Jurnal Media Pertanian, 8. Oktober 2023, pp. Media Komunikasi Hasil Penelitian dan Review Literatur Bidang Ilmu Agronomi Jagro ISSN 2503-1279 (Prin. | ISSN 2581-1606 (Onlin. | DOI 10. 33087/jagro. Publisher by : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Batanghari Uji Infektivitas Tobacco Mosaic Virus (TMV) dan Cucumber Mosaic Virus (CMV) pada Chaenopodium amaranticolor Infectivity Test of Tobacco Mosaic Virus (TMV) and Cucumber Mosaic Virus (CMV) on Chaenopodium amaranticolor *1Siti Shofiya Nasution, 2Raichan Izzati, 3Durrah Hayati Jurusan Proteksi Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Syiah Kuala Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Syiah Kuala Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Kopelma Darussalam Banda Aceh *1e-mail korespondensi: sitishofiyanasution@usk. Abstract. The infectivity test is one of the completeness in knowing the physical properties of the virus. Determination of the physical properties of the virus can be done by: Thermal inactivation point (TIP), in vitro resistance (Longevity in vitro / LIV), and dilution end point (DEP). The purpose of this study was to determine the infectivity of TMV and CMV in sap through LIV. DEP, and TIP. LIV testing is done by sap incubation until the test time . hours, 6 hours, and 24 hour. DEP test is done by diluting sap . ot diluted, 10-1, 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, 10-6, 10-. , while TIP test is done by heating sap at room temperature, 50oC, 70oC, 90oC for 10 minutes. The results of this study show TMV is stable compared to CMV. TMV is still infectious in sap storage for 24 hours, while CMV is not infectious between 6-24 hours after incubation. The cutoff point of sap TMV dilution is between 10-5 and 10-6, while CMV has been unable to cause symptoms in indicator plants at dilutions between 10-1 and 10-2. TMV is still infectious at 90oC temperature treatment, while CMV inactivation hot spots are 40oC and 50oC. Keywords: infectivity. TMV. CMV. Chaenopodium amaranticolor Abstrak. Uji infektivitas merupakan salah satu kelengkapan dalam mengetahui sifat fisik virus. Penentuan sifat fisik virus dapat dilakukan dengan melakukan pengujian titik panas inaktivasi (Thermal inactivation point/TIP), ketahanan in vitro (Longevity in vitro/LIV), dan titik batas pengenceran (Dilution end poin/DEP). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui infektivitas TMV dan CMV dalam sap melalui LIV. DEP, dan TIP pada tanaman Chaenopodium amaranticolor. Pengujian LIV dilakukan dengan inkubasi sap sampai waktu pengujian . jam, 6 jam, dan 24 ja. Uji DEP dilakukan dengan melakukan pengenceran sap . idak diencerkan, 10-1, 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, 10-6, 10-. , sedangkan uji TIP dilakukan dengan memanaskan sap pada suhu ruang, 50oC, 70oC, 90oC selama 10 menit. Hasil penelitian ini menunjukkan TMV bersifat stabil dibandingkan dengan CMV. TMV masih bersifat infeksius pada penyimpanan sap 24 jam, sedangkan CMV sudah tidak bersifat infeksius antara 6 - 24 jam setelah inkubasi. Titik batas pengenceran sap TMV adalah antara 10-5 dan 10-6, sedangkan CMV sudah tidak dapat menimbulkan gejala pada tanaman pada pengenceran antara 10-1 dan 10-2. TMV masih bersifat infeksius pada perlakuan suhu 90oC, sedangkan titik panas inaktivasi CMV adalah 40oC dan 50oC. Kata kunci: infektivitas. TMV. CMV. Chaenopodium amaranticolor PENDAHULUAN Virus tanaman merupakan salah satu organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang memiliki dampak yang signikan terhadap tanaman budidaya. Virus pada tanaman dapat memberikan pengaruh penurunan hasil panen, penurunan