STRATEGI PEMBELAJARAN LISTENING TEAM DALAM UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK STRATEGY OF LISTENING TEAM LEARNING IN EFFORTS TO INCREASE STUDENT ACTIVITY AND STUDENT LEARNING OUTCOMES Ahmad Yanuar SMP Negeri 1 Nguntoronadi. Wonogiri. Jawa Tengah Email : ahmadyanuar012291@gmail. Diterima: 2 September 2024 Direvisi: 23 Oktober 2024 Disetujui: 24 Desember 2024 ABSTRAK Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas belajar dan untuk meningkatkan hasil belajar dengan menerapkan model pembelajaran listening team pada peserta didik Peserta Didik Kelas ViA pada Materi Iman Kepada Kitab Allah Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 1 Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2024/2025. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan penerapan model pembelajaran Listening Team pada materi Iman kepada Kitab Allah SWT mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Model pembelajaran ini memiliki kelebihan antara lain mampu mengembangkan kemampuan kognitif anak didik, membuat anak berpikir kritis selama proses diskusi, membuat anak dengan kemampuan interpersonal dan intrapersonal berkembang lebih baik. Berdasarkan penelitian diperoleh bahwa pada siklus ke-I mulai terlihat bahwa kemampuan peserta didik menguasai materi pembelajaran dengan nilai rata-rata sebesar 67,33 dengan tingkat kemampuan cukup. Walaupun demikian masih terdapat peserta didik yang kurang aktif, kurang kooperatif, kurang termotivasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya materi Iman kepada Kitab Allah SWT. Hal ini disebabkan karena penguasaan materi dan konsentrasi peserta didik terhadap materi masih kurang. Pada siklus II dengan materi yang sama terlihat hasil belajar peserta didik lebih meningkat, dimana nilai rata-rata hasil belajar peserta didik sebesar 80,67 dengan tingkat penguasaan materi pembelajaran tergolong baik serta di atas Ketuntasan Kriteria Tujuan Pembelajaran. Berdasarkan hasil yang didapat ini maka, hasil belajar peserta didik dalam menguasai materi pembelajaran ada kemajuan yang signifikan. Kata Kunci: Listening Team. Hasil Belajar. Pendidikan Agama Islam ABSTRACT The purpose of this study is to improve learning activities and to improve learning outcomes by implementing the listening team learning model for students of Class ViA on the Material of Faith in the Book of Allah in the Subject of Islamic Religious Education at SMP Negeri 1 Nguntoronadi. Wonogiri Regency in the 2024/2025 Academic Year. This study is a Classroom Action Research (CAR) with the application of the Listening Team learning model on the material of Faith in the Book of Allah SWT in the subject of Islamic Religious Education. This learning model has advantages including being able to develop students' cognitive abilities, make children think critically during the discussion process, make children with interpersonal and intrapersonal abilities develop better. Based on the study, it was obtained that in the first cycle it began to be seen that students' abilities mastered the learning material with an average value of 67. 33 with a sufficient level of ability. However, there are still students who are less active, less cooperative, less motivated in learning Islamic Religious Education, especially the material of Faith in the Book of Allah SWT. This is because students' mastery of the material and concentration on the material are still lacking. In cycle II with the same material, it can be seen that the learning outcomes of students have increased, where the average value of student learning outcomes is 80. 67 with a level of mastery of learning materials classified as good and above the Learning Objective Criteria Completion. Based on the results obtained, the learning outcomes of students in mastering learning materials have made significant progress. Keywords: Listening Team. Learning Outcomes. Islamic Religious Education Strategi Pembelajaran Listening Team AA. Ahmad Yanuar PENDAHULUAN Pendidikaln Algalmal Islalm daln Budi Pekerti di sekolalh bertujualn untuk mengembalngkaln potensi pesertal didik algalr menjaldi malnusial yalng berimaln daln bertalkwal kepaldal Tuhaln Yalng Malhal Esal, memiliki alkhlalk mulial, sertal berkepribaldialn balik. Melallui pendidikaln ini, pesertal didik mengalmallkaln aljalraln Islalm dallalm kehidupaln sehalri-halri, balik dallalm hubungaln dengaln Tuhaln, diri sendiri, sesalmal malnusial, malupun Pendidikaln ini jugal berfungsi untuk membentuk kalralkter daln morall pesertal didik algalr malmpu hidup halrmonis dallalm malsyalralkalt yalng beralgalm sertal berkontribusi secalral positif dallalm kehidupaln sosiall. Pendidikaln Algalmal Islalm daln Budi Pekerti di sekolalh jugal bertujualn untuk menumbuhkaln daln meningkaltkaln keimalnaln melallui pemberialn daln pemupukaln pengetalhualn, penghalyaltaln, pengalmallaln sertal pengallalmaln pesertal didik tentalng algalmal Islalm sehinggal menjaldi malnusial muslim yalng terus ketalkwalalnnyal, berbalngsal daln bernegalral, sertal untuk dalpalt melalnjutkaln paldal jenjalng pendidikaln yalng lebih tinggi. Tujualn Pendidikaln Algalmal Islalm daln Budi Pekerti merupalkaln turunaln daln tujualn pendidikaln nalsionall, sualtu rumusaln dallalm Undalngundalng Sistem Pendidikaln Nalsionall (UU Sisdiknals No. 20 Talhun 2. , berbunyi: AuPendidikaln nalsionall bertujualn untuk berkembalngnyal potensi pesertal didik algalr menjaldi malnusial yalng berimaln daln bertalkwal kepaldal Tuhaln Yalng Malhal Esal, beralkhlalk mulial, sehalt, berilmu, calkalp, krealtif, malndiri, daln menjal di walrgal negalral yalng demokraltis sertal bertalnggung jalwalb (Albdul Maljid, 2012: Menurut Albdul Maljid . 