Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Hubungan Kekerabatan Kupu-Kupu (Ordo Lepidopter. Berdasarkan Ciri Morfologi Di Taman Wisata Alam Kerandangan Ali Imran aliimran@ikipmataram. Abstrak: Taman Wisata Alam Kerandangan merupakan bentuk kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam yang berada di wilayah kecamatan Batu Layar kabupaten Lombok Barat. Berdasarkan studi sebelumnya disimpulkan bahwa Taman Wisata Alam Kerandangan ini memiliki berbagai macam spesies kupu-kupu di dalamnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kekerabatan kupu-kupu . rdo Lepidopter. di Taman Wisata Alam Kerandangan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Metode pengambilan sampel kupu-kupu diperoleh menggunakan survei eksploratif . dengan metode jerat . ntrapping metho. Lokasi sampling meliputi wilayah taman depan TWA Kerandangan sebagai pos 1 dan pos 2 berada di wilayah air terjun goa walet. Hasil tangkapan diidentifikasi karakter spesifik morfologi yang dimiliki untuk selanjutnya dihitung persentase kemiripan dan kesamaannya. Hubungan kekerabatan dianalisis menggunakan rumus Indeks Kesamaan Sorensen. Hasil menunjukkan bahwa kupu-kupu yang terjerat berjumlah 10 spesies yang terbagi dalam 3 famili yaitu Papilionidae. Nymphalidae, dan Pieridae. Berdasarkan nilai yang diperoleh menggunakan rumus Indeks Kesamaan Sorensen untuk menggambarkan tingkat kedekatan hubungan kekerabatan antar spesies ordo Lepidoptera diperoleh hasil bahwa persentase hubungan kekerabatan terdekat jatuh kepada spesies Hebomoia glaucippe dan Catopsilia pomona sebesar 100%, sedangkan spesies dengan tingkat hubungan kekerabatan terjauh yaitu antara Hebomoia glaucippe dengan Leptosia nina sebesar 60. Kata Kunci: Hubungan Kekerabatan. Kupu-kupu. Ciri Morfologi PENDAHULUAN Latar Belakang Lepidoptera merupakan satu dari sebelas anggota suku insecta. Lepidoptera berasal dari kata lepido yang berarti sisik dan ptera yang berarti sayap ( Borror et al,1. Kupu-kupu adalah serangga yang umum di kenal oleh banyak orang. Selain warnanya yang menarik juga keberadaannya yang sering terbang di sekitar lingkungan kita, terutama daerah yang masih segar dan alami. Kupu-kupu merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang harus di jaga kelestariannya. Kupu-kupu memiliki penting bagi manusia maupun lingkungan antara lain, nilai ekonomi, ekologi, estetika, pendidikan, konservasi dan budaya (Lamatoa dkk, 2013 ). Kupu-kupu adalah bagian dari ekosistem yang fungsinya mempertahankan keseimbangan ekosistem dan memperkaya keanekaragaman hayati, di lihat dari perannya sebagai penyerbuk yang Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Selain itu juga, kupu- kupu peka terhadap perubahan lingkungan, baik itu dari segi vegetasi maupun dari tingkat yang terjadi di lingkungan. Secara ekologis, kupu-kupu dapat di jadikan bioindikator kesehatan suatu lingkungan. Populasi kupu-kupu yang banyak pada suatu tempat mencerminkan lingkungan tersebut masih baik (Shalihah dkk. Salah satu cabang ilmu Biologi adalah taksonomi. Bidang ilmu ini mengkaji mengenai penamaan dan pengelompokkan kedalam takson atau Lingkup taksonomi sangat luas salah satunya yaitu taksonomi Invertebrata. Untuk dapat memberi nama mengelompokkan mahluk hidup ke dalam setiap takson, maka langkah awal adalah Identifikasi meliputi pengamatan pada segi morfologi, anatomi, fisiologi, embriologi, ekologi, bahkan tingkat molekuler pada setiap spesies. Proses identifikasi morfologi adalah Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 melakukan pengamatan secara detail