Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume. 3 Nomor. 4 Agustus 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available online at: https://journal. id/index. php/jbpai Menanamkan Nilai Religius Anak Usia Dini dengan Pembelajaran Kisah Anak dalam Al-Quran Annisa Nur1*. Amaliah2. Putri Salsabila3 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal. Indonesia Email: anur80987@gmail. com, amaliahbatubara@gmail. com, putrisalsabilladaulay@gmail. Korespondensi penulis : anur80987@gmail. Abstract : The aim of this study is to explore how children Accounts found in the Qur'an can function as a learning medium in instilling religious values in early childhood. Religious values play a crucial role and should be familiarized with from an early stage on as a basis to foster children's character development and morals in facing This study uses the Observation method approach through an in-depth examination of various relevant scientific literature, including books, journals, and According to prior research, it has been shown that learning based on Qur'anic stories is effective in conveying moral and religious messages because they are in line with the imaginative aslo concrete world of children. Stories such as the Prophet Ismail, the little Prophet Yusuf, and the Ashabul Kahfi provide examples of honesty, obedience, patience, and faith that may be delivered using enjoyable approaches such as storytelling, role playing, and visualization. These findings reinforce the importance of the role of teachers and parents in internalizing religious values through contextual learning media that touch the emotional aspects of children. Keywords: Character Learning. Early Childhood. Islamic Education. Quranic Stories. Religious Values. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kisah-kisah anak dalam Al-Qur'an dapat digunakan sebagai media pembelajaran dalam menanamkan nilai religius pada anak usia dini. Nilai religius sangat penting ditanamkan sejak dini sebagai dasar pembentukan karakter dan akhlak anak dalam menghadapi kehidupan. Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan menelaah berbagai literatur ilmiah yang relevan, termasuk buku, jurnal, dan hasil penelitian sebelumnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kisah Qur'ani efektif untuk menyampaikan pesan moral dan religius karena sesuai dengan dunia anak yang imajinatif dan konkret. Kisah seperti Nabi Ismail. Nabi Yusuf kecil, dan Ashabul Kahfi memberikan teladan tentang kejujuran, ketaatan, kesabaran, dan keimanan yang dapat disampaikan melalui cara yang menghibur seperti kegiatan mendongeng, bermain peran, dan visualisasi. Temuan ini memperkuat pentingnya kontribusi guru dan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan melalui media pembelajaran yang kontekstual dan menyentuh aspek emosional anak. Kata Kunci: Nilai Religius. Anak Usia Dini. Kisah Qur'ani. Pendidikan Islam. Pembelajaran Karakter. PENDAHULUAN Pada pendidikan usia dini, anak berada dalam tahap perkembangan yang sangat pesat meliputi aspek kognitif, afektif, dan spiritual. Tahap ini dikenal sebagai masa keemasan yang berperan penting dalam menentukan arah pertumbuhan anak dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang di masa depan. Oleh karena itu, pendidikan nilai-nilai religius sebaiknya ditanamkan sejak usia dini agar menjadi dasar yang kuat dalam kehidupan anak ke depan (Holis, 2. Nilai religius bukan hanya menyangkut ritual ibadah, tetapi juga mencakup sikap jujur, amanah, santun, dan kasih sayang yang merupakan bagian dari ajaran Islam. Received: Juni 13, 2025. Revised: Juni 27, 2025. Accepted: Juli 11, 2025. Online Available: Juli 13, 2025 Menanamkan Nilai Religius Anak Usia Dini dengan Pembelajaran Kisah Anak dalam Al-Quran Dalam konteks