GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. HUBUNGAN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SMA NEGERI THE RELATIONSHIP BETWEEN SOCIAL MEDIA USE AND ADOLESCENT SEXUAL BEHAVIOR IN STATE HIGH SCHOOL Kalpana Kartika* . Putri Rahmadani . Maidaliza. Prodi D i Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Perintis Indonesia Program Studi Sarjana Keperawatan. Universitas Perintis Indonesia Prodi D i Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Perintis Indonesia (Email: kalpanakartika6@gmail. ABSTRAK Remaja merupakan kelompok populasi yang rentan . terhadap berbagai perilaku beresiko yang dapat mengancam kesehatan mereka. Salah satu perilaku beresiko yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah perilaku seksual menyimpang pada remaja, salah satu penyebab perilaku seksual menyimpang ini diakibatkan oleh penggunaan media sosial. Perilaku seksual yang terjadi di SMA Negeri X Bukittinggi tidak bisa dikatakan secara spesifik, namun perilaku yang mengarah kepeada perilaku seskual dapat dilihat secara langsung. Tujuan pada penelitian ini mengetahui hubungan penggunaan media sosial dengan perilaku seksual remaja di SMA Negeri X Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan desain Deskriptif Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa/siswi kelas XI di SMA Negeri dengan jumlah 191 orang dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu Cluster Sampling dan simple random. Hasil uji statistik didapatkan P value 0,032 . > 0,. artinya ada hubungan yang signifikan antara penggunaan media sosial dengan perilaku seksual remaja di SMA Negeri 5 Bukittinggi. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa sebagaian besar remaja menggunakan media sosial dengan kategori positif, dan sebagian besar remaja memiliki perilaku seksual tidak menyimpang, sehingga terdapat hubungan penggunaan media sosial dengan perilaku seksual remaja di SMA Negeri x Bukittinggi. Harapan dari penelitian ini agar responden lebih meningkatkan kesadaran dan edukasi terhadap resiko perilaku seksual remaja, meningkatkan peran orangtua dan guru, serta lebih bijak dalam penggunaan media sosial. Kata kunci : Penggunaan Media Sosial. Perilaku Seksual Beresiko,Remaja ABSTRACT Adolescents are a vulnerable . group of the population to various risky behaviors that can threaten their health. One of the risky behaviors that is the focus of this study is deviant sexual behavior in adolescents, one of the causes of this deviant sexual behavior is caused by the use of social media. The sexual behavior that occurred at SMA Negeri X Bukittinggi cannot be said specifically, but the behavior that leads to the prevalence of sexual behavior can be seen directly. The purpose of this study is to determine the relationship between social media use and adolescent sexual behavior at SMA Negeri 5 Bukittinggi. This study uses an Analytical Descriptive design with a Cross Sectional approach. The JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. sample in this study is grade XI students at SMA Negeri X Bukittinggi with a total of 191 people using sampling techniques, namely Cluster Sampling and simple random. The results of the statistical test obtained a P value of 0. > 0. , meaning that there is a significant relationship between the use of social media and adolescent sexual behavior at SMA Negeri X Bukittinggi. The conclusion of this study is that most adolescents use social media with a positive category, and most adolescents have non-deviant sexual behavior, so that there is a relationship between the use of social media and adolescent sexual behavior at SMA Negeri X Bukittinggi. The hope of this study is that respondents will increase awareness and education about the