Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 PERAN PETERNAK DAN INSEMINATOR TERHADAP KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN (IB) DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS SAPI POTONG DI DESA PARIPPUNG KECAMATAN BAREBBO The Roles of Farmers and Inseminators in Enhancing Beef Cattle Productivity through Artificial Insemination (AI) in Parippung Village. Barebbo District Yuliana Rahmi. Aminuddin Saade. Andi Triana. dan Arwan. Jurusan Peternakan. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurusan Pertanian. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa *e-mail: yulianarahmi507@gmail. Received : 21 Juli 2024: Accepted : 25 Desember 2024 ABSTRAK Inseminasi Buatan (IB) adalah teknologi reproduksi untuk meningkatkan perbaikan mutu genetik ternak. Keberhasilan IB dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu semen, ternak dan manusia . eternak dan inseminato. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui peran peternak dan inseminator terhadap keberhasilan IB dalam peningkatan produktivitas sapi potong di Desa Parippung. Kecamatan Barebbo. Kajian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2024, bertempat di Desa Parippung. Kecamatan Barebbo. Sampel pada penelitian ini yaitu peternak yang memiliki minimal satu ekor sapi betina yang pernah beranak dengan menggunakan teknologi IB berjumlah 33 orang dan inseminator sebanyak 3 orang. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan kuesioner. Analisis deskriptif menggunakan skoring dengan skala likert. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan rata- rata pengetahuan peternak 3,80 dengan kategori sangat berperan dan keterampilan peternak 3,87 dengan kategori sangat berperan serta rata-rata pengetahuan inseminator 4,67 dengan kategori sangat berperan dan keterampilan inseminator 4,60 dengan kategori sangat berperan. S/C diperoleh hasil yaitu sebesar 1,16 dengan kategori sedang dan CR diperoleh sebesar 84,4% dengan kategori baik. Dapat disimpulkan bahwa peternak dan inseminator mempunyai peran yang tinggi terhadap keberhasilan IB dalam meningkatkan produktivitas sapi potong di Desa Parippung. Kecamatan Barebbo. Kata kunci: Inseminasi Buatan. Produktivitas, dan Sapi Potong ABSTRACT Artificial Insemination (AI) is a reproductive technology to improve the genetic quality of livestock. The success of AI is influenced by three factors: semen, livestock and humans . reeders and inseminator. This study aims to explore the roles of farmers and inseminators in the successful implementation of AI to enhance beef cattle productivity in Parippung Village. Barebbo District. The research was conducted from April to May 2024 in Parippung Village. Barebbo District. The sample in this study were 33 farmers who had at least one female cow that had given birth using AI technology and 3 inseminators. Data were collected through observation, interviews, and questionnaires. Descriptive analysis utilized Likert scale scoring. The research findings indicate that farmers had an average knowledge level of 3. 80, categorized as highly influential, and a skill level 87, also categorized as highly influential. Inseminators, on the other hand, exhibited a knowledge level of 67, categorized as highly influential, and a skill level of 4. 60, similarly categorized as highly influential. The S/C resulted in 1. 16, categorized as moderate, while the CR was obtained at 84. 