JurnalPendidikan Ekonomi NERACA JURNAL PENDIDIKAN EKONOMI http://journal. id/index. php/neraca Volume 7 Nomor 2. Mei 2022 . UMP UPAYA MENINGKATKAN RETENSI BELAJAR IPS MATERI INTERAKSI SOSIAL MELALUI MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW Efforts To Increase IPS Learning Retention Social Interaction Materials Through Jigsaw Learning Model Sri Wahyu SMPN 8 Dusun Selatan. Barito Selatan. Kalimantan Tengah. Indonesia. ARTIKEL INFO Diterima Maret 2022 Dipublikasi Mei 2022 ABSTRAK Berdasarkan hasil penelitian pra siklus ditemukan sebagian siswa Kelas VII-B SMPN 8 Dusun Selatan yang mendapatkan retensi belajar di bawah KKM. Dari jumlah 31 siswa nilai rata-ratanya sebesar 77,42. Siswa yang mendapatkan nilai KKM sebanyak 19 siswa atau 61,29%. Sedangkan yang mendapatkan nilai di bawah nilai KKM sebanyak 12 siswa atau 38,71%. Dari data tersebut, maka guru diharapkan dapat mencari solusi untuk meningkatkan retensi belajar. Di antaranya dengan cara mengubah strategi pembelajaran yang selama ini diterapkan yang berbasis teacher center menjadi students center. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan retensi belajar adalah model pembelajaran jigsaw. Pelaksanaan model pembelajaran jigsaw pada mata pelajaran IPS materi interaksi sosial Kelas VII-B SMPN 8 Dusun Selatan, siklus pertama mengalami kesulitan karena siswa tidak terbiasa menggunakannya. Dengan bimbingan, arahan dan petunjuk guru, maka pelaksanaan model pembelajaran jigsaw pada siklus kedua dapat dilakukan dengan baik dan lancar. Retensi belajar IPS materi interaksi sosial yang diperoleh siswa Kelas VII-B SMPN 8 Dusun Selatan sebelum diadakan tindakan hasilnya kurang. Namun sesudah diberikan tindakan pada siklus pertama dan kedua hasilnya menjadi baik. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui retensi belajar IPS materi interaksi sosial yang diperoleh siswa Kelas VII-B SMPN 8 Dusun Selatan dengan melaksanakan model pembelajaran jigsaw mulai pra siklus sampai dengan siklus II terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu dari kenaikan nilai rata-rata retensi belajar pra siklus adalah sebesar 77,42 kemudian pada siklus I menjadi 78,13 selanjutnya mengalami peningkatan pada siklus II adalah sebesar 81,71. Sehingga terdapat peningkatan nilai retensi belajar sebesar 0,71 dan 3,58. Dengan demikian retensi belajar IPS materi interaksi sosial yang diperoleh siswa Kelas VII-B SMPN 8 Dusun Selatan mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah dilaksanakan model pembelajaran jigsaw. Kata Kunci : Retensi Belajar IPS. Model Pembelajaran Jigsaw. Interaksi Sosial. ABSTRACT *e-mail : swahyu937@gmail. Based on the results of the pre-cycle research, it was found that some of the Class VII-B students of SMPN 8 Dusun Selatan who received learning retention under the KKM. Of the 31 students the average score was 77. Students who get the KKM score are 19 students or 61. Meanwhile, those who scored below the KKM were 12 students or 38. From these data, teachers are expected to be able to find solutions to increase learning Among other things, by changing the learning strategy that has been implemented so far, which is based on teacher center to become student center. One of the learning models that can be applied to improve learning retention is the jigsaw learning model. The implementation of the jigsaw learning model in social interaction subjects for Class VII-B SMPN 8 Dusun Selatan, the first cycle experienced difficulties because students were not used to using it. With the guidance, direction and instructions of the teacher, the implementation of the jigsaw learning model in the second cycle can be carried out properly and smoothly. The social interaction learning retention material obtained by Class VII-B students of SMPN 8 Dusun Selatan before the action was carried out was lacking. However, after being given action in the first and second cycles the results became good. Based on the results of the study, it can be seen that the social interaction learning retention obtained by Class VII-B students of SMPN 8 Dusun Selatan by implementing the jigsaw learning model from pre-cycle to cycle II continues to experience a significant increase, namely from the increase in the average value of retention. pre-cycle learning was 77. 