Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN AKHLAK REMAJA ERA SOCIETY 5. Murni UIN Ar-Raniry Banda Aceh Email: murni@ar-raniry. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-11-01 Revised : 2025-11-17 Accepted : 2025-11-28 KEYWORDS Pendidikan Akhlak. Era Society KATA KUNCI Moral Education. Society 5. 0 Era ABSTRACT The concept of Society 5. 0 enables humans to utilize technology-based knowledge to provide services for humans. The goal of Society 5. 0 is to create a society that enjoys life and feels comfortable. The industrial revolution has brought changes to all areas of life, including education, the economy, the world of work, and human lifestyles, which have certainly had a profound impact on human civilization in this era. The existence of Society 5. 0 has both positive and negative impacts on the moral development of Indonesian teenagers in particular. The positive impact of Society 5. 0 on teenagers is that it gives them the opportunity to express themselves through the works they create. Many cases of teenagers today have declining moral values, caused by the influence of advanced Among the moral phenomena observed among teenagers in the era of Society 5. 0 are neglecting the obligations of prayer and study, a lack of manners, bullying, promiscuity, screen aggression, and sextortion, as discussed in the previous chapter. And this certainly does not happen by itself. there are many factors that cause it, including the low level of family education, particularly in terms of religious knowledge, smartphone addiction, and the misuse of the internet and social media. However, what is important here is the role of parents in educating their children about the use of today's sophisticated technology and instilling good moral values in them to avoid harmful and unproductive behaviors. ABSTRAK Konsep Society 5. 0 membuka jalan bagi manusia untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan berbasis teknologi, sekaligus menyuguhkan layanan yang mempermudah kehidupan sehari-hari. Visi dari Society 5. 0 adalah menciptakan komunitas yang mampu menikmati hidup secara maksimal dan merasakan kenyamanan yang menyeluruh. Revolusi industri telah memicu transformasi di berbagai aspek kehidupan mulai dari pendidikan, ekonomi, dunia kerja, hingga pola hidup manusia yang berimbas signifikan pada peradaban manusia di era modern ini. Kehadiran Society 5. 0 membawa dampak ganda bagi perkembangan moral di kalangan remaja Indonesia. Dampak positifnya terlihat dari kesempatan yang diberikan kepada remaja untuk menyalurkan ekspresi diri melalui karyakarya kreatif mereka secara optimal. Namun, banyak fenomena negatif juga muncul: penurunan akhlak akibat pengaruh teknologi canggih, seperti mengabaikan kewajiban shalat dan belajar, berkurangnya tata krama, perilaku bullying, pergaulan bebas, hingga munculnya agresi digital yang dikenal sebagai screen-aggression. Sextortion . , sebagaimana telah dijelaskan di bab sebelumnya, tidak muncul secara tiba-tiba. Banyak faktor yang melatarbelakangi, antara lain rendahnya tingkat pendidikan keluarga khususnya dalam ilmu agama, ketergantungan pada smartphone, serta penyalahgunaan internet dan media 166 | JPI. Vol. No. November 2025 Yang menjadi poin krusial adalah peran orang tua dalam memberikan pendidikan mengenai pemanfaatan teknologi yang begitu canggih, sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak yang mulia kepada anak, agar mereka terhindar dari perilaku negatif dan dapat meraih manfaat yang baik Pendahuluan Perkembangan pengetahuan dan teknologi dewasa ini menapaki puncak percepatan yang luar Umat manusia kini memasuki era Society 5. di mana dominasi teknologi menjadi inti utama dalam seluruh aspek kehidupan. Era ini berusaha menembus batasan dan tantangan yang ditinggalkan oleh masa sebelumnya, yakni Revolusi Industri 4. (Umro J, 2. Menurut catatan sejarah. Revolusi Industri pertama, atau Industri 1. 0, berlangsung sekitar 1750Ae 1850 M, ditandai dengan penggunaan tenaga Perubahan besar terjadi ketika aktivitas yang sebelumnya mengandalkan tenaga manusia mulai digantikan oleh mesin uap. Selanjutnya. Industri 2. 0 muncul pada awal abad ke-20 dengan ditemukannya listrik sebagai sumber energi baru. Kemudian. Revolusi Industri 3. 0 pada akhir abad ke20 menandai era teknologi digital dan internet. Akhirnya. Industri 4. 0 lahir pada awal abad ke-21 sebagai transformasi menyeluruh di berbagai lini produksi industri, melalui integrasi teknologi digital dan internet dengan sistem industri konvensional. Konsep Society 5. 0 menghadirkan kesempatan bagi manusia untuk mengaplikasikan pengetahuan berbasis teknologi sekaligus menyediakan berbagai layanan yang mempermudah keseharian. Sesuai dengan visi utamanya. Society 5. 0 diarahkan untuk menciptakan masyarakat yang dapat merasakan hidup secara optimal serta menikmati kenyamanan secara menyeluruh. Sementara itu. Revolusi Industri telah memicu transformasi pada semua sektor kehidupan mulai dari pendidikan, ekonomi, dunia kerja, hingga pola hidup manusia yang secara signifikan memengaruhi peradaban manusia di era (R Fajrin, 2. Kehadiran Society 5. 