Jurnal Peduli Masyarakat Volume 6 Nomor 3. September 2024 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM IMPLEMENTASI TERAPI MUSIK DALAM PENURUNAN SKALA NYERI PADA PASIEN POST OPERASI SECTIO CAESAREA Lestari Meilinda*. Dwi Novitasari. Emiliani Elsi Jerau Fakultas Kesehatan. Universitas Harapan Bangsa. Jl. Raden Patah No. Kedunglongsir. Ledug. Kembaran. Banyumas. Jawa Tengah 53182. Indonesia *lestarimeilinda0@gmail. ABSTRAK Persalinan yang disebut sectio caesarea melibatkan sayatan pada abdomen . dan dinding rahim . untuk melahirkan bayi. Pasien yang telah melakukan operasi sectio caesarea akan mengalami nyeri seiring efek obat biusnya habis. Terapi musik adalah salah satu metode non-farmakologi yang diaplikasikan untuk mengatasi nyeri. Tujuan dari PkM ini adalah membantu menurunkan skala nyeri pasien post operasi sectio caesarea dengan menggunakan terapi musik. Mitra program PkM ini adalah RSI Banjarnegara dengan jumlah 20 peserta yang telah menjalani sectio caesarea. Metode PkM ini adalah mendemonstrasikan terapi musik dimana sebelum implementasi, dilakukan pre-test untuk mengukur skala nyeri dengan Numeric Rating Scale (NRS), memberikan implementasi terapi musik klasik Mozart selama 15 menit, kemudian dilakukan post-test untuk mengukur kembali skala nyeri dengan NRS. Analisa data PkM ini adalah dengan mengidentifikasi distribusi frekuensi karateristik usia, riwayat operasi dan skala nyeri pre dan post serta uji deskriptif statistik untuk mengetahui rata-rata pre dan post penurunan skala nyeri pada pasien post sectio caesarea. Hasil PkM menunjukkan penurunan intensitas nyeri, dimana sebelum implementasi skala nyeri mayoritas pada nyeri sedang yaitu sebanyak 14 peserta . %), setelah implementasi skala nyeri berada pada nyeri ringan sejumlah 15 peserta . %), penurunan rata-rata nyeri sebanyak 2,25. Kata kunci: nyeri. sectio caesarea. terapi musik IMPLEMENTATION OF MUSIC THERAPY IN REDUCING PAIN SCALE IN POSTOPERATIV SECTIO CAESAREA PATIENTS ABSTRACT A delivery called sectio caesarea involves an incision in the abdomen . and uterine wall . to deliver the baby. Patients who have undergone cesarean section surgery will experience pain as the effects of the anesthetic wear off. Music therapy is one of the non-pharmacological methods applied to overcome pain. The purpose of this PkM is to help reduce the pain scale of postoperative sectio caesarea patients using music therapy. The partner of this PkM program is RSI Banjarnegara with a total of 20 participants who have undergone sectio caesarea. The method of this PkM is to demonstrate music therapy where before implementation, a pre-test is carried out to measure the pain scale with the Numeric Rating Scale (NRS), provide the implementation of Mozart classical music therapy for 15 minutes, then a post-test is carried out to measure the pain scale again with the NRS. This PkM data analysis is to identify the frequency distribution of age characteristics, history of surgery and pre and post pain scales and descriptive statistical tests to determine the average pre and post decrease in pain scale in post sectio caesarea patients. The results of PkM show a decrease in pain intensity, where before the implementation of the pain scale the majority were in moderate pain, namely 14 participants . %), after the implementation of the pain scale was in mild pain for 15 participants . %), a decrease in average pain of Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Keywords: music therapy. sectio caesarea PENDAHULUAN Janin dikeluarkan melalui prosedur bedah dengan cara membuat