4% with a good category. These results underscore the significant roles of farmers and inseminators in the successful implementation of AI to enhance beef cattle productivity in Parippung Village. Barebbo District. Keywords: Artificial Insemination. Productivity. Beef Cattle Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 PENDAHULUAN Teknologi sudah banyak dihasilkan dan digunakan oleh para peternak salah satunya adalah inseminasi buatan (IB). Inseminasi Buatan (IB) adalah salah satu teknologi reproduksi yang mampu dan telah berhasil untuk meningkatkan perbaikan mutu genetik ternak, sehingga dalam waktu pendek dapat menghasilkan anak dengan kualitas baik dalam jumlah yang besar dengan banyaknya Inseminasi (Kusumawati, 2. Keberhasilan IB dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu. ternak, semen dan manusia. Faktor manusia . eternak dan inseminato. merupakan faktor yang sangat penting dalam keberhasilan program IB, karena memiliki peran sentral dalam kegiatan pelayanan IB. Peternak dan inseminator merupakan ujung tombak pelaksanaan IB sekaligus sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap berhasil atau tidaknya program IB di lapangan. Peternak berperan dalam pendeteksian tanda birahi, sedangkan inseminator berperan dalam pelaksanaan inseminasi buatan. (Ardhani. Inseminator dan Peternak merupakan ujung tombak pelaksanaan inseminasi buatan sekaligus sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap berhasil atau tidaknya program inseminasi buatan di lapangan (Hastuti, 2. Keberhasilan pelaksanaan IB di suatu daerah dapat dievaluasi melalui pertumbuhan jumlah peternak yang mengadopsi teknologi ini setiap tahunnya. Hal ini mencerminkan bahwa pentingnya pemahaman dan wawasan peternak pemilik sapi potong dalam meningkatkan kualitas dan jumlah ternak sapi potong. Inseminator juga berperan sangat besar dalam keberhasilan pelaksanaan IB. Keahlian dan keterampilan inseminator dalam akurasi pengenalan birahi, sanitasi alat, penanganan . semen beku, pencairan kembali . yang benar, serta kemampuan melakukan IB akan menentukan Indikator yang paling mudah untuk menilai keterampilan inseminator adalah dengan melihat persentase atau angka tingkat kebuntingan (Conception Rate. CR) ketika melakukan IB dalam kurun waktu dan pada jumlah ternak tertentu (Herawati, 2. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah penghasil ternak sapi potong dan ada beberapa wilayah yang dikembangkan menjadi kawasan pengembangan peternakan sapi potong, salah satunya Kabupaten Bone. Kabupaten Bone merupakan kabupaten dengan jumlah populasi ternak sapi potong terbanyak di Sulawesi Selatan yaitu sebanyak 445. 008 ekor. Salah satu kecamatan yang berpotensi untuk pengembangan ternak sapi potong dengan teknologi inseminasi buatan IB adalah Kecamatan Barebbo dengan jumlah ternak sapi potong sebanyak 16. 084 ekor. Karakteristik, pengetahuan dan keterampilan peternak dan petugas inseminator menjadi indikator dalam keberhasilan program IB di Desa Parippung. Kecamatan Barebbo. Kabupaten Bone. Desa Parippung merupakan salah satu desa yang menggunakan Teknologi Inseminasi Buatan (IB). Widiyaningsih . menyatakan bahwa Inseminator dan peternak mempunyai peran yang tinggi terhadap keberhasilan inseminasi buatan. Selain itu, hasil penelitian Ardhani . juga menunjukkan bahwa peran Peternak dan inseminator adalah tinggi dalam keberhasilan IB. Hal tersebut karena ditunjang oleh karakteristik yang tinggi, pengetahuan yang tinggi serta keterampilan yang tinggi dari peternak dan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran peternak dan inseminator terhadap keberhasilan Inseminasi Buatan (IB) dalam peningkatan produktivitas sapi potong di Desa Parippung. Kecamatan Barebbo. METODE PENELITIAN Kegiatan penelitian ini dilakukan di Desa Parippung. Kecamatan Barebbo. Kabupaten Bone Tahun 2024. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kuesioner, alat tulis, kamera, laptop, dan LCD/proyektor. Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga pada penelitian yang dilakukan secara purposive sampling, yaitu peternak yang memiliki minimal satu ekor sapi betina yang pernah beranak dengan menggunakan Teknologi Inseminasi Buatan (IB) yaitu sebanyak 31 Peternak dan Inseminator sebanyak 3 orang. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menjelaskan atau menggambarkan Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 peran peternak dan inseminator dalam pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan kuesioner. Analisis deskriptif menggunakan skoring dengan skala likert. Data keberhasilan IB yang diperoleh dihitung dengan menggunakan rumus Service per Conception, dan Conception Rate. Menurut Lukman et al . nilai CR dapat menggunakan rumus sebagai berikut : yaycycoycoycaEa ycycaycyycn ycycaycuyci ycaycycuycycnycuyci yayaA ya yaycI = HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Peternak dan Inseminator Peternak yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah mereka yang memiliki setidaknya satu ternak sapi yang pernah menggunakan program Inseminasi Buatan (IB). Karakteristik peternak yang disertakan sebagai sampel dalam penelitian ini mencakup usia, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman dalam beternak, dan jumlah ternak yang dimiliki. Sementara itu, karakteristik inseminator yang menjadi responden dalam penelitian ini mencakup usia, jenis kelamin, pendidikan, dan tahun mulai bekerja sebagai inseminator. Inseminator dalam penelitian ini adalah mereka yang berperan aktif dalam pelaksanaan program IB. Distribusi responden yang mencakup peternak dan inseminator disajikan pada Tabel 1. y 100 yaycycoycoycaEa ycaycoycyceycyycycuyc yayaA ya Sedangkan Rumus Servis Per Conception (S/C): yaycycoycoycaEa ycnycuycyceycoycnycuycaycycn ycIya = yaycycoycoycaEa ycaycoycyceycyycycuyc ycaycycuycycnycuyci Tabel 1. Karakteristik Peternak dan Inseminator Karakteristik Responden Umur (Tahu. >46 Pendidikan: SMP SMA Pengalaman Bekerja (Tahu. 11 - 15 16 - 20 21 - 25 >25 Jumlah Ternak (Eko. Keterangan: Data Primer Setelah Diolah 2024 Peternak Jumlah Persentase (Oran. (%) Inseminator Jumlah Persentase (Oran. (%) 66,67 33,33 Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 Berdasarkan Tabel 1, persentase tingkat umur yang tertinggi dari peternak adalah umur >46 dengan jumlah 16 orang dan persentase 48,5%. Sedangkan pada responden inseminator memiliki tingkat umur yang berbeda dengan rata-rata umur Hal tersebut menunjukkan bahwa umur peternak dan inseminator masih termasuk dalam kategori umur produktif. Secara keseluruhan umur peternak sebagian besar berada pada rentang umur >46 tahun. Menurut Asyraf . , umur peternak dan inseminator tidak secara statistik signifikan mempengaruhi tingkat keberhasilan inseminasi buatan (IB) pada sapi. Namun, faktor umur dapat mendukung tingkat keberhasilan IB. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya keterkaitan antara umur dan pengalaman serta keterampilan yang meningkat seiring bertambahnya usia (Arifin. Tabel 1 juga menunjukkan bahwa pendidikan peternak sebagian besar adalah lulusan Sekolah Dasar (SD), yaitu sebanyak 15 orang atau 45,5%. Selain itu persentase pendidikan inseminator yang paling tinggi yaitu SMA dengan jumlah 2 orang dan persentase 66,7% serta pendidikan S1 dengan jumlah 1 orang dan persentase 33,3%. Meskipun tingkat pendidikan formal peternak tergolong rendah, hal ini tidak menghalangi mereka untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sangat berperan dalam keberhasilan IB. Menurut Kastalani . , tingkat pendidikan berpengaruh terhadap penyerapan informasi dan pengetahuan serta cara berfikir Namun kesulitan tersebut dapat diatasi dengan pengalaman yang telah didapat oleh peternak serta adanya kegiatan penyuluhan. Adapun tingkat pendidikan inseminator termasuk tinggi, hal ini sesuai dengan Ardhani . yang rata-rata inseminator adalah tinggi jika sudah menempuh pendidikan dasar 12 tahun. Pengalaman bekerja peternak berdasarkan Tabel 1 yaitu tertinggi adalah 0-10 tahun dengan persentase 36,4% kemudian pengalaman bekerja 11-15 tahun dengan persentase 33,3%. Berdasarkan data tersebut, rata-rata pengalaman bekerja peternak adalah 13 tahun. Sedangkan inseminator memiliki rata- rata pengalaman bekerja 14 tahun. Hal ini menunjukkan peternak dan inseminator memliki pengalaman bekerja yang sudah cukup