pendidikan Islam. Al-Qur'an menjadi sumber utama dalam pembentukan nilai dan akhlak. Salah satu metode yang efektif untuk menanamkan nilai religius kepada anak usia dini adalah melalui pembelajaran kisah-kisah dalam Al-Qur'an. Kisah dalam Al-Qur'an disampaikan bukan sekadar untuk hiburan, melainkan memiliki makna edukatif dan spiritual yang dalam. Kisah-kisah tentang anak dalam Al-Qur'an seperti kisah Nabi Ismail. Nabi Yusuf kecil, atau kisah anak-anak Ashabul Kahfi dapat dijadikan media pembelajaran yang menyentuh hati dan sesuai dengan tingkat pemahaman Pembelajaran kisah sangat relevan bagi anak usia dini karena mereka sedang dalam fase operasional konkret, yang memungkinkan mereka lebih mudah menangkap informasi melalui cerita dan contoh nyata. Kisah dalam Al-Qur'an dapat disampaikan secara naratif dengan gaya bahasa yang sederhana, disertai dengan ilustrasi atau media visual yang menarik, sehingga anak dapat lebih antusias dan terhubung secara emosional dengan materi dan aktivitas belajar (Hikmah, 2. Dengan begitu, nilai-nilai seperti keimanan, ketaatan kepada orang tua, kesabaran, dan kejujuran dapat melekat dalam diri anak secara Selain itu, pembelajaran kisah Qur'ani juga dapat menjadi sarana menumbuhkan kecintaan anak kepada Al-Qur'an sejak dini. Anak akan mulai mengenal tokoh-tokoh yang ada dalam kitab suci mereka dan memahami bahwa Al-Qur'an tidak semata-mata untuk dibaca, melainkan juga untuk dipahami dan diamalkan. Penguatan nilai religius melalui kisah juga dapat memperkuat hubungan spiritual anak dengan Allah, membentuk kesadaran moral, serta memperkaya pengalaman religius mereka sejak dini. Dengan menanamkan nilai religius melalui kisah anak dalam Al-Qur'an, lembaga pendidikan dan orang tua turut berperan aktif dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul dalam berpikir, tetapi juga berkarakter mulia. Upaya ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat dalam membentengi anak dari pengaruh negatif di lingkungan sekitarnya serta membentuk karakter islami yang kokoh dan berkesinambungan hingga dewasa. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode observasi yang langsung ke tempat atau lokasi PAUD NASYWA yang berada di Desa Parbangunan, yaitu suatu pendekatan yang digunakan untuk mengidentifikasi, menelaah, dan menganalisis berbagai literatur ilmiah yang relevan secara sistematis dan terstruktur (Amam & Rusdiana, 2. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menghimpun berbagai temuan dari JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penanaman nilai religius kepada anak-anak usia dini lewat pengajaran kisah-kisah dalam Al-Qur'an. Sumber data yang digunakan berasal dari jurnal nasional, artikel ilmiah, buku ajar, dan hasil penelitian terdahulu yang terbit dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, dengan fokus utama pada pendidikan anak usia dini, pendidikan Islam, dan strategi pembelajaran berbasis kisah Qur'ani. Proses kajian dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari penyusunan kata kunci pencarian seperti "kisah anak dalam Al-Qur'an", "nilai religius anak", dan "pendidikan karakter Islam anak usia dini", kemudian dilanjutkan dengan proses seleksi literatur berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi meliputi literatur yang relevan, aktual, dan memuat pembahasan secara spesifik tentang topik penelitian, sedangkan kriteria eksklusi adalah literatur yang tidak sesuai dengan konteks anak usia dini atau tidak menjelaskan aspek nilai religius secara jelas. Seluruh literatur yang terpilih kemudian dianalisis secara tematik untuk menggali strategi pembelajaran yang efektif, tantangan yang dihadapi, serta dampak penanaman nilai religius melalui kisah Qur'ani terhadap pembentukan karakter anak. PEMBAHASAN Nilai Religius dalam Pendidikan