JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 429-438 Perbedaan Pola Komunikasi Generasi X dan Generasi Y Dalam Hubungan Pernikahan Nathania Trixie Aryanti*. Augustin Mustika Chairil Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur. Surabaya. Indonesia *20043010041@student. Abstract Generation X and Generation Y couples have different ways of communicating, influenced by generational differences caused by technological developments. The pattern of communication in couples of Generation X and Generation Y is formed due to the gradual openness. Good communication in relationships will create harmony. This study uses qualitative methods, which aim to understand, analyze, and interpret phenomena in depth through the description of words. The Data in this study were collected by purposive sampling technique, where the data were taken based on the criteria of informants in accordance with the objectives of the study. Generation X couples, social media is not used as a means in their marriage relationship, in contrast to Generation Y couples who more often face conflicts due to misunderstandings through social media. However, both generations still prioritize face-to-face communication directly in their marriages. Harmony in relationships is created by mutual understanding and mutual commitment between partners. Overall, this study emphasizes the importance of understanding the different ways of communication between Generation X and Generation Y to improve relationships and reduce conflicts that may arise from different ways of communicating. Keywords: Communication Patterns. Generation X and Y Couples2. Intimacy. Social media Abstrak Pasangan menikah generasi X dan generasi Y memiliki perbedaan dalam menjalin komunikasi hubungan. Perbedaan ini disebabkan dari perbedaan generasi yang dibedakan dalam munculnya perkembangan teknologi. Pola komunikasi dalam pasangan generasi X dan generasi Y terjadi karena adanya keterbukaan perkenalan yang bertahap, komunikasi hubungan yang baik akan menimbulkan keharmonisan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah, penelitian jenis kualitatif . Penelitian kualitatif menggunakan deskripsi kata untuk memahami, menganalisis, dan menginterpretasi fenomena secara mendalam. Data dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling, yang mana data diambil berdasarkan kriteria informan yang sesuai dengan penelitian. Pola komunikasi pasangan generasi X tidak menjadikan media sosial sebagai sarana dalam hubungan pernikahannya, berbeda dengan pasangan generasi Y, media sosial dapat memicu konflik hubungan karena adanya kesalahpahaman. Pasangan generasi X dan generasi Y dalam hubungan pernikahan mengedepankan intensitas komunikasi secara langsung dan bertatap muka. Keharmonisan hubungan pernikahan terjadi karena adanya pemahaman satu sama lain dan komitmen bersama dengan pasangan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa memahami cara komunikasi yang berbeda antara generasi X dan generasi Y sangatlah penting. Keterbukaan hubungan menjadi hal penting untuk membangun hubungan yang baik. Pasangan dari kedua generasi dapat meningkatkan hubungan mereka dan mengurangi konflik yang terjadi karena adanya perbedaan cara berkomunikasi. Kata Kunci: Pola Komunikasi. Pasangan Generasi X dan Y. Intimacy. Media Sosial PENDAHULUAN Pasangan dari Generasi X . ahir antara 1965 dan 1. dan Generasi Y . ahir antara 1981 dan 1. memiliki pola komunikasi yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan teknologi pada masa mereka. Menurut Yustisia . alam Altarizan, et al. , 2. , dijelaskan bahwa Generasi X dan Y menunjukkan perbedaan dalam membangun hubungan pernikahan. Generasi X dikenal sebagai generasi yang tangguh, mampu beradaptasi dengan baik, mandiri, setia, dan sangat menghargai citra, ketenaran, serta materi. Mereka juga dikenal sebagai pekerja keras. Di sisi lain. Generasi Y sangat dipengaruhi oleh media sosial dan perkembangan teknologi, lebih terbuka terhadap pandangan politik dan ekonomi, serta lebih reaktif terhadap perubahan di lingkungan sekitarnya. Submitted: October 2024. Accepted: July 2025. Published: September 2025 ISSN: 2614-8498 . DOI: https://doi. org/10. 32509/pustakom. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 429-438 dengan fokus yang lebih besar pada kesejahteraan dan kekayaan. Menurut (Erland Hamzah et al. media sosial seakan-akan menjadikan suatu kebiasaan baru untuk selalu membagikan momen dan aktivitas pengguna media secara online, di sana sebagai wadah pengganti interaksi langsung. Banyak orang akhirnya sengaja curhat atau membagikan kisah pribadi mereka ke publik. Generasi X tumbuh di masa sebelum internet dan teknologi digital. Mereka terbiasa berkomunikasi secara langsung, baik melalui pertemuan tatap muka maupun telepon, yang cenderung lebih formal dan to the point. Berdasarkan laporan (Brooke Auxier & Anderson, 2. , 90% orang dewasa di Amerika Serikat memiliki smartphone, dengan kepemilikan yang lebih tinggi di Generasi Y . %) dibandingkan dengan Generasi X . %). Sementara itu. Generasi Y tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital seperti internet, media sosial, dan smartphone. Mereka lebih familiar dengan komunikasi melalui pesan teks, aplikasi pesan instan, dan platform media sosial yang lebih fleksibel dan informal (Putra. Surya Y. , 2. Generasi Y juga lebih sering menggunakan media sosial dibandingkan Generasi X, dengan 84% Generasi Y melaporkan penggunaan media sosial aktif setiap hari, sedangkan hanya 62% dari Generasi X yang melaporkan hal serupa. Pergeseran teknologi ini sangat mempengaruhi cara kedua generasi berkomunikasi dengan pasangan dalam pernikahan. Pasangan dari Generasi X cenderung memiliki pendekatan yang lebih praktis dalam menyelesaikan masalah. Mereka lebih suka berdiskusi dengan cara yang rasional dan mencari solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi konflik. Pendekatan ini sering melibatkan kompromi dan negosiasi, di mana kedua pihak berusaha menemukan solusi bersama yang dapat diterima. Mereka biasanya menghindari drama dan lebih fokus pada penyelesaian yang konstruktif. Meskipun Generasi X sudah mulai terbiasa dengan teknologi digital, penggunaannya dalam komunikasi pernikahan masih Mereka lebih memilih menggunakan media tradisional seperti telepon untuk berkomunikasi jarak jauh, daripada pesan teks atau media sosial. Komunikasi pada pasangan Generasi Y cenderung lebih intens dan responsif. Mereka sering mengirim pesan teks atau mengunggah di media sosial sepanjang hari untuk menjaga koneksi dengan satu sama lain. Frekuensi komunikasi yang tinggi ini menciptakan rasa kedekatan dan keterlibatan yang berkelanjutan, meskipun mereka mungkin tidak selalu bersama secara fisik. Generasi Y sangat menjunjung tinggi transparansi dan keterbukaan dalam hubungan mereka. Mereka lebih sering berbagi perasaan, pikiran, dan kekhawatiran secara terbuka dengan pasangan. Percakapan mengenai perasaan pribadi, harapan, dan tujuan hidup menjadi bagian penting dari komunikasi mereka, yang membantu memperkuat kepercayaan dan pemahaman yang lebih mendalam. Penelitian oleh (Twenge et al. , 2. menunjukkan bahwa generasi X lebih cenderung memegang nilai-nilai tradisional dalam pernikahan, seperti peran gender yang jelas dan privasi dalam komunikasi, sementara generasi Y lebih mengedepankan kesetaraan, keterbukaan, dan kolaborasi dalam hubungan pernikahan. Hal ini menjelaskan bahwa, perbedaan nilai-nilai yang dianut oleh Generasi X dan Generasi Y dalam pernikahan, yang dapat memengaruhi cara mereka menjalankan Generasi X, yang tumbuh besar pada masa ketika peran gender tradisional masih kuat, cenderung memegang teguh nilai-nilai yang lebih konservatif dalam pernikahan. Ini tercermin dalam pembagian peran yang lebih jelas antara suami dan istri. Suami mungkin diharapkan menjadi pencari nafkah utama, sedangkan istri mengurus rumah tangga. Selain itu, privasi dalam komunikasi juga sangat dihargai oleh generasi ini. Mereka cenderung lebih berhati-hati dalam membagikan masalah pribadi, baik di antara anggota keluarga maupun di ruang publik, seperti media sosial. Sebaliknya. Generasi Y, yang dikenal sebagai Milenial, lebih mengedepankan kesetaraan dalam hubungan pernikahan. Mereka cenderung menolak pembagian peran gender yang kaku dan lebih mementingkan pembagian tanggung jawab yang adil antara suami dan istri, baik dalam pekerjaan maupun tugas rumah tangga. Keterbukaan dan transparansi dalam komunikasi juga menjadi nilai penting bagi generasi ini, di mana pasangan sering kali berbagi perasaan dan masalah dengan cara yang lebih kolaboratif. Mereka cenderung menghadapi konflik dengan diskusi terbuka dan berusaha untuk menyelesaikannya secara bersama-sama, sehingga menciptakan hubungan yang lebih setara. Perbedaan Pola Komunikasi Generasi X dan Generasi Y Dalam Hubungan Pernikahan Nathania Trixie Aryanti. Augustin Mustika Chairil JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 429-438 Dalam konteks hubungan romantis, pasangan dengan intensitas komunikasi yang tinggi akan lebih dapat menumbuhkan kepercayaan terhadap pasangan, rasa puas, serta lebih berkomitmen terhadap hubungannya ketimbang dengan pasangan yang memiliki intensitas komunikasi yang rendah Friesell . alam