JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 2025, 525-533 http://jurnal. id/index. php/jp2m UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI MEDIA REALIA KELAS II SDN GALUDRA SUMEDANG Hanah Ramli 1*. Arrahim 2. Yudi Budianti 3 1,2,3 Prodi PGSD. FKIP. Universitas Islam 45. Bekasi. Jawa Barat. Indonesia. e-mail: hanahramli73@gmail. com, 2arrahimtasrif89@unismabekasi. id, 3yudibudianti@unismabekasi. *Penulis Korespondensi Diserahkan: 04-01-2025. Direvisi: 16-01-2025. Diterima: 29-01-2025 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika melalui media realia. Sebanyak 22 siswa kelas dua di SDN Galudra Sumedang mengambil bagian dalam penelitian ini selama tahun ajaran 2024. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tidakan kelas (Classroom action researc. Terdapat dua siklus, tiap Ae tiap siklus terdiri dari 3 pertemuan. Pada setiap siklus dilaksanakan empat kegiatan pokok yakni: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini juga memakai teknik pengumpulan data yakni: wawancara, observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini pada silkus I, pemahaman konsep matematika menunjukkan rata Ae rata 68,0 dengan tingkat ketuntasan 68%. Setelah melakukan evaluasi siklus II terjadi peningkatan relavan dengan rata Ae rata nilai 91,0 dengan tingkat ketuntasan 91%. Ketuntasan klasikal pada penelitian minimal dari 75% siswa mencapai nilai > 66 dinyatakan berhasil. Hasil pada penelitian ini memperlihatkan bahwa penggunaan Media Realia dapat Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Pada Siswa Kelas 2 SDN Galudra. Sumedang. Kata Kunci: Pemahaman Konsep. Media Realia. Pembelajaran Matematika Abstract: This research aims to determine whether the use of realia media in sequential subtraction material can improve elementary school students' understanding of mathematical concepts. A total of 22 second grade students at SDN Galudra Sumedang took part in this research during the 2024 school year. This research used the classroom action research method. There are two cycles, each cycle consisting of 3 meetings. In each cycle, four main activities are carried out, namely: planning, implementation, observation and This research also uses data collection techniques, namely: interviews, observation, tests and documentation. The results of this research in cycle I, understanding of mathematical concepts showed an average of 68. 0 with a completeness level of 68%. After carrying out the second cycle evaluation, there was a relevant increase with an average score 0 with a completion rate of 91%. Classical completion in research of at least 75% of students achieving a score > 66 is declared successful. The results of this study show that the use of Realia Media can improve understanding of mathematical concepts in class 2 students at SDN Galudra. Sumedang. Kata Kunci: Conceptual understanding. Realia media. Mathematics learning Kutipan: Ramli. Hanah. Arrahim. , & Budianti. Yudi. Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Melalui Media Realia Kelas II SDN Galudra Sumedang. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. Vol. 11 No. 1, . https:// org/10. 29100/jp2m. Pendahuluan Matematika merupakan salah satu dari sekian banyak disiplin ilmu yang diajarkan di tingkat sekolah dasar. Pada hakikatnya, pembelajaran matematika adalah suatu tahapan mendidik yang dirancang oleh pendidik guna menumbuhkan pemikiran yang lebih kreatif, pemahaman konseptual, dan This is an open access article under the CCAeBY license. https://doi. org/10. 29100/jp2m. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Hanah Ramli. Arrahim. Yudi Budianti perolehan pengetahuan dalam upaya meningkatkan daya ingat yang kuat terhadap pelajaran matematika. Memahami konsep merupakan kunci yang harus dimiliki untuk menguasai materi. Kriterianya siswa dikatakan dapat memahami konsep matematika, jika dapat mengungkapkan kembali dan mengklasifikasikan objek tertentu sesuai dengan konsepnya yang tepat . alam Budianti dkk. , 2. Menurut Agung . alam Rikmasari & Fernanda, 2. , pemahaman konsep merupakan proses memahami tentang apa yang akan dibicarakan, yang berupa gagasan yang menyatukan fakta Ae fakta tanpa harus dikaitkan dengan materi lain. Menurut Sukmawati . alam Susilowati yulia & Eryani, 2. Kemampuan memahami konsep adalah kemampuan memahami suatu gagasan atau gagasan secara akurat tidak mengganti makna suatu konsep tersebut. Pada saat memahami konsep matematika, siswa mampu menangkap makna dari konsep yang dipelajari, baik pada saat guru menyajikan informasi maupun pada saat mengerjakan soal matematika. Sementara itu, akan sulit bagi siswa untuk menyelesaikannya jika mereka tidak memahami konsep matematika. Menurut Asep Jihan dan Abdul Haris . 2:149, dalam Arrahim & Kamalia, 2. Pemahaman konsep merupakan kompetensi yang diungkapkan siswa dalam memahami konsep dan dalam melakukan prosedur . secara fleksibel, akurat, efektif, dan tepat. Dalam pembelajaran berlangsung guru bukan hanya mengajar dengan teori saja. Terdapat salah satu karakteristik yang dimiliki anak SD yaitu senang melakukan sesuatu secara langsung (Mutia. Menurut Ruseffendi . alam Wulandari, 2. Saat ini, anak-anak belajar matematika di sekolah bukan melalui eksplorasi, melainkan melalui pengajaran . eramah dan materi eksposis. , membaca, menyalin, melihat, mengamati, dan sebagainya. Namun ada beberapa komponen yang saling terkait dalam proses pembelajaran, diantaranya yaitu Autujuan pengajaran, guru dan siswa, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, media, sumber belajar dan penilaian. Ay (Amir, 2. Faktor penyebab kesulitan belajar matematika yang sering terjadi yaitu: . Pemilihan Strategi pembelajaran yang kurang variatif dan kurang sesuai dengan karakteristik siswa, . Tidak adanya penggunaan media pembelajaran untuk memudahkan pemahaman konsep yang abstrak, . Dukungan keluarga dan kondisi lingkungan belajar (Asriyanti & Purwati . alam Ainularifin & Mahmudah, 2. Oleh karena itu, selain menggunakan buku teks, guru juga harus menggunakan media yang bermanfaat di kelas untuk membantu siswa belajar secara praktis, responsif, dan mudah dipahami (Susanti, 2. Siswa dapat dibantu dengan media realia dalam menghitung dengan menyajikan sesuatu yang dapat merangsang pikiran, keinginan, dan emosinya. Hal ini dapat membantu mereka mengembangkan pemahaman konsep pada proses pembelajaran (Riawati dkk. , 2. Setya bukti . alam Mukrimatin , 2. mengatakan bahwa pembelajaran matematika di Indonesia masih menekankan pada perhitungan dan hafalan rumus sehingga menurunkan kemampuan pemahaman siswa. Ketidakmampuan pemahaman konsep di Indonesia memperlihatkan bahwa ada masalah yang muncul ketika belajar Ketika ada keterlibatan positif sepanjang proses dan tujuan yang diharapkan tercapai ketika siswa memahami materi pengajaran dianggap berhasil. Dalam upaya mencapai tujuan dari kegiatan belajar, siswa dituntut lebih aktif, karena aktivitas menjadi tanda adanya kegiatan belajar menurut (Al Halik & Aini, 2. Berdasarkan observasi serta wawancara yang dilakukan di SD Negeri Galudra pada kelas II, peneliti menemukan permasalahan bahwa rendahnya pemahaman pengurangan bersusun. Penyebab utamanya adalah beberapa siswa masih kesulitan memahami konsep pengurangan bersusun khususnya di teknik simpan meminjam selama proses pembelajaran. Kesulitan ini terletak pada cara penempatan angka-angka disusun berdasarkan jenisnya. Selain itu, siswa masih kesulitan mengingat bahwa ada angka yang dipinjam atau disimpan saat mengerjakan soal. Siswa sering mengabaikan hal ini, yang menyebabkan hasil yang tidak akurat. Siswa masih kesulitan menerapkan ide tentang cara menghitung pengurangan bersusun dalam penyelesaian soal dan bingung saat memilih proses atau operasi tertentu. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Hanah Ramli. Arrahim. Yudi Budianti Kenyataan bahwa banyak siswa menganggap matematika adalah mata pelajaran yang sulit. Konsep kurang dipahami ketika media realia tidak digunakan dalam pengajaran matematika. Siswa menjadi tidak tertarik dan kurang termotivasi untuk belajar ketika buku dan papan tulis lebih sering Pada titik ini, media realia digunakan sebagai alat untuk membantu siswa memahami mata pelajaran di bawah bimbingan guru. Guru mencari berbagai cara untuk membantu siswa agar lebih memahami konsep matematika. Salah satu hal yang dilakukan adalah menerapkan pembelajaran yang menarik dan mudah dipahami. Peningkatan kualitas pengajaran sangat bergantung pada proses pembelajaran guru, terutama jika menggunakan media nyata. Menurut Anitah . alam Arrahim & Muttolingah, 2. Media realia merupakan alat bantu nyata dalam pembelajaran yang berfungsi menyampaikan pengalaman secara langsung kepada siswa. Menurut Trisnawati dkk. , media Realia merupakan media fisik yang ada di sekitar siswa dan dapat dibagi menjadi beberapa bagian yang berukuran sama. Sebaliknya, media realia yang digunakan memaksa siswa untuk belajar secara langsung dari materi yang dipelajari dengan menggunakan proses belajar yang berbasis pada pengalaman. Maka dapat disimpulkan media realia merupakan segala bentuk yang bisa berwujud konkrit untuk mempermudah pembelajaran dalam meningkatkan pemahaman konsep. Media realia merupakan benda yang masih utuh, berfungsi, hidup, dalam dimensi aslinya, dan bentuk aslinya masih dapat dikenali (Indriana, 2011: . Penggunaan media dalam pembelajaran matematika merupakan bagian dari strategi pembelajaran matematika, sehingga media pembelajaran matematika yang tepat yaitu media yang relevan dengan tujuan pembelajaran matematika (Anwar. Media Realia merupakan salah satu jenis media pembelajaran yang dirancang untuk menarik minat siswa didik dan membuat materi pelajaran lebih mudah dipahami. Penggunaan media dalam pendidikan penting karena empat alasan: . meningkatkan standar pembelajaran. memenuhi tuntutan paradigma baru. memenuhi permintaan pasar. memajukan visi pendidikan global. Dampak media pembelajaran terhadap sikap, pengetahuan, dan kemampuan siswa, serta kapasitas guru dalam mengajar dan menciptakan lingkungan belajar tertentu, semuanya menunjukkan betapa mendesaknya penggunaannya. (Yaumi, 2. Berdasarkan penjelasan di atas, penggunaan media realia membantu siswa memahami konsep dengan lebih baik, sehingga memudahkan pemahaman mereka tentang pengurangan majemuk dan mendorong keterlibatan aktif dalam pelajaran matematika. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas II SDN Galudra Sumedang tentang konsep matematika dengan menggunakan media realia. Secara alami, siswa akan lebih antusias dan merasa lebih mudah belajar matematika setelah memahami konsep tersebut. Metode Penelitian ini memakai metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom action researc. Menurut Susilowati. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah metode meningkatkan pembelajaran dengan melakukan perubahan terhadap beberapa proses dan adanya perubahan yang Sejalan dengan penelitian ini, jenis metode ini dilakukakan dengan memakai media realia guna meningkatkan pemahaman konsep. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan pada seluruh siswa kelas 2 SDN Galudra Sumedang tahun ajaran 2023/2024 yang berjumlah 22 siswa, terdapat tujuh siswa dan lima belas siswi dalam penelitian ini. Tiga kali pertemuan diadakan untuk setiap siklus penelitian ini. Pada tiap siklus memiliki empat siklus yaitu . , . , . , . Berikut di bawah ini penjelasan terkait tahapan Ae tahapan penelitian tindakan (PTK): JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Hanah Ramli. Arrahim. Yudi Budianti Gambar 1. Penelitian Tindakan kelas Siklus model Kemmis & Mc Taggart Sumber: (Arikunto et al. , 