mulai dari ciri umum hingga ciri spesifik yang dimiliki setiap spesies tersebut. Kegiatan identifikasi dapat dilakukan dengan bantuan kunci diterminasi maupun tanpa kunci Identifikasi dengan bantuan ditermnasi akan mengantarkan spesies yang diamati sampai kepada takson masing-masing, mulai takson tertinggi hingga terendah, yaitu mulai phyllum sampai dengan spesies. Adapun identifikasi tanpa bantuan kunci determinasi tetap dapat dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui prosentase kekerabatan antar spesies dalam satu jenjang takson, baik kelas, ordo, famili, maupun genus. TWA Kerandangan bentuk Kawasan Pelestarian Alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Taman Wisata Alam Kerandangan ini terletak di Desa Senggigi Kecamatan Batu Layar Lombok Barat sekitar A 17 km dari kota Mataram. Taman Wisata Alam ini memiliki banyak ragam flora dan fauna serta pemandangan alam yang eksotik. Di Taman Wisata Alam Kerandangan selain hutannya yang lebat dan terjaga, yaitu banyaknya spesies kupu-kupu yang terdapat Informasi yang peneliti dapatkan dari penjaga TWA Kerandangan hingga tahun 2018 ini di kawasan TWA Kerandangan, terdapat sekitar 50 jenisspesies kupu-kupu di lestarikan di sana. Bahkan hingga sampai saat ini mungkin ada spesies yang belum Hal mengagumkan, karena terdapat sedemikian banyak spesies dari satu jenis fauna di kawasan yang relatif tidak terlalu luas ( 396 ha ). Di TWA Kerandangan belum ada data atau infomasi apakah keberadaan dari spesies kupu-kupu yang ada merupakan memiliki hubungan kekerabatan diantaranya maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan kekerabatan dari kupu-kupu yang ada. Tujuan Penelitian Tujuan dalam penelitian ini yaitu : Untuk mengetahui jenis kupu-kupu yang ditemukan di Taman Wisata Alam Krandangan Untuk kupu-kupu . rdo Lepidopter. di Taman Wisata Alam Kerandangan KAJIAN TEORI Kupu-Kupu (Rhopalocer. Karakteristik Klasifikasi Rhopalocera Kupu-kupu (Rhopalocer. merupakan serangga yang termasuk dalam ordo Lepidoptera, artinya serangga yang hampir seluruh permukaan tertutupi oleh lembaran-lembaran sisik yang memberi corak dan warna sayap kupu-kupu (Scoble1. Lepidoptera dibagi menjadi tiga subordo, yaitu Rhopalocera . upu-kup. Grypocera . Heterocera . (Roepke,1. Seiring dengan berkembangnya taksonomi Lepidoptera. Grypocera di masukkan dalam Rhopalocera. Lepidoptera hanya terbagi menjadi dua subordo, yaitu Heterocera . dan Rhopalocera . upu- kupu dan skippe. (Borror 1992. Scobel 1995. Gillott 2. Lepidoptera dibedakan menjadi dua kelompok besar berdasarkan ukuran ratarata tubuhnya, yaitu Mikrolepidoptera untuk jenis yang berukuran lebih kecil . ebagian ngenga. dan Makrolepidoptera untuk yang berukuran besar . ubordo Rhopalocera dan sebagian Heterocer. (Borror et al. Heterocera bersifat nokturnal . ktif pada malam har. , sedangkan Rhopalocera bersifat diurnal . ktif pada siang har. Perbedaan ciri antara Rhopalocera dan Heterocera adalah antena Rhopalocera membesar pada ujungnya sedang Heterocera ujungnya membesar dan umumnya berbentuk seperti saat istirahat sayap Rhopalocera umumnya ditegakkan, sedang Heterocera umumnya dibentangkan. sayap Rhopalocera bergandengan pada tiap sisi sedang pada Heterocera sayap belakang mengikat pada sayap depan dengan bantuan duri atau Kupu-kupu biasanya mengunjungi bunga pada pagi hari pukul 08. 