotation, connotation, and myth. Emerging in mid-20th century Arab society marked by patriarchal norms, the poem is examined through a qualitative descriptive-analytical method with the text sourced from Al-DwAn. The analysis focuses on seven key poetic signs: sea, water, blood, sword, female body, sea language, and femininity. Findings reveal that at the denotative level, these signs refer to concrete lexical meanings. the connotative level, they evolve into symbols of dynamism, sacrifice, courage, and free while at the mythic level, they collectively naturalize love as a cosmic forceAi free, transformative, and transcending social norms. This naturalization occurs through associations with nature and the body. The study contributes by offering a comprehensive three-layer semiotic model for contemporary Arabic poetry and highlights the ideological ambivalence in QabbaniAos construction of womenAos freedom, which calls for further critical Keywords: Love. Nizar Qabbani. Poetry. Patriarchy. Roland Barthes. Abstrak Penelitian ini menganalisis puisi F al-ubb al-Baur karya Nizar Qabbani dengan kerangka semiotika Roland Barthes . enotasi, konotasi, mito. Puisi yang lahir di tengah masyarakat Arab patriarkal pertengahan abad ke-20 ini ditelaah menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dengan sumber teks dari platform Al-DwAn. Analisis berfokus pada tujuh tanda utama: laut, air, darah, pedang, tubuh perempuan, bahasa laut, dan feminitas. Hasil menunjukkan bahwa pada level denotatif tanda-tanda merujuk pada makna leksikal pada level konotatif berkembang menjadi simbol dinamisme, pengorbanan, keberanian, dan kebebasan ekspresi. sedangkan pada level mitis seluruh tanda bersinergi menaturalisasi cinta sebagai kekuatan kosmis yang bebas, transformatif, dan melampaui norma sosial. Proses naturalisasi berlangsung melalui asosiasi dengan alam dan tubuh. Penelitian ini menawarkan model analisis semiotika tiga lapis yang komprehensif untuk puisi Arab kontemporer, sekaligus menyoroti ambivalensi ideologis dalam konstruksi kebebasan perempuan yang perlu kajian kritis lebih lanjut. Kata Kunci: Cinta. Nizar Qabbani. Puisi. Patriarki. Roland Barthes Under the License CC BY-SA 4. CopyrightA 2026. AoAJamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | Pendahuluan Salah satu penyair Arab kontemporer yang sangat berpengaruh adalah Nizar Qabbani, yang hidup dari tahun 1923 hingga 1998. Ia dilahirkan di Damaskus dalam keluarga Turki-Arab. Karya-karyanya terkenal karena berani menggunakan tema cinta sebagai sentral puisinya dan sekaligus menyampaikan kritik terhadap masalah sosial yang dihadapi masyarakat. Qabbani menampilkan perempuan sebagai tokoh utama dengan suara, identitas, dan kebebasan. Berbeda dengan puisi tradisi Arab Lama yang biasanya menggambarkan perempuan sebagai sosok pasif dan ideal . Pilihan ini tidak hanya berkaitan dengan gaya menulis, tetapi juga merupakan bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki Arab pada pertengahan abad ke-20, yang sangat membatasi kebebasan dan ekspresi perempuan. Qabbani memiliki dampak yang signifikan pada hidupnya setelah saudara perempuannya membunuh dirinya sendiri karena dipaksa menikah saat dia berusia 15 tahun. Setelah peristiwa itu, dia semakin peduli dengan nasib perempuan dan mulai menggunakan puisi sebagai sarana perlawanan. Puisi-puisinya, yang ditulis dengan bahasa yang sederhana, menjadi semacam ruang simbolik untuk menentang norma-norma sosial yang menghalangi perempuan dari kebebasan dan kemanusiaan. Puisi F al-ubb al-Baur adalah salah satu karya Qabbani yang memiliki makna yang dalam. Qabbani menunjukkan cinta sebagai kekuatan yang dapat menggerakkan hati dan jiwa manusia dan meresap ke semua aspek kehidupan dalam karya ini, di mana laut digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan betapa dalam dan luasnya arti cinta. Cinta seperti laut yang tak terbatas, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Laut bukan hanya hamparan air asin, tetapi juga simbol kehidupan yang penuh dengan kisah, peristiwa, dan harapan. Simbol-simbol lain seperti air, darah, pedang, dan tubuh perempuan dalam