0 menghadirkan dampak ganda terhadap perkembangan akhlak, khususnya di kalangan remaja Indonesia. Sisi positifnya terlihat dari kesempatan yang diberikan kepada remaja untuk menyalurkan ekspresi diri melalui karya-karya yang mereka ciptakan dengan dukungan AI (Artificial Intelligenc. , yang meningkatkan produktivitas sekaligus memungkinkan karya tersebut dibagikan melalui akun media sosial Hal ini kemudian menjadi sumber inspirasi bagi remaja lain untuk menciptakan hal serupa. Selain itu, era ini juga mendorong mereka menjadi lebih kreatif dalam belajar, memanfaatkan berbagai fitur pembelajaran daring dan sumber informasi di internet, sehingga wawasan dan pengetahuan mereka berkembang luas. Beberapa tahun terakhir, masyarakat kerap dikejutkan oleh gelombang tindak kriminal yang terjadi di berbagai wilayah, khususnya di perkotaan. Tidak bisa disangkal, sebagian dari tindak kejahatan ini dilakukan oleh remaja, yang sebelumnya hanya tercermin sebagai kenakalan ringan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, wujud kenakalan remaja mengalami transformasi yang signifikan meningkat menjadi tindak kriminal serius, seperti pencurian, tawuran, perampasan, pemerkosaan, bahkan (N Unayah, 2. Merujuk pada data WHO tahun 2020, setiap tahunnya tercatat kurang lebih 200 ribu insiden pembunuhan yang melibatkan remaja dan pemuda berusia 12Ae29 tahun, di mana 84% pelakunya adalah laki-laki muda. Kekerasan di kalangan generasi muda kini menjadi persoalan kesehatan global, meliputi kekerasan fisik, kekerasan seksual, bullying, hingga kasus pembunuhan. Secara umum, tindak kriminalitas pada pemuda lebih sering terjadi di kawasan perkotaan. Berdasarkan hasil survei karakter siswa yang dilaksanakan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan pada tahun 2021, secara keseluruhan terlihat adanya penurunan signifikan pada indeks karakter siswa dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun ini, indeks karakter siswa jenjang pendidikan menengah tercatat 69,52, mengalami penurunan sekitar dua poin dari angka tahun sebelumnya yang mencapai 71,41. Mencetak generasi unggul tidak cukup hanya dari kecerdasan ilmiah, melainkan juga harus menonjol dalam moral, spiritual, serta aktif berkontribusi dalam lingkungan sosial. Membangun generasi sehat dan berprestasi menuntut keterlibatan penuh dan Sinergi seluruh elemen, mulai dari pemerintah, korporasi swasta, hingga lapisan masyarakat, menjadi sangat krusial. Tanpa energi fisik yang kuat, keteguhan hati yang mantap, dan gairah yang menyala-nyala, kita akan tersisih dalam persaingan global. oleh karena itu, kebersamaan menjadi kunci pencapaian cita-cita tersebut. Peran yang paling krusial tetap berada di lingkungan keluarga, karena anak menghabiskan waktu interaksi paling lama dengan keluarga. Orang tua wajib menjadi pendorong utama sekaligus penyedia Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan. Inovasi dan Perubahan JPI. Vol. No. November 2025 | 167 seluruh sarana yang memungkinkan anak tumbuh dan berkembang dengan maksimal. menjadi pribadi yang cerdas dan berperilaku Pembahasan . Akhlak Secara etimologis, istilah akhlaq berasal dari bahasa Arab dan kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi akhlak. Kata ini merupakan bentuk jamak dari khuluq, yang merujuk pada makna moral, budi pekerti, perilaku, sikap (Gade Syabuddin, 2. Dalam al-QurAoan, padanan tunggal dari istilah akhlak disebut sebagai khuluq, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Qalam ayat 4 dan QS. Asy-SyuAoara ayat 137: )( AC aa O seIA s aAEO aEA aOuaIacEa EaA Artinya: Audan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur. Ay (QS. Al Qalam . ayat: . )( aAua eI aNa ua acacE aEa aC eE a acO aEOeIA Artinya: . gama Kam. ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu. (QS. Asy Syu'araa' . ayat: . Konsep Pendidikan Akhlak . Pengertian Pendidikan Akhlak Istilah AuPendidikan AkhlakAy tersusun dari dua unsur, yakni pendidikan dan akhlak, yang masingmasing memiliki makna dan definisi tersendiri. Kedua unsur ini nantinya akan disintesiskan untuk memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai konsep pendidikan akhlak. Berikut uraian lebih rinci terkait pendidikan dan akhlak: Pendidikan Pendidikan memiliki akar kata dari istilah Yunani AupaedagogieAy, yang terdiri dari dua unsur, yaitu AupaisAy yang berarti anak dan AuagainAy yang bermakna membimbing. Dengan demikian, paedagogie pada dasarnya menggambarkan suatu proses bimbingan yang diberikan kepada Dalam perkembangan bahasanya, istilah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai AueducationAy, yang mengandung makna menuntun dan mengeluarkan potensi yang tersimpan dalam jiwa anak agar mampu berkembang secara optimal. Pendidikan bukan sekadar pemberian ilmu, tetapi juga proses membimbing anak untuk mengasah kemampuan, menumbuhkan karakter, dan mengarahkan bakatnya sehingga mereka dapat berkembang menjadi individu yang utuh dan siap menghadapi tantangan kehidupan. (Syafril, 2. Menurut Undang-Undang Sisdiknas No. Tahun 2023, pendidikan adalah upaya sengaja dan terstruktur untuk menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik mengembangkan seluruh potensi diri, meliputi spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan bagi diri sendiri maupun masyarakat. (Neolaka Amos. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan dipahami sebagai proses pendampingan yang bertujuan mengembangkan keseluruhan potensi dasar yang dimiliki anak, baik dalam kapasitasnya sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat, sehingga ia dapat mencapai kualitas hidup yang seutuhnya. (Arif Muh, 2. Pendidikan merupakan suatu proses yang dirancang secara sadar oleh pendidik atau individu untuk membimbing, mengalihkan pengetahuan, serta mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka dapat tumbuh Secara terminologis, para ulama memberikan definisi akhlak dari berbagai perspektif. Pertama. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa akhlak merupakan kondisi batin yang menetap dalam diri seseorang, yang mendorongnya untuk bertindak secara spontan dan mudah tanpa memerlukan proses pemikiran yang panjang. Kedua. Al-Jaziri memaknai akhlak sebagai sifat kejiwaan yang menghasilkan tindakan yang diinginkan atau diupayakan, baik yang bernilai baik maupun buruk, indah maupun tercela. Ketiga, menurut Ibnu Miskawaih, akhlak adalah keadaan jiwa yang mengarahkan seseorang untuk berperilaku tanpa harus melalui pertimbangan akal secara mendalam. (Suhayib, 2. Sumber Pendidikan Akhlak Pendidikan akhlak berpijak pada Al-QurAoan dan Sunnah sebagai sumber utama yang menentukan standar absolut mengenai kebaikan dan keburukan, maupun kemuliaan dan kehinaan, sehingga tidak bergantung pada konstruksi rasional manusia atau penilaian sosial semata. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 21: AcEEa aO eEOa eO aI ea aA AIaU aE aI eI EaIa Oae aO NA AEaCae EaIa Ea aE eI AaO a eaO aE NA a AcEEa a aeO U aA )( AcEEa aEaO UeA AaOaE aa NA Artinya: AuSesungguhnya telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu . bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. Ay (QS. Al Ahzab . ayat: . Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan. Inovasi dan Perubahan 168 | JPI. Vol. No. November 2025 Tujuan Pendidikan Akhlak Sementara itu, tujuan pendidikan akhlak dalam Islam memuat beragam fungsi dan manfaat, antara . Kemajuan Rohaniah Individu yang memiliki pemahaman mendalam mengenai pendidikan akhlak dianggap memiliki kedudukan yang lebih unggul menguasainya, karena pengetahuan tersebut seseorang menuju derajat kemuliaan perilaku. Penuntun Kebaikan Akhlak memiliki daya pengaruh yang mampu mengarahkan serta memotivasi manusia untuk menjalani kehidupan secara benar dan konsisten, sekaligus menebarkan tindakantindakan positif yang memberikan manfaat nyata bagi orang lain. Kebutuhan Primer dalam Keluarga Akhlak merupakan landasan utama dalam mewujudkan keluarga yang sejahtera. Tanpa fondasi akhlak yang kuat, suatu keluarga sulit mencapai kebahagiaan meskipun memiliki kelimpahan materi. Sebaliknya, keluarga dengan keterbatasan ekonomi tetap dapat merasakan kebahagiaan yang hakiki apabila nilai-nilai akhlak ditanamkan dan dibina dengan baik. Kerukunan Antar Tetangga Untuk menciptakan keharmonisan dalam hubungan antar-tetangga, diperlukan pola interaksi yang selaras dengan prinsip etika sosial dan aturan pergaulan yang berlaku. Dalam kajian pendidikan akhlak, terdapat sejumlah norma dan ketentuan yang mengatur tata cara berinteraksi, termasuk etika khusus dalam menjalin hubungan dengan tetangga. Peranan Akhlak dalam Pembinaan Remaja Kajian mengenai akhlak dapat menjadi sarana penting dalam membentuk insan kamil, yaitu individu yang tidak hanya sehat secara fisik tetapi juga mencapai kematangan spiritual. Melalui pengembangan potensi rohaniah secara optimal, seseorang mampu menjalin hubungan yang tepat dengan Allah dan sesama makhluk, berlandaskan prinsip-prinsip akhlak, sehingga memperoleh keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat. Metode Pendidikan Akhlak Dalam penyelenggaraan pendidikan akhlak, pemilihan metode yang tepat dan efektif menjadi aspek krusial untuk menjamin tercapainya tujuan pembinaan akhlak secara optimal. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam proses pendidikan akhlak antara lain: Metode Keteladanan (Uswah al-Hasana. Keteladanan yang diperlihatkan oleh orang tua, pendidik, maupun daAoi berfungsi sebagai model perilaku yang konkret, sehingga peserta didik dapat mengamati secara langsung cara menjalankan berbagai tindakan terpuji lainnya. Metode Pembiasaan Salah satu strategi pendidikan dalam menanamkan akhlak mulia pada anak adalah melalui pembiasaan perilaku positif. Miqdad Yaljan menjelaskan bahwa pembiasaan berperan sebagai proses latihan yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan, sehingga peserta didik secara bertahap terbentuk untuk bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai . Metode Ceramah Metode ceramah merupakan salah satu pendekatan yang dinilai efektif bagi orang tua maupun pendidik dalam membentuk akhlak mulia pada anak. Esensi dari metode ini terletak pada penyampaian informasi atau pengetahuan melalui penjelasan dan uraian lisan yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik. Metode Pemberian Hadiah (Rewar. Metode pemberian hadiah . merupakan salah satu pendekatan yang dianggap efektif untuk membantu orang tua maupun pendidik dalam menanamkan akhlak mulia pada anak. Misalnya, orang tua atau guru dapat memberikan hadiah ketika anak menunjukkan perilaku positif, tidak melakukan tindakan yang tidak diinginkan, rutin melakukan kebaikan, rajin melaksanakan shalat, dan berbagai tindakan terpuji lainnya. Para ahli pendidikan menegaskan bahwa bentuk hadiah tidak harus bersifat material, melainkan dapat berupa apresiasi, penghargaan verbal, atau pengakuan Konsep Remaja . Pengertian Remaja Istilah remaja dalam bahasa Inggris disebut adolescence, yang berasal dari kata Latin adolescere, yang bermakna proses bertumbuh menuju tahap kedewasaan atau kematangan. (Sarwono, 2. Dalam perspektif yang lebih komprehensif. Piaget menjelaskan bahwa konsep tersebut meliputi proses kematangan pada aspek Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan. Inovasi dan Perubahan JPI. Vol. No. November 2025 | 169 mental, emosional, sosial, maupun fisik. (Hurlock. Sementara itu. Hurlock memaknai masa remaja sebagai tahap transisi, yaitu fase ketika individu mengalami perubahan fisik maupun psikologis dari masa kanak-kanak menuju tahap kedewasaan. (Jannah, 2. Masa remaja umumnya dimulai pada kisaran usia 12Ae13 tahun dan berlangsung hingga awal usia dua puluhan. Rentang usia tersebut sekitar 13 hingga 20 tahun biasanya diklasifikasikan ke dalam dua fase, yaitu remaja awal . ekitar 13Ae16 atau 17 tahu. dan remaja akhir . ekitar 16 atau 17Ae20 tahu. Kedua fase ini memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda, di mana pada tahap remaja akhir individu telah mencapai tingkat transisi yang lebih dekat dengan (Jahja, 2. Secara umum, masa remaja dipandang bermula ketika individu mencapai kematangan seksual dan berakhir saat ia memasuki kematangan secara Berbagai penelitian mengenai dinamika perilaku, sikap, dan nilai selama periode ini menunjukkan bahwa perubahan cenderung berlangsung lebih cepat pada tahap remaja awal dibandingkan dengan remaja akhir. Temuan tersebut juga menegaskan adanya perbedaan yang signifikan antara perilaku, sikap, dan nilai-nilai yang ditunjukkan remaja awal dan remaja akhir. Sejalan Abdurrahman al-Aisawi yang dikutip dalam karya Khalid Ahmad menyatakan bahwa masa remaja merupakan tahap peralihan dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan, di mana individu umumnya melewati fase penuh ketegangan dan kegelisahan sebagai bagian dari proses perkembangan