Anak Usia Dini Nilai religius merupakan bagian penting dalam pendidikan anak usia dini karena menjadi pondasi dalam membentuk karakter dan akhlak mulia sejak usia dini. Nilai ini mencakup keyakinan kepada Tuhan, kebiasaan berdoa, kejujuran, kasih sayang, kesabaran, serta sikap menghormati orang tua dan guru. Anak usia dini berada pada masa perkembangan yang sangat cepat, sehingga penanaman nilai religius pada tahap ini akan mudah terserap dan membentuk kepribadian anak secara kuat dan mendalam. Nilai-nilai ini menjadi pegangan hidup anak dalam berperilaku dan berinteraksi dengan lingkungan Anak usia dini memiliki sifat meniru dan menyerap pengalaman dari lingkungan secara cepat. Oleh karena itu, lingkungan keluarga dan sekolah sangat berperan penting dalam membentuk nilai religius anak. Orang tua dan guru perlu menjadi contoh dalam berperilaku sesuai ajaran agama, seperti membiasakan mengucap salam, bersyukur atas nikmat, berdoa sebelum dan sesudah aktivitas, serta menunjukkan kasih sayang dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari (Dini, 2. Keteladanan ini akan terekam kuat dalam diri anak dan membentuk sikap religius yang melekat hingga dewasa. Menanamkan Nilai Religius Anak Usia Dini dengan Pembelajaran Kisah Anak dalam Al-Quran Pendidikan nilai religius tidak harus disampaikan dalam bentuk ceramah atau pengajaran formal. Justru metode yang paling efektif untuk anak usia dini adalah melalui pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan mereka. Metode bercerita, bernyanyi, bermain peran, menggambar, serta kegiatan eksploratif lainnya sangat cocok untuk menanamkan nilai agama. Misalnya, kisah tentang anak yang taat kepada orang tua atau cerita tentang anak yang sabar dalam menghadapi ujian bisa dijadikan sarana untuk menyampaikan pesan moral dan religius secara menyenangkan. Penanaman nilai religius bertujuan tidak hanya agar anak mengenal ajaran agama, tetapi juga agar mereka memiliki kesadaran untuk berperilaku baik karena dorongan dari dalam dirinya, bukan karena paksaan (Rahman. Kencana, & NurFaizah, 2. Dengan nilai religius yang kuat, anak lebih mudah mengenali perbedaan antara kebenaran dan kesalahan, serta memiliki motivasi untuk melakukan kebaikan dalam kehidupan seharihari. Hal ini akan membentuk kepribadian anak yang bertanggung jawab, jujur, penyayang, dan memiliki integritas moral sejak usia dini. Oleh karena itu, menanamkan nilai religius dalam Pendidikan pada masa kanakkanak merupakan aspek yang krusial dan perlu untuk dilakukan secara konsisten. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar harus dibangun agar anak tumbuh dalam suasana yang mendukung perkembangan spiritualnya. Anak yang dibesarkan dengan nilainilai agama yang kuat sejak dini, akan menjadi pribadi yang bukan hanya unggul dalam aspek intelektual, tetapi juga dewasa secara emosional dan spiritual, serta mampu menghadapi tantangan hidup dengan keteguhan iman dan akhlak yang baik. Kisah Anak dalam Al-Qur'an sebagai Media Pembelajaran Sebagai kitab suci umat Islam. Al-Qur'an tidak hanya menjadi pedoman dalam beribadah, tetapi juga sebagai sumber pendidikan yang kaya akan nilai-nilai moral dan Salah satu metode pendidikan yang digunakan dalam Al-Qur'an adalah penyampaian kisah atau cerita . , termasuk kisah yang melibatkan anak-anak (Ariashinta & Zulfitria, 2. Kisah anak dalam Al-Qur'an disampaikan tidak hanya untuk diketahui secara historis, tetapi sebagai media pembelajaran yang mengandung pelajaran penting bagi pembentukan karakter, terutama bagi anak-anak usia dini. Melalui kisah, anak dapat belajar tentang keimanan, ketekunan, kesabaran, serta ketaatan kepada Allah dan orang tua. JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Beberapa kisah anak dalam Al-Qur'an sangat relevan dengan dunia anak, seperti