Azza Afirul Akbar, 2. Pola komunikasi yang efektif dapat menciptakan hubungan yang harmonis dan memuaskan, sedangkan pola komunikasi yang buruk dapat menyebabkan ketegangan dan konflik. Memahami pola komunikasi dalam mempertahankan hubungan pernikahan menjadi penting untuk mengidentifikasi strategi efektif yang dapat membantu mereka menghadapi tantangan tersebut. Pola komunikasi menurut Soejanto pola komunikasi adalah suatu gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen lainnya Soejanto . alam Azeharie & Khotimah, 2. Intimacy dalam keterbukaan pasangan dapat terbentuk melalui beberapa faktor perbedaan kondisi hubungan. Intimacy keterbukaan dalam hubungan pasangan dengan perbedaan jarak (Putri. Andini A. & Tanti H. , 2. , penelitian ini menjelaskan bagaimana bentuk komunikasi dilakukan dalam mengatasi konflik dalam penyampaian pesan dengan jarak jauh pada mahasiswa Kota Tegal. Konflik tersebut merupakan konflik interpersonal, yang dapat menyebabkan kesalahpahaman dalam penyampaian pesan. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa penggunaan media sebagai solusi dari mengatasi konflik interpersonal pasangan jarak jauh pada mahasiswa Kota Tegal. Selain keterbukaan pasangan dengan kondisi perbedaan jarak, dalam hubungan pasangan juga memiliki kondisi perbedaan agama dan perbedaan Keterbukaan pasangan yang menjalin hubungan dengan perbedaan agama (Yasa. Sotya P. Pradipta C. , 2. , penelitian tersebut menjelaskan bahwa relasi pasangan dengan perbedaan agama berasal dari pengalaman yang pernah terjalin sebelumnya dan hubungan tersebut juga mendapatkan dukungan dari keluarga. Sedangkan keterbukaan pasangan yang menjalin hubungan dengan perbedaan ras (Limantara, et al. , 2. memiliki tantangan dalam restu keluarga, meskipun demikian penelitian ini mengungkapkan bahwa beberapa pasangan dapat mempertahankan hubungannya karena faktor keberhasilan pasangan dalam tantangan yang dihadapi. Berbeda dari penelitian di atas, (Wilantara, 2. menjelaskan bahwa penyelesaian dalam mengatasi konflik dapat menjaga keutuhan rumah tangga pasangan suami dan istri. Keharmonisan dalam keutuhan rumah tangga terbentuk karena aspek keintiman hubungan yang mendalam. Selain menjaga keutuhan rumah tangga, penelitian yang dilakukan oleh (Lao et al. , 2. ,menjelaskan bahwa pasangan dengan perbedaan agama dapat hidup bersama dengan mewujudkan tujuan keharmonisan Komunikasi yang efektif merupakan kunci untuk mempertahankan hubungan yang sehat dan Dengan memahami pasangan pada generasi X dan generasi Y, dapat mengidentifikasi bagaimana komunikasi yang efektif untuk membantu pasangan mengatasi kesulitan dan memperkuat ikatan emosional mereka. Penelitian ini dapat membantu mengurangi stigma dan stereotip negatif terhadap pasangan dengan perbedaan generasi yang signifikan dengan menunjukkan bahwa, dengan komunikasi yang baik, hubungan ini dapat dipertahankan. Tujuan dilakukannya penelitian ini, yaitu untuk mengidentifikasi dan memahami pola komunikasi yang umum digunakan oleh pasangan generasi X dan generasi Y dalam pernikahan mereka. Hal ini mencakup cara-cara mereka berinteraksi, berbagi perasaan, dan menyelesaikan konflik. Sehingga, pola komunikasi diartikan sebagai bentuk atau pola hubungan dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat Pola komunikasi dalam penelitian ini menggunakan teori penetrasi sosial yang digunakan untuk mengetahui bagaimana perbedaan dalam berkomunikasi terhadap pasangan generasi X dan generasi Y dalam mempertahankan hubungan pernikahan. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dalam lingkungan tertentu secara alamiah dengan tujuan mengeksplorasi dan memahami fenomena. Data penelitian ini akan dikumpulkan berdasarkan hasil analisis dari pola komunikasi. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui beberapa pandangan Perbedaan Pola Komunikasi Generasi X dan Generasi Y Dalam Hubungan Pernikahan Nathania Trixie Aryanti. Augustin Mustika Chairil JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 429-438 mengenai pola komunikasi setiap pasangan dalam mempertahankan hubungannya. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memberikan deskripsi yang kaya dan mendalam tentang fenomena yang Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa metode, seperti wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, yang masing-masing memiliki kelebihan dalam memperoleh informasi yang relevan, yaitu wawancara yang melibatkan interaksi langsung antara peneliti dan responden untuk menggali informasi mendalam. Wawancara bisa bersifat terstruktur, semi-terstruktur, atau tidak terstruktur. Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data melalui sumber-sumber tertulis atau rekaman, seperti laporan, catatan harian, foto, atau video yang telah ada Dokumentasi berguna dalam melengkapi data primer atau sebagai verifikasi terhadap informasi yang diperoleh dari wawancara. Studi pustaka adalah teknik yang melibatkan penelusuran literatur, seperti buku, artikel ilmiah, dan jurnal. Metode ini penting untuk memahami teori yang relevan, penelitian terdahulu, dan landasan konseptual dalam mendukung penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data adalah proses merangkum, memilih, dan memfokuskan data mentah agar lebih terorganisir dan bermakna. Penyajian data adalah tahap di mana data yang telah diringkas dan diatur disajikan dalam bentuk yang lebih terstruktur. Penarikan kesimpulan adalah tahap akhir di mana peneliti membuat interpretasi dari data yang telah disajikan. Kesimpulan ditarik dengan cara mencari makna, pola, dan hubungan dari data yang dianalisis, serta membandingkannya dengan teori atau penelitian sebelumnya. Penelitian ini dalam menentukan informan, menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling digunakan untuk menentukan informan sesuai dengan pertimbangan subjek Menurut Notoatmodjo . alam Kumara. Agus Ria. , 2. Teknik purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang didasarkan atas suatu pertimbangan, seperti ciri-ciri atau sifat-sifat suatu populasi. Pertimbangan alasan keterbatasan waktu, tenaga, dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh. Subjek dari peneilitian ini adalah pasangan generasi X dan generasi Y dalam hubungan pernikahan dengan minimal usia menikah selama 5 tahun. Dari penelitian ini, akan didapatkan hasil dari penelitian berupa informasi terkait pola komunikasi relasi pasangan dengan perbedaan generasi X dan generasi Y dalam hubungan pernikahan. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan penggunaan media internet sebagai sarana komunikasi menjadi semakin pesat dengan didukungnya kemajuan teknologi smartphone (Setiadi. Ahmad. , 2. Generasi X cenderung menggunakan media sosial dengan lebih terbatas dan tidak terlalu suka mengunggah konten seperti Generasi Millenial. Mereka lebih menggunakan media sosial untuk berhubungan dengan teman-teman atau mencari informasi. Generasi Y adalah generasi pertama yang memanfaatkan media sosial sebagai cara utama berkomunikasi. Mereka sudah familier dan terbiasa menggunakan media sosial sejak masih bersekolah. Mereka melihat media sosial sebagai hal yang tidak dapat terpisahkan dari hidup mereka, baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi (Shafira. Pasangan menikah dari Generasi X lebih sering memilih komunikasi tatap muka daripada menggunakan media sosial untuk berbagai alasan yang berakar pada budaya, pengalaman, dan nilainilai yang mereka pegang. Keintiman, kualitas komunikasi, kepercayaan, dan dinamika keluarga semuanya memainkan peran penting dalam preferensi ini. Meskipun media sosial memiliki tempatnya dalam kehidupan mereka, komunikasi langsung tetap menjadi pondasi utama dalam membangun dan memelihara hubungan yang sehat dan bermakna (Miftahul Jannah, et al. , 2. Penelitian sebelumnya telah diteliti oleh (Putri. Andini A. & Tanti H. , 2. , menjelaskan bahwa penggunaan media sosial dan keterbukaan pada pasangan yang berhubungan jarak jauh (LDR) sangat berpengaruh dalam harmonisasi hubungan mereka. Hal ini disebabkan dengan adanya kesalah pahaman yang dapat menimbulkan konflik. Sehingga, media sosial sangat digunakan sebagai media komunikasi pada saat menjalin hubungan jarak jauh. Sehingga, dalam penelitian tersebut juga Perbedaan Pola Komunikasi Generasi X dan Generasi Y Dalam Hubungan Pernikahan Nathania Trixie Aryanti. Augustin Mustika Chairil JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 429-438 dijelaskan beberapa hubungan yang tetap berhasil serta bertahan dan ada juga yang hubungannya yang semakin menjauh. Sedangkan dalam penelitian ini, pasangan menikah Generasi Y menggunakan media sosial untuk mengunggah momen kebahagiaan sebagai cara untuk menampilkan kehidupan yang positif dan inspiratif. Mereka menghindari curhat dan berbagi masalah pribadi untuk menjaga privasi dan menghindari drama online. Meskipun hal ini memiliki manfaat, termasuk meningkatkan positivitas dan menjaga keamanan, ada juga tantangan yang perlu diatasi, seperti perbedaan antara realitas serta kebutuhan akan dukungan emosional. Dengan pendekatan yang seimbang dan komunikasi yang terbuka, pasangan Generasi Y dapat memanfaatkan media sosial secara efektif tanpa mengorbankan kualitas hubungan mereka. Tabel 1. Daftar Nama. Usia. Pekerjaan, dan