dirinya. (Asy-Syantut, 2. Abdurrahman al-Aisawi juga membagi macam-macam fase remaja, yaitu: Masa remaja yang relatif stabil, ditandai dengan minimnya persoalan dan kompleksitas dalam kehidupan sehari-hari. Masa remaja yang bersifat introspektif, ketika individu cenderung lebih menyukai kesendirian dan menghindari lingkungan yang ramai. Masa remaja yang ditandai dengan kecenderungan bersikap memberontak, yaitu perilaku yang menunjukkan penolakan atau resistensi terhadap norma dan aturan yang Dalam pandangan Islam, masa remaja diposisikan sebagai fase yang sangat mulia dan Perhatian tidak hanya diarahkan pada perubahan biologis, tetapi lebih jauh pada bagaimana mempersiapkan remaja agar menjadi generasi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai akhlak, keimanan, dan ilmu pengetahuan secara . Ciri-Ciri Remaja Pada dasarnya, remaja telah memiliki kemampuan berpikir yang cukup tinggi, bahkan mendekati kapasitas orang dewasa. Strauch menjelaskan bahwa terdapat interaksi yang sangat dinamis antar-neuron dalam otak remaja sebagai akibat dari pesatnya perkembangan neurologis, yang secara signifikan mempengaruhi aspek emosional serta fungsi kognitif mereka. samping itu, proses pertumbuhan fisik yang masih berlangsung turut memengaruhi pola perilaku, sehingga tidak jarang remaja menunjukkan tindakan yang tampak kurang hati-hati atau cenderung ceroboh. (Gainau, 2. Adapun berbagai ciri yang menjadi kekhususan remaja. Ciri-ciri tersebut adalah: Masa Remaja Sebagai Periode yang Penting Masa remaja merupakan periode yang memiliki signifikansi tinggi, baik dalam aspek dampak langsung maupun pengaruh jangka Pada perkembangan fisik yang dibarengi dengan kemajuan pesat kemampuan mental terutama pada remaja awal menuntut terjadinya penyesuaian psikologis serta pembentukan sikap, nilai, dan minat baru yang selaras dengan tahapan perkembangan mereka. Masa Remaja Sebagai Periode Peralihan Pada tahap remaja, individu berada dalam posisi transisi antara masa kanak-kanak dan Ketika remaja menampilkan perilaku yang menyerupai anak-anak, mereka sering diarahkan untuk bertindak sesuai pola kebiasaan anak. Sebaliknya, ketika mereka mencoba meniru perilaku orang dewasa, sikap tersebut kerap dinilai terlalu dini dan dianggap tidak sesuai dengan usianya. Meskipun status yang ambigu ini menimbulkan dilema, kondisi tersebut justru memberikan ruang bagi remaja untuk mengeksplorasi berbagai gaya hidup serta mengidentifikasi pola perilaku, nilai, dan perkembangan dirinya. Masa Remaja Sebagai Periode Perubahan Perubahan sikap dan perilaku pada masa berfluktuasi, bahkan pada beberapa aspek cenderung mengalami penurunan. Banyak Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan. Inovasi dan Perubahan 170 | JPI. Vol. No. November 2025 remaja memperlihatkan sikap ambivalen, yakni di satu sisi menginginkan kebebasan yang luas, namun di sisi lain merasa takut terhadap konsekuensi yang mungkin timbul serta meragukan kapasitas diri dalam memikul tanggung jawab tersebut. Masa Remaja Sebagai Usia Bermasalah Setiap fase perkembangan memiliki tantangan tersendiri, namun masa remaja sering kali menjadi periode yang paling kompleks untuk dihadapi, baik bagi laki-laki maupun Ketidaksesuaian antara strategi penyelesaian masalah yang mereka yakini dengan hasil yang diperoleh membuat remaja menyadari bahwa solusi yang diharapkan tidak selalu tercapai. Kondisi ini dapat memicu munculnya berbagai gangguan perilaku, seperti depresi, stres, anoreksia, serta kecenderungan terhadap penyalahgunaan alkohol dan (Fauzian, 2. Masa Remaja Sebagai Masa Mencari Identitas Pada fase awal masa remaja, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kelompok sebaya masih memegang peranan penting bagi remaja laki-laki maupun perempuan. Namun, seiring menginginkan identitas personal yang lebih mandiri dan tidak lagi merasa cukup hanya dengan meniru atau menyerupai teman sebaya dalam berbagai aspek sebagaimana terjadi pada tahap sebelumnya. Masa remaja sering dipandang sebagai fase yang memunculkan berbagai kekhawatiran. Dalam konstruksi stereotip budaya, remaja kerap dianggap bertindak sesuka hati, kurang dapat dipercaya, serta cenderung mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang. Pada tahap remaja, individu cenderung melihat kehidupan melalui perspektif yang idealistis, sehingga menilai diri sendiri maupun orang lain bukan berdasarkan kondisi yang sebenarnya, melainkan sesuai dengan keinginan, harapan, dan cita-cita pribadi. Harapan yang bersifat tidak realistis tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap dirinya, tetapi juga dapat menimbulkan dampak bagi keluarga dan teman sebaya, serta memicu ledakan emosi yang merupakan karakteristik khas masa remaja awal. Remaja sering kali mengalami kekecewaan dan rasa terluka ketika harapannya tidak terpenuhi atau ketika gagal mencapai tujuan yang ia tetapkan sendiri. Masa remaja dapat dipandang sebagai fase transisi menuju kedewasaan. Ketika usia kematangan hukum semakin mendekat, remaja umumnya mengalami kegelisahan dalam melepaskan karakteristik khas usia belasan, sembari berupaya menampilkan diri seolaholah mereka telah hampir memasuki tahap kedewasaan sepenuhnya. (Hurlock E. , 1. Selanjutnya. Gunarsa Mappiare menguraikan sejumlah karakteristik khusus masa perkembangan sebagai berikut: Masa Remaja Awal. Umumnya berada pada tingkat Sekolah Menengah Pertama, dengan karakteristik perkembangan sebagai berikut: Memiliki kondisi emosional yang labil dan mudah mengalami gejolak perasaan. Sering berhadapan dengan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi periode yang tergolong kritis dalam pembentukan jati diri. Mulai menunjukkan ketertarikan terhadap lawan jenis. Memiliki tingkat kepercayaan diri yang belum stabil dan kerap merasa kurang . Menunjukkan minat untuk mengeksplorasi ide-ide baru, mudah gelisah, gemar berfantasi, dan cenderung menikmati . Masa Remaja Pertengahan Umumnya berada pada jenjang Sekolah Menengah Atas, dengan karakteristik sebagai . Memiliki kebutuhan emosional yang kuat terhadap keberadaan teman sebaya dan menunjukkan ketergantungan tinggi pada lingkungan sosial. Menampilkan kecenderungan narsistik, penghargaan berlebih pada diri sendiri. Sering berada dalam kondisi gelisah dan bingung akibat konflik batin yang berlangsung terus-menerus. Memiliki mengeksplorasi hal-hal baru yang belum dikenalnya, disertai rasa ingin tahu yang . Menunjukkan keinginan yang besar untuk menjelajahi lingkungan yang lebih luas dan memahami dinamika kehidupan di luar konteks sehari-hari. Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan. Inovasi dan Perubahan JPI. Vol. No. November 2025 | 171 . Masa Remaja Akhir, ditandai dengan ciriciri: Keseimbangan psikologis dan fisik mulai tercapai, menandai berakhirnya fase perubahan intens pada aspek tubuh dan . Kemampuan berpikir realistis semakin berkembang, disertai pandangan serta sikap yang lebih matang. Pola penyelesaian masalah menunjukkan pendekatan yang lebih dewasa, sehingga individu mampu mengelola konflik dengan cara yang lebih bijaksana. Stabilitas emosional meningkat, ditandai dengan kemampuan yang lebih baik dalam mengendalikan perasaan dan respons. Identitas seksual telah terbentuk secara lebih mantap dan menjadi bagian diri yang relatif stabil. Perhatian simbol-simbol kedewasaan semakin tinggi, mencerminkan kesadaran individu akan posisinya sebagai remaja yang berada pada tahap menuju (Putro, 2. Berdasarkan karakteristik remaja sebelumnya, masa remaja merupakan periode yang ditandai oleh percepatan perkembangan pada aspek psikologis maupun fisik. Setiap tahap menghadirkan pengalaman yang berbeda, disertai tanda-tanda khas seperti munculnya kegelisahan, kebingungan, hingga konflik internal yang kompleks. Namun, apabila remaja mendapatkan bimbingan melalui penanaman nilai-nilai keagamaan dan spiritual, mereka cenderung mampu menghadapi dinamika perkembangan tersebut dengan ketenangan batin dan stabilitas emosional, sehingga dapat melalui fase penuh gejolak ini secara lebih harmonis. Perkembangan Remaja Masa remaja merupakan periode ketika individu mulai memasuki proses integrasi dengan masyarakat dewasa. Pada tahap ini, remaja menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada pada posisi anak-anak, namun juga belum sepenuhnya berada di bawah otoritas orang dewasa. ia mulai merasakan adanya hubungan yang lebih setara atau berada pada posisi yang mendekati kesejajaran. Dalam proses menuju kedewasaan tersebut, berbagai aspek afektif muncul baik yang berkembang secara berlebihan maupun yang masih belum matang seiring dengan perubahanperubahan yang terjadi selama fase pubertas. Perkembangan pada masa remaja mencakup beragam dimensi kehidupan yang melibatkan sejumlah aspek utama sebagai berikut: Perkembangan Fisik Pada fase pubertas, perubahan fisik berlangsung sangat cepat, mencakup penyesuaian proporsi tubuh serta kemunculan karakteristik seksual sekunder. Remaja yang memasuki tahap perkembangan biologis mulai menunjukkan tanda-tanda kematangan fisik yang menyerupai orang dewasa. Oleh sebab itu, masa remaja kerap dipandang sebagai periode transisi dari tahap kanakkanak menuju kedewasaan. Perkembangan Perilaku Seksual Perilaku seksual pada remaja muncul sebagai ekspresi dari dorongan biologis yang meningkat intensitasnya. Bentuk perilaku tersebut dapat bervariasi, mulai dari ketertarikan terhadap lawan jenis, kontak fisik ringan seperti berpegangan tangan dan berpelukan, hingga perilaku yang lebih intim. Perkembangan ini merupakan konsekuensi alami dari kemunculan ciri-ciri seksual primer dan sekunder. Permasalahan muncul ketika remaja tidak mampu mengendalikan melakukan tindakan yang melampaui batas norma sosial dan moral. Untuk mencegah hal itu, diperlukan pendidikan seks yang kesehatan reproduksi, guna membimbing remaja bertindak sesuai aturan dan etika yang . Perkembangan Intelektual Masa remaja merupakan tahap kehidupan di mana kapasitas untuk menyerap dan memanfaatkan pengetahuan berada pada titik Pada fase ini terjadi proses reorganisasi jaringan saraf pada area frontal otak . refrontal lob. , yang berperan penting dalam fungsi kognitif tingkat tinggi. Perkembangan pada bagian otak tersebut memberikan pengaruh langsung terhadap kemampuan berpikir remaja, sehingga mereka mampu meningkatkan penalaran secara lebih matang serta mencapai tingkat kesadaran moral dan sosial yang lebih (Marwoko, 2. Dengan meningkatnya kapasitas penalaran pada tahap ini, remaja mampu mengembangkan argumen yang lebih tajam serta berpartisipasi dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan. Inovasi dan Perubahan 172 | JPI. Vol. No. November 2025 diskusi kritis dengan tingkat kecakapan yang semakin kuat dan terstruktur. Perkembangan Emosi Perkembangan dipengaruhi oleh tingkat kematangan serta Seiring dengan tercapainya kematangan, berbagai potensi emosional yang sebelumnya belum tampak mulai Melalui proses pembelajaran, mengekspresikan, dan mengendalikan emosi tersebut secara lebih efektif. Masa remaja merupakan periode yang sangat menentukan, karena pada tahap ini kematangan emosional meningkat secara drastis, sementara pengalaman belajar yang intens turut membentuk dan mempertajam dinamika emosinya secara signifikan. Tugas Perkembangan Remaja Masa remaja merupakan tahap penting dalam siklus kehidupan manusia, berfungsi sebagai fase transisi yang, apabila dibimbing secara tepat, akan mengantarkan individu menuju kedewasaan yang sehat dan matang. Untuk dapat berinteraksi sosial secara optimal, remaja perlu menyelesaikan berbagai tugas perkembangan khas usia mereka dengan kesadaran dan komitmen yang tinggi. Era Society 5. Pengertian Era Society 5. Society 5. 0 dipahami sebagai konsep masyarakat modern yang berorientasi pada manusia sebagai pusat utama, di mana kemajuan ekonomi dan penyelesaian persoalan sosial dirancang untuk berlangsung secara seimbang melalui integrasi yang selaras antara ruang fisik dan ruang digital atau virtual. (Rafiqo, 2. Era Society 5. 