2: . Pendidikaln Algalmal Islalm daln budi Pekerti di sekolalh memiliki beberalpal fungsi yalitu. pengembalngaln, melalt ih pesertal didik untuk meningkaltkaln keimalnaln daln ketalkwalaln pesertal didik kepaldal Alalh SWT yalng lingkungaln kelualrgal. penalnalmaln nilali, yalitu sebalgali pedmaln hidup untuk mencalri kebalhalgialaln dunial daln alkhiralt. penyesualialn mentall, yalitu untuk menyesualikaln lingkungaln sesuali dengaln aljalraln algalmal. perbalikaln, yalitu untuk memperbaliki kelemalhaln pesertal didik dallalm kehidupaln sehalri- halri. pencegalhaln, yalitu untuk mencegalh hall negalt if dalri lingkungaln malupun membalhalyalkaln daln menhalmbalt perkembalngaln dirinyal menuju malnusial Indonesial seutuhnyal. pengaljalraln, pengetalhualn kealgalmalaln secalral umum, sistem daln fungsionallnyal. penyalluraln, menyallurkaln pesertal didik yalng memiliki balkalt khusus di bidalng algalmal Islalm supalyal balkalt tersebut dalpalt berkembalng secalral optimall sehinggal bisal dimalnfalaltkaln untuk dirinyal daln oralng lalin. Falktal dilalpalngaln sebalgalimalnal yalng terjaldi dallalm pembelaljalraln Pendidikaln Algalmal Islalm daln Budi Pekerti di SMP Negeri 1 Nguntoronaldi talhun pelaljalraln 2024/2025, malsih menghaldalpi berbalgali kendallal dialntalralnyal aldallalh munculnyal Kuralngnyal minalt pesertal didik terhaldalp pelaljalraln pendidikaln algalmal Islalm daln budi pekerti, sualsalnal kelals yalng tidalk kondusif, metode pembelaljalraln yalng kuralng tepalt sehinggal pesertal didik bosaln daln tidalk memperhalt ikaln pelaljalralraln. Hall tersebut memberikaln pengalruh yalng kuralng balik terhaldalp proses daln halsil pembelaljalraln pesertal didik. Aldalpun falktor-falktor yalng menyebalbkaln rendalhnyal minalt daln penghalyaltaln pesertal didik dallalm maltal pelaljalraln pendidikaln algalmal Islalm daln budi pekerti yalng berdalmpalk terhaldalp halsil belaljalrnyal yalitu, falktor internall daln Falktor internall alntalral lalin: Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomer 2 Ae Desember 2024 kuralngnyal minalt, daln ralsal percalyal diri. Sedalngkaln falktor eksternall aldallalh falktor yalng terdalpalt di lualr pesertal didik, seperti: lebih berpusalt paldal guru sebalgali pembinal kegialtaln belaljalr, straltegi belaljalr, salralnal, pralsalralnal, kurikulum daln lingkungalnnyal yalng dijaldikaln sumber belaljalr. Sebalik alpalpun calral mengaljalr yalng dilalkukaln guru Pendidikaln Algalmal Islalm Daln Budi Pekerti talnpal dukungaln daln peraln sertal pesertal didik proses pembelaljalraln tidalk alkaln berjallaln dengaln balik. Hall ini Pendidikaln Algalmal Islalm daln Budi Pekerti paldal pesertal didik kelals Vi di SMP Negeri 1 Nguntoronaldi talhun pelaljalraln 2024/2025. Paldal salalt guru mengaljalr Pendidikaln Algalmal Islalm daln Budi Pekerti kondisi pesertal didik cenderung palsif, sulit dialjalk komunikalsi daln terlihalt alpaltis mengikuti pelaljalraln. Kesempaltaln yalng diberikaln oleh guru tidalk mendalpaltkaln talnggalpaln yalng semestinyal, sehinggal kelals menjaldi kuralng efektif dallalm tinjalualn produktivitals pembelaljalraln. Segallal kondisi tersebut menunjukkaln balhwal alktivitals pesertal didik dallalm mengikuti pembelaljalraln tergolong rendalh. Paldalhall, alktivitals pesertal didik dallalm pembelaljalraln merupalkaln roh keefektifaln pembelaljalraln itu sendiri. Alktivitals pesertal didik dallalm pembelaljalraln diperlukaln untuk menciptalkaln kondusivitals pembelaljalraln untuk memperoleh halsil yalng malksimall. Talnpal alktivitals belaljalr, pembelaljalraln alkaln menjaldi kering malknal kalrenal yalng terjaldi halnyal proses monoton daln saltu alralh dengaln dominalsi guru yalng berlebihaln. Rendalhnyal alktivitals belaljalr pesertal didik kelals Vi SMP Negeri 1 Nguntoronaldi Pendidikaln Algalmal Islalm daln Budi Pekerti dipicu oleh balnyalk falktor. Kondisi ini dalpalt disebalbkaln oleh falktor guru, malteri, emosi, daln jugal salralnal pralsalralnal yalng digunalkaln dallalm pembelaljalraln. Dalri sekialn falktor yalng secalral teori dialsumsikaln menjaldi penyebalb rendalhnyal alktivitals belaljalr dallalm pembelaljalraln Pendidikaln Algalmal Islalm daln Budi Pekerti tersebut aldallalh falktor penggunalaln model pembelaljalraln daln medial belaljalr yalng dialsumsikaln kuralng mendalpalt perhalt ialn yalng memaldali. Sebalb, dalri falktor guru . alng dallalm hall ini sekalligus penelit. , telalh mengoptimallkaln segallal potensi yalng dimilikinyal daln secalral emosionall telalh menciptalkaln situalsi edukalsi untuk memberi rualng keterlibaltaln pesertal didik, nalmun demikialn kondisi pesertal didik tetalp belum menunjukkaln alktivitals yalng memualskaln dallalm pembelaljalraln. Berdalsalrkaln kenyaltalaln tersebut, perlu dilalkukaln sualtu tindalkaln untuk memperbaliki pembelaljalraln yalng kuralng malksimall tersebut. Beralngkalt dalri permalsallalhaln di altals, untuk mengaltalsi malsallalh tersebut diperlukaln pembelaljalraln yalng aldalptif, krealt if, inovtif, meyenalngkaln daln bermalknal, sertal melibaltkaln pesertal didik secalral alktif, meningkaltkaln talnggung jalwalb pesertal didik balik secalral individuall altalu kelompok. Sallalh saltu model pembelaljalraln yalng dalpalt diteralpkaln aldallalh model pembelaljalraln Listening Tealm. LANDASAN TEORI Model pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan materi pelajaran kepada pesert didik untuk mencapai tujuan tertentu (Suprayekti, 2003: . Model pembelajaran pembelajaran merupakan cara yang digunakan oleh guru atau pesert didik dalam mengolah informasi yang berupa fakta, data, dan konsep pada proses pembelajaran yang mungkin terjadi dalam suatu strategi. Dalam pembelajaran, model pembelajaran yang bisa digunakan banyak sekali ragamnya. Sebagai guru hendaknya pandai menggunakan atau memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi dan kondisi pesert didik. Model pembelajaran merupakan sebuah orientasi aktivitas yang mengarah kepada persyaratan tugas-tugas dan tujuan-tujuan yang nyata. Menurut Agus Suprijono . 