Usia Pernikahan Pasangan Menikah Generasi X dan Generasi Y Nama Pasangan dan Status Umur Generasi Pekerjaan BA (Istr. AP (Suam. KT (Istr. PI (Suam. SM (Istr. PP (Suam. RA (Istr. JR (Suam. AI (Suam. YE (Istr. AD (Suam. YL (Istr. SW (Suam. 43 Tahun 47 Tahun 58 Tahun 59 Tahun 53 Tahun 57 Tahun 44 Tahun 50 Tahun 31 Tahun 32 Tahun 35 Tahun 33 Tahun 38 Tahun Generasi X WN (Istr. RB (Suam. AI (Istr. 38 Tahun 32 Tahun 31 Tahun Wirausaha Wirausaha IRT Pensiunan IRT Wiraswasta Pendeta Pendeta Accounting Accounting TNI IRT Karyawan Swasta IRT Arsitek IRT Generasi X Generasi X Generasi X Generasi Y Genarasi Y Generasi Y Generasi Y Lama Pernikahan 13 Tahun 33 Tahun 26 Tahun 23 Tahun 5 Tahun 8 Tahun 5 Tahun 6 Tahun (Sumber: Hasil Penelitian, 2. Komitmen dalam pernikahan pada pasangan Generaesi X dan Generasi Y adalah kombinasi dari nilai-nilai kesetiaan, kepercayaan, kejujuran, dan bagiamana dalam menghadapi penyelesaian Keterbukaan dan kejujuran juga sangat penting dalam penyelesaian konflik dan memperkuat hubungan intimasi. Pasangan yang jujur dan terbuka dapat membangun kepercayaan yang lebih kuat dan menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih efektif (Putra & Afdal, 2. (Bagarozzi, 2. mendefinisikan intimacy dalam konteks pernikahan generasi X dan generasi Y sebagai aspek yang lebih matang dan rasional dalam strategi resolusi konflik. Intimacy hubungan terbentuk dengan adanya keterbukaan pada setiap individu pasangan dalam suatu hubungan. Keterbukaan hubungan bertujuan untuk mempertahankan rumah tangga dalam penelitian (Wilantara, 2. , membuktikan bahwa pentingnya komunikasi keterbukaan dengan pasangan menjadi kunci dalam hubungan. Mengenal pasangan secara jauh menjadikan pasangan untuk saling mengerti atau memahami satu sama lain. Perbedaan Pola Komunikasi Generasi X dan Generasi Y Dalam Hubungan Pernikahan Nathania Trixie Aryanti. Augustin Mustika Chairil JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 429-438 Berdasarkan tabel diatas. Tabel hasil penelitian memberikan gambaran yang jelas mengenai perbedaan kondisi hubungan pasangan Generasi X dan Generasi Y, terutama dalam konteks pekerjaan, usia, serta dampaknya pada pola komunikasi. Pasangan Generasi X umumnya berada dalam usia yang lebih matang dan lebih mapan secara karier, dengan pekerjaan yang stabil dan peran yang cenderung tradisional. Stabilitas ini mencerminkan pola komunikasi yang lebih langsung, fokus pada penyelesaian masalah dengan cara yang terstruktur dan sering kali berbasis pengalaman hidup yang lebih panjang. Generasi X cenderung mempertahankan privasi dalam komunikasi, dengan pembagian peran gender yang jelas, sehingga komunikasi pasangan lebih sering terjadi dalam lingkup privat dan tanpa banyak keterlibatan publik atau sosial media. Di sisi lain, pasangan Generasi Y, yang rata-rata lebih muda dan masih dalam tahap pengembangan karier, menunjukkan pola komunikasi yang lebih fleksibel dan kolaboratif. Mereka lebih menekankan kesetaraan dalam hubungan, dengan pembagian tanggung jawab yang lebih seimbang dalam pekerjaan maupun tugas rumah tangga. Keterbukaan dalam berbagi perasaan dan masalah lebih menonjol dalam pola komunikasi Generasi Y, di mana media sosial dan teknologi digital sering berperan dalam memperkuat interaksi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana perbedaan usia dan kondisi karier antara kedua generasi tersebut mempengaruhi cara mereka berkomunikasi, menyelesaikan konflik, dan menjaga kedekatan emosional dalam pernikahan. Penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana perbedaan generasi X dan Y memengaruhi tingkat keintiman . dalam hubungan pernikahan, yang sangat bergantung pada cara pasangan membangun keterbukaan dalam berkomunikasi. Generasi X dikenal lebih cenderung pada komunikasi langsung dan intens, mereka mengutamakan keterbukaan dalam mengungkapkan perasaan serta pemikiran mereka secara verbal. Hal ini sering kali mengarah pada keintiman emosional yang lebih stabil dan mendalam, karena pasangan merasa lebih dipahami dan dihargai melalui dialog yang jujur. Di sisi lain. Generasi Y, meskipun juga mengutamakan keterbukaan, sering kali mengelola komunikasi mereka melalui teknologi dan media sosial, yang bisa menciptakan jarak emosional. Namun, pasangan Generasi Y yang mampu membangun keterbukaan dalam komunikasi akan lebih mudah menjaga keintiman, karena mereka dapat memahami satu sama lain lebih baik dan menyelesaikan konflik dengan cara yang lebih efektif. Keintiman dalam hubungan sangat dipengaruhi oleh seberapa baik pasangan bisa saling mengungkapkan perasaan, kebutuhan, dan keinginan tanpa merasa terhakimi