00 WIB, saat matahari cukup menyinari Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 dan mengeringkan sayap mereka. Jika cuaca berkabut, waktu makannya akan tertunda. Periode makan ini juga terjadi pada sore hari, yaitu sekitar pukul 13. WIB, dan setelah periode makan yang cepat kupu-kupu akan tinggal di puncak pohon atau naungan (Sihombing, 2. Klasifikasi Rhopalocera menurut Scobel . adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Lepidoptera Subordo : Rhopalocera Subordo Rhopalocera terdiri dari dua superfamili, yaitu Hesperioidea . dan Papilionoidea . upu-kupu (Sihombing, 2. Superfamili Hesperioidea terdiri dari satu famili, yaitu Hesperidae, dan superfamili Papilionoidea terdiri dari tujuh famili, yaitu Papilionidae. Pieridae. Lycaenidae. Libytheidae. Nymphalidae. Satyridae dan Danaidae (Borror et al. Feltwell . menggolongkan famili Satyridae. Danaidae. Nymphalidae dan Libytheidae ke dalam satu famili yaitu Nymphalidae, sehingga superfamili Papilionoidea terdiri dari empat famili, yaitu Papilionidae. Pieridae. Nymphalidae dan Lycaenidae. Penggabungan tersebut di dasarkan pada kesamaan karakter keempatnya, yaitu sama- sama hanya memiliki empat kaki yang fungsional. Sepasang kaki depannya mereduksi, dan tidak berfungsi. Taksonomi dan Klasifikasi Pada awalnya dalam klasifikasi, makhluk hidup di kelompokkan dalam kelompok-kelompok di miliki. Kelompok-kelompok tersebut dapat di dasarkan pada ukuran besar hingga kecil dari segi jumlah anggota kelompoknya. Namun, kelompok-kelompok persamaan dan perbedaan. Urutan kelompok ini disebut takson atau Kata taksonomi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu taxis . usunan, penyusunan, penataa. atau taxon . etiap unit yang digunakan dalam klasifikasi objek biolog. dan nomos . Menurut Carolus Lennaeus, diperlukan untuk yang berurutan dari tingkatan tinggi yang umum menuju yang Urutan hierarkinya yaitu : Kingdom (Kerajaa. Phylum (Filu. untuk hewan / Divisio (Divis. untuk tumbuhan Classis (Kela. Ordo (Bangs. Familia (Keluarg. Genus (Marg. Spesies (Jeni. Dari tingkatan di atas, bisa di simpulkan jika dari spesies menuju kingdom, maka takson semakin tinggi. Selain itu jika takson semakin tinggi, persamaan antar organisme akan makin sedikit sedangkan perbedaanya akan semakin Sebaliknya, dari kingdom menuju spesies, maka takson Dan jika takson semakin rendah, maka jumlah organisme akan semakin sedikit, persamaan antar organisme akan makin banyak sedangkan perbedaanya akan semakin sedikit. Teknik Identifikasi Dalam makhluk hidup perlu adanya proses Identifikasi merupakan suatu proses yang dapat kita lakukan untuk menentukan atau mengetahui identitas dari suatu jenis organisme. Banyak metode yang dapat kita gunakan untuk mengetahui identitas suatu jenis organisme, di antaranya dengan konfirmasi langsung kepada ahlinya, mencocokkan dengan spesimen, atau dengan menggunakan suatu instrumen yaitu kunci identifikasi atau kunci determinasi. Kunci determinasi tersebut merupakan serangkaian pertanyaan yang dapat menggiring kita sehingga dapat mengetahui nama dari jenis organisme yang ingin kita ketahui Kunci determinasi merupakan cara atau langkah untuk mengenali organism dan mengelompokkannya pada takson makhluk Kunci determinasi adalah uraian keterangan tentang ciri-ciri makhluk hidup Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index yang disusun berurut mulai dari ciri umum hingga ke ciri khusus untuk menemukan suatu jenis makhluk hidup. Kunci determinasi yang paling sederhana ialah kunci dikotom. Kunci dikotom berisi keterangan yang disusun berpasangan dan menunjukkan ciri yang berlawanan. Taman Wisata Alam Kerandangan Taman Wisata Alam Kerandangan ini terletak di Desa Senggigi Kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat dan Desa