Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persediaan Bahan Baku Karet Di PT Batanghari Tembesi Kecamatan Jambi Timur Kota Jambi (Analysis of Factors Affecting Rubber Raw Materials Inventory at PT Batanghari Tembesi in East Jambi District of Jamb. Nur Kartika Achmalia*. Siswanto Imam Santoso**. Titik Ekowati** Program Studi S1 Agribisnis. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro. Tembalang. Semarang 50275 - Indonesia Email: anurkartika@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alur persediaan dan menganalisis faktor yang mempengaruhi persediaan di PT Batanghari Tembesi. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2020 dan Februari 2021 di PT Batanghari Tembesi. Metode yang digunakan adalah studi kasus. Penentuan lokasi ditentukan secara sengaja . Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder terkait persediaan bahan baku periode tahun 2018-2020. Analisis data yang digunakan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan statistik dengan analisis regresi linier Variabel yang dianalisis yaitu persediaan bahan baku, perkiraan pemakaian, pemakaian aktual, harga bahan baku, biaya persediaan dan waktu tunggu. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa persediaan bahan baku karet di PT Batanghari Tembesi dimulai dari supplier yang mendapatkan bahan olah karet . dari pengepul karet dilanjutkan dengan inspeksi bokar di pabrik perusahaan, penimbangan dan penyimpanan di gudang penyimpanan bahan baku. Seluruh variabel bebas berpengaruh secara serempak terhadap persediaan bahan baku karet. Variabel perkiraan pemakaian dan pemakaian aktual masing-masing berpengaruh secara parsial sedangkan harga bahan baku, biaya persediaan dan waktu tunggu terhadap tidak berpengaruh secara parsial terhadap persediaan bahan baku karet. Kata kunci: Bahan, harga, karet, pemakaian, persediaan ABSTRACT The purposes of this research were to analyze the process of raw materials inventory activity and to analyze what factors affecting rubber raw materials inventory at PT Batanghari Tembesi. This research was conducted on October 2020 and February 2021 located in PT Batanghari Tembesi. The method of this research is case study. The location in this research was determined intentionally . The data used was secondary data about raw materials inventory from 2018-2020. The data analysis used was descriptive quantitative analysis and statistics with linear regression analysis. The analyzed variables were materials inventory, estimated raw materials usage, actual raw materials usage, raw materials price, inventory cost and lead time. Based on this research, it can be known the inventory activity at PT Batanghari Tembesi started from suppliers who got rubber raw materials from collectors, proceeded to inspecting rubber raw materials at the company's factory, weighing the rubber raw materials and storing to the raw materials storage. All the independent variables affecting raw materials simultaneously. The estimated raw materials and actual raw materials usage variable have affect on raw materials inventory partially while raw materials price, inventory cost and lead time variable have no partial affect on rubber raw materials inventory at PT Batanghari Tembesi. Keywords: Inventory, materials, price, rubber, usage Nur Kartika Achmalia*. Siswanto Imam Santoso**. Titik Ekowati** : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persediaan Bahan Baku PENDAHULUAN Perkebunan merupakan sub sektor pertanian yang memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian negara. Laju pertumbuhan tanaman perkebunan pada tahun 2019 mencapai 4,56% dengan persentase yang selalu meningkat setiap triwulannya (Badan Pusat Statistik, 2. Karet olahan merupakan produk ekspor unggulan dari Indonesia. Volume ekspor olahan karet pada tahun 2018 mencapai 000 ton (Badan Pusat Statistik. Besarnya volume ekspor olahan karet dari Indonesia menunjukkan besarnya permintaan karet Indonesia mengharuskan industri pengolahan karet untuk memenuhi permintaan dan menyediakan bahan baku karet yang nantinya akan diolah menjadi bahan baku setengah jadi. Tingginya angka ekspor dari olahan karet tidak lepas dari peran industri olahan karet yang