Economics Professional in Action (E-Profi. E-ISSN:2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 4 No. 01 April 2022 PENGARUH TINGKAT INFLASI DAN SUKU BUNGA TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2011-2022 Johannes Kristian Siregar Fakultas Ekonomi Bisnis. Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia email : Johannes@unibi. Abstrak Data historis yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan IDX statistic menunjukan selama periode 2011 Ae 2020 IHSG mengalami fluktuasi yang disebabkan berbagai faktor diantaranya baik internal maupun eksternal. Pada tahun 2013 IHSG mengalami penurunan pada sektor pertanian sebesar 3,73 %, pertambangan sebesar 23,31 % dan aneka industri sebesar 9,84 % hal ini dikarenakan nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan. Hal lainnya yang pada tahun 2019 IHSG cenderung stabil dimana pada sektor pertanian menurun sebesar 4,54 %, sektor pertambangan menurun sebesar 12,3 % tetapi diimbangi oleh kenaikan pada sektor industri dasar sebesar 16,29 % dan sektor keuangan sebesar 15,72 % hal ini dikarenakan menurunya ketidakpastian pasar keuangan global. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap faktor yang memberikan pengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indoensia pada periode 2011-2020. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa nilai dari Indeks Harga Saham Gabungan. Tingkat Inflasi dan Suku Bunga yang diperoleh melalui laman resmi Kementerian Perdagangan. Bursa Efek Indonesia. Bank Indonesia, dan Badan Pusat Statistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Tingkat Inflasi memberikan pengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan dan Suku Bunga tidak memberikan pengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan tetapi secara simultan variabel independen memberikan pengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2020. Kata kunci : Tingkat Inflasi. Suku Bunga dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Abstarct Historical data obtained from the Central Bureau of Statistics and IDX statistics show that during the period 2011 Ae 2020 the JCI fluctuated due to various factors, including both internal and external. In 2013 the JCI experienced a decline in the agricultural sector by 73%, mining by 23. 31% and various industries by 9. 84% this was due to the weakening rupiah exchange rate. Another thing that in 2019 the JCI tended to be stable where the agricultural sector decreased by 4. 54%, the mining sector decreased by 12. 3% but was offset by an increase in the basic industrial sector by 16. 29% and the financial sector by 15. 72% This is due to reduced uncertainty in global financial markets. This study aims to provide an overview of the factors that influence the Composite Stock Price Index on the Indonesian Stock Exchange in the 2011-2020 period. This study uses secondary data in the form of the value of the Composite Stock Price Index. Inflation and Interest Rates obtained through the official website of the Ministry of Trade. Indonesia Stock Exchange. Bank Indonesia, and the Central Bureau of Statistics. The results of this study indicate that: Inflation has an effect on the Composite Stock Price Index and interest rates have no effect on the Composite Stock Price Index but simultaneously independent variables have an influence on the Composite Stock Price Index on the Indonesia Stock Exchange for the period 2011-2020. Key word: Inflastion Rate. Interest Rate and Compiste Stock Price Index (IHSG) PENDAHULUAN Pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek, berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 Pasal 1 ayat . Martalena dan Malinda . , berpendapat bahwa pasar modal adalah pasar untuk berbagi instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat utang, ekuitas, reksadana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Instrumen yang paling banyak diminati di pasar modal adalah saham. Saham dapat didefinisikan sebagai penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan (Lubis, 2. Saham sebagai instrumen yang paling banyak diminati oleh investor akan selalu diperhatikan pergerakannya karena memiliki risiko fluktuasi yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan instrumen lainnya di pasar modal (Husnul, dkk, 2. Investor dapat memperhatikan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) saat akan berinvestasi, karena IHSG berisi keseluruhan saham yang tercatat di BEI (Oktarina, 2. Hermuningsih . , berpendapat bahwa IHSG adalah suatu nilai yang digunakan untuk mengukur kinerja saham yang tercatat dalam suatu bursa efek. Sunariyah . , menyatakan Indeks Harga Saham Gabungan adalah suatu rangkaian informasi historis mengenai pergerakan harga saham gabungan, sampai tanggal tertentu dan mencerminkan suatu nilai yang berfungsi sebagai pengukuran kinerja suatu saham gabungan di bursa efek. IHSG mengalami fluktuasi selama sepuluh tahun terakhir, berikut data nilai IHSG dari tahun 2011 sampai 2020: Gambar 1. Pergerakan Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) periode 2011 - 2020 Sumber: BPS dan IDX statistic, data diolah penulis . Pada grafik diatas, didapat bahwa nilai IHSG selama sepuluh tahun terakhir selalu mengalami fluktuasi yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik internal maupun Tahun 2011, nilai IHSG berada pada 821,99 poin, dan mengalami peningkatan di tahun selanjutnya dengan nilai 4. 