Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 ANALISIS PENDAPATAN USAHA GULA MERAH DI DESA TUASENE KECAMATAN MOLLO SELATAN KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN (Income Analysis of Palmyra Sugar Home Industry at Desa Tuasene. Kecamatan Mollo Selatan . Kabupaten Tomor Tengah Selata. Oleh: Preti Avanti Manu. Marthen Robinson Pellokila. Santhy Chamdra Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Nusa Cendana Alamat E-mail Korespondensi: pretimanu027@gmail. Diterima: 16 Juli 2024 Disetujui : 26 Juli 2024 ABSTRACT This research aims to: . determine the income of brown sugar craftsmen in Tuasene Village. South Mollo District. South Central Timor Regency . determine the feasibility of the brown sugar business in Tuasene Village. South Mollo District. South Central Timor Regency. Primary data was obtained through interviews using a questionnaire and secondary data was obtained from the Tuasene Village office. The sample determination method uses a simple random sampling technique. The analytical method used is income analysis. R/C Ratio and Break Event Point (BEP). The results of the research show that: the average cost incurred by craftsmen in 1 month is IDR 924,144 with details of fixed costs of IDR 582,419 and variable costs of IDR 341,725. Revenue obtained is IDR 5,724,000 with an average production amount amounting to 318 Kg with a selling price of IDR 18,000/Kg. The average amount of income earned in 1 month is IDR 4,799,856. The R/C Ratio in the brown sugar business is 6, where the total revenue exceeds the costs incurred, which means that the brown sugar business is worth running. BEP in revenue of Rp. 588,302 in this study has an average income of Rp. 4,799,856, which means it has reached the break-even point in BEP in units of 32,360 Kg in this study, craftsmen produced 318 Kg, which means they have reached the break-even point in production. Keywords: home industry, income, palmyra sugar ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk: . mengetahui besarnya pendapatan pengrajin gula merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan . mengetahui kelayakan usaha gula merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Data diperoleh primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner dan data sekunder diperoleh dari kantor Desa Tuasene. Metode penentuan sampel dengan teknik simple random sampling. Metode analisis yang digunakan analisis pendapatan. R/C Ratio dan Break Event Point (BEP). Hasil penelitian menunjukan bahwa: rata-rata biaya yang dikeluarkan pengrajin dalam 1 bulan sebesar Rp. 144 dengan rincian biaya tetap sebesar Rp. 419 dan biaya variabel sebesar Rp. Penerimaan yang diperoleh sebesar Rp. 000 dengan rata-rata jumlah produksi sebesar 318 Kg dengan harga jual Rp. 000/Kg. Besarnya rata-rata pendapatan yang diperoleh dalam 1 bulan sebesar Rp. 799,856. Besarnya R/C Ratio pada usaha gula merah sebesar 6 dimana total penerimaan melebihi biaya yang dikeluarkan yang artinya usaha gula merah tersebut layak untuk diusahakan. BEP dalam pendapatan sebesar Rp. 302 dalam penelitian ini rata-rata pendapatan sebesar Rp. 799,856 yang artinya telah mencapai titik impas dalam pendapatan. BEP dalam unit 32. 360 Kg dalam penelitian ini pengrajin menghasilkan produksi 318 Kg yang artinya telah mencapai titik impas dalam produksi. Kata Kunci: industry rumah tangga , penapatan , gula lontar Manu, et all. Analisis Pendapatan Gula Merah di Desa Tuasene A Page 87 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dan dikenal sebagai negara agraris yang berarti negara yang mayoritas penduduk bermata pencaharian di bidang pertanian dan mengandalkan sektor pertanian sebagai penopang pembangunan (Harahab,2. Kontribusi sektor pertanian sangat penting karena sebagai sumber utama penyedia kebutuhan pangan dalam negeri, selain kontribusinya dalam pemenuhan kebutuhan pangan sektor pertanian juga berdampak pada sektor lain