LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || PENERAPAN PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBICARA DENGAN METODE STORY TELLING DI KELAS IV SD Eka Dian Lestari 1,*. Sutardi 2. Mustofa 3 *1-3Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1ekalestari621@guru. 2sutardi@unisda. 3 tofa09@unisda. ARTICLE INFO Article history Received: 02-01-2025 Revised: 20-01-2025 Accepted: 02-02-2025 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan metode story telling dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas IV SD Negeri Kandangrejo. Kecamatan Kedungpring. Masalah yang ditemukan adalah rendahnya hasil keterampilan berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang disebabkan oleh kurangnya aktivitas siswa dan penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat. Metode story telling dipilih karena berpusat pada siswa dan melibatkan konteks dunia nyata untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kolaborasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan observasi, wawancara, angket, dan tes menulis teks deskripsi sebagai instrumen pengumpulan data. Subjek penelitian terdiri dari 18 siswa kelas IV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode story telling efektif meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Selain itu, siswa juga menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan motivasi belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode story telling dapat menjadi strategi pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara di sekolah dasar. Kata kunci : Pendekatan Pembelajaran. Story Telling. Keterampilan Berbicara. ABSTRACT This study aims to examine the application of the storytelling method in improving the speaking skills of fourth-grade students at SD Negeri Kandangrejo. Kedungpring District. The identified problem is the low speaking skill performance in Indonesian language lessons, which is caused by a lack of student activity and the use of inappropriate teaching models. The storytelling method was chosen because it is student-centered and involves real-world contexts to develop critical thinking, problem-solving, and collaboration skills. This research employs a qualitative descriptive approach with data collection instruments such as observation, interviews, questionnaires, and descriptive text writing tests. The study's subjects consist of 18 fourth-grade students. The results show that the implementation of the storytelling method effectively improved students' speaking skills. Additionally, students also demonstrated increased critical thinking abilities, teamwork, and learning motivation. The study concludes that the storytelling method can be an innovative teaching strategy to enhance speaking skills in elementary school education. Kata Kunci: Learning Approach. Storytelling. Speaking Skills. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Keterampilan berbicara merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia, terutama di tingkat Sekolah Dasar. Berbicara adalah aktivitas menyampaikan gagasan secara lisan dengan menggunakan bahasa yang jelas dan terstruktur. Keterampilan berbicara mencerminkan kemampuan seseorang dalam menyusun dan mengungkapkan https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. pikiran secara runtut, logis, dan menarik. Menurut Tarigan . Keterampilan berbicara merupakan kemampuan yang harus dilatih sejak dini agar siswa dapat berkomunikasi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Di tingkat Sekolah Dasar. Keterampilan berbicara sangat penting karena membantu siswa dalam menyampaikan ide, memahami pesan yang diterima, serta membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi. Pada kelas IV, siswa diharapkan