Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Pembinaan Didikan Subuh Untuk Meningkatkan Pemahaman Keagamaan Anak Usia Dini Wiji Fitri Yanti. Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, wijifitriganti@gmail. Gusmirawati. Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, gusmirawati27@gmail. Martin Kustati. Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, martinkustati@uinib. Keywords: Anak Usia Dini Didikan Subuh Pemahaman Agama Abstrak: Tujuan dari pembinaan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman keagamaan, membentuk akhlak mulia, serta menumbuhkan kebiasaan ibadah pada anak melalui kegiatan didikan subuh. Pembinaan didikan subuh merupakan salah satu bentuk kegiatan keagamaan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Islami sejak usia dini. program ini dilaksanakan sebagai bagian dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan karakter Islami anak di lingkungan masyarakat. Metode yang dilakukan dalam pembinaan ini ialah model Service Learning (SL) yang terdiri atas pra-implementasi yaitu sebagai perencanaan, implementasi sebagai pelaksanaan, dan pasca-implementasi sebagai evaluasi. Hasil dari kegiatan menunjukkan adanya peningkatan dalam kedisiplinan anak, kemampuan membaca alquran serta perubahan perilaku yang lebih baik sesuai dengan nilai nilai Islami. selain itu kegiatan ini juga mampu mempererat hubungan social antar masyarakat. Dengan didikan subuh dapat menjadi salah satu alternatif efektif dalam pembinaan karakter islami anak di lingkungan Pendahuluan Pendidikan Agama Islam sebagai suatu proses ikhtiarilah mengandung ciri dan watak khusus, yaitu proses penanaman, pengembangan dan pemantapan nilai-nilai keimanan yang menjadi fundamenmental-spritual manusia di mana sikap dan tingkahlakunya termanifestasikah menurut kaidah-kaidah agamanya (Aldi dkk. , 2. Nilai-nilai keimanan seseorang adalah keseluruhan pribadi yang menyatakan diri dalam bentuk tingkah laku lahiriah dan rohaniah, dan ia merupakan tenaga pendorong yang fundamental bagi tingkah laku seseorang (Asari dkk. , 2. Pendidikan Islam juga melatih kepekaan para peserta didik sedemikian rupa sehingga sikap hidup dan perilaku didominasi oleh perasaan mendalam nilai-nilai etis dan spiritual Islam (Mulaicin & Nurvinayani, 2. Anak usia dini mengalami pertumbuhan dan perkembangan tercepat dibandingkan dengan tahap usia lainnya. Pada fase ini anak-anak memiliki kemampuan yang sangat cepat dalam menerima, meniru, dan menyerap berbagai informasi yang diberikan oleh lingkungan sekitarnya, baik yang berasal dari keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Masa ini sering dikenal dengan istilah the golden age, yaitu masa emas perkembangan anak yang berlangsung sejak usia 0Ae6 tahun (Yulia dkk. , 2. Pada periode ini terjadi perkembangan otak yang sangat pesat sehingga anak memiliki daya tangkap, rasa ingin tahu, dan kemampuan belajar yang tinggi. Seluruh stimulasi yang diberikan pada masa ini akan sangat berpengaruh terhadap p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 pembentukan kepribadian, pola pikir, serta perilaku anak pada tahap perkembangan Masa emas ini menjadi tahap yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter anak, karena pada usia dini anak belum memiliki kemampuan untuk memilah secara sempurna mana perilaku yang baik dan mana yang kurang baik (Hadisi, 2015. Istati, 2. Oleh sebab itu, anak membutuhkan bimbingan, arahan, dan keteladanan dari orang dewasa di sekitarnya. Pendidikan yang diberikan pada masa ini tidak hanya berfokus pada perkembangan intelektual, tetapi juga mencakup perkembangan emosional, sosial, moral, dan spiritual anak. Dengan demikian, pendidikan anak usia dini harus dilaksanakan secara menyeluruh agar seluruh aspek perkembangan anak dapat tumbuh secara optimal dan Kemampuan otak anak yang berkembang pesat pada masa ini menjadi dasar utama pentingnya pendidikan agama sejak usia dini. Pendidikan agama memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan, kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, serta sikap saling menghormati kepada sesama (Padila, 