0 pertama kali diperkenalkan oleh Jepang pada tahun 2019 sebagai respons inovatif terhadap arus disrupsi yang dipicu oleh Revolusi Industri 4. Pada dasarnya, konsep ini mengarahkan manusia untuk memanfaatkan mempercepat, serta mengoptimalkan berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. (Ariyanto, 2. Konsep Society 5. 0 hadir sebagai tahap tertinggi dari evolusi peradaban manusia, melengkapi perkembangan pada era sebelumnya. Pada Era 1. 0, manusia masih hidup sebagai pemburu dan mulai mengenal sistem penulisan. Era 2. 0 ditandai dengan aktivitas bercocok tanam dan pola hidup menetap. Era 3. 0 membawa manusia memasuki proses industrialisasi melalui penggunaan mesin. sedangkan Era 4. 0 ditandai oleh pemanfaatan teknologi digital, komputer, dan internet untuk mendukung berbagai aktivitas. Selanjutnya. Jepang merumuskan Era Society 5. dengan gagasan Aumemanusiakan manusia melalui teknologi,Ay yaitu dengan mengintegrasikan teknologi mutakhir untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara lebih komprehensif. Revolusi Industri 4. 0 dan Society 5. 0 pada dasarnya memiliki perbedaan yang sangat tipis. Society 5. 0 tidak dibangun dari awal, melainkan memanfaatkan serta mengoptimalkan berbagai teknologi yang telah dikembangkan pada Revolusi Industri 4. 0, sehingga inovasi digital tersebut dapat diimplementasikan secara lebih konkret untuk mempermudah, mempercepat, dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam penerapan Revolusi Industri 4. 0, manusia masih berperan sebagai pusat pemrosesan informasi, yakni dengan mengumpulkan data melalui jaringan informasi dan kemudian menganalisisnya secara manual. Berbeda halnya dengan era Society 5. 0, di mana manusia, objek, sistem, dan lingkungan terhubung dalam suatu jaringan virtual yang diproses oleh Artificial Intelligence (AI). Hasil analisis yang dihasilkan oleh AI melampaui kapasitas manusia diimplementasikan kembali ke dunia nyata, sehingga menghasilkan tingkat efisiensi dan optimalisasi yang belum pernah dicapai (Santoso, 2. Masyarakat dalam era Society 5. 0 dituntut untuk menghadapi beragam persoalan dan tantangan kehidupan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi khas era ini, seperti Internet of Things yang menghubungkan berbagai aspek kehidupan secara digital. Artificial Intelligence (AI) yang mampu meniru bahkan melampaui Big Data memungkinkan pengolahan informasi dalam skala besar, serta teknologi robotik yang berperan penting dalam mendukung dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Berbeda dengan Revolusi Industri 4. 0 yang memiliki fokus utama pada sektor bisnis, era Society 5. 0 menawarkan nilainilai baru yang lebih inklusif dan transformatif. Konsep ini berupaya mengurangi berbagai bentuk kesenjangan baik sosial, usia, gender, maupun bahasa serta menyediakan produk dan layanan yang bersifat personal dan adaptif untuk memenuhi kebutuhan spesifik individu maupun kepentingan kolektif masyarakat secara lebih luas. Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan. Inovasi dan Perubahan JPI. Vol. No. November 2025 | 173 Penjabaran mengenai kemajuan teknologi yang melesat pada era Society 5. 0 dapat diuraikan . Internet of Things (IoT) Internet of Things (IoT) merupakan konsep inovatif yang menghubungkan berbagai perangkat ke dalam satu jaringan internet, sehingga memungkinkan setiap perangkat melakukan pertukaran data secara langsung. Perangkatperangkat tersebut bukan hanya saling terhubung, tetapi juga mampu mengumpulkan informasi, menganalisisnya, serta melakukan tindakan cerdas untuk mendukung aktivitas manusia atau melalui proses Ekosistem IoT terdiri atas tiga komponen utama, . Sensor merupakan perangkat berteknologi tinggi yang berfungsi menangkap serta merekam berbagai jenis informasi dari lingkungan, mulai dari gerakan, suhu, kualitas udara, panas, hingga parameterparameter relevan lainnya. Konektivitas berperan sebagai komponen kunci yang menghubungkan setiap elemen dalam ekosistem Internet of Things (IoT), memungkinkan aliran pertukaran informasi berlangsung secara lancar tanpa hambatan. Perangkat-perangkat memiliki peran strategis dalam meningkatkan akurasi, stabilitas, dan responsivitas sistem IoT. Penerapan IoT kini menjangkau hampir seluruh aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari layanan transportasi daring, e-commerce, pemesanan tiket secara digital, live streaming, hingga pembelajaran daring. Selain itu, berbagai perangkat khusus seperti sensor suhu jarak jauh, pelacak GPS, dan teknologi serupa juga bergantung pada jaringan internet sebagai medium utama dalam operasionalnya. Artificial Intelligence (AI) Kecerdasan buatan saat ini telah terintegrasi secara mendalam dalam berbagai aspek kehidupan Beragam teknologi berpadu dengan AI sehingga memungkinkan mesin belajar dari pengalaman, beradaptasi terhadap data baru, serta melaksanakan tugas-tugas tertentu dengan tingkat presisi yang menyerupai kemampuan manusia. Beragam penerapan kecerdasan buatan kini dapat ditemukan, mulai dari komputer yang mampu menguasai permainan catur hingga kendaraan otonom yang dapat beroperasi secara Seluruh inovasi tersebut sangat bergantung pada teknologi deep learning dan pemrosesan bahasa alami. Melalui pendekatan ini, komputer dilatih untuk menyelesaikan tugas tertentu dengan menganalisis data dalam jumlah besar serta mengidentifikasi pola-pola tersembunyi di dalamnya. Robot Robot merupakan bagian integral dari bidang kecerdasan buatan, teknik, dan psikologi. Teknologi ini menghasilkan mesin cerdas yang dikendalikan melalui sistem komputer, memiliki kemampuan motorik yang menyerupai manusia, sehingga tampak seolah-olah memiliki kecerdasan dan gerakan layaknya makhluk hidup. Penerapan teknologi robotik mencakup pemberian kemampuan bagi robot untuk AumelihatAy melalui sistem persepsi visual. AumerasakanAy melalui sensor sentuhan, melakukan aktivitas menggenggam dan memanipulasi objek, bergerak atau menyalurkan tenaga fisik, serta melakukan navigasi, yaitu kemampuan menentukan