mampu menyampaikan cerita secara lisan dengan struktur yang jelas, menggunakan intonasi yang tepat, serta melibatkan ekspresi dan gerak tubuh yang mendukung (Mendikbud, 2. Namun, dalam praktiknya, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam berbicara secara lancar dan percaya diri. Kesulitan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi Keterampilan berbicara meliputi kecerdasan, bakat, minat, serta motivasi siswa dalam belajar. Motivasi memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan siswa dalam mengembangkan Keterampilan berbicara. Menurut Saptono . , siswa yang memiliki motivasi tinggi akan lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dan berusaha meningkatkan kemampuannya. Sebaliknya, siswa yang kurang termotivasi cenderung pasif dan mengalami kesulitan dalam menyampaikan pendapat mereka secara Selain faktor internal, terdapat pula faktor eksternal yang meliputi kualitas pengajaran guru, media pembelajaran, serta lingkungan belajar yang kondusif. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan pembelajaran yang menarik dan efektif. Mereka harus mampu mengelola kelas dengan baik serta menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Dalam pembelajaran berbicara, guru dituntut untuk menggunakan pendekatan yang interaktif agar siswa lebih terlibat dalam proses pembelajaran. Namun, pada kenyataannya, banyak guru masih menggunakan metode ceramah yang kurang efektif dalam mengembangkan Keterampilan berbicara siswa. Hal ini menyebabkan siswa menjadi kurang aktif dan tidak percaya diri dalam berbicara di depan kelas (Sari & Ahmad, 2021:. Pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar perlu menekankan pengembangan Keterampilan berbicara secara menyeluruh, termasuk penggunaan strategi dan metode yang Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan Keterampilan berbicara adalah metode Storytelling. Metode ini melibatkan siswa dalam menyampaikan cerita secara lisan dengan menggunakan ekspresi, intonasi, dan gestur yang sesuai. Storytelling membantu siswa dalam mengembangkan Keterampilan komunikasi, daya imajinasi, serta rasa percaya diri dalam berbicara (Rahman, 2020:. Metode Story telling memiliki banyak keunggulan dalam pembelajaran berbicara. Menurut Suyatno . 8:1. , metode ini memungkinkan siswa untuk berlatih menyampaikan cerita dengan cara yang lebih menarik dan interaktif. Dengan bercerita, siswa dapat mengembangkan kreativitas mereka serta meningkatkan kemampuan dalam menyusun dan menyampaikan gagasan secara terstruktur. Selain itu, penggunaan media pendukung seperti gambar, boneka, atau alat peraga lainnya dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan Namun, masih banyak kendala dalam penerapan metode Storytelling di kelas IV SD. Salah satunya adalah keterbatasan media pembelajaran yang digunakan oleh guru. Media yang kurang menarik dapat membuat siswa kehilangan minat dalam belajar, sehingga mereka kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam menyusun dan menyampaikan cerita dengan baik. Menurut Susanto . , tantangan utama dalam pembelajaran berbicara adalah kurangnya kemampuan siswa dalam mengorganisasikan ide serta memilih kata-kata yang sesuai. Siswa sering kali merasa ragu dan kurang percaya diri dalam berbicara di depan teman-temannya. Untuk mengatasi kendala tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan Salah satu solusinya adalah dengan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran Storytelling. Penggunaan media digital seperti video, animasi, atau aplikasi interaktif dapat membantu siswa dalam memahami konsep bercerita serta meningkatkan minat mereka dalam Selain itu, guru juga perlu memberikan bimbingan yang lebih intensif dalam melatih siswa berbicara dengan baik dan percaya