42 then in the first cycle it became 78. 13 then increased in the second cycle was 81. So that there is an increase in the value of learning retention by 0. 71 and 3. Thus, the social interaction learning retention for students in Class VII-B of SMPN 8 Dusun Selatan experienced a significant increase after the jigsaw learning model was implemented. Keywords: Social Studies Learning Retention. Jigsaw Learning Model. Social Interaction. A Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Sri Wahyu ISSN :24607274 E-ISSN :26858185 JurnalPendidikan Ekonomi PENDAHULUAN Berdasarkan hasil penelitian pra siklus ditemukan sebagian siswa Kelas VII-B SMPN 8 Dusun Selatan yang mendapatkan retensi belajar di bawah KKM . riteria ketuntasan Dari jumlah 31 siswa nilai rataratanya 77,42. Siswa mendapatkan nilai KKM . riteria ketuntasan minima. sebanyak 19 siswa atau 61,29%. Sedangkan yang mendapatkan nilai di bawah nilai KKM sebanyak 12 siswa atau 38,71%. Dari data tersebut, maka guru diharapkan dapat mencari solusi untuk meningkatkan retensi belajar. Di antaranya dengan cara mengubah strategi pembelajaran yang selama ini diterapkan yang berbasis teacher center menjadi students center. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan retensi belajar adalah model pembelajaran jigsaw. Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung siswa terhadap pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian. Ausiswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskanAy. Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi . im ahl. saling membantu satu sama lain tentang topik pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswasiswa itu kembali pada tim/kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli. Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan dengan kemampuan, asal, dan latar Sri Wahyu ISSN :24607274 E-ISSN :26858185 belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari topik tertentu menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Jigsaw learning pada hakikatnya merupakan metode pembelajaran kooperatif yang berpusat pada siswa. Siswa mempunyai peran dan tanggung jawab besar dalam Guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Tujuan metode Jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, penguasaan pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh siswa apabila siswa mempelajari materi secara individual. Metode Jigsaw dapat mendorong mengembangkan penalaran, serta kemandirian siswa dalam menghadapi kehidupan yang terus Metode Jigsaw ini sangat efektif dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa. Metode jigsaw ini sangat baik dipakai untuk menaikkan kematangan anak bersosialisasi, cerdas secara kognitif, tapi juga cerdas dan matang mental dan kepribadian, dan trampil dalam problem solving, tahu menempatkan diri secara situasional, maka model pembelajaran ini cukup mampu menjawab permasalah ini. Metode jigsaw bekerja dengan baik pada siswa dengan modus belajar bertipe Kinestetik . nak suka bergerak dalam belaja. Tactile . uka menyetuh, melakukan sesuatu dan merab. serta tipe pembelajar Grouping . nak yang jika belajar berkelompok hasilnya lebih Penggunaan metode Jigsaw Tim