Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 PENGARUH HARGA BAWANG MERAH DAN CABAI RAWIT TERHADAP NILAI TUKAR PETANI HORTIKULTURA DI NUSA TENGGARA TIMUR (The Effect of Shallot and Cayenne PepperAo price towards The Horticulture farmerAos Term of Trade in Nusa Tenggara Timu. Oleh: Maria Fatima Sada. Dopy Roy Nendissa . Maria Bano Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian,Universitas Nusa Cendana Alamat Email Korespondensi: fatimasada16@gmail. Diterima: 10 Oktober 2024 Disetujui: 18 Oktober 2018 ABSTRACT This research aims to determine price fluctuations and how the prices of shallots and bird's eye chilies affect the Farmers' Exchange Rate (FER). The data used are secondary data in the form of shallot and bird's eye chili prices from 2019-2023 obtained from the Central Statistics Agency of East Nusa Tenggara Province. Price fluctuations are measured using the coefficient of variation, while the impact of shallot and bird's eye chili prices is analyzed using multiple linear regression analysis. The results of this study indicate that shallot prices are more homogeneous than bird's eye chili prices, with a coefficient of variation of 19. while bird's eye chili prices are more heterogeneous with a coefficient of variation of 22. Overall, changes in shallot and bird's eye chili prices significantly affect the farmers' exchange rate, with the adjusted R2 determination coefficient indicating that 12. 5% of the variation in the farmers' exchange rate can be explained by changes in shallot and bird's eye chili prices. However, when analyzed partially, it was found that only the price of shallots has a significantly negative effect on the farmers' exchange rate, while changes in bird's eye chili prices do not significantly affect the farmers' exchange rate. The significant negative value between shallot prices and the farmers' exchange rate indicates that the selling prices of shallots and bird's eye chilies are lower than the input prices. The decline in the farmers' exchange rate can indicate that farmers experience a decrease in purchasing power, which also reduces their welfare. The role of the East Nusa Tenggara government is needed to provide shallot and bird's eye chili seeds to encourage farmers to increase the production of these crops, which can reduce the supply from outside the region. This is aimed at lowering input prices and obtaining higher selling prices. keywords : shallots, ayenne pepper, farmers' exchange rate ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fluktuasi harga dan bagaimana harga bawang merah dan cabai rawit berpengaruh terhadap Nilai Tukar Petani (NTP). Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data harga bawang merah dan cabai rawit tahun 2019-2023 yang diperoleh dari BPS Privinsi NTT. Fluktuasi harga diukur dengan menggunakan koefisien variasi sedangkan pengaruh harga bawang merah dan cabai rawit dengan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga bawang merah lebih homogen dari harga cabai rawit dengan angka koefisiennya sebesar 19. 80% atau harga cabai rawit lebih heterogen dari harga bawang merah dengan angka koefisien variasinya sebesar 22. Secara keseluruhan perubahan harga bawang merah dan cabai rawit berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar petani dengan nilai koefisien determinasi adjusted R2 menyatakan sebesar 12,5% variasi pada nilai tukar petani dapat dijelaskan oleh perubahan harga bawang merah dan cabai rawit. Namun apabila dianalisis secara parsial ditemukan hanya harga komoditas bawang merah yang berpengaruh signifikan negatif terhadap nilai tukar petani sedangkan perubahan harga komoditas cabai rawit tidak perpengaruh signifikan terhadap nilai tukar petani. Nilai signifikan negatif antara harga bawang merah dan cabai rawit terhadap nilai tukar petani menunjukkan bahwa harga jual komoditas bawang merah dan cabai rawit lebih rendah dibandingkan harga input. Penurunan nilai tukar petani dapat menunjukkan bahwa petani mengalami kekurangan daya beli yang juga menurunkan tingkat kesejahteraan petani. Peran pemerintah Nusa Tenggara Timur diperlukan untuk menyediakan pasokan bibit bawang merah dan cabai rawit dalam merangsang petani Sada , et all. Pengaruh harga bawang merah dan cabai rawita. Page 140 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 untuk