risks of adolescent sexual behavior, increase the role of parents and teachers, and be wiser in the use of social media. Keywords : Social Media Use. Risky Sexual Behavior. Adolescents PENDAHULUAN Menurut (Nies, 2. remaja dianggap sebagai populasi etris . Masa remaja adalah fase pertumbuhan yang dimulai dengan masa pubertas dimana terjadi perubahan fisik dan mental secara signifikan. Pada tahap pertumbuhan ini remaja akan menyukai dan mengekplorasikan hal-hal baru, kematangan seksual remaja sebagai hasil perubahan hormonal yang dapat menimbulkan konflik dalam diri remaja, konflik yang sering menimbulkan banyak tingkah laku yang aneh dan canggung. Oleh karena itu remaja harus melakukan penyesuaian diri agar tidak menimbulkan masalah pada diri remaja yang salah satunya berupa perilaku seksual (Ardiansyah. SKM, 2. Perilaku seksual remaja didefinisikan sebagai perilaku yang didorong oleh Hasrat seksual atau aktivitas yang bertujuan untuk menikmati organ seksual seperti berfantasi, bepegangan tangan, berciuman, dan berpelukan hingga melakukan seks bebas (Rahmadhenta & Margiana, 2. Dari hasil wawancara kepada guru Bimbingan Konseling mengatakan memang sejauh ini tidak adanya spesifikasi bentuk perubahan perilaku remaja yang sampai kepada tindakan penyimpangan seksual. Namun mereka memiliki resiko untuk terjadinya perilaku penyimpangan tersebut yang diakibatkan oleh paparan konten media sosial, karena siswa/i pun mengatakan ponsel yang mereka gunakan saat ini merupakan ponsel milik JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 pribadi dan tidak ada batasan bagi dirinya untuk mengakses berbagai jenis konten, link, dan juga komentar-komentar di media sosial. Bahkan untuk mengakses media sosial mereka dapat menghabiskan waktu yang lebih banyak. Tujuan pada penelitian ini mengetahui hubungan penggunaan media sosial dengan perilaku seksual remaja di SMA Negeri 5 Bukittinggi Tahun 2025. Perilaku seksual beresiko tersebut berkontribusi pada perilaku seksual remaja yang dapat mengarah pada penyimpangan perilaku seksual. Penyimpangan perilaku seksual remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah dari penggunaan media sosial. Perilaku seksual remaja didefinisikan sebagai perilaku yang di dorong oleh hasrta seksual atau aktivitas yang bertujuan untuk menikmati organ seksual seperti berfantasi, berpegangan tangan, berciuman, dan berpelukan hingga melakukan seks bebas. (Rahmadhenta & Margiana, 2. Perilaku seksual meliputi aktivitas seperti petting, ciuman, ciuman bagian tubuh lain selain tangan dan wajah, dan melakukan seks bebas. Dimulai dari kebiasaan melihat film pornografi, berpegangan tangan hingga melakukan pelukan, meraba bagian area sensitif, hingga melakukan seks bebas, beberapa temuan penelitian di Indonesia menunjukkan peningkatan risiko perilaku seksual remaja. Hal ini dapat dilihat dari cara berpacaran remaja. (Asmin et al. , 2. I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. Komisi Nasional (Komna. mencatat bahwa jumlah permohonan dispensasi perkawinan anak perempuan meningkat 7 kali lipat sejak 2016. Pada tahun 2021, jumlah permohonan meningkat Karena mayoritas anak hamil di luar nikah, sekitar lima puluh anak di Indonesia menikah sebelum waktunya. Angka tersebut sebagian besar disebabkan oleh kurangnya pendidikan seksual remaja. Sampai saat ini juga kasus aborsi merupakan masalah yang konvensional di kalangan masyarakat umum di Indonesia, terumtama pada kalangan remaja. Menurut WHO (World Health Organizati. tercatat perkiraan kasus aborsi ini sebanyak 4,2 juta yang dilakukan setiap tahun di Asia Tenggara, dan 2,3 juta aborsi dilakukan setiap Sebanyak 750. 000 tercatat dilakukan oleh seorang remaja. Dan 70. 