Ahli ini cocok dengan konsep dengan konsep transformasi karena sub-konsep ini dapat JurnalPendidikan Ekonomi dipecah-pecah serta sub-konsep yang satu dan yang lain tidak bertautan . ang satu bukan menjadi prasyarat yang lai. Penerapan metode jigsaw butuh kegigihan, insiatif, kreatifitas tersendiri bagi pendidik. Kerena butuh persiapan yang cukup mendalam baik persiapan Silabus. RPP dan perangkat lainnya, maupun pengorganisasian kelas dan peserta Manusia tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan masyarakat karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupannya kebutuhan-kebutuhan, maupun spiritual. Kebutuhan itu bersumber dari dorongandorongan alamiah yang dimiliki setiap manusia sejak lahir. Dalam memenuhi semua kebutuhan hidupnya manusia membutuhkan bantuan manusia lainnya. Sehingga terjadilah hubungan antar orang perorangan maupun kelompok untuk memenuhi kebutuhan hidup Oleh karena itu, diperlukan sesuatu yang dapat mengatur perilaku manusia ketika berhubungan dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di masyarakat. Kehidupan bermasyarakat merupakan proses kehidupan bagaimana seseorang dapat bersosialisasi, berinteraksi sesuai dengan nilainilai dan norma yang berlaku dalam kelompok Namun demikian proses yang paling dominan adalah proses bagaimana seseorang dapat berinteraksi dalam kelompok masyarakatnya untuk pemenuhan kebutuhan Seseorang tidak dapat hidup sendiri di muka bumi ini, bagaimanapun juga kehidupan selalu harus bergantung kepada orang di sekitar atau lingkungannya. Salah satu ciri manusia adalah selalu hidup bersama manusia lainnya. Kehidupan manusia sejak lahir di dunia sampai akhir hayat dikandung badan, terlibat di alam interaksi sosial. Pada saat masih bayi terlibat interaksi terutama dengan ibu atau Setelah besar terlibat interaksi dengan tetangga, teman-teman sepermainan. Sri Wahyu ISSN :24607274 E-ISSN :26858185 dan teman-teman sekolah. Setelah dewasa terlibat interaksi dengan teman-teman seprofesi dan seterusnya. Sangat sulit menemukan manusia yang menyendiri tanpa melakukan interaksi dengan manusia lain. Pada dasarnya manusia selalu ingin berkumpul dengan manusia lain, selalu ingin bertemu, berbicara atau ingin melakukan kegiatankegiatan lain dengan manusia. Melalui terbentuk sebagai makhluk sosial. Manusia disebut makhluk sosial, karena ia memiliki gregariuosness yaitu suatu naluri untuk selalu hidup dengan orang lain. Misalnya saja, nasi yang kita makan sehari-hari merupakan hasil kerja keras para petani, rumah yang menjadi tempat tinggal kita merupakan hasil dari kerja sama para pekerja bangunan atau mungkin tetangga kita yang sudah membantu untuk mendirikan rumah. Dengan demikian manusia harus Bertemunya seseorang dengan orang lain atau kelompok lainnya, kemudian mereka saling berbicara, bekerja sama, dan seterusnya untuk mencapai tujuan bersama. Kegiatan itu dapat dikatakan sebagai proses interaksi sosial. Interaksi sosial adalah hubunganhubungan antara orang perorangan, antara kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dan kelompok manusia. Dalam interaksi sosial, hubungan yang terjadi harus dilakukan secara timbal balik oleh kedua belah Artinya kedua belah pihak harus saling Jika yang satu bertanya maka dia menjawab, jika diminta bantuan dia membantu, jika diajak bermain dia ikut main. Dengan demikian interaksi sosial adalah hubungan yang terjadi antara manusia dengan manusia yang lain, baik secara individu maupun dengan kelompok. Manusia melakukan interaksi sosial dalam kehidupannya untuk memenuhi berbagai kebutuhan pokok . andang, pangan. JurnalPendidikan Ekonomi dan papa. , kebutuhan dan ketertiban, kebutuhan akan pendidikan dan kesehatan, kebutuhan-kebutuhan akan kasih sayang. Proses interaksi sosial