diri. Penerapan Pembelajaran Keterampilan Berbicara dengan Metode Story Telling di Kelas IV SD Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode Storytelling dalam pembelajaran Keterampilan berbicara di kelas IV SD serta menilai efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan metode pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, khususnya dalam meningkatkan Keterampilan berbicara yang lebih interaktif, menarik, dan efektif bagi siswa. Dengan demikian, penggunaan metode Storytelling dapat menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi kendala dalam pembelajaran berbicara serta mendorong tercapainya tujuan pembelajaran yang lebih optimal dan efektif bagi siswa kelas IV Sekolah Dasar. Metode Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh penerapan metode storytelling terhadap Keterampilan berbicara siswa kelas IV SD Negeri Kandangrejo. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi hasil tes Keterampilan berbicara . re-test dan posttes. , observasi selama proses pembelajaran, serta wawancara dengan siswa setelah penerapan metode storytelling. Pre-test dilakukan pada awal penelitian untuk mengukur kemampuan berbicara siswa dalam hal kelancaran berbicara, penggunaan kosakata, pengucapan, serta kemampuan mereka dalam menyusun dan menyampaikan ide secara Setelah pemberian perlakuan berupa pembelajaran storytelling selama empat minggu, post-test dilakukan untuk mengukur peningkatan Keterampilan berbicara siswa. Pada kelompok eksperimen yang terdiri dari 18 siswa, setiap sesi pembelajaran menggunakan metode storytelling. Cerita yang dibacakan oleh guru dihadirkan secara menarik dengan penggunaan visual dan elemen suara untuk menarik perhatian siswa. Siswa kemudian diminta untuk menceritakan kembali cerita tersebut dengan gaya mereka sendiri, melatih kemampuan berbicara mereka dalam konteks yang menyenangkan. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan, storytelling tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri siswa, tetapi juga membantu mereka mengorganisasi ide dan menyampaikan informasi secara lebih jelas dan AuStorytelling is an engaging method of learning that allows students to express ideas, develop communication skills, and increase self-confidenceAy. Sementara itu, kelompok kontrol yang juga terdiri dari 18 siswa, menerima pembelajaran berbicara konvensional yang berfokus pada latihan berbicara formal tanpa menggunakan metode storytelling. Pembelajaran di kelompok kontrol lebih menekankan pada latihan berbicara dengan mengikuti pedoman yang telah disediakan, tanpa adanya elemen interaktif dan kreatif yang hadir dalam metode storytelling. Selain tes Keterampilan berbicara, data juga diperoleh melalui observasi dan wawancara. Observasi dilakukan selama kegiatan storytelling untuk mencatat bagaimana siswa berpartisipasi dalam kegiatan berbicara, serta untuk melihat perkembangan rasa percaya diri mereka saat berbicara di depan teman-temannya. Sejalan dengan pendapat Bell . yang menyatakan bahwa storytelling dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar, hasil observasi menunjukkan bahwa siswa kelompok eksperimen lebih aktif berbicara dan lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat mereka di depan kelas. Bell . mengungkapkan bahwa AuStorytelling allows students to connect emotionally with content and engage more fully in the learning process,Ay yang terlihat jelas dari keterlibatan siswa dalam menceritakan kembali cerita yang mereka dengar. Wawancara dengan beberapa siswa setelah pembelajaran menunjukkan bahwa mereka merasa lebih nyaman berbicara di depan umum setelah mengikuti kegiatan storytelling. Siswa mengungkapkan bahwa metode ini membuat mereka lebih percaya diri dan menikmati proses Sebagai