316,69 poin di Tahun 2013 nilai IHSG mengalami penurunan menjadi 4. 274,18 poin, kemudian mengalami peningkatan yang signifikan dengan nilai 5. 226,95 di tahun 2014, dan kembali mengalami penurunan menjadi 593,01 poin di tahun 2015. Nilai IHSG kembali mengalami peningkatan selama dua tahu berturut-turut, yaitu pada tahun 2016 296,71 poin dan kembali meningkat di tahun 2017 dengan 6. 355,65 poin. Tahun 2018 nilai IHSG mengalami penurunan kembali dengan 6. 194,5 poin, dan cenderung stabil di tahun berikutnya dengan nilai 229,54 poin di tahun 2019, kemudian di tahun 2020 nilai IHSG kembali menurun dengan berada pada 5. 979,04 poin. Inflasi merupakan kejadian ekonomi yang sering terjadi meskipun kita tidak menghendaki (Murni, 2. Rahardja dan Manurung . , menyatakan inflasi adalah kenaikasukirn harga barang yang bersifat umum dan terus-menerus. Tingkat inflasi dapat meningkat dengan tiba-tiba atau wujud sebagai akibat suatu peristiwa tertentu yang berlaku di luar ekspektasi pemerintah, misalnya efek dari pengurangan nilai uang yang sangat besar atau ketidakstabilann politik (Sukirno, 2. Tahun 2013, terjadi peningkatan Inflasi pada kisaran 8% di dua kuartal akhir 2013 yang dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti interaksi permintaan-penawaran, lingkungan eksternal . ilai tukar, harga komoditas internasional, dan inflasi mitra dagan. , dan ekspektasi Inflasi dari pedagang dan konsumen (Bappenas, 2. Oktarina penelitiannya menunjukkan bahwa Inflasi memberikan pengaruh yang positif pada pergerakan nilai IHSG di BEI. Sementara hasil penelitian dari Harsono dan Worokinasih . , menunjukkan bahwa tingkat Inflasi tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap IHSG. Hasil yang sama terdapat pada penelitian yang dilakukan oleh Kewal . , dimana hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa tingkat inflasi tidak memberikan pengarih signifikan terhadap IHSG. Suku bunga adalah tingkat bunga yang dinyatakan dalam persen pada jangka waktu tertentu (Marshall dan Miranda, 2007:. Tingkat suku bunga yang mengalami kenaikan akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan yang memiliki tingkat leverage yang tinggi, hal itu dapat menyebabkan kenaikan beban bunga dan berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan (Oktarina, pada akhir tahun 2014, nilai suku bunga acuan di Indonesia (BI Rat. ada di angka 7,75% yang termasuk dalam nilai terbesar selama sepuluh tahun terakhir. Kebijakan ini dilakukan untuk mempertahankan kepastian kepercayaan investor tentang keseluruhan konsistensi dan kualitas pengelolaan kebijakan ekonomi makro Indonesia di tengah-tengah semakin dekatnya peningkatan suku bunga global, dan kebijakan ini juga akan menekan pasar saham secara jangka pendek. Harsono dan Worokinasih . , dalam penelitiannya menjelaskan bahwa suku bunga memiliki hubungan negatif terhadap IHSG, yaitu apabila suku bunga meningkat maka akan mengakibatkan penurunan IHSG di Bursa Efek Indonesia. Hasil yang berbeda terdapat pada penelitian yang dilakukan oleh Sutanto, dkk . , yang menyatakan bahwa adanya pengaruh positif dari suku bunga terhadap IHSG. Berdasarkan fenomena yang sudah digambarkan diatas, yaitu pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada periode 2011 Ae 2020 yang berfluktuatif serta dari hasil penelitian sebelumnya yang menunjukan adanya perbedaan hasil penelitian hal ini menyebabkan penulis berminat untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul Pengaruh Tingkat Inflasi dan Suku Bunga terhadap Indeks Harga Saham Gabungan pada Bursa Efek Indonesia pada Periode 2011-2020. KAJIAN PUSTAKA 1 Teori Sinyal Teori sinyal melibatkan dua pihak yaitu manajemen perusahaan dan investor, dimana manajemen perusahaan berusaha memberika sinyal yang lengkap kepada menyesuaikan keputusan berdasarkan sinyal yang diterima (Supriadi, 2020:. Sinyal diartikan sebagai isyarat yang dilakukan oleh perusahan kepada investor dimana isyarat yang diberikan dapat langsung diamati ataupun harus ditelaah lebih mendalam untuk mengetahuinya, dan sinyal yang diberikan bisa sinyal positif maupun sinyal negatif (Fauziah, 2017:. Brigham . , menyatakan bahwa sinyal adalah suatu tindakan yang diambil oleh manajemen suatu perusahaan untuk memberikan informasi kepada investor tentang bagaimana manajemen menilai prospek perusahaan tersebut. Laporan keuangan dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memberikan sinyal positif maupun (Sulistyanto,2008:. Informasi lengkap, relevan, akurat, dan tepat waktu sangat diperlukan oleh para investor di pasar modal sebagai alat analisis untuk pengambilan keputusan dalam berinvestasi (Brigham dan Houston, 2010:. Pasar harus menangkap mempresepsikan dengan baik sinyal yang diberikan oleh perusahaan (Hartono, 2005:. Faktor makroekonomi yang meliputi inflasi, suku bunga, nilai tukar, dan pertumbuhan domestik bruto merupakan risiko asimetris yang tidak dapat dihindari oleh Faktor tersebut dapat digunakan sebagai sinyal yang digunakan oleh para investor dan dapat menggambarkan bagaimana kondisi ekonomi yang ada dalam suatu negara dan menyebabkan perubahan harga saham pada suatu perusahaan. Faktor makroekonomi dapat memberikan pengaruh terhadap fluktuasi harga saham yang ada di pasar modal (Bodie, dkk, 2014:. 