rute dan mencapai tujuan secara mandiri. Big Data Big Data merujuk pada himpunan data berukuran sangat besar, baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur. Pemanfaatannya telah meluas ke berbagai sektor bisnis. Esensinya tidak terletak pada besarnya volume data semata, tetapi pada bagaimana data tersebut diolah dan dimanfaatkan oleh suatu organisasi. Melalui analisis Big Data, dapat diperoleh wawasan mendalam yang mendukung pengambilan keputusan serta perumusan strategi bisnis yang lebih presisi. Karakteristik utama Big Data umumnya dijelaskan melalui konsep 5V, yaitu: Volume menggambarkan besarnya akumulasi data dalam sistem komputasi, sehingga menimbulkan pertanyaan terkait sejauh mana jumlah data tersebut telah melampaui batas normal pengelolaan. Velocity merujuk pada kecepatan pemrosesan dan pergerakan data, yang menuntut kemampuan untuk mengelola arus informasi yang sangat cepat secara efektif. Variety mencerminkan keberagaman jenis data yang tersedia, termasuk variasi bentuk, format, dan karakteristik data yang perlu . Veracity berkaitan dengan tingkat keandalan, akurasi, dan kualitas data, khususnya dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan. Inovasi dan Perubahan 174 | JPI. Vol. No. November 2025 kaitannya dengan nilai bisnis yang hendak dihasilkan melalui analisis. Value mengacu pada manfaat atau nilai tambah yang diperoleh setelah data dikelola, dianalisis, dan dimanfaatkan secara optimal. Jutaan data akan diproses oleh sistem kecerdasan buatan yang berfokus pada aspek kemanusiaan dalam era Society 5. 0, di mana informasi tersebut dihimpun dari berbagai sektor kehidupan melalui jaringan internet. Proses ini kebijaksanaan sosial yang baru. Transformasi tersebut secara tidak dapat disangkal akan mendorong terbentuknya kualitas hidup yang lebih Selain itu, era Society 5. 0 menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan penyelesaian persoalan sosial di tengah masyarakat. Tantangan Era Society 5. Tantangan dalam era Society 5. 0 menuntut terwujudnya masyarakat dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki orientasi kuat pada penguasaan teknologi, sehingga setiap individu mampu berperan aktif dalam ekosistem digital dan tidak tergantikan oleh keberadaan robot cerdas. Meskipun Indonesia masih berada dalam proses menghadapi dinamika Revolusi Industri 4. kesiapan untuk menjawab tantangan yang muncul pada era Society 5. 0 juga menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Langkah strategis yang dapat dilakukan mencakup peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, disertai dorongan bagi masyarakat untuk mengembangkan kompetensi sehingga mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Upaya awal yang esensial adalah penguatan infrastruktur, terutama untuk memperbaiki dan memperluas akses serta kualitas layanan internet di seluruh wilayah Indonesia. Persiapan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM guna menyongsong era 0 diantaranya: Kemampuan untuk beradaptasi secara tepat dengan perkembangan zaman menjadi hal yang sangat penting. Lembaga atau organisasi yang responsif terhadap perubahan akan mampu menyediakan layanan yang lebih optimal bagi Demikian pula, orang tua dan pendidik yang membimbing anak sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman akan menciptakan lingkungan yang kondusif sekaligus mempersiapkan anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan karakteristik era yang sedang mereka hadapi. Kepemimpinan. Gaya kepemimpinan yang efektif dari pendidik maupun orang tua memiliki kapasitas untuk menginspirasi dan mendorong anak mengambil langkah-langkah perubahan yang bersifat progresif. Kemampuan berbahasa asing. Kemahiran dalam bahasa asing memberikan keunggulan kompetitif bagi individu untuk membangun jaringan komunikasi yang lebih luas lintas negara, sekaligus menjadi bekal penting dalam menghadapi era Society 5. Penguasaan (TI). Kemampuan menguasai teknologi informasi menjadi faktor penting bagi individu untuk beradaptasi dan berfungsi secara optimal dalam era Society 5. Perlu dipahami bahwa kemajuan teknologi memiliki karakter ketika dikelola dan dimanfaatkan secara positif, teknologi mampu menghasilkan aktivitas yang konstruktif, namun jika disalahgunakan, dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan. Kemampuan literasi. Kemahiran literasi menjadi kompetensi fundamental yang harus dimiliki setiap individu. Bentuk literasi tersebut meliputi literasi numerik, literasi bahasa dan sastra, literasi sains, literasi keuangan, literasi budaya dan kewarganegaraan, serta literasi keseluruhannya diperlukan untuk menghadapi tuntutan era Society 5. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia merupakan langkah strategis yang perlu dilakukan oleh setiap individu agar mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan zaman, sehingga tidak tertinggal atau tersisih oleh perubahan. Penguatan mutu SDM memungkinkan seseorang menjalani kehidupan secara lebih selaras dengan tuntutan era Upaya ini menjadi krusial, khususnya bagi orang tua dan pendidik, agar dapat memanfaatkan kondisi perkembangan saat ini untuk membimbing anak secara tepat sesuai konteks zamannya, serta mempersiapkan mereka menjadi generasi unggul di masa mendatang. Implementasi Pendidikan Akhlak Remaja Era Society 5. Umat Islam dipandang sebagai umat yang memiliki kedudukan paling mulia, karena di dalamnya terdapat generasi unggul yang berpotensi memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan. Inovasi dan Perubahan JPI. Vol. No. November 2025 | 175 dan kesejahteraan bangsa. Generasi tersebut adalah para pemuda yang memiliki energi, kreativitas, dan produktivitas tinggi dalam menjalankan berbagai peran, sehingga kemuliaan umat berawal dari kualitas kaum muda atau remaja. Al-QurAoan menjadi fondasi utama dalam membentuk khaira ummah serta menyiapkan generasi QurAoani yang beriman dan berkomitmen pada ketaatan. (Halim, 2. Pendidikan Akhlak Bagi Remaja di Era Society 5. 