kisah Nabi Ismail AS yang taat kepada ayahnya Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah, meskipun harus berkorban besar. Kisah ini mengajarkan anak tentang ketaatan, keberanian, dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Tuhan. Selain itu, kisah Nabi Yusuf AS saat kecil juga memberikan pelajaran tentang pentingnya bersabar dalam menghadapi ujian dan tetap jujur meskipun dalam tekanan (Ramli, 2. Ada juga kisah Ashabul Kahfi, yaitu sekelompok pemuda yang menjaga keimanannya di tengah lingkungan yang tidak mendukung, menjadi contoh penting bagi anak tentang keteguhan hati dalam mempertahankan keyakinan. Penyampaian kisah-kisah tersebut sangat sesuai untuk digunakan pada anak usia dini karena masa ini mereka lebih mudah memahami sesuatu melalui pendekatan visual dan naratif. Anak-anak senang mendengarkan cerita, apalagi jika disampaikan dengan cara yang menarik seperti melalui gambar, boneka, atau video animasi. Dengan gaya penyampaian yang menarik, kisah-kisah dalam Al-Qur'an dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai positif dalam diri anak. Melalui kisah, anak tidak hanya belajar tentang tokoh-tokoh Islam, tetapi juga membentuk pemahaman moral yang melekat dalam ingatan mereka. Selain sebagai sarana pendidikan, kisah anak dalam Al-Qur'an juga memiliki nilai spiritual yang tinggi. Ketika anak mulai mengenal kisah-kisah dalam kitab suci mereka, maka secara perlahan mereka juga akan membangun hubungan batin dengan Al-Qur'an itu sendiri (Waluyo, 2. Hal ini dapat memunculkan rasa cinta dan kedekatan anak kepada agama sejak dini. Anak tidak hanya belajar tentang apa yang baik dan buruk, tetapi juga memahami bahwa semua ajaran tersebut bersumber dari firman Allah, yang menjadi dasar dalam kehidupan seorang muslim. Penggunaan kisah anak dalam Al-Qur'an sebagai media pembelajaran merupakan metode yang tepat dan efektif dalam pendidikan anak usia dini. Kisah-kisah ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik secara menyeluruh menyentuh aspek kognitif, afektif, dan spiritual anak. Jika diterapkan secara konsisten oleh pendidik dan orang tua, maka kisah Qur'ani akan menjadi salah satu fondasi utama dalam membentuk karakter anak yang religius, berakhlak mulia, dan mencintai Al-Qur'an sejak usia dini. Menanamkan Nilai Religius Anak Usia Dini dengan Pembelajaran Kisah Anak dalam Al-Quran Strategi Pembelajaran Kisah Qur'ani dalam Menanamkan Nilai Religius Strategi pembelajaran merupakan kunci utama dalam menyampaikan materi secara efektif kepada anak usia dini. Dalam konteks penanaman nilai religius, strategi pembelajaran yang digunakan harus menyesuaikan dengan karakteristik anak, yang cenderung aktif, imajinatif, dan mudah tertarik pada cerita. Kisah Qur'ani sebagai sumber ajaran Islam dapat dijadikan media pembelajaran yang sangat kuat, asalkan disampaikan dengan metode yang tepat. Pendekatan yang interaktif dan menyenangkan akan membantu anak memahami dan menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam kisah tersebut. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah metode mendongeng. Guru atau orang tua dapat membacakan atau menceritakan kembali kisah-kisah dalam Al-Qur'an yang berkaitan dengan tokoh anak, seperti kisah Nabi Ismail AS atau Nabi Yusuf AS. Saat bercerita, pendidik perlu menggunakan ekspresi wajah, intonasi suara, dan gerak tubuh yang sesuai agar cerita menjadi hidup dan menarik. Anak akan lebih mudah memahami pesan yang terkandung dalam kisah jika cerita disampaikan dengan penuh semangat dan penghayatan (Khoiriah. Sutarto, & Wanto, 2. Selain itu, pendidik juga dapat menyelipkan pertanyaan sederhana untuk melibatkan anak secara aktif dalam cerita. Strategi lain yang efektif adalah bermain peran atau role play. Dalam metode ini, anak diajak untuk