2 Pasar Modal Pasar modal secara umum dapat diartikan sebagai tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi dalam rangka memperoleh modal (Kasmir, 2010:. Pasar modal adalah suatu sistem keuangan yang terorganisasi, termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial dan semua lembaga perantara di bidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat berharga yang beredar di pasar modal (Sunariyah, 2006:. Pasar modal dibangun dengan tujuan untuk menggerakkan perekonomian negara melalui kekuatan swasta tanpa mengurangi beban negara, dimana negara memiliki kekuatan dan perekonomian (Samsul, 2006:. Menurut Undang-undang No. 8 tahun 1995 tentang pasar modal, pada pasal 1 ayat . menjelaskan bahwa AuPasar Modal adalah Penawaran Umum dan perdagangan Efek. Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan EfekAy. Pasar modal bertindak sebagai penghubung antara para investor dengan perusahaan atau institusi pemerintah melalui perdagangan instrumen keuangan (Martalena dan Malinda, 2019:. Pasar modal adalah tempat diperjualbelikan berbagai instrumen keuangan jangka panjang, yang meliputi utang, ekuitas, serta instrumen derivatif lainnya (Darmadji dan Fakhrudin, 2011:. Menurut Samsul . , istrumen yang terdapat di pasar modal adalah sebagai berikut: Saham Saham adalah tanda bukti memiliki perusahaan dimana pemiliknya disebut juga sebagai pemegang saham. Bukti bahwa seseorang atau suatu pihak dianggap sebagai pemegang saham adalah apabila mereka sudah tercatat sebagai pemegang saham dalam buku yang disebut sebagai Daftar Pemegang Saham (DPS). Obligasi Obligasi perusahaan memiliki utang jangka panjang kepada masyarakat yaitu di atas 3 tahun. Pihak yang membeli obligasi akan disebut sebagai pemegang obligasi . dan pemegang obligasi akan menerima kupon sebagai pendapatan dari obligasi yang dibayarkan setiap 3 bulan atau 6 bulan. Bukti Right Bukti right adalah hak untuk membeli saham pada harga tertentu dalam jangka waktu tertentu dimana hak membeli itu dimiliki oleh pemegang saham lama. Harga tertentu adalah harga saham sudah ditetapkan di muka dan biasa disebut harga pelaksanaan atau harga tebusan. Pada umumnya harga tebusan pada bukti right berada dibawah harga pasar saat diterbitkan, sementara jangka waktu yang ditetapkan adalah kurang dari 6 bulan. Apablila pemegang saham yang menerima bukti right tidak mampu atau tidak berniat menukarkan dengan saham, maka bukti right tersebut dapat dijual di bursa efek melalui broker. Tetapi jika bukti right tersebut waktu penukarannya sudah kadaluwarsa maka bukti right tersebut tidak berharga lagi. Waran Waran adalah hak untuk membeli saham pada harga tertentu dalam jangka waktu tertentu. harga yang ditetapkan di atas harga pasar saat diterbitkan, dan jangka waktu dapat setelah 6 bulan, 3 tahun, 5 tahun, atau bahkan 10 tahun. Pemegang waran tidak akan mengalami kerugian jika waran tidak dilaksakan. Jika harga pasar sudah melebihi harga tebusan waran, maka sudah saatnya waran tersebut ditukar dengan saham. Indeks Saham dan Indeks Obligasi Indeks saham dan indeks obligasi merupakan angka indeks yang spekulasi dan lindung nilai . Perdagangan yang dilakukan tidak memerlukan penyerahan barang secara fisik, melainkan hanya perhitungan untung rugi dari selisih harga beli dan harga jual. Berbeda dengan saham, obligasi, bukti right dan waran, indeks diperdagangkan secara berjangka. Menurut Martalena dan Malinda . , pasar modal memiliki peranan penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal memiliki dua fungsi, yaitu sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dan sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen-instrumen keuangan yang ada di pasar modal. Pasar modal dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pasar modal, yaitu adanya perusahaan yang membutuhkan dana, adanya masyarakat yang memiliki dana, faktor ekonomi dan politik, masalah hukum dan peraturan, serta keberadaan lembaga yang mengatur pasar modal. Di Indonesia, pembinaan, pengaturan, dan pembinaan seharihari kegiatan pasar modal dilakukan oleh Badan Pengawasan Pasar Modal (Bapepa. sesuai dengan Undang-undang No. 8 tahun 1995 pasal 3 ayat . Tandelilin . , menyatakan bahwa pasar modal memiliki dua fungsi pasar. Sebagai lembaga perantara yang menunjukkan peran penting dalam menunjang perekonomian karena pasar modal dapat menghubungkan antara pihak yang mebutuhkan dana dengan pihak yang mempunyai dana. Mendorong terciptanya alokasi dana yang efisien, karena dengan adanya pasar modal maka pihak yang mempunyai dana dapat memilih alternatif investasi yang memberikan pengembalian yang optimal. 