akan terjadi apabila di antara pihak yang berinteraksi melakukan kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial dan komunikasi sosial /merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Tanpa adanya kedua syarat itu, interaksi sosial tidak akan terjadi. Melalui kontak dan komunikasi seseorang akan memberikan tafsiran pada perilaku orang lain, atau perasaan-perasaan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Berlangsungnya interaksi sosial di dalam masyarakat terdapat aturan yang mengatur perilaku manusia dalam Ada tiga jenis aturan, yaitu aturan mengenai ruang, mengenai waktu, dan mengenai gerak dan sikap tubuh. Aturan mengenai ruang, di mana terjadinya interaksi sosial tersebut. Misalnya, interaksi yang terjadi di rumah antara orang tua dengan anak, anak dengan anak. Interaksi di sekolah antara teman dengan teman, siswa dengan kepala sekolah, guru, dan karyawan. Interaksi di masyarakat antara teman sebaya dan dengan orang yang lebih tua. Aturan mengenai waktu, aturan mengenai kapan interaksi sosial itu Misalnya, interaksi sosial dulu dan Aturan mengenai gerak dan sikap tubuh, dalam interaksi sosial orang lain membaca perilaku kita, selain kata-kata kita, karena dalam interaksi tidak hanya memperhatikan apa yang dikatakan orang lain tetapi juga apa yang dilakukannya. Dengan menggunakan gerak dan sikap tubuh seperti, memicingkan mata, mengangkat bahu, menganggukkan kepala, mengacungkan ibu jari, mengangkat bahu, dan sebagainya. Model pembelajaran kooperatif model sebuah model kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar Sri Wahyu ISSN :24607274 E-ISSN :26858185 kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Dalam model pembelajaran jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengelolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari, dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya. Dalam proses belajar yang bermakna, untuk mencapai pengertian-pengertian baru dan retensi yang baik, materi-materi belajar selalu dan hanya dapat dipelajari bila dihubungkan dengan konsep-konsep, prinsip-prinsip serta informasi-informasi yang relevan yang telah dipelajari sebelumnya. Substansi serta sifat organisasi latar belakang pengetahuan ini mempengaruhi ketepatan serta kejelasan pengertian-pengertian baru yang ditimbulkan serta kemampuan memperoleh kembali pengertian-pengertian baru tersebut. Makin jelas, stabil serta terorganisasinya struktur kognitif siswa, proses belajar yang bermakna dan retensi makin mudah terjadi. Sebaliknya, struktur kognitif yang tidak stabil, kabur dan tidak terorganisasi dengan tepat, cenderung merintangi proses belajar yang bermakna dan (Slameto, 2003:122-. METODOLOGI PENELITIAN Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII-B SMPN-8 Dusun Selatan dengan jumlah 31 siswa. Mata pelajaran IPS pokok bahasan interaksi sosial. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian atau kegiatan ilmiah dan bermetode yang dilakukan oleh guru/peneliti di dalam kelas dengan mengunakan tindakan80 JurnalPendidikan Ekonomi tindakan untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran. Ilmiah yaitu suatu yang bersifat atau berada dalam keilmuan dan metode yaitu berfikir, objektif, rasional, sistematis berdasarkan fakta untuk menemukan, membuktikan, mengembangkan mengevaluasi suatu Penelitian tindakan dapat dipandang sebagai suatu siklus spiral dari penyusunan pengamatan . , dan refleksi yang selanjutnya mungkin diikuti dengan siklus spiral berikutnya. Dalam pelaksanaannya ada kemungkinan peneliti telah mempunyai . ang didasarkan pada pengalama. sehingga dapat langsung memulai tahap tindakan. Ada juga peneliti yang telah memiliki seperangkat data, pertamanya dengan kegiatan refleksi. Akan tetapi pada