kualitas produk, dan menghambat pertumbuhan. Virus dapat menyebar cepat dari tanaman yang terinfeksi ke tanaman yang sehat salah satunya melalui cairan . Penularan virus melalui cairan . dapat digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi virus. Pengujian sifat ini sebenarnya termasuk dalam uji infektivitas virus. Tumbuhan uji yang digunakan dapat bereaksi sistemik atau bereaksi hipersensitif. Pada umumnya digunakan tumbuhan yang bereaksi hipersensitif dan infektivitas virus setelah diperlakukan dinyatakan dalam jumlah lesion lokal yang terbentuk atau tidak adanya gejala pada tanaman uji. Sifat-sifat virus dalam sap juga ditujukan untuk mengetahui stabilitasnya dalam sap (Wahyuni 2. Penentuan sifat fisik virus dapat dilakukan dengan: titik panas inaktivasi (Thermal inactivation poin. , ketahanan in vitro (Longevity in vitr. , dan titik batas pengenceran (Dilution end poin. Titik panas inaktivasi (Thermal inactivation/TIP) adalah suhu yang diperlukan untuk menonaktifkan virus dalam cairan . sepenuhnya dalam 10 menit. Stabilitas virus diuji dengan menghomogenisasi jaringan yang terinfeksi dengan sedikit buffer atau larutan penyangga. Suhu tertinggi dimana tidak muncul gejala pada tanaman uji yang diinokulasi adalah TIP virus tersebut. Ketahanan in vitro (Longevity in vitro/LIV) adalah lamanya waktu infektif dalam cairan/sap yang disimpan di suhu ruang. Titik batas pengenceran (Dilution end point/ DEP) adalah titik Siti Shofiya Nasution. Raichan izzati, dan Durrah Hayati. Uji Infektivitas Tobacco Mosaic Virus (TMV) dan Cucumber Mosaic Virus (CMV) pada Chaenopodium amaranticolor pengenceran tertinggi cairan/sap tanaman dimana virus tersebut masih dapat menular. Batas pengenceran dinyatakan dalam dua pengenceran, antara pengenceran tertinggi dimana virus masih menular dan pengenceran tertinggi berikutnya (Nurhayati 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui infektivitas TMW dan CMV dalam sap melalui ketahanan in vitro (Longevity in vitro/LIV), titik batas pengenceran (Dilution end point/DEP), dan titik panas inaktivasi (Thermal inactivation point/TIP). METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2015 di Laboratorium Pendidikan 1. Departemen Proteksi Tanaman. Institut Pertanian Bogor. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tanaman terinfeksi Tobacco mosaic virus (TMV), tanaman terinfeksi Cucumber mosaic virus (CMV), buffer fosfat, tanaman indikator (Chaenopodium amaranticolo. Sedangkan alat yang digunakan adalah tabung reaksi, gelas ukur, waterbath, thermometer, mortar dan pistil. Uji ketahanan in vitro (Longevity in vitr. Uji ketahanan in vitro dilakukan dengan menggerus daun tanaman terinfeksi TMV dan CMV dalam buffer fosfat (TMV= 1:200 b/v. CMV= 1:10 b/. secara terpisah. Kemudian dipipet sebanyak 1 ml ke dalam masing-masing tabung 5 ml. Tabung ditutup dengan alumunium foil dan diinkubasi sampai waktu pengujian . jam, 6 jam, dan 24 Setelah itu, sampel uji diinokulasi pada tanaman indicator, dimana masing-masing perlakuan terdiri dari 3 tanaman uji. Lesio lokal yang terbentuk dihitung secara manual pada tiap perlakuan penyimpanan. Uji titik batas pengenceran virus (Dilution end poin. Uji titik batas pengenceran virus dilakukan dengan menggerus daun tanaman terinfeksi virus (TMV dan CMV) dalam buffer fosfat (TMV= 1:200 b/v. CMV= 1:10 b/. secara terpisah. Kemudian dilakukan pengenceran berseri dengan titik batas pengenceran (Tidak diencerkan, 10-1, 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, 10-6, 10-. Setelah itu, sampel uji diinokulasi pada tanaman indikator sesuai perlakuan, dimana masing-masing perlakuan terdiri dari 3 tanaman uji. Lesio