dalam perekonomian dimana sektor pertanian sebagai penyedia bahan baku bagi sektor industri pengolahan bahan makanan dan Hal ini tentu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah dalam rantai pasokan makanan selain itu sektor pertanian juga berperan penting dalam sektor perdagangan internasional dimana ekspor produk pertanian dapat memberikan devisa negara, mengentaskan kemiskinan. Sektor pertanian memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional, hal tersebut dapat dilihat dari pembangunan pertanian yang diarahkan untuk memproduksi hasil pertanian untuk memenuhi pangan dan kebutuhan industri dalam negeri, meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja dan mendorong pemerataan kesempatan berusaha (Soekartawi. ,2005:. Sektor pertanian dalam arti luas dapat dibedakan menjadi 5 sub sektor yaitu Sub sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Salah satu subsektor pertanian yang memberikan kontribusi besar yaitu subsesktor Menurut (Helmi,2. , subsektor perkebunan merupakan subsektor yang memiliki peranan utama dalam menciptakan lapangan pekerjaan,meningkatkan devisa,sumber pendapatan petani serta pengembangan ekonomi dan wilayah. Kegiatan subsektor perkebunan pemanenan tanaman tersebut untuk dijual atau diolah lebih lanjut. Subsektor perkebunan mempunyai beberapa produk yang menghasilkan pendapatan dan mempunyaiotensi untuk p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Tanaman perkebunan banyak yang dikembangkan dan dibudidayakan salah satunya tanaman lontar. Tanaman lontar dianggap sebagai pohon kehidupan karena hampir semua bagian tumbuhan lontar dapat dimanfaatkan seperti daun,batang,daging buah dan nira. Pohon lontar adalah sejenis palma . yang tumbuh melimpah di asia tenggara, komoditi ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan strategis memberi peningkatan pendapatan petani di daerah. Pohon lontar menjadi salah satu flora identitas Provinsi Nusa Tenggara Timur karena manfaat yang beragam dari pohon lontar membuatnya menjadi sumber penting bagi kehidupan masyarakat setempat selain itu daya adaptasinya yang tinggi terhadap lingkungan kering. Pohon lontar merupakan tumbuhan yang menghasilkan bahan-bahan industri yang sudah sejak lama kita kenal, hasil utama lontar adalah Nira,buah,daun dan batang. Tanaman ini adalah tanaman perkebunan yang sangat potensial dalam hal mengatasi kekurangan pangan, namun tumbuhan ini kurang mendapat Pengusaahaan tanaman lontar sebagian besar diusahakan oleh petani karena pengelolaan tanaman belum menerapkan teknik budidaya yang baik (Hadi,D. S,2. Nusa Tenggara Timur adalah salah satu daerah yang masyarakatnya melakukan usaha pembuatan gula merah dengan jenis bahan baku nira dari pohon lontar. Salah satu daerah yang melakukan usaha pembuatan gula merah yaitu Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan memanfaatkan nira dari pohon lontar sebagai bahan baku dalam pembuatan gula merah. Jumlah pengrajin yang ada di Desa Tuasene dapat dilihat pada Tabel. Manu, et all. Analisis Pendapatan Gula Merah di Desa Tuasene A Page 88 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 Tabel 1. Jumlah Pengrajin Gula Merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan Nama Dusun Oesublele DilaboAoihu Kampung Tengah Kampung Aman Jumlah Jumlah Pengrajin Sumber : Kantor Desa Tuasene Berdasarkan data di atas Desa Tuasene memiliki potensi dalam pembuatan gula merah, hal ini didukung dengan potensi tanaman lontar di desa tersebut cukup banyak sehingga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Di Desa Tuasene umumnya nira dari pohon lontar di olah oleh pengusaha gula merah yang masih tergolong usaha rumah tangga. Usaha gula merah ini telah ada secara turun temurun dan dikerjakan secara tradisional dengan menggunakan tenaga kerja keluarga itu sendiri. walaupun ditengah-tengah pesatnya kemajuan teknologi serta meningkatnya kualitas permintaan konsumsi masyarakat yang