meningkatkan produksi tanaman tersebut yang dapat mengurangi pasokan dari luar daerah. Hal ini dalam menekan harga input dan memperoleh harga jual yang lebih besar. kata kunci : bawang merah, cabai rawit, nilai tukar petani PENDAHULUAN Sektor pertanian memberikan sumbangsi besar dalam pemenuhan kebutuhan utama manusia misalnya kebutuhan akan bahan pangan makanan. Sejumlah besar penduduk Indonesia terlibat dalam kegiatan di bidang pertanian sehingga kesejahteraan petani juga menjadi perhatian pemerintah. Jika pendapatan petani dari harga komoditas pertanian mengalami kenaikan lebih besar dari harga produksi pertanian maka terjadi kenaikan pendapatan sehingga kemampuan daya beli petani menjadi lebih Apabila pendapatan yang diterima petani dari kenaikan harga barang yang dikonsumsi maka hal ini mengindikasikan tingkat kesejahteraan petani meningkat (Keumala dan Zainudin, 2. Diharapkan sektor pertanian ini dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan yang mampu meningkatkan pendapatan para petani dan mampu mengentaskan kemiskinan. Berdasarkan data BPS pada tahun 2012, jumlah penduduk miskin di pedesaan berjumlah 18,48 juta jiwa atau 15,12 persen terhadap total penduduk perdesaan. Secara khusus kesejahteraan petani perlu menjadi perhatian, karena berkaitan dengan masa depan usaha tani dalam berkesinambungan produksi sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia. Dengan demikian NTP adalah merupakan salah satu indikator yang dapat dijadikan acuan dalam menentukan arah kebijakan pertanian. NTP adalah rasio indeks harga yang diterima petani petani dengan indeks harga yang dibayar oleh petani. Secara konsep. NTP adalah mengukur kemampuan tukar produk pertanian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga petani dan barang atau jasa yang diperlukan dalam menghasilkan produk pertanian. Untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani dapat menggunakan indikator Nilai Tukar Petani (NTP). Sehingga besar kecilnya nilai tambah petani bisa ditentukan oleh besar kecilnya Nilai Tukar Petani (NTP). Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan rasio antara indeks harga yang diterima dan indeks harga yang dibayar petani. Dimana indeks harga yang diterima petani yakni indeks harga jual outputnya (I. dan indeks harga yang dibayar petani yakni harga input yang digunakan dalam kegiatan bertani misalnya pupuk,benih,pestisida,irigasi, tenaga kerja, dan lainnya. Berdasarkan rasio ini dapat diketahui bahwa semakin tinggi NTP maka semakin baik profit yang diterima petani, atau semakin baik posisi pendapatan petani, dan semakin baik pula tingkat kesejahteraan petani. NTP adalah suatu hubungan antara hasil pertanian yang dijual dengan barang dan jasa yang dibeli petani. Secara konseptual NTP dapat digunakan untuk mengukur kemampuan tukar barang-barang . hasil pertanian dengan barang atau jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumah tangga petani serta keperluan dalam memproduksi barang-barang pertanian. Oleh karena itu, nilai tukar petani dapat dipakai sebagai petunjuk tentang keuntungan di sektor pertanian dan kemampuan daya beli barang dan jasa dari pendapatan petani. Jika seandainya campur tangan pemerintah ini tidak ada, maka nilai tukar akan ditentukan oleh kekuatan pasar (Bapedda Jombang. Menurut Saleh, dkk. bahwa faktor harga berpengaruh besar terhadap nilai tukar penerimaan dan nilai tukar pendapatan. Nilai tukar penerimaan dipengaruhi oleh tingkat penerapan teknologi, tingkat serangan hama/penyakit, musim/cuaca, dan harga . aik harga saprodi maupun harga produ. Nilai tukar subsistem dipengaruhi oleh besarnya tingkat pendapatan usaha pertanian dan tingkat pengeluaran untuk konsumsi pangan. Pada penelitian ini nilai tukar komoditas pertanian diukur dengan menggunakan konsep nilai tukar penerimaan dan nilai tukar barter. Nilai tukar pendapatan diukur dengan konsep nilai tukar subsistem dan nilai tukar pendapatan total. Sesuai data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam bulan terakhir terus mengalami Pada Juli 2022 angka Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 104,2 atau menurun 1,61% dibandingkan dengan NTP bulan sebelumnya yang sebesar 105,96 bagi yang kurang memahami hal tersebut menjadi instrumen untuk menghakimi tingkat kesejahteraan petani yang menurun. Berdasarkan fakta dan pemahaman bahwa NTP merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani sehingga menjadi kelemahan karena kurangnya pemahaman oleh para peneliti. Pasalnya, yang dihitung dalam NTP adalah rasio indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani,didalamnya mencakup seluruh biaya pengeluaran rumah tangga petani diantaranya adalah biaya produksi, sekolah, berobat, membeli sandang Sada , et all. Pengaruh harga bawang merah dan cabai rawita. Page 141 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 papan dan lainnya sehingga tidak mencerminkan pengeluaran riil dari usahanya. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah bagian dari Indonesia yang memiliki potensi pertanian yang signifikan. Bawang merah dan cabai rawit menjadi komoditas utama di provinsi ini, memegang peranan krusial dalam menyediakan pangan bagi masyarakat dan memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian lokal. Bawang merah adalah salah satu komoditas sayuran yang digunakan untuk bahan atau bumbu penyedap makanan sehari-hari. Masalah utama dalam produksi bawang merah adalah biaya input yang tinggi, hama dan penyakit. Fluktuasi harga bawang merah berdampak pada produksi bawang merah (Pranata & Umam, 2. Sedangkan tanaman cabai rawit memiliki karakteristik harga yang tidak stabil dan berfluktuasi tinggi karena tanaman cabai rawit bersifat musiman seperti hujan, harga cabai rawit meningkat tajam disebabkan tingginya permintaan namun persediaannya kurang (Siregar et al. ,2. Cabai rawit dan bawang merah adalah komoditas yang sangat berfluktuasi. Harga berfluktuasi disebabkan oleh besarnya jumlah penawaran dan permintaan. Apabila jumlah penawaran semakin tinggi maka harga akan semakin rendah, sedangkan semakin rendahnya penawaran makan harganya akan semakin tinggi. eteris paribu. Peristiwa fluktuasi yang terjadi pada harga komoditas hortikultura merupakan berulang-ulang Fenomena lonjakan harga komoditas hortikultura menjadi pengamatan pemerintah sebab berakibat pada tingkat kesejahteraan petani. Perubahan harga bawang merah dan cabai rawit dapat berdampak besar terhadap nilai tukar petani hortikultura. Fluktuasi harga dapat mempengaruhi pendapatan petani, meningkatkan risiko keuangan, dan bahkan dapat mengancam keberlanjutan usaha pertanian di NTT. Oleh karena itu, penelitian mengenai pengaruh harga bawang merah dan cabai rawit terhadap nilai tukar petani hortikultura di NTT menjadi sangat relevan dan penting untuk dilakukan. Penelitian ini memiliki relevansi yang tinggi dalam konteks industri pertanian dan hortikultura di NTT. Dengan memahami bagaimana harga bawang merah dan cabai rawit mempengaruhi nilai tukar petani, dapat memberikan wawasan yang berharga bagi pemerintah, asosiasi petani, dan pelaku industri terkait untuk mengembangkan kebijakan yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan sektor hortikultura di NTT. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi landasan strategis bagi petani dalam p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 menghadapi tantangan ekonomi yang dihadapi dalam aktivitas sehari-hari mereka. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Pengumpulan data dalam Penelitian ini dilakukan di Nusa Tenggara Timur tempat ini dipilih untuk melakukan penelitian karena data yang digunakan merupakan data sekunder sehingga BPS Propinsi NTT sebagai tujuan utama untuk memperoleh informasi dan data yang akurat. Pengumpulan data akan dimulai pada bulan Januari hingga selesai. Metode Pengumpulan Data dan Jenis Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini merupakan data skunder. Metode Pengumpulan Data Data sekunder adalah informasi yang diperoleh tidak secara langsung dari narasumber, melainkan dari pihak ketiga. Dalam konteks penelitian ini, data skunder diperoleh melalui data time series, data harga bawang merah, dan data harga cabe rawit. Sumber data tersebut berasal dari BPS Provinsi NTT dan data Bank Indonesia, dengan rentang periode tahun 2018 hingga 2022. Selain itu, data skunder juga bersumber dari referensi penelitian sebelumnya yang dapat diakses melalui internet atau media cetak. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif berupa angka. Data tersebut merupakan data bulanan dari perubahan harga bawang merah dan cabe rawit di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Metode Analisis Data Untuk menjawab tujuan yang pertama yaitu Untuk mengetahui fluktuasi . erubahan harg. bawang merah dan cabai rawit di NTT. Variasi data dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Nasruddin W, 1. yei yeEye = yayaya% yaE Dimana: CV = Koefisien Variasi = Simpangan Baku x = Rata-rata Untuk menjawab tujuan kedua yaitu untuk mengetahui pengaruh harga bawang merah dan cabai rawit terhadap nilai tukar usaha petani Sada , et all. Pengaruh harga bawang merah dan cabai rawita. Page 142 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 hortikultura di Provinsi Nusa Tenggara Timur maka data dianalisis menggunakan data analisis secara regresi linear berganda. Persamaan umum analisis regresi adalah: Y= a b1X1 b2X2 e Dimana : = Variabel terikat (Nilai Tukar Usaha Petan. = Konstanta . = Koefesien regresi pada masing-masing variabel bebas = Perubahan Harga Bawang Merah = Perubahan Harga cabai rawit = eror HASIL DAN PEMBAHASAN Kofisien Variasi Ilustrasi dampak harga menggunakan koefisien variasi, yang merupakan perbandingan antara standar deviasi dan rata-rata harga, dinyatakan dalam bentuk persentase (%). Tujuan dari perhitungan koefisien variasi dalam suatu set data adalah agar semakin kecil nilai koefisien tersebut, semakin seragam data tersebut. Sebaliknya, semakin besar nilai koefisien variasi, semakin tidak seragam pula data tersebut. Tabel 1. Variasi Harga Bawang Merah dan Cabai Rawit Menurut BPS Provinsi NTT Tahun 2019 sampai 2023. Jenis Komoditi Bawang Merah Cabai Rawit Standar Deviasi 5,843 13,329 RataRata 29,508 58,891 p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 menggunakan Kolmogorov-Smirnov menunjukkan angka signifikansinya sebesar 0,200 > 0,05 sehingga data yang digunakan pada penelitian ini terdistribusi normal karena angka signifikannya lebih besar dari 0,05. Hasil pengujian multikoleniaritas ditemukan semua variabel bebas yang diuji memiliki nilai tolerance lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF lebih besar dari 10. Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa tidak terjadi masalah multikolinearitas pada Berdasarkan heteroksedastisitas dengan menggunakan uji glejser nilai signifikan masing-masing variabel > 0,05 yang heteroksedastisitas dalam penelitian ini. Hasil uji autokorelasi pada penelitian ini dengan data berjumlah 60 dari tabel Durbin Watson dengan menggunakan 5% dan dua variabel memiliki nilai dL 1. 6518 dan nilai dU 1. Hasil regresi menunjukkan nilai DW 2. Sehingga dilakukan perbandingan antara DW hitung dengan DW tabel menggunakan persamaan Du < d < 4-dU. Maka 5144 < 2. 032 < 2,4856. Berdasarkan perhitungan tersebut menunjukkan bahwa dalam persamaan regresi tidak terdapat masalah autokorelasi. Uji Signifikan Simultan (Uji F) Uji F digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel independen yang digunakan dalam model regresi berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Berikut hasil uji F yang telah diolah menggunakan SPSS 24: Tabel 2. Hasil uji F 22,63% Berdasarkan hasil perhitungan diatas dapat diketahui bahwa angka koefisien variasi bawang 80% lebih kecil dari angka koefisien cabai rawit yaitu 22. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data harga bawang merah lebih homogen dari pada data harga cabai rawit. Atau data harga cabai rawit lebih heterogen dari data harga bawang Suatu data dikatakan lebih homogen dari data lainnya apabila angka koefisien variasinya lebih besar, sedangkan suatu data dikatakan lebih heterogen . dari data lainnya apabila angka koefeisien variasinya lebih besar. Analisis Regresi Berganda Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji hipotesis. Sebelum melakukan analisis utama, dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikoleniaritas,uji heteroksedasitas dan autokorelasi. Hasil uji normalitas dengan ANOVAa Sum of Mean Model Squares Df Square Sig. 1 Regression Residual Total Dependent Variable: NTP Predictors: (Constan. , cabai rawit, bawang merah Sumber : Hasil olah data dengan SPSS 24 Berdasarkan tabel 4. 8,hasil uji F secara simultan perubahan harga bawang merah dan cabai rawit berpengaruh signifikan terhadap Nilai Tukar Petani (NTP) di Nusa Tenggara Timur dengan nilai Prob. (F) sebesar 0,008 < 0,05 maka H1 diterima yang menyatakan bahwa perubahan harga bawang merah dan cabai rawit secara bersama-sama menjadi penyumbang pada NTP. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nirmala dkk . bahwa perubahan harga komoditas berpengaruh terhadap nilai tukar petani. Sada , et all. Pengaruh harga bawang merah dan cabai rawita. Page 143 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 Uji Koefisien Determinasi (R. Nilai koefisien determinasi ditunjukan oleh nilai adjusted R2 aquare. Berikut hasil perhitungan koefisien determinasi : Tabel 3 Uji Adjusted R Square Model Summary Adjusted Std. Error of Model R Square R Square the Estimate Predictors: (Constan. , cabai rawit, bawang merah Dependent Variabel : Nilai Tukar Petani (NTP) Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat nilai Adjusted R Square sebesar 0,125 atau 12,5 %. Hal ini menunjukan bahwa hanya 15,4% variabel dependen yaitu NTP dapat dijelaskan oleh variabel independen yaitu harga bawang merah dan cabai Sedangkan sisanya sebesar 87,5% dijelaskan p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini. Hasil uji ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mulyana at al . yang menunjukkan bahwa hasil Uji R sebesar 2,08% variabel independen dapat menjelaskan variabel Uji Parsial/Signifikasi Parameter Individual (Uji . Uji t digunakan dengan tujuan untuk menguji masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen dan untuk mengetahui manakah dari dua variabel independen yang berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Adapaun kriteria keputusannya, sebagai berikut . A Apabila tingkat signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. A Apabila tingkat signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak. Berikut hasil uji t dalam penelitian ini disajikan dalam tabel dibawah ini : Tabel 4. Hasil uji t Model (Constan. bawang merah cabai rawit Dependent Variable: NTP * Signifikan ** Tidal Signifikan Coefficientsa Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Std. Error Beta Sig. Sumber : Hasil olah data dengan SPSS 24 Berdasarkan tabel 4 hasil pengolahan data uji t dapat diketahui bahwa tidak semua variabel independen yaitu harga bawang merah dan cabai rawit berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu Nilai Tukar Petani. Berikut penjelasan tentang hasil pengujian hipotesis uji t: Uji t terhadap variabel bawang merah. Berdasarkan hasil uji t untuk variabel harga bawang merah berpengaruh nyata terhadap NTP pada =5% diperoleh nilai signifikansi 0,003<0,05. Artinya secara parsial harga bawang merah berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar petani sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Koefisien 0,007 menunjukkan adanya hubungan negatif antara variabel harga bawang merah dan nilai tukar petani. Artinya apabila harga bawang merah meningkat, nilai tukar petani cenderung menurun. Apabila harga bawang merah meningkat 1% maka nilai tukar petani menurun sebesar 0,007. Hasil uji t pada komoditas bawang merah tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Soewignyo & Simatupang . yang menyatakan bahwa perubahan harga komoditas bawang merah tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar petani. Uji t terhadap variabel cabai rawit Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa nilai t sig untuk variabel harga cabai rawit adalah 0,778, nilai t sig > 0,05 maka . ,778 > 0,. hal ini menerima H0 dan menolak H1 sehingga tidak berpengaruh signifikan dari variabel harga cabai rawit terhadap Nilai Tukar Petani (NTP). Hasil uji t komoditas cabai rawit pada penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Soewignyo & Simatupang . yang menyatakan bahwa perubahan harga cabai rawit tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar petani. Metode Regresi Linear Berganda Analisis regresi linear berganda merupakan hubungan secara linear antara dua atau lebih Sada , et all. Pengaruh harga bawang merah dan cabai rawita. Page 144 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 variabel indepenen dengan variabel dependen. Analisis ini digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen jika variabel independen mengalami kenaikan atau Analisis regresi linear berganda dilakukan dengan cara menetapkan persamaan. Terdapat dua variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu harga bawang merah (X. dan harga cabai rawit (X. dengan Nilai Tukar Petani (Y) sebagai variabel terikat. Ketiga variabel tersebut merupakan variabel