memerankan tokoh-tokoh dalam kisah Qur'ani. Misalnya, satu anak menjadi Nabi Ismail, yang lain menjadi Nabi Ibrahim, dan lainnya menjadi malaikat. Dengan bermain peran, anak tidak hanya memahami kisah secara kognitif, tetapi juga merasakannya secara emosional. Aktivitas ini membantu anak menghayati nilai-nilai religius seperti ketaatan, kejujuran, dan kesabaran secara langsung, sehingga nilai tersebut lebih mudah tertanam dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Visualisasi juga menjadi strategi yang penting dalam pembelajaran anak usia dini. Pendidik dapat menggunakan gambar, ilustrasi, atau media audio-visual seperti video animasi yang menceritakan kisah anak dalam Al-Qur'an. Media ini membantu anak memahami isi cerita dengan lebih konkret dan menyenangkan. Tantangan dan Solusi dalam Menanamkan Nilai Religius Menanamkan nilai religius kepada anak usia dini merupakan tugas mulia, namun Selalu dihadapkan pada berbagai tantangan, salah satunya adalah utama adalah kurangnya pemahaman orang tua dan pendidik tentang metode pembelajaran religius yang sesuai dengan perkembangan anak. Banyak orang tua menganggap nilai religius cukup diajarkan melalui hafalan doa atau kegiatan ritual tanpa memperhatikan pemahaman dan JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. penghayatan anak terhadap makna di baliknya. Hal ini menyebabkan nilai-nilai agama menjadi formalitas semata dan tidak tertanam secara mendalam dalam sikap dan perilaku Tantangan lainnya adalah pengaruh lingkungan luar, seperti media digital dan pergaulan yang tidak selaras dengan nilai-nilai Islam. Anak-anak masa kini lebih akrab dengan tayangan hiburan, permainan daring, dan media sosial yang kadang mengandung konten yang bertentangan dengan ajaran agama. Jika tidak dibimbing dan diawasi, anak bisa kehilangan arah dan lebih mudah meniru perilaku yang kurang baik. Selain itu, kesibukan orang tua juga menjadi faktor penghambat, karena kurangnya waktu untuk membimbing anak secara langsung dalam hal keagamaan. Dalam menghadapi tantangan tersebut, diperlukan solusi yang bersifat menyeluruh dan kolaboratif. Pertama, orang tua dan guru perlu dibekali dengan pemahaman yang cukup mengenai pendidikan religius anak, baik melalui pelatihan, seminar, maupun literatur yang relevan. Pendidikan nilai religius harus disampaikan dengan cara yang sesuai usia anak, tidak hanya berupa perintah, tetapi juga dengan contoh nyata, cerita, dan diskusi yang membangun. Keteladanan dari orang tua dan guru adalah metode paling ampuh untuk menanamkan nilai agama karena anak usia dini cenderung meniru apa yang mereka lihat dan dengar. Selanjutnya, pengaruh media digital dapat dikurangi dengan cara mengenalkan anak pada konten islami yang menarik dan edukatif. Orang tua bisa mengganti tontonan anak dengan film kartun islami, lagu-lagu anak yang bernuansa religius, serta aplikasi belajar Al-Qur'an dan kisah nabi yang menyenangkan. Selain itu, sekolah atau Institusi yang menyelenggarakan pendidikan untuk anak usia dini juga bisa menciptakan program pembelajaran berbasis kisah Qur'ani dan praktik ibadah sederhana yang dilakukan secara rutin dan menyenangkan. Tantangan menanamkan nilai-nilai religius pada anak usia dini memang penuh tantangan, namun tetap bisa diupayakan dengan cara yang tepat. Kuncinya adalah adanya kerja sama antara keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam menciptakan suasana yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai Islam dalam diri anak. Jika pendidik dan orang tua mampu memberikan pendampingan yang bijak, konsisten, dan penuh kasih sayang. Dengan demikian, anak akan berkembang menjadi sosok yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki kedewasaan spiritual serta budi pekerti yang luhur (Fithri. Menanamkan Nilai Religius Anak