JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Strategi Guru dalam Mencegah Budaya Pacaran di Sekolah Berbasis Tahfiz: Pendekatan Pendidikan Karakter Islami 1,2,3,4 Nurdiani1. Ainal Mardhiah2. Hayati3. Masbur4 Universitas Islam Neger Ar-Raniry. Banda Aceh. Indonesia Email: nurdianiyani40@gmail. Abstract The culture of teenage dating presents a significant challenge in shaping studentsAo character, especially within tahfiz-based schools that combine Islamic education and the national curriculum. This phenomenon has become a serious concern for Islamic educational institutions seeking to nurture morally grounded youth amid increasing digital exposure. This study aims to explore the strategies employed by teachers to prevent dating culture in Islamic boarding schools. Employing a descriptive qualitative approach, data were collected through interviews, observations, and documentation involving all teachers. The findings reveal that prevention strategies are implemented in three stages: planning based on the values of iffah . elf-restrain. and hayaAo . , implementation through daily religious routines, teacher role modeling, and social supervision, and addressing challenges such as digital media influence and limited afterhours monitoring. This study underscores the importance of integrating Islamic character education with context-sensitive pedagogical approaches in shaping adolescent behavior. It contributes to the development of character-building models responsive to the challenges of the digital age. Keywords: Dating Culture. Teacher Strategy. Islamic Character Education. Tahfiz School. Adolescents Abstrak Budaya pacaran di kalangan remaja merupakan tantangan serius dalam pembinaan karakter siswa, terlebih di sekolah berbasis tahfiz yang mengintegrasikan pendidikan agama dan kurikulum nasional. Fenomena ini menjadi perhatian khusus bagi lembaga pendidikan Islam dalam membentuk generasi berakhlak mulia di tengah arus digitalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi guru dalam mencegah budaya pacaran di lingkungan sekolah tahfiz. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap seluruh guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pencegahan dilaksanakan melalui tiga tahap: perencanaan berbasis nilai iffah dan hayaAo, implementasi melalui pembiasaan ibadah, keteladanan guru, dan pengawasan sosial, serta penanganan kendala yang mencakup pengaruh media digital dan keterbatasan pengawasan di luar jam sekolah. Studi ini menegaskan pentingnya integrasi antara pendidikan karakter Islami dan pendekatan pedagogis yang kontekstual dalam membentuk perilaku remaja. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan model pembinaan karakter yang responsif terhadap tantangan era digital. Kata kunci: Budaya Pacaran. Strategi Guru. Pendidikan Karakter Islami. Sekolah Tahfiz. Remaja *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. PENDAHULUAN Fenomena pergaulan remaja pada era digital mengalami transformasi yang signifikan akibat pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi. Remaja kini dihadapkan pada gaya hidup yang semakin terbuka, termasuk dalam aspek relasi sosial antara laki-laki dan perempuan. Salah satu fenomena yang paling mencolok adalah budaya pacaran, yang kerap dianggap sebagai bagian dari ekspresi diri dan kebebasan Padahal, tanpa penguatan nilai-nilai moral dan keagamaan, budaya ini berpotensi mengganggu perkembangan karakter remaja serta mendorong mereka pada perilaku menyimpang (Fuadi, 2022. Rihardini, 2. Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, pacaran dipandang tidak hanya sebagai isu sosial, tetapi juga masalah moral dan Ajaran Islam menekankan pentingnya menjaga batasan pergaulan antara lawan jenis yang bukan mahram sebagai bentuk penjagaan diri dari zina. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-IsrAAo . : 32 yang melarang umat Islam untuk mendekati zina. Larangan ini tidak hanya meliputi perbuatan fisik, tetapi juga berbagai bentuk interaksi yang mendekati kemesraan emosional (Fatihin et al. , 2. Dalam pandangan ulama kontemporer, praktik pacaran yang umum dilakukan remaja, seperti komunikasi intens tanpa pengawasan atau kedekatan fisik, merupakan bagian dari aktivitas yang mendekati zina dan dengan demikian bertentangan dengan prinsip iffah . enjaga kesucian dir. dan hayaAo . asa mal. yang menjadi pilar etika Islam (Damayanti et al. , 2. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pacaran remaja tidak hanya berdampak secara moral, tetapi juga membawa konsekuensi psikologis dan sosial. Remaja yang terlibat dalam hubungan pacaran berisiko mengalami tekanan emosi, kecemasan, serta gangguan konsentrasi yang berpengaruh terhadap prestasi akademik dan relasi sosial (Nur Hidayati & Mulyaningsih, 2. Lebih jauh, pacaran juga berkaitan dengan meningkatnya angka kehamilan pranikah, pernikahan dini, dan putus sekolah (Komariah. Oleh karena itu, pendekatan preventif berbasis nilai-nilai agama menjadi suatu keharusan dalam lingkungan pendidikan. Salah satu strategi yang diyakini efektif dalam mencegah perilaku pacaran bebas adalah pendidikan karakter Islami. Pendidikan ini bertujuan untuk menanamkan nilainilai keimanan, tanggung jawab, dan etika sosial yang berlandaskan syariat. Melalui pembiasaan ibadah, pembelajaran nilai-nilai keagamaan, serta keteladanan guru, siswa JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. diarahkan untuk memiliki kontrol diri dan kesadaran moral yang tinggi (Putri et al. , 2025. Musytari et al. , 2. Model pendidikan karakter ini sejalan dengan pandangan Lickona . , yang menyatakan bahwa pendidikan moral yang utuh harus mencakup dimensi pengetahuan moral . oral knowin. , perasaan moral . oral feelin. , dan tindakan moral . oral actio. Dalam konteks pendidikan Islam, guru memainkan peran sentral sebagai fasilitator, pembina, dan teladan. Strategi guru tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga menyentuh aspek afektif dan psikomotorik siswa, serta memfasilitasi pembinaan akhlak melalui pendekatan kontekstual dan personal (Parnawi & Ridho, 2023. Kholik et al. , 2. Guru diharapkan mampu menjadi panutan moral yang tidak hanya memberi nasihat, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Islam dalam interaksi sehari-hari. Hal ini semakin penting dalam menghadapi pengaruh media sosial dan budaya populer yang kian bebas. Media digital, sebagaimana dikemukakan oleh Nur Avivah et al. dan Syahyudin . , telah menjadi saluran utama penyebaran nilainilai yang sering kali bertentangan dengan prinsip Islam. Namun demikian, hingga kini, kajian yang secara spesifik membahas strategi guru dalam menghadapi budaya pacaran di sekolah berbasis tahfiz masih terbatas. Konteks ini menjadi penting karena siswa di sekolah tahfiz umumnya memiliki ekspektasi religius yang lebih tinggi, namun tetap tidak luput dari pengaruh globalisasi dan perkembangan Salah satu institusi yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah SMA Athiyah Banda Aceh, sebuah sekolah berbasis pesantren . yang memadukan kurikulum nasional dengan pendidikan tahfiz Al-QurAoan. Sekolah ini dikenal memiliki sistem pembinaan karakter Islami yang terintegrasi, namun tetap menghadapi tantangan eksternal dalam membina akhlak siswa, terutama dalam aspek pergaulan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam strategi yang diterapkan oleh guru dalam mencegah budaya pacaran di lingkungan SMA Athiyah Banda Aceh. Fokus utama kajian mencakup tiga aspek: . bagaimana guru merancang perencanaan pembinaan karakter untuk mencegah pacaran, . bagaimana strategi tersebut diimplementasikan dalam kehidupan sekolah, serta . apa saja kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat pengembangan model pembinaan moral di sekolah berbasis nilai agama. Islami JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengungkap secara mendalam strategi guru dalam mencegah budaya pacaran di lingkungan sekolah berbasis tahfiz. Pendekatan ini dipilih karena mampu menangkap dinamika sosial dan keagamaan secara kontekstual, serta menjelaskan realitas empirik dalam implementasi pendidikan karakter Islami di