kuantitatif. Untuk mengukur ada atau tidaknya hubungan antara harga bawang merah dan cabai rawit terhadap nilai tukar petani, peneliti menggunakan analisis regresi linear berganda. p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Persamaan regresi linear berganda dapat dapat dirumuskan sebagai berikut. Y= a b1X1 b2X2 e Dimana: = Nilai Tukar Petani = Konstanta = Koefisien regresi X1 = Koefisien regresi X2 = Harga Bawang Merah = Harga Cabai Rawit Tabel 5 Hasil Persamaan Regresi Linear Berganda Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Beta (Constan. bawang merah cabai rawit Variabel bebas : Perubahan harga bawang merah dan perubahan harga cabai rawit Variabel terikat : Nilai Tukar Petani (NTP) * Signifikan ** Tidak Signifikan Sig. Sumber : Hasil olah data dengan SPSS 24 Berdasarkan tabel 5 menunjukkan hasil analisis regresi linear berganda dengan jumlah observasi sebanyak 60 data. Bentuk persamaan regresi diatas dapat dijelaskan sebagai berikut: Y = 98. 250 (-0,. X1 (-0,. Berdasarkan perhitungan diatas dapat dijabarkan sebagai berikut: Konstanta . 250 menunjukkan konstanta dari Nilai Tukar Petani (Y), dengan asumsi nilai dari masing-masing variabel bebas (X1 dan X. adalah konstanta. Artinya apabila harga bawang merah dan cabai rawit adalah nol, maka dapat dikatakan bahwa dalam periode 2019-2023 nilai NTP adalah sebesar 98. Koefisien Harga Bawang Merah (X. sebesar 0,007 yang menyatakan adanya hubungan negatif, yang artinya antara harga bawang merah dengan nilai tukar petani terdapat hubungan yang Apabila terjadi kenaikan pada harga bawang merah maka nilai tukar petani menurun. Koefisien Harga Cabai Rawit (X. sebesar 0,003 yang menyatakan adanya hubungan negatif yang artinya antara harga cabai rawit dan nilai tukar petani menunjukkan hubungan Apabila harga cabai rawit meningkat maka akan menyebabkan NTP Untuk menjelaskan angka signifikan harga komoditas bawang merah dan cabai rawit terhadap nilai tukar petani yaitu menggunakan konsep nilai tukar petani (NTP). NTP adalah persentase nilai tukar . erm of trad. antara hasil produksi pertanian dan barang konsumsi petani. Pengukuran NTP melalui perbandingan antara indeks harga yang diterima petani . ndeks harga jual outpu. dan indeks harga yang dibayar petani . ndeks harga input proses produks. Tiga angka penting dalam NTP yaitu (Ruauw 2. NTP > 100, petani mengalami surplus karena It > Ib. NTP < 100, petani mengalami dificit karena It < Ib. NTP = 100, petani mengalami impas karena It sama dengan Ib. Sada , et all. Pengaruh harga bawang merah dan cabai rawita. Page 145 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 Maka peneliti dapat menyimpulkan angka signifikansi pada tabel 4. 2 berdasarkan konsep NTP. Menganalisa nilai signifikansi dari kedua variabel bebas ditemukan bahwa harga bawang merah berpengaruh signifikan negatif terhadap nilai tukar petani (=-0,007,A=0. sedangkan harga cabai rawit bernilai negatif ditemukan tidak signifikan terhadap nilai tukar petani (=-0,003. A=0,. di Nusa Tenggara Timur. Angka negatif pada nilai signifikan komoditas bawang merah terhadap nilai tukar petani dapat diartikan bahwa harga jual bawang merah lebih rendah dibandingkan harga input yang dibutuhkan untuk menghasilkan bawang merah. Hal ini mempengaruhi nilai tukar petani menurun, disebabkan karena harga jual output lebih rendah dibandingkan harga input. Begitupun dengan angka negatif pada nilai signifikan harga cabai rawit terhadap NTP. Harga jual cabai rawit lebih rendah dibandingkan harga input yang dibutuhkan untuk menghasilkan cabai rawit. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Faridah & Syechalad . yang menyatakan bahwa harga jual produk komoditas petani berpengaruh signifikan negatif terhadap NTP. Dengan menganalisis nilai standardized coefficients pada tabel 4. 2 dapat dilihat nilai bawang merah = . 386 dan cabai rawit = . 