2022. Sari & Nofriadi, 2. Pada tahap perkembangan anak, salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah perkembangan nilai moral dan agama, karena kedua aspek tersebut menjadi fondasi dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak di masa depan. Anak yang sejak kecil dibiasakan mengenal nilai-nilai agama akan lebih mudah memahami perilaku yang baik serta memiliki kesadaran untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pendidikan agama pada anak usia dini juga berfungsi sebagai sarana untuk membentuk kebiasaan positif melalui proses pembiasaan dan keteladanan. Anak cenderung meniru apa yang dilihat dan didengarnya dari lingkungan sekitar, sehingga orang tua dan pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan contoh perilaku yang baik. Pembiasaan seperti berdoa, berkata sopan, menghormati orang lain, jujur, serta memiliki rasa empati perlu ditanamkan sejak dini agar menjadi bagian dari karakter anak. Nilai-nilai tersebut tidak dapat terbentuk secara instan, melainkan memerlukan proses yang berkelanjutan melalui pendidikan dan lingkungan yang mendukung. Oleh karena itu, pendidikan agama dan moral sangat diperlukan untuk membantu anak dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dengan karakter akhlakul karimah. Pendidikan agama dan akhlak merupakan pendidikan yang sangat penting yang harus diajarkan dan dibiasakan kepada anak sejak dini, karena nilai-nilai yang tertanam pada masa kanak-kanak akan menjadi dasar bagi pembentukan sikap dan perilaku anak ketika dewasa. Dengan pendidikan agama yang baik, anak diharapkan tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan spiritual dan moral sehingga mampu tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, serta mampu berinteraksi secara positif di lingkungan Pendidikan agama merupakan pendidikan dasar bagi anak. Sebab jika anak mendapat pendidikan agama sejak dini, maka pendidikan umum lainnya juga akan mengikuti pendidikan agama, karena pendidikan umum juga termasuk dalam pendidikan agama (Rahmi and Jariah 2. oleh karena itu, penanaman nilai agama dari anak usia dini bisa mempengaruhi perilaku anak di masa yang akan datang (Sinurat dkk. , 2. Ketika anak usia dini ditanamkan pemahaman keagamann dari segi akidah, akhlak, dan pembiasaan nilai nilai Islami maka nanti nya si anak ini akan memiliki perilaku yang baik dan bersikap positif dalam p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 kehidupan sehari-hari. Dan disinilah peran keluarga sebagai faktor utama dalam pendidikan pertama bagi anak. sekolah juga sebagai salah satu faktor pendukung pendidikan keagamaan anak dan disekolah juga diajarkan agama. Dan faktor lainnya juga bisa dari masyrakat karena di masyarakat ini seorang anak bisa berproses dan mempraktekkan langsung di lapangan. Maka dari itu dari ketiga faktor itu bisa besinergi agar pendidikan agama ini bisa berjalan seoptimal mungkin. Salah satu bentuk pendidikan keagamaan yang diterapkan di seluruh indonesia ialah program didikan subuh (Rismawati & Ronald, 2. Didikan Subuh disebut sebagai suatu kosepsi Pendikan Islam, maksudnya adalah bahwa Didikan subuh itu adalah suatu pendapat, rancangan, konsep sebuah cita-cita tentang pembentukan kepribadian muslim, dalam sistem kependidikan yang berdasarkan Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Didikan Subuh bersifat fungsional dan praktis, maksudnya adalah materi pelajaran Didikan Subuh itu merupakan ibadah dan muamalah yang dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari yang sederhana dan mudah dipahami. Program Didikan Subuh di gelar setiap subuh hari ahad (Ridwan, 2. Didikan subuh juga merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam yang sangat urgen dalam media membentuk karakter siswa pra dan dasar dalam membangun karakter dari usia dini menjadi karakter muslim yang diharapkan bersama. Kegiatan didikan subuh sebagai wadah positif untuk melatih mental dan wawasan agama anak khusunya dalam menghadapi era digital (Sulistiani & Murniyetti, 2. Namun realitanya pada saat sekarang ini minat anak-anak terhadapa didikan subuh sering kali teralihkan