p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Lama keberhasilan IB, dimana hal ini sejalan dengan Kastalani . yang menyatakan bahwa pengalaman peternak berkorelasi positif terhadap produktivitas, semakin lama pengalaman beternak maka produktivitas yang dihasilkannya pun semakin bertambah, karena pengalaman yang lebih lama memungkinkan peternak dan inseminator untuk mendapatkan lebih banyak pengetahuan praktis dan keterampilan yang relevan dengan pengelolaan ternak, termasuk teknik Inseminasi Buatan (IB). Selain itu, inseminator juga telah melakukan pelatihan keterampilan menjadi inseminator dan sudah memiliki SIMI (Surat Izin Menginseminas. yang mendukung kemampuan dalam melakukan IB. Peran Peternak dan Inseminator Hasil tabulasi nilai responden terhadap peran peternak dan inseminator terhadap keberhasilan IB dalam meningkatkan produktivitas sapi potong di Desa Parippung Kecamatan Barebbo diukur dengan nilai meliputi pengetahuan dan keterampilan peternak dan inseminator. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. Tabel 2. Peran Peternak dan Inseminator pada Indikator Pengetahuan dan Keterampilan Rata-Rata Indikator Kategori Peternak Inseminator Sangat Pengetahuan 3,80 4,67 Berperan Sangat Keterampilan 3,87 4,60 Berperan Keterangan: Data Primer Setelah Diolah 2024 Inseminasi Buatan (IB) di Desa Parippung. Kecamatan Barebbo sangat berpengaruh dalam peningkatan produktivitas ternak sapi potong. Keberhasilan ini tidak terlepas dari pengetahuan dan keterampilan peternak yang tinggi. Berdasarkan Tabel 7 dan 8, tingkat pengetahuan peternak menunjukkan rata-rata 3,80 dengan kategori sangat berperan, dan tingkat keterampilan peternak menunjukkan rata-rata 3,87 dengan kategori sangat berperan. Hal ini menunjukkan bahwa peternak memiliki pemahaman yang baik tentang teknik IB dan mampu melaksanakannya dengan efektif. Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 Pengenalan tanda-tanda birahi menjadi faktor kunci untuk memastikan keberhasilan Inseminasi Buatan. Para peternak sudah memiliki kemampuan untuk mengenali tanda- tanda ketika ternak mereka sedang dalam masa birahi. Hal ini menunjukkan peternak memiliki peran yang tinggi terhadap keberhasilan IB. Sejalan dengan Widiyaningsih menunjukkan adanya korelasi antara peran peternak dengan keberhasilan IB. Peternak mampu memahami waktu pelaksanaan IB serta memahami tanda-tanda birahi sehingga mempengaruhi kemungkinan keberhasilan terjadinya kebuntingan pada sapi yang menjalani IB. Tabel 2 juga menunjukkan peran inseminator terhadap keberhasilan Inseminasi Buatan (IB) di Desa Parippung. Kecamatan Barebbo yang sangat berpengaruh dalam peningkatan produktivitas ternak sapi potong. Keberhasilan ini didukung oleh pengetahuan dan keterampilan inseminator yang berada pada kategori sangat berperan. Data menunjukkan tingkat pengetahuan inseminator 4,67 dengan kategori sangat berperan dan tingkat keterampilan inseminator 4,60 dengan kategori sangat berperan. Hal ini menunjukkan adanya tingkat pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk mendukung keberhasilan IB. Menurut Sudrajat . , inseminator dengan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dapat menerima adanya perkembangan teknologi reproduksi dan dapat memberikan pengetahuan serta mengajak peternak dalam mengenal dan menerapkan teknologi reproduksi. Hal tersebut memungkinkan inseminator untuk melaksanakan IB dengan efektif dan meningkatkan produktivitas ternak sapi potong. Keberhasilan IB Keberhasilan Inseminasi Buatan (IB) di Desa Parippung Kecamatan Barebbo ditinjau berdasarkan Conception Rate (CR) dan Servis Per Conception (S/C). Berdasarkan Tabel 13, nilai CR mencapai 84,4%, yang berada dalam kategori baik. Selain itu, nilai S/C adalah 1,16, yang berada dalam kategori sedang. Tingkat CR sebesar 84,4% menunjukkan bahwa sebagian besar sapi yang diinseminasi berhasil bunting. Menurut penelitian oleh Smith . CR yang tinggi merupakan indikasi dari