3 Indeks Harga Saham Indeks harga saham adalah suatu indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham (Martalena dan Malinda, 2019:. Indeks berfungsi sebagai indikator tren pasar, sehingga dapat menggambarkan pergerakan atau kondisi pasar apakah sedang aktif ataupun (Fakhrudin, 2008:. Menurut Martalena dan Malinda . , di Bursa Efek Indonesia terdapat 6 jenis indeks, yaitu: Indeks Individual, menggunakan indeks harga masing-masing saham terhadap harga dasarnya, atau indeks masing-masing saham yang tercatat di BEI. Indeks Harga Saham Sektoral, yang menggunakan semua saham yang masing-masing sektor, misalnya sektor keuangan, pertambangan, dan lain-lain. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), merupakan indeks saham yang menggunakan semua saham yang perhitungan indeks. Indeks LQ 45, menggunakan 45 saham pilihan yang mengacu pada 2 variabel, yaitu likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar. Setiap 6 bulan terdapat saham-saham baru yang masuk ke dalam LQ 45 tersebut. Indeks Syariah, merupakan indeks yang terdiri dari 30 saham mengakomodasi syariat investasi dalam Islam atau indeks yang berdasarkan syariah Islam. Dengan kata lain, dalam indeks ini dimasukkan saham-saham yang memenuhi kriteria investasi dalam syariat Islam. Sahamsaham yang masuk dalam indeks Syariah adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah, seperti: Usaha perjudian dan permainan perdagangan yang dilarang. Usaha konvensional, termasuk perbakan dan asuransi konvensional. Usaha memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong haram. Usaha mendistribusi, dan menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat Indeks papan utama dan papan pengembangan, yaitu indeks harga saham yang secara khusus didasarkan pada sekelompok saham yang tercatat di BEI. IHSG pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 April 1983 sebagai indikator pergerakan harga saham yang tercatat di bursa, dan hari dasar perhitungan indeks adalah tanggal 10 Agustus 1982 dengan nilai 100 (BEI, 2010:. Menurut Sunariyah . 6:127. , ada dua metode dalam perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yaitu: Metode Rata-rata (Average Metho. Pada metode ini, harga pasar sahamsaham yang dimasukkan dalam perhitungan indeks tersebut di jumlah dan kemudian dibagi dengan suatu faktor pembagi. Rumus metode ratarata adalah sebagai berikut: IHSG = Oc Ps Oc Pbase Keterangan: IHSG = Indeks Harga Saham Ps = Harga pasar saham Pbase = suatu nilai pembagi Metode Rata-rata Tertimbang (Weighted Average Metho. Pada metode ini, dalam perhitungan Indeks menambahkan pembobotan disamping harga pasar dan harga dasar Ada mengemukakan metode ini, yaitu: Metode Paasche IHSG = Oc(Ps y S. Oc(Pbase y S. Keterangan: IHSG = Indeks Harga Saham Gabungan Ps = Harga pasar saham Ss = Jumlah saham yang Pbase = Harga dasar saham Rumus Paasche membandingkan kapitalisasi pasar seluruh saham dengan nilai dasar seluruh saham yang tergantung dalam suatu Jadi, semakin besar kapitalisasi suatu saham maka akan memberikan pengaruh yang besar jika terjadi perubahan harga pada saham bersangkutan. Metode Laspeyres IHSG = Oc(Ps y S. Oc(Pbase y S. Keterangan: IHSG = Indeks Harga Saham Gabungan Ps = Harga pasar saham So = Jumlah saham yang dikeluarkan pada hari dasar Pbase = Harga dasar saham Pada metode ini, jumlah saham yang dikeluarkan pada hari dasar dan tidak bisa berubah selamanya walaupun ada pengeluaran saham Paasche menggunakan jumlah saham yang berubah jika ada pengeluaran saham baru. Pergerakan IHSG menjadi indikator penting bagi para investor untuk pengambilan keputusan, dimana harga-harga saham bergerak dalam hitungan detik dan menit sehingga nilai indeks pun bergerak dengan cepat (Martalena dan Malinda, 2019:. Terdapat mempengaruhi permintaan dan penawaran, meliputi kinerja perusahaan, tingkat bunga, tingkat inflasi, tingkat pertumbuhan, kurs valuta asing, dan indeks saham negara lain (Samsul, 2006:. IHSG merupakan indeks yang menunjukkan pergerakan harga saham secara umum di bursa efek yang menjadi acuan perkembangan ataupun gambaran mengenai kegiatan di pasar modal (Anoraga dan Pakarti, 2001:. Sehingga IHSG menggambarkan situasi pasar dan ekonomi suatu negara, dimana faktor ekonomi dapat dipengaruhi oleh variabel makroekonomi antara lain tingkat inflasi, suku bunga, nilai tukar, dan produk domestik bruto 4 Tingkat Inflasi Inflasi meningkatnya harga-harga secara umum dan secara terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor diantara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, likuiditas di pasar mengalami peningkatan sehingga memicu konsumsi atau spekulasi, dan juga termasuk akibat adanya ketidak lancaran distribusi barang (Boediono, 2009:. Kenaikan harga barang yang terjadi hanya sekali, meskipun dalam presentase yang cukup besar bukan termasuk inflasi (Nopirin, 2007:. Kenaikan satu atau dua barang tidak dapat disebut inflasi, kecuali jika kenaikan tersebut meluas terhadap sebagian besar harga-harga barang lainnya (Boediono, 2009:. Inflasi yang meningkat secara relatif dapat menunjukkan sinyal negatif bagi berbagai pihak yang ada di pasar modal (Tandelilin, 2010:. Tingkat inflasi berbeda dari satu periode ke periode lainnya, serta berbeda pula dari satu negara ke negara