atau diabaikan. Penelitian ini akan mengamati bagaimana keterbukaan ini berperan dalam menciptakan atau menghambat keintiman antara pasangan, dan apakah perbedaan generasi memengaruhi cara mereka membangun kedekatan emosional dalam hubungan. Gambar 1. Analogi Lapisan Bawang Teori Penetrasi Sosial Dalam Komunikasi Antar Pribadi Pasangan Menikah Generasi X dan Y (Sumber: KOMPAS. com, 2. Perbedaan Pola Komunikasi Generasi X dan Generasi Y Dalam Hubungan Pernikahan Nathania Trixie Aryanti. Augustin Mustika Chairil JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 429-438 Selain itu, penelitian ini akan mengetahui bagaimana Generasi X dan Generasi Y berkomunikasi dalam hubungan pernikahan dengan cara yang berbeda dan berdampak pada intimacy Generasi X cenderung membangun keintiman melalui komunikasi tatap muka yang lebih langsung dan intens, berfokus pada pengalaman bersama. Keintiman Generasi Y tumbuh dari percakapan intim dan interaksi fisik, karena mereka lebih jarang menggunakan media sosial untuk mengekspresikan emosi. Di sisi lain. Generasi Y sering kali menggunakan teknologi dan media sosial untuk tetap terhubung secara emosional. Meskipun demikian, mereka tetap menghindari perselisihan emosional di ruang publik dan lebih memilih untuk berbicara dengan sopan dalam komunikasi pribadi. Perbedaan pola komunikasi pasangan menikah antara generasi X dan Y dapat dipahami sebagai perbedaan dalam cara mereka mengelola privasi, keterbukaan, dan keintiman dalam Pasangan generasi X lebih mengutamakan privasi dan komunikasi verbal langsung, sedangkan pasangan generasi Y cenderung berkomunikasi secara informal dan menggunakan teknologi sebagai media untuk meningkatkan keterbukaan dan keintiman dalam hubungan Sehingga dalam keterbukaan hubungan akan membentuk pola pengembangan hubungan yang sesuai dengan teori penetrasi sosial (Kustiawan. Winda, et al. , 2. Pasangan generasi X memiliki pola komunikasi pada tahap orientasi, yaitu pada awal pernikahan, pasangan menikah generasi X cenderung memiliki pola komunikasi yang intensif dan Mereka berusaha memahami satu sama lain dan membangun hubungan yang kuat melalui komunikasi yang efektif. Tahap pertukaran penjajakan afektif, pasangan menikah generasi X akan mulai munculnya diri dan berbagi perasaan yang lebih personal. Mereka akan mulai berbagi informasi yang lebih mendalam tentang diri mereka, seperti keinginan, harapan, dan kekhawatiran. Komunikasi pada tahap ini cenderung lebih terbuka dan intensif, dengan fokus pada membangun keintiman dan memahami perasaan satu sama lain. Pada tahap pertukaran afektif, pasangan menikah generasi X akan mulai membangun keintiman dan kepercayaan yang lebih dalam. Mereka akan mulai berbagi perasaan dan pikiran yang lebih personal, seperti harapan, kekhawatiran, dan keinginan. Pada tahap pertukaran stabil, pasangan menikah generasi X akan memiliki pola komunikasi yang sangat terbuka dan spontan. Mereka akan berbagi perasaan dan pikiran secara jujur dan terbuka, tanpa rasa malu atau canggung. Irwin Altman dan Dalmas Taylor mengemukakan teori penetrasi sosial untuk menjelaskan hubungan antarpribadi. Teori ini menjelaskan hubungan antara proses pengikatan di mana orang beralih dari komunikasi dangkal ke komunikasi yang lebih intim . Menurut Altman dan Taylor, kedekatan tidak hanya sekadar ikatan romantis, tetapi pasangan dapat bertembuh melalui setiap tahapan yang emosional selama mereka melakukan aktivitas bersama. Teori penetrasi sosial dianalogikan dengan lapisan kulit bawang untuk mengetahui seberapa dalam hubungan antara lapisan terluar dan terdalam. Pada kehidupan sosial, setiap orang memiliki lapisan informasi yang dapat ditukarkan secara bebas, dan lapisan informasi lainnya disebarkan pada orang-orang yang dianggap dekat dengan mereka. Ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki pendapat, prasangka, pandangan, dan perasaan yang berlapis-lapis. Saat mengenal orang lain, lapisan bawang terbuka untuk mengungkapkan emosi inti mereka (Kustiawan. Winda, et al. , 2. Teori ini menggambarkan perkembangan hubungan sebagai proses di mana individu membuka diri secara bertahap melalui peningkatan kedalaman dan luasnya topik yang dibicarakan. Model ini sering diilustrasikan seperti lapisan bawang, di mana hubungan interpersonal berkembang melalui penyingkapan diri yang semakin mendalam dari "lapisan luar" . nformasi umu. menuju "lapisan dalam" . nformasi yang sangat pribad. Hubungan dari tingkat terkecil hingga tingkat tertinggi harus terbentuk melalui beberapa tahapan sebelum dapat disebut sebagai penetrasi sosial, berikut merupakan tahapan penetrasi sosial: Tahap