0: 9. pembelajaran listening team mendorong peserta didik untuk berani bertanya dan berani mengemukakan pendapat. Model Strategi Pembelajaran Listening Team AA. Ahmad Yanuar pembelajaran ini memanfaatkan pertanyaan yang merangsang pemikiran peserta didik yang kritis. Keberanian pesert didik untuk diperlukan dalam penerapan model pembelajaran ini. Pembelajaran pembelajaran listening team diawali dengan memaparkan materi pembelajaran oleh Selanjutnya guru membagi kelas kelompok-kelompok. Setiap kelompok mempunyai peran masingmasing. Misalnya 40 orang dalam satu kelas dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok penanya, kelompok kedua dan ketiga adalah kelompok penjawab. Kelompok kedua merupakan kumpulan orang yang menjawab dengan persepektif tertentu, sementara kelompok ketiga dalah kumpulan orang yang menjawab dengan perspektif yang Perbedaan ini diharapkan memunculkan diskusi yang aktif yang ditandai oleh adanya proses dialektika berpikir, sehingga mereka dapat menemukan pengetahuan struktural. Kelompok keempat adalah kelompok yang kesimpulan dari hasil diskusi. Pembelajaran diakhiri dengan penyampaian berbagai kata kunci atau konsep yang telah dikembangkan oleh peserta didik dalam berdiskusi (Agus Suprijono, 2010: 96-. Secara umum pembelajaran model pembelajaran Listening Team memiliki keunggulan dengan keterlibatan pesert didik dalam pembelajaran secara penuh, adanya kegembiraan dan kesenangan belajar dan tumbuhnya motivasi internal (Dave Meier, 2005: . Lebih lanjut Isjoni . 9: . mengungkapkan model pembelajaran ini memiliki keunggulan membantu pesert didik memahami materi yang sulit, bekerjasama, membantu teman dan menumbuhkan kemampuan berfikir kritis. Berfikir kritis adalah suatu proses terorganisasi yang dipergunakan di dalam aktivitas mental, misalnya pemecahan meyakinkan dan menganalisa asumsi (Dirjenpendasmen, 2005: . Kelebihan model pembelajaran listening team adalah sebagai berikut: Meningkatkan aktivitas belajar pesert didik, baik secara kognitif maupun . Karena ada unsur permainan, model pembelajaran ini menyenangkan. Meningkatkan pemahaman pesert didik terhadap materi yang dipelajari. Meningkatkan motivasi belajar pesert . Efektif sebagai sarana keberanian pesert didik untuk tampil . Efektif melatih kedisiplinan pesert didik menghargai waktu untuk belajar. Dalam pembelajaran listening team guru hanya berperan sebagai fasilitator, belajar yang baik terletak pada keaktifan pesert didik dalam membentuk pengetahuan, peran guru di sini adalah sebagai mentor atau fasilitator dan bukan mentrasfer ilmu pengetahuan. Pesert didik mempelajari reaksi-reaksi mereka sendiri terhadap berbagai proses tersebut, serta untuk memperoleh konsepkonsep tertentu dan kemampuan membuat Dalam kegiatan pembelajaran menerapkan azaz aktivitas. Lebih lanjut (Hamalik, 2010: 2. menyatakan penggunaan azaz aktivitas besar nilainya bagi pengajaran para pesert didik, karena: Para peserta didik mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami . Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi pesert didik secara integral. Memupuk kerja sama yang harmonis dikalangan pesert didik. Para pesert didik bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri. Memupuk disiplin kelas secara wajar . Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dan guru. Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomer 2 Ae Desember 2024 . Pengajaran diselenggarakan secara realisistis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan . Pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat. Model pembelajaran Listening Team membantu peserta didik untuk tetap pelajaran dan model ini bertujuan membentuk kelompok yang mempunyai tugas atau tanggung jawab tertentu berkaitan dengan materi pelajaran sehingga akan diperoleh partisipasi aktif peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung pembelajaran oleh guru. Louvisor . mengemukakan bahwa : Au. elompok pendengar merupakan salah satu model pembelajaran yang dimana peserta didik terlibat secara aktif dan terjadi hubungan yang dinamis serta saling mendukung antara peserta didik satu dengan peserta Pembelajaran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan seluruh peserta didik dengan membagi peserta didik secara berkelompok dan memberikan tugas yang berbeda kepada masing-masing kelompok tersebutAy. Selain kelebihan sebagaimana diuraikan di atas kekurangan pembelajaran kooperatif listening team adalah sebagai . Jika tidak dirancang dengan baik, maka banyak waktu terbuang. Pada awal-awal penerapan model pembelajaran ini, banyak pesert didik yang malu bisa berpasangan dengan lawan jenisnya. Jika tidak diarahkan dengan baik, saat presentasi banyak pesert didik yang kurang memperhatikan. Harus hati-hati dan bijaksana saat memberi hukuman pada pesert didik yang tidak mendapat pasangan, karena mereka bisa malu. Menggunakan model pembelajaran ini menimbulkan kebosanan. Menurut H. Tarigan . bahwa: AuListening Team adalah suatu proses kegiatan dimana mendengarkan lambanglambang lisan dengan penuh perhat ian, pemahama n, apresiasi, serta interpretas i untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Listening Team adalah suatu usaha untuk memperoleh pemahaman akan hakikat dari suatu konsep atau prinsip atau keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau lat ihan yang melibatkan indera pendengaran (Zagoto, dkk. , 2018. Sarumaha, 2018. Dakhi, , 2. Metode Listening Team menurut Slavin . 