lainnya (Sukirno, 2016:. Menurut Firdaus . inflasi dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu: inflasi ringan yang kurang dari 10% pertahun, inflasi sedang diantara 1030%, inflasi berat diantara 30-100%, dan hiperinflasi yang berada diatas 100%. Indikator untuk menghitung laju inflasi adalah indeks harga konsumen, indeks harga produsen atau perdagangan besar, dan indek harga implisit (Murni, 2006:. Indeks harga konsumen merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan dalam menghitung inflasi, karena data indeks harga konsumen dapat diperoleh dalam bentuk bulanan, triwulanan, ataupun tahunan (Insukindro 1993:. Menurut Sukirno . , perhitungan indeks harga konsumen adalah sebagai berikut: IHK = Eu(Pit. Qi. y 100 Eu(Pio. Qi. Keterangan: IHK = Indeks Harga Konsumen Pit = harga barang i pada periode t Qit = bobot barang i pada periode t Pio = harga barang i pada tahun dasar o Qio = bobot barang i pada tahun dasar o Tingkat Inflasi = IHKt Oe IHKt Oe 1 y 100% IHKt Oe 1 Keterangan: IHKt = Indeks Harga Konsumen pada tahun IHKt-1 = Indeks Harga Konsumen pada tahun 5 Suku Bunga Suku bunga adalah biaya pinjaman atau harga yang dibayarkan untuk dana pinjaman tersebut (Mishkin, 2008:. Suku bunga merupakan suatu ukuran harga suatu sumber daya yang digunakan debitur untuk membayar kepada kreditur (Sunariyah, 2013:. Menurut ismail . , suku bunga dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan sifatnya, yaitu bunga simpanan yang merupakan tingkat harga yang harus dibayarkan oleh bank kepada nasabah atas simpanan yang dilakukan, dan bunga pinjaman yang merupakan tingkat harga yang harus dibayarkan oleh nasabah kepada bank atas pinjaman yang diperolenya. Sunariyah . menyatakan tingkat bunga pada suatu perekonomian memiliki fungsi sebagai berikut: Tingkat bunga dapat digunakan sebagai daya tarik bagi para investor untuk menginvestasikan dananya. Tingkat bunga dapat digunakan sebagai alat kontrol bagi pemerintah terhadap dana langsung atau investasi sektor-sektor ekonomi. Tingkat bunga dapat digunakan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian. Pemerintah tingkat bunga untuk meningkatkan profuksi, dan mengakibatkan tingkat bunga dapat digunakan untuk mengkontrol tingkat inflasi. Menurut Kasmir . 0:137-. , faktorAefaktor utama yang mempengaruhi besar kecilnya penetapan suku bunga . injaman dan simpana. adalah sebagai Kebutuhan dana Faktor kebutuhan dana dikhususkan untuk dana simpanan, yaitu seberapa besar kebutuhan dana yang diinginkan. Apabila bank kekurangan dana sementara pemohonan pinjaman meningkat, maka yang dilakukan oleh bank agar dana tersebut cepat terpenuhi dengan meningkat kan suku bunga simpanan. Namun, peningkatan suku bunga simpanan akan pula meningkatkan suku bunga pinjaman. Target laba Yang dikhususkan untuk bunga pinjaman. Sebaliknya apabila dana yang ada dalam simpanan di bank banyak, sementara permohonan pinjaman sedikit, maka bunga simpanan akan turun karena hal ini merupakan beban. Kualitas jaminan Kualitas jaminan juga diperuntukkan untuk bunga pinjaman. Semakin likuid jaminan yang diberikan, semakin rendah bunga kredit yang dibebankan dan sebaliknya. Kebijaksanaan pemerintah Dalam menentukan baik bunga simpanan maupun bunga pinjaman bank tidak boleh melebihi batasan Jangka waktu Faktor Semakin panjang jangka waktu pinjaman, akan semakin tinggi bunganya, hal ini disebabkan besarnya kemungkinan resiko macet dimasa Demikian pula sebaliknya, jika pinjaman berjangka pendek, bunganya relatif rendah. Reputasi perusahaan Reputasi perusahaan juga sangat menentukan suku bunga terutama untuk bunga pinjaman. Bonafiditas memperoleh kredit sangat menentukan tingkat suku bunga yang akan dibebankan nantinya, karena biasanya kemungkinan risiko kredit macet di masa mendatang relatif kecil dan Produksi yang kompetitif Untuk produk yang kompetitif, bunga kredit yang diberikan relatif rendah jika dibandingkan dengan produk yang kurang kompetitif. Hal ini disebabkan produk yang kompetitif tingkat perputaran produknya tinggi sehingga pembayarannya diharapkan lancar. Hubungan baik Biasanya bunga pinjaman dikaitkan dengan faktor kepercayaan kepada seseorang atau lembaga. Dalam praktiknya, bank menggolongkan nasabah antara nasabah utama dan nasabah biasa. Penggolongan ini didasarkan kepada keaktifan serta loyaritas nasabah yang bersangkutan kepada bank. Nasabah yang memiliki hubungan baik dengan bank tentu penentuan suku bunganya pun berbeda dengan nasabah biasa. Persaingan Dalam kondisi tidak stabil dan bank kekurangan dana, sementara tingkat persaingan dalam memperebutkan dana simpanan cukup ketat, maka bank harus bersaing keras dengan bank Untuk bunga pinjaman, harus berada di bawah bunga pesaing agar tersalurkan, meskipun margin laba Jaminan pihak ketiga Dalam hal ini pihak yang memberikan menanggung segala resiko yang dibebankan kepada penerima kredit. Biasanya memberikan jaminan bonafid, baik dari segi kemampuan membayar , nama baik maupun loyaritasnya terhadap bank, maka bunga yang dibebankan pun berbeda. Peningkatan suku bunga dapat investasinya pada suatu saham di pasar modal dan memindahkannya pada investasi berupa tabungan maupun deposito (Tandelilin, 2010:. Suku bunga yang tinggi menyebabkan tabungan lebih menarik, karena kuantitas dana yang ditawarkan meningkat (Mankiw, 2001:. 