oleh daya tarik gadget,media sosial, dan game online. Hal ini membuat kegiatan keagamaan di mesjid terkadang dianggap kurang menarik dan membosankan. Kurangnya variasi metode pembelajaran yang menarik merupakan hambatan utama yang menyebabkan anak anak merasa bosan. metode yang cenderung monoton dan hanya satu arah terfokus metode ceramah yang tidak adanya interaksi. Minimnya penggunaan alat peraga, teknologi, media visual yang dapat merangsang imajinasi anak. Materi dan cara pencapaian yang disamratakan untuk semua rentang usia,sehingga anak usia dini cepat merasa Adanya ketidakkonsistenan pelaksanaan didikan subuh yang berdampak pada kedisiplinan dan karakter keagaman anak-anak. Kurangnya dukungan orang tua dalam mengantarkan anak ke mesjid itu juga menjadi salah satu hambatan. Tidak adanya pelatihan atau pembinaan terhadap guru pendamping didikan subuh tanpa latihan guru pendamping cenderung hanya mengulang apa yang mereka alami dulu tanpa memahami perkembangan psikologi anak zaman sekarang. Berdasarkan permasalahan diatas dapat kita lakukan pembinaan pelaksanaan didikan subuh yang tidak menoton tapi bisa dengan variasi kegiatan seperti dengan mengadakan kuis nanti dikasih hadiah. Sesekali diadakan acara subuh berkah dimana setelah acara didikan subuh diadakan makan kue bersama jadi terasa kebersamaan yang terasa hangat. Gunakan proyektor untuk menonton film animasi tentang keagamaan. Kalau bisa materi yang mudah dan bisa dimengerti anak-anak seusia. Juga sinergi orang tua dalam memantau anak dan mendukung dalam proses pelaksanan bisa berjalan dengan lancar. kalau untuk guru pendamping bisa diadakan pelatihan dan workshop untuk menunjang standarisasi kualitas pengajar yang bergerak di lapangan. Ketika dilakukan pembinaan yang terstrukur ada target pencapaian dari segi hafalan akan lebih bertambah juga dalam membaca Al-Quran, segi praktik ibadah contohnya dlam berwudhu dan shalat, serta penanaman akhlak yang Islami p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 dengan contoh adab terhadap guru dan berbiacara sopan terhdap teman. Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar tentang teori keagamaan, tetapi juga langsung mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembinaan yang terarah dan berkesinambungan melalui kegiatan didikan subuh agar pemahaman keagamaan anak usia dini dapat meningkat secara efektif . Dan dengan adanya pembinaan didikan subuh yang baik bisa menumbuhkan minat dan semangat anak dalam mengikuti kegiatan keagamaan, anak dapat tumbuh menjadi generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Selain itu, kegiatan ini juga dapat mempererat hubungan sosial antar anak serta menumbuhkan kecintaan terhadap masjid sejak dini (Malfi dkk. , 2. Pelaksanaan dan Metode Metode pelaksanaan adalah suatu perencanaan yang memberikan gambaran bagaimana cara melaksanakan suatu pekerjaan, baik secara global maupun tiap kegiatan. Adapun metode yang dipakai dalam Pembinaan ini adalah model service learning (SL). Metode sevice learning adalah salah satu pendekatan dalam pengajaran yang menggabungkan tujuan akademik dalam upaya menumbuhkan kesadaran dalam memecahkan persoalan secara Metode service learning (SL) merupakan sebuah metode pembelajaran yang mengutamakan sebuah pelayanan baik pelayanan terhadap diri sendiri, terhadap orang lain maupun terhadap lingkungan (Setyowati & Permata, 2. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan pemahaman agama seorang anak melalui didikan subuh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang dipadukan dengan metode service learning. Pendekatan ini dipilih untuk memahami secara mendalam proses pembinaan Didikan Subuh serta dampaknya terhadap peningkatan pemahaman keagamaan anak usia dini melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan Dalam penggunaan metode ini ada beberapa tahapan yang yang dilalui dalam pelaksanaan kegiatan didikan subuh diantaranya: tahap perencanaan setelah selesai shalat subuh anak anak akan dikumpulkan semuanya dengan didampingi guru TPA dan tahap pelaksanaan pada tahap ini anak anak maju ke depan untuk tampil sesaui dengan tugas yang mereka dapat dan pada tahap evaluasi guru tpa akan memberikan arahan dan pemahaman tentang apa yang mereka bacakan dan tampilkan tadi. kegiatan didikan subuh ini diadakan satu kali dam seminggu setiap hari mggu setelah shalat subuh. Hasil dan Pembahasan Kegiatan didikan subuh yang dilaksanakan setiap hari minggu setelah salat subuh dimulai jam 05. 