Orientasi Pada tahap awal, seseorang akan membuka diri secara bertahap kepada orang lain dan berbagi informasi dengan mereka. Proses yang umum untuk memperkenalkan dan membagikan informasi. Perbedaan Pola Komunikasi Generasi X dan Generasi Y Dalam Hubungan Pernikahan Nathania Trixie Aryanti. Augustin Mustika Chairil JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 429-438 seperti nama panggilan, akun sosial media, gender, fisik, dan dialek berbicara. Disinilah individu mengelupas lapisan terluarnya. Tahap Pertukaran Aktif Eksplorasi Tahap ini adalah lapisan kedua dari kulit bawang, di mana informasi mulai berkembang dan bergerak ke tingkat pengungkapan yang lebih dalam daripada tahap pertama. Individu sudah mulai membuka diri dan mencari dan membagikan apa yang mereka sukai dengan orang lain. hal ini terjadi dengan cara komunikasi dua arah. Pada tahap ini, biasanya ada pencocokan antara individu, mereka mungkin melanjutkan hubungan yang lebih dangkal dan lebih intim jika mereka menemukan kenyamanan satu sama lain, atau mereka mungkin meninggalkan hubungan karena mereka tidak menemukan chemistry satu sama lain. Pertukaran Afektif Pada tahap selanjutnya, orang akan membagikan informasi pribadi dan sensitive yang tidak diketahui oleh semua orang. Pada tahap ini, individu telah memilih pihak yang dapat bertukar informasi, yang ditunjukkan dengan hubungan persahabatan yang kuat atau hubungan antar individu yang lebih intim. Tahap ini menunjukkan komitmen yang lebih besar dan perasaan nyaman dengan orang lain. Pada tahap ini, istilah, kata-kata, atau perilaku yang lebih unik banyak digunakan. Tahap Pertukaran Stabil Tahapan terakhir merupakan lapisan inti dari seluruh tahapan, terletak di bagian paling dalam. Pertukaran informasi terjadi dalam fase yang sangat intim, yang mencakup hal-hal seperti prinsip, keyakinan, dan perspektif. Pada tahap ini, telah mengenal individu dengan baik sehingga dapat memprediksi reaksi atau tindakan masing-masing. Dari keempat tahapan, yang paling dasar adalah tahap orientasi. Tahap kedua menentukan apakah hubungan akan menjadi lebih intim, dan tahap ketiga menentukan apakah kemistri dapat terjadi. Apabila kulit bawang dikupas menjadi lebih tebal, akan membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga. Penelitian ini menggunakan teori penetrasi sosial untyk melihat bagaimana kedekatan pasangan generasi X dan Y dalam hubungan pernikahan. Dalam konteks pasangan menikah dari Generasi X dan Generasi Y, teori penetrasi sosial dapat memberikan wawasan penting tentang bagaimana proses komunikasi antarpribadi berkembang seiring waktu. Kedua generasi memiliki karakteristik yang berbeda dalam komunikasi dan penggunaan teknologi, yang mempengaruhi bagaimana mereka mengelola kedekatan emosional dalam hubungan pernikahan. Generasi X, yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980, dikenal sebagai generasi yang menghargai kemandirian, pragmatisme, dan langsung dalam berkomunikasi. Dalam pernikahan, mereka cenderung mendekati komunikasi antarpribadi dengan intensitas dan keterbukaan yang tinggi. Dalam kerangka teori penetrasi sosial, pasangan dari Generasi X mungkin mencapai tingkat kedalaman hubungan yang lebih cepat karena preferensi mereka terhadap keterbukaan dan kejujuran. Pada "lapisan luar" komunikasi, pasangan Generasi X mungkin berbicara tentang topik-topik sehari-hari seperti pekerjaan, anak-anak, atau keuangan. Namun, mereka juga cenderung cepat memasuki "lapisan dalam," di mana mereka berbicara tentang perasaan terdalam, ketidaknyamanan, dan masalah yang lebih kompleks. Proses ini sering kali diperkuat oleh nilai-nilai generasi ini yang menghargai transparansi dalam hubungan, serta kemampuan untuk menghadapi konflik secara Generasi X juga dikenal lebih jarang menggunakan media sosial untuk mengekspresikan masalah pribadi, yang membuat komunikasi antarpribadi di dalam hubungan lebih fokus pada interaksi tatap muka atau percakapan pribadi. Hal ini memungkinkan pasangan untuk mengeksplorasi kedalaman emosional tanpa gangguan dari dunia luar, menciptakan hubungan yang lebih kuat melalui proses penetrasi sosial yang lebih intensif. Generasi Y, atau Milenial, yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996, menunjukkan pola komunikasi yang berbeda dalam pernikahan dibandingkan Generasi X. Meskipun mereka juga menggunakan prinsip penetrasi sosial dalam membangun kedekatan emosional, ada perbedaan dalam kecepatan dan cara penyingkapan diri terjadi. Generasi Y dikenal lebih berhati-hati dalam berbagi informasi pribadi di tahap awal hubungan. Mereka cenderung menggunakan media sosial untuk Perbedaan Pola