SMA Athiyah Banda Aceh. Sejalan dengan Lubis dan Murniyetti . , pendekatan kualitatif deskriptif efektif digunakan dalam riset yang menelaah praktik pembinaan karakter dan perilaku keagamaan siswa. Subjek penelitian adalah seluruh guru di SMA Athiyah Banda Aceh yang berjumlah 20 Karena populasi yang relatif kecil dan seluruh guru memiliki keterlibatan langsung dalam proses pembinaan karakter siswa, maka digunakan teknik total sampling. Teknik ini memungkinkan peneliti mendapatkan data menyeluruh dari semua pihak yang relevan, tanpa risiko kehilangan variasi perspektif yang mungkin muncul dalam pendekatan sampling terbatas. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama: wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada seluruh guru untuk menggali strategi perencanaan, bentuk implementasi, serta kendala yang mereka hadapi dalam mencegah budaya pacaran di sekolah. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan program pembinaan karakter Islami, seperti pembiasaan ibadah, kajian kitab, dan interaksi sosial siswa. Sementara dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pendukung dari dokumen sekolah, termasuk rencana pembelajaran (RPP), tata tertib, program ekstrakurikuler, serta catatan monitoring siswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman, yang terdiri dari tiga tahap utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan Reduksi data dilakukan dengan memilih dan menyederhanakan informasi dari lapangan sesuai fokus penelitian. Data yang telah terpilih disajikan dalam bentuk narasi tematik untuk memudahkan penelusuran pola dan makna. Kesimpulan kemudian ditarik berdasarkan interpretasi temuan yang konsisten dengan rumusan masalah. Model analisis ini dipilih karena dinilai efektif untuk merangkai data kualitatif yang kompleks dan kontekstual. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum SMA Athiyah Banda Aceh SMA Athiyah Banda Aceh adalah salah satu lembaga pendidikan menengah yang mengusung model pendidikan terpadu berbasis pesantren. Sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Athiyah, yang dikenal memiliki komitmen kuat terhadap pengembangan akhlak dan nilai-nilai keislaman dalam pendidikan formal. Secara kelembagaan. SMA Athiyah mengintegrasikan kurikulum nasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan kurikulum keagamaan khas dayah, seperti tahfiz AlQurAoan, kajian kitab kuning, serta program pembinaan ibadah dan adab siswa. Seluruh peserta didik di SMA Athiyah diwajibkan tinggal di asrama, mengikuti kegiatan belajar-mengajar reguler di pagi hari, dan melanjutkan dengan program keagamaan di sore dan malam hari. Beberapa kegiatan rutin yang menjadi pembiasaan harian antara lain: salat berjamaah lima waktu, tadarus pagi sebelum belajar, kultum dzuhur, tahfiz harian, puasa sunnah, serta pengajian kitab klasik setiap malam. Pola pendidikan yang terstruktur ini dirancang untuk membentuk pribadi siswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan emosional. Dalam aspek kehidupan sosial siswa, sekolah menerapkan aturan ketat terkait interaksi antara laki-laki dan perempuan. Ruang kelas dan tempat tinggal dipisahkan secara ketat, serta ada pengawasan langsung dari guru dan pembina asrama untuk menghindari potensi pelanggaran tata tertib, termasuk dalam hal pergaulan bebas dan budaya pacaran. Larangan komunikasi personal antara lawan jenis di luar kepentingan akademik ditegaskan dalam peraturan sekolah, dan pelanggaran terhadap aturan ini dapat dikenai sanksi bertingkat sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, kendati sistem pengawasan internal sekolah cukup kuat. SMA Athiyah tetap menghadapi tantangan besar dari luar, khususnya dalam hal pengaruh media sosial dan budaya digital. Siswa masih dapat mengakses aplikasi komunikasi dan platform digital lain melalui perangkat pribadi, yang membuka peluang munculnya interaksi tersembunyi antara lawan jenis. Beberapa guru mengakui bahwa meskipun pacaran secara fisik jarang ditemukan, komunikasi emosional intensif antar siswa tetap terjadi dalam bentuk