puisi itu bukan sekadar hiasan, melainkan saling terhubung membentuk makna yang lebih dalam. Laut di sana bukan hanya gambaran alam, tetapi juga melambangkan kondisi batin, ingatan, hasrat, dan Karena kaya dengan simbol, puisi ini sering dijadikan bahan kajian untuk melihat bagaimana makna dibangun, ditumpuk, dan dilekatkan lewat bahasa puitis. Roland Barthes memberikan teori semiotika yang sangat bermanfaat untuk memahami lapisan makna dalam puisi secara lebih sistematis. Dia percaya bahwa tanda memiliki berbagai tingkat makna. Memiliki tiga tingkat makna. Yang pertama adalah makna denotatif, yang mencakup arti kata secara harfiah atau dalam kamus. Yang kedua adalah makna konotatif, yang mencakup makna tambahan yang dipengaruhi oleh konteks, budaya, atau emosi tertentu. Tingkat ketiga adalah mitos, yang merupakan makna ideologis yang universal dan dapat diterima karena bentuknya dalam bahasa. Dengan kerangka ini, kita dapat membaca puisi dari lapisan makna yang lebih dalam dan kompleks serta dari arti kata-kata secara langsung. Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | Analisis Barthes memperluas tanda - tanda ke ranah ideologi dan kritik budaya, berbeda dengan semiotika Saussure, yang hanya melihat tanda-tanda sebagai sistem Ia menekankan bahwa pembaca harus menyelidiki ideologi yang tersembunyi di balik mitos yang ditemukan dalam teks, karena mitos membuat makna ideologis terlihat logis dan alami. Dengan cara ini. Barthes tidak hanya berbicara tentang arti kata atau simbol, tetapi juga tentang bagaimana bahasa dapat menyampaikan nilai dan kekuatan budaya tertentu. Kerangka ini memungkinkan untuk melihat puisi bukan hanya sebagai kumpulan simbol, tetapi juga sebagai cara untuk memahami bagaimana nilai budaya dan ideologi gender bekerja di baliknya . Dengan kata lain, analisis semiotika membantu membuka lapisan makna yang tersembunyi, sehingga kita bisa melihat bagaimana puisi mencerminkan dan sekaligus mengkritik aturan sosial tentang perempuan dan hubungan gender. Karya Qabbani telah dikaji dari berbagai sudut pandang oleh beberapa penelitian sebelumnya. Untuk membaca antologi QAms al-Ashiqn dari perspektif semiotika. Barthes. Faiz dan rekan . menggunakan kerangka ini. Mereka menemukan bahwa tema cinta dalam puisi Qabbani dipahami sebagai keyakinan budaya yang penuh dengan prinsip keagamaan, pengorbanan, dan kebebasan batin. Namun karena penelitian tersebut hanya membahas satu puisi dari antologi secara keseluruhan, tidak memberikan analisis yang menyeluruh dan menyeluruh tentang semua teks yang ada di dalamnya. Dari perspektif bahasa dan gender. Wulandari dan rekan . meneliti hubungan antara bahasa dan gender dalam fragmen puisi Qabbani. Namun analisis mereka berhenti pada tingkat yang lebih dasar karena penelitian mereka tidak sepenuhnya menggunakan kerangka semiotika Barthes hingga ke tahap mitos. Dengan menggunakan analisis semiotik pada RisAlah min Taut al-MA'. Fikri dan rekan . menemukan bahwa cinta digambarkan sebagai simbol kemanusiaan universal. Namun, penelitian mereka belum mencapai lapisan mitos yang memungkinkan penjelasan ideologis. Sementara itu. Asqi dan Febriani . memeriksa kondisi perempuan dalam KitAb al-ubb dengan menggunakan semiotika Riffaterre, pendekatan yang berbeda dari Barthes. Akibatnya, fokus analisis mereka tidak terfokus pada aspek konstruksi ideologis. Dari keseluruhan penelitian yang telah dilakukan, terdapat perbedaan yang cukup jelas: belum ada penelitian yang secara khusus dan mendalam meneliti puisi F al-ubb al-Baur dengan menggunakan tiga lapisan semiotika Barthes yaitu denotasi, konotasi, dan mitos secara menyeluruh hingga ke dimensi ideologis. Artikel ini inovatif karena menggunakan kerangka Barthes secara menyeluruh pada puisi yang sebelumnya belum pernah dikaji secara khusus. Ini adalah analisis tentang bagaimana makna cinta berkembang dari arti literal ke makna ideologis dan bagaimana konstruksi ini dianggap wajar dalam budaya Arab kontemporer. Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | Akibatnya, penelitian ini tidak hanya memperluas kajian semiotika dalam sastra Arab, tetapi juga menawarkan analisis model untuk membaca puisi Arab Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini berfokus pada pengungkapan makna denotatif dan konotatif dalam puisi F al-ubb al-Baur karya Nizar Qabbani melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, sekaligus menelaah konstruksi mitos tentang cinta yang dibangun melalui simbol-simbol puitis di dalamnya. Analisis ini diarahkan untuk menjelaskan bagaimana Qabbani menghadirkan cinta tidak hanya sebagai pengalaman personal dan estetis, tetapi juga sebagai konstruksi makna yang merepresentasikan ideologi serta nilai-nilai budaya tertentu yang dinaturalisasi melalui bahasa puisi. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah menemukan, menguraikan, dan menganalisis makna denotatif, konotatif, serta mitos yang muncul dalam puisi tersebut. Setiap pembacaan puisi dengan pendekatan analisis yang baru memungkinkan lahirnya perspektif, pemahaman, dan interpretasi yang lebih Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian semiotika dalam sastra Arab kontemporer, khususnya dalam memahami konstruksi cinta sebagai representasi ideologi dan nilai budaya. Selain itu, penelitian ini juga menawarkan model analisis semiotik yang dapat diterapkan secara lebih luas pada kajian puisi Arab kontemporer lainnya. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis teks literatur. Metode ini dipilih karena tujuan penelitian bukan untuk mengumpulkan data statistik, tetapi untuk mendeskripsikan, menafsirkan, dan mengungkap lapisan makna yang terkandung dalam puisi. 1 Metode yang digunakan adalah deskriptifanalitis, yang berarti mendeskripsikan tanda-tanda puitis secara menyeluruh dan kemudian menganalisisnya menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Menurut kerangka kerja Barthes, makna bagian menjadi tiga lapisan: . denotasi, yang merupakan arti literal atau kamus dari tanda. konotasi, yang merupakan arti tambahan yang berasal dari pengalaman, emosi, dan nilai budaya pembaca. mitos, yang merupakan makna filosofis yang dianggap masuk akal dan Untuk mengetahui bagaimana puisi membangun makna cinta, lapisan ketiga diperiksa secara berurutan dan berhubungan satu sama lain. Sumber data berupa Puisi Nizar Qabbani F al-ubb al-Baur dapat ditemukan di Al-DwAn https://w. net/poem6249. Situs ini dipilih karena menyediakan teks asli dalam bahasa Arab dan merupakan repositori puisi Arab Rohanda Rohanda. METODE PENELITIAN SASTRA (Teori. Metode. Pendekatan, dan Prakti. (LP2M UIN SGD Bandung, 2. 2 Barthes. Mitologi. Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | digital yang banyak digunakan sebagai referensi dalam studi sastra Arab Puisi tersebut terdiri dari delapan bagian, masing-masing berisi 7Ae10 baris data skunder, yang berarti teks asli yang tidak ditemukan penulis. Data penelitian terdiri dari puisi berupa kata, frase, dan kalimat yang mengandung tanda-tanda linguistik dan simbolik. Pemilihan data ini tidak dilakukan secara acak. itu dipilih berdasarkan standar khusus. Kedua, tanda-tanda yang langsung terkait dengan tema utama puisi, seperti cinta, tubuh perempuan, laut, dan hubungan gender. Ketiga, tanda-tanda ini dapat dibaca dengan berbagai cara, baik secara literal maupun simbolis. Pertama, tanda-tanda sering muncul atau mendominasi lebih dari satu bagian puisi, menunjukkan nilai simbolik yang Keempat, tanda-tanda ini berkaitan dengan masyarakat Arab, terutama yang berkaitan dengan patriarki dan kebebasan perempuan. Puisi ini memiliki tujuh tanda utama, menurut kriteria tersebut: al-baur . , mA'iah . , dam . , sayf . , nahday . , lughat al-baur . ahasa lau. , dan unsah . Dipilihnya ketujuh tanda ini bukanlah karena mereka adalah satu-satunya yang Sebaliknya, mereka memenuhi semua kriteria dan membentuk rangkaian makna yang konsisten tentang tubuh, cinta, dan kebebasan. Data dikumpulkan dalam tiga tahap berurutan. Sebelum masuk ke analisis rinci setiap tanda, puisi harus dibaca secara menyeluruh dan berulang-ulang untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap. Kedua, kata-kata, frase, dan kalimat yang menggambarkan cinta, alam, dan tubuh diidentifikasi dan dicatat. Hal ini terutama berlaku