lokal yang terbentuk dihitung secara manual pada tiap pengenceran. Uji titik panas inaktivasi virus (Thermal inactivation poin. Uji titik panas inaktivasi virus dilakukan dengan menggerus daun tanaman terinfeksi virus (TMV dan CMV) dalam buffer fosfat (TMV= 1:200 b/v. CMV= 1:10 b/. secara terpisah. Sap dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 10 ml. Kemudian tabung dimasukkan ke dalam penangas . uhu ruang, 50oC, 70oC, 90oC) selama 10 menit. Tabung didinginkan dengan air mengalir. Sap diinokulasikan ke tanaman indikator Chaenopodium amaranticolor, dimana masing-masing perlakuan terdiri dari 3 tanaman uji. Lesio lokal yang terbentuk dihitung secara manual pada tiap suhu perlakuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Ketahanan in vitro (Longevity in vitro/LIV) Pengujian LIV dilakukan untuk melihat kemampuan suatu virus dalam sap terhadap lama penyimpanan pada suhu ruang untuk dapat menginfeksi tanaman. Semakin lama penyimpanan yang dilakukan maka semakin menurun jumlah lesio lokal (Gambar . Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh ketananan in vitro pada sap TMV masih bersifat infeksius pada peyimpanan selama 1 hari, sedangkan pada sap CMV terlihat adanya penurunan pada penyimpanan selama 1 hari. Hal ini mungkin dikarenakan TMV memiliki sifat yang lebih stabil dibandingkan dengan CMV. Menurut Mughal et al. TMV masih bersifat infeksius selama penyimpanan sap 30 hari. Virus menjadi inaktif setelah 4-6 minggu dalam cairan/sap, namun pada cairan/sap virus tanpa bakteri . dapat bertahan sampai lima tahun dan apabila pada daun yang terinfeksi TMV dikeringkan, maka akan bertahan selama 50 tahun (Agrios 2. Siti Shofiya Nasution. Raichan izzati, dan Durrah Hayati. Uji Infektivitas Tobacco Mosaic Virus (TMV) dan Cucumber Mosaic Virus (CMV) pada Chaenopodium amaranticolor JUMLAH LESIO LOKAL Jumlah Lesio TMV Jumlah Lesio CMV 0 JAM 6 JAM 24 JAM WAKTU PENYIMPANAN Gambar 1. Grafik ketahanan in vitro sap TMV dan CMV pada waktu penyimpanan 0 jam, 6 jam, dan 24 jam Pada sap CMV sudah tidak bersifat infeksius selama penyimpanan antara 6 jam sampai 24 jam (Gambar . Menurut Park et al. , bahwa ketahanan in vitro CMV adalah selama 3-4 hari. Fawzy et al. menyebutkan bahwa ketahanan in vitro strain CMV adalah 48-60 jam. Kiranmai et al. menyatakan bahwa ketahanan in vitro CMV dalam 3-4 hari. Lee et al . menemukan ketahanan in vitro CMV adalah 2-3 hari. El-Baz . menunjukkan bahwa ketahanan in vitro CMV adalah 4 hari, dan penelitian Megahed . menyatakan ketahanan in vitro CMV adalah 4 hari. Shahwan . , pengaruh penyimpanan sap infeksius selama 10 hari pada suhu . A3oC) menentukan infeksius CMV. Hasil yang diperoleh menyatakan CMV tetap bersifat infeksius selama 5 hari. Gambar 2 Tanaman Chaenopodium amaranticolor yang diinokulasi TMV pada 5 HSI (Hari setelah inokulas. : (A) Kontrol (Tanpa inokulas. , (B) Waktu inkubasi 0 jam, (C) Waktu inkubasi 6 jam, dan (D) Waktu inkubasi 24 jam. Tanaman Chaenopodium amaranticolor yang diinokulasi CMV pada 7 HSI (Hari setelah inokulas. : (E) Kontrol (Tanpa inokulas. , (F) Waktu inkubasi 0 jam, (G) Waktu inkubasi 6 jam, dan (H) Waktu inkubasi 24 jam. Titik batas pengenceran (Dilution end point/DEP) DEP adalah salah satu metode untuk melihat kemampuan virus dalam sap setelah dilakukan pengenceran untuk dapat menginfeksi tanaman. Setiap perlakuan pengenceran maka akan menyebabkan semakin menurunnya konsentrasi virus dalam cairan/sap sehingga menurunkan kemampuan virus dalam menginfeksi tanaman. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh titik batas pengenceran sap TMV adalah antara 10-5 dan 10-6 (Gambar 3dan Gambar . Pada pengenceran 10-6, sap TMV sudah tidak menimbulkan gejala pada tanaman indikator. Menurut Mughal et al. TMV masih bersifat infeksius pada pengenceran 10-7. Lana & Agrios . , sap TMV masih bersifat infeksius ketika pengenceran 10-7. Menurut Agrios . TMV yang menginfeksi Tanaman tembakau mengandung 4 g virus per liter cairan/sap dan virus masih tetap menular meskipun diencerkan 1:1. Siti Shofiya Nasution. Raichan izzati, dan Durrah Hayati. Uji Infektivitas Tobacco Mosaic Virus (TMV) dan Cucumber Mosaic Virus (CMV) pada Chaenopodium amaranticolor Sedangkan pada sap CMV sudah tidak dapat menimbulkan gejala pada tanaman indikator pada pengenceran antara 10-1 dan 10-2 (Gambar . Menurut Park et al. menyatakan bahwa titik batas pengenceran CMV adalah Hal ini sesuai dengan penelitian Sugiura et al. , titik batas pengenceran CMV antara 1:2000 dan 1:3000. Sedangkan Shahwan . , menyatakan bahwa CMV kehilangan infektivitas pada pengenceran 10-4. Jumlah Lesio TMV Jumlah Lesio CMV JUMLAH LESIO LOKAL PENGENCERAN SAP Gambar 3. Grafik titik batas pengenceran sap TMV dan CMV pada pengenceran: 10 0, 10-1, 10-2,10-3, 10-4,10-5, 10-6, dan 10-7. Gambar 4 Tanaman Chaenopodium amaranticolor yang diinokulasi TMV pada 5 HSI (Hari setelah inokulas. : (A) Tanpa pengenceran, (B) Pengenceran 10-1, (C) Pengenceran 10-2,(D) Pengenceran 10-3,(E) Pengenceran 104 ,(F) Pengenceran 10-5,(G) Pengenceran 10-6,dan (H) Pengenceran 10-7. Siti Shofiya Nasution. Raichan izzati, dan Durrah Hayati. Uji Infektivitas Tobacco Mosaic Virus (TMV) dan Cucumber Mosaic Virus (CMV) pada Chaenopodium amaranticolor Gambar 5 Tanaman Chaenopodium amaranticolor yang diinokulasi CMV pada 7 HSI (Hari setelah inokulas. : (A) Tanpa pengenceran, (B) Pengenceran 10-1, (C) Pengenceran 10-2,(D) Pengenceran 10-3,(E) Pengenceran 104 ,(F) Pengenceran 10-5,(G) Pengenceran 10-6,dan (H) Pengenceran 10-7. Titik Panas Inaktivasi (Thermal inactivation point/TIP) Pengujian TIP dilakukan untuk mengetahui kemampuan virus dalam sap apabila dipanaskan untuktetap dapat menginfeksi tanaman. Semakin tinggi suhu cairan/sap yang diguanakan maka akan menurunkan kemampuan virus dalam menginfeksi tanaman. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, sap TMV masih bersifat infeksius pada perlakuan suhu 90oC (Gambar . Menurut Agrios . TMV adalah salah satu virus yang paling termostabil dan titik inaktivasinya mencapai 93AC dalam cairan/sap. Virus yang terdapat pada daun terinfeksi yang kering tetap dapat menular meskipun dipanaskan pada suhu 1200C selama 30 menit. JUMLAH LESIO LOKAL TMV CMV PERLAKUAN SUHU Gambar 6. Grafik perlakuan suhu sap TMV dan CMV pada suhu 20oC, 50oC, 70oC, dan 90oC. Sap CMV sudah tidak bersifat infeksius pada perlakuan suhu antara 20oC dan 50oC. CMV tidak stabil pada suhu yang beku atau panas. Zitikaite . , penyimpanan CMV jangka panjang yang stabil adalah dalam bentuk RNA pada suhu 20oC. Taufik et al. mengemukakan bahwa tingkat kejadian Tanaman terinfeksi CMVbergantung padasuhu rata-rata yang lebih rendah. KESIMPULAN TMV bersifat stabil dibandingkan dengan CMV. TMV masih bersifat infeksius pada penyimpanan sap 1 hari, sedangkan CMV sudah tidak bersifat infeksius antara 6 - 24 jam setelah inkubasi. Titik batas pengenceran sap TMV adalah antara 10-5 dan 10-6, sedangkan CMV sudah tidak dapat menimbulkan gejala pada tanaman indikator di Siti Shofiya Nasution. Raichan izzati, dan Durrah Hayati. Uji Infektivitas Tobacco Mosaic Virus (TMV) dan Cucumber Mosaic Virus (CMV) pada Chaenopodium amaranticolor pengenceran antara 10-1 dan 10-2. TMV masih bersifat infeksius pada perlakuan suhu 90oC, sedangkan titik panas inaktivasi CMV adalah 40oC dan 50oC. DAFTAR PUSTAKA