2015: . Tes dan lembar observasi digunakan sebagai alat penelitian. Melalui penggunaan media realia, observasi dilakukan dengan melihat dan mendokumentasikan tindakan guru dan siswa saat mempelajari konsep matematika pengurangan bersusun. Pada akhir setiap siklus, tes diberikan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Pendekatan pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes dengan delapan pertanyaan essai berdasarkan indikator yang ditetapkan pada pertemuan ketiga siklus I dan II. Peneliti menggunakan indikator menurut Gusmania & Agustyaningrum . , yakni: . menyatakan kembali sebuah konsep. menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi . menggunakan dan memilih prosedur atau tindakan tertentu. mengimplementasikan konsep dalam pemecahan masalah. Apabila langkah-langkah yang dilakukan melalui media realia terhadap pemahaman konsep dapat menghasilkan indikator keberhasilan, maka penelitian ini dianggap berhasil. Ketuntasan klasikal minimal 75% dari 22 siswa mencapai nilai Ou 66 dinyatakan berhasil dan tindakan untuk siklus berikutnya diberhentikan. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran matematika di kelas II SDN Galudra Sumedang, yaitu 66, digunakan untuk mengkategorikan data tentang seberapa baik pemahaman siswa terhadap konsep matematika. Tabel 1 mencantumkan kriteria yang digunakan untuk menilai seberapa baik pemahaman seseorang terhadap konsep matematika. Tabel 1. Kriteria Penilaian Ketuntasan Pemahaman Konsep Matematika (KKM) Nilai Pemahaman Konsep Matematika (KKM) Ou 66 < 66 Keterangan Tuntas Tidak Tuntas Selanjutnya, peneliti mengkualifikasikan dalam keberhasilan pembelajaran siswa seperti pada tabel 2. Tabel 2. Kualifikasi Penilaian Rentang Nilai 0-24,99 25-49,99 0-24,99 Kategori Tinggi Cukup Rendah Sangan Rendah Sumber: (Arikunto, 2013: . JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Hanah Ramli. Arrahim. Yudi Budianti Untuk menghitung ketuntasan klasikal dihitung melalui rumus: yaycycoycoycaEa ycycnycycyca ycycaycuyci ycycycuycycayc Tingkat keberhasilan = yaycycoycoycaEa ycycnycycyca ycoyceycyceycoycycycEaycaycu ycu 100% Hasil dan Pembahasan Sebanyak 22 siswa kelas II SDN Galudra Sumedang mengikuti penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing dengan dua sesi dan satu kali tes. Media realia dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap topik matematika, berdasarkan dua siklus yang telah dilaksanakan. Singkatnya, pemilihan materi pembelajaran yang tepat sangat penting karena tidak semua materi tepat untuk meningkatkan pemahaman ide matematika. Menurut Anitah . alam Arrahim & Muttolingah, 2. Media realia merupakan alat bantu nyata dalam pembelajaran yang berfungsi menyampaikan pengalaman secara langsung kepada siswa. Barang asli yang tetap dalam bentuk aslinya, utuh, hidup, fungsional, dan dapat dikenali sebagaimana adanya adalah contoh kualitas media realia . alam Muhtar Efendi, 2. Gambar 2. Media Realia Berdasarkan gambar 2. Media realia yang peneliti gunakan yakni terbuat dari kardus dan tutup botol. Peneliti menggunakan papan pintar sebagai media realia agar memudahkan siswa dalam memahami materi serta dapat meningkatkan pemahaman cara berhitung menggunakan benda kongkrit yang Media ini berkaitan dengan studi pengurangan bersusun dalam matematika. Empat komponen membentuk setiap siklus penelitian tindakan kelas. Tahapan-tahapannya adalah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pada tahap pertama, yang dikenal sebagai perencanaan, peneliti menggunakan media nyata untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), mengumpulkan instrumen penelitian, dan menyusun sumber belajar. Dengan demikian, peneliti membuat bahan ajar, buku kerja siswa (LKPD), dan penilaian ujian. Pada tahap pelaksanaan, siklus I dan II dilaksanakan 3 kali pertemuan yakni 2 pertemuan dan 1 kali tes, disetiap pertemuannya beralokasikan waktu 