untuk kata-kata yang berhubungan dengan laut . l-bau. sebagai metafora Ketiga, kriteria pemilihan data digunakan untuk menandai bagian teks yang mungkin memiliki makna berlapis. Bagian-bagian ini kemudian disusun dalam tabel analisis yang berisi tanda, makna denotatif, makna konotatif, dan makna mitos. Secara bertahap, analisis data dilakukan sesuai dengan tiga lapisan semiotika Barthes. Pertama, analisis denotasi digunakan untuk menemukan arti secara harfiah setiap tanda dengan bantuan kamus Al-Ma'An Online. Kedua, analisis konotasi digunakan untuk memahami makna dasar kata sebelum melanjutkan. Dalam analisis ini, tanda-tanda dengan arti harfiahnya yang sudah diketahui secara umum dalam konteks baris dan bagian puisi di mana mereka muncul . Pada titik ini, makna tambahan dipertimbangkan, yang berasal dari perasaan, sejarah, budaya, dan pengalaman pribadi Qabbani, serta keadaan sosial Arab abad ke-20. Ketiga, analisis mitos yang diketahui : arti simbolik yang sudah dipahami lebih dalam untuk mengetahui ideologi yang tersembunyi di baliknya. Pada titik ini, makna yang dianggap universal dan wajar ditunjukkan dengan data biografis Qabbani dan konteks sosial-politik Arab. Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | Penelitian ini menggunakan berbagai kontrol untuk memastikan validitas Pertama, agar penafsiran tetap konsisten, puisi harus dibaca berulang kali, baik sebelum maupun sesudah analisis. Kedua, setiap artikel yang ditarik harus sesuai dengan teori Barthes, yaitu, denotasi dan mitos harus dijelaskan dalam kerangka denotasiAekonotasiAemitos daripada berdasarkan interpretasi pribadi Ketiga, dilakukan triangulasi sastra. Artinya, temuan penafsiran dibandingkan dan diperkuat dengan penelitian sebelumnya yang relevan. Misalnya, penelitian tentang semiotika sastra Arab oleh Barthes, penyelidikan tentang puisi Nizar Qabbani, dan penyelidikan tentang konstruksi gender dalam sastra Arab. Keempat, pembaca dapat menilai penafsiran mereka sendiri dengan menyertakan kutipan dari teks asli di setiap kesimpulan sebagai bukti . Dengan cara ini, interpretasi yang dihasilkan tidak sekedar subjektif, tetapi lebih terkontrol dan dapat Hasil dan Pembahasan Klasifikasi Tanda dalam Puisi F al-ubb al-Baur Analisis semiotika Roland Barthes terhadap puisi F al-ubb al-Baur karya Nizar Qabbani menemukan tujuh tanda puitis utama yang muncul di delapan bagian puisi. Tanda-tanda ini berupa kata, frasa, dan metafora yang secara sistematis membentuk jaringan makna cinta yang berlapis. Untuk memudahkan pelacakan konteks, setiap tanda diklasifikasikan dalam tabel analisis yang memuat tiga lapisan maknaAi denotatif, konotatif, dan mitos serta disertai penanda bagian dan larik puisi tempat tanda tersebut muncul. Bagian/ Larik Bag 1 Larik 1 Bag 1 Kutipan UAIOCAO IIEA AEIOCA EA AuSikapku u seperti sikap lautAy AOEO IOA AEENA Audan seperti air. Tanda AEA AulautAy AIOA AuairAy Makna Denotasi AE=IEIA AEOI EEI IEEA AECA AuHamparan air asin yang luas itu alamAy ca AIO =I IIA AIIO uEO IA AoAoKata benda feminin yang berasal dari kata AAoAoIA Makna Konotasi` Makna Mitos Laut melambangkan kondisi batin penyair yang tak menentu dalam mencintai kadang tenang, kadang bergolak. Simbol cinta yang dinamis, mendalam, dan sulit Cinta dipahami sebagai kekuatan besar yang melampaui kendali manusia bukan hanya sekadar melainkan energi dasar yang manusia dengan alam semesta. mitos, air menjadi simbol waktu dan kehidupan yang terus mengalir. Melalui metafora ini. QabbAn Ingatan tentang cinta digambarkan tidak stabil dan terus bergerak seperti Cinta tidak pernah tergenggam Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | Larik 2 Bag 1 Bag 5 Larik1 Bag 5 AEE I s IA A OAUAIOA AoAoSetiap darahkuAoAo AEO OA AEOA IIA AEI IEACOEA AuMasuklah ke lautku Seperti diasahAy AuI INOE EA AOEI AO OA AIOEOOA AuPayudara jawabkuAy AOE I EEIOA AE EA AuAku ingin ia selalu dalam proses menjadi. AIA Audarah AOAA Aupeda ngAy AEEA =AIOA AEo EO OOA AAO ENEOOA AEuEIIA AuCairan vital dalam sistem manusia dan hewanAy U AOA= IEA AIO IIA AEE IOAA Aujenis senjata terkenalAy AINOA AuPayu daraAy AINO=IE EO aI aN aA AONA Auseorang gadis yang Ay