p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 efisiensi teknik IB dan keterampilan inseminator yang baik. Adapun Nilai S/C sebesar 1,16 menunjukkan bahwa rata-rata setiap sapi memerlukan sedikit lebih dari satu inseminasi untuk mencapai kebuntingan. Menurut Jones & Brown . , nilai S/C yang baik berada di bawah 1,4. Nilai ini mencerminkan efektivitas inseminasi dan manajemen reproduksi yang efisien. Nilai S/C di Desa Parippung menunjukkan bahwa proses inseminasi dilakukan dengan baik. Keberhasilan IB di Desa Parippung, yang ditunjukkan oleh nilai CR yang tinggi dan nilai S/C yang efisien, mencerminkan implementasi yang baik dari pelaksanaan program IB. Menurut Salana . , nilai S/C dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keterampilan inseminator, waktu dalam melakukan inseminasi buatan, dan pengetahuan peternak dalam mendeteksi birahi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dimana tingkat pengetahuan dan keterampilan dari peternak dan inseminator yang tinggi menunjukkan kemampuan yang memadai serta manajemen IB yang baik. Peran Peternak dan Inseminator terhadap Keberhasilan Inseminasi Buatan (IB) dalam Peningkatan Produktivitas Sapi Potong Keberhasilan Inseminasi Buatan (IB) di Desa Parippung Kecamatan Barebbo yang ditinjau berdasarkan Conception Rate (CR) dan Servis Per Conception (S/C) menunjukkan hasil yang baik. Nilai CR mencapai 84,4%, dengan kategori baik dan nilai S/C adalah 1,16, dengan kategori sedang. Keberhasilan IB dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu ternak, semen dan manusia . eternak dan Peran yang tinggi dan saling berhubungan dari ketiga faktor tersebut akan memberikan hasil IB yang tinggi. Peran manusia . eternak dan inseminato. dalam keberhasilan IB di Desa Parippung Kecamatan Barebbo adalah tinggi yaitu peternak dengan rata-rata 3,84 dengan kategori sangat berperan dan inseminator dengan rata-rata 4,63 dengan kategori sangat berperan. Peran tersebut didukung oleh karakteristik . engetahuan dan keterampila. peternak dan petugas inseminator yang tinggi. Menurut Ardhani . , karakteristik yang baik dari peternak dan inseminator akan Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 menjamin keberhasilan IB, yaitu semakin tinggi tingkat pengetahuan dan keterampilan peternak dan inseminator maka akan semakin tinggi keberhasilan IB. Widiyaningsih . juga menyatakan bahwa peternak dan inseminator mempunyai peran yang tinggi terhadap Faktor karakteristik, tingkat pengetahuan terhadap tanda birahi, siklus birahi dan waktu IB yang tepat oleh peternak memiliki peran yang signifikan terhadap Faktor karakteristik, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki oleh petugas inseminator menunjukan hasil yang signifikan terhadap keberhasilan inseminasi buatan. Arifin. , & Lukman. Peran Faktor Peternak Inseminator Terhadap Keberhasilan Inseminasi Buatan pada Sapi Potong di Kecamatan Kota Bangun. [Tesi. Universitas Mulawarman. KESIMPULAN Hastuti. Kajian Sosial Ekonomi Pelaksanaan Inseminasi Buatan Sapi Potong di Kabupaten Kebumen. Jurnal Mediaagro : Vol 4 No. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan peternak dan inseminator sangat berperan dalam pelaksanaan program Inseminasi Buatan (IB), hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian berdasarkan dua indikator yaitu rata-rata pengetahuan peternak 3,80 dengan kategori sangat berperan dan keterampilan peternak 3,87 dengan kategori sangat berperan serta rata-rata pengetahuan inseminator 4,67 dengan kategori sangat berperan dan keterampilan inseminator 4,60 dengan kategori sangat berperan. Peningkatan penguatan peran peternak dan inseminator tidak peternakan, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan peternak melalui peningkatan hasil dan kualitas produksi ternak. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan untuk pengambilan kebijakan yang lebih efektif dalam meningkatkan keberhasilan program IB di berbagai DAFTAR PUSTAKA