umumnya para peneliti mulai dari fase refleksi awal untuk melakukan studi merumuskan masalah penelitian. Selanjutnya diikuti perencanaan, tindakan, observasi, dan Data yang terkumpul lalu diolah. Pertama-tama data itu diseleksi atas dasar reliabilitas dan validitasnya. Data yang rendah reliabilitas dan validitasnya, data yang kurang lengkap digugurkan atau dilengkapi dengan Selanjutnya data yang telah lulus dalam seleksi itu lalu diatur dalam tabel, matriks, dan lain-lain agar memudahkan pengelolaan selanjutnya. Kalua mungkin pada penyusunan tabel pertama itu dibuat tabel induk . aster tabl. Jika tabel induk itu dapat dibuat, maka langkah-langkah selanjutnya akan lebih mudah dikerjakan, karena perhitunganperhitungan dan analisis dapat dilakukan berdasarkan tabel induk itu. Menganalisis data merupakan suatu langkah yang sangat kritis dalam penelitian. Peneliti harus memastikan pola analisis mana yang akan digunakannya, apakah analisis Sri Wahyu ISSN :24607274 E-ISSN :26858185 statistik ataukah non statistik. Pemilihan ini Analisis statistik sesuai dengan dikuantifikasikan, yaitu data dalam bentuk bilangan, sedang analisis non statistik sesuai untuk data deskriptif atau data textular. Data deskriptif sering hanya dianalisis menurut isinya, dan karena itu analisis macam ini juga disebut analisis isi . ontent analysi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa nilai rata-rata retensi belajar dari 31 siswa adalah sebesar 77,42. Dari data tabel di atas, juga dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mendapatkan nilai KKM . riteria ketuntasan minima. sebanyak 19 siswa atau 61,29%. Sedangkan yang mendapatkan nilai di bawah nilai KKM sebanyak 12 siswa atau 38,71%. Dari hasil penelitian pra siklus di atas, dapat diketahui bahwa secara klasikal atau ketuntasan kelas hanya mencapai 61,29% belum mencapai 75%. Maka peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian ke tahap siklus satu. Serta menerapkan model pembelajaran jigsaw untuk memperbaiki dan meningkatkan retensi belajar IPS materi interaksi sosial. Siklus I Pada siklus tahapan observasi ini, peneliti berusaha mengamati pelaksanaan model pembelajaran jigsaw pada pembelajaran IPS materi interaksi sosial. Terdapat beberapa kendala atau masalah yang terjadi. Selain itu, peneliti juga berusaha mengatasi setiap permsalahan yang terjadi pada saat memperbaikinya untuk siklus selanjutnya. Untuk lebih jelasnya berikut, peneliti sajikan . Adanya keenganan siswa untuk mengajari temannya Siswa yang telah pandai atau JurnalPendidikan Ekonomi pembelajaran interaksi sosial, ternyata ada yang merasa nervous atau kurang percaya diri untuk mengajari temannya yang belum atau kurang paham terkait materi ajar. Siswa-siswa tersebut tidak mau kalau nantinya dianggap sok pintar dan sok tahu. Tindakan guru untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memberikan penjelasan dan arahan yang komprehensif. Kurang aktif dalam pembelajaran Pada saat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, ternyata masih dijumpai adanya siswa yang kurang aktif. Misalnya: pada saat berdiskusi teman-temannya aktif dalam pembelajaran, namun ada siswa yang hanya Tindakan guru untuk menyelesaikan masalah ini adalah memotivasi siswa tersebut supaya lebih aktif dalam Selain itu, meminta temantemannya yang lain untuk mengajaknya berdiskusi, supaya pemahaman materi ajar dapat dikuasai oleh semua siswa. Berdasarkan hasil pengamatan ternyata masih banyak siswa yang belum aktif untuk melaksanakan model pembelajaran jigsaw. Selain itu, masih banyak siswa yang tidak pertanyaan yang diberikan. Pada saat berdiskusi, ternyata ada sebagian kelompok yang berbicara di luar materi pembelajaran. Sehingga perlu adanya penguasaan konsep, sikap ilmiah dan