AE EA Aybahas a lautAy U AE=AA AO aO a ac NA AEE COI IA ANIA Darah esensi vital, gairah, dan kehidupan "Mandi dalam darah" berarti terlibat secara total dan mendalam dalam kehidupan dan gairah penyair keberanian dan gairah dalam cinta. digambarkan sebagai kekuatan yang mampu menembus kehidupan penyair. tidak akan menjamin, atau bertanggung jawab atas kebebasan dan nasib tubuh. sepenuhnya bebas dan bertanggung jawab atas diri secara jujur, tanpa dibatasi oleh aturan sosial, tanpa mencari Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | membangun mitos bahwa cinta sejati adalah pengalaman yang tak pernah selesai, selalu mengalir seperti Mitos yang muncul adalah gagasan bahwa cinta sejati pengorbanan total, di mana tubuh dan jiwa melebur dalam pengalaman cinta yang spiritual dan Dalam mitos. AupedangAy cinta yang tajam, menyakiti, tapi juga QabbAn mengaitkan cinta dengan kekuatan purba yang destruktif sekaligus penolakan total terhadap peran pria tradisional sebagai pemilik dan wanita, dan deklarasi tentang kebebasan mutlak tubuh wanita dalam hubungan perintah untuk mengubah total berbicara lautAy Bag 7 Bag 7 AOIOE NOA AI OO ENA Audan mu adalah an alamiAy AIOA Aykewa Bunyi-bunyi setiap bangsa kan tujuanAy AE= AO IEIA AEOI EEI IEEA AECA AuHamparan air asin yang luas itu alamAy AOIOE= IIOA AEAA EO IOA AEIOA AuSekumpula n seorang Ay keamanan, dan dengan cara yang kebebasan dan gairah alamiah. n keberadaan , di mana satu-satunya sistem tata bahasa yang diterima adalah sistem Gairah. Kebebasan, dan Ketidakpastian Esensi kewanitaan haruslah sama bebas, liar, subur, dan berubah-ubah seperti Laut yang mewakili meninggalkan sifat 'daratan' dan menjadi bagian alami dari dinamika gairah Dalam mitos, menjadi lambang alam dan QabbAn membangun mitos cinta yang sakral di mana perempuan dan laut adalah satu tubuh kosmik. Menurut Al-Ma'An, setiap tanda menunjukkan arti kamus, seperti laut dan udara sebagai fenomena alam, darah sebagai cairan biologi, pedang sebagai senjata, dan tubuh perempuan sebagai entitas biologi. Semua ini disebutkan pada lapisan Tanda-tanda ini berkembang menjadi representasi yang lebih kompleks dari hubungan sosial, emosi, ingatan, dan gairah pada lapisan konotatif. Dalam konteks mitos, simbol-simbol ini berfungsi untuk menaturalisasi ideologi, seperti cinta, kebebasan, dan feminitas, yang dianggap sebagai nilai universal. Proses ini sesuai dengan gagasan Barthes bahwa mitos adalah sistem tanda tingkat kedua yang mengubah sejarah menjadi "alam" dan membuat makna budaya terlihat sebagai fakta yang tidak dapat diragukan lagi. Simbol Alam: Laut (A )EAdan Air (A)IOA Puisi ini menggunakan laut sebagai simbol yang paling menonjol. Ia ada sejak larik pertama dan terus digunakan sebagai kerangka metaforis yang mendukung struktur puitis secara keseluruhan. Penyair, dalam larik "A EIOCA EAUA"IOCAO IIEA, tidak hanya membandingkan dirinya dengan laut, tetapi juga menggunakan laut sebagai representasi emosi dan perasaannya terhadap sang kekasih. Jika Anda membaca kata "posisi" . ikap, pendirian, atau ) yang diulang dua kali. Anda akan melihat bahwa ada Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | posisi kesejajaran antara aku-lirik dan laut. keduanya tidak stabil, berubah-ubah, dan sulit ditentukan secara terpisah. Struktur yang mirip dengan partikel "seperti" bukan sekadar hiasan retoris. sebaliknya, laut berfungsi sebagai tolok ukur hubungan antara dua poros utama puisi, "aku" dan "kau". Al-baur secara denotatif berarti bentangan air asin yang luas. Namun, laut dalam budaya Arab memiliki banyak makna, melambangkan keindahan, keluasan, bahaya, dan kenyamanan. Laut digambarkan sebagai gambaran cinta yang dinamis dan sulit dikendalikan dalam puisi ini, yang terkadang tenang dan terkadang bergelora. Dalam kajiannya tentang simbol laut dalam puisi Indonesia. Rahayu menunjukkan bahwa laut sering digambarkan sebagai cermin batin dan simbol kebebasan yang melampaui batas geografis. Puisi Arab kontemporer, termasuk karya Qabbani, menggunakan pola ini. Pada lapisan mitos, laut dianggap sebagai kekuatan yang menaturalisasi cinta menjadi energi kosmis. ini dianggap lebih