Komunikasi Generasi X dan Generasi Y Dalam Hubungan Pernikahan Nathania Trixie Aryanti. Augustin Mustika Chairil JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 429-438 berinteraksi secara sosial, tetapi jarang membagikan masalah pribadi atau emosi yang mendalam di platform ini. Hal ini mengindikasikan bahwa pada "lapisan luar," pasangan Generasi Y mungkin lebih memilih untuk berbagi konten umum seperti hobi, aktivitas sosial, atau minat bersama. Namun, ketika hubungan berkembang, pasangan Milenial cenderung membuka diri melalui platform komunikasi digital seperti pesan teks atau video call, sebelum akhirnya mencapai penyingkapan yang lebih dalam secara langsung. Mereka juga cenderung menghargai validasi sosial dari teman atau keluarga, yang dapat memengaruhi dinamika kedalaman percakapan di dalam hubungan pernikahan. Generasi Y juga menghadapi tantangan unik terkait dengan media sosial dalam hubungan pernikahan. Meskipun media sosial jarang digunakan untuk mengekspresikan masalah pernikahan, platform ini dapat menjadi sumber potensi konflik, seperti kecemburuan atau miskomunikasi. Namun, pasangan Generasi Y yang memiliki keterampilan komunikasi yang baik dapat mengatasi tantangan ini melalui diskusi terbuka, sebagaimana disarankan oleh teori penetrasi sosial. Pada tahap orientasi, pasangan pernikahan generasi Y akan membuka sedikit demi sedikit dan berusaha memahami satu sama lain secara perlahan-lahan. Mereka akan memulai dengan informasi yang dangkal dan luas, seperti profil dasar dan minat umum. Pada tahap aktif eksploratif, pasangan pernikahan generasi Y akan mulai munculnya diri dan berbagi perasaan yang lebih personal. Mereka akan mulai berbagi informasi yang lebih mendalam tentang diri mereka, seperti keinginan, harapan, dan kekhawatiran. Pada tahap afektif, pasangan pernikahan generasi Y akan memiliki komitmen yang lebih stabil dan terstruktur. Mereka akan berbagi perasaan dan pikiran yang lebih personal dengan cara yang lebih terarah. Pada tahap pertukaran stabil, pasangan pernikahan generasi Y akan memiliki kejujuran total dan keintiman yang lebih stabil. Mereka akan berbagi informasi yang lebih rinci dan personal dengan cara yang lebih spontan dan variatif. Komunikasi pada tahap ini cenderung tidak memiliki batasan, dengan fokus pada mempertahankan hubungan yang kuat dan stabil. Berdasarkan teori penetrasi sosial Irwin Altman dan Dalmas Taylor, keintiman dalam hubungan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang emosi dan keterikatan. Dalam hal ini, pasangan generasi X cenderung memiliki keintiman yang lebih stabil dan emosional, sedangkan pasangan generasi Y mungkin lebih berkonsentrasi pada interaksi sosial dan teknologi untuk membangun keintiman dan komitmen dalam hubungan mereka. SIMPULAN Membangun keterbukaan, pada pasangan generasi X cenderung memprioritaskan komunikasi tatap muka. Generasi X percaya bahwa komunikasi langsung dapat membangun ikatan emosional yang lebih kuat dan memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pasangan. Dalam hal ini, mereka lebih suka menyelesaikan masalah secara langsung dan menghindari penggunaan media sosial, yang mereka anggap dapat mengurangi keintiman dan keaslian komunikasi. Ini menunjukkan bahwa Generasi X lebih suka menjalin hubungan yang lebih pribadi. Sebaliknya, pasangan generasi Y menunjukkan pola komunikasi yang lebih fleksibel dan adaptif. Mereka juga lebih terbuka secara langsung, tetapi lebih terbuka untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana awal untuk berkenalan dan membangun hubungan. Media sosial menjadi platform penting bagi generasi Y dalam menjalin komunikasi, memungkinkan mereka untuk berbagi informasi dan pengalaman secara cepat dan efisien. Namun, penggunaan media sosial juga memungkinkan mereka untuk berbagi pengalaman dan informasi dengan orang lain. Pasangan disarankan untuk meluangkan waktu khusus bersama untuk tetap menjaga hubungan dan meningkatkan komunikasi satu sama lain ketika memiliki kesibukan yang berbeda. Alangkah baiknya, untuk tetap menjaga keharmonisan meskipun dalam kondisi yang tidak bertemu sehingga tidak mengurangi intensitas komunikasi bersama pasangan. Pada penelitian selanjutnya, peneliti berharap dapat dikembangkan lebih dalam lagi terkait penelitian topik tersebut, yang bisa dibandingkan dengan generasi yang lainnya, maupun menambahkan informan dengan mengambil data dari kedua belah pihak pasangan. Perbedaan Pola Komunikasi Generasi X dan Generasi Y Dalam Hubungan Pernikahan Nathania Trixie Aryanti. Augustin Mustika Chairil JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 429-438 DAFTAR PUSTAKA