contoh, salah seorang siswa mengatakan. AuAku merasa lebih berani berbicara setelah belajar bercerita, karena aku bisa menceritakan apa yang aku pikirkan dengan lebih bebas dan menyenangkan. Ay Data yang diperoleh dari hasil tes Keterampilan berbicara, observasi, dan wawancara kemudian dianalisis untuk mengetahui apakah ada peningkatan Keterampilan berbicara pada siswa yang diberikan perlakuan storytelling dibandingkan dengan kelompok kontrol. Analisis statistik menggunakan uji t akan dilakukan untuk menguji apakah perbedaan antara kedua Penerapan Pembelajaran Keterampilan Berbicara dengan Metode Story Telling di Kelas IV SD Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. kelompok tersebut signifikan. Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat memberikan bukti yang kuat bahwa penerapan metode storytelling dapat meningkatkan Keterampilan berbicara siswa kelas IV SD Negeri Kandangrejo secara signifikan. Hasil dan Pembahasan Hasil Keterampilan Berbicara dengan Menerapkan Metode Story Telling Siswa Kelas IV SD Negeri Kandangrejo Kecamatan Kedungpring Ditinjau dari Aktivitas Guru Tabel 1. Hasil Observasi terhadap Guru dalam Pembelajaran Hal-hal yang diamati Jml Skor Jumlah Nilai Rata-rata Kriteria Penilaian Skor 3 = Baik Skor 2 = Cukup Skor 1 = Kurang Nama Nurul Hidayatus Solihah. Pd. 6 7 8 9 10 3 2 3 3 3 Perolehan skor 93 terhadap observasi aktivitas guru. Berdasarkan tabel penilaian aktivitas guru di atas dapat disimpulkan hasil perincian tiap aktivitas guru pada tabel 2 berikut. No. Tabel 2. Perolehan Tiap Indikator Aktivitas Guru Baik Cukup Aspek yang dinilai . Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Oo Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya Oo dan menjawab pertanyaan guru Membagi dalam kelompok berpasangan Oo Memerintahkan siswa secara berpasangan untuk melatih Oo ketrampilan berbicara Mengintruksi siswa dalam menyusun struktur kalimat saat Oo Mengintruksi siswa dalam memilih kata yang tepat saat Oo digunakan saat berbicara Mengintruksi siswa untuk memperhatikan ejaan, dan Oo tanda baca dalam ketrampilan berbicara Mengintruksi siswa untuk memperhatikan intonasi dalam Oo ketrampilan berbicara Memerintahkan siswa supaya bergantian saat bercerita Oo didepan kelas Melakukan evaluasi/penilaian terhadap pembelajaran Oo ketrampilan berbicara Kriteria Penilaian Skor 3 = Baik Skor 2 = Cukup Kurang . Penerapan Pembelajaran Keterampilan Berbicara dengan Metode Story Telling di Kelas IV SD Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Skor 1 = Kurang Berdasarkan tabel 1 hasil aktivitas guru dalam ketrampilan berbicara di atas dapat diambil simpulan bahwa aktivitas guru dalam ketrampilan berbicara termasuk dalam kategori Sangat Baik. Hal ini berdasarkan hasil rata-rata yang diperoleh yaitu 93. Sementara itu berdasarkan tabel 2 di atas, diketahui perincian tiap aspek aktivitas guru dalam penerapan pembelajaran ketrampilan berbicara adalah sebagai berikut: . aktivitas guru pada Aumenyampaikan tujuan dan memotivasi siswaAy diperoleh kategori baik, . aktivitas guru pada Aumemberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan guru Au diperoleh kategori baik, . aktivitas guru Aumembagi dalam kelompok berpasangan Audiperoleh kategori cukup, . aktivitas guru pada AuMemerintahkan siswa secara berpasangan untuk melatih ketrampilan berbicaraAy diperoleh kategori baik, . aktivitas guru pada AuMengintruksi siswa dalam menyusun struktur kalimat saat berbicaraAy diperoleh kategori baik, . aktivitas guru AuMengintruksi siswa dalam memilih kata yang tepat saat digunakan saat berbicara Au diperoleh kategori cukup . Aktivitas guru pada AuMengintruksi siswa untuk memperhatikan ejaan, dan tanda baca dalam ketrampilan berbicara Au diperoleh kategori baik, . aktivitas guru