tua dari norma budaya dan aturan sosial. Barthes menjelaskan bahwa mitos mengubah sejarah menjadi "alam": ketika laut dijadikan padanan cinta, cinta tampak senatural fenomena alam, bukan sekadar konstruksi sosial yang dapat diperdebatkan. Menurut Barthes, ini adalah proses naturalisasi ideologi, bukan hanya interpretasi filosofis, tetapi mekanisme yang membuat cinta bebas dianggap sebagai kondisi manusia yang paling mendasar. Dalam larik "A "OEO IO EENA,simbol udara muncul. Qabbani jelas memutuskan untuk menggunakan diksi kata A( IOAbersifat ai. , yang merupakan kata sifat feminin yang jarang digunakan. Memori yang Aubersifat udaraAy secara konotatif berarti memori yang mengalir, sulit dipahami, dan selalu berubah bentuk. Kenangan tentang kekasih bergerak seperti ombak dalam hubungan aku-kau puisi ini. Pada tingkat mitos, udara dan aliran berfungsi sebagai simbol waktu dan kehidupan yang tidak dapat dibatasi oleh norma atau kebiasaan. Menurut analisis Faiz dkk . tentang semiotika Barthes dalam puisi Qabbani, simbol alam dalam karya Qabbani selalu berfungsi sebagai penanda kebebasan yang melampaui batas ideologi budaya Arab. Simbol Tubuh dan Pengorbanan: Darah (A )IAdan Tubuh Perempuan (A)INOEA Larik A OAUA EE I s I IOAmenghadirkan citra yang kuat dan tidak biasa. Secara denotatif, darah hanyalah cairan biologis. Namun gambaran Aumandi dalam darahAy secara konotatif jauh melampaui arti literalnya. Pembacaan dekat terhadap kata AIA . andi, membasuh dir. dan A( OAmelebur, mencai. menunjukkan dua gerakan yang saling berkaitan: pertama, perempuan yang larut sepenuhnya dalam gairah penyair . kedua, dirinya yang kemudian melebur dan berubah . Relasi akuAe Rahayu. AuAnalisis Semiotika Puisi AoSepantun LautAo Karya JE Tatengkeng | Khirani: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Ay 4 Faiz dkk. AuThe Concept of Love in Nizar QabbaniAos Qamus Al-Ashiqin. Ay Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | kau dalam puisi ini bersifat tidak seimbang: penyair menjadi sumber . , sementara perempuan adalah pihak yang mengalami transformasi. Gambaran ini menampilkan cinta yang dramatis, penuh intensitas, bukan romantis dalam arti Pada tingkat konotatif, darah melambangkan inti kehidupan, gairah yang mendalam, serta kerelaan berkorban. Dalam tradisi puisi Arab, dam . sering dipakai sebagai simbol luapan emosiAimulai dari kesedihan, kerinduan, hingga Dalam puisi ini, darah berfungsi sebagai medium perubahan: siapa pun yang bersentuhan dengan esensi penyair akan mengalami transformasi. Pada tingkat mitos, citra darah menegaskan bahwa cinta menuntut peleburan total, di mana rasa sakit dan pengorbanan dianggap bagian alami dari pengalaman cinta sejati. Inilah yang dimaksud Barthes dengan proses naturalisasi: ideologi pengorbanan cinta dikemas melalui citra tubuh yang kuat sehingga tampak wajar, alami, dan tidak bisa dipertanyakan. Simbol tubuh perempuan muncul jelas dalam larik AuI INOE E OEI AO O IOEOOA Dalam budaya patriarki Arab, tubuh perempuanAiterutama bagian yang dianggap seksualAibiasanya ditempatkan dalam wilayah kontrol laki-laki . yah, saudara. Namun penyair secara tegas menolak pandangan itu: tubuhmu bukan tanggung jawabku. Secara konotatif, larik ini adalah pernyataan pembebasan dari sistem kepemilikan patriarkal atas tubuh perempuan. Assadi . menegaskan bahwa Qabbani menjadikan kebebasan perempuan sebagai tema utama dalam karya-karyanya, namun tetap dari sudut pandang laki-laki yang mendefinisikan kebebasan itu. Sementara itu. Assadi dan Joudallah . mencatat bahwa Qabbani menampilkan perempuan secara analitis dan pragmatis anggota suara mereka dalam puisi, tetapi tetap melalui filter persepsi penyair lakilaki. 