tentunya produk pertaniannya juga harus berkualitas dan ditengah-tengah banyaknya pesaing ternyata usaha gula merah ini masih bisa bertahan dan menghidupi keluarga pengusaha gula merah seperti di Desa Tuasene. Gula merah memiliki nilai ekonomis tentunya membuat pengusaha gula merah bisa melanjutkan dan mengembangkan usaha gula merah sehingga bisa memberikan pendapatan bagi masyarakat Desa Tuasene. Untuk menunjang semua itu maka harus didukung dengan keberadaan bahan baku yang mendukung, kegiatan produksi dan peralatan yang sudah lebih Karena pembuatan gula merah di Desa Tuasene yang masih tradisional tentunya menimbulkan masalah ditambah masih banyak masyarakat yang berpikir untuk tidak perlu membudidayakan pohon lontar karena pohon tersebut tumbuh liar dan lumayan banyak sehingga tidak perlu untuk diperhatikan dan dibudidayakan secara baik, hal ini juga bisa membuat gula merah mengalami kekurangan bahan baku dikarenakan kurangnya kesadaran dari masyarakat sekitar untuk membudidayakan tanaman lontar yang menjadi sumber bahan baku. Selain itu dalam pengembangan usaha gula p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 merah sering mengalami kendala karena tidak adanya kelompok-kelompok pengusaha gula merah serta tidak adanya pemberdayaan pengusaha gula merah sehingga membuat gula merah tidak mengalami kemajuan yang memberikan manfaat bagi pengusaha dari segi Oleh karena itu pengelolaan usaha gula merah harus dikembangkan dengan baik untuk memperoleh hasil yang maksimal yang ditunjukan dengan pendapatan yang diperoleh, apakah pendapatan yang di peroleh melebihi biaya yang dikeluarkan atau tidak. Akan tetapi kenyataannya petani atau pelaku usaha tidak menghitung dan mempunyai catatan secara pasti keseluruhan biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang mereka peroleh dalam proses sekali produksi. Hal inilah yang membuat pengrajin sering kali keliru dalam menentukan harga jual produk gula merah. Dengan demikian diperlukan analisis untuk mengetahui pendapatan dan kelayakan usaha gula merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. METODE PENELITIAN Penelitian ini di lakukan di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penentuan lokasi di lakukan dengan cara sengaja . urposive samplin. yaitu memilih Desa Tuasene dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan wilayah pengembangan usaha gula merah di Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Waktu penelitian di laksanakan pada bulan April Ae Juni 2024. Penentuan responden pada penelitian ini dilakukan menggunakan metode simple random sampling . ecara acak sederhan. yaitu, responden dipilih secara acak dari seluruh pengrajin gula merah di Desa Tuasene. Di ketahui jumlah pengrajin gula merah di Desa Tuasene sebanyak 124 pengrajin yang terdiri di 4 Dusun, maka diambil secara random dari masing-masing dusun 10 pengrajin sehingga jumlah responden sebanyak 40 orang. Menggunakan data primer dan sekunder. Data yang digunakan dalam penelitian berupa data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden berdasarkan wawancara dengan pengrajin gula merah menggunakan Manu, et all. Analisis Pendapatan Gula Merah di Desa Tuasene A Page 89 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 kuesioner sedangkan data sekunder merupakan data pelengkap yang diperoleh dari kantor desa serta literatur-literatur yang terkait dengan penelitian ini. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini analisis pendapatan, kelayakan usaha dan titik impas. Pendapatan I = TR Ae TC Dimana TR = P. TC = FC VC Keterangan : I = Income / Pendapatan P = Price / Harga Q = Quantity / Jumlah Produksi FC = Fixed Cost (Biaya Tetap Tota. VC = Variable Cost (BiayaVariabe. TR = Total Revenue / Total Penerimaan TC = Total Cost / Total Biaya Kelayakan Usaha yc/yc = ycyc ycyc Keterangan : R/C = Perbandingan antara Total Reveneu dengan Total Cost TR = Total Reveneu (Total penerimaa. TC = Total Cost (Total biay. Dengan kriteria: R/C Ratio < 1 maka kegiatan usaha tidak menguntungkan sehingga tidak layak untuk R/C Ratio = 1 maka kegiatan usaha tidak menguntungkan dan tidak merugikan. R/C Ratio > 1 maka kegiatan usaha Titik Impas Untuk mengetahui titik impas yakni Break Even Point (BEP) dalam Unit dan Break Even Point (BEP) dalam Pendapatan menggunakan rumus sebagai berikut: Break Even Point (BEP) dalam Unit BEP Produksi . = Biaya Tetap Harga Jual per Unit Oe Biaya Variabel per Unit Break Even Point (BEP) dalam Pendapatan p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 BEP Harga (R. : = Biaya Tetap Kontribusi Margin Kontribusi Margin Ratio Harga Jual per Unit Oe Biaya Variabel per Unit Harga Jual per Unit HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Desa Tuasene merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Mollo Selatan. Kabupaten Timor Tengah Selatan. Memilki 4 . Dusun yakni Dusun Oesublele. Dilaboihu,Kampung Tengah dan Kampung Aman. Kemudian secara administratif Desa Tuasene berbatasan dengan : Sebelah Utara : Desa Fatukoko Sebelah Timur : Desa Biloto Sebelah Barat : Desa Koa Sebelah Selatan: Desa Tupan Karakteristik Responden . Karakteristik berdasarkan usia Tabel 2. Persentase Umur Responden Pengrajin Gula Merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Umur (Tahu. Jumlah Jumlah Responden . Persentase (%) Sumber: Data Primer diolah,2024 Berdasarkan tabel 2 mengenai umur responden yang melakukan kegiatan usaha gula merah di Desa Tuasene dimana umur pengrajin gula merah 20-25 Tahun sebanyak 2 orang dengan persentase 4%, kelompok umur 26-30 Tahun sebanyak 3 orang dengan persentase 8%. Manu, et all. Analisis Pendapatan Gula Merah di Desa Tuasene A Page 90 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 kelompok umur 31-35 sebanyak 4 orang dengan persentase 10%,Kemudian kelompok umur paling besar adalah umur 36-40 Tahun sebanyak 9 orang dengan persentase 23%. Di ikuti kelompok umur 41-45 Tahun sebanyak 7 orang dengan persentase 18%, kelompok umur 46-50 Tahun sebanyak 4 orang dengan persentase 10%, kelompok umur 51-55 Tahun sebanyak 6 orang dengan persentase 15% dan kelompok umur 5660 sebanyak 5 orang dengan persentase 12%. Sehingga dari 40 Responden pengrajin gula merah di Desa Tuasene. Pendidikan Responden Tabel 3. Pendidikan Responden Pengrajin Gula Merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tingkat Pendidikan Tidak Tamat SMP SMA Jumlah Jumlah Responden. Persentase (%) Sumber:Data primer diolah, 2024 Pada Tabel 3. dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan pengusaha gula merah untuk kategori Tidak Tamat SD 1 Orang dengan persentase 2%, kategori Tamat SD 10 orang dengan persentase 25%, kategori Tamat SMP sebanyak 24 orang dengan persentase sebesar 60% dan kategori Tamat SMA sebanyak 5 orang dengan persentase 13% . Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran pengrajin gula merah mengenai pentingnya pendidikan yang tentunya berpengaruh terhadap pengetahuan dan motivasi pengusaha gula merah dalam mengembangkan usahanya. Jumlah Tanggungan keluarga p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tanggungan Keluarga . Jumlah Jumlah Responden . Persentase( Sumber:Data primer diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 4 diatas pengrajin gula merah yang mempunyai tanggungan keluarga 14 orang dengan jumlah responden sebanyak 18 orang dengan persentase 45% merupakan keluarga yang tergolong kecil yang tentunya memilki beban tanggungan keluarga yang sedikit dan tergolong produktif, karena cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga pengusaha. Berbeda dengan tanggungan 5-7 orang dengan jumlah responden sebanyak 17 orang dengan persentase 43% dan tanggungan keluarga 8-10 orang dengan jumlah responden sebanyak 5 orang memilki persentase 12% yang merupakan golongan keluarga yang kurang produktif. Dalam usaha gula merah di Desa Tuasene tenaga kerja yang digunakan adalah