6 Hipotesi Penelitian Hipotesis sementara terhadap rumusan masalah penelitian berdasarkan teori yang relevan dan masih harus di buktikan kebenarannya melalui data empiris yang terkumpul (Sugiyono, 2. Berdasarkan teori yang mendasari variabel penelitian dan penelitian terdahulu, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut: H1 : Tingkat inflasi berpengaruh signifkan terhadap IHSG. H2 : Suku bunga berpengaruh signfikan terhadap IHSG. H3 : Tingkat inflasi dan Suku Bunga berpengaruh terhadap IHSG. Gambar 2. Kerangka Pemikiran METODE PENELITIAN 1 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi merupakan daerah/wilayah generalisasi yang terdiri dari objek/subjek yang memiliki kuantitas dan ciri/karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti dan kemudian dibuat kesimpulannya. Oleh karena itu populasi merupakan keseluruhan dari objek/subjek penelitian. Populasi yang akan diambil dalam penelitian ini adalah seluruh data bulanan Indeks Harga Saham Gabungan. Tingkat Inflasi dan Suku Bunga Bank Indonesia pada periode 20112020 yang masing-masing berjumlah 120 data selama 10 tahun. Sedangkan sampel adalah sebagian dari jumlah dan ciri/karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang ada, atau bagian kecil yang diambil dari anggota populasi yang ada menurut prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya. Teknik Sampling yang digunakan peneliti adalah Teknik Purposive Sampling. Teknik purposive sampling adalah salah satu teknik sampling non-random sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian. Sampel pada penelitian ini adalah keseluruhan populasi dari Indeks Harga Saham Gabungan. Tingkat Inflasi dan Suku Bunga Bank Indonesia periode 2011-2020 Tabel 3. Data Sampel sebab perubahan dari variabel independen (Sugiyono, 2018:. Jadi variabel independen dapat diindikaasikan sebagai fkator penyebab dari perubahan yang terjadi pada variabel dependen. Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel independen, yaitu: Tingkat inflasi yaang merupakan kenaikan harga barang secara umum (X. Suku bunga yang merupakan biaya atas pinjaman (X. Variabel Dependen Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau sebagai akibat karena adanya variabel independen (Sugiyono, 2018:. Secara sederhana perubahan variabel dependen terjadi karena akibat dari adanya variabel independen, dimana variabel independen memberikan pengaruh terhadap perubahan variabel dependen. Dalam penelitian ini Indeks harga Saham Gabungan menjadi variabel dependen (Y) karena dapat dipengaruhi oleh banyak faktor yang ada. Tabel 3. Operasionalisasi Variabel Sampel Jumlah IHSG 120 data Tingkat Inflasi 120 data Variabel Indikator Skala Suku Bunga Bank Indonesia 120 data IHSG (Y) Nilai IHSG Rasio Tingkat Inflasi (X. Tingkat Perubahan Harga Rasio Suku Bunga (X. Suku Bunga bulanan Bank Indonesia Rasio Operasionalisasi Variabel Variabel adalah suatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2018:. Variabel-variabel dalam penelitian ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu variabel dependen dan independen. Variabel Independen Variabel independen adalah variabel yang memberikan pengaruh atau menjadi Teknik Pengumpulan Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Menurut Sugiyono . , data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh tidak memberikan data kepada pengumpul data. Data sekunder yang dimaksud dalam penelitian ini adalah data mengenai tingkat inflasi pada periode 2011-2020, suku bunga pada periode 2011-2020, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika pada periode 2011-2020, dan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia pada periode 2011-2020. Sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diperoleh dari laman resmi bursa efek Indonesia dan Badan Pusat Statistik, data ini merupakan nilai IHSG tiap bulan untuk periode Data tingkat inflasi yang diperoleh melalui publikasi Bank Indonesia setiap bulannya pada periode 20112020. Data nilai suku bunga yang diperoleh melalui publikasi tiap bulannya oleh Bank indonesia dan laman resmi Badan Pusat Statistik pada periode Teknik Pengujian Data Pengujian data dilakukan untuk mengetahui apakah data tersebut layak untuk dilakukan analisis atau tidak. Dalam penelitian ini analisis data dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan model statistika. Untuk mempermudah melakukan analisis data, penulis menggunakan aplikasi Statistical Package For The Social Sciense (SPSS) versi 24 sebagai alat bantu dalam melakukan analisis Untuk melakukan analisis data, maka dibutuhkan beberapa pengujian sebagai Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik digunakan dengan tujuan untuk menguji kelayakan model regresi yang kemudian digunakan untuk melakukan pengujian hipotesis. Dalam uji asumsi klasik, terdapat empat jenis pengujian yaitu: Uji Normalitas Uji normalitas dapat dilakukan Test Normality Kolmogorov-Smirnov, pengambilan keputusan berdasarkan hasil probabilitas dimana jika nilai yang dihasilkan ada diatas 0. 