sayatan pada dinding rahim dengan ketentuan rahim tetap utuh dan janin memiliki berat lebih dari 500 gram dikenal sebagai sectio caesarea (Syaiful & Fatmawati, 2. Indikasi medis persalinan sectio caesarea diantaranya yaitu plasenta previa, kelainan presentasi janin, dan kondisi lain yang bisa mengancam hidup ibu dan bayi (Cunninghan et al. , 2. Kontraksi uterus yang menimbulkan perubahan pada serviks seperti pembukaan dan penipisan adalah bagian dari prosedur persalinan. Prosedur ini berakhir melalui kelahiran plasenta yang lengkap (Mustika et al. , 2. Anestesi regional menjadi pilihan yang umum digunakan untuk prosedur persalinan sectio caesarea dengan menggunakan teknik anestesi spinal. Anestesi spinal adalah prosedur pembiusan yang dilakukan melalui injeksi obat anestesi lokal ke area subarachnoid (Rehatta et al. , 2. Pasien yang telah menjalani operasi sectio caesarea akan mengalami nyeri seiring hilangnya efek obat bius (Solehati & Kosasih, 2. Nyeri bersifat subjektif dan unik bagi setiap orang. Selain menguras energi seseorang, rasa sakit juga dapat memengaruhi hubungan satu sama lain. Jika rasa sakit tidak ditangani secara efektif, rasa sakit dapat menimbulkan dampak fisik, psikologis, sosial, dan finansial yang serius (Faisol, 2. Nyeri yang dirasakan oleh ibu yang mengalami operasi sectio caesarea jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan kecemasan, emosional, dan depresi. Ada dua jenis penanganan nyeri yang dapat dilakukan pada pasien sectio caesarea untuk mengurangi tingkat nyeri yaitu secara farmakologi dan non farmakologi. Penanganan farmakologi mencakup penggunaan analgetik berbasis opioid yang meredakan nyeri melalui reseptor opioid dalam tubuh. Hipnotis, terapi musik, relaksasi nafas dalam, dan distraksi adalah teknik non-farmakologi (Rehatta et al. , 2. Teknik distraksi adalah salah satu pendekatan non farmakologi yang dapat diterapkan oleh perawat untuk meredakan nyeri dengan memanfaatkan musik sebagai alat bantu. Musik dapat memengaruhi kondisi kesadaran seseorang melalui berbagai elemen seperti suara, ketenangan, dimensi spasial, dan pengaruh waktu. Salah satu cara untuk mencapai efek relaksasi yang optimal, terapi musik sebaiknya dilakukan minimal selama 15 menit. Dalam konteks perawatan gawat darurat, mendengarkan musik terbukti efektif dalam meredakan sensasi nyeri (Potter & Perry, 2. Musik dapat menurunkan kadar kortisol yang sering meningkat akibat stres. Selain itu, musik juga memicu pelepasan endorfin, yang dikenal sebagai hormon yang menimbulkan perasaan bahagia. Endorfin ini berfungsi untuk meningkatkan rasa nyaman dan mengurangi persepsi rasa sakit (Natalina, 2. Terdapat beberapa contoh terapi musik dan rekaman suara yang dapat diterapkan antara lain terapi musik klasik seperti karya Mozart, mendengarkan Al-Qur'an, dan terapi musik relaksasi. Terapi musik ini memiliki manfaat yang signifikan, yakni dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan, khususnya bagi ibu, dengan memberikan stimulasi yang mendukung peningkatan ketenangan dan menciptakan suasana berpikir positif (Argaheni. et al. , 2. Terapi musik klasik Mozart mampu menangani rasa nyeri dengan mengacu pada teori Gate Control yang menyatakan bahwa kecenderungan nyeri mampu dikontrol atau dikendalikan oleh prosedur pertahanan di sistem saraf pusat. Menurut teori ini, kecenderungan nyeri dikirim ketika prosedur pertahanan terbuka serta dikendalikan saat prosedur pertahanan tertutup. Metode yang berguna menghentikan prosedur pertahanan ini yaitu mendorong sekresi endorfin yang berfungsi