tenaga kerja yang berasal dari keluarga seperti suami yang mengambil nira dari pohon dan istri memasak nira sampai menjadi produk gula merah. Pengalaman Usaha Responden Tabel 5. Pengalaman Usaha Responden Pengrajin Gula Merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pengalaman Usaha . Jumlah Jumlah Responden . Persentase( Sumber:Data primer diolah, 2024 Tabel 4. Jumlah Responden Pengrajin Gula Merah di Desa Tuasene Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa pengalaman pengrajin gula merah di Desa Manu, et all. Analisis Pendapatan Gula Merah di Desa Tuasene A Page 91 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Yang dilakukan responden sangat bervariasi, yakni yang memilki pengalaman usaha 1-10 Tahun sebanyak 6 orang dengan persentase 15%, pengalaman usaha 11-20 Tahun sebanyak 16 orang dengan persentase 40%, pengalaman usaha 21-30 Tahun sebanyak 10 orang dengan persentase 25% dan yang terakhir dengan pengalaman usaha 31-40 Tahun sebanyak 8 orang dengan persentase 20%. Sehingga dari 40 Responden memperlihatkan bahwa paling banyak pengrajin gula merah yang menjalankan usaha dengan pengalaman usaha yang cukup lama yakni 11-20 Tahun sebanyak 16 orang dan 21-30 Tahun sebanyak 10 orang. Biaya Produksi Produksi gula merah adalah total produksi usaha dalam satu bulan dihitung dengan satuan kg atau ton. Sedangkan biaya produksi adalah semua biaya pengeluaran yang dikeluarkan untuk menghasilkan sejumlah produk tertentu dalam satu kali produksi. Biaya variabel merupakan biaya yang dikeluarkan oleh pengusaha gula merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan yang sifatnya berubahubah sesuai kebutuhan yang digunakan pengusaha gula merah. Biaya variabel yang dimaksud adalah biaya seperti pengeluaran pembelian lemak sapi, sabun daia dan pembelian bahan bakar yakni kayu bakar. Sedangkan biaya tetap merupakan biaya-biaya yang di keluarkan oleh pengusaha gula merah dalam kegiatan usaha gula merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Biaya tetap yang dimaksud adalah biaya penyusutan bangunan tempat dilakukan proses pembuatan gula merah. Serta biaya penyusutan peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam membantu pengusaha dalam memanen nira dari pohon lontar sampai pengolahan seperti pisau penyadap, gayung, saringan, ember, ember oker, dandang, periuk dan jerigen. Setelah mendapatkan hasil rata-rata dari biaya variabel dan biaya tetap maka dilakukan penjumlahan biaya untuk mengetahui rata-rata total biaya. Adapun rata-rata total biaya yang dikeluarkan oleh pengrajin yang dipakai dalam produksi gula merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Kabupaten Timor Tengah Selatan dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Rata-Rata Total Biaya Produksi Gula Merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Uraian rata-rata (R. Biaya Tetap Peralatan Total bangunan Biaya Variabel Lemak sapi Kayu bakar Sabun daia Total biaya Sumber: Data Primer diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat. biaya tetap terdiri dari biaya penyusutan peralatan dan rata-rata Rp. 919 dan biaya penyusutan bangunan dengan rata-rata sebesar Rp. 500 sehingga ratarata jumlah biaya tetap usaha gula merah di Desa Tuasene sebesar Rp. Kemudian biaya variabel terdiri dari biaya lemak sapi dengan rata-rata Rp. 000, kayu bakar dengan rata-rata Rp. 000, dan sabun daia dengan rata-rata Rp. 725 sehingga ratarata jumlah biaya variabel yang dikeluarkan oleh responden sebanyak Rp. Jadi jumlah rata-rata total biaya produksi gula merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan yang dihitung dari jumlah biaya variabel dan biaya tetap adalah sebesar Rp. Penerimaan Analisis penerimaan merupakan analisis yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar penerimaan yang di peroleh pengrajin gula merah dalam sebulan. Penerimaan usaha gula merah di dapat melalui perkalian antara jumlah produksi gula merah dengan harga gula merah pada waktu itu sebesar Rp 18. 