000 diantaranya dilakukan oleh remaja putri yang belum memiliki status perkawinan. (Husain, 2. Beberapa faktor juga mempengaruhi perilaku seksual remaja diantaranya pola asuh orangtua, pengaruh teman sebaya, paparan media pornografi, dan pengetahuan remaja. Selain itu juga salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja adalah paparan pornografi dari media sosial, yang dapat menyebabkan dorongan terhadap rangsangan seksual sehingga remaja melakukan perilaku seksual yang dapat merugikan diri sendiri dan lingkungan mereka. (Dalima Padut et al. , 2. Pada tahun 2021, tercatat laporan yang menunjukkan bahwa anak-anak usia remaja di Indonesia sangat sering mengakses internet, dengan 95% di antaranya mengakses internet minimal dua kali dalam satu hari. Di sisi lain, dalam satu tahun terakhir, tercatat sebanyak 2%, 000 merupakan anak remaja di Indonesia, dimana mereka menyatakan bahwa mereka telah menjadi korban konten seksualitas dan perilaku yang salah di internet. (Karana. Penggunaan media sosial adalah salah satu penyebab perubahan identitas diri remaja, seperti yang disebutkan sebelumnya. Perkembangan teknologi yang terjadi sangat penting untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Sebagian JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 besar remaja menganggap teknologi sebagai Kehidupan saat ini tidak terlepas dari teknologi, terutama bagi remaja. Sebagian besar remaja memiliki perangkat teknologi canggih. (Radiansyah, 2. Media sosial menjadi sangat populer di kalangan semua usia, terutama usia remaja, karena seringkali lebih mudah dan lebih cepat daripada cara komunikasi konvensional. (Hunaifi et al. , 2. Masa remaja adalah masa pencarian identitas dan keinginan untuk mengetahui halhal yang tinggi, termasuk seksualitas dan Konten di media sosial yang dilihat oleh remaja sering kali memperlihatkan banyak hal yang dapat menimbulkan kecanduan. (Hasiholan et al. , 2. Berpacaran, melakukan ciuman bibir, dan melakukan hubungan seksual adalah beberapa contoh perilaku seksual beresiko yang dapat berdampak negatif bagi seseorang yang melakukan hal tersebut. Berbagai dampak dari perilaku seksual beresiko pada remaja adalah kasus kehamilan yang terjadi tanpa adanya status pernikahan usia dini, bahkan kasus aborsi yang tidak aman, serta pembunuhan bayi, hingga terjadinya penularan penyakit seksual. (Husain. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat 215,63 juta orang di Indonesia dilaporkan menggunakan media sosial. Menurut APJII . , penggunaan media sosial di Indonesia mayoritas berusia 15-19 tahun meningkat 91% pada tahun 2023. Angka penggunaan media sosial di Sumatera Barat di tahun 2022 rata-rata 46,35%, dengan Kota Bukittinggi dengan 73,84% (BPS Provinsi Sumatera Bara. Menurut penelitian Raidah Intizar Yusuf dan Andini Hamdi . Efek Interaksi Pengguanaan Media Sosial dan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Terhadap Perilaku Seksual Beresiko Remaja, penggunaan media sosial mempengaruhi perilaku seksual beresiko Selain itu, penelitian Dahani Mulati. Dini Indah Lestari . menunjukkan bahwa GG I ILM e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. penggunaan media sosial mempengaruhi pengumpulan data mulai dari perizinan perilaku seksual beresiko remaja. pengambilan data di rumah sakit, persetujuan Oleh karena itu, karena penggunaan media kepala ruangan, proses perizinan kesedian Variabel Rata Ae Rata Sebelum Rata-Rata Skor Intervensi Video Sesudah Intervensi Video Pengetahuan 6,27 11,33 n kuisioner Dukungan suami 67,67 83,90 komunitas sangat penting untuk menangani kembali hasil kuisioner yang telah diisi permaslaahan ini. Peran perawat adalah kemudian dilakukan pengolahan data. Data yang melakukan penelitian pada orang yang sehat dan terkumpul pada penelitian ini telah