ada di Indonesia. Provinsi Jambi adalah provinsi yang berkontribusi besar dalam mendukung kegiatan ekspor karet. Luas lahan karet karet di Provinsi Jambi sampai tahun 2018 mencapai 667. hektar dengan produksi karet mentah 313 ton. Provinsi Jambi mendulang nilai ekspor sebesar 700. USD yang berasal dari hasil ekspor crumb rubber . asil olahan tanaman kare. atau sebesar 59% dari total ekspor sektor industri Provinsi Jambi (Badan Pusat Statistika Provinsi Jambi, 2. PT Batanghari Tembesi (BHT) adalah perusahaan pengolahan karet . rumb rubbe. yang telah berdiri di Jambi sejak tahun 1961 dengan produksi 000 ton/tahun. Bahan baku karet yang diperoleh PT BHT dari petani karet rakyat, pemenuhan kebutuhan bahan baku karet dilakukan dengan cara membeli langsung dari petani karet. BHT sebagai industri pengolahan karet besar di Provinsi Jambi sebaiknya dapat menjaga kegiatan produksi yang dapat diawali dengan persediaan bahan baku yang baik sehingga permintaan hasil produk olahan karet dapat selalu Persediaan adalah sesuatu atau sumber daya organisasi yang disimpan untuk mengantisipasi pemenuhan permintaan (Handoko, 2. Persediaan bahan baku menjadi penting karena persediaan berhubungan dengan operasional perusahaan dan bahan baku adalah bagian dari faktor produksi dari suatu perusahaan industri. Faktor yang dapat mempengaruhi persediaan bahan baku antara lain permintaan, jadwal pemesanan, harga bahan baku, kondisi cuaca dan kondisi lalu lintas pengiriman (Eunike, 2. Seluruh bahan baku karet PT BHT diperoleh dari petani karet di Provinsi Jambi yang pada umumnya menerapkan sistem tradisional yang sangat bergantung pada harga jual karet dan cuaca serta musim kemarau panjang yang kerap melanda Provinsi Jambi disertai dengan kabut asap yang dapat berdampak pada produksi karet. PT BHT pada tahun 2013 hanya memperoleh pangsa pasar sebesar 6,58%, oleh karena itu perusahaan harus waspada dengan persaingan antar perusahaan pengolahan karet lainnya di Jambi. PT BHT yang tidak memiliki gudang yang cukup besar untuk menyimpan bahan baku dan akses ke perusahaan yang jauh juga dapat menjadi pertimbangan bahwa PT BHT harus mengadakan persediaan yang cukup sehingga keberlangsungan produksi tidak PT BHT juga tidak memiliki petani tetap yang akan selalu menjual getah karet ke perusahaan melainkan harus bersaing dengan perusahaan pengolahan SIR 20 lainnya yang ada di Jambi untuk tetap mendapatkan persediaan bahan baku untuk memenuhi permintaan konsumen. Persediaan bahan baku pada PT BHT dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor tersebut dapat terdiri dari perkiraan pemakaian bahan baku yang harus ,Vol. No. 1 Maret 2021 dipersiapkan perusahaan untuk persediaan bahan baku, harga bahan baku yang setiap waktu berfluktuasi, pemakaian aktual bahan baku yang setiap hari berubah, biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk penyimpanan bahan baku dan waktu tunggu bahan baku yang tidak selamanya konstan karena akses transportasi dari petani karet ke perusahaan yang cukup Adanya faktor yang dapat mempengaruhi persediaan bahan baku tersebut melatarbelakangi penelitian tentang faktor apa saja yang dapat mempengaruhi persediaan bahan baku karet di PT Batanghari Tembesi. Tujuan dari penelitian ini adalah: Menganalisis alur persediaan bahan baku karet di PT Batanghari Tembesi. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan bahan baku karet di PT Batanghari Tembesi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang faktorfaktor yang mempengaruhi persediaan bahan baku dan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam proses persediaan bahan baku perusahaan. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2020 dan Februari 2021 yang berlokasi di PT Batanghari Tembesi. Penentuan lokasi ditentukan dengan pertimbangan bahwa PT Batanghari tembesi merupakan industri pengolahan karet yang bahan bakunya berasal dari petani karet yang produksinya fluktuatif. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan Analisis Data Sekunder (ADS). Data yang digunakan data sekunder berupa data time series yang terdiri dari data pembelian bahan baku, pemakaian bahan baku aktual, harga bahan baku, biaya persediaan dan persediaan bahan baku perusahaan dalam kurun waktu Alat analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan metode analisis kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda yang digunakan adalah dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Analisis regresi linier berganda adalah alat uji untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel Persamaan analisis regresi linier berganda adalah sebagai berikut: (Widarjono, 2. Y = 0 1X1 2X2 3X3 4X4 5X5 e Keterangan: Y = persediaan bahan baku . g/bula. 0 = nilai konstanta persamaan . ,2,3,. ) = nilai koefisien regresi e = error X1 = perkiraan pemakaian bahan baku . g/bula. X2 = pemakaian bahan baku aktual . g/bula. X3 = harga bahan baku (Rp/k. X4 = biaya persediaan bahan baku (Rp/bula. X5 = waktu tunggu . Uji Model Uji Stasioneritas Data Uji stasioner data pada penelitian ini menggunakan uji akar unit . ji unit roo. menggunakan aplikasi Eviews dengan kriteria pengujian apabila nilai probabilitas kurang dari nilai kritis . %) maka data stasioner sedangkan jika nilai probabilitas lebih dari nilai kritis maka data tidak stasioner (Siburian, 2. Data time series yang tidak stasioner dilanjutkan dengan uji derajat integrasi untuk mengetahui berapa kali diferensiasi untuk menghasilkan data yang stasioner (Rizal dan Akbar, 2. Nur Kartika Achmalia*. Siswanto Imam Santoso**. Titik Ekowati** : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persediaan Bahan Baku b. Uji Derajat Integrasi Data yang telah diamati pada uji stasioner ternyata tidak stasioner, maka langkah selanjutnya adalah uji derajat Kriteria pengujian derajat integrasi apabila nilai probabilitas kurang dari 0,05 maka data sudah stasioner sedangkan jika nilai probabilitas lebih dari 0,05 maka data tidak stasioner Uji Kointegrasi Uji kointegrasi merupakan lanjutan langkah untuk menganalisis data time s e r i e s y a n g t i d a k s t a s i o n e r. U j i kointegrasi ditunjukkan dengan nilai residual data menunjukkan gejala stasioner pada level. Nilai residual atau nilai error correction term (ECT) yang stasioner pada tingkat level menunjukkan bahwa variabel dependen dan variabelvariabel independennya saling berkointegrasi atau mempunyai hubungan jangka panjang (Ekananda. Nilai residual atau ECT yang diuji didapatkan dari nilai residual uji Ordinary Least Square (OLS). Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan dengan tujuan mengetahui apakah seluruh data variabel penelitian berdistribusi normal. Data dikatakan normal jika memiliki nilai signifikansi yang kurang dari 0,05 (Sufren dan Natanael, 2. Penelitian ini menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov. Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji ada atau tidaknya kolinearitas antara variabel bebas dalam suatu model regresi (Maryanto, 2. Terjadinya multikolinearitas di antara variabel bebas ditandai dengan nilai faktor inflasi ragam atau value inflating-factor (VIF) lebih dari 10 (Sriningsih et al. , 2. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala autokorelasi antara variabel di dalam model regresi (Maryanto, 2. Penelitian ini menggunakan uji autokorelasi metode Breusch-Godfrey test atau Serial Correlation LM test. Nilai p-value dari Obs*R-squared yang lebih dari 0,05 menandakan adanya tidak terjadinya autokorelasi (Widarjono. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas adalah uji data untuk mengetahui ada atau tidaknya varian yang tidak sama dari residual dalam model regresi (Maryanto, 2. Penelitian ini menggunakan metode Breusch Pagan Godfrey untuk mendeteksi heteroskedastisitas. Nilai pvalue dari Obs*R-squared yang lebih dari 0,05 menandakan tidak adanya heteroskedastisitas (Widarjono, 2. Uji Normalitas Residual Uji normalitas residual dilakukan untuk mengetahui apakah nilai residual dari variabel berdistribusi normal. Penelitian ini menggunakan nilai Jarque Bera yang didapatkan dari uji OLS. Nilai probability dari Jarque Bera yang lebih besar dari nilai signifikansi . %) maka residual data berdistribusi normal (Pakpahan, 2. Uji Hipotesis Uji t . ji parsia. Uji t merupakan uji yang menunjukkan pengaruh variabel bebas terhadap persediaan bahan baku sebagai variabel terikat secara parsial atau individual (Supardi et al. , 2. Uji F . ji simulta. Uji F merupakan uji ada atau tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap persediaan bahan baku sebagai variabel terikat secara simultan atau serempak (Supardi et al. , 2. Koefisien Determinasi Makna dari koefisien determinasi adalah persentase besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang diketahui dari nilai Adjusted R ,Vol. No. 1 Maret 2021 Square (R. (Maryanto, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Persediaan Bahan Baku PT Batanghari Tembesi P T B a t a n g h a r i Te m b e s i memperoleh seluruh bahan baku karet yang berasal dari petani rakyat di sekitar Provinsi Jambi. Bahan baku di perusahaan berupa persediaan bahan mentah dalam bentuk getah karet atau disebut dengan bokar . ahan olah kare. , sesuai dengan pendapat Handoko . yang menyatakan bahwa jenis persediaan adalah persediaan bahan mentah . aw material. yang akan digunakan dalam proses produksi dan dapat diperoleh dari sumber alam atau dibuat sendiri oleh perusahaan. Bahan baku yang diterima oleh PT Batanghari Tembesi berasal dari Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Supplier . mendatangkan bahan baku karet yang berasal dari pengepul karet. Bahan baku yang telah tiba di perusahaan segera dilakukan bongkar muat barang dan dilanjutkan dengan menginspeksi bokar. Inspeksi bokar dilakukan dengan cara membelah bokar menjadi dua dengan tujuan pemeriksaan secara visual untuk menentukan tingkat kebersihan dan kontaminasi pada bokar. Bokar yang bersih segera ditimbang. Proses penimbangan tersebut ditinjau langsung oleh Kepala Bagian Pembelian Bahan Baku yang juga bertindak sebagai juru taksir harga bokar. Pembayaran bahan baku diserahkan secara langsung pada hari yang sama. Bahan baku yang telah ditimbang akan ditempatkan di gudang penyimpanan di pabrik dan akan menunggu untuk diolah. Bahan baku yang terlebih dahulu tiba di pabrik didahulukan untuk diolah dengan tujuan menghindari penyusutan bokar yang nantinya mengurangi kualitas bahan Bersesuaian dengan pendapat Ma'arif dan Tanjung . bahwa sistem First In First Out (FIFO) atau bahan baku yang pertama masuk juga pertama keluar merupakan sistem yang diterapkan pada tahap penyimpanan bahan baku untuk mencegah kerusakan bahan baku. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persediaan Bahan Baku Karet Pengujian faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan bahan baku k a r e t d i P T B a t a n g h a r i Te m b e s i menggunakan analisis regresi linier berganda dengan metode OLS. Hasil uji analisis regresi linier berganda tercantum pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Sumber : Data Sekunder Diolah Th. Nur Kartika Achmalia*. Siswanto Imam Santoso**. Titik Ekowati** : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persediaan Bahan Baku Persamaan regresi yang terbentuk berdasarkan Tabel 1. adalah sebagai Y = -0,004701 0,922524X1 0,504139X2 - 0,315465X3 0,085837X4 0,036585X5 e Berdasarkan model regresi pada Tabel 1, didapatkan nilai konstanta sebesar -0,004701 yang menunjukkan apabila seluruh variabel bebas . erkiraan pemakaian, pemakaian aktual, harga bahan baku, biaya persediaan dan waktu tungg. konstan atau tidak berubah, maka jumlah variabel terikat . ersediaan bahan bak. akan bernilai -0,004701. Hasil uji F pada Tabel 1. angka probabilitas F adalah sebesar 0,0000 yang kurang dari 0,05. Berdasarkan pendapat Ghodang dan Hantono . apabila nilai signifikansi < 0,05 maka variabel bebas berpengaruh secara serempak maka seluruh faktor perkiraan pemakaian, pemakaian aktual, harga bahan baku, biaya persediaan dan waktu tunggu berpengaruh secara serempak terhadap persediaan bahan baku di PT BHT. Hasil uji t yang ditunjukkan oleh nilai probabilitas pada Tabel 1. menunjukkan bahwa variabel perkiraan pemakaian (X. dan pemakaian aktual (X. memiliki nilai probabilitas < 0,05 mengartikan bahwa masing-masing dari perkiraan pemakaian dan pemakaian bahan baku aktual berpengaruh secara parsial terhadap persediaan bahan baku di PT BHT, sesuai dengan pernyataan Supardi et al. bahwa apabila nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka variabel bebas dinyatakan berpengaruh secara parsial terhadap variabel terikat. Berdasarkan Tabel 1 juga