2 x 30 menit. Setelah itu, dilaksanakan penelitian dan diperoleh hasil tes siswa. Untuk langkah Ae langkah pada saat pengajaran berlangsung dilakukan dengan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti pada saat proses pembelajaran ini menerapkan papan pintar sebagai media realia, jadi guru tidak hanya menjelaskan saja berdasarkan buku, tetapi diberikan bentuk konkrit yang menuntun siswa dalam pemahaman materi pengurangan bersusun, dan siswa diberikan kesempatan untuk menggunakan media realia, setelah praktik menggunakan media, siswa diharuskan untuk mengerjakan lkpd yang diberikan oleh guru, kemudian kegiatan penutup. Adanya lkpd untuk memudahkan siswa memahami dan menerapkan konsep-konsep yang diajarkan (Gustin, 2. Serta menjadi tolak ukur dalam meningkatkan pemahaman konsep . alam Rohman & Syukri, 2. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Hanah Ramli. Arrahim. Yudi Budianti Pada tahap pengamatan, kegiatan ini dilakukan sekaligus melakukan tindakan. Selain itu, peneliti menggunakan tahap refleksi sebagai langkah terakhir dalam rangkaian langkah untuk mengevaluasi pemahaman siswa terhadap ide-ide matematika. Perubahan ke arah pemahaman siswa yang lebih baik terhadap ide-ide matematika di kelas matematika menggunakan papan pintar sebagai media realia selama proses pembelajaran merupakan indikator keberhasilan dalam penelitian ini. menggunakan kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk menilai tingkat keberhasilan siswa. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan. SDN Galudra Sumedang menggunakan 66. Jadi, siswa dinyataan berhasil jika memperoleh nilai Ou 66. Tabel 3. Presentase Ketuntasan Klasikal Siklus I Nilai Ou 66 < 66 Total Jumlah Siswa Presentase Berdasarkan pada tabel 3. Terlihat bahwa persentase ketuntasan klasikal siklus I menujukkan yang telah mencapai ketuntasan klasikal hanya 32% dengan jumlah 7 siswa, kemudian terungkap bahwa 15 siswa atau 68% dari total siswa belum mencapai tuntas secara klasikal. Hanya sebagian kecil siswa pada siklus I yang mampu memahami konsep pengurangan bersusun. Hal tersebut adanya beberapa kendala, seperti: Pada saat peneliti menjelaskan materi pengurangan bersusun menggunakan media realia peneliti belum bisa maksimal dalam mengkondisikan siswa masih ada siswa yang asyik sendiri dan mengobrol dengan temannya sehingga suasana kelas menjadi ramai dan kurang kondusif. Siswa masih malu-malu ketika peneliti meminta siswa maju ke depan untuk mencoba menggunakan media Realia, pada saat siswa menggunakan media Realia, angkat di tutup botol mudah menghilang sehingga proses pembelajaran kurang kondusif. siswa belum mampu mencapai indikator keberhasilan yakni 75% hal ini terlihat di siklus 1 hanya mencapai 32% dikarenakan siswa masih belum sepenuhnya mengerti tentang materi yang terdapat pada setiap indikator dan kurang tepat dalam memahaminya. Berdasarkan temuan penelitian siklus I dapat disimpulkan bahwa masih kurangnya pemahaman konsep matematika. Proses pembelajaran pada siklus I masih mempunyai kekurangan sehingga menyebabkan pemahaman konsep matematika belum maksimal. Gambar 3. Nilai Hasil Keseluruhan Pemahaman Konsep Matematika Siklus I Berdasarkan gambar 3, dapat diketahui bahwa nilai keseluruhan dari pemahaman konsep matematika yang diperoleh menunjukkan berada pada kategori cukup dengan nilai rata Ae rata pada siklus I yakni 72. Maka dari itu, perlu adanya perbaikan di siklus II karena nilai rata-rata belum mencapai minimal 75 pada kategori tinggi. Kemudian nilai tertinggi sebesar 90 yang siswa peroleh dapat dikategorikan tinggi dan nilai terendah sebesar 43 yang siswa peroleh dapat dikategorikan rendah. Kemudian dapat diamati bahwa hanya 7 siswa yang tuntas, sementara 15 siswa tidak tuntas sepenuhnya. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Hanah Ramli. Arrahim. Yudi Budianti Pada siklus I, tingkat penyelesaian klasikal mencapai 68%. Berdasarkan hasil temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa skor yang diperoleh pada siklus I terkait pemahaman konsep matematika belum sesuai dengan indikator keberhasilan yang diharapkan. Oleh karena itu, peneliti melanjutkan ke siklus Tabel 4. Presentase Ketuntasan Klasikal Siklus II Nilai Jumlah Siswa Presentase Ou 66 < 66 Total Berdasarkan tabel 4, menunjukkan bahwa proporsi siswa yang tuntas mengikuti pelajaran klasikal pada siklus II mengalami peningkatan. Siswa yang tuntas mengikuti pelajaran klasikal sebanyak 20 orang atau sebesar 91% dari total siswa, sedangkan siswa yang tidak tuntas mengikuti pelajaran klasikal hanya 2 orang atau sebesar 9%. Untuk presentase ketuntasan belajar klasikal siswa kelas II SDN Galudra Sumedang sudah mencapai indikator keberhasilan yaitu 75%. Gambar 3. Nilai Hasil Keseluruhan Pemahaman Konsep Matematika Siklus II Berdasarkan gambar 3. Dengan skor rata-rata 93 pada siklus II, terlihat bahwa tingkat umum pengetahuan konsep matematika yang dicapai termasuk dalam kategori tinggi. Pada siklus ini telah adanya perbaikan yang menyebabkan peningkatan kategori tinggi pada siklus ini. Hasilnya, skor terbaik siswa adalah 100 dapat dikategorikan tinggi, dan skor terendah mereka adalah 62 dapat dikategorikan Selain itu, terlihat bahwa hanya 2 siswa yang tidak tuntas, dibandingkan dengan 20 siswa yang 91% dari tingkat ketuntasan klasikal dicapai pada siklus II. Temuan ini mendukung kesimpulan bahwa hasil nilai pemahaman konsep matematika siklus II telah memenuhi indikator keberhasilan. KKM Ou 66 < 66 Tabel 5. Hasil Peningkatan Pemahaman Konsep Matematika Ketuntasan Siklus I Siklus II Belajar Jumlah Siswa Jumlah Siswa Tuntas Tidak Tuntas Berdasarkan tabel 5, menunjukkan hasil pemahaman konsep matematika dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan. Pada siklus I hanya tujuh siswa atau 32% dari jumlah siswa yang mampu mencapai nilai KKM. Namun, sebanyak 15 siswa atau 68% dari jumlah siswa tidak mampu mencapai nilai KKM. Sebanyak 20 siswa berhasil mencapai nilai KKM sebesar 91% yang menunjukkan adanya peningkatan pada siklus II. Persentase siswa yang tidak mencapai KKM hanya dua orang, yaitu 9%. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Hanah Ramli. Arrahim. Yudi Budianti Dengan demikian, sebanyak 20 siswa atau 91% dalam penelitian ini yang memperoleh nilai Ou66 telah mencapai ketuntasan klasikal. Berdasarkan hasil penelitian siklus I dan II, siswa kelas II SDN Galudra Sumedang dapat meningkatkan pemahaman materi matematika dengan menggunakan media realia. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada siswa kelas II SDN Galudra Sumedang, bahwa penggunaan media realia berdampak signifikan dalam meningkatkan pemahaman konsep matematika pada materi pengurangan bersusun. Penggunaan media realia meningkatkan pemahaman konsep siswa yang menjadikan siswa termotivasi dan terlibat dalam pembelajaran matematika. Bukan hanya itu, penggunaan media realia menjadikan proses pembelajaran lebih menarik dan menjadi lebih mudah di Hasil display ini menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal meningkat dari siklus I ke siklus II, yaitu dari 68% menjadi 91%. Temuan ini memperkuat hasil penelitian yang menyatakan bahwa penggunaan media realia dapat meningkatkan pemahaman materi matematika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil ketuntasan klasikal siklus II meningkat menjadi 91% yang dapat dikatakan telah mencapai KKM dan indikator keberhasilan yang ditetapkan sebesar 75%. Peningkatan ini disebabkan karena media pembelajaran realia memudahkan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakukan dengan menggunakan objek nyata dan konkrit untuk memberikan siswa pengalaman langsung dan membantu mereka menemukan konsep dalam pengurangan bersusun, yang mengarah pada pemahaman konsep matematika yang lebih baik. Daftar Pustaka