Kekait Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kawasan ini ditunjuk sebagai Taman Wisata Alam sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 494/Kpts-II/92 tanggal 1 Juni 1992 seluas 396,10 hektar. Secara TWAKerandangan terletak pada 8o20Ao13Ay Lintang Selatan Ae 8o20Ao15Ay Lintang Selatan, dan 116 04Ao00Ay Bujur Timur Ae 116o04Ao03Ay Bujur Timur. Berdasarkan wewenang pengelolaan, kawasan tersebut berada dibawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat. Sekitar A 17 km dari kota Mataram. Adapun batasbatas kawasan TWA Kerandangan adalah sebagai berikut : Sebelah Barat : Desa Senggigi Sebelah Timur : Hutan Lindung Rinjani Sebelah Utara : Hutan Lindung Rinjani Sebelah Selatan : Hutan Lindung Rinjani TWA Kerandangan bentuk Kawasan Pelestarian Alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Kawasan ini terdiri dari bukitbukit dan lembah dengan tipe vegetasi hutan Vegetasi dikawasan ini terdiri dari dua macam yaitu hutan alam dengan vegetasi asli kawasan tanpa campur tangan manusia dan hutan hasil rehabilitasi yang merupakan vegetasi bukan asli kawasan dan telah ada campur tangan METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 penelitian deskriptif kuantitatif yaitu jenis penelitian yang menjelaskan jenis dan hubungan kekerabatan kupu-kupu . rdo Lepidopter. yang terjerat di Taman Wisata Alam Kerandangan Desa Senggigi Kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat. Jenis pendekatan kuantitatif untuk melihat hubungan filogenetik kupu-kupu dilanjutkan uji validasi handout secara Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif, karena semua data-data yang dikumpulkan berupa angka dan nonangka (Arikunto, 2. Data kualitatif dilakukan dengan cara membuat deskripsi karakter morfologi kupukupu yang diperoleh. Sedangan data kuantitatif dipergunakan untuk melihat sejauh mana hubungan kekerabatan dari kupu-kupu tersebut. Rancangan Penelitian Penelitian ini di rancang menggunakan . ntrapping Pengambilan sampel ini dilakukan sebanyak 2 kali dalam sehari . agi dan sore har. , dengan 3 kali pengulangan. Lokasi pengambilan sampel terbagi atas 2 pos yaitu pos 1 di taman depan TWA dan pos 2 di air terjun goa walet. Masing-masing pos terbagi atas 3 lintasan penjerat, dengan estimasi jarak untuk pos 1 A 50 m dan untuk pos 2 A 950 m. Penangkapan kupukupu menggunakan . weaping ne. yang berfungsi untuk menangkap kupu-kupu. Populasi dan Sampel Populasi Populasi yang di jadikan objek penelitian ini adalah seluruh kupu- kupu yang terdapat di kawasan Taman Wisata Alam Kerandangan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat. Sampel Sampel yang diamati adalah kupukupu dewasa yang terjerat. Pengambilan kelompok/area yang sudah ditentukan dengan menggunakan jaring serangga. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu dengan cara purposive Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono,2. Sampel yang digunakan adalah kupu-kupu yang terjerat di Taman Wisata Alam Kerandangan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat. Metode pengambilan sampel menggunakan metode . ntrapping menggunakan jaring serangga . weaping ne. yang berfungsi untuk menangkap kupukupu. Kupu-kupu yang terjerat kemudian di letakkan dalam toples. Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat atau fasilitas mengumpulkan data. Instrumen penelitian adalah alat untuk mengukur informasi atau melakukan pengukuran (Darmadi, 2. Jadi penelitian ini menggunakan instrumen sebagai berikut: Alat dan Bahan Alat Penelitian Alat-alat yang digunakan untuk pengambilan sampel kupu- kupu dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 3. 