5 Oleh karena itu, mitos yang dibangun di sini bersifat kontroversial. Ada yang berpendapat bahwa tubuh perempuan dinaturalisasi sebagai miliknya sendiri, namun ada pula yang berpendapat bahwa naturalisasi tersebut masih dibangun dari sudut pandang maskulin. Pembacaan kritis puisi Qabbani menunjukkan ketegangan ideologis ini. Simbol Kekuatan: Pedang (A)OAA dan Bahasa Laut (A)E EA A EO OA. Secara Metafora pedang muncul dalam larik AEOA II EI IEACOEA denotatif, pedang adalah senjataAialat kekuatan fisik sekaligus simbol kehormatan dalam budaya Arab klasik. Pilihan diksi A( EI IEACOEAtembaga yang diasah, dipole. bukan kebetulan: ia menandakan kesiapan, ketajaman, dan kilau. Pembacaan dekat Nassim Assadi dan Alaaeddin Joudallah. AuThe Themes of the Female Persona in Nizar QabbaniAos Poetry Compared to the Themes of the Female Persona in the Poetry of His Contemporary Female Poets: A Pragmatic. Analytical Study,Ay Journal of Pragmatics and Discourse Analysis 3, no. : 20Ae40, https://doi. org/10. 32996/jpda. Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | menunjukkan bahwa penyair tidak mengajak perempuan masuk dengan kelembutan, melainkan dengan tekad dan kekuatan, menembus AulautkuAy (A )OAalih-alih sekadar Hal ini menggambarkan relasi akuAekau yang dinamis: perempuan tidak digambarkan sebagai objek pasif, melainkan sebagai sosok yang bergerak aktif dengan daya dan keberanian. Secara konotatif, pedang dalam puisi ini menjadi lambang keberanian dan tekad untuk menembus batas sosial yang kaku. Perempuan yang digambarkan masuk seperti pedang adalah sosok berani, yang tidak tunduk pada norma yang membatasi ekspresi cinta. Pada tingkat mitos, pedang membangun gambaran cinta sebagai tindakan transgresif: cinta sejati adalah cinta yang berani melampaui batas, bahkan jika harus melukai aturan konvensional. Dalam budaya patriarki Arab yang mengontrol ekspresi cinta perempuan, pedang berfungsi sebagai simbol perlawanan yang dinaturalisasi melalui metafora kekuatan. Simbol A(E EAbahasa lau. muncul dalam larik A(OE I EEIO E EABag. Larik Secara denotatif, ia terdiri dari dua unsur: A( EAbahasa, sistem komunikas. dan AEA . Gabungan keduanya membentuk metafora tentang cara berkomunikasi sebuah bahasa tanpa aturan tertulis, tidak tunduk pada institusi, dan bebas mengalir seperti Kata A(OEAaku ingin kam. menunjukkan relasi akuAekau yang tegas: penyair tidak sekadar mengamati, tetapi secara aktif menginginkan perubahan dalam cara sang kekasih berkomunikasi. Secara konotatif, ini adalah ajakan untuk mengekspresikan diri dengan cara yang bebas dan alami. Pada tingkat mitos, larik ini menjadi seruan transformasi identitas dan kebebasan ekspresi, menolak bahasa yang dibatasi norma, dan menggantinya dengan bahasa laut yang cair serta tak terikat. Berbicara dengan Aubahasa lautAy secara konotatif berarti mengekspresikan diri secara bebas dan tidak dipengaruhi oleh norma dan persepsi masyarakat. Hal ini sejalan dengan penelitian Wulandari dkk. , yang menekankan aspek gender dalam diksi Qabbani, yang menunjukkan bahwa perempuan diposisikan sebagai subjek yang berusaha menuju kebebasan berbahasa ketika penyair menggunakan bahasa mereka. Mitos menganggap kebebasan berbicara sebagai hal paling mendasar bagi manusia, lebih alami daripada aturan sosial yang mengikatnya. Puisi Mitos memanipulasi logika dengan cara ini: larangan sosial digambarkan sebagai sesuatu yang tidak logis, sementara kebebasan ekspresi digambarkan sebagai keadaan alami Konstruksi Mitos Cinta Rasha Abdel Haliem Osman Osman. AuVoicing Feminist Resistance in Joumana HaddadAos I Killed Scheherazade: Confessions of an Angry Arab Woman,Ay CDELT Occasional Papers in the Development of English Education 69, no. : 201Ae22, https://doi. org/10. 21608/opde. 7 Wulandari dkk. AuLanguage and Gender. Ay Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | Ketujuh tanda yang dianalisis tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait membentuk jaringan semiotik yang utuh untuk membangun mitos cinta. Laut (A)EA menjadi metafora utama yang memberi kerangka bagi seluruh puisi: ruang bebas, liar, dan tak terbatas. Air (A )IOAmemperluas makna ini ke dimensi waktuAiingatan dan cinta sama-sama mengalir, tak bisa dibekukan. Darah (A )IAmenambahkan kedalaman dan pengorbanan: cinta sejati menembus permukaan dan memungkinkan Pedang (A)OAA menghadirkan keberanian: cinta menuntut tekad untuk menembus batas. Bahasa laut (A )E EAmenegaskan dimensi komunikasi: cinta bebas memerlukan ekspresi yang bebas pula. Tubuh perempuan (A )INOEAdan feminitas (A)IOA melengkapi jaringan ini dengan menegaskan