30- 06. Biasanya didikan subuh ini diadakan di sebuah mesjid atau Tujuan diadakannya didikan subuh ini adalah untuk meningkatkan pemahaman anak anak di bidang agama. Dan juga didikan subuh adalah suatu program yang bertujuan untuk memperkaya wawasan dalam proses pembelajaran ilmu agama Islam. Tabel 1. Jadwal Didikan Subuh Waktu 00 - 05. Kegiatan Pembukaan 30 - 06. Bacaan Materi Shalat subuh berjamaah Pembacaan ayat suci alquran, tilawah, ikrar santri, mars didikan subuh p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 00 - 0730 Penambahan pelajaran dan penguatan, nasihat. Tahap perencanaan Pada tahap awal, tim pengabdi telah melakukan observasi dan identifikasi terhadap pelaksanaan kegiatan didikan subuh yang berlangsung di lingkungan masjid. Kegiatan observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi nyata pelaksanaan didikan subuh, mulai dari tingkat partisipasi anak, metode pembelajaran yang digunakan, hingga faktor-faktor yang memengaruhi keberlangsungan kegiatan tersebut. Hasil observasi menunjukkan bahwa pelaksanaan didikan subuh belum berjalan secara optimal. Minat anak-anak untuk mengikuti kegiatan mengalami penurunan karena perhatian mereka lebih banyak teralihkan oleh penggunaan gadget dan game online. Kehadiran teknologi digital yang tidak terkontrol menyebabkan anak lebih tertarik menghabiskan waktu dengan hiburan digital dibandingkan mengikuti kegiatan keagamaan di masjid. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya interaksi anak dengan lingkungan religius serta menurunnya semangat mereka dalam mempelajari nilai-nilai keislaman sejak dini. Temuan tersebut diperkuat melalui wawancara dengan pengurus masjid yang menyatakan bahwa masih banyak anak-anak yang kurang memahami doa harian, hafalan surat-surat pendek, serta praktik ibadah dasar seperti salat dan wudhu. Selain itu, sebagian anak juga belum terbiasa menerapkan adab dan akhlak Islami dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya pemahaman tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pembinaan keagamaan masih memerlukan pengembangan, baik dari segi metode penyampaian, media pembelajaran, maupun pengelolaan kegiatan agar lebih menarik dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini dan usia sekolah dasar. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, disusunlah program pembinaan didikan subuh yang bertujuan untuk meningkatkan minat anak-anak dalam mengikuti kegiatan keagamaan di masjid sekaligus memperkuat pemahaman mereka terhadap nilai-nilai Islam. Program ini dirancang dengn konsep yang lebih menarik, edukatif, dan interaktif agar anak merasa nyaman dan termotivasi untuk mengikuti kegiatan secara rutin. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memanfaatkan media pembelajaran seperti proyektor, video edukasi Islami, gambar interaktif, serta metode pembelajaran yang lebih variatif sehingga proses belajar tidak monoton dan membosankan. Penggunaan media visual diharapkan mampu menarik perhatian anak dan membantu mereka memahami materi dengan lebih Materi pembelajaran juga disusun secara sistematis dan disesuaikan dengan kebutuhan anak. Materi tersebut meliputi hafalan doa sehari-hari, hafalan surat-surat pendek, praktik salat, praktik wudhu, pembelajaran akhlak Islami, serta pembiasaan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian materi dirancang melalui pendekatan yang menyenangkan, seperti metode praktik langsung, permainan edukatif, tanya jawab, dan pemberian motivasi agar anak lebih aktif dalam mengikuti kegiatan. Dengan metode yang bervariasi, diharapkan anak tidak hanya mampu memahami materi secara teori, tetapi juga dapat mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tahap perencanaan ini, tim pengabdian juga membentuk