05 maka data dikatakan normal dan jika 05 dapat dikatakan tidak normal (Santoso, 2012:. Uji Autokorelasi Jika nilai dari hasil uji Durbin-Watson mendekati atau berada di angka sekitas 2 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi (Ghozali, 2018:. Berikut ialah kriteria pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi: Tabel 3. Kriteria Autokorelasi Hipotesis nol Keputusan Jika Tolak 0 < d < dl Tidak ada Tidak ada Tidak ada korelasi negatif Tidak ada korelasi negatif Tolak No decision Dl O d O du 4 - dl < d < 4 4 Ae du O d O 4 Ae Tidak ada Tidak positif atau du < d < 4 Ae du (Durbin Watso. Uji Heteroskedastisitas Ada atau tidaknya heteroskedastitas dapat dilihat melalui koefisien dengan tingkat yang biasanya 5% dan jika melebihi itu maka heteroskedastitas (Ghozali, 2018:. Uji Multikolonieritas Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikorelasi di dalam model regresi adalah sebagai berikut: Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara variabel-variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antar variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi maka hal itu merupakan indikasi adanya Multikorolonieritas dapat juga dilihat dari nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai VIF sama dengan 1/tolerance, maka jika nilai tolerance dibawah 10 atau sama dengan VIF 10 maka terdapat multikolonieritas. Koefisien Regresi Linear Regresi linear adalah model analisis yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen (Ghozali, 2018:. Jika hasil dari regresi adalah positif signifikan maka variabel independen dan dependen bersifat searah. Tetapi jka hasil regresi adalah negatif maka kenaikan variabel dependen dipengaruhi oleh penurunan variabel independen, dan begitu sebaliknya. Keterangan: IHSG : Indeks Harga Saham Gabungan : Konstanta : Koefisien variabel : Inflasi : Suku bunga : Nilai tukar : PDB : error Koefisien Korelasi Uji koefisien korelasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar hubungan linear variabel independen yang diteliti terhadap variabel dependen. Koefisien korelasi (R) memiliki nilai antara -1. 00 dan 1. 00, semakin R mendekati 1. 00 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan anatara variabel independen dan variabel dependen semakin kuat (Kuncoro. Menurut Sugiyono . , berikut ialah nilai koefisien korelasi: Tabel 3. Interpretasi Koefisien Korelasi Besarnya Pengaruh Tingkat hubungan 00 Ae 0. Sangat rendah 20 Ae 0. Rendah 40 Ae 0. Sedang 60 Ae 0. Kuat 80 Ae 1. Sangat Kuat 1 Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi linier berganda merupakan regresi yang memiliki satu variabel dependen dan dua atau lebih vaiabel independen (Sugiyono, 2. Berikut ialah perumusan regresi linier berganda: Menurut Arikunto . , untuk melihat seberapa besar pengaruh dari setiap variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial, dilakukan perhitungan sebagai berikut: IHSGit = yu yu1 ycU1 yu2 ycU2 yu3 ycU3 yu4 ycU4 yuA KD = r 2 y 100% Koefisien Determinasi dengan kriteria sebagai berikut: Keterangan: : Koefisien Korelasi : Koefisien korelasi yang dikuadratkan Tujuan pengujian hipotesis adalah untuk mengetahui pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini uji t dan uji F digunakan untuk pengujian hipotesis. Uji Parsial (Uji . Menurut Ghozali . , langkah dalam melakukan uji t adalah sebagai berikut: Dengan membandingkan nilai thitung dengan ttabel Apabila thitung lebih besar dari ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima Apabila thitung lebih besar dari ttabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak Menentukan tingkat signifikansi Tingkat signifikansi dalam penelitian ini adalah 5% . karena risiko keputusan menolak atau menerima hipotesis sebesar 5% dan untuk tingkat kepercayaan dalam pengambilan keputusan adalah 95%. Menentukan nilai ttabel Nilai ttabel didapat dari tabel distribusi t pada tingkat signifikansi 5%, yaitu: ttabel = df = . Ae k Ae . Keterangan: df : derajat kebebasan n : jumlah sampel k : jumlah variabel independen atau dengan cara lain ttabel. ,05. Uji Simultan (Uji F) Menurut Ghozali . , untuk menguji hipotesis ini digunakan statistik F Dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel Apabila Fhitung lebih besar dari Ftabel, maka H0 ditolak dan Ha Apabila Fhitung lebih besar dari Ftabel, maka H0 diterima dan Ha Menentukan tingkat signifikansi Apabila signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Apabila signifikansi lebih besar dari 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Menentukan nilai Ftabel Nilai Ftabel didapat ari distribusi F pada tingkat signifikansi 5% Pengujian Hipotesis Ftabel = df2 = . Ae k Ae . Keterangan: : derajat kebebasan . umlah variabel Ae . : jumlah sampel : jumlah variabel independen atau dengan cara nilai Ftabel . ,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Data yang ada dalam model regresi di penelitian ini, akan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Dengan menggunakan statistik deskriptif, maka data akan bisa dijelaskan dan digambarkan secara jelas dan