1 Alat yang Digunakan saat Penelitian Bahan Penelitian Adapun digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 3. 2 Bahan yang Digunakan saat Penelitian Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data adalah upaya-upaya yang digunakan oleh peneliti Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu : Teknik Observasi Observasi yang dilakukan peneliti untuk mengetahui spesies kupu- kupu yang akan digunakan, dengan melakukan peninjauan di masing- masing pos yaitu pos 1 di taman depan TWA dan pos 2 di air terjun goa walet, dan melakukan Dokumentasi dimaksud dalam penelitian ini adalah proses pengambilan gambar yang akan dijadikan sebagai bukti oleh peneliti. Lembar Validitas Handout Pembuatan handout ini bertujuan untuk memperlancar dan memberikan bantuan informasi atau sebagai sumber bagi peserta didik pada matakuliah sistematika Invertebrata. Teknik Analisis Data Analisis mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil catatan lapangan dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya di informasikan pada orang lain (Sugiono, 2. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah sebagai berikut : Analisis Deskriptif Kuantitatif Data menggunakan rumus Indeks Kesamaan Sorensen (Maggurran,2. Keterangan : S : Indeks kesamaan A :Jumlah karakter yang dimiliki oleh A B : Jumlah karakter yang dimiliki oleh C : Jumlah karakter yang sama yang dimiliki oleh spesies A dan B Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index HASIL PENELITIAN Hasil Penelitian Kondisi Umum Taman Wisata Alam Kerandangan Taman Wisata Alam Kerandangan terletak di Desa Senggigi Kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat. TWA Kerandangan merupakan bentuk Kawasan Pelestarian Alam dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi Kawasan ini terdiri dari bukit-bukit dan lembah dengan tipe vegetasi hutan musim Vegetasi hutan dikawasan ini terdiri dari dua macam yaitu hutan alam dengan vegetasi asli kawasan tanpa campur tangan manusia dan hutan hasil rehabilitasi yang merupakan vegetasi bukan asli kawasan dan telah ada campur tangan menusia (Endang, 2. Di kawasan ini terdapat berbagai jenis kupu-kupu yang sangat menarik perhatian karena warna sayapnya yang beraneka Di kawasan ini pula banyak terdapat spesies kupu-kupu, karena terdapat sumber makanan bagi kupu-kupu itu sendiri dan terdapat tanaman inang yang menjadi makanan bagi larva . kupu-kupu Pada pos 1, struktur vegetasi penyusun hutan berupa pepohonan, semak dan herba, dan terdapat sumber air atau alur sungai sebagai penyedia mineral utama, sehingga sumber makanan . umbuhan inang dan bung. bagi kupu-kupu di area ini makin banyak dan bervariasi. Begitu pula untuk di pos ke 2, sama halnya dengan pos 1 di pos 2 struktur vegetasi penyusun hutan berupa pepohonan yang tinggi dan tutupan kanopinya bervariasi. Variasi kanopi menyebabkan perbedaan daya tembus cahaya matahari kesetiap bagian hutan, sehingga kondisi lingkungan di area ini bervariasi. Di area ini pula terdapat aliran sungai sehingga sumber makanan . umbuhan inang dan bung. dan mineral bagi kupu-kupu di area ini makin banyak dan bervariasi Spesies Kupu-Kupu yang Ditemukan di TWA Kerandangan Berdasarkan hasil penangkapan yang dilakukan, ditemukan beberapa spesies dari masing-masing pos dengan tiga kali Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 pengulangan disetiap pos pada enam titik pengambilan sampel di TWA Kerandangan. Spesies kupu-kupu yang ditemukan di TWA Kerandangan, disajikan dalam tabel 4. dibawah ini : Tabel 4. 