kelompok pelaksana yang memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing agar pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik dan terorganisir. Pembagian tugas dilakukan secara terstruktur, mulai dari p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 penanggung jawab kegiatan, pemateri, pendamping anak, bagian dokumentasi, hingga pengelola media pembelajaran. Selain itu, tim juga menyusun agenda kegiatan didikan subuh secara rinci, mulai dari kegiatan pendahuluan, penyampaian materi, praktik ibadah, evaluasi, hingga penutup. Penyusunan agenda ini bertujuan agar waktu pelaksanaan didikan subuh dapat terkelola secara efektif dan efisien sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan sesuai dengan Tujuan yang telah direncanakan. Pelaksanaan tahap perencanaan ini dilakukan melalui kerja sama antara tim pelaksana, pengurus masjid, serta orang tua anak. Keterlibatan semua pihak menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan program didikan subuh. Pengurus masjid berperan dalam memberikan dukungan fasilitas dan pengawasan kegiatan, sementara orang tua diharapkan ikut memberikan motivasi serta membiasakan anak untuk hadir ke masjid secara rutin. Sinergi antara keluarga, masjid, dan tim pelaksana diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan keagamaan yang positif sehingga kegiatan didikan subuh dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan dampak yang baik terhadap perkembangan moral, spiritual, dan akhlak anak-anak. Tahap pelaksanaan Setelah tahap identifikasi selesai dilaksanakan, tim pengabdi bersama guru dan pengurus masjid melanjutkan kegiatan pada tahap pelaksanaan program pembinaan didikan subuh. Tahap ini merupakan inti dari seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya. Pelaksanaan program dilakukan secara terstruktur dan sistematis agar tujuan pembinaan dapat tercapai secara maksimal. Kegiatan didikan subuh diawali dengan pelaksanaan salat subuh berjamaah sebagai bentuk pembiasaan ibadah dan penanaman nilai kedisiplinan kepada anak-anak. Setelah salat berjamaah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan oleh pembawa acara yang bertugas mengarahkan jalannya kegiatan agar berlangsung tertib dan terorganisir. Suasana pembukaan dibuat menarik dan menyenangkan sehingga mampu membangun semangat anak-anak untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan didikan subuh. Gambar 1. Pembacaan ayat suci alquran Gambar 2. Anak anak antusias mengikuti Kegiatan pembinaan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-QurAoan oleh peserta didikan subuh secara bergantian. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih keberanian anak tampil di depan umum sekaligus meningkatkan kemampuan membaca AlQurAoan dengan baik dan benar. Selain itu, pembacaan ayat suci Al-QurAoan juga menjadi sarana untuk menanamkan kecintaan anak terhadap Al-QurAoan sejak usia dini. Anak-anak p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 terlihat antusias ketika diberikan kesempatan untuk membaca ayat suci Al-QurAoan di hadapan teman-teman mereka. Hal ini menunjukkan bahwa suasana pembelajaran yang mendukung mampu meningkatkan rasa percaya diri anak dalam mengikuti kegiatan Anak-anak kemudian mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran agama seperti membaca doa-doa harian, di antaranya doa sesudah wudhu, doa sesudah azan, serta doadoa harian lainnya yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Pembelajaran doa dilakukan melalui metode pengulangan bersama agar anak lebih mudah menghafal dan memahami makna doa yang dipelajari. Setelah itu, anak-anak menyetor hafalan surat-surat pendek atau juz amma secara bergantian di hadapan pembimbing. Kegiatan hafalan ini dilakukan untuk melatih daya ingat, kemampuan membaca Al-QurAoan, serta membiasakan anak berinteraksi dengan ayat-ayat suci Al-QurAoan sejak dini. Dalam proses penyetoran hafalan, tim pengabdi memberikan motivasi dan apresiasi kepada anak-anak agar mereka lebih semangat dalam meningkatkan hafalan yang dimiliki. Kegiatan selanjutnya adalah praktik ibadah yang dilakukan secara