diolah yang sakit, dan semua tindakan yang dilakukan melalui tahap Editing Coding. Scoring. Entry, untuk mendapatkan informasi yang diperlukan Cleaning. untuk memperbaiki kesehatan mereka. Peran Instrumen penelitian yang digunakan perawat profesional . lement roo. meliputi dalam penelitian ini menggunakan kuesioner perawatan, pendukung klien, konselor, pendidik, yang telah dilakukan uji validitas dan reabilitas kolaborator, agen perubahan, konsultan, dan pada kuesioner penggunaan media sosial sudah proses interpersonal. ( Akbar Agung M, 2. dinyatakan valid . leh peneliti dengan nilai Cronbach Alpha 0,719. Pada kuesioner perilaku BAHAN DAN METODE pada domain pengetahuan dinyatakan valid oleh Jenis Peneitian yang digunakan didalam peneliti dengan nilai Cronbach Alpha 0,612, penelitian ini merupakan metode kuantitatif. selanjutnya pada domain kuesioner sikap Dengan desain deskriptif analitik dengan dinyatakan valid oleh peneliti dengan nilai pendekatan Cross Sectional Penelitian ini telah Cronbach Alpha 0,727, dan terakhir pada dilakukan selama 7 hari di SMA Negeri X domain kueisoner tindakan dinyatakan valid oleh Bukittinggi. Dengan subjek penelitian adalah penenliti dengan nilai Cronbach Alpha 0,959. siswa dan siswi di SMA Negeri X Bukittinggi. Penelitian ini sudah lolos ujian etik, dan Populasi dalam penelitian ini adalah remaja dinyatakan layak dari Komite Etik Penelitian kelas XI SMA Negeri X Bukittinggi dengan jumlah 366 sisiwa/i, berdasarkaan rumus slovin didapatkan jumlah sampel sebanyak 191 siswa/i. penelitian ini dilakukan di 11 kelas. Prosedur HASIL Analisis Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Penggunaan Media Sosial Penggunaan Media Sosial Frekuensi Negatif Positif Total JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Presentase (%) GG I ILM e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. Berdasarkan tabel 1 dalam penelitian ini diketahui dari 191 responden sebanyak 158 . ,7%) Remaja kelas XI di SMA Negeri X Bukittinggi mayoritas dengan pengguna media sosial positif. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Perilaku Seksual Remaja Perilaku Seksual Remaja Frekuensi Menyimpang Tidak Menyimpang Total Presentase (%) Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa sebanyak 121 responden . ,4%) dengan perilaku seksual remaja tidak menyimpang. Analisis Bivariat Tabel 3 Hubungan Penggunaan Media Sosial Dengan Perilaku Seksual Remaja di SMA Negeri 5 Bukittinggi Berdasarkan table. 4 menunjukkan bahwa dari 82 responden yang menggunakan media sosial negatif, 48 . ,5%) responden memiliki perilaku seksual remajanya menyimpang, dan 42 . ,5%) responden yang menggunakan media sosial positif dengan perilaku seksual yang Setelah dilakukan uji statistik dengan uji chi-square didapatkan nilai p value = 0,009 . < 0,. , maka dapat disimpulkan bahwa ada Hubungan Penggunaan Media Sosial dengan Perilaku Seksual Remaja di SMA Negeri X Bukittinggi. PEMBAHASAN Analisa Univariat Penggunaan Media Sosial Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa 191 responden mayoritas dengan pengguna media sosial yang positif yaitu sebanyak 158 responden . ,7%) pada siswa/siswi di SMA Negeri X Bukittingi. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Menurut KBBI penggunaan didefinisikan sebagai proses, cara membuat sesuatu digunakan atau pemakaian. Penggunaan media sosial adalah salah satu penyebab perubahan identitas diri remaja, seperti yang disebutkan sebelumnya. Perkembangan teknologi yang terjadi sangat penting untuk GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. keberlangsungan kehidupan manusia. Sebagian besar remaja menganggap teknologi sebagai Kehidupan saat ini tidak terlepas dari teknologi, terutama bagi remaja. Sebagian besar remaja