1 Spesies Kupu-kupu yang Ditemukan Pembahasan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di kawasan Taman Wisata Alam Kerandangan Kabupaten Lombok Barat didapatkan 10 jenis spesies kupu-kupu yaitu yang terdiri dari 3 famili diantaranya famili Papilionidae. Nymphalidae dan Pieridae (Tabel 4. Tidak semua spesies kupu-kupu dapat ditemukan disemua titik pengambilan, spesies kupu-kupu yang ditemukan berada yang berbeda-beda, dimungkinkan karena kondisi lingkungan hidupnya yang berbeda untuk setiap Hal ini diperkuat oleh Hervina dkk . yang menyatakan bahwa kondisi lingkungan hidup spesies kupu-kupu disebabkan baik oleh faktor biotik maupun Faktor abiotik terdiri dari intensitas cahaya, kecepatan angin, kelembapan udara, cuaca, ketinggian tempat dan temperatur Cuaca pada saat pengambilan pada tiap pos sama yaitu cerah dengan tingkat intensitas cahaya yang berbeda-beda. Intensitas cahaya yang dibutuhkan oleh kupu-kupu yaitu 159 - 596,25 cd/m (Hervina, dkk 2. Intensitas cahaya yang tinggi tentunya meningkatkan temperatur udara dan menurunkan kelembapan disekitar Temperatur kelembapan di pos 1 yaitu 29. 4 Ae 32. 6AC, 87% masih sesuai dengan temperatur udara dan kelembapan yang dibutuhkan kupukupu yaitu 30 - 35AC dan 64 - 94 %. Sedangkan di pos 2 memiliki temperatur udara dan kelembapan yang sesuai bagi Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index siklus hidup kupu- kupu yaitu 32. 0 Ae 8AC, 84 %. Kecepatan angin juga mempengaruhi distribusi dan keragaman kupu-kupu. Kecepatan angin yang dapat ditoleransi kupu-kupu yaitu tidak lebih dari skala Beaufort sebesar 8,49 m/s sampai 10,73 m/s (Utami, 2. Kecepatan angin yang rendah akan menyebabkan spesies kupukupu disuatu daerah lebih banyak, khususnya kupu-kupu bersayap lebar, karena kekuatan angin tersebut tidak terlalu merusak sayap kupu-kupu. Sebaliknya, kecepatan angin disuatu area yang tergolong kuat akan menyebabkan kupu-kupu yang berukuran besar dan bersayap lebar tidak dapat berlama-lama di area ini karena akan merusak sayapnya dan kupu-kupu kecil yang ringan akan sangat mudah terbawa angin. samping itu, pada semua titik didominasi oleh pepohonan besar yang mampu menjadi penahan angin sehingga kecepatan angin menjadi berkurang. Selain faktor abiotik, perbedaan vegetasi sebagai faktor biotik juga menyebabkan terjadinya perbedaan spesies kupu-kupu. Menurut Hamidun . dalam Bariyah merupakan sebagai sumber pakan yang penting bagi kehidupan kupu-kupu selain tempat berlindung dari predator dan tempat berkembang biak. Sari bunga merupakan sumber pakan kupu-kupu, oleh karena itu semakin banyak cairan sari bunga yang tersedia dengan melimpahnya tanaman berbunga penghasil sari bunga maka jumlah dan keberagaman kupu-kupu dalam daerah tersebut semakin banyak dan beragam (Achmad, 2007 dalam Bariyah, 2. Secara ekologis, kupu-kupu dapat di jadikan bioindikator kesehatan suatu lingkungan. Populasi kupu-kupu yang banyak pada suatu tersebut masih baik (Shalihah dkk. Karakter morfologi yang digunakan pada penelitian ini yaitu sebanyak 26 karakter morfologi yang diantaranya adalah ukuran tubuh agak besar, ukuran tubuh kecil, ukuran tubuh sangat besar, mulut tipe pengisap, antenna seperti tali, sayap Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 depan lebih panjang, kaki depan sangat kecil, kaki depan normal, kupu-kupu yang terbang siang, kupu- kupu yang terbang malam, bonggol antenna membengkok, ujung antenna berbonggol, sayap belakang ada perpanjangan ekor, berwarna putih, kuning/oranye berwarna kuning, coklat dengan dihiasi renda-renda pada sayap