keterampilan ilmiah harus seimbang untuk mengaktifkan siswa. Oleh karena itu, peneliti memutuskan untuk melanjutkan pada siklus kedua, supaya hasil yang didapat semakin baik. Berdasarkan hasil observasi pada Nilai Retensi Belajar Siklus 1, diketahui bahwa nilai rata-rata retensi belajar dari 31 siswa adalah sebesar 78,13. Dari data tabel di atas, juga dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mendapatkan nilai KKM . riteria ketuntasan minima. sebanyak 22 siswa atau 70,97%. Sri Wahyu ISSN :24607274 E-ISSN :26858185 Sedangkan yang mendapatkan nilai di bawah nilai KKM sebanyak 9 siswa atau 29,03%. Dari hasil pengamatan ternyata masih banyak siswa yang belum aktif untuk melakukan belajar. Masih terdapat siswa yang kesulitan dalam memahami materi pembelajaran. Sebagian siswa ada yang malu mengutarakan pendapatnya saat berdiskusi. Selain itu, masih banyak siswa yang tidak berani bertanya maupun menjawab pertanyaan yang diberikan. Sehingga perlu adanya penguasaan konsep, sikap ilmiah dan keterampilan ilmiah harus seimbang untuk mengaktifkan siswa. Berdasarkan hasil pelaksanaan model pembelajaran jigsaw, ternyata belum dapat dilaksanakan secara maksimal. Hal ini terbukti dari hasil nilai berpikir siswa terkait interaksi sosial belum sesuai dengan harapan dan ketuntasan belajar tidak mencapai 75%. Oleh karena itu, peneliti memutuskan untuk melanjutkan siklus penelitian ke siklus berikutnya, yaitu siklus kedua. Siklus II Berdasarkan hasil observasi siklus II ini, peneliti mengamati pelaksanaan model pembelajaran jigsaw pada pembelajaran IPS materi interaksi sosial. Terdapat beberapa kendala atau masalah yang terjadi. Selain itu, peneliti juga berusaha mengatasi setiap permasalahan yang terjadi pada saat memperbaikinya untuk siklus selanjutnya. Masalah atau kendala pada siklus kedua ini dibandingan dengan siklus pertama. Ternyata masalah-masalah yang ada semakin berkurang dan dianggap tidak terlalu berarti, sehingga pelaksanaan model pembelajaran jigsaw semakin baik dan lancar serta siswa lebih semangat dalam mengikuti kegiatan belajar. Berdasarkan hasil observasi pada Nilai Retensi Belajar Siklus 2, diketahui bahwa nilai ratarata retensi belajar dari 31 siswa adalah sebesar 81,71. Dari data tabel di atas, juga dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mendapatkan nilai KKM . riteria ketuntasan JurnalPendidikan Ekonomi minima. sebanyak 27 siswa atau 87,10%. Sedangkan yang mendapatkan nilai di bawah nilai KKM sebanyak 4 siswa atau 12,90%. Pada siklus kedua ini terjadi peningkatkan retensi belajar yang cukup signifikan. Peningkatkan retensi belajar, salah satunya adalah mengadakan diskusi dalam kelompoknya, sehingga siswa yang belum paham mengenai materi pembelajaran tidak malu untuk bertanya pada temannya yang lebih menguasai tentang konsep tersebut. Upaya meningkatkan pemahaman dan penguasaan serta bimbingan guru dalam melaksanakan model pembelajaran jigsaw menunjukkan hasil yang memuskan. Hal ini terbukti dari retensi belajar dan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran IPS materi interaksi sosial dapat meningkat. Penelitian ini merupakan upaya membantu siswa meningkatkan retensi belajar IPS materi interaksi sosial dengan melaksanakan model pembelajaran jigsaw. Untuk merealisasikan usaha tersebut penelitian dilakukan melalui dua siklus yang terdiri dari empat komponen, yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Setiap pelaksanaan tindakan peneliti melakukan berbagai langkah sesuai dengan rencana perbaikan pembelajaran. Berikut pembahasan dari setiap pelaksanaan tindakan masingmasing siklus. Pada penelitian pra siklus nilai ratarata retensi belajar dari 31 siswa adalah 77,42. Jumlah mendapatkan nilai KKM . riteria ketuntasan minima. sebanyak 