memiliki perangkat teknologi canggih. (Radiansyah, 2. Media sosial menjadi sangat populer di kalangan semua usia, terutama usia remaja, karena seringkali lebih mudah dan lebih cepat daripada cara komunikasi konvensional. (Hunaifi et al. , 2. Masa remaja adalah masa pencarian identitas dan keinginan untuk mengetahui hal-hal yang tinggi, termasuk seksualitas dan pornografi. Konten di media sosial yang dilihat oleh remaja sering kali memperlihatkan banyak hal yang dapat menimbulkan kecanduan. (Hasiholan et al. Dalam penggunaan media sosial memiliki 2 dampak, yaitu dampak positif dan negtaif. Dampak positif penggunaan media sosial adalah mendapatkan informasi dengan cepat dan mudah, meningkatkan kesadaran publik, memfasilitasi bisnis, dan mempercepat inovasi, meningkatkan komunikasi global, memungkinkan kolaborasi internasional dan pertukaran informasi lintas budaya, memberikan kesempatan bagi kelompok Berbagi Sedangkan negatifnya adalah munculnya penyimpangan sosial dan penyebaran informasi yang tidak tahu Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Tasnim et al. , 2. , hasil perkembangan banyaknya layanan internet yang hadir untuk memudahkan pengguna dalam memperoleh sumber daya, salah satunya adalah media sosial. Saat ini media sosial digunakan tidak hanya untuk berbagi informasi tetapi juga sebagai dasar untuk menciptakan pertemanan virtual dengan berbagi profil dengan foto, video, ide, dan sebagainya. Maka dapat dikatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi remaja dalam melakukan perilaku seks bebas adalah media sosial. Penelitian lain yang sejalan dengan penelitian ini dilakukan oleh (Mulati & Lestari. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 didalam peneltian menyatakan bahwa dengan kecanggihan di era globalisasi saat ini remaja sangat mudah mengakses segala sesuatu informasi yang berkaitan dengan pornografi. Media sosial adalah bentuk-bentuk eletronik di mana pengguna membuat komunitas online untuk berbagi informasi, ide, pesan pribadi dan konten lainnya. Fakta ini menunjukkan, responden yang penggunaan media sosialnya berat lebih memungkinkan melakukan perilaku seksual berisiko. Maka terbentuk pola hubungan penggunaan media sosial dengan perilaku seksual pranikah. Selanjutnya penelitian lain juga mendukung penelitian ini. Menurut (Yusuf & Hamdi, 2. menyatakan bahwa penggunaan media sosial memprediksi pengetahuan kesehatan reproduksi secara negatif, yang berarti semakin sering seorang remaja menggunakan media sosial, semakin rendah pengetahuan remaja tersebut mengenai kesehatan reproduksi, namun hal ini tidaklah signifikan, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa penggunaan media sosial kemudian meningkatkan perilaku seksual pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi diprediksi oleh hal lain, sementara pengetahuan itu sendiri secara langsung memiliki efek negatif signifikan terhadap perilaku seksual beresiko. Media sosial merupakan sebuah gelombang besar yang merubah begitu banyak tatanan kehidupan Bagaimana manusia berkomunikasi, mencari informasi, menghibur diri, hingga membuat keputusan berubah drastis dari sebutlah lima hingga sepuluh tahun yang lalu. Remaja yang banyak ditemukan di dunia maya merupakan salah satu pihak yang banyak terdampak dari hadirnya media sosial. Menurut asumsi peneliti bahwa media sosial memiliki peran yang kompleks didalam kehidupan remaja, khususnya terkait dengan perilaku seksual. Meskipun penggunaan media sosial pada remaja dikategorikan positif, namun potensi dampak negatif terutama dengan akses konten pornografi dan informasi yang salah tetap ada. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. merasa media sosial memberikan dampak positif bagi mereka. Meskipun juga terdapat dampak negatif dari penggunaan media sosial, maka penting untuk memahami bahwa faktor lain seperti lingkungan sosial dan pendidikan juga berperan dalam membentuk perilaku remaja. Hasil penelitian menyatakan bahwa dnegan kecanggihan di era globalisasi saat ini remaja sangat mudah mengakses segala sesuatu informasi yang berkaitan dengan pornografi. Media sosial adalah bentuk-bentuk elelktronik dimana pengguna membuat komunitas online untuk berbagi informasi, ide, pesan pribadi dan konten lainnya. Responden yang penggunaan media sosial berat lebih memungkinakan melakukan perilaku seksual beresiko. Maka terbentuk pola hubungan penggunaan media sosial dengan perilaku seksual pranikah (Mulati & Lestari, 2. Perilaku Seksual Remaja Berdasarkan dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa 191 responden mayoritas dengan perilaku seksual tidak menyimpang sebanyak 82 responden pada siswa/siswi di SMA Negeri X Bukittinggi. Perilaku seksual remaja merupakan perilaku yang disebabkan oleh keinginan atau aktivitas seksual untuk menikmati organ seksual. Perilaku seksual pada remaja, yang mencakup aktivitas berciuman, berpelukan, hingga melakukan hubungan seksual atau seks bebas, adalah bentuk ekspresi dari hasrat seksual yang berkembang seiring dengan proses kematangan fisik dan emosional remaja (Rahmadhenta & Margiana. Perilaku seksual meliputi aktivitas seperti petting, ciuman, ciuman bagian tubuh lain selain tangan dan wajah, dan melakukan seks bebas. Dimulai dari kebiasaan melihat film pornografi, berpegangan tangan hingga melakukan pelukan, meraba bagian area sensitif, hingga melakukan seks bebas, beberapa temuan penelitian di Indonesia menunjukkan peningkatan risiko perilaku seksual remaja. Hal ini dapat dilihat dari cara berpacaran remaja. (Asmin et al. , 2. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Beberapa faktor juga mempengaruhi perilaku seksual remaja diantaranya pola asuh orangtua, pengaruh teman sebaya, paparan media pornografi, dan pengetahuan remaja. Selain itu juga salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja adalah paparan pornografi dari media sosial, yang dapat menyebabkan dorongan terhadap rangsangan seksual sehingga remaja melakukan perilaku seksual yang dapat merugikan diri sendiri dan lingkungan mereka. (Dalima Padut et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian yang ada dapat diketahui bahwa media sosial berpotensi untuk merangsang pengguna media sosial lain untuk meniru dan menyebarkan perilaku seksualnya di media sosial (Tasnim et al. , 2. Sesuai dengan tahap perkembangan remaja yang terdapat didalam konsep bahwa remaja perkembangan yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga menimbulkan rasa penasaran yang mendalam hingga terjadi perubahan perilaku yang signifikan terutama pada sikap remaja. Akibat dari pengalaman melihat, mendengar, dan berperilaku yang mengarah seksualitas maka stimulus atau dorongan terjadinya perubahan juga akan semakin kuat. Pola asuh orangtua adalah faktor yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko. Pola asuh orangtua adalah bagaimana orang tua berperilaku atau berinteraksi dengan anak mereka (Dalima Padut et al. , 2. Di antara interaksi antara orangtua dan anak termasuk cara mendisiplinkan anak agar tumbuh sesuai dengan nilai-nilai masyarakat. (Utami dan Raharjo. Pengaruh teman sebaya dan paparan media pornografi interaksi sosial dalam persahabatan dapat berdampak negatif karena sangat erat kaitannya dengan perilaku penyimpangan atau kenakalan remaja. Misalnya, remaja berkumpul dan melakukan hal-hal seperti merokok, mabuk, berbicara dengan orang lain, menonton GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. pornografi, dan sebagainya. (Tianingrum dan Nurjannah, 