depan atau belakang, sayap bersisik, terdapat bintikbintik atau pita yang berwarna cerah, badan gemuk, berwarna kusam/suram, sayap hitam/gelap, tubuh ramping, sayap belakang lebar membulat, antenna membesar pada pucuk, proboscis absen/vestigial, sayap berbintik coklat, ada sayap Berdasarkan dilakukan terhadap 10 spesies kupu- kupu, dihasilkan perbandingan antara individu dalam spesies yang sama. Peneliti membandingkannya dengan menggunakan menggunakan Indeks Kesamaan Sorensen. Adapun berdasarkan perhitungan Indeks Kesamaan Sorensen, didapat: Tabel 4. 13 Urutan Indeks Kesamaan dari yang Terbesar hingga yang Terkecil Indeks kesamaan dalam wujud angka di atas menunjukkan tingkat kesamaan atau Semakin mendekati 100% menunjukkan tingkat kesamaan dengan pendapat Odum tahun 1996 . alam Mawazin dan Atok Subiakt. yang menyatakan bahwa nilai indeks kesamaan berkisar 0-100%, di mana semakin tinggi nilai indeks kesamaan jenis menunjukkan semakin tinggi pula tingkat kemiripan jenis antara dua komunitas yang dibandingkan. Berikut peneliti paparkan deskripsi tingkat kesamaan yang didapat berdasarkan nilai indeks kesamaan, untuk spesies no. 2 dan 10 memiliki tingkat kesamaan yang paling Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 tinggi dibandingkan dengan spesies-spesies Hal ini terlihat dari Indeks kesamaan yang paling tinggi. Selain itu kedua spesies ini memiliki 12 karakter yang sama yakni diantaranya ukuran tubuh agak besar, mulut tipe penghisap, sayap depan lebih panjang, kaki depan sangat kecil, kupu-kupu yang kuning/oranye dengan bercak hitam, sayap bersisik, badan gemuk, sayap belakang lebar membulat, antenna membesar pada pucuk, proboscis absen/vestigial, dan ada sayap. Spesies no. 6, 8 dan 9 memiliki tingkat kesamaan yang tinggi pula setelah spesies no. 2 dan 10. Selain dari nilai Indeks kesamaan yang tinggi, spesies-spesies ini memiliki 11 karakter yang sama yakni diantaranya ukuran tubuh agak besar, mulut tipe penghisap, sayap depan lebih panjang, kaki depan sangat kecil, kupu-kupu yang terbang siang, sayap bersisik, terdapat bintikbintik atau pita yang berwarna cerah, sayap hitam/gelap, antenna membesar pada pucuk, proboscis absen/vestigial, dan ada sayap. Spesies no. 2, 3, 6, 8, 9 dan 10 memiliki tingkat kesamaan. Hal ini dilihat dari 9 karakter yang sama yakni diantaranya ukuran tubuh agak besar, mulut tipe penghisap, sayap depan lebih panjang, kaki depan sangat kecil, kupu-kupu yang terbang siang, sayap bersisik, antenna membesar pada pucuk, proboscis absen/vestigial, dan ada sayap. Spesies no. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, dan 10 memiliki tingkat kesamaan. Hal ini dilihat dari 6 karakter yang sama yakni diantaranya mulut tipe penghisap, kupu-kupu yang terbang siang, sayap bersisik, antenna absen/vestigial. Sedangkan untuk spesies no. 7 dengan spesies lainnya memiliki banyak perbedaan. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan ditarik kesimpulan sebagai berikut: Spesies kupu-kupu yang ditemukan di Taman Wisata Alam Kerandangan sejumlah 10 spesies yaitu Papilio memnon. Hebomoia glaucippe. Vindula Pachliopta Graphium agamemnon. Euploea eunice. Leptosia Ideopsis Hypolimnas bolina, dan Catopsilia Dari 10 spesies kupu-kupu . rdo Lepidopter. yang tertangkap di Taman Wisata Alam Kerandangan diperoleh hasil bahwa persentase hubungan kekerabatan terdekat jatuh kepada spesies Hebomoia glaucippe dan Catopsilia pomona sebesar 100%, sedangkan spesies dengan tingkat hubungan kekerabatan terjauh yaitu antara Hebomoia glaucippe dengan Leptosia nina sebesar 60. DAFTAR PUSTAKA