5: 4-. merujuk pada berbaga i macam model pembelajaran di mana Aupara peserta didik bekerja sama dalam kelompokkelompok kecil yang terdiri dari berbaga i tingkat prestasi, jenis kelamin, dan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajar i materi pelajaranAy. Menurut Suprijono . AuModel pembela jaran Listening Team ini adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk- bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guruAy. Suprijono . menyatakan bahwa. AuPembelajaran dengan model Listening Team inidiawali dengan pemaparan materi pembelajaran oleh guru. Selanjutnya guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok. Setiap kelompok mempunyai peran masingmasing. AyBerdasarkan pendapat tersebut di atas, dapat diketahui bahwa, manfaat pembelajaran Listening Team adalah peserta didik lebih termotivasi untuk belajar dala m mengerjakan tugas kelompoknya. Selain itu diketahui bahwa guru juga mempunya i waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Listening Team karena pada saat peserta didik melakukan tanya jawab atau diskusi maka ada kesempatan guru Strategi Pembelajaran Listening Team AA. Ahmad Yanuar untuk mempertimbangkan atau mencar i penyelesaian tanya jawab yang lebih tepat. Pembelajaran pembelajaran Listening Team dengan memaparkan materi pembelajaran secara klasikal oleh guru. Selanjutnya guru membagi kelas menjadi kelompokkelompok. Setiap kelompok mempunyai peran masing-masing. Kelompok pertama merupakan kelompok penanya, kelompok kedua dan ketiga adalah kelompok Kelompok kedua merupakan kumpulan orang yang menjawab dengan persepektif tertentu, sementara kelompok ketiga adalah kumpulan orang yang menjawab dengan perspektif yang berbeda dengan kelompok kedua. Perbedaan ini diharapkan memunculkan diskusi yang aktif yang ditandai oleh adanya proses dialektika Kelompok keempat adalah kelompok yang kesimpulan dari hasil diskusi (Agus Suprijono, 2010: 96-. Berdasarkan uraian di atas. Strategi Pembelajaran Listening Team dalam kegiatan pembelajaran terbukti mampu meningkatkan pemamahan peserta didik. Selain itu juga dapat meningkatkan motivasi belajar, kreativitas, dan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi mereka. Aktivitas adalah istilah umum yang dikaitkan dengan keadaan bergerak, eksplorasi dan berbagai repson lainnya terhadap rangsangan sekitar (Muhibbin Syah, 2000: . Sedangkan belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman . earning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencin. (Oemar Hamalik, 2010: . Dalam aktivitas kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak pernah dapat terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melakukan aktivitas sendiri, maupun di dalam suatu kelompok Dipahami ataupun tidak dipahami, sesungguhnya sebagian besar aktivitas di sehari-hari merupakan kegiatan belajar (Aunurrahman, 2009: . Aktivitas belajar pesert didik adalah kegiatan pesert didik yang dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung, baik aktivitas yang besifat fisik/jasmani/rohani (Oemar Hamalik, 2010: . Keaktifan pesert didik dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan dan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas belajar adalah kegiatan pesert didik dalam proses belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis. Adapun Kegiatan fisik berupa keterampilan-keterampilan dasar, sedangkan kegiatan psikis berupa keterampilan terintegrasi. Keterampilan antara lain mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan dan mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan terintegrasi antara lain terdiri dari mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis penelitian, variabel eksperimen. Pengertian lain dikemukakan oleh Wijaya aktivitas belajar yaitu keterlibatan intelektual dan emosional pesert didik dalam kegiatan belajar mengajar, asimilasi . dan akomodasi . kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan, serta pengalaman langsung dalam pembentukan sikap dan nilai (Wijaya, 2007: . Menurut Sardiman belajar adalah merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori. Dapat di jelaskan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang psikomotor (Sardiman, 2011: . Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomer 2 Ae Desember 2024 Aktivitas artinya kegiatan atau Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktivitas. Aktivitas pesert didik selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan pesert didik untuk belajar. Aktivitas pembelajaran adalah aktivitas yang dilakukan oleh pesert didik. Guru yang baik adalah guru yang sedikit bicara banyak Maksud dari pernyataan tersebut adalah guru hanya sebagai fasilitator saja sedangkan pesert didik yang harus aktif melakukan berbagai aktivitas dalam proses pembelajaran dengan melakukan diskusi, kerja kelompok, debat, bertanya dan lempar Kegiatan atau aktivitas pesert didik yang dilakukan dalam proses pembelajaran pembelajaran aktif (Djamarah , 2008: . Guru perlu menimbulkan aktivitas pesert didik dalam berpikir maupun berbuat. Penerimaan pelajaran jika dari aktivitas itu sendiri, kesan itu tidak akan berlalu begitu saja, tetapi dipikiran diolah lalu dikeluarkan lagi dalam bentuk yang berbeda atau pesert didik