pesan daring yang sulit diawasi sepenuhnya. Dalam konteks inilah, peran guru menjadi sangat strategis. Guru tidak hanya bertindak sebagai penyampai materi pelajaran, tetapi juga sebagai figur sentral dalam JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. pembinaan karakter dan penguatan nilai keislaman. Mereka diharapkan mampu merancang dan mengimplementasikan strategi pencegahan yang tidak sekadar bersifat normatif, tetapi juga responsif terhadap realitas sosial dan psikologis siswa. Oleh karena itu, pemahaman terhadap kondisi lingkungan sekolah, sistem nilai yang dianut, dan tantangan yang dihadapi menjadi dasar penting dalam menganalisis strategi guru dalam mencegah budaya pacaran di SMA Athiyah Banda Aceh. Perencanaan Strategi Guru dalam Mencegah Budaya Pacaran Perencanaan strategi pencegahan budaya pacaran di SMA Athiyah Banda Aceh dilakukan secara terstruktur dan menyeluruh, dengan mengacu pada visi sekolah untuk mencetak generasi QurAoani yang berakhlak mulia. Seluruh guru menyatakan bahwa proses perencanaan tidak hanya dibebankan pada individu pengajar, tetapi merupakan hasil koordinasi bersama antara pihak manajemen sekolah, guru bidang studi, pembina asrama, dan komite tahfiz. Perencanaan ini difokuskan pada penguatan pembinaan keagamaan dan pengendalian interaksi sosial siswa melalui pendekatan pembiasaan, keteladanan, serta penguatan regulasi berbasis syariat. Dari data wawancara dan dokumen sekolah, diketahui bahwa perencanaan strategi meliputi integrasi nilai-nilai Islam dalam pembelajaran lintas mata pelajaran, khususnya Pendidikan Agama Islam. Bahasa Arab, dan Budi Pekerti. Nilai iffah . enjaga kesucian dir. dan hayaAo . asa mal. menjadi landasan utama yang ingin diinternalisasikan kepada siswa, baik secara konseptual maupun praktik keseharian. Sebagaimana tercantum dalam RPP dan agenda pembelajaran semester, topik-topik seperti batasan pergaulan, bahaya zina, dan adab interaksi lawan jenis dijadikan bagian dari materi pembinaan, baik dalam kelas formal maupun forum informal seperti kultum, halaqah, dan kegiatan muhasabah Strategi pencegahan juga diwujudkan dalam bentuk pembiasaan ibadah harian yang dipantau langsung oleh wali kelas dan guru piket. Kegiatan seperti salat berjamaah, puasa sunnah, tilawah pagi, dan zikir kolektif bukan hanya dijalankan sebagai rutinitas, tetapi dirancang untuk membentuk kepekaan spiritual dan kedisiplinan moral siswa. Guru-guru meyakini bahwa pembiasaan ini berfungsi sebagai fondasi pengendalian diri, khususnya dalam hal interaksi dengan lawan jenis. Dalam konteks pendidikan karakter, pendekatan ini sejalan dengan pandangan Lickona . , yang menekankan pentingnya keterpaduan antara aspek moral knowing . engetahuan mora. , moral feeling . esadaran emosiona. , dan moral action . erilaku JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Perencanaan di SMA Athiyah terlihat tidak hanya menekankan aspek kognitif siswa, tetapi juga mendorong pembentukan karakter melalui pendekatan emosional dan pembiasaan tindakan yang terpuji. Selain itu, pihak sekolah menetapkan kode etik yang tertuang dalam tata tertib siswa, yang secara eksplisit melarang bentuk komunikasi pribadi antara laki-laki dan perempuan di luar kebutuhan belajar. Dalam beberapa sesi wawancara, guru menyatakan bahwa aturan ini bukan semata-mata larangan, tetapi bagian dari ikhtiar menjaga kehormatan siswa dan menghindarkan mereka dari interaksi yang tidak proporsional secara syarAoi. Larangan ini mengacu pada prinsip QS. Al-IsrAAo . : 32 yang melarang pendekatan terhadap zina, dan dijadikan sebagai dasar teologis dalam menyusun regulasi internal sekolah. Dengan demikian, perencanaan strategi pencegahan budaya pacaran di SMA Athiyah tidak hanya bersifat administratif, tetapi dibangun di atas nilai-nilai Islam yang menjadi budaya kolektif sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah tidak sekadar merespons fenomena remaja modern, tetapi secara proaktif membangun sistem pendidikan yang responsif terhadap tantangan zaman tanpa kehilangan akar nilai syariat. Implementasi