bahwa kebebasan bukan abstraksi, melainkan berakar pada identitas perempuan yang nyata. semua simbol dalam puisi Qabbani saling mendukung untuk membentuk satu ide besar: cinta bukan sekadar perasaan romantis, melainkan sebuah kekuatan besar yang bebas, transformatif, dan melampaui aturan sosial. Inilah yang disebut Barthes sebagai mitos cintaAibukan hanya cerita tentang cinta, tapi sebuah sistem makna yang membuat konstruksi sosial tertentu tampak alami dan universal. Penelitian Faiz dkk. terhadap QAms al-Ashiqn menemukan pola serupa. Qabbani konsisten menggambarkan cinta sebagai ideologi budaya yang sarat nilai spiritualitas dan kebebasan. Hal ini sejalan dengan analisis atas F al-ubb al-Baur, di mana cinta tidak berhenti pada dimensi romantis, melainkan juga eksistensial dan Puisi ini memiliki dua cara utama untuk memahami proses naturalisasi. Pertama, melalui hubungan dengan alam: ketika cinta disandingkan dengan laut, udara, dan badai, ia dipindahkan dari ranah sosial yang dapat diatur ke ranah alam yang tampak bebas dan tidak dapat mengendalikan manusia. Kedua, melalui simbol tubuh: darah, payudara, dan feminitas digunakan untuk menghubungkan cinta dengan tubuh, yang sering dianggap alami, pra-sosial, dan tidak terbantahkan. Konstruksi mitos dalam puisi ini sebenarnya penuh dengan ketegangan Di satu sisi. Qabbani menantang patriarki dengan menegaskan bahwa cinta dan ekspresi perempuan seharusnya bebas. Namun di sisi lain, kebebasan itu tetap digambarkan dari sudut pandang laki-lakiAipenyair yang mendefinisikan seperti apa bentuk kebebasan perempuan. Gazar . , lewat kajian ekofeminis, menunjukkan bahwa penyamaan perempuan dengan alamAimisalnya dalam larik AI OO ENA AAiOIOE NOAbisa bersifat Faiz dkk. AuThe Concept of Love in Nizar QabbaniAos Qamus Al-Ashiqin. Ay Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol. 15 No. 1, 2026 | membebaskan sekaligus membatasi. Sebab, perempuan direduksi menjadi Auesensi alamAy yang sederhana, padahal identitas mereka jauh lebih kompleks. Secara keseluruhan, analisis semiotika Barthes atas puisi F al-ubb al-Baur menunjukkan bahwa karya ini bukan sekadar curahan perasaan cinta. Puisi ini berfungsi sebagai teks ideologis yang membangun, menaturalisasi, sekaligus mempertanyakan sistem nilai budaya yang melingkupinya. Melalui pendekatan close reading, terlihat bahwa setiap pilihan kata, metafora, dan struktur kalimat saling mendukung untuk membentuk lapisan makna yang berjenjang dimulai dari arti literal, lalu berkembang ke makna konotatif, hingga mencapai dimensi ideologis. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa puisi F al-ubb al-Baur karya Nizar Qabbani membangun makna cinta melalui sistem tanda yang berlapis, sebagaimana dibaca dengan semiotika Roland Barthes. Tujuh tanda utama, yaitu laut, air, darah, pedang, tubuh perempuan, bahasa laut, dan feminitas, tidak hanya hadir sebagai unsur leksikal, tetapi berkembang menjadi simbol yang membentuk jaringan makna Pada tataran denotatif, tanda-tanda tersebut merujuk pada makna dasar yang bersifat konkret. Pada tataran konotatif, tanda-tanda itu bergerak menjadi representasi dinamika batin, pengorbanan, keberanian, kebebasan ekspresi, serta relasi tubuh dan cinta. Sementara itu, pada tataran mitos, puisi ini menaturalisasi cinta sebagai kekuatan kosmis yang bebas, transformatif, dan melampaui batas sosial maupun norma patriarkal. Dengan demikian, cinta dalam puisi Qabbani tidak hanya dipahami sebagai pengalaman personal, tetapi juga sebagai konstruksi ideologis yang memuat nilai budaya dan pandangan tentang kebebasan perempuan. Implikasi penelitian ini terletak pada penguatan model analisis semiotika tiga lapis untuk membaca puisi Arab kontemporer, khususnya karya yang memadukan tema cinta, tubuh, alam, dan ideologi. Namun, penelitian ini terbatas pada satu puisi dan belum mengkaji aspek prosodi, bunyi, serta perbandingan dengan karya Qabbani Oleh karena itu, penelitian berikutnya dapat memperluas objek kajian, mengombinasikan semiotika Barthes dengan kritik feminis Arab, serta membandingkan konstruksi cinta dalam karya penyair laki-laki dan perempuan Arab Referensi