untuk Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group menghentikan rangsangan nyeri. Musik klasik Mozart dapat merangsang produksi endorfin, yaitu zat yang mirip dengan morfin yang diproduksi secara alami oleh tubuh, sehingga berperan dalam mengurangi sensasi nyeri (Oktaverina, 2. Penelitian sebelumnya mengaplikasikan metode terapi musik klasik Mozart yang berguna meredakan tingkat nyeri pada pasien yang melakukan operasi , dengan pelaksanaan terapi ini dilakukan 4-5 jam setelah operasi. Terapi musik diaplikasikan untuk pasien yang merasa sakit dengan berbagai tingkatan nyeri, mulai dari nyeri ringan hingga nyeri berat. Terapi musik diimplementasikan dengan durasi sekitar 15 menit menggunakan headphone untuk mencapai efek terapeutik. Hasil studi ini membuktikan dengan uji wilcoxon bahwa nilai Z . dan nilai p value . < . Terdapat peredaan intensitas nyeri setelah pasien mendapatkan intervensi dari terapi musik pasca operasi (Sulistiyarini & Purnanto, 2. Hasil pengolahan data mengenai penurunan intensitas kecemasan pada pasien sectio caesarea dengan terapi musik klasik Mozart diberikan menunjukkan nilai kecemasan sebelum intervensi dengan rata-rata sebesar 3,72 dan setelah intervensi nilai rata-rata kecemasan sebesar 1,80 (Novitasari. Putri, et , 2. Hal tersebut sejalan dengan penelitian dampak terapi musik terhadap tingkat nyeri yang berkurang post operasi laparotomi mengungkapkan sebanyak 6,67 tingkat nyeri sebelum terapi musik diberikan dan setelah terapi musik diberikan sebanyak 4,8. Terapi musik membuktikan efektif pada penurunan intensitas nyeri post operasi laparotomi (Novitasari. Aprilianto, et al. , 2. Pada bulan November 2023. RSI Banjarnegara mencatat sebanyak 72 kasus operasi caesar. Dari jumlah tersebut di dapatkan 8 pasien pasca operasi yang masuk dalam responden, yang mana 7 pasien mengalami nyeri pasca operasi. Hasil dari survei primer yang dilakukan terhadap 8 pasien tersebut, didapatkan bahwa 4 pasien merasakan rasa sakit dengan skaala berat, dua pasien merasaakan nyeri sedang, dan 1 pasien mengalami nyeri ringan. Teknik yang digunakan untuk mengatasi nyeri pasca operasi di RSI Banjarnegara yaitu menggunakan teknik nonfarmakologi berupa relaksasi napas dalam. Penulis tertarik untuk mengimplementasikan terapi nonfarmakologi tambahan yaitu terapi musik pada kegiatan pengabdian masyarakat dengan tujuan untuk menurunkan skala nyeri yang dirasakan pasien pasca operasi caesar. Tujuan dilakukan PkM ini yaitu untuk mengetahui karakteristik pasien, seperti usia dan riwayat operasi, serta sosialisasi skala nyeri sebelum dan sesudah terapi musik. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk mengetahui seberapa besar rata-rata turunnya intensitas nyeri pada pasien pasca operasi caesar di RSI Banjarnegara. METODE Survei lapangan tanggal 23 November 2023 digunakan pada tahap persiapan dan koordinasi untuk merencanakan kegiatan. Pada proses koordinasi dengan RSI Banjarnegara, penulis menegaskan rincian program, serta sarana dan prasarana yang diperlukan. Identifikasi beserta antisipasi beberapa unsur yang berdampak pada pelaksanaan kegiatan. Program pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini telah mendapatkan izin dari RSI Banjarnegara dengan nomor 1167/03/RSIB/VII/2024 dan persetujuan etik berdasarkan kode etik nomor B. LPPMUHB/611/06/2024. Program PkM diselenggarakan mulai tanggal 8 Juli sampai dengan 20 Juli 2024 di RSI Banjarnegara. Pada metode skrining melibatkan 23 pasien yang akan melakukan operasi caesar, yang mana 20 pasien bersedia ikut serta sebagai peserta, sedangkan 3 pasien menolak untuk ikut serta dalam