AuMengintruksi siswa untuk memperhatikan intonasi dalam ketrampilan berbicaraAy diperoleh kategori cukup, . aktivitas guru pada AuMemerintahkan siswa supaya bergantian saat bercerita didepan kelasAydiperoleh kategori baik, dan . aktivitas guru pada Aumelakukan evaluasi/penilaian terhadap pembelajaran ketrampilan berbicaraAy diperoleh kategori baik. Keterampilan Berbicara dengan Metode Story Telling Siswa Kelas IV SD Negeri Kandangrejo Kecamatan Kedungpring Ditinjau dari Aktivitas Siswa Aktivitas siswa selama pembelajaran dapat dilihat pada hasil pengamatan sesuai tabel berikut ini: Tabel 3. Hasil Observasi terhadap Siswa Nama Siswa Ahmad Nilson Baharrudin Hal-Hal yang Diamati Jml Skor Devano Alfarish Sholichul H Dzakira Talita Zahra Hafizatul Khusnia Keenan Abiyu Razqa B Kinan Shalma Hafidza Laji Fadhil Cahyono Muhammad Fahmi Amar Muhammad Ghalih Pratama Muhammad Surya A Muhammad Syahrul A 1 2 3 Ahmad Ziqi Pranata Saputra 3 Airen Nathania Firayza Al Zhafira Qairen Hibatillah Askya Sakina Zahra Bellina Riska Maulida Bilal Al-Ghyfari Putra D Penerapan Pembelajaran Keterampilan Berbicara dengan Metode Story Telling di Kelas IV SD Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Resna Mahardika Prasaja Jumlah Nilai Rata-Rata Kriteria Penilaian A Skor 3 = Baik A Skor 2 = Cukup A Skor 1 = Kurang yce ycE = ycA ycu100% No. Berdasarkan tabel penilaian aktivitas siswa di atas dapat disimpulkan hasil perincian tiap aktivitas siswa pada tabel 4 berikut. Tabel 4. Hasil Observasi Terhadap Aktivitas Siswa Baik Cukup Kurang Aspek yang dinilai . Perhatian siswa ketika menerima materi Antusias siswa dalam bertanya Secara aktif berbagi dalam kelompok berpasangan Secara berpasangan siswa berdiskusi membuat rangkaian kalimat Dalam kelompok siswa aktif memberikan sumbangsih ide untuk merangkai kalimat Memperhatikan dalam merangkai kalimat Memperhatikan jumlah kata dan tanda baca Secara berpasangan siswa mendiskusikan hasil rangkaian kalimat apakah ada yang salah atau tidak Secara bergantian siswa mempresentasikan hasil rangkaian kalimat Kriteria Penilaian Skor 3 = Baik Skor 2 = Cukup Skor 1 = Kurang Berdasarkan tabel 3 hasil aktivitas siswa dalam ketrampilan berbicara di atas dapat diambil kesimpulan bahwa aktivitas siswa dalam ketrampilan berbicara termasuk dalam kategori sangat baik. Hal ini berdasarkan hasil rata-rata yang diperoleh yaitu 86. Sementara itu berdasarkan tabel 4 di atas, diketahui perincian tiap aspek aktivitas siswa sebagai berikut: . aktivitas siswa pada Auperhatian siswa ketika menerima materiAy diperoleh kategori baik atau sebanyak 16 siswa, pada kategori cukup sebanyak 2 siswa, dan ketegori kurang sebanyak 0 siswa, . aktivitas siswa pada Auantusias siswa dalam bertanyaAy diperoleh kategori baik sebanyak 11 siswa, pada kategori cukup sebanyak 7 siswa, dan pada kategori kurang sebanyak 0 siswa, . aktivitas siswa pada Ausecara aktif berbagi dalam kelompok berpasanganAy diperoleh kategori baik atau sebanyak 12 siswa, pada kategori cukup sebanyak 6 siswa, dan pada kategori skurang sebanyak 0 siswa, . aktivitas Ausiswa pada Secara berpasangan siswa berdiskusi membuat rangkaian kalimatAy kategori baik atau sebanyak 16 siswa, pada kategori cukup sebanyak 2 siswa, dan pada kategori kurang sebanyak 0 siswa, . aktivitas siswa pada AuDalam kelompok siswa aktif memberikan sumbangsih ide untuk merangkai kalimatAy diperoleh sebanyak 10 siswa. Penerapan Pembelajaran Keterampilan Berbicara dengan Metode Story Telling di Kelas IV SD Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. pada kategori cukup sebanyak 8 siswa dan pada kategori kurang sebanyak 0 siswa, . aktivitas siswa pada AuMemperhatikan dalam merangkai kalimatAydiperoleh sebanyak 8 siswa, pada kategori cukup diperoleh sebanyak 10 siswa dan pada