035, maka dapat disimpulkan bahwa perubahan harga bawang merah berkontribusi besar terhadap nilai tukar petani dibandingkan harga cabai rawit di Nusa Tenggara Timur pada kurun waktu 2019-2023 karena komoditas cabai rawit memang tidak berkontribusi signifikan terhadap nilai tukar petani. Berdasarkan data BPS provinsi NTT pada Desember 2023. NTP pada subsektor holtikultura mengalami peningkatan sebesar 3,05% yang disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani meningkat dan indeks harga yang dibayar petani Komoditas sayur-sayuran meningkat sebesar 3,95%, buah-buahan dan obat-obatan juga mengalami peningkatan. Kenaikan indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi oleh peningkatan harga yang terjadi pada sub kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta pakaian dan alas kaki. Berdasarkan data BPS yang diuraikan di atas tidak searah dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dimana pada hasil penelitian ini menyatakan bahwa harga bawang merah dan cabai rawit memperoleh angka negatif pada nilai signifikan yang berarti harga jual bawang merah dan cabai rawit lebih rendah dibandingkan harga input yang dibutuhkan untuk menghasilkan kedua komoditi tersebut. Hasil penelitian ini juga mengindikasikan adanya variabel-variabel lain yang p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 berkontribusi pada perubahan nilai tukar petani di Nusa Tenggara Timur yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian ini seperti komoditas hortikultura lainnya yang dapat berpengaruh terhadap nilai tukar petani hortikultura. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, tingginya koefisien variasi pada harga komoditas menandakan bahwa komoditas tersebut memiliki tingkat volatilitas yang tinggi. Dengan kata lain, harga komoditas tersebut sering mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kondisi cuaca, pemerintah, dan faktor lainnya. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, fluktuasi harga bawang merah dan cabai rawit yang cukup besar dapat memiliki dampak negatif bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki pendapatan rendah. Hal ini karena fluktuasi harga dapat menciptakan ketidakpastian, yang pada gilirannya membuat sulit bagi masyarakat untuk merencanakan pengeluaran mereka. Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda dapat disimpulkan bahwa secara parsial pengaruh perubahan harga bawang merah kesejahteraan petani sedangkan perubahan harga cabai rawit tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar petani atau terhadap kesejahteraan petani. Nilai signifikan negatif antara harga bawang merah dan cabai rawit terhadap nilai tukar petani adalah bahwa harga jual bawang merah dan cabai rawit lebih rendah dibandingkan harga input. Penurunan nilai tukar petani akan menunjukkan bahwa petani mengalami kekurangan daya beli, yang akan menurunkan tingkat kesejahteraan petani. Saran Pemerintah diharapkan untuk mengambil langkah dalam mengatasi dampak fluktuasi yang terjadi pada harga bawang merah dan cabai rawit. Langkah yang disarankan adalah meningkatkan produksi bawang merah dan cabai rawit dalam negeri, meningkatkan cadangan bawang merah dan cabai rawit dan mampu menciptakan stabilitas harga bawang merah dan cabai rawit. Penelitian selanjutnya dapat menambah atau mengganti jenis komoditas hortikultura lainnya yang banyak dikonsumsi masyarakat NTT yang Sada , et all. Pengaruh harga bawang merah dan cabai rawita. Page 146 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 mungkin juga mempengaruhi kesejahteraan Pemerintah Nusa Tenggara Timur untuk membuat kebijakan terkait dengan peningkatan kesejahteraan petani, seperti mengusahakan dan menjamin faktor-faktor produksi dengan harga yang dapat dijangkau pada saat musim tanam, serta tersedianya subsidi untuk inputinput yang dibutuhkan petani dalam melakukan kegiatan usahatani agar biaya produksi tidak melonjak sehingga keuntungan yang diperoleh petani lebih tinggi. Pemerintah juga dapat menyediakan pasokan bibit bawang merah dan cabai rawit dalam merangsang petani untuk meningkatkan produksi tanaman tersebut yang dapat mengurangi pasokan dari luar provinsi NTT. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena kedua komoditi ini merupakan bahan baku penting bagi menu masakan di Nusa Tenggara Timur agar tidak perlu dipasok dari luar dan juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani. p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Sosial Ekonomi Pertanian. Kementerian Pertanian. Siregar. Hartono. Hardana. Agribisnis. Brawijaya. , & Smoothing. Peramalan harga cabai rawit di kota malang dengan metode holtwinters exponential smoothing. 6, 99Ae110. Soewignyo. , & Simatupang. The Effect Of Changes In Agricultural Commodity Price On The Welfare Of North Sulawesi Farmers. DAFTAR PUSTAKA