Usia Dini dengan Pembelajaran Kisah Anak dalam Al-Quran Dampak Positif Penanaman Nilai Religius Melalui Kisah Qur'ani Penanaman nilai religius melalui kisah Qur'ani memberi pengaruh baik yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan spiritual dan moral anak usia dini. Kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur'an menyampaikan pesan-pesan moral yang mendalam yang mendalam dan disampaikan dalam bentuk cerita yang menarik dan mudah dipahami. Ketika anak-anak dikenalkan dengan tokoh-tokoh dalam kisah Qur'ani seperti Nabi Ismail. Nabi Yusuf, atau anak-anak Ashabul Kahfi, mereka tidak hanya belajar tentang sejarah Islam, tetapi juga menyerap nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, keberanian, dan ketaatan kepada Allah serta orang tua. Dampak positif berikutnya adalah terbentuknya sikap religius sejak dini. Melalui pengulangan cerita-cerita QurAoani secara konsisten, anak akan mengenal konsep ketuhanan, mencintai ibadah, serta terbiasa dengan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan dalam Islam. Nilai-nilai tersebut lambat laun akan menjadi bagian dari kepribadian anak. Misalnya, setelah mendengar kisah Nabi Yusuf yang sabar meskipun dizalimi, anak akan belajar untuk bersikap sabar dalam menghadapi masalah kecil di kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa cerita dapat menjadi jembatan yang efektif dalam menginternalisasi nilai spiritual ke dalam perilaku nyata. Selain itu, kisah QurAoani juga dapat meningkatkan kedekatan emosional anak dengan Al-QurAoan. Jika sejak dini anak merasa bahwa Al-QurAoan bukan hanya kitab yang dibaca orang dewasa, tetapi juga memiliki cerita-cerita indah dan bermakna yang bisa mereka pahami, maka secara alami akan tumbuh rasa cinta terhadap kitab suci tersebut. Kedekatan ini penting sebagai fondasi bagi anak untuk terus tumbuh dalam lingkungan Islami dan menjadikan Al-QurAoan sebagai pedoman hidupnya, bukan sekadar bacaan ritual semata (Dewi,2. Dampak lain yang tidak kalah penting adalah meningkatnya kemampuan berpikir kritis dan empati anak. Kisah dalam Al-QurAoan mendorong anak untuk memahami konflik, solusi, serta hikmah dari setiap peristiwa. Anak akan belajar mempertimbangkan sebab dan akibat dari suatu tindakan, membedakan antara benar dan salah, serta memahami perasaan orang lain. Proses ini membantu membentuk kecerdasan emosional yang penting bagi keberhasilan anak dalam kehidupan sosial dan akademiknya. Secara keseluruhan, pembelajaran melalui kisah QurAoani membawa pengaruh positif yang menyeluruh bagi anak usia dini, baik secara spiritual, emosional, maupun Anak yang dibina dengan nilai-nilai QurAoani sejak dini cenderung tumbuh menjadi pribadi yang religius, peduli, dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, kisah-kisah dalam Al- JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. QurAoan sangat layak dijadikan salah satu strategi utama dalam pendidikan karakter anak, khususnya dalam membentuk generasi yang cinta Allah, cinta sesama, dan berpegang teguh pada ajaran agama (Latif,2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian langsung yang dilakukan menggunakan metode observasi, diperoleh bahwa pembelajaran nilai religius pada anak usia dini dapat ditanamkan secara efektif melalui pendekatan kisah anak dalam Al-QurAoan. Kisah-kisah seperti Nabi Ismail AS. Nabi Yusuf AS saat kecil, dan Ashabul Kahfi menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti ketaatan, kejujuran, kesabaran, dan keteguhan iman dapat dikenalkan kepada anak-anak melalui pendekatan naratif yang menyenangkan. Literatur yang ditelaah menunjukkan bahwa anak lebih mudah menyerap nilai moral dan religius jika materi disampaikan dalam bentuk cerita yang sesuai dengan usia dan gaya belajar mereka. Teknik-teknik seperti