dapat diketahui bahwa nilai koefisien determinasi (Adj RSquare. yang diperoleh adalah sebesar 0,968675. Nilai tersebut menunjukkan bahwa faktor perkiraan pemakaian (X. , pemakaian aktual (X. , harga bahan baku (X. , biaya persediaan (X. dan waktu tunggu (X. mampu menjelaskan 96,86% persediaan bahan baku di PT BHT sedangkan sisanya sebesar 3,14% persediaan bahan baku di PT BHT dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Perkiraan pemakaian (X. memiliki nilai koefisien sebesar 0,922524 dengan nilai probabilitas 0,000 yang berarti setiap kenaikan perkiraan pemakaian sebesar 1 kg maka persediaan bahan baku akan mengalami peningkatan sebesar 0,922524 kg dan berpengaruh terhadap persediaan bahan baku di PT BHT. Didukung oleh penelitian Farhan et al. bahwa peningkatan perkiraan pemakaian bahan baku akan menjadikan persediaan bahan baku dan pemakaian bahan baku meningkat. Perkiraan pemakaian yang ditetapkan dapat dijadikan dasar untuk penyediaan dan pembelian bahan baku sehingga semakin meningkatnya angka pada perkiraan pemakaian bahan baku maka juga akan meningkatkan persediaan bahan baku. Didukung dengan pernyataan Ma'arif dan Tanjung . yang menyatakan bahwa angka perkiraan pemakaian bahan baku ditetapkan untuk mengantisipasi persediaan bahan baku untuk masa Perkiraan pemakaian yang dilakukan PT BHT didasari oleh target pembelian bahan baku yang ditetapkan perusahaan, sesuai dengan pernyataan Ma'arif dan Tanjung . bahwa perkiraan pemakaian merupakan hal yang perlu dipertimbangkan perusahaan untuk mengantisipasi persediaan bahan baku di masa mendatang, didukung dengan pernyataan Handoko . bahwa perkiraan pemakaian dalam ,Vol. No. 1 Maret 2021 manajemen persediaan merupakan bagian dari kerangka keputusan operasi produksi yang berkaitan dengan penyediaan bahan baku yang optimal bagi perusahaan. Pemakaian aktual (X. menghasilkan nilai koefisien sebesar 0,504139 dengan nilai probabilitas sebesar 0,0401 menunjukkan setiap kenaikan pemakaian bahan baku nyatanya sebesar 1 kg, persediaan bahan baku akan mengalami kenaikan sebesar 0,504139 dan berdasarkan nilai probabilitas menunjukkan bahwa pemakaian bahan baku aktual mempengaruhi persediaan di PT BHT. Bersesuaian dengan penelitian Farhan et . yang menyatakan bahwa meningkatnya pemakaian bahan baku juga akan meningkatkan jumlah persediaan bahan baku perusahaan. Peningkatan jumlah persediaan bahan baku akibat dari pemakaian bahan baku dilakukan sebagai antisipasi agar tidak terjadinya kehabisan bahan baku . tock ou. , sesuai dengan pernyataan Rangkuti . bahwa terjadinya stock out atau kekurangan bahan baku dapat disebabkan oleh penggunaan bahan baku yang tidak diimbangi dengan persediaan bahan baku. Harga bahan baku (X. memiliki nilai koefisien sebesar -0,315465 dan nilai probabilitas sebesar 0,2105 yang berarti bahwa setiap kenaikan harga bahan baku sebesar 1 Rp/kg, persediaan bahan baku akan mengalami penurunan sebesar 0,315465 kg dan nilai probabilitas menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh yang signifikan antara harga bahan baku dengan persediaan bahan baku di PT BHT. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Bagian Bahan Baku dan Wakil Manajemen PT BHT, harga bahan baku karet yang berfluktuasi tidak menyebabkan perusahaan kekurangan bahan baku. Penyebabnya adalah karet alam yang diperoleh perusahaan berasal dari petani Petani rakyat tetap langsung menjual hasil panen karena karet merupakan bahan alam yang mudah susut dan akan berpengaruh terhadap Bersesuaian dengan penelitian Kurniawan . yang menyatakan bahwa petani karet tetap menjual karet hasil sadap meskipun harga karet alam berfluktuasi karena karet tetap akan dibeli oleh perusahaan pengolah karet atau tengkulak dengan harga yang disesuaikan dengan kualitas bokar. Tidak adanya pengaruh antara harga bahan baku dengan persediaan bahan baku di PT BHT juga dapat disebabkan harga bokar di tingkat petani tidak ditetapkan oleh PT BHT sehingga petani tetap menjual bokar ke perusahaan. Sesuai dengan penelitian Stevan et al. bahwa harga bokar pada petani ditetapkan oleh lembaga pemasaran bokar seperti pedagang perantara, pedagang pengumpul desa, pedagang kabupaten dan pedagang besar provinsi. Penetapan harga bokar di tingkat petani yang ditentukan oleh tengkulak juga didukung oleh penelitian Hasibuan et al. bahwa petani yang menjual karet hasil sadapnya ke melalui pengepul atau tengkulak maka harga ditentukan oleh tengkulak tempat petani menjual Biaya persediaan (X. menghasilkan nilai koefisien sebesar 0,085837 dan nilai probabilitas 0,5672 yang mengartikan bahwa setiap kenaikan biaya persediaan sebesar 1 Rp maka persediaan bahan baku akan mengalami penurunan sebesar 0,085837 kg dan berdasarkan nilai probabilitas biaya persediaan tidak berpengaruh signifikan Nur Kartika Achmalia*. Siswanto Imam Santoso**. Titik Ekowati** : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persediaan Bahan Baku terhadap persediaan bahan baku di PT BHT. Biaya persediaan yang tidak berpengaruh terhadap persediaan bahan baku ini tidak sesuai dengan pendapat Rangkuti . yang menyatakan bahwa biaya persediaan bervariasi secara langsung dengan kuantitas Biaya persediaan yang tidak berpengaruh terhadap persediaan bahan baku dapat disebabkan karena rincian biaya persediaan di PT BHT hanya terdiri dari upah bongkar muat bahan baku, upah bongkar muat dikategorikan ke dalam biaya pemesanan bahan baku sehingga tidak bergantung pada kuantitas persediaan. Bersesuaian dengan penelitian Mayasari dan Supriyanto . bahwa biaya bongkar muat adalah bagian dari biaya pesanan yang bergantung pada frekuensi pemesanan bahan baku. Waktu tunggu (X. menghasilkan koefisien regresi sebesar 0,036585 dengan nilai probabilitas sebesar 0,7562 yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan waktu tunggu setiap 1 hari maka persediaan bahan baku akan mengalami kenaikan sebesar 0,036585 Angka probabilitas yang kurang dari 0,05 juga menunjukkan waktu tunggu tidak berpengaruh signifikan terhadap persediaan bahan baku di PT BHT. Waktu tunggu yang tidak berpengaruh terhadap persediaan bahan baku dapat disebabkan oleh waktu tunggu yang lama tidak menghentikan proses produksi di perusahaan sehingga persediaan bahan baku tetap terpakai. Bersesuaian dengan pendapat Rahmawati et al. bahwa waktu tunggu di antara pemesanan bahan baku hingga bahan baku sampai di pabrik proses tidak membuat produksi terhenti tetapi produksi bahan baku masih akan tetap berlangsung. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi persediaan bahan baku karet di PT Batanghari Tembesi, dapat disimpulkan bahwa alur penerimaan bahan baku di PT Batanghari Tembesi dimulai dari supplier . yang mendapatkan bokar dari pengepul karet yang berasal dari karet rakyat yang akan segera dilakukan inspeksi bokar di pabrik perusahaan, penimbangan bokar dan penempatan bokar ke gudang penyimpanan bahan baku perusahaan. Tahun 2018-2020 perusahaan memiliki persediaan rata-rata sebesar 893,3 kg/3 tahun dengan pemakaian sebesar 33. 886 kg/3 Rata-rata harga bahan baku karet periode 2018-2020 di PT Batanghari Tembesi adalah sebesar Rp 49. 736/kg. Rata-rata biaya persediaan yang dikeluarkan perusahaan untuk tahun 2018-2020 adalah Rp 1. tahun dan waktu tunggu bahan baku selama 1 sampai 2 hari. Variabel perkiraan pemakaian, pemakaian bahan baku aktual, harga bahan baku, biaya persediaan dan waktu tunggu bahan baku di PT Batanghari Tembesi dapat menjelaskan persediaan bahan baku karet di PT Batanghari Tembesi sebesar 96,86%. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa variabel perkiraan pemakaian, pemakaian bahan baku aktual, harga bahan baku, biaya persediaan dan waktu tunggu berpengaruh secara serempak terhadap persediaan bahan baku. Variabel perkiraan pemakaian dan pemakaian bahan baku aktual berpengaruh terhadap persediaan bahan baku secara parsial sedangkan variabel harga bahan baku, biaya persediaan dan waktu tunggu tidak berpengaruh terhadap persediaan bahan baku secara ,Vol. No. 1 Maret 2021 Saran Saran yang dapat diberikan untuk PT Batanghari Tembesi adalah sebaiknya perusahaan mempertimbangkan setiap kualitas bahan baku yang diterima karena agar tidak terjadi penyusutan bahan baku yang terlalu banyak. Perusahaan juga sebaiknya memiliki rincian biaya persediaan, waktu tunggu dan jumlah angkutan bokar yang masuk ke Handoko. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. (Edisi 1. Cetakan ke-. BPFE. Yogyakarta. DAFTAR PUSTAKA