langsung. Anakanak dibimbing untuk mempraktikkan tata cara wudhu yang benar sesuai urutan yang diajarkan dalam tuntunan ibadah Islam. Selain itu, mereka juga mempraktikkan gerakan salat beserta bacaan-bacaannya secara bertahap. Tidak hanya itu, anak-anak juga diberikan kesempatan untuk belajar dan mempraktikkan azan serta iqamah agar mereka lebih memahami tata cara pelaksanaan ibadah berjamaah di masjid. Metode praktik langsung dipilih karena dinilai lebih efektif dalam membantu anak memahami materi dibandingkan hanya melalui penjelasan teori semata. Dengan praktik secara langsung, anak dapat melihat, meniru, dan mengulang gerakan ibadah dengan lebih mudah sehingga pemahaman mereka menjadi lebih kuat. Selama proses pembinaan berlangsung, tim pengabdi juga melakukan tahap observasi dengan memantau perkembangan pemahaman serta partisipasi anak-anak dalam kegiatan didikan subuh. Observasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas program yang telah dilaksanakan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa anak-anak sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka terlihat aktif menjawab pertanyaan, mengikuti kuis Islami, serta bersemangat mempraktikkan setiap materi yang Antusiasme anak juga terlihat dari keberanian mereka untuk tampil di depan teman-temannya ketika membaca doa, menyetor hafalan, maupun mempraktikkan gerakan ibadah. Kondisi ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan mampu meningkatkan minat anak terhadap kegiatan keagamaan di masjid. Hasil pelaksanaan program ini menunjukkan adanya dampak positif terhadap perkembangan pemahaman agama anak usia dini. Dari segi keaktifan dan partisipasi, anakanak menunjukkan antusiasme yang besar dalam mengikuti kegiatan didikan subuh. Mereka aktif mengangkat tangan ketika diadakan kuis dan berusaha menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pembimbing. Peningkatan partisipasi tersebut menunjukkan bahwa anak mulai merasa nyaman dan tertarik mengikuti kegiatan pembelajaran agama. Selain itu, tingkat kehadiran anak juga mengalami peningkatan dibandingkan sebelum program pembinaan dilaksanakan. Hal ini menunjukkan bahwa program yang dirancang dengan metode menarik dan variatif mampu meningkatkan minat anak untuk datang ke masjid secara rutin. p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Dari segi pemahaman keagamaan, anak-anak mulai menunjukkan perkembangan yang baik dalam memahami materi dasar agama Islam seperti rukun iman, rukun Islam, doa-doa harian, serta hafalan surat-surat pendek. Hafalan anak-anak mengalami peningkatan secara bertahap karena dilakukan melalui pembiasaan dan pengulangan dalam setiap pertemuan. Selain itu, kemampuan anak dalam praktik ibadah juga mengalami perkembangan yang signifikan. Anak-anak sudah mampu mempraktikkan tata cara berwudhu sesuai urutan yang benar berdasarkan tuntunan ibadah. Gerakan dan bacaan salat yang sebelumnya masih kurang tepat juga mulai mengalami perbaikan setelah dilakukan pembinaan secara rutin dan berkelanjutan. Hasil ini sejalan dengan beberapa penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa pembelajaran agama melalui metode praktik langsung dan pembiasaan memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan spiritual dan moral anak usia dini. Penelitian lain juga menjelaskan bahwa kegiatan keagamaan yang dilakukan secara rutin di lingkungan masjid dapat meningkatkan karakter religius, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab anak. Selain itu, penggunaan metode kuis, permainan edukatif, dan media interaktif terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar anak sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan. Dengan demikian, pelaksanaan program didikan subuh tidak hanya memberikan pengetahuan agama kepada anak, tetapi juga membantu membentuk karakter religius dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Tahap evaluasi Tahap evaluasi dilaksanakan dengan menyeluruh terhadap proses dan hasil pembinaan dari didikan subuh untuk mengetahui tingkat pemahaman kegamaan anak usia Oleh karena itu,pembinaan didikan subuh terbukti berhasil untuk