Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. PENDAMPINGAN KELEMBAGAAN DALAM UPAYA PENURUNAN STUNTING DI DESA PORAME KECAMATAN KINOVARO KABUPATEN SIGI Nora Ariani1*. Juemi2. Afdal3. Rizmala Nadia Borahima4. Hijra Yanti5 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia 1,2,3,4,5 RIWAYAT ARTIKEL Diterima: 10-03-2026 Disetujui: 28-03-2026 Dipublikasi: 14-04-2026 Kata Kunci: Pencegahan Stunting. Kelembagaan Desa. Edukasi Gizi. Pengabdian Masyarakat ABSTRAK Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan di berbagai wilayah, termasuk di Desa Porame. Kecamatan Kinovaro. Kabupaten Sigi. Rendahnya pengetahuan masyarakat terkait gizi, pola asuh, serta keterbatasan peran kelembagaan desa dalam upaya pencegahan stunting menjadi faktor yang memperparah kondisi Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas kelembagaan desa dalam mendukung penurunan angka stunting melalui pendekatan edukasi dan pendampingan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sosialisasi, edukasi gizi, serta pendampingan kepada masyarakat dan perangkat desa yang melibatkan kader kesehatan dan mahasiswa. Kegiatan dilaksanakan melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, serta pemberian informasi terkait pentingnya gizi seimbang dan pencegahan stunting sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat terkait penyebab dan dampak stunting, serta meningkatnya kesadaran akan pentingnya peran keluarga dan kelembagaan desa dalam pencegahan stunting. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung program pemberian makanan tambahan dan upaya kesehatan berbasis komunitas. Kegiatan pengabdian ini memberikan kontribusi positif dalam memperkuat kapasitas masyarakat dan kelembagaan desa dalam upaya penurunan Oleh karena itu, diperlukan keberlanjutan program melalui sinergi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan PENDAHULUAN Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi kronis yang masih menjadi tantangan utama dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Kondisi ini ditandai dengan terhambatnya pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu yang panjang, terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan kognitif, produktivitas di masa depan, serta kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan (World Health Organization, 2. Secara nasional, upaya percepatan penurunan stunting terus dilakukan melalui berbagai kebijakan dan program intervensi yang melibatkan lintas sektor. Namun demikian, permasalahan stunting di tingkat desa masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti rendahnya pengetahuan LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Nora Ariani Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: nora@stiapancamargapalu. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. masyarakat terkait gizi, pola asuh yang kurang tepat, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, serta belum optimalnya peran kelembagaan lokal dalam mendukung program pencegahan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Desa Porame. Kecamatan Kinovaro. Kabupaten Sigi merupakan salah satu wilayah yang menghadapi permasalahan stunting dengan karakteristik masyarakat yang didominasi oleh sektor pertanian serta keterbatasan akses informasi kesehatan. Meskipun memiliki potensi sumber daya alam yang cukup baik, permasalahan gizi pada balita masih menjadi perhatian serius. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan stunting tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek pengetahuan, perilaku, serta dukungan kelembagaan di tingkat Pendekatan berbasis kelembagaan desa menjadi salah satu strategi yang dinilai efektif dalam mendukung percepatan penurunan stunting. Kelembagaan desa, termasuk pemerintah desa, kader kesehatan, dan kelompok masyarakat, memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi, melakukan pendampingan, serta menggerakkan partisipasi masyarakat secara Melalui penguatan kapasitas kelembagaan, diharapkan program pencegahan stunting dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran (UNICEF, 2. Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk pendampingan dan edukasi gizi kepada masyarakat serta penguatan peran kelembagaan desa dalam upaya penurunan stunting di Desa Porame. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat, mendorong perubahan perilaku, serta memperkuat sinergi antara masyarakat dan pemerintah desa dalam mendukung program pencegahan stunting secara berkelanjutan. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Porame. Kecamatan Kinovaro. Kabupaten Sigi, dengan sasaran masyarakat, perangkat desa, serta kader kesehatan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan memperkuat peran kelembagaan desa dalam upaya pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui kegiatan sosialisasi, edukasi, dan pendampingan. Pendekatan partisipatif merupakan metode yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam proses identifikasi masalah, pelaksanaan kegiatan, hingga evaluasi, sehingga mampu mendorong perubahan perilaku secara berkelanjutan (Chambers, 1. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut: Tahap Persiapan Tahap ini meliputi koordinasi dengan pemerintah desa dan pihak terkait, penentuan sasaran kegiatan, serta identifikasi awal permasalahan stunting di masyarakat. Tahap persiapan penting dilakukan untuk memastikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat (Sugiyono, 2. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa bentuk intervensi yang terintegrasi, yaitu sosialisasi terkait stunting yang mencakup pengertian, penyebab, dan dampaknya terhadap pertumbuhan anak, serta edukasi gizi mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Selain itu, kegiatan juga dilaksanakan melalui diskusi interaktif antara tim pengabdian dan masyarakat guna menggali pemahaman, pengalaman, serta permasalahan yang dihadapi secara langsung. Selanjutnya, dilakukan pendampingan kepada kader dan masyarakat dalam memahami serta mengoptimalkan peran mereka dalam upaya pencegahan stunting di tingkat desa. Metode edukasi dan penyuluhan LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Nora Ariani Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: nora@stiapancamargapalu. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. merupakan pendekatan yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat serta mendorong perubahan perilaku kesehatan (Notoatmodjo, 2. Tahap Evaluasi dan Pemantauan Evaluasi dilakukan melalui observasi terhadap partisipasi masyarakat serta pemahaman peserta selama kegiatan berlangsung. Pemantauan dilakukan untuk melihat respon masyarakat terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan sebagai dasar perbaikan program selanjutnya. Evaluasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat umumnya bersifat deskriptif dan berorientasi pada proses serta perubahan perilaku (Arikunto, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Porame. Kecamatan Kinovaro. Kabupaten Sigi berlangsung dengan melibatkan masyarakat, perangkat desa, serta kader kesehatan. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait stunting serta penguatan peran kelembagaan desa dalam upaya Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat yang mengikuti sosialisasi dan edukasi memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai stunting, khususnya terkait penyebab, dampak, serta pentingnya pemenuhan gizi pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi masyarakat dalam sesi diskusi, di mana peserta mulai aktif menyampaikan pertanyaan dan pengalaman terkait pola asuh serta pemberian makanan pada Peningkatan pemahaman ini menjadi indikator awal keberhasilan kegiatan edukasi yang Selain itu, kegiatan pendampingan yang dilakukan kepada kader dan perangkat desa memberikan dampak terhadap meningkatnya kesadaran akan pentingnya peran kelembagaan dalam pencegahan stunting. Kader kesehatan mulai memahami pentingnya penyampaian informasi yang berkelanjutan kepada masyarakat serta perlunya keterlibatan aktif dalam programprogram kesehatan desa. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kelembagaan memiliki potensi dalam memperkuat upaya pencegahan stunting di tingkat lokal. Dari aspek partisipasi, kegiatan ini mendapatkan respon yang cukup baik dari masyarakat. Kehadiran peserta dalam kegiatan sosialisasi dan diskusi menunjukkan adanya ketertarikan dan kebutuhan masyarakat terhadap informasi terkait stunting. Partisipasi aktif ini menjadi faktor penting dalam keberhasilan program pengabdian, karena perubahan perilaku masyarakat sangat dipengaruhi oleh tingkat keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran (Notoatmodjo, 2. Namun demikian, dalam pelaksanaan kegiatan masih terdapat beberapa kendala, di antaranya keterbatasan waktu pelaksanaan yang menyebabkan belum optimalnya proses pendampingan, serta masih adanya masyarakat yang belum sepenuhnya memahami materi yang Selain itu, keterbatasan akses informasi dan kebiasaan yang telah mengakar dalam masyarakat juga menjadi tantangan dalam mendorong perubahan perilaku secara cepat. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat dan memperkuat peran kelembagaan desa dalam pencegahan stunting. Hasil ini sejalan dengan pendekatan partisipatif yang menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan, sehingga mampu menciptakan perubahan yang lebih berkelanjutan (Chambers, 1. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan dan edukasi berbasis kelembagaan desa di Desa Porame. Kecamatan Kinovaro. Kabupaten Sigi, menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Nora Ariani Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: nora@stiapancamargapalu. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. stunting, khususnya dalam aspek penyebab, dampak, dan pentingnya pemenuhan gizi pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi dalam memperkuat peran kader dan perangkat desa sebagai aktor kunci dalam upaya pencegahan stunting di tingkat lokal. Temuan ini menegaskan bahwa permasalahan stunting tidak hanya berkaitan dengan aspek gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, perilaku, dan kapasitas kelembagaan desa. Oleh karena itu, intervensi yang mengintegrasikan edukasi masyarakat dengan penguatan kelembagaan terbukti menjadi strategi yang relevan dan potensial untuk mendukung percepatan penurunan stunting secara berkelanjutan. Ke depan, diperlukan keberlanjutan program melalui sinergi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat, serta penguatan kegiatan edukasi yang dilakukan secara berkala agar perubahan perilaku yang telah terbentuk dapat dipertahankan dan ditingkatkan. REFERENSI