mendongeng, bermain peran, bernyanyi, dan menggunakan media visual terbukti meningkatkan efektivitas penyampaian kisah QurAoani. Penelitianpenelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa keterlibatan emosional anak dalam kisah mempermudah proses internalisasi nilai-nilai tersebut. Selain itu, lingkungan yang mendukung, baik di rumah maupun di sekolah, memiliki peranan besar dalam memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai religius yang didapat dari kisah tersebut. Pembahasan Pembelajaran berbasis kisah QurAoani memberikan kontribusi besar dalam proses pembentukan karakter religius anak usia dini. Proses ini tidak hanya mengembangkan aspek spiritual, tetapi juga aspek kognitif dan emosional anak. Ketika anak mendengar kisah-kisah dalam Al-QurAoan dan terlibat dalam aktivitas seperti bermain peran, mereka tidak hanya memahami cerita, tetapi juga meneladani sikap dan perilaku para tokohnya. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran kisah QurAoani bukan hanya bersifat informatif, tetapi juga transformatif bagi perilaku anak. Dari sisi implementasi, guru dan orang tua memegang peran penting dalam keberhasilan pembelajaran ini. Keteladanan dan keterlibatan aktif mereka sangat menentukan apakah nilai-nilai yang diajarkan melalui kisah dapat tertanam dengan baik. Strategi pembelajaran yang kreatif seperti visualisasi, diskusi ringan, dan penguatan melalui kegiatan sehari-hari juga dapat memperkuat pemahaman anak terhadap nilai-nilai Menanamkan Nilai Religius Anak Usia Dini dengan Pembelajaran Kisah Anak dalam Al-Quran yang disampaikan. Hal ini menunjukkan bahwa kisah QurAoani harus menjadi bagian dari rutinitas pembelajaran, bukan hanya materi pelengkap. Namun demikian, terdapat pula beberapa tantangan dalam penerapan strategi ini, seperti keterbatasan media yang menarik, kurangnya pelatihan bagi pendidik, serta pengaruh media luar yang dapat mengalihkan perhatian anak dari nilai-nilai keislaman. Solusi dari permasalahan ini adalah membangun kolaborasi yang kuat antara keluarga dan sekolah, serta memanfaatkan media digital yang islami dan edukatif sebagai alternatif yang menarik dan mendidik. Dengan pendekatan yang konsisten dan terpadu, pembelajaran nilai religius melalui kisah QurAoani dapat menjadi landasan kuat dalam membentuk generasi anak yang berakhlak mulia, cinta Al-QurAoan, dan dekat dengan Allah sejak usia PENUTUP Kesimpulan Penanaman nilai religius kepada peserta didik usia dini melalui kegiatan belajar kisah-kisah anak yang terdapat dalam Al-QurAoan. merupakan strategi yang efektif dan menyentuh banyak aspek perkembangan anak, terutama spiritual, emosional, dan sosial. Kisah-kisah dalam Al-QurAoan seperti Nabi Ismail AS. Nabi Yusuf kecil, dan Ashabul Kahfi, mengandung nilai-nilai keimanan, kejujuran, kesabaran, dan ketaatan yang sangat penting ditanamkan sejak dini. Ketika kisah-kisah tersebut disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan dunia anak, maka pesan religius akan lebih mudah dipahami dan diinternalisasi. Melalui metode observasi, ditemukan bahwa strategi yang paling efektif dalam menyampaikan kisah QurAoani kepada anak usia dini meliputi mendongeng, bermain peran, dan visualisasi menggunakan media yang menarik. Peran guru dan orang tua sangat krusial dalam proses ini sebagai teladan sekaligus fasilitator. Dengan pendekatan yang konsisten dan kreatif, pembelajaran kisah QurAoani dapat membentuk generasi anak yang religius, berakhlak mulia, dan cinta terhadap ajaran Islam sejak usia dini. Saran Penulis menyadari bahwa masih terdapat sejumlah kekurangan dalam jurnal ini. Ke depannya, penulis berkomitmen untuk lebih fokus dan mendalam dalam menyajikan JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan serta saran yang membangun dari para pembaca DAFTAR PUSTAKA