Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 MAKNA SIMBOLIS DAN NILAI SOSIAL AuPORSAAy DALAM UPACARA KEMATIAN SAYUR MATUA ADAT SIMALUNGUN DI KECAMATAN DOLOG MASAGAL DESA RAYA USANG Kristiani PurbaA. Rahmat Kartolo SilitongaA AUniversitas Simalungun. Pematangsiantar AUniversitas Simalungun. Pematangsiantar email: Akristianipurbatambak@gmail. Arahmatsilitonga231@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolis Porsa dalam upacara kematian Sayur Matua serta nilai sosial yang terkandung di Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara dengan tokoh adat, pengamatan langsung, pemuka masyarakat, dan keluarga yang pernah melaksanakan upacara ini, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Porsa memiliki makna simbolis sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum, lambang restu dan persatuan keluarga, serta manifestasi dari solidaritas sosial masyarakat Simalungun. Selain itu, nilai-nilai sosial seperti gotong royong, rasa hormat kepada leluhur, dan menjaga keharmonisan antar anggota masyarakat juga terkandung dalam pemakain Porsa dalam upacara kematian Sayur Matua. Penelitian ini menegaskan bahwa Porsa bukan sekadar tradisi dalam upacara kematian, tetapi juga merupakan cerminan dari sistem nilai dan norma sosial dalam masyarakat Simalungun. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi kajian budaya serta memberikan wawasan bagi generasi muda dalam memahami dan melestarikan tradisi adat Simalungun. Kata Kunci: Makna Simbolis. Porsa. Upacara Kematian. Sayur Matua. PENDAHULUAN Suku Simalungun memiliki kebudayaan yang banyak menghasilkan kesenian daerah dan upacara adat, dan hal tersebut masih dilakukan masyarakat simalungun sebagai upaya mensyukuri anugerah alam dan berkah yang diberikan Tuhan kepada mereka. Kesenian dan upacara adat Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 yang terdapat dalam masyarakat merupakan warisan leluhur yang turun temurun dari generasi ke generasi yang masih selalu dilakukan sampai Masyarakat simalungun memiliki jenis jenis tingkat kematian siregar . Aumatei manorus . ati bay. , matei dakdanak . ati anakana. , matei marlajar garama/anak boru . eninggal pada usia remaj. , matei garama/ anak boru . ati sudah melampaui masa remaja tetapi belum menika. , matei matua/matalpok . eninggalnya orang yang sudah menikah atau berumah tangga, jika salah satu suami atau istri meninggal dunia, maka statusnya disebut mabalu. Sebutan tersebut menggambarkan suatu kehidupan yang patah ditengah jala. , matei sari matua adalah meninggalnya suami atau istri yang sudah mempunyai anak, namun dari semua anaknya itu masih ada yang belum menikah anak yang belum menikah itu adalah beban, matei sayur matua adalah meninggalnya seseorang yang semua anaknya baik laki - laki maupun sudah berumah tangga atau menikah memperoleh cucu dan sudah dari sebagian atau semua anaknya. Orang yang meninggal sayur matua telah mengalami kehidupan yang sudah sempurna, matei layur matua adalah meninggalnya seseorang yang memiliki anak laki-laki dan perempuan, yang seluruh anaknya sudah menikah dan sudah memiliki cicit . ini atau non. Upacara adat kematian semakin sarat mendapat perlakuan adat apabila orang yang meninggal: . Telah berumah tangga namun anaknya belum ada yang berumah tangga . atei matalpo. Telah memiliki cucu, namun masih ada anaknya yang belum menikah . atei sari matu. Telah bercucu dari semua anak laki-laki dan anak perempuannya . atei sayur matu. Sinaga, (Purba, 2020 :. Dalam upacara Sayur Matua, salah satu elemen penting adalah AuPorsaAy. Porsa adalah kain putih yang diikatkan di kepala kaum laki-laki dalam upacara kematian Sayur Matua, melambangkan kesucian, kesedihan, dan penghormatan. Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Termasuk juga makna simbolis dan nilai sosial porsa pada upacara kematian sayur matua pada adat simalungun, pemakaian Porsa itu hanya dilakukan sebagai rutinitas pada upacara kematian sayur matua. Hal ini tentunya akan menjadi penyebab kekeliruan dalam pemahaman tentang penggunaan porsa. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti AuMakna simbolis dan Nilai Sosial AuPorsaAy Dalam Upacara Kematian Sayur Matua Adat Simalungun di Kecamatan Dolog Masagal Desa Raya Usang. Ay Sehingga kita bisa memahami kembali tentang makna simbolis dan nilai pada upacara kematian sayur matua adat simalungun terutama masyarakat Simalungun itu sendiri. Porsa memiliki sobol-simbol yaitu warna putih, ikatan, lipatan, dan yang mempunyai cap atau logo, ukuran tentunya untuk mengetahui makna simbolik porsa ini penelitian ini akan menggunakan pendekatan semiotik. TUJUAN PENELITIAN Dalam penelitian tentunya harus menentukan tujuan penelitian terebih dahulu. Sugiyono . 1: . menyatakan Aubahwa tujuan penelitian untuk menggambarkan, membuktikan, mengembangkan, menentukan untuk menciptakan sesuatuAy. Berdasarkan pemaparan di atas,maka yang akan menjadi tujuan penelitian antara lain : Mendeskripsikan makna simbolis penggunaan AuporsaAy . Menganalisis nilai-nilai sosial yang terkandung dalam penggunaan AuporsaAy. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yaitu suatu penelitian yang berupaya mencari kebenaran ilmiah dengan mempelajari secara mendalam dan dalam jangka waktu yang lama. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain- Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif. Tujuan penelitian kualitatif bersifat deskriptif yang menganalisis aktivitas sosial, fenomena peristiwa, sikap, pemikiran baik terhadap kelompok atau individu. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Hasil Penelitian Gambaran Umum Upacara Sayur Matua Adat Simalungun Adapun susunan acara upacara adat kematian sayur matua: . asil wawancara dengan tatangatur horja adat Simalungun dan Par Tuha Maujana Simalungun di desa Raya Usang, 2. Tahapan Pelaku Upacara Upacara Padahal Keluarga Tugah Ae berduka Riah tongah Keluarga (STM ) Patappei Pihak tondong Pahata Cucu laki Ae laki dari anak sulung ,keluarga tondong,dan Keterangan Keluarga inti menyampaikan berita duka kepada tondong pamupus dengan membawa demban tugah tugah ( sirih penyampai berita duk. , kain putih, dan jika laki-laki yang meninggal maka dibawa juga gotongnya, jika wanita yang meninggal dunia maka yang dibawa adalah bulang. Keluarga bermusyawarah dengan tondong, dan masyarakat sekampung/serikat tolong menolong (STM) tentang penentuan dimulainya acara adat. Pihak tondong patappei porsa pada keluarga yang berduka . ain putih yang diikat dikepal. yang memakai hanya khusus kaum laki -laki. Pemukulan gendang pertama dilakukan oleh cucu laki-laki dari anak sulung, saat itu juga penggual disunguhkan ayam sembelih . ayok nabinatu. Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 Mandinggur Mamukah Keluarga inti Acara keluarga inti Panggual Mandinguri Mangoromi Tondong . asuhuton Panggual membuka acara sebutan mamukah gondrang . emulai gonran. , dan memainkan dua gual sebagai tanda bahwa upacara telah Setelah itu pihak keluarga inti menari pada tanah yang disebut Pihak tondong diperbolehkan menari dan meminta gual yang diminta. Keluarga (STM) Keluarga Pamasuk Keluarga Hiou parpudi dan Keluarga Paragendao Keluarga tokoh agama Paturun Keluarga boru jabu Marbagi Tulang partadingan hagapup ginopar ni na marujung p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Acara mangoromi namatei ini dilakukan dengan tujuan menemani yang berduka menjaga jenazah sebelum dikebumikan. Proses memasukan jenazah kedalam peti mati . umah-ruma. dilakukan oleh keluarga yang berduka dan pihak tondong. Proses pemberian adat oleh pihak tondong yang pada kedatangannya membawakan tombuan sayur matua serta serta menghibur keluarga yang berduka karena ditinggal oleh orang tau tersebut. Proses acara oleh pihak tondong, yaitu memberikan hiou yang diberikan tondong kepada anak paