Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 PENAFSIRAN AYAT-AYAT DOA RUQYAH JAMAoIYYAH RUQYAH ASWAJA (JRA) KAJIAN: TAFSIR AL-MUNIR KARYA WAHBAH AZ-ZUHAILI CICI DEWI LESTARI Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung cicidewilestari718@gmail. Kiki Muhamad Hakiki Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung hakiki@radenintan. Ahmad Muttaqin Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Ahmadmuttaqin@radenintan. Abstrak Ruqyah syarAoiyyah di Indonesia berkembang pesat pasca Orde Baru seiring meluasnya kebebasan ekspresi JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) hadir sebagai lembaga yang menghidupkan praktik ruqyah sesuai syariat dengan menggunakan ayat-ayat Al-QurAoan sebagai media penyembuhan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemahaman JRA dengan penafsiran Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir alMunir terhadap ayat-ayat ruqyah, sekaligus menemukan titik temu dan perbedaan orientasi keduanya. Metode yang digunakan adalah studi komparatif dengan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif analitik. Kajian dilakukan melalui penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan menjadikan Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili sebagai sumber tafsir serta buku panduan resmi JRA sebagai rujukan praktik Selain itu, penelitian ini juga dilengkapi dengan penelitian lapangan . ield researc. di JRA cabang Bandar Lampung. Analisis data dilakukan menggunakan teori resepsi Al-QurAoan dan pendekatan eksegesis, dengan pengumpulan data melalui studi literatur, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesesuaian sekaligus perbedaan dalam pemahaman ayat-ayat ruqyah. Pada sebagian besar ayat seperti Al-Falaq. Al-Qalam. Thaha. Al-Isra, dan An-Nahl. JRA dan Tafsir al-Munir menunjukkan Namun, pada ayat-ayat seperti Al-Anbiya dan Ali Imran, terdapat perbedaan signifikan karena JRA menggunakannya secara fungsional dalam praktik ruqyah, sedangkan Tafsir al-Munir menekankan konteks historis-teologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman JRA dan penafsiran Wahbah azZuhaili meski terdapat perbedaan namun tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. JRA merepresentasikan praktik penghidupan QurAoan dalam masyarakat, sedangkan Tafsir al-Munir menjadi landasan teologis dalam penafsiran dan pemahaman Al-QurAoan. Kata Kunci: ruqyah. Jam'iyyah Ruqyah Aswaja. Tafsir al-Munir. living QurAoan. Wahbah az-Zuhaili Abstract Ruqyah syarAoiyyah in Indonesia has developed rapidly after the New Order era, along with the expansion of religious freedom of expression. JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) emerged as an institution that revitalizes the practice of ruqyah in accordance with Islamic law, using verses from the QurAoan as a means of healing. This study aims to compare JRAAos understanding with Wahbah az-ZuhailiAos interpretation in Tafsir al-Munir regarding ruqyah verses, while also identifying points of convergence and divergence between the two. The method employed is a comparative study with a qualitative, descriptive-analytical The research was conducted through library research, using Tafsir al-Munir by Wahbah azZuhaili as the primary exegetical source and JRAAos official guidebook as the reference for ruqyah practice. In addition, the study was complemented by field research at the JRA branch in Bandar Lampung. Data analysis was carried out using the theory of QurAoanic reception and the exegetical approach, with data collected through literature review, observation, and interviews. The results show both similarities and differences in the understanding of ruqyah verses. In most versesAisuch as Al-Falaq. Al-Qalam. Taha. Al- Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 IsraAo, and An-NahlAiJRA and Tafsir al-Munir demonstrate alignment. However, in verses such as AlAnbiyaAo and Ali Imran, significant differences appear: JRA applies these verses functionally in ruqyah practice, while Tafsir al-Munir emphasizes their historical and theological contexts. This study concludes that although JRAAos understanding and Wahbah az-ZuhailiAos interpretation differ in some aspects, they are not contradictory but rather complementary. JRA represents the practical embodiment of the QurAoan in society, while Tafsir al-Munir serves as a theological foundation for interpreting and understanding the QurAoan. Keyword. Jam'iyyah Ruqyah Aswaja. Tafsir al-Munir. living QurAoan. Wahbah az-Zuhaili PENDAHULUAN Fenomena perkembangan ruqyah syarAoiyyah di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perubahan sosial dan politik setelah runtuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998. Masa reformasi membuka ruang kebebasan pers serta ekspresi keagamaan yang semakin luas, sehingga mendorong lahirnya berbagai simbol identitas Islam di ruang publik. Fenomena ini, disebut sebagai Islam Publik (Public Isla. , yakni munculnya ekspresi keislaman dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat perkotaan, mulai dari produk halal, kegiatan pengajian, layanan sosial-ekonomi, hingga kebijakan negara. 2 Arus kebangkitan Islam menempatkan ruqyah syarAoiyyah sebagai salah satu aspek penting dalam layanan kesehatan Islami sekaligus sebagai sarana penguatan identitas keagamaan umat Muslim. Fenomena ini mendorong munculnya berbagai komunitas ruqyah di Indonesia dengan karakter dan pendekatan yang beragam. Salah satu di antaranya adalah JamAoiyyah Ruqyah AswajA (JRA), yang dikenal karena mengusung pendekatan moderat dan berlandaskan tradisi Ahl al-Sunnah wa al-JamAAoah. JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) merupakan lembaga ruqyah yang lahir dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) pada 15 Januari 2013, digagas oleh Gus Allamak Alauddin Shiddiqy I. Sejak berdirinya. JRA berkembang pesat dan kini menjadi salah satu organisasi ruqyah terbesar, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional. Keberadaan JRA tidak semata-mata berfokus pada praktik penyembuhan spiritual, tetapi juga memiliki misi untuk menginternalisasikan nilai-nilai al-QurAoan dalam pengobatan Islami yang berpijak pada manhaj Ahl al-Sunnah wa al-JamAAoah. JRA memandang ruqyah bukan sekadar bentuk pengobatan, melainkan juga sebagai media dakwah yang menegakkan nilai-nilai Islam raumatan li al-AoAlamn. Prinsip ini diwujudkan melalui konsep wasatiyah . alan tenga. , yakni sikap moderat yang tidak berpihak secara ekstrem pada satu kelompok tertentu, namun tetap berpegang teguh pada prinsip perjuangan Nahdlatul Ulama (PBNU). Pendekatan ini menjadikan JRA sebagai komunitas Aswaja yang inklusif dan terbuka untuk berdialog dengan berbagai organisasi Islam lain seperti Muhammadiyah maupun kelompok keislaman lainnya. Dengan sikap moderat tersebut. JRA mampu menjaga keseimbangan, toleransi, serta ukhuwah Islamiyah, tanpa terjebak dalam perpecahan dan saling menyalahkan antar kelompok umat Islam. 1 Dony arung Triantoro. AoRuqyah SyarAoIyyah: Alternatif Pengobatan. Kesalehan. Islamisme Dan Pasar IslamAo. Harmoni, 18. , pp. 460Ae78, doi:10. 32488/harmoni. 2 Salvatore dan Eickelman, 2018 Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Dalam konteks ini. JRA berupaya menjaga umat dari pengaruh paham keagamaan yang dianggap ekstrem, terutama praktik ruqyah bercorak WahhAb yang dinilai kaku dan eksklusif. Sebagai komunitas yang berakar pada tradisi Nahdlatul Ulama. JRA menampilkan corak ruqyah khas an-Nahdliyyn, di mana amaliah-amaliah keagamaan seperti tahlil, sholawat, dan doa-doa maAotsur dijadikan bagian integral dari terapi ruqyah. Praktik ruqyah dalam JRA dilakukan secara langsung oleh peruqyah kepada pasien, bukan melalui media rekaman, dengan syarat utama yaitu keyakinan penuh terhadap kekuatan kalAmullAh. Selain itu, pembacaan sholawat menjadi elemen wajib dalam setiap prosesi ruqyah sebagai wujud pengharapan terhadap rasulallah. Dibandingkan dengan komunitas lain seperti Quranic Healing International (QHI). JRA memperlihatkan pendekatan yang lebih inklusif dan adaptif terhadap budaya lokal. Hal ini tampak dalam sikap akomodatif terhadap tradisi masyarakat Jawa, misalnya dalam pelestarian keris yang dinilai sebagai bagian dari warisan budaya. JRA tidak serta-merta memusnahkannya, tetapi melakukan penetralan unsur jin di dalamnya agar dapat tetap dilestarikan tanpa menimbulkan unsur kesyirikan. Pendekatan ini berbeda dengan QHI yang cenderung menilai benda-benda tradisional sebagai sarana kemusyrikan yang harus JRA memposisikan diri sebagai lembaga dakwah sekaligus pelayanan kesehatan alternatif berbasis Al-QurAoAn dan sunnah. Ayat-ayat ruqyah yang digunakan dipilih secara tematik dan dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, yakni ayat syifAAo . , ayat pembatal sihir, ayat pelindung dari Aoain . andangan jaha. , dan ayat ruqyah umum, kemudian bacaan tersebut diawali dengan tawassul dan alawAt. Ayat yang di pakai oleh komunitas ini berlandaskan ayat Al-QurAoan dan kitab-kitab kuning yang di anggap sah menjadi rujukan. 5 Praktik yang dijalankan oleh JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) memiliki struktur yang jelas, dimulai dengan pelatihan kader peruqyah agar memiliki sanad yang sahih serta diberikan ilmu dan buku saku sebagai pedoman. Selanjutnya, metode yang digunakan dirancang sedemikian rupa sehingga praktik JRA dapat dibedakan dari bentuk pengobatan yang bercampur unsur bidAoah. Praktik ini diterapkan untuk menangani gangguan medis maupun nonmedis di Kota Bandar Lampung. Pendekatan ruqyah yang diterapkan oleh JRA, meski modern, tetap berakar pada tradisi Islam sejak masa Rasulullah SAW. Saat itu. Rasulullah membacakan doa atau ayat-ayat tertentu dari al-QurAoan untuk menyembuhkan penyakit fisik maupun gangguan non-fisik, termasuk sihir dan gangguan jin. 7 Contohnya, surah Al-Fatihah pernah digunakan seorang sahabat untuk meruqyah kepala suku yang tersengat binatang berbisa, yang kemudian dibenarkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah juga menganjurkan bacaan 3 Wawancara Dengan Ustad Nurkholis Sebagai Ketua Praktisi JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) (Pada Hari Minggu Tanggal 15 Agustus 2. 4 M Habibi. AoInternalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Melalui Ruqyah ( Studi Kasus JamAoiyyah Ruqyah Aswaja Batoro Katong Ponorog. Ao. Gastronomya Ecuatoriana y Turismo Local. , 1. , pp. 5Ae24. 5 Nurkholis, wawancara 2024. 6 Shikhkhatul AfAoidah. AoMetode Dan Corak Tafsir Al-Wasit Karya Wahbah Az-ZuhailiAo. Skripsi, 2017, p. 97 . 35 Wahbah az-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir fi al-AoAqidah wa al-SyariAoah wa al-Manhaj, (Beirut: Dar alFikr, 2. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Secara metodologis. Tafsir al-Munir menggabungkan pendekatan bi al-maAotsr . erdasarkan riwaya. dan bi al-raAoy . asional-ijtihad. , dengan metode tahlili . yang disertai unsur semi-tematik. 36 Setiap ayat dijelaskan secara runtut dan lengkap, disertai penjelasan tentang asbAb al-nuzl . ebab-sebab turunnya aya. , perbedaan qirAAoAt . ariasi bacaan Al-QurAoa. , analisis iAorAb . ata bahasa Ara. , serta aspek sastra Arab atau balAghah . etorika dan keindahan bahas. 37 Coraknya yang kuat dalam bidang fiqh menjadikan tafsir ini menonjol dalam menjelaskan ayat-ayat hukum secara komprehensif dan moderat. Melalui karyanya al-Tafsir al-Munir fi al-AoAqidah wa al-SyariAoah wa alManhaj. Wahbah menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah menghadirkan pemahaman Al-QurAoan yang menyeluruh sebagai pedoman akidah, syariah, dan manhaj hidup umat Islam. Persepsi Ayat-ayat Ruqyah JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa praktisi ruqyah di JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA), diperoleh pemahaman bahwa ayat-ayat ruqyah dipersepsikan memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan pasien. Ayat-ayat tersebut meliputi ayat ruqyah standar, ayat pembatal sihir, ayat Aoain, ayat syifa, dan ayat pembakar. Ruqyah Standar (Q. S Al-Fala. AuAl-Falaq sering digunakan untuk memohon perlindungan dari kejahatan makhluk, termasuk sihir dan gangguan mental. Surat A Ca eE aaOa a eEAaEaCAmemiliki makna permohonan perlindungan kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh. Firman aA I eI a aI aEaCAberarti dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya, sedangkan AaOI eIA a aAC ua aOCA s A( a aAbermakna dari kejahatan malam ketika telah gelap gulita. Namun yang dimaksud dengan Aogelap gulitaAo di sini tidak hanya malam secara fisik, melainkan juga menggambarkan kondisi batin manusia yang gelap seperti pikiran yang ruwet, penyakit psikis, atau gangguan mental. Adapun AaOI eI a EIacAaca AO eEaCaA menunjukkan permohonan perlindungan dari tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul . impul-simpu. , sedangkan a a AOI eI a a s ua aAbermakna terhindar dari kejahatan orang yang dengki. Ay Maksud dari ayat-ayat tersebut bukan hanya untuk melindungi diri dari sihir secara fisik, tetapi juga dari gangguan psikis yang berasal dari diri sendiri, seperti was-was, prasangka buruk, dan tekanan pikiran. Kadang gangguan yang dirasakan seseorang bukan karena sihir langsung, melainkan akibat dari ucapan orang lain atau lemahnya mental yang membuat hati menjadi sempit dan pikirannya menjadi kacau. Pembatal Sihir (Q. S Thaha ayat 80-. AuAyat ini menjadi salah satu bacaan penting dalam menangani pasien yang terkena Narasumber menjelaskan sebagai berikut: Lemparkan apa yang hendak kamu lemparkan di tangan kananmu ( aA ) a eEC aI AO aOIOIEAniscaya akan menelan . e aA eaECA AAIaaOA a A ) aIAapa-apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat a A)OaE Oa eAE a Eac a aOA (A sA a aIaaO aE eOA a A )uIac aIAadalah tipu daya tukang sihir, dan (Ae aaOA tidak akan menang tukang sihir itu dari mana pun ia datang. Ayat ini jelas menggambarkan bahwa yang hak pasti akan menang atas yang batil. Itu adalah 36 Islamiyah Islamiyah. AoMetode Dan Corak Kitab Tafsir Al-Tafsir Al-MunirAo. Al-Thiqah : Jurnal Ilmu Keislaman, 5. , p. 25, doi:10. 56594/althiqah. 37 Hermansyah. AoStudi Analisis Terhadap Tafsir Al-Munir Karya Prof Dr. Wahbah ZhuhailyAo. Jurnal El- Hikmah. Vol. Vi . , p. Hlm. 38 Fauzi, anggota JRA Kota Bandar Lampung, wawancara . Juli 2. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 hak Allah yang berfirman kepada Nabi Musa ketika berhadapan dengan para tukang sihir. Sama halnya dengan kami ketika melakukan ruqyah, kami berdakwah kepada orang yang terkena sihir bahwa tukang sihir tidak mungkin akan menang, karena yang benar pasti menang sebagaimana janji Allah. Ay Di JRA, kami sampaikan kepada pasien bahwa ruqyah ini adalah bagian dari dakwah. Jadi ketika kami meruqyah orang yang terkena sihir, jika di dalam tubuhnya terdapat jin yang belum beriman, maka kami ajak untuk beriman kepada Allah. Kami islamkan jin tersebut agar tidak lagi menyakiti manusia. Karena dakwah itu tidak hanya kepada manusia, tapi juga kepada makhluk gaib yang berbuat zalim. Maka ayat ini kami bacakan sebagai bentuk keyakinan bahwa tidak ada sihir yang bisa mengalahkan kekuasaan Allah. Maka ayat ini di baca untuk membatalkan sebuah Ayat AAoin (Q. S Al-Qolam . AuAyat ini dijelaskan bahwa Surah Al-Qalam ayat 51 digunakan dalam praktik ruqyah untuk menangani pasien yang diduga mengalami gangguan Aoain atau penyakit akibat pandangan mata. Pada zaman dahulu, di tanah Arab ada kebiasaan orang yang bisa membinasakan binatang atau manusia hanya dengan pandangan Hal ini juga pernah ingin dilakukan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi Allah melindunginya sebagaimana janji-Nya dalam Surah Al-Maidah ayat 67. Orang yang terkena Aoain biasanya karena pujian, ucapan, atau pandangan yang berlebihan tanpa disertai rasa kebesaran kepada Allah. Salah satunya pada masa Nabi SAW juga sudah ada yang seperti itu. Maka orang-orang yang terkena Aoain atau yang terindikasi gangguan Aoain bisa dibacakan ayat ini agar ingat bahwa pandangan yang terlalu berlebihan dapat membinasakan sesuatu yang baik. Misalnya, ketika seseorang hafal Al-QurAoan, tetapi orang tuanya memandangnya dengan berlebihan, itu bisa menyebabkan hilangnya hafalan anak tersebut. Begitu juga dengan orang tua yang memiliki anak saleh, cantik, atau tampan, jika memandangnya dengan tatapan kosong tanpa mengingat kebesaran Allah, itu bisa menjadi penyebab datangnya Aoain. Di masyarakat Arab dahulu, fenomena seperti ini sudah ada. Maka di JRA, salah satu ayat yang dibacakan untuk orang yang terkena Aoain adalah ayat dalam Surah Al-Qalam. Bahkan kadang bisa juga digunakan pada anak-anak yang demam atau panas, karena gangguan Aoain sering kali muncul dalam bentuk gejala seperti itu. Ay40 Ayat Syifa (Q. S Al-Isra ayat 82 ) AuAyat ini dijelaskan bahwa Surah Al-IsraAo ayat 82 menjadi dasar utama bagi praktik ruqyah dan pengobatan berbasis Al-QurAoan di lingkungan JRA. Dan Allah menurunkan Al-QurAoan sebagai sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin. Nah, kenapa ayat ini dijadikan sebagai ayat syifa? Karena jelas, di situ disebutkan Al-QurAoan itu menjadi penyembuh dan penawar baik untuk hati yang sakit maupun pikiran yang sakit. Allah berfirman: AuDan Kami turunkan dari Al-QurAoan sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orangorang yang beriman, dan Al-QurAoan itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. Ay (Q. Al-IsraAo . : . di JRA, ayat ini digunakan sebagai ayat syifa dan juga termasuk dalam ruqyah standar. Karena di situ sudah 39 Fauzi, wawancara 2025. 40 Kusuma Asri. Wakil Ketua Praktisi JRA, wawancara . Agustus 2. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 jelas bahwa Al-QurAoan menjadi obat. Tapi khusus untuk orang-orang yang beriman, sebagaimana disebut lil-muAominn. Kalau orang dzalim atau tidak ca A aOaE aOOa EAJadi percaya, maka justru rugi, sebagaimana dalam ayatnya: AA U AA a AEIOIa u acaE aA kalau orang beriman, dia akan senang berobat dengan Al-QurAoan, baik sakitnya medis maupun nonmedis. Ketika dibacakan ayat Al-QurAoan, hatinya akan tenang, karena Al-QurAoan menjadi penawar. Misalnya, walau yang sakit fisiknya seperti kaki terkilir, tapi kalau hatinya tenang dan beriman kepada Allah, maka itu juga bagian dari penyembuhan. Kalau hati terang dan dirahmati Allah. Allah akan memudahkan jalan kesembuhannya, mungkin dengan cara dipertemukan dengan obat yang tepat atau dimudahkan dalam ikhtiar berobat. Ay41 S An-Nahl ayat 69 AuAyat ini dijelaskan bahwa pengobatan dalam JRA memiliki tiga unsur utama, yaitu ilmiah, ilahiah, dan alamiah. Ilmiah itu sudah jelas menggunakan ilmu agama dan thibbun nabawi . engobatan ala Nab. , ilahiah jelas karena niatnya lillAhi taAoAlA, dan alamiah itu disinergikan dengan keduanya. Maka di JRA ada ramuan atau obat-obat herbal yang dibuat oleh tim JRA atau Nabawi, karena hal ini diambil dari ayat dalam Surah An-Nahl ayat 69: AuKemudian makanlah dari tiap-tiap macam buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan . Dari perut lebah itu keluar cairan yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Ay (Q. An-Nahl . : . Maksudnya, apa yang difirmankan oleh Allah pasti baik. Buah-buahan yang disebut dalam Al-QurAoan memiliki manfaatnya masingmasing. Allah juga menyebut bahwa dari perut lebah keluar cairan berwarna yang menjadi obat bagi manusia. Nah, dari situlah dasar JRA dalam menggunakan madu dan bahan alami lainnya untuk pengobatan. Jadi, ketika seseorang sakit dan ia yakin bahwa madu adalah obat karena Allah yang memerintahkannya, maka insyaallah akan datang kesembuhan. Karena sesungguhnya di dalam madu itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berpikir. Maka kita disuruh meminumnya dengan niat dan keyakinan bahwa Allah-lah penyembuh Al-Anbiya ayat 69 Dengan kisah Nabi yang di perintahkan di bakar oleh kaum nya pada zaman itu dan kemudian Allah berfirman A EeO eNO aeIA a AAu Ca eEIa OIAwahai api jadi api a A E UIA a Aa aE eOI eO a eU acOA di perintahkan oleh allah menjadi dingin dan keselamatan ibrahim. Ay Api merupakan salah satu bala tentara Allah, api cenderung panas sama halnya seperti ketika sakit demam. Meski konteksnya berbeda, namun diyakini bahwa api yang begitu saja bisa dingin ketika diperintahkan oleh Allah, apalagi hanya panas yang ada di dalam tubuh manusia. Panas tersebut ada sebabnya di dalam tubuh manusia, bisa jadi metabolisme tubuh yang kurang atau lainnya, sedangkan manusia adalah makhluk, ketika makhluk kita bacakan QurAoan, pasti makhluk tersebut akan berfikir karena hanya Allah lah yang berkuasa, maka ketika ada orang yang demam, terapi dilakukan sembari menyentuh bagian tubuh yang panas. Panas merupakan makhluk, ktika makhluk dibacakan ayat Al-QurAoan, pasti akan tunduk 41 Kusuma, wawancara 2025 42 Nurkholis. Ketua JamAoiyyah Ruqyah Aswaja, wawancara kedua . Agustus 2. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 dan menurut, dan dengan syariat ilahi maka akan menjadi orang yang beriman karena berobat dengan Al-QurAoan. Ayat Pembakar (Q. S Al-Imran ayat . AuAyat ini menjelaskan mengenai penggunaan Surah Ali Imran ayat 181 sebagai ayat pembakar dalam penanganan kasus sihir. Ayat pembakar tersebut digunakan untuk kasus sihir. Karena di kasus sihir itu ada saja jin dan khodam-khodam yang bandel, maka di situ ayat pembakar berfungsi. Yang jelas, ketika dibacakan ayat tersebut ada metode ancaman atau tahdd. Karena di JRA itu kan ada dakwah, maka kita dakwahkan dengan metode tahdd atau pun ancaman kepada bangsa jin ataupun khodam yang bandel. Nah, kalau dirasa tidak cukup atau malah melawan, maka di sini kita bacakan ayat pembakar, yaitu Surah Ali AoImrAn ayat 181. akhir ayat tersebut terdapat lafaz: A eE aOCA a a AA a A aOCaOAyang artinya AoRasakanlah olehmu azab yang membakar. Ao Walaupun jin dan setan tercipta dari api, tetapi dengan ancaman dibakar oleh api Allah, mereka tetap merasa takut. Maka di sini pentingnya ayat ancaman atau ayat pembakar ini. Dalam praktiknya, ayat tersebut diulang dzq AoadzAbal-uarq sampai jin atau khodam yang ada di dalam tubuh seseorang yang terindikasi terkena sihir merasa kepanasan, karena ancamannya Allah berfirman: AoSungguh. Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: AuSesungguhnya Allah miskin dan kami kaya. Ay Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh para nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan . epada merek. AuRasakanlah azab yang membakar. AyAo (Q. Ali AoImrAn . : . Ay. Penafsiran Ayat-Ayat Ruqyah Dalam Tafsir Al Munir . Penafsiran Q. S Al- Falaq 1-5 A aOIIA A aOII a EIacAaca AO eEaCaA AA a aAC ua aOCA s A aOII a aA aA II a aI aEaCA ACa eE aaOa a eEAaEaCA a AA a Aa a s ua aA Sebab turunnya surah al-Mu'awwidzatain . l-Falaq dan an-Naa. berkaitan dengan peristiwa sihir yang menimpa Rasulullah saw. Seorang Yahudi bernama Lubaid bin A'sham melakukan sihir terhadap Nabi dengan menggunakan media berupa pelepah Di dalamnya diletakkan rambut Nabi yang rontok saat menyisir, potongan gigi sisir, serta benang yang diikat sebanyak sebelas simpul dan ditusuk dengan jarum. Karena peristiwa ini Allah menurunkan dua surah pelindung, yakni al-Falaq dan an-Naas. Setiap kali Nabi membaca satu ayat dari kedua surah tersebut, satu ikatan sihir pun terlepas, hingga beliau merasakan kelegaan yang bertahap. Setelah semua simpul terlepas, beliau pun sembuh seperti semula, seolah sebelumnya beliau terbelenggu oleh ikatan-ikatan Pada saat itu, malaikat Jibril juga datang dan melakukan ruqyah kepada Rasulullah saw. sambil mengucapkan. AuDengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu, dari kejahatan orang yang dengki dan dari pengaruh Aoain. Semoga Allah menyembuhkanmu. Ay "Katakanlah,AuAku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh . ajar,dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan. Ay . l-Falaq 1-. 43 Fauzi, wawancara 2025. 44 Nurkholis, wawancara 2025. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Wahai Nabi, katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan waktu fajar, yaitu Zat yang mampu menghilangkan kegelapan malam dan juga dapat menghilangkan segala bentuk kejahatan dari makhluk-Nya. Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa Allah yang mampu menyinari bumi dari gelapnya malam, juga berkuasa menghilangkan kejahatan yang menimpa hamba-Nya. Audan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,Ay. l-Falaq . Aku memohon perlindungan kepada Allah dari bahaya malam saat telah gelap, karena malam sering membawa ketakutan dan kekhawatiran akibat munculnya binatang buas, serangga, serta orang-orang jahat dan berbuat maksiat. Audan dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul buhul . Au. l-Falaq . Aku memohon perlindungan dari kejahatan para penyihir yang meniupkan sihir pada ikatan-ikatan benang. Istilah an-nafAts berarti tiupan yang disertai ludah kecil, meskipun ada juga yang memaknainya sebagai tiupan saja. Menurut Abu Ubaidah, para penyihir itu adalah anak-anak perempuan Labid bin al-A'sham, seorang Yahudi yang pernah menyihir Nabi Muhammad saw. Audan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki. Ay. l-Falaq . Aku memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang dengki saat ia melampiaskan kedengkiannya. Orang yang hasad adalah mereka yang ingin agar nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain itu hilang. Wahbah Az-Zuhaili menyatakan dalam surah ini Allah secara khusus memerintahkan untuk berlindung dari tiga jenis kejahatan utama dari . Kejahatan malam saat telah gelap, karena banyak bahaya terjadi seperti keluarnya hewan buas, pencurian, dan sulitnya pertolongan, . Kejahatan para penyihir, terutama perempuan yang meniupkan sihir pada simpul-simpul benang dan . Kejahatan orang yang hasad, yaitu orang yang menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain. Penafsiran Q. S Thaha 69-70 a AAIaa eO aE eOa s s aOaE Oa eAE a Ec a aOA AyA Ae a OA e aO a eEC aI A eO OaIOeIEa eaECA a AAIaa eO s Iac aIA a AA aIA AuLemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir . Tidak akan menang penyihir itu, dari mana pun ia datang. Ay Dalam ayat tersebut, tongkat Nabi Musa tidak dijelaskan secara rinci untuk menunjukkan keistimewaannya yang tidak seperti tongkat pada umumnya, sebagai isyarat bahwa itu merupakan mukjizat. Mukjizat itu pun tampak jelas, membuktikan kebenaran dan menghancurkan sihir. Orang-orang tercengang menyaksikannya, dan para penyihir pun menyadari bahwa kemampuan tersebut bukanlah sihir, melainkan kekuasaan 45 Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili. AoTerjemahan Tafsir Al MunirAo, 15, 2013, pp. 31Ae33. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Allah yang berada di luar kemampuan manusia. Kesadaran ini membawa mereka kepada keimanan, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT. AyA A acU CaEa eeO aIIac a N a eOIa aO aI eO OA ca AO EA a a A a aA a a a eECA Ketika Nabi Musa melemparkan tongkatnya, tongkat itu berubah menjadi ular yang menelan tali-tali dan tongkat milik para penyihir. Mereka pun menyadari bahwa apa yang dilakukan Musa bukanlah sihir atau tipu daya, melainkan mukjizat dari Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Maka mereka beriman kepada Allah dan risalah yang dibawa Musa, serta menyatakan keimanan mereka kepada Tuhan semesta alam. Tuhan Harun dan Musa. Mereka lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, dan memilih kebenaran daripada kebatilan. Menurut riwayat dari Ibnu Abbas dan Ubaid bin Umair, para penyihir itu di pagi hari masih dalam keadaan musyrik sebagai tukang sihir, namun di sore harinya mereka menjadi orang-orang saleh yang mati syahid. Ikrimah juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jumlah penyihir itu sekitar tujuh puluh orang. AlAuzaAoi menambahkan bahwa saat mereka bersujud, surga diperlihatkan kepada mereka, sehingga mereka melihatnya secara langsung. Penafsiran Q. S Al-Qalam 51 AyA u AIaO E eE a aOOaCa eOEa eOIa IacN Ea aI eIa eO oU UIA a AAN eI Ea acIA a AaO eI OacEaa EacOeIa aEA aa eO EaO eaECa eOIaEa a eA AuSesungguhnya orang-orang yang kufur itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan matanya ketika mereka mendengar Al-QurAoan dan berkata. AuSesungguhnya dia (Nabi Muhamma. benar-benar orang gila. Ay. l-Qalam:. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa permusuhan orang-orang kafir terhadap Nabi Muhammad saw, semakin memuncak ketika mereka mendengar beliau membaca Al-QurAoan, mereka memandang dengan tatapan tajam yang dipenuhi kebencian, kedengkian, dan kemarahan, seolah-olah pandangan tersebut mampu mencelakakan atau menjatuhkan beliau. Al-Harawi menjelaskan bahwa orang-orang kafir ingin mencelakai Nabi Muhammad saw dengan pandangan mata mereka, dengan tujuan menjatuhkan kedudukan beliau yang telah Allah anugerahkan karena permusuhan yang mendalam. Namun. Ibnu Qutaibah menolak pandangan tersebut. Ia menegaskan bahwa maksud ayat bukanlah pandangan mata yang membawa kekaguman, melainkan tatapan tajam penuh kebencian saat Nabi membaca Al-QurAoan, seakan-akan bisa menjatuhkan beliau. Ibnu Katsir menafsirkan bahwa maksud ayat ini adalah kecemburuan dan kebencian mereka terhadap Nabi. Jika bukan karena perlindungan Allah, mereka bisa saja mencelakakan beliau. Beberapa ulama berpendapat bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa pengaruh pandangan mata (Aoai. adalah nyata dan dapat terjadi atas izin Allah. Kemudian menurut Hasan AlBasri obat terkena pengaruh AAoin adalah membaca ini. Penafsiran Q. S Al-Isra ayat 82 c AaOIaIa aE IIa eECa e I aI N aaO A a U acO a e aIU E eE aIe IIOeIa aO aaE Oa eOa EA AyA U AA a AEIOeIa acaE aA 46 Wahbah Az-Zuhaili. Tafsir Al-Munir Jilid 8. Sustainability (Switzerlan. , 2019. XI. 47 Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili. AoTerjemahan Tafsir Al MunirAo. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 AuKami turunkan dari Al-QurAoan sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-QurAoan it. hanya akan menambah kerugian. Ay. l-Isra ayat . Segala sesuatu yang bersumber dari Al-QurAoan merupakan penawar bagi kaum Mukmin. Melalui Al-QurAoan, keimanan mereka semakin bertambah dan mereka dapat memperbaiki aspek keagamaannya. Sebab. Al-QurAoan mampu membersihkan hati dari berbagai penyakit, seperti keraguan, kemunafikan, kesyirikan, kesesatan, kekafiran, dan Al-QurAoan menyembuhkan semua penyakit tersebut dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman, membenarkannya, serta mengikuti ajarannya. Sebab. AlQurAoan membimbing kepada keimanan, kebijaksanaan, dan kebaikan, yang mengantarkan seseorang menuju surga dan menjauhkannya dari azab. Ad-Dailami meriwayatkan dalam Musnad al-Firdaus dari Nabi saw. "Barangsiapa tidak sembuh dengan bacaan Al-QurAoan, maka Allah tidak akan " (HR. ad-Dailam. Adapun orang-orang yang zalim tidak akan memperoleh manfaat dari Al-QurAoan. Mereka tidak menghafalnya dan tidak pula memahaminya, karena Allah telah menjadikan Al-QurAoan sebagai penawar dan rahmat khusus bagi orang-orang yang beriman. Penafsiranm Q. S Nahl 69 s U a aE aE aEA a aE Oa e a a I eI A A acIA s ca a eE aOIaNn AOeN A a U EEIA a A a acI aEE eO I eI aEE E ac aI Aa eEaE eOA U A eOI aN aaU acI e aEA AyA a eO EEa a aEOaU ECa eO sI Oaca acE a eOIA AuKemudian, makanlah . ahai leba. dari segala . buah-buahan lalu tempuhlah jalan-jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan . Ay Dari perutnya itu keluar minuman . yang beraneka warnanya. Di dalamnya terdapat obat bagi Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda . ebesaran Alla. bagi kaum yang berpikir. Ay Surah An-Nahl ayat 69. Allah SWT menyebut bahwa dari perut lebah keluar cairan . yang memiliki berbagai warna, seperti putih, kuning, dan merah. Madu ini mengandung banyak manfaat, termasuk sebagai minuman dan obat untuk berbagai Para ulama menafsirkan bahwa madu memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, madu bisa dikonsumsi langsung atau dijadikan bahan campuran minuman. Kedua, warnanya beragam tergantung jenis lebah dan bunga yang dihisapnya. Ketiga, madu dikenal sebagai penyembuh alami bagi berbagai jenis penyakit. Dalam hadis riwayat Ibnu Majah dari Ibnu MasAoud r. Rasulullah saw. bersabda:49 "Lakukanlah pengobatan dengan dua hal, yaitu madu dan Al-QurAoan. Penelitian medis modern menunjukkan bahwa madu mengandung sekitar 25 40% glukosa, 3045% fruktosa . , dan 1525% air. Selain sebagai sumber energi, madu juga bermanfaat sebagai tonikum . enguat tubu. , penetral racun . eperti arsen, merkuri, emas, dan morfi. , serta membantu proses penyembuhan berbagai 48 Az-Zuhaili. Tafsir Al-Munir Jilid 8. XI. 49 W Marpaung. Pengantar Hadis-Hadis Kesehatan, 2019. XVII. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 gangguan, seperti penyakit hati, gangguan pencernaan, infeksi virus . eperti tifus dan caca. , gangguan jantung, hingga radang otak dan ginjal. Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan Lebah memberikan banyak manfaat, tidak hanya bagi pepohonan dan tumbuhan, tetapi juga bagi manusia. Madu yang dihasilkannya bermanfaat sebagai obat penyembuh berbagai penyakit. Seluruh proses dan hasil dari aktivitas lebah ini menjadi bukti nyata adanya Tuhan Yang Maha Menciptakan dan Maha Memberi ilham, bagi siapa saja yang mau menggunakan akal pikirannya untuk memperhatikan dan merenungkan keajaiban ciptaan-Nya. Penafsiran Al-Anbiya ayat 69 A EeO eNO aeI yA a ACa eEIa OIA a A E UIA a Aa aE eOI eO a eU acOA AuKami (Alla. AuWahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!Ay Allah SWT, yang berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 69, "Wahai api, jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim," menunjukkan kuasa-Nya dalam menjaga para nabi dari tipu daya dan kejahatan manusia. Perintah tersebut bukan sekadar membuat api menjadi dingin, tetapi juga menghadirkan keselamatan bagi Nabi Ibrahim a. , yakni bentuk dingin yang tidak Ibnu AoAbbas r. menyatakan bahwa jika Allah tidak menambahkan kata "keselamatan" (A )aE UIAsetelah "dingin" (A)UA, maka Nabi Ibrahim a. dapat binasa karena rasa dingin yang berlebihan. Senada dengan itu. Abul AoAliyah menjelaskan bahwa tanpa pernyataan "A"aE UIA, dingin api bisa saja lebih menyakitkan dibandingkan panasnya. Perubahan sifat api tersebut terjadi karena Allah swt mencabut unsur pembakar dalam tabiat api, meskipun secara fisik api tetap tampak menyala sebagaimana biasanya. Hal ini menegaskan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, termasuk menundukkan hukum alam menurut kehendak-Nya. Dalam sebuah riwayat yang dikemukakan oleh Bukhari dari Ibnu AoAbbas r. , disebutkan bahwa ketika Nabi Ibrahim a. dilemparkan ke dalam api, beliau memanjatkan doa tertentu sebagai bentuk penghambaan dan tawakal kepada Allah SWT. Penafsiran Al- Imran ayat 181 c AacEEa Ca eO aE EacOeIa CaEa eeO acIA c AI aA a a AA a AC acOIaCa eO aE a eOCa eOA a AacEEa AaCO Ue acOIae aI a eIOa oU aA a eAEaCaA s AIa eEaa aI CaEa eO aOCaeEa aN aI eaEa e eIOa a aOe aA AyA AeE aOeCA AuSungguh. Allah benar-benar telah mendengar perkataan orang-orang (Yahud. yang mengatakan. AuSesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya. Ay Kami akan mencatat perkataan mereka dan pembunuhan terhadap nabi-nabi yang mereka lakukan tanpa hak . lasan yang bena. Kami akan mengatakan . epada mereka pada hari Kiama. AuRasakanlah azab yang membakar!Ay. l-Imran ayat . 50 Wahbah Az-Zuhaili. AoTafsir Al-Munir Jilid 7Ao. Gema Insani, 7 . , p. 51 Wahbah Az-Zuhaili. AoTerjemah Tafsir Al-MunrAo. Gema Insani, 2018. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Ayat-ayat ini menggambarkan sebagian bentuk keburukan yang dilakukan oleh kaum Yahudi. Allah SWT mendengar ucapan mereka yang sangat buruk, seperti menisbatkan kemiskinan kepada Allah dan kekayaan kepada diri mereka sendiri. Ucapan ini merupakan bentuk penghinaan terhadap Allah SWT, dan sebagai akibatnya, mereka akan menerima hukuman yang sangat keras. Ini menjadi peringatan bahwa setiap dosa yang dicatat akan berujung pada balasan dari Allah SWT. Salah satu bentuk kejahatan besar lainnya yang mereka lakukan adalah membunuh para nabi di masa lampau tanpa alasan yang benar. Meski perbuatan itu dilakukan oleh leluhur mereka, kaum Yahudi yang hidup pada masa Nabi Muhammad saw. tetap mendapat kecaman karena mereka menyetujui dan mendukung tindakan nenek moyang mereka. Dukungan tersebut menunjukkan adanya solidaritas di antara mereka dalam perkara-perkara besar, sehingga mereka pun turut menanggung akibatnya. Allah SWT menyatakan, "Rasakanlah adzab yang membakar," yaitu azab neraka yang ditimpakan karena perbuatan mereka. Azab ini datang sebagai akibat dari dosa-dosa mereka di dunia, termasuk pembunuhan terhadap para nabi, ucapan keji tentang Allah, serta dukungan terhadap kekufuran dan bentuk-bentuk kemaksiatan lainnya. Penyebutan tangan dalam ayat menunjukkan bahwa azab tersebut merupakan akibat dari perbuatan mereka sendiri, karena kebanyakan amal dilakukan dengan tangan. Selain itu, kaum Yahudi juga melakukan upaya makar untuk membunuh Nabi Muhammad saw. , seperti merobohkan tembok untuk menimpanya saat di Madinah dan meracuni makanan beliau di Khaibar. Maka, hukuman yang mereka terima adalah adil dan tepat, karena Allah SWT tidak menzhalimi siapa pun. Tidak mungkin Allah menyamakan antara orang yang taat dan orang yang durhaka, antara orang kafir dan orang yang beriman. Analisis perbandingan Resepsi JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Dengan Penafsiran Al- Munir Karya Wahbah al-Zuhaili Perbedaan antara persepsi JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) dan penafsiran Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir terhadap ayat-ayat ruqyah memperlihatkan adanya pergeseran pendekatan, dari pemahaman tekstual normatif ke pendekatan fungsional dan aplikatif dalam praktik pengobatan Islam. Berikut ini dipaparkan perbandingan antara keduanya pada sejumlah ayat yang umum digunakan dalam praktik Al-Falaq (Ruqyah Standa. Berdasarkan hasil wawancara dengan praktisi JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA), surah Al-Falaq digunakan sebagai ruqyah standar untuk memohon perlindungan dari kejahatan makhluk, sihir, kedengkian, serta gangguan psikis seperti was-was dan tekanan Menurut JRA, makna gelap gulita dalam ayat AA a aAC ua aOCA s A aOI eI a aAbukan hanya malam secara fisik, tetapi juga menggambarkan kondisi batin yang gelap akibat gangguan pikiran atau penyakit mental. Adapun dalam Tafsir Al-Munir. Wahbah al-Zuhaili menafsirkan surah ini sebagai perintah untuk berlindung dari tiga kejahatan utama: kejahatan malam, kejahatan para penyihir, dan kejahatan orang yang hasad. Beliau menekankan bahwa Allah yang mampu menghilangkan gelapnya malam juga berkuasa 52 Zuhaili. Tafsir Al Munir Jilid 2. New Scholasticism, 1963, xVII, doi:10. 5840/newscholas196337247. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 menghilangkan segala bentuk kejahatan yang menimpa hamba-Nya. Hal ini membuktikan bahwa adanya keselarasan makna dalam pemahaman terkait ayat AlQurAoan, baik dalam tafsir maupun dari segi JRA. S Thaha 69Ae70 (Ayat Pembatal Sihi. Berdasarkan hasil wawancara dengan praktisi JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA). S Thaha 69-70 ayat ini digunakan sebagai bacaan pembatal sihir yang menunjukkan bahwa kekuasaan Allah selalu mengalahkan tipu daya tukang sihir. Firman Allah AaOaE Oa eAE aA a AAu( Eac a aOATidak akan menang tukang sihir itu dari mana pun ia datangA. Ae aaOA diyakini sebagai bukti bahwa segala bentuk sihir pasti kalah oleh kebenaran dan kekuasaan Allah. Dalam praktik ruqyah, ayat ini juga berfungsi sebagai sarana dakwah kepada makhluk gaib agar tunduk dan beriman kepada Allah, karena tidak ada kekuatan selain kekuasaan-Nya. Adapun dalam Tafsir Al-Munir. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan mukjizat Nabi Musa yang menelan sihir para penyihir, sebagai bukti nyata kebenaran dan kekuasaan Allah yang menghancurkan kebatilan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa sihir tidak akan pernah menang atas mukjizat, dan bahwa kemenangan kebenaran atas kebatilan adalah ketetapan Allah yang tidak dapat diganggu gugat. Dari pemahaman ini, dapat dilihat bahwa terdapat keselarasan pemahaman makna dalam ayat ini, dimana kekuatan sihir akan dapat dikalahkan dengan mukjizat dari Allah SWT. S Al-Qalam Ayat 51 (Penangkal 'Ai. Berdasarkan hasil wawancara dengan praktisi JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA), ayat ini digunakan untuk menangani gangguan Aoain, yaitu penyakit akibat pandangan mata yang berlebihan atau disertai iri. Bacaan ayat ini berfungsi menetralisir pengaruh negatif pandangan tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa segala kekuatan hanya milik Allah. Adapun dalam praktik JRA, ayat ini juga dibacakan pada pasien, termasuk anakanak yang mengalami gejala fisik seperti demam akibat Aoain. Adapun di dalam Tafsir AlMunir. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan tatapan kebencian orang kafir kepada Nabi Muhammad SAW yang hampir mencelakakannya ketika mendengar Al-QurAoan. Meskipun demikian. Allah melindungi Nabi dari pandangan itu. Dapat dilihat bahwa korelasi makna dalam ayat ini selaras, menefinisikan penyakit yang timbul dari pandangan jahat. S Al-Isra 82 dan Q. S An-Nahl 69 (Ayat Syif. Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa Q. S Al-Isra 82 mengandung unsur penyembuh . bagi hati dan akal kaum Mukmin. Al-QurAoan menenangkan jiwa, membersihkan dari penyakit rohani seperti syirik, nifaq, dan kebodohan, serta menjadi rahmat bagi yang beriman. Adapun orang zalim tidak mendapat manfaat darinya karena tidak beriman kepada petunjuk Allah. Adapun persepsi JRA sejalan dengan pandangan tersebut, bahwa ayat ini menjadi dasar utama praktik ruqyah. Al-QurAoan dipahami sebagai sumber penyembuh bagi penyakit fisik dan batin, khususnya bagi orang yang beriman Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 ( aA)E eE aIe IIOeIA. Ayat ini digunakan dalam ruqyah standar karena diyakini mampu menenangkan hati dan menguatkan iman sebagai bagian dari proses kesembuhan. Berdasarkan hasil wawancara dengan JRA. S An-Nahl 69 pengobatan dalam ruqyah mencakup tiga unsur: ilmiah, ilahiah, dan alamiah, di mana unsur alamiah terlihat dari penggunaan madu sebagai sarana penyembuhan. Hal ini sejalan dengan Q. AnNahl: 69 yang menyebut bahwa dari perut lebah keluar madu beraneka warna yang menjadi obat bagi manusia. Adapun Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa madu tidak hanya bermanfaat sebagai obat, tetapi juga menjadi bukti kebesaran Allah dan tanda kekuasaan-Nya bagi orang yang berpikir S Al-Anbiya 69 (Ayat Terap. Berdasarkan wawancara JRA, ayat ini digunakan dalam terapi demam dan gangguan Aoain. Api dipandang sebagai makhluk Allah yang tunduk pada perintah-Nya. sama seperti api yang menjadi dingin bagi Nabi Ibrahim, panas tubuh manusia pun diyakini bisa reda dengan izin Allah. Praktik ruqyah dilakukan dengan membaca ayat ini sambil memegang bagian tubuh yang panas. Adapun menurut tafsir Al-Munir, ayat ini menegaskan kekuasaan Allah dalam menjaga Nabi Ibrahim. Perintah menjadikan api dingin dan selamat bukan sekadar fisik, tetapi Allah mencabut unsur pembakar api sehingga keselamatan tercapai. Penambahan kata AusalaamanAy menegaskan bahwa dingin tidak membahayakan, menandakan kuasa Allah atas hukum alam. Simbolis ayat ini diadopsi oleh JRA sebagai acuan praktik dalam terapi spiritual. Dapat dikatakan bahwa pemahaman ayat ini tidak selaras dengan penafsiran dalam Tafsir Al-Munir, dan menjadi sebuah perbandingan yang cukup signifikan. Dimana ayat ini dijadikan sebagai ayat dalam upaya terapi meski tidak ada kaitannya dengan makna tertulis ayat. S Ali Imran 181 (Ayat Pembaka. Berdasarkan wawancara JRA, ayat ini digunakan untuk kasus sihir, khususnya ketika ada jin atau khodam yang AubandelAy. Ayat ini dibacakan sebagai metode ancaman . agar jin atau khodam merasa takut. Praktik dilakukan dengan mengulang lafaz dzq AoadzAbal-uarq sampai jin atau khodam yang berada dalam tubuh korban sihir merasa kepanasan, karena ancamannya jelas. Ayat ini menunjukkan bahwa meskipun jin tercipta dari api, mereka tunduk pada perintah Allah. Adapun menurut Tafsir Al-Munir, ayat ini menjelaskan hukuman Allah atas kaum Yahudi yang menisbatkan kemiskinan kepada Allah dan kekayaan kepada diri mereka, serta membunuh nabi-nabi tanpa alasan. Lafaz AuRasakanlah azab yang membakarAy menunjukkan azab neraka yang timbul akibat dosa mereka. Dalam pemaknaan ayat ini terdapat perbedaan pemahaman antara penafsiran dalam kitab tafsir dan komunitas JRA, dimana hal ini menunjukkan bahwa sebuah ayat Al-QurAoan dapat dimaknai beragam. KESIMPULAN JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) mengimplementasikan ayat-ayat Al-QurAoan sebagai pedoman ruqyah sekaligus sarana penguatan spiritual dan identitas keagamaan. Praktik JRA yang moderat dan berlandaskan tradisi Ahl al-Sunnah wa al-JamAAoah menekankan keyakinan terhadap kalAmullAh, sholawat, serta pelatihan peruqyah dengan sanad sahih. Perbandingan dengan Tafsir Al-Munir menunjukkan bahwa meskipun orientasinya berbeda Tafsir Al-Munir menitikberatkan pada makna, hukum, dan konteks Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 ayat, sedangkan JRA memprioritaskan penerapan praktis kedua pendekatan sama-sama meneguhkan nilai-nilai Al-QurAoan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, praktik ruqyah JRA mencerminkan penerapan konsep living QurAoan yang berpijak pada fikih, tauhid, dan budaya lokal. Teori eksegesis menjadi landasan interpretasi Al-QurAoan, sehingga ayat-ayat suci tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami, dihayati, dan diterapkan secara nyata melalui pelatihan, ijazahan, dan buku panduan bagi praktisi ruqyah. Praktik ruqyah JRA memiliki tata cara yang sistematis, dimulai dari niat, pembacaan Al-Fatihah, sholawat, hingga bacaan ayat ruqyah standar sebagai perlindungan dari gangguan spiritual. Pendekatan ini menekankan keyakinan penuh terhadap kalAmullAh, penerapan sunnah Nabi Muhammad SAW, serta penghindaran praktik yang mengandung kekerasan atau kesyirikan. Selain itu. JRA menunjukkan adaptasi terhadap budaya lokal, seperti pelestarian keris, dengan tetap menjaga prinsip syariat, berbeda dengan pendekatan komunitas lain yang lebih eksklusif. Berdasarkan analisis perbandingan antara persepsi JamAoiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) dan penafsiran Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, dapat ditemukan adanya titik temu sekaligus perbedaan mendasar dalam cara memahami ayat-ayat ruqyah. Yakni pada sebagian besar ayat seperti. Al-Falaq . :1Ae5. Thaha . :69Ae70. Al-Isra . :82. An-Nahl . :69, dan Al-Qalam . : 51, semuanya menunjukkan kesesuaian makna. JRA menafsirkan ayat-ayat tersebut secara praktis sebagai sarana perlindungan, pembatal sihir, dan penyembuhan, sedangkan Tafsir al-Munir memperkuatnya dengan pendekatan linguistik, historis, dan teologis. Kesamaan ini memperlihatkan bahwa dimensi praktis dan dimensi ilmiah dapat saling melengkapi, sehingga ayat-ayat Al-QurAoan benar-benar hadir sebagai pedoman sekaligus solusi dalam kehidupan. Kemudian perbedaan ditemukan dalam pemaknaan surah Al-Anbiya . : 69 dan Ali Imran . :181, dimana JRA memaknainya secara aplikatif dalam praktik ruqyah, misalnya untuk mengatasi gangguan Aoain, meredakan demam, atau sebagai ancaman spiritual bagi jin. Sebaliknya. Tafsir al-Munir menekankan konteks historis-teologis permusuhan orang kafir terhadap Nabi, mukjizat keselamatan Nabi Ibrahim, serta celaan kaum Yahudi yang mendatangkan azab Allah. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan orientasi. JRA menekankan fungsi praktis-aplikatif . iving QurAoa. , sedangkan Tafsir alMunir menekankan fungsi ilmiah-teologis yang lebih luas. Analisis ini memperlihatkan bahwa resepsi JRA dan tafsir Wahbah az-Zuhaili tidak bertentangan, tetapi berjalan pada jalur yang berbeda. Keduanya justru memperkaya pemahaman terhadap Al-QurAoan bahwa ayat-ayat dalam Al-QurAoan dapat dimaknai dengan lebih mendalam sesuai dengan konteks ayat tersebut. JRA menunjukkan bagaimana ayat-ayat ruqyah dapat diterapkan langsung dalam terapi spiritual masyarakat, sementara Tafsir al-Munir memperlihatkan kedalaman akademis melalui pendekatan metodologis dan kontekstual. Dari sini dapat dipahami bahwa Al-QurAoan memiliki kelenturan makna. Ayat-ayatnya mampu menjawab kebutuhan manusia, baik dalam aspek spiritual-praktis maupun ilmiah-akademis. Daftar Pustaka