Deskripsi Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder, dimana data sekunder sendiri merupakan data yang didapat melalui pihak ketiga. Data tingkat inflasi diperoleh melalui publikasi di laman resmi Bank Indonesia, data suku bunga didapat melalui publikasi di laman resmi Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik serta data IHSG didapat melalui publikasi di laman resmi IDX dan Badan Pusat Statistik. Pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan data time series sebanyak 120 bulan pengamatan pada periode 2011-2020. yang menjadi sampel penelitian berkisar antara 3,75 dan 7,75. Nilai rata-rata suku bunga dari tahun 20112020 di Indonesia adalah 5,9527 dengan standar deviasi 1,18921. IHSG Berdasarkan hasil pengujian tersebut, maka diketahui bahwa nilai dari data IHSG terendah adalah 3409,17 dan tertinggi adalah 6605,63. Hasil tersebut menjelaskan bahwa data IHSG yang menjadi sampel dalam penelitian ini berkisar antara 3409,17 dan 6605,63. Nilai rata-rata IHSG dari tahun 2011-2020 di Indonesia adalah 5136,7494 dengan standar deviasi 795,90658. Statistik Deskriptif Analisis statistik deskriptif dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran data secara statistik. Berikut ialah hasil dari analisis statistik deskriptif dalam penelitian ini: Tabel 4. Statistik Deskriptif Min Max Mean Inflasi 1,32 8,79 4,5070 Standar Deviation 1,85635 Suku Bunga 3,75 7,75 5,9527 1,18921 IHSG 795,906 Valid Berdasarkan data dari tabel analisis statistik deskriptif, dapat diketahui: Inflasi Berdasarkan hasil pengujian tersebut, maka diketahui bahwa nilai inflasi terendah adalah 1,32 dan tertinggi 8,79. Hasil menjelaskan bahwa data inflasi yang menjadi sampel penelitian berkisar antara 1,32 dan 8,79. Nilai rata-rata inflasi dari tahun 2011-2020 di Indonesia adalah 4,5070 dengan standar deviasi 1,85635. Suku Bunga Berdasarkan hasil pengujian tersebut, maka diketahui bahwa nilai dari data suku bunga terendah adalah 3,75 dan tertinggi adalah 7,75. Hasil tersebut menjelaskan bahwa data suku bunga Hasil Pengolahan Data Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan uji t dan uji F. Sebelum data dianalisis, maka diperlukan melalui sejumlah uji yaitu, uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinearitas, dan uji heterokedastisitas. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi data yang ada dalam penelitian normal, serta menjadi prasyarat agar data dalam model regresi dapat dilanjutkan dalam pengolahan uji hipotesis. Uji Normalitas Uji menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Data penelitian dikatakan berdistribusi normal jika nilai Asymp. Sig . -taile. berada di atas 0,05, dan begitupun sebaliknya ketika nilai Asymp. Sig . -taile. di bawah 0,05 maka data tidak berdistribusi normal. Hasil uji normalitas pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini: ,7855<1,889<4-1,7855=2,2. Hasil ini autokorelasi, sehingga data yang ada secara time series tidak terdapat korelasi antara data pada periode sebelumnya dengan data pada periode saat ini. Tabel 4. Uji Normalitas Normal Parameters Mean Std. Deviation Most Extreme Absolute Differences Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Unstandardized Residual ,0000000 406,31647770 ,049 ,045 -,049 ,049 ,200 Uji Multikolinearitas Nilai Tolerance harus meleibihi 0,1 dan nilai VIF harus berada dibawah 10, maka dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terdapat multikolinearitas. Berikut ialah hasil dari uji multikolinearitas yang dilakukan pada penelitian ini: Tabel 4. Uji Multikolinearitas Berdasarkan pada hasil dari data pada 2, dapat dijelaskan bahwa nilai dari Asymp. -taile. berada di atas 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini telah berdistribusi normal, karena distribusi data sudah sesuai dengan sebaran data yang sebenarnya terjadi pada fenomena yang ada. Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. Error (Constan. -1219,700 644,212 Inflasi 49,242 Suku Bunga 24,250 Collinearity Statistics Beta Tolerance VIF 35,735 ,115 ,354 2,825 54,339 ,036 ,373 2,681 Uji Autokorelasi Autokorelasi dapat dideteksi jika nilai Durbin-Watson lebih besar dari nilai du dan lebih kecil dari 4-du. Berikut adalah hasil uji autokorelasi yang terdapat pada penelitian ini: Tabel 4. Uji Autokorelasi Model Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate DurbinWatson ,860a ,739 ,730 413,91184 1,889 Berdasarkan hasil uji multikolinearitas yang terdapat pada tabel 4. 4, didapatkan hasil bahwa tidak ada variabel independen yang mempunyali nilai tolerance lebih kecil dari 0,10 dan nilai VIF tidak lebih besar dari 10. Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi multikolinearitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada satupun dari variabel bebas yang mempunyai korelasi dengan variabel bebas lainnya. Uji Heteroskedastisitas Berdasarkan hasil uji autokorelasi pada tabel 4. 3, didapat bahwa nilai dari Durbin-Watson (DW) sebesar 1,889. Nilai DW kemudian dibandingkan dengan nilai du dan 4du, dan nilai du diperoleh melalui tabel DW dengan n=111 dan k=5 dan diperoleh nilai du yaitu 1,75. Kemudian dilakukan pengambilan keputusan dengan ketentuan du