2. Menurut asumsi peneliti bahwa perilaku seksual remaja dikategorikan menyimpang jika pengaruh dari lingkungan remaja itu sendiri tidak terkendali. Sehingga keterpaparan terhadap media sosial yang juga akan berpotensi untuk merangsang pengguna media sosial untuk meniru dan menyebarkan perilaku seksualnya di media sosial. semakin hari semakin canggih media sosial yang dapat digunakan, sehingga membuat remaja rentan terpengaruh kepada hal yang negatif. Kurangnya sosialisasi pendidikan tentang seksualitas disekolah dapat menjadi faktor yang akan mendukung remaja memiliki perilaku seksual yang cukup. Analisa Bivariat Hubungan Penggunaan Media Sosial dengan Perilaku Seksual Remaja di SMA Negeri 5 Bukittinggi Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di SMA Negeri X Bukittinggi bahwasannya menunjukkan bahwa dari 82 responden yang menggunakan media sosial negatif, 48 . ,5%) responden memiliki perilaku seksual remajanya menyimpang, dan 42 . ,5%) responden yang menggunakan media sosial Setelah dilakukan uji statistik dengan uji chi-square didapatkan nilai p value = 0,009 . < 0,. , maka dapat disimpulkan bahwa ada Hubungan Penggunaan Media Sosial dengan Perilaku Seksual Remaja di SMA Negeri 5 Bukittinggi, karena secara langsung penggunaan media sosial dapat mempengaruhi bagaimana remaja memandang dan bersikap terhadap seksualitas yang akan mengarah kepada perubahan perilaku. remaja tentang seksualitas Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mulati & Lestari, . Berdasarkan hasil penelitian bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan media sosial dengan perilaku seksual beresiko di SMP X Jakarta Timur Kecamatan Ciracas. Penelitian ini diperkuat oleh penelitian lain yang JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara penggunaan media sosial dengan perilaku seksual pada remaja usia 15-18 tahun di SMA N 1 Dawan Klungkung dan SMA Hang Tuah 1 Surabaya (Andayani, 2. (Ramadhanti, 2. Penelitian lain juga sejalan dengan penelitian ini, yang dilakukan di Kota Makassar dan Kabupaten Maros dan di Muna. Indonesia menyatakan bahwa penggunaan media sosial memepengaruhi perilaku seksual beresiko remaja (Yusuf & Hamdi, 2. (Tasnim et al. Selain itu penelitian yang dilakukan di wilayah Kayu Manis VI RT 06 RW 05 Matraman Raya Tahun juga menunjukkan adanya hubungan penggunaan media sosial dengan perilaku seksual remaja (Siska, 2. Menurut asumsi dalam penelitian ini bahwa di SMA Negeri X Bukittinggi Tahun 2025 terdapat menunjukkan bahwa dari 82 responden yang menggunakan media sosial negatif, 48 . ,5%) responden memiliki perilaku seksual remajanya menyimpang, dan 42 . ,5%) responden yang menggunakan media sosial penggunaan media sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku seksual remaja. yang disebabkan oleh berbagai hal diantaranya pengaruh teman sebaya, lingkungan sekitar, pola asuh orangtua, dan juga salah satunya adalah dari penggunaan media Hal ini sejalan dengan kaidah penggunaan media sosial diantaranya adalah bijak dalam melakukan posting di media sosial, menghormati privasi oranglain, hindari dan tidak menyebarkan berita hoaks. Media perubahan perilaku remaja terkait dengan Dalam hal ini, peneliti menekankan pentingnya edukasi dan pengawasan terhadap penggunaan media sosial pada remaja KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian ini dapat disimpulkan Bahwa adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan media sosial dengan perilaku seksual remaja dengan nilai p-value 0,032. Saran penelitian ini dapat memberi banyak manfaat I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. bagi kemajuan ilmu dan informasi serta menambahkan pengetahuan tentang penggunaan media sosisal dengan perilaku seksual remaja. DAFTAR PUSTAKA