19 siswa atau 61,29%. Sedangkan yang mendapatkan nilai di bawah nilai KKM sebanyak 12 siswa atau 38,71%. Pada Siklus I, guru melakukan tes awal . re tes. sebagai tolak ukur kemampuan individu siswa dan untuk mengetahui kesiapan belajar siswa terhadap materi yang akan dipelajari, serta melakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Adapun hasil retensi belajar IPS materi Sri Wahyu ISSN :24607274 E-ISSN :26858185 interaksi sosial pada siklus I diperoleh data dapat diketahui bahwa nilai rata-rata retensi belajar dari 31 siswa adalah sebesar 78,13. Jumlah siswa yang mendapatkan nilai KKM . riteria ketuntasan minima. sebanyak 22 siswa atau 70,97%. Sedangkan yang mendapatkan nilai di bawah nilai KKM sebanyak 9 siswa atau 29,03%. Pada Siklus II, guru berupaya pembelajaran dengan membimbing siswa melaksanakan model pembelajaran jigsaw. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar siswa dapat terlibat secara aktif untuk menemukan sendiri pengetahuan tentang konsep interaksi sosial. Selain itu, siswa juga dituntut untuk dapat menyampaikan materi interaksi sosial pada teman-temannya sekelas. Pada siklus II ini diketahui bahwa nilai rata-rata retensi belajar dari 31 siswa adalah sebesar 81,71. Jumlah siswa yang mendapatkan nilai KKM . riteria ketuntasan minima. sebanyak 27 siswa atau 87,10%. Sedangkan yang mendapatkan nilai di bawah nilai KKM sebanyak 4 siswa atau 12,90%. Berdasarkan nilai rata-rata retensi belajar pra siklus adalah sebesar 77,42 kemudian pada siklus I menjadi 78,13 selanjutnya mengalami peningkatan pada siklus II adalah sebesar 81,71. Sehingga terdapat peningkatan nilai retensi belajar sebesar 0,71 dan 3,58. Ternyata hasil evaluasi menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Dengan demikian proses perbaikan pembelajaran yang dilakukan peneliti dapat terlaksana sesuai dengan tujuan perbaikan, sehingga retensi belajar siswa dapat meningkat melalui penerapan model pembelajaran jigsaw. Sedangkan terkait pelaksanaan model pembelajaran jigsaw pada materi interaksi sosial, siklus pertama mengalami kesulitan karena siswa tidak terbiasa menggunakannya. Dengan bimbingan, arahan dan petunjuk guru, maka pelaksanaan model pembelajaran jigsaw pada siklus kedua dapat dilakukan dengan baik JurnalPendidikan Ekonomi dan lancar. Berdasarkan hasil retensi belajar IPS melaksanakan model pembelajaran jigsaw yang diperoleh siswa Kelas VII-B SMPN 8 Dusun Selatan mulai siklus I sampai dengan siklus II terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dengan demikian dapat pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan retensi belajar IPS materi interaksi sosial. Untuk mengetahui lebih jelas terkait kenaikan retensi belajar, maka penulis sajikan hasil retensi belajar IPS materi interaksi sosial dengan melaksanakan model pembelajaran jigsaw yang diperoleh siswa Kelas VII-B SMPN 8 Dusun Selatan dalam bentuk grafik sebagai tindakan pada siklus pertama dan kedua hasilnya menjadi baik. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui retensi belajar IPS materi interaksi sosial yang diperoleh siswa Kelas VII-B SMPN 8 Dusun Selatan dengan melaksanakan model pembelajaran jigsaw mulai pra siklus sampai dengan siklus II terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu dari kenaikan nilai rata-rata retensi belajar pra siklus adalah sebesar 77,42 kemudian pada siklus I menjadi 78,13 selanjutnya mengalami peningkatan pada siklus II adalah sebesar 81,71. Sehingga terdapat peningkatan nilai retensi belajar sebesar 0,71 dan 3,58. Dengan demikian retensi belajar IPS materi interaksi sosial yang diperoleh siswa Kelas VII-B SMPN 8 Dusun Selatan mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah dilaksanakan model pembelajaran jigsaw. DAFTAR PUSTAKA