000 per/Kg. Adapun rata-rata penerimaan yang diterima oleh pengrajin gula Manu, et all. Analisis Pendapatan Gula Merah di Desa Tuasene A Page 92 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Rata-Rata Penerimaan Usaha Gula Merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan No Uraian Produksi (Bln/K. Harga (R. Total Penerimaan Rata-Rata Rp. Berdasarkan Tabel 7 rata-rata jumlah produksi gula merah yang diperoleh pengrajin gula merah di Desa Tuasene dalam sebulan adalah 318 Kg dengan harga gula merah yang berlaku pada hari itu Rp. 000/Kg. Sehingga jumlah rata-rata penerimaan usaha gula merah selama 1 bulan yang di dapat pengrajin adalah Rp. Pendapatan Adapun rata-rata pendapatan usaha gula merah di Desa Tuasene selama sebulan dapat dilihat pada Tabel 8 Tabel 8. Rata-Rata Pendapatan Usaha Gula Merah Dalam Sebulan di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Uraian Produksi (K. Biaya Variabel Lemak sapi Kayu bakar Sabun daia Total Biaya Variabel Harga Satuan (R. Nilai (Rp/Bula. 305,000 Biaya Tetap Bangunan Jumlah (RataRata/ Bula. Uraian Peralatan Total Biaya Tetap Harga Satuan (R. Nilai (Rp/Bula. Total Biaya Pendapatan 799,856 Sumber:Data primer diolah, 2024 Sumber: Data Primer diolah, 2024 Jumlah (RataRata/ Bula. p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Berdasarkan Tabel 8 rata-rata pendapatan pengrajin gula merah dalam satu bulan di Desa Tuasene sebesar Rp. Analisis Kelayakan Usaha R/C Ratio Analisis kelayakan merupakan analisis yang digunakan untuk melihat apakah usaha gula merah di Desa Tuasene layak diusahakan atau Dalam analisis kelayakan ini untuk mengetahui kelayakan usaha gula merah dengan menggunakan rumus R/C atau Total Penerimaan dari hasil penjualan gula merah di bagi dengan total biaya produksi gula merah. Adapun kelayakan usaha gula merah di Desa Tuasene dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Kelayakan Usaha Gula Merah Selama Sebulan Di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan Uraian Rata-Rata Biaya(R. Penerimaan Total Biaya R/C Ratio Sumber:Data primer diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 9 dari hasil analisis kelayakan menggunakan R/C Ratio untuk usaha gula merah di Desa Tuasene yakni membagi antara total penerimaan usaha gula merah selama 1 bulan dengan rata-rata sebesar Rp. dengan total biaya pengeluaran usaha gula merah dengan rata-rata sebesar Rp. mendapatkan R/C Ratio yaitu 6. Manu, et all. Analisis Pendapatan Gula Merah di Desa Tuasene A Page 93 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa usaha gula merah yang dilakukan di Desa Tuasene dapat dinyatakan sebagai usaha yang menguntungkan dan layak untuk diusahakan. Hal ini dapat dilihat dari hasil pembagian antara ratarata total penerimaan dan rata-rata total biaya, sehingga mendapatkan kelayakan lebih besar >1 sebesar 6 dimana total penerimaan melebihi total biaya yang dikeluarkan. Sehingga dengan layaknya usaha gula merah di Desa Tuasene maka usaha tersebut dapat terus dijalankan oleh pengrajin bahkan dikembangkan lagi menjadi usaha yang memberikan pendapatan bagi pengrajin gula merah. Analisis Titik Impas Dalam analisis ini untuk mengetahui titik impas ada 2 perhitungan yang digunakan untuk menghitung titik impas (Break Even Poin. yakni BEP Harga dan BEP Produksi. Menurut Hijriani, . titik impas produksi adalah jumlah produksi dari usaha gula merah pada saat tidak memperoleh keuntungan atau tidak mengalami Dalam menentukan titik impas BEP dalam unit perlu diketahui biaya tetap, harga jual per unit, dan biaya variabel per unit sedangkan untuk menentukan titik impas BEP dalam pendapatan perlu diketahui biaya tetap dan kontribusi margin, kontribusi margin ratio didapat dari hasil perhitungan harga jual per unit dikurangi biaya variabel per unit dan dibagi dengan harga jual. Adapun titik impas usaha gula merah di Desa Tuasene dapat dilihat pada Tabel Tabel 10. Titik