kegiatan PkM. Alasan pasien menolak karena beberapa faktor, yaitu kondisi pasien yang tidak kooperatif, pasien lebih suka mendengar murottal dan keluarga Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group pasien yang tidak setuju. Metode pengambilan kriteria partisipan dengan cara pasien post operasi caesar yang bersedia berpartisipasi dengan menandatangani informed consent. Tahap pelaksanaan kegiatan PkM, diawali dengan kegiatan pre-test guna menilai skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Kemudian peserta diajarkan dan dibimbing untuk menerapkan terapi musik klasik Mozart selama 15 menit menggunakan headphone. Setelah implementasi terapi musik, dilakukan post-test dengan pengukuran skala nyeri kembalimenggunakan NRS dan mengobservasi kondisi pasien. Skala nyeri menurut NRS dikategorikan dalam lima tingkatan yaitu tidak nyeri . , nyeri ringan . , nyeri sedang . , nyeri berat . , dan nyeri berat . (Mangku & Senapathi, 2. Tahap monitoring dan evaluasi bertujuan untuk mengetahui perubahan skala nyeri pasien sesudah diaplikasikan terapi musik klasik Mozart. Selama pelaksanaan kegiatan, tidak ada peserta yang mengalami efek Analisa data program PkM ini menggunakan distribusi frekuensi untuk mengetahui frekuensi pada karateristik usia, riwayat operasi dan skala nyeri pre dan post serta uji deskriptif statistik untuk mengetahui rata-rata pre dan post tingkat penurunan skala nyeri pada pasien post sectio caesarea. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini merupakan dokumentasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dalam penerapan terapi musik yang telah dilaksanakan. Gambar 1. Proses tahap pelaksanaan PkM Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Tabel 1. Distribusi Frekuensi Peserta Berdasarkan Usia dan Riwayat Operasi . Karateristik Usia Tidak Beresiko . -35 tahu. Beresiko (>35 tahu. Riwayat Operasi Tidak Ada Ada Tabel 1 menunjukkan bahwa peserta PkM mayoritas berusia 20-35 tahun yaitu 16 peserta . %) dan mayoritas peserta tidak memilik riwayat operasi yaitu 14 peserta . %). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Skala Nyeri Sebelum dan Setelah Implementasi Terapi Musik . Karateristik Nyeri Nyeri Ringan . Nyeri Sedang . Nyeri Berat . Nyeri Hebat . Pre Post Tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas peserta sebelum diberikan intervensi skala nyeri berada pada kategori sedang sejumlah 14 peserta . %) dan setelah diberikan intervensi skala nyeri berada pada kategori ringan sejumlah 15 peserta . %). Tabel 3. Distribusi Rata-rata Tingkat Penurunan Skala Nyeri pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarae . Implementasi Terapi Musik Pre Post Penurunan Tabel 3 menunjukkan hasil sebelum intervensi diberikan rata-rata nilai skala nyeri peserta adalah 5,1 dan setelah intervensi nilai rata-rata skala nyeri sebesar 2,9. Sehingga disimpulkan rata-rata penurunan skala nyeri pada peserta sebanyak 2,25. Karateristik Peserta Pengabdian kepada Masyarakat Tabel 1 mengungkapkan bahwa peserta PkM mayoritas berusia 20-35 tahun yaitu 16 peserta . %). Hal tersebut sejalan dengan penelitian mengenai peredaan nyeri pada ibu post sectio caesarea pasca intervensi biologic nurturing baby led feeding menunjukkan bahwa dari 41 peserta, mayoritas berusia 20-35 tahun sejumlah 32 peserta . ,1%) (Rini & Susanti, 2. Penelitian mengenai intensitas nyeri pasca operasi sectio caesarea berhubungan dengan usia setelah menjalani teknik relaksasi nafas dalam mengetahui bahwa insiden sectio caesarea paling sering terjadi pada responden berusia 20-35 tahun yaitu sejumlah 17 