kategori kurang sebanyak 0 siswa, . aktivitas siswa pada AuMemperhatikan jumlah kata dan tanda bacaAy diperoleh sebanyak 9 siswa, pada kategori cukup sebanyak 9 siswa dan pada kategori kurang sebanyak 0 siswa, . aktivitas siswa pada AuSecara berpasangan siswa mendiskusikan hasil rangkaian kalimat apakah ada yang salah atau tidakAy diperoleh sebanyak 1 siswa, pada kategori cukup diperoleh sebanyak 16 siswa dan pada kategori kurang diperoleh sebanyak 1 siswa, . aktivitas siswa pada AuSecara bergantian siswa mempresentasikan hasil rangkaian kalimatAy diperoleh sebanyak 11 siswa, pada kategori cukup diperoleh sebanyak 7 siswa dan pada kategori kurang diperoleh sebanyak 0 siswa, . aktivitas siswa pada Au Ay diperoleh sebanyak 13 siswa, pada kategori cukup diperoleh sebanyak 5 siswa dan pada kategori kurang diperoleh sebanyak 0 siswa. Berdasarkan aktivitas siswa di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa dengan hasil tertinggi pada kategori baik terdapat pada aktivitas siswa AuPerhatian siswa ketika menerima materiAy yakni sebanyak 16 siswa memperhatikan guru dengan baik, sedangkan hasil dengan skor terendah pada kategori baik diperoleh pada aktivitas AuSecara berpasangan siswa mendiskusikan hasil rangkaian kalimat apakah ada yang salah atau tidakAy yakni sebanyak 1 siswa. Sementara itu hasil tertinggi pada kategori cukup terdapat pada aktivitas siswa AuSecara berpasangan siswa mendiskusikan hasil rangkaian kalimat apakah ada yang salah atau tidakAy yakni sebanyak 16 siswa, sedangkan hasil dengan skor terendah pada kategori cukup diperoleh pada aktivitas AuSecara berpasangan siswa berdiskusi membuat rangkaian kalimatAy yakni sebanyak 2 siswa. Sementara itu hasil tertinggi pada kategori kurang terdapat pada aktivitas siswa AuSecara berpasangan siswa mendiskusikan hasil rangkaian kalimat apakah ada yang salah atau tidakAy yakni sebanyak 1 siswa. Data Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri Kandangrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan Terhadap Metode Story Telling pada Keterampilan Berbicara. Berikut hasil belajar setelah dilaksanakan penelitian dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5. Hasil Tes Penilaian Siswa Nama Siswa Nilai Pretes Nilai Postes Ahmad Nilson Baharrudin Ahmad Ziqi Pranata Saputra Airen Nathania Firayza Al Zhafira Qairen Hibatillah Askya Sakina Zahra Bellina Riska Maulida Bilal Al-Ghyfari Putra Dhavidli Devano Alfarish Sholichul Hanaf Dzakira Talita Zahra 10 Hafizatul Khusnia 11 Keenan Abiyu Razqa Budiharto 12 Kinan Shalma Hafidza 13 Laji Fadhil Cahyono 14 Muhammad Fahmi Amar 15 Muhammad Ghalih Pratama 16 Muhammad Surya Ardiansyah 17 Muhammad Syahrul Ardianto 18 Resna Mahardika Prasaja Penerapan Pembelajaran Keterampilan Berbicara dengan Metode Story Telling di Kelas IV SD Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Jumlah Rata-Rata Berdasarkan tabel hasil tes penilaian terhadap siswa di atas, dapat terlihat bahwa terdapat perbedaan yang jauh skor rata-rata hasil pretes . dan skor rata-rata hasil posttest . Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran keterampilan berbicara menggunakan metode story telling berhasil meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Kandangrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan terutama dalam keterampilan berbicara. Pembahasan Peningkatan Keterampilan Berbicara Peningkatan keterampilan berbicara siswa dapat dilihat dari peningkatan nilai pretest dan posttest. Metode story telling memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif terlibat dalam proses belajar, yang membantu mereka memahami materi lebih mendalam dan mengembangkan Keterampilan berbicara secara efektif. Bisa dilihat hasil belajar siswa kelas IV Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia Keterampilan berbicara sebelum penerapan metode Story Telling. Berdasarkan hasil pre-test, nilai rata-rata hasil belajar murid 64 dengan kategori yakni sangat rendah yaitui 0,00%, rendah 16,66%, sedang 50 %, tinggi 27,77% dan sangat tinggi berada pada presentase 0,00%. Melihat dari hasil presentase yang ada dapat dikatakan bahwa tingkat kemampuan berbicara murid sebelum diterapkan metode story telling tergolong rendah. Sedangkan hasil belajar siswa kelas IV Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia Keterampilan berbicara sesudah penerapan metode Story Telling Selanjutnya nilai rata-rata hasil post-test belajar murid 86 jadi kemampuan berbicara murid setelah diterapkan metode story telling mempunyai hasil belajar yang lebih baik dibanding dengan sebelum penerapan metode Story Telling, selain itu presentasi kategori hasil belajar Bahasa Indonesia murid juga meningkat yakni sangat tinggi yaitu 44,44%,tinggi 44,44%, sedang 5,55%,rendah 0,00% dan sangat rendah berada pada presentase 0,00%. Pengaruh penerapan metode story telling terhadap Keterampilan berbicara sejalan dengan hasil observasi yang dilakukan. Pertemuan, berdasarkan hasil observasi menunjukkan banyaknya jumlah murid yang memberanikan diri untuk tampil di depan pada saat pembelajaran dengan menerapkan metode story telling. Murid juga mulai aktif dan percaya diri untuk menceritakan kembali menggunakan bahasa mereka sendiri, mereka mengaku senang dan sangat menikmati pembelajaraan yang di lakukan sehingga termotivasi untuk bicara di depan kelas. Proses pembelajaran yang menyenangkan membuat murid tidak lagi keluar masuk pada saat pembelajaran berlangsung dan tidak lagi merasa bosan ataupun tertekan ketika mengikut proses pembelajaraan di kelas. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh metode story telling terhadap kemampuan berbicara pada mata pelajaran bahasa indonesia murid kelas IV SD Negeri Kandangrejo. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Metode Story Telling Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan penerapan metode story telling antara lain: Peran Guru: Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa dalam proses belajar, memberikan arahan, dan mendukung siswa dalam penyelesaian masalah. Kerjasama Kelompok: Diskusi kelompok memungkinkan siswa untuk berbagi ide dan saling membantu dalam memahami materi. Sumber Belajar: Penyediaan sumber belajar yang beragam membantu siswa dalam mengembangkan ide dan menulis teks deskripsi dengan lebih baik. Penerapan Pembelajaran Keterampilan Berbicara dengan Metode Story Telling di Kelas IV SD Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan mengenai penerapan pembelajaran keterampilan berbicara dengan metode story telling siswa kelas IV di SD Negeri Kandangrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Metode story telling efektif diterapkan pada keterampilan berbicara pada siswa kelas IV SD Negeri Kandangrejo Kecamatan Kedungpring tahun ajaran 2024/2025 ditinjau dari keaktifan Metode story telling efektif diterapkan pada keterampilan berbicara pada siswa kelas IV SD Negeri Kandangrejo Kecamatan Kedungpring tahun ajaran 2024/2025 ditinjau dari keaktifan siswa. Ketuntasan hasil belajar keterampilan berbicara dengan Metode story telling pada siswa kelas IV SD Negeri Kandangrejo tahun ajaran 2024/2025 mulai dari awal respon siswa saat berbicara 86% menjadi 89%, untuk ketuntasan siswa saat berbicara 64% menjadi Hasil tersebut sudah menunjukkan sudah melampaui KKM , yakni 75. Berdasarkan simpulan tersebut diperoleh simpulan utama bahwa penerapan metode story telling efektif diterapkan dalam pembelajan keterampilan berbicara pada siswa kelas IV SD Negeri Kandangrejo Kedungpring tahun ajaran 2024/2025. Daftar Pustaka