0 dalam Islam Sebagaimana tampak pada era Society 5. 0 saat ini, perkembangan teknologi berlangsung dengan sangat cepat dan semakin canggih, sehingga memunculkan konsep masyarakat yang sepenuhnya terhubung serta terintegrasi dengan berbagai bentuk (G. A Haddar, 2. Teknologi pada masa kini tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang asing, melainkan telah menjadi kebutuhan dasar yang harus dimiliki oleh setiap individu, termasuk dalam konteks pendidikan. Pendidikan sendiri berfungsi sebagai proses pengembangan sumber daya manusia agar tumbuh menjadi pribadi yang unggul, tidak hanya dalam aspek karakter dan moral, tetapi juga dalam pencapaian akhlak yang mulia. Perkembangan teknologi yang sangat cepat telah menjangkau seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak ketergantungan terhadap berbagai perangkat teknologi menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun kemajuan teknologi tersebut memberikan beragam manfaat dan mempermudah aktivitas manusia, dampak negatifnya juga tidak dapat diabaikan, khususnya bagi kelompok remaja di Indonesia yang paling rentan terhadap pengaruh Fenomena tersebut berkaitan dengan munculnya krisis moral pada generasi muda sebagai penerus bangsa, yang menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap teknologi. Salah satu manifestasinya tampak pada penggunaan internet dan media sosial yang hampir selalu melekat pada setiap perangkat smartphone yang mereka miliki. Internet menyediakan sumber informasi yang sangat luas dan bermanfaat, namun bagi individu yang menggunakannya secara tidak bijak, teknologi ini justru dapat berdampak merusak melalui akses terhadap konten-konten negatif. Kondisi ini sering terjadi pada kalangan remaja yang memiliki rasa ingin tahu tinggi dan cenderung mengakses informasi tanpa mempertimbangkan risiko atau konsekuensi yang mungkin timbul. Banyaknya kasus merosotnya akhlak remaja pada masa kini tidak terlepas dari dampak perkembangan teknologi yang begitu cepat. Berbagai bentuk perilaku negatif remaja pada era Society 5. 0 seperti pengabaian kewajiban ibadah dan belajar, menurunnya tata krama, tindakan perundungan, pergaulan bebas, screen-aggression, hingga sextortion sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya, tidak muncul secara tiba-tiba. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk minimnya pendidikan agama dalam lingkungan keluarga, kecanduan penggunaan smartphone, serta penyalahgunaan internet dan media sosial. Dalam konteks ini, peran orang tua menjadi sangat penting, yakni dengan memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi secara bijak sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak yang baik agar anak terhindar dari perilaku yang merugikan dan tidak bermanfaat. Dalam konteks pendidikan akhlak bagi remaja. Islam memberikan perhatian yang sangat besar karena remaja merupakan generasi muda yang memiliki kekuatan fisik, energi, dan semangat tinggi untuk menegakkan kebenaran serta mencegah kemungkaran di bumi. Oleh sebab itu. Islam menekankan pentingnya mempersiapkan remaja sebagai penerus generasi beriman, dengan harapan mereka memiliki keimanan yang kuat, akidah yang kokoh, budi pekerti yang baik, serta akhlak yang (Fatimah, 2. Orang tua merupakan figur pertama yang dikenal anak sekaligus berperan sebagai pembimbing utama Melalui penanaman nilai terhadap berbagai tindakan anak, terbentuklah pemahaman mengenai norma-norma yang membedakan mana yang dianggap baik dan buruk, serta mana yang diperbolehkan dan dilarang. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, taat kepada Allah, dan terjauh dari perilaku durhaka. Sebagaimana perintah Allah yang harus ditaati, orang tua juga berkewajiban menegur dan mencegah anak ketika mereka menunjukkan perilaku yang mengarah pada kemaksiatan. Dalam konteks tersebut, orang tua memikul tanggung jawab untuk membimbing remaja agar senantiasa bertakwa kepada Allah, mengarahkan mereka pada perilaku yang baik, serta menjauhkan mereka dari tindakan yang mengarah kepada kemaksiatan. Oleh karena itu, dalam upaya membentuk serta menanamkan akhlak pada remaja di era Society 5. agar berkembang menjadi pribadi yang unggul, terdapat sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan oleh orang tua maupun pendidik untuk menangani berbagai permasalahan remaja masa kini Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan. Inovasi dan Perubahan 176 | JPI. Vol. No. November 2025 yang berpotensi Kesimpulan Konsep Society 5. 0 memberikan peluang bagi manusia untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana yang memudahkan serta meningkatkan kualitas layanan dalam kehidupan sehari-hari. Selaras dengan visi utamanya, era Society 5. 0 diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang dapat menikmati hidup dengan tingkat kenyamanan yang lebih tinggi. Revolusi industri membawa perubahan besar pada berbagai sektor, termasuk pendidikan, ekonomi, dunia kerja, dan gaya hidup, yang secara signifikan memengaruhi arah perkembangan peradaban manusia pada era Era Society 5. 0 memberikan dampak positif bagi remaja dengan menyediakan ruang yang luas untuk mengekspresikan diri melalui berbagai karya kreatif dan produktif. Namun demikian, kemajuan teknologi yang sangat pesat juga membawa konsekuensi negatif terhadap perkembangan akhlak remaja. Beberapa fenomena yang muncul pada era ini antara lain kelalaian dalam menunaikan ibadah dan belajar, menurunnya etika pergaulan, meningkatnya kasus perundungan, serta maraknya pergaulan bebas. Situasi tersebut tidak terjadi secara spontan, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti rendahnya kualitas pendidikan keluarga terutama dalam aspek keagamaan, kecanduan penggunaan smartphone, serta penyalahgunaan internet dan media sosial. Oleh sebab itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam memberikan pemahaman tentang pemanfaatan teknologi secara bijak, sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak yang baik kepada anak. Daftar Pustaka