meningkatkan pemahaman keagamaan anak usia dini dari segi memabaca doa ,hafalan pendek dan praktik ibadah. Secara keseluruhan, aktivitas ini memberkan dampak positif terhadapa pemahaman keagamaan anak usia dini. Pada tahap refleksi, tim pengabdi bersama guru dan anak-anak berdiskusi berbagai kelebihan dan hambatan yang ditemukan selama pelaksanaan pembinaan ini. Kelebihan program teletak pada tinggi antusias anak-anak serta terciptanya suasana yang interaktif dan menyenangkan. Adapun hambatan yang dihadapi antara lain kehadiraan anak yang belum konsisten di setiap pertemuan satu kali dalam seminggu, perbedaan usia dan kemampuan anak mempengaruhi proses pembelajaran serta keterbatasan media pembelajaran dan fasilitas yang kurang untuk mengatasi kendala tersebut disepakatai beberapa solusi diantaranya seperti menggunakan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan interaktif, mengajak orang tua lebih aktif mendukung anak dalam mengikuti kegiatan didikan subuh, dan merencanakan keberlanjutan program didikan subuh secara rutin. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa program pembinaan membuat didikan subuh lebih aktif dan terstruktur juga meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan agama sejak usia dini. Ini diperkuat dengan temuan (Rosmalina & Khaerunnisa, 2. menunjukkan Bimbingan pengembangan kesadaran beragama anak usia dini sangat perlu dilakukan. Serta (Agrian 2. menyatakan pengaruh kegiatan didikan subuh terhadap akhlak siswa juga sangat berpengaruh sekali. Hal ini sejalan denga pandangan (Fadhilah dkk. , 2. yang menyatakan pendampingan kegiatan keagamaan salah satunya dengan melaksanakan didikan subuh. p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Juga (NurAoaina & Nisa, 2. mengatakan didikan subuh dapat meningkatkan akhlak anak melalui hafalan doa dapat membentuk moral anak-anak dan meningkatkan hubungan mereka dengan Tuhan secara tidak lansung Menghafal doa-doa harian dalam Islam dapat membantu anak-anak menginternalisasi nilai-nilai dan ajaran agama Islam. Penutup Pelaksanaan kegiatan didikan subuh terbukti mampu meningkatkan pemahaman agama pada anak usia dini. Melalui pendekatan service learning yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, program pembinaan ini dapat berjalan secara terarah dan sistematis. Kegiatan ini juga menunjukkan adanya komitmen yang kuat dari guru, tim pelaksana, dan pengurus masjid dalam membimbing serta mendampingi anak-anak untuk memahami nilai-nilai keagamaan sejak dini melalui berbagai aktivitas edukatif dan praktik ibadah secara langsung. Melalui kegiatan didikan subuh, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan dasar agama Islam, tetapi juga mengalami perubahan sikap dan perilaku ke arah yang lebih baik. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya antusiasme anak dalam mengikuti kegiatan keagamaan, bertambahnya hafalan doa dan surat pendek, serta semakin baiknya kemampuan mereka dalam mempraktikkan ibadah seperti wudhu, salat, azan, dan iqamah. Pembinaan yang dilakukan secara rutin dan menyenangkan mampu menciptakan suasana belajar yang positif sehingga anak lebih mudah memahami dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dukungan orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan pembinaan pemahaman agama anak. Orang tua tidak hanya berperan sebagai pendamping di rumah, tetapi juga sebagai motivator yang membimbing, mengingatkan, dan membiasakan anak untuk terus belajar serta mengamalkan ajaran agama dengan baik. Sinergi antara keluarga, guru, tim pengabdi, dan pengurus masjid menjadi faktor utama dalam menciptakan lingkungan pendidikan agama yang kondusif bagi perkembangan moral dan spiritual anak. Dengan demikian, pembinaan didikan subuh dalam meningkatkan pemahaman agama anak usia dini dapat menjadi strategi pembinaan yang komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan keagamaan anak, tetapi juga berkontribusi dalam pembentukan karakter religius, kedisiplinan, dan akhlakul karimah yang akan menjadi bekal penting bagi anak dalam kehidupan bermasyarakat di masa yang akan datang. References