akan bertanya, mengajukan pendapat, menimbulkan diskusi dengan guru (Slameto, 2003: . Dalam teori aktivitas belajar menurut pandangan ilmu jiwa lama yang banyak berkreativitas adalah guru, gurulah yang selalu aktif dalam menentukan bahan pelajaran, meneliti, menguraikan, perbandingan, dan membuat ikhtisar. Pesert didik hanya mendengarkan, mencatat, menjawab bila ditanya. Pesert didik hanya bekerja keras atas perintah guru, menurut cara yang ditentukan oleh guru dan berfikir menurut arah yang telah digariskan oleh Sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern. Teori aktivitas belajar ini menyatakan jiwa manusia itu sebagai sesuatu yang dinamis, memiliki potensi dan energi sendiri dan dapat menjadi aktif bila didorong oleh berbagai macam kebutuhan. Dengan demikian pesert didik harus dipandang sebagai organisme yang mempunyai dorongan untuk berkembang. Aktivitas pesert didik dapat berupa aktivitas visual seperti membaca, melihat demontrasi, melihat orang bekerja. oral seperti mengemukakan pendapat, menghubungkan kejadian, bertanya dan aktivitas mendengar seperti mendengarkan pecakapan. aktivitas menulis seperti menulis laporan, menulis cerita dan menulis kejadian. aktivitas mental seperti masalah dan analisis. serta aktivitas emosional seperti minat, berani dan tenang. Keaktifan pesert didik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar pesert didik. Aktivitas pesert didik tidak hanya mendengarkan dan mencatat saja tetapi lebih menitikberatkan pada aktivitas atau keikutsertaan pesert didik dalam proses Penggunaan metode ceramah lebih cenderung menghasilkan kegiatan belajar mengajar yang membosankan bagi anak didik. Kondisi seperti ini sangat tidak menguntungkan bagi guru dan anak didik. Guru mendapatkan kegagalan dalam penyampaian pesan-pesan keilmuan dan anak didik dirugikan. Akibatnya masih banyak pesert didik yang mengalami kesulitan dalam belajar biologi se hingga hasil belajar yang diperoleh belum memuaskan dan terbilang masih rendah (Sardiman, 2011: . Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pada diri seseorang atau pesert didik menurut Ngalim Purwanto . 9: . yaitu terdiri atas dua bagian, di antaranya faktor internal dan faktor Faktor internal yaitu seluruh aspek yang terdapat dalam diri individu yang belajar, baik aspek fisiologis . maupun aspek psikologis . Adapun penjelasan mengenai aspek fisik dan psikologis adalah sebagai berikut: Aspek Fisik (Fisiologi. Orang yang belajar membutuhkan fisik yang sehat. Strategi Pembelajaran Listening Team AA. Ahmad Yanuar Fisik yang sehat akan mempengaruhi seluruh jaringan tubuh sehingga aktivitas belajar tidak rendah. Keadaan sakit pada pisik/tubuh mengakibatkan cepat lemah, kurang bersemangat, mudah pusing dan sebagainya. Oleh karena itu agar seseorang dapat belajar dengan baik maka harus mengusahakan kesehatan dirinya. Aspek Psikhis (Psikolog. sedikitnya ada delapan faktor psikologis yang melakukan aktivitas belajar. Menurut Sanjaya . 7: . faktor eksternal terdiri atas : keadaan keluarga, . guru dan cara mengajar . alat-alat pelajaran, . motivasi sosial, dan . lingkungan serta kesempatan. siklus kedua hasil observasi untuk peserta didik diperoleh sebesar 76% dan pada pertemuan kedua meningkat menjadi 80,7% dengan rata- rata 78,35%, hasil observasi untuk guru pada pertemuan pertama 78% dan pada pertemuan kedua meningkat menjad i 84,6% dengan rata-rata 81,3%. Pada evaluasi pembelajaran peneliti memperoleh rata-rata hasil belajar peserta didik sebesar 89,4 dengan persentase ketuntasan 95,3%. Kerangka Berfikir Berdasarkan hasil pengkajia n teori tentang langkah-langkah model pembelajaran tipe Listening Team maka peneliti membuat kerangka berpikir sebagai alat untuk penerapannya. Menurut Aqib, dkk . bahwa: AuLangkah-langkah dalam Penelitian Tindakan Kelas merupakan satu daur atau siklus yang terdiri dari: . merencanakan, . melaksanakan tindakan, . mengamat i dan . melakukan refleksi. Ay Kerangka berpikir adalah alur pemikiran yang digambarkan secara singkat. Kerangka berpikir peneliti dalam penelitian ini dimulai dari kondisi awa l yaitu hasil belajar peserta didik belum tuntas atau dibawah Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yang ditentukan disekolah dan guru belum menerapkan model Listening Team. Selanjutnya peneliti menerapkan model pembelajaran tipe Listening Teamdala m proses pembelajaran peserta didikkemudian di evaluasi dan dipelajari kelemahan dan kekurangan pada siklus I berdasarkan hasil pengamatan dan data hasil belajar peserta didik yang dilakukan pada Refleksi tindakan I, jika hasilnya belum memenuhi target maka peneliti melanjutkan perencanaan tindakan siklus ke 2 jika tindakan ke 2 masih belum mencapai 75% maka dilanjutkan pada siklus tindakan berikutnya. Pada kegiatan pembelajaran berlangsung, guru mata pelajaran sebagai pengamat memperhat ikan proses pembelajaran sambil mengisi lembar pengamatan untuk mengetahui apakah model pembelajaran tipe listening teamtelah terlaksana dengan baik atau belum. Setiap akhir pertemuan dilakukan refleksi dan juga Penelitian Yang Relevan Ada beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Ervina Dian Kurniawat i . judul Meningkatkan aktivitas belajar peserta didik pada Mata Pelajaran EkonomiPeserta didik Kelas XI IPS 1 SMAN 1 Pleret Melalui penerapan Model Pembelajaran Kooperatife Tipe Listening TeamTahun Pelajaran 2008/2009. Berdasarkan temuan Ervina Dian Kurniawat i . maka ia menyimpulkan bahwa penerapan model pembela jaran tipe Listening Team dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran ekonomi dan akan memperoleh hasil evaluasi bela jar, yang mana pada siklus pertama hasil observasi untuk peserta didik 65% dan pada pertemuan kedua 66,4% dengan rata-rata 65,7%, sedangkan untuk guru pada pertemuan pertama 66,7% dan pada pertemuan kedua 69% dengan rata-rata 67,85%. Rata-rata hasil belajar peserta didik mencapai 76 dengan persentase ketercapaian 73,5%, karena penelitian pada siklus pertama tidak memberi hasil yang memuaskan, maka Ervina Dian Kurniawat i . meneruskan penelitiannya pada siklus kedua. Pada Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomer 2 Ae Desember 2024 pada akhir pertemuan dalam 1 . siklus diberikan tes kepada peserta didik sehingga diperoleh hasil belajar. Berdasarkan hasil pengamatan dan data hasil belajar dilakukan Siklus I Siklus 1 terdiri dari 2 kali pertemuan pertemuan untuk pemberian tes hasil belajar peserta didik. Di setiap pertemuan dilakukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Listening Team di kelas, dimana langkah- langkah pembelajaran tercantum dalam Modul Ajar (MA). Dalam siklus pertama yang dimulai pada pertemuan pertama guru mata pelajaran sebagai pengamat mengisi lembar pengamatan sesuai la ngkah-langkah pembelajaran yang telah terurai dala m rencana pelaksanaan pembela jaran. Data yang diperoleh pada pertemuan pertama digunakan sebagai tolok ukur ketercapaian pembelajaran yang telah direncanakan, kelemahan-kelemahan yang di dapat akan diperbaiki pada pertemuan ke dua. Jika target sudah tercapai maka kegiatan penelitian selesai pada siklus pertama, tetapi jika belum tercapai maka kekurangan-kekurangan penerapan model pembelajaran di kelas berdasarkan lembar pengamatan yang telah diisi oleh pengamat. Kekurangankekurangan ini disempurnakan pada siklus ke dua dan ditambahkan dengan tindakan-tindakan lain ya ng dapat pembelajaran Listening Team tersebut. Siklus II Siklus kedua terdiri dari 2 kali pertemuan dan ditambah satu kali pertemuan pemberian tes hasil belajar. Tindakan pada ke-II berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama dengan tujuan memperbaiki kelemahan dan kekurangan pada siklus I. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Masnur Muslich . penelitian tindakan kelas Aumemperbaiki meningkatkan kualitas pembelajaran serta membantu memberdayakan guru dala m memecahkan masalah pembelajaran di Ay Yang menjadi objek tindakan dalam penelitian ini adalah: . Proses pembelajaran pada materi Iman kepada Kitab Allah SWT mata pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 1 Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri tahun pelajaran 2024/ Hasil belajar peserta didik dengan menerapkan Model Pembelajaran pada materi Iman kepada Kitab Alla h SWT mata pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 1 Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri tahun pelajaran 2024/ 2025. Lokas i pelaksanaan penelitian ini adalah di SMP Negeri 1 Nguntoronadi yang beralamatkan Jl Raya Wonogiri- Pacitan KM 24 Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri, model metode ceramah dan masih belum menggunakan model pembelajaran Listening Team. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas Vi A yang berjumlah 23 orang, semester 1 Tahun Pelajaran 2024/ Waktu Pelaksanaan Tindakan adalah sesuai dengan rencana, maka tindakan dilaksanakan pada semester gasal tahun Pelajaran 2024/ 2025 dan disesuaikan dengan jadwal mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan, dan menggunakan 2 siklus setiap 1 siklus terdiri dari 2 kali pertemuan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian tes hasil belajar pada setiap akhir siklus. Prosedur Pelaksanaan Tindakan : Instrument Penelitian Adapun instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data pada penelitian tindakan kelas ini yaitu: Lembar observasi digunakan untuk Listening Team. Lembar observasi disusun berdasarkan langkah-langkah Strategi Pembelajaran Listening Team AA. Ahmad Yanuar kegiatan pembelajaran Listening Team. Hasil observasi dari pengamat akan diolah dengan menggunakan skala rating Interval jawaban yang telah tersedia pada lembaran observasi terdiri . Sangat Baik SB dengan skor 4 . Baik B dengan skor 3 . Cukup Baik CB dengan skor 2 . Kurang Baik KB dengan skor 1 Lembar digunakan untuk mengetahui tingkat keaktifan peserta didik dalam mengikuti Tes hasil belajar digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasila n peserta didik dalam mengikuti model pembelajaran Listening Team. Dengan menggunakan kriteria Baik sekali = 86 - 100. Baik = 71 - 85. Cukup = 56 - 70. Kurang = 41 - 55. Sangat Kurang = 0 - 40. prestasi belajar. Peningkatan prestasi belajar pada setiap siklus dijadikan tolok ukur keberhasila n tindakan penelitian (Sarwiji Suwandi, 2008: . Observasi pengamatan . engambila n dat. untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Observasi digunakan untuk mengunpulkan data aktifitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan oleh pengamat pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Hasil pengamatan dan dihitung secara kuantitatif dalam persentase (Suharsimi Arikunto, 2006: Tahap Pengembangan Penelitian ini di desain berdasarkan masalah yang ditemukan pada studi pendahuluan dan diperbandingkan dengan beberapa teori para ahli sehingga dengan demikian peneliti pembelajaran Listening Team sebagai salah satu cara mengatasi masalah bela jar. Penelitian inimerupakan penelitian tindakan Dalam pelaksanaanya melalui tahaptahap Perencanaan (Plannin. Pada tahap perencanaan pada siklus pertama meliputi: Setiap pertemuan menyiapkan: . Tujuan Pembelajaran. Capaian Pembelajaran, dan Modul Ajar yang . Modul Ajar sesua i dengan model pembelajaran Listening Team. Lembar observasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dan lembar pengamatan proses pembelajaran responden guru atau penelit. Setiap menyiapkan: . Tes hasil bela jar, sesuai kisi-kisi tes. Kunci Tindakan Tindakan pelaksanaan dari rencana yang telah dibuat Tindakan yang dilakukan adalah guru melaksanakan pembelajaran dengan Teknik Analisis Data Pemberian tes dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh hasil yang diperoleh peserta didik setelah kegiatan pemberian Tes tertulis digunakan untuk mengumpulkan data prestasi belajar. Prestas i belajar di ukur secara kuantitatif dan dicar i nilai rata-ratanya dan persentase ketuntasan Dari nilai rata-rata dan persentase ketuntasan yang diperoleh pada setiap siklus dibandingkan untuk mengetahui peningkatan Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Instrumen Penelitian Tindakan Kelas Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomer 2 Ae Desember 2024 menerapkan model pembelajaran Listening Team sebagai salah satu model pembelajaran yang dianggap mampu memperbaiki hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Tindakan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap tindak lanjut. Tahap Persiapan Tahap persiapan merupakan kegiatan awal pembelajaran, pada tahap ini terlebih dahulu guru memeriksa kehadiran peserta didik, kemudian pembelajaran Listening Team yang dan membag i peserta didik dalam kelompok berdasarkan tugas masing-masing. Tahap Pelaksanaan Tahap kegiatan inti dalam pelaksanaan yang tindakan-tindakan kesempatan kepada tiap kelompok untuk melaksanakan tugasnya sebaga i penanya, penjawab . elompok yang setuju dan yang tidak setuj. dan penarik kesimpulan. Tahap Tindak Lanjut Pada tahap tindak lanjut ini guru memberi kesempatan bagi peserta pendapatnya sesuai dengan tugas masing-masing, jawaban yang menyimpang dar i materi pembela jaran. Tahap Observasi (Pengamata. Tahap observasi merupakan tahap terpenting dalam penelitian tindakan kelas, pengamatan dilakukan setiap pelaksanaan pembelajaran, hal-hal yang diamat i telah dimuat pada format pengamatan yang disediakan peneliti. Pengamatan dilakukan oleh guru mata pelajaran dengan mengikuti ketentuan yang ada pada format yang tersedia dan juga peneliti melakukan pengamatan sesuai format pengamatan lemabar observasi peserta didik. Refleksi Refleksi adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah terjadi, apa yang telah dihasilkan atau apa yang belum tuntas dalam proses pembelajaran yang telah Refleksi dilakukan pada akhir mengetahui kelebihan dan kelemahan model pembelajaran yang telah diterapkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada saat guru mengajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti materi iman kepada kitab Allah SWT, kondisi peserta didik cenderung pasif, sulit diajak komunikasi dan terlihat apatis mengikuti Kesempatan yang diberikan oleh guru tidak mendapatkan tanggapan yang semestinya, sehingga kelas menjadi kurang Segala kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas peserta didik dalam mengikuti pembelajaran tergolong Padahal, aktivitas peserta didik dala m pembelajaran merupakan roh keefektifan pembelajaran itu sendiri. Aktivitas peserta didik dalam pembelajaran diperlukan untuk menciptakan kondusivitas pembelajaran untuk memperoleh hasil ya ng maksimal. Tanpa aktivitas peserta didik, pembelajaran akan menjadi kering makna karena yang terjadi hanya proses monoton dan satu arah dengan dominasi guru yang berlebihan. Keadaan di atas berdampak pada prestasi peserta didik. Rata-rata nilai ulangan harian berada pada kisaran angka di bawah KKTP . , dan hal ini jauh dari Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yang telah ditentukan. Persentase ketuntasan belajar hanya sebesar 57. 14% artinya dari 28 peserta didik hanya ada 16 peserta didik yang tuntas KKTP. Guru telah berupaya mengatas i keadaan ini dengan melaksanakan pelajaran Rendahnya aktivitas belajar peserta didik. Strategi Pembelajaran Listening Team AA. Ahmad Yanuar Tabel 2. Aktivitas Belajar Pra tindakan Tabel 3. Aktivitas Belajar Siklus I Jumlah Siswa Persentase Ya Tidak Kesiapan belajar Menanggapi materi pelajaran Mengomentari pendapat teman Menjawab pertanyaan guru Semangat mengerjakan tugas Keinginan tampil di depan kelas 11 Rata-rata aktivitas belajar Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa data aktivitas belajar pada pratindakan adalah sebagai berikut: aspek kesiapan belajar 29%, aspek menanggapi materi mengomentari pendapat teman sebesar 14%, aspek menjawab pertanyaan guru mengerjakan tugas sebesar 60. 71% dan aspek keinginan tampil di depan kelas sebesar Secara keseluruhan aktivitas peserta didik pada kondisi awal diperoleh nila i ratarata sebesar 57. Jika dibandingkan dengan nilai maksimal sebesar 100% maka diperoleh persentase ketercapaian sebesar Berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada pratindakan diperoleh prestasi belajar yang rendah, tabel di bawah ini menunjukkan prestasi belajar pratindakan. Berdasarkan hasil tes pada kondisi awa l sebagaimana tercantum dalam tabel di atas diperoleh data nila i rata-rata ulangan harian Ketuntasan belajar yang dicapai juga masih rendah yaitu sebesar 14%, artinya dari 28 peserta didik baru 16 peserta didik yang mencapai KKTP yang telah ditetapkan sebesar 70. Sedangkan nila i tertinggi yang diperoleh peserta didik sebesar 82,86 dan nila i terendah sebesar 54,29. Siklus I Data aktivitas belajar diperoleh dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh teman selama proses pembelajaran Data aktivitas peserta didik terekam dalam instrumen pengamatan. Apek yang diamati Berdasarkan tercantum pada tabel di atas pada siklus I diperoleh nilai rata-rata aktivitas peserta didik sebagai berikut: aspek kesiapan belajar 00%, aspek menanggapi materi pelajaran sebesar 71. 43, aspek mengomentari pendapat teman sebesar 67. 86%, aspek menjawab pertanyaan guru sebesar 71. aspek semangat mengerjakan tugas sebesar 43% dan aspek keingina n tampil di depan kelas sebesar 67. Secara keseluruhan aktivitas peserta didik pada siklus I diperoleh nilai rata-rata sebesar 64,49%. Jika dibandingkan dengan nilai maksima l sebesar 64,49%. Jika dibandingkan dengan keadaan pratindakan, aktivitas peserta didik pada siklus I sudah ada Pada pratindakan rata-rata aktivitas peserta didik adalah sebesar 57. pada siklus I meningkat menjadi 70. artinya telah terjadi peningkatan aktivitas peserta didik sebesar 13. Prestasi belajar diperoleh dari hasil tes yang dilakukan pada pertemuan 3. Hasil tes ini digunakan untuk mengukur peningkatan prestasi bela jar terhadap materi yang Berdasarkan data di atas diketahui bahwa nila i rata-rata peserta didik pada siklus I sebesar 78. Persentase ketuntasan sebesar 57% artinya dari 28 peserta didik hanya ada 22 peserta didik yang tuntas KKTP yang telah ditetapkan sebesar 70. Sedangkan nila i tertinggi yang diperoleh peserta didik sebesar 91,43 dan nilai terendah yang diperoleh 65,71. Jika dibandingkan dengan keadaan pratindakan Jumlah Siswa Persentase Ya Tidak Kesiapan belajar Menanggapi materi pelajaran Mengomentari pendapat teman 19 Menjawab pertanyaan guru Semangat mengerjakan tugas Keinginan tampil di depan kelas 19 Rata-rata aktivitas belajar siswa Apek yang diamati Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomer 2 Ae Desember 2024 prestasi belajar peserta didik pada siklus I sudah mengalami peningkatan. Persentase ketuntasan belajar peserta didik pada pratindakan sebesar 57. 14% pada siklus I meningkat menjadi 78. Artinya telah terjadi peningkatan sebesar 21. Siklus II Data aktivitas belajar diperoleh dar i hasil pengamatan yang dilakukan oleh teman selama proses pembelajaran Data aktivitas peserta didik terekam dalam instrumen pengamatan. Prestasi belajar diperoleh dari hasil tes yang dilakukan pada pertemuan 3. Hasil tes ini digunakan untuk mengukur peningkatan prestasi bela jar terhadap materi yang Berdasarkan data diketahui nilai rata-rata peserta didik pada siklus II sebesar 82. Persentase ketuntasan sebesar 96. 43% artinya dari 28 peserta didik ada 27 peserta didik yang tuntas KKTP yang telah ditetapkan Sedangkan nilai tertinggi yang diperoleh peserta didik sebesar 94,29 dan nilai terendah yang diperoleh isswa sebesar 68,57. Jika dibandingkan dengan keadaan siklus I prestasi belajar peserta didik pada siklus II sudah mengalami peningkatan. Persentase ketuntasan belajar peserta didik pada siklus I sebesar 78. 57% pada siklus II meningkat menjadi 96. Artinya telah terjadi peningkatan sebesar 17. Berdasarkan tercantum pada tabel di atas pada siklus II diperoleh nilai rata-rata aktivitas peserta didik sebagai berikut: aspek kesiapan belajar 86%, aspek menanggapi materi mengomentari pendapat teman sebesar 43%, aspek menjawab pertanyaan guru sebesar 100%, aspek semangat mengerjakan tugas sebesar 96. 43% dan aspek keinginan tampil di depan kelas sebesar 92. Secara keseluruhan aktivitas peserta didik pada siklus II diperoleh nila i rata-rata sebesar Jika dibandingkan dengan nila i maksimal sebesar 100% maka diperoleh persentase ketercapaian sebesar 95. Jika dibandingkan dengan keadaan siklus I, aktivitas peserta didik pada siklus II sudah ada peningkatan. Pada siklus I rata-rata aktivitas peserta didik adalah sebesar 70. pada siklus II meningkat menjadi 95. artinya telah terjadi peningkatan aktivitas peserta didik sebesar 25. Gambar 1. Grafik Perkembangan Aktivitas Peserta didik Berdasarkan data dan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa telah terjad i peningkatan aktivitas peserta didik dala m pembelajaran dari prat indakan sampai siklus II. Besarnya peningkatan aktivitas belajar peserta didik adalah pada pratindakan sebesar 14% pada siklus I meningkat menjad i 83% dan pada siklus II meningkat menjad i Jumlah Siswa Apek yang diamati Persentase Ya Tidak 1 Kesiapan belajar 2 Menanggapi materi pelajaran 3 Mengomentari pendapat teman 27 4 Menjawab pertanyaan guru 5 Semangat mengerjakan tugas 6 Keinginan tampil di depan kelas 26 Rata-rata minat belajar siswa Tabel 4. Aktivitas Belajar Siklus II Strategi Pembelajaran Listening Team AA. Ahmad Yanuar positif sebagaimana terlihat pada tabel dan grafik di atas. Peningkatan prestasi belajar peserta didik ini menunjukkan bahwa Keadaan ini pembelajaran Listening Team peserta didik kelas ViA SMP Negeri 1 Nguntoronadi pada materi iman kepada kitab Allah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Tahun pelajaran 2024/ 2025. telah memberikan peningkatan hasil belajar. Hasil di atas sesua i dengan kelebihan model pembelajaran Listening Team kegembiraan dan kesenangan belajar dan tumbuhnya motivasi internal (Dave Meier, 2005: . Lebih lanjut Isjoni . 9: . mengungkapkan bahwa model pembelajaran ini memiliki keunggulan membantu peserta didik memahami materi yang sulit, menumbuhkan kemampuan berfikir kritis. Model Listening Team membantu peserta didik untuk tetap berkonsentrasi dan terfokus dalam pelajaran dan model ini bertujuan membentuk kelompok yang mempunyai tugas atau tanggung jawab tertentu berkaitan dengan materi pelajaran sehingga akan diperoleh partisipasi aktif peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung yang diawali dengan pemaparan pembelajaran oleh guru. DAFTAR PUSTAKA