Impas Usaha Gula Merah Selama Sebulan Di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan Uraian BEP dalam Unit Biaya Tetap (R. Harga Jual (R. Biaya Variabel (R. Total BEP dalam Unit BEP dalam Pendapatan Biaya Tetap (R. Kontribusi Margin Total BEP dalam Pendapatan Rata-Rata 32,60 0,99 Sumber: Di olah dari Data primer. p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Berdasarkan tabel 10 dari hasil perhitun gan titik impas menunjukan Bahwa nilai BEP dalam unit sebesar 32,360 Kg dengan total produksi 318 Kg, yang artinya pada saat jumlah produksi sebesar 32,360 Kg usaha gula merah berada pada titik impas atau jumlah produksi balik modal sehingga total produksi sebesar 318 Kg telah melebihi jumlah impas dengan kata lain Nilai BEP dalam Pendapatan sebesar Rp. 302 dan rata-rata pendapatan usaha gula merah di Desa Tuasene sebesar Rp. yang artinya telah mencapai titik impas dalam pendapatan, dimana pada saat pendapatan sebesar Rp. 302 pengrajin telah memperoleh modalnya dan telah berada pada titik impas atau dengan kata lain usaha gula merah berada pada posisi yang menguntungkan. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mengenai analisis pendapatan usaha gula merah di desa tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: Pendapatan usaha gula merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan selama 1 bulan dengan rata-rata sebesar Rp. Kelayakan usaha gula merah di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan selama 1 bulan dengan R/C Ratio 6 yang artinya total penerimaan melebihi total biaya yang dikeluarkan sehingga usaha ini secara ekonomis menguntungkan dan layak untuk diusahakan dan Titik impas untuk usaha gula merah selama 1 bulan di Desa Tuasene BEP dalam unit sebesar 32,360 Kg dan BEP dalam pendapatan Rp. Saran Dalam usaha gula merah yang berlokasi di Desa Tuasene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan tentunya ada Manu, et all. Analisis Pendapatan Gula Merah di Desa Tuasene A Page 94 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 hal yang masih perlu ditingkatkan lagi dalam usaha tersebut. Sehingga berdasarkan hasil penelitian dilapangan dan pembahasan yang disusun maka saran sebagai peneliti Dalam usaha gula merah hendaknya usaha tersebut yang sudah dilakukan secara turun temurun tetap dipertahankan dan harus lebih ditingkatkan lagi sehingga dalam memproduksi gula merah secara ekonomi pengrajin gula merah lebih untung dan sejahtera. Kemudian usaha gula merah juga tidak bisa berkembang dan maju tanpa adanya dukungan dari pemerintah sehingga untuk menghitung semua itu pemerintah lebih memperhatikan pengrajin gula merah dengan cara memberikan solusi terhadap setiap masalah yang dihadapi dalam usahanya tersebut. DAFTAR PUSTAKA Arikunto . Prosedur penelitian, suatu pendekatan praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Daniel,M. Pengantar Ekonomi Pertanian Penerbit Bumi Aksara. Cetakan Pertama,April 2002. Dumairy. Perekonomian Indonesia. Fatmawati. Basuki. Ridwan. , & Mahmud. Analisis Kelayakan Usaha Gula Aren di Desa Papaloang Kabupaten Halmahera Selatan. Ilm. Ecosyst, 23, 799-806. Fikry. Muis. ,& Tangkesalu,D. Analisis Pendapatan Dan Kelayakan Usaha Gula Aren Di Desa Tomini Kecamatan Tomini Kabupaten Parigi Moutong. Agrotekbis: E-Jurnall Ilmu Pertanian,7. , 280-286. Hadi,D. S,2016. Optimasi Pemanfaatan Nira Lontar sebagai Sumber Energi Alternatif Provinsi NTT. Laporan Hasil Penelitian BP2LHK. Kupang Harahap,MH . Analisis Nilai Tambah Gula Aren dan Gula Semut (Studi Kasus: Desa Bulu Awar Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdan. p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Hernanto. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya. Hijriani. Modul Pembelajaran SMA Prakarya dan Kewirausahaan Kelas XI: Perhitungan Break Event Point (BEP) Makanan Internasional. Husein. Analisis Penebar Swadaya. Jakarta Ibrahim. Kelayakan dan teknik membedah Gramedia Pustaka