peserta . ,8%) dari pada usia yang lebih tua yaitu >35 tahun sejumlah 11 peserta . ,2%) (W. & Sugathot, 2. Risiko yang lebih tinggi dapat dialami oleh ibu berusia lebih dari 35 tahun yang menjalani operasi sectio caesarea dapat meningkatkan risiko penyakit pada usia lanjut seperti hipertensi, diabetes melitus, anemia, dan penyakit kronis lainnya. Di sisi lain, risiko karena organ kewanitaannya belum berkembang sempurna terjadi pada ibu yang berusia kurang dari 20 tahun Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group sehingga dapat membahayakan janin dan ibu (Mochtar, 2. Berdasarkan hasil PkM ini dan didukung oleh literatur maupun penelitian terdahulu maka dapat disimpulkan bahwa prevelensi sectio caesarea yang tinggi pada kelompok usia 20-35 tahun dibandingkan usia <20 dan >35 Hal tersebut terjadi karena usia <20 alat reproduksi belum matang seperti panggul dan rahim masih kecil, sedangkan usia >35 telah mengalami penurunan fungsi organ tubuh. Berdasarkan riwayat operasi peserta PkM mayoritas riwayat operasi peserta belum pernah operasi sebelumnya yaitu 14 peserta . %). Hal tersebut sejalan dengan penelitian tentang hubungan mobilisasi dini dengan intensitas nyeri luka pada ibu post sectio caesarea menunjukkan bahwa pasien yang mempunyai riwayat operasi sebelumnya sebanyak 11 peserta dibandingkan dengan yang belum pernah menjalani tindakan operasi sebanyak 23 peserta (Syarifah et al. , 2. Penelitian terdahulu tentang hubungan antara riwayat operasi serta komplikasi kehamilan terhadap tindakan sectio caesarea mengungkapkan bahwa sebanyak 86 peserta . ,9%) yang belum pernah operasi, sedangkan yang pernah menjalani operasi yaitu sebanyak 19 peserta . ,1%) (Sudarsih et al. , 2. Individu yang telah mengalami berbagai jenis pengalaman dan rasa sakit akan memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap nyeri. Oleh karena itu, seseorang yang sudah terbiasa dengan rasa sakit akan lebih siap dan dapat mengantisipasi rasa sakit dengan lebih mudah (Sudarsih et al. , 2. Penelitian ini konsisten dengan studi mengenai efek self-healing mengenai peredaan tingkat nyeri pada pasien pasca operasi. Responden yang belum pernah menjalani operasi menunjukkan tingkat keparahan nyeri yang lebih tinggi yaitu sebanyak 39 . %) daripada pasien yang telah menjalani operasi sebelumnya (Redho et al. , 2. Berdasarkan hasil PkM ini dan didukung oleh literatur maupun penelitian terdahulu maka dapat disimpulkan bahwa pasien yang pernah mengalami tindakan operasi sebelumnya memiliki intensitas nyeri yang lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak pernah mengalami tindakan operasi sebelumnya ini disebabkan karena nyeri yang dialami pasca tindakan operasi sebelumnya dapat berhasil untuk dihilangkan, maka akan lebih mudah untuk individu tersebut melakukan tindakan yang diperlukan dalam menghilangkan nyeri yang dirasakan. Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah Implementasi Terapi Musik Berdasarkan tabel 2 dan dan tabel 3, sebelum implementasi terapi musik mayoritas peserta pada skala nyeri sedang . yaitu 14 peserta . %) dengan rata-rata skor 5,1, dan setelah implementasi terapi musik mayoritas peserta pada skala nyeri ringan . yaitu 15 peserta . %) dengan rata-rata skor 2,9. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian mengenai dampak terapi musik mengenai tingkat nyeri yang berkurang post operasi sectio caesarea pada ibu nifas menunjukkan bahwa sebelum intervensi dilakukan sebanyak 11 peserta . ,3% ) yang mengalami nyeri sedang dan nyeri berat sebanyak 4 peserta . ,7%). Setelah intervensi dilakukan sebanyak 10 peserta mengalami peredaan nyeri menjadi nyeri ringan . ,7%) dan nyeri sedang sebanyak 5 peserta . ,3%) (Indah et al. , 2. Penelitian tentang efektivitas terapi musik terhadap penurunan nyeri pada pasien post operasi membuktikan terdapat perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah terapi musik. Uji statistik membuktikan bahwa terapi musik berdampak pada peredaan nyeri pasien yang telah menjalani operasi di ruang perawatan bedah Rumah Sakit Umum Anutapura Palu dengan hasil nilai p value 0,001 < 0,05 (Mutmainnah & Rundulemo. Penelitian mengenai hubungan antara tingkat nyeri terhadap intervensi terapi musik yang dialami pasien yang telah menjalani sectio caesarea menyatakan bahwa nilai rata-rata nyeri Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group responden menurun dari 2,00 sebelum intervensi menjadi 1,31 setelah intervensi, membuktikan keberhasilan intervensi terapi musik menurunkan skala nyeri (Tarigan et al. , 2. Penggunaan musik memiliki berbagai manfaat, antara lain menenangkan, mempercepat proses pemulihan, peningkatan fungsi mental, serta terciptanya rasa sejahtera. Selain itu, terapi musik dapat memengaruhi fungsi fisiologis seperti pernapasan, detak jantung, dan tekanan darah. Kontribusi musik juga dapat mengurangi kadar kortisol yang meningkat selama stres. Selain itu, musik memicu keluarnya endorfin, yang dikenal sebagai hormon bahagia, dan berfungsi untuk mengurangi sensasi nyeri (Natalina, 2. Musik klasik Mozart memiliki ciri khas berupa nadanada lembut dan tempo sekitar 60 ketukan per menit yang mampu memicu gelombang alfa di otak sehingga menghasilkan perasaan tenang dan nyaman bagi pendengarnya. Dampak positif dari musik ini sangat bermanfaat bagi kesehatan. Keunggulan musik klasik Mozart dibanding jenis musik klasik lainnya terletak pada melodinya dan frekuensinya yang tinggi sehingga mampu merangsang kreativitas dan motivasi otak (Rositawati & Sari. , 2. Penggunaan musik klasik ciptaan Wolfgang Amadeus Mozart ini kerap direkomendasikan oleh berbagai peneliti, terpenting untuk tujuan medis, yang telah membuktikan memiliki efek positif yang signifikan bagi perkembangan ilmu kesehatan (Rositawati & Sari. , 2. Terapi musik bertujuan untuk mendukung individu mengekspresikan perasaan mereka, mendukung rehabilitasi fisik, memengaruhi suasana hati dan emosi, serta memperbaiki daya ingat. Selain itu, terapi musik memberikan kesempatan unik untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan emosional. Oleh karena itu, diharapkan bahwa terapi musik dapat bermanfaat mengurangi stres, protektif terhadap penyakit, dan meredakan nyeri (Palele, 2. SIMPULAN Program PkM ini berjalan dengan lancar dan memenuhi tujuan yang ingin dicapai sebelumnya yaitu mengurangi intensitas nyeri pada pasien post operasi sectio caesarea di RSI Banjarnegara setelah diberikan implementasi terapi musik klasik Mozart. Peserta PkM berjumlah 20 orang dengan mayoritas berusia 20-35 tahun yaitu 16 peserta . %) dan mayoritas peserta tidak memilik riwayat operasi yaitu 14 peserta . %). Hasil PkM menunjukkan sebelum implementasi tingkat nyeri mayoritas pada nyeri sedang . yaitu sebanyak 14 peserta . %) dengan rata-rata 5,1. Setelah diberikan implementasi terapi musik berada pada kategori nyeri ringan . sejumlah 15 peserta . %) dengan rata-rata 2,9. Berdasarkan hasil program PkM ini, disimpulkan bahwa implementasi terapi musik klasik Mozart merupakan salah satu metode yang dapat diaplikasikan dalam upaya meredakan intensitas nyeri yang timbul pada pasien khususnya pasien post operasi sectio caesarea. DAFTAR PUSTAKA