Strategi Guru dalam Pencegahan Budaya Pacaran Implementasi strategi guru dalam mencegah budaya pacaran di SMA Athiyah Banda Aceh dijalankan melalui pendekatan pembiasaan keagamaan, keteladanan perilaku, serta pengawasan sosial yang berkesinambungan. Seluruh aktivitas sekolah dirancang untuk menciptakan lingkungan yang mendorong internalisasi nilai iffah . enjaga kehormatan dir. dan hayaAo . asa mal. , dua konsep moral utama dalam Islam yang menjadi landasan sikap pergaulan Islami. Salah satu bentuk implementasi yang menonjol adalah pembiasaan ibadah harian, seperti salat berjamaah, tilawah pagi, puasa sunnah, dan kajian kitab setelah Magrib. Aktivitas ini bukan hanya dimaksudkan untuk meningkatkan spiritualitas siswa, tetapi juga sebagai instrumen pembinaan akhlak dan penguatan kontrol diri terhadap dorongan pergaulan bebas. Sebagaimana dijelaskan oleh Yusnidar . , pembiasaan religius yang dilakukan secara konsisten dalam setting pesantren modern dapat menjadi medium efektif dalam membentuk karakter moral peserta didik, terutama dalam konteks pergaulan sosial remaja. Keteladanan guru juga menjadi aspek kunci dalam strategi ini. Salah seorang guru menyampaikan. AuKalau kami melarang siswa pacaran, maka kami juga harus menjadi JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Cara berpakaian, cara berbicara, bahkan cara kami menyapa murid harus tetap sopan dan sesuai adab IslamAy (Wawancara. Guru A). Hal ini selaras dengan pandangan Bandura . dalam social learning theory, yang menekankan pentingnya peran model dalam proses belajar sosial. Ketika guru menunjukkan sikap konsisten antara ucapan dan perbuatan, siswa cenderung meniru dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari kepribadiannya. Rahmi . juga menemukan bahwa pembinaan akhlak remaja akan lebih efektif apabila guru tidak hanya mengandalkan larangan verbal, tetapi menyentuh aspek afektif dan spiritual melalui keteladanan dan komunikasi interpersonal yang hangat. Di SMA Athiyah, hal ini dilakukan melalui pengajian malam, kultum dzuhur, dan nasihat-nasihat personal di luar jam pelajaran. Pengawasan interaksi sosial siswa dijalankan secara disiplin melalui pemisahan ruang belajar, pemantauan guru piket, serta aturan tegas yang melarang komunikasi pribadi antara siswa laki-laki dan perempuan di luar kepentingan akademik. Namun demikian, tantangan muncul dari sisi penggunaan teknologi digital. Seorang guru menuturkan. AuKami bisa awasi di sekolah, tapi kami tidak tahu apa yang mereka lakukan lewat HP saat malam hari di asramaAy (Wawancara. Guru B). Ini menggambarkan keterbatasan kontrol konvensional terhadap media sosial, sebagaimana juga disoroti oleh Wahyuni . , bahwa pengaruh dunia digital terhadap perilaku remaja sering kali berada di luar jangkauan institusi pendidikan formal. Dari sisi pembelajaran, sebagian guru telah memasukkan nilai-nilai terkait pergaulan Islami ke dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam dan kegiatan ekstrakurikuler, meskipun belum seluruhnya terakomodasi secara eksplisit dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Ini mengindikasikan bahwa integrasi nilai karakter dalam kurikulum masih bersifat parsial dan sangat bergantung pada inisiatif individual guru. Dengan demikian, implementasi strategi guru di SMA Athiyah Banda Aceh menunjukkan efektivitas dalam membangun budaya sekolah yang religius dan mendorong pengendalian diri. Keberhasilan ini diperkuat oleh pendekatan integratif antara ibadah, keteladanan, dan pengawasan sosial yang berbasis pada nilai-nilai Islam. Meskipun demikian, tantangan dalam pengawasan digital dan belum optimalnya integrasi kurikulum tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani melalui penguatan kapasitas guru dan inovasi pembelajaran karakter yang kontekstual. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Kendala yang Dihadapi Guru dalam Pencegahan Budaya Pacaran Meskipun strategi pencegahan budaya pacaran di SMA Athiyah Banda Aceh telah diimplementasikan secara komprehensif, guru tetap menghadapi sejumlah kendala dalam Kendala ini muncul baik dari aspek internal, seperti keterbatasan kurikulum dan personel, maupun eksternal, seperti pengaruh lingkungan sosial dan media digital yang sulit dikendalikan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan pengawasan terhadap perilaku siswa di luar jam formal pembelajaran, khususnya dalam penggunaan gawai pribadi. Meskipun sekolah telah menetapkan aturan ketat terkait komunikasi antara siswa laki-laki dan perempuan, pengaruh media sosial tetap membuka celah interaksi yang bersifat pribadi dan tersembunyi. Seorang guru menyampaikan. AuKami bisa awasi di sekolah, tapi kami tidak tahu apa yang mereka lakukan lewat HP saat malam hari di asramaAy (Wawancara. Guru B). Pernyataan ini menegaskan bahwa pendekatan pengawasan konvensional belum sepenuhnya efektif dalam menghadapi tantangan era Kendala lainnya berkaitan dengan kurikulum dan beban administrasi guru. Sebagian guru mengakui bahwa nilai-nilai keislaman terkait pergaulan sehat belum secara eksplisit dimasukkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hal ini menjadikan penguatan karakter terkait iffah dan hayaAo lebih banyak disampaikan secara informal, dan sangat tergantung pada inisiatif serta kapasitas individual guru. Kondisi ini juga dikuatkan oleh temuan Wahyuni . , yang menunjukkan bahwa integrasi nilai karakter dalam kurikulum seringkali tidak sistematis dan bergantung pada kreativitas Selain itu, tidak semua siswa menunjukkan kesiapan untuk menerima nasihat atau teguran guru, terutama dalam konteks relasi emosional yang sudah terbentuk dengan lawan jenis. Dalam wawancara, salah seorang guru menyatakan bahwa pendekatan yang terlalu keras justru dapat menimbulkan resistensi atau pelanggaran yang dilakukan secara diam-diam. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan komunikatif dan persuasif yang mampu menjangkau dimensi psikologis siswa. Dari sisi struktural, keterbatasan jumlah tenaga pengajar dan pengasuh asrama juga menjadi kendala tersendiri. Rasio jumlah guru dengan siswa tidak selalu ideal untuk memastikan pengawasan berjalan optimal. Akibatnya, dalam beberapa kondisi, interaksi siswa tidak sepenuhnya terpantau, terutama di lingkungan nonformal seperti kantin, perpustakaan, atau saat kegiatan luar kelas. Kendala-kendala ini menunjukkan bahwa JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. meskipun strategi pencegahan sudah disusun dengan baik, efektivitas implementasinya tetap menghadapi tantangan nyata di lapangan. Diperlukan inovasi dan dukungan sistemik yang lebih kuat agar pembinaan karakter dan pengendalian budaya pacaran dapat dijalankan secara lebih komprehensif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi guru dalam mencegah budaya pacaran di SMA Athiyah Banda Aceh dilaksanakan secara terencana, terstruktur, dan berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Proses perencanaan melibatkan integrasi nilai iffah dan hayaAo ke dalam pembelajaran dan pembinaan karakter, baik melalui materi ajar formal maupun kegiatan keagamaan nonformal. Implementasi strategi dilakukan melalui pembiasaan ibadah, keteladanan perilaku guru, dan pengawasan sosial yang konsisten di lingkungan sekolah dan asrama. Namun demikian, guru tetap menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan pengawasan terhadap siswa di luar jam sekolah, pengaruh media sosial, dan belum optimalnya integrasi nilai karakter dalam RPP. Selain itu, tantangan juga muncul dari rasio jumlah guru yang tidak sebanding dengan siswa serta resistensi siswa terhadap pendekatan yang terlalu normatif. Secara teoritik, penelitian ini memperkuat relevansi pendekatan karakter Islami berbasis pembiasaan dan keteladanan sebagaimana dikemukakan oleh Lickona dan Bandura. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi pembinaan karakter yang responsif terhadap tantangan era digital, khususnya dalam konteks sekolah berbasis tahfiz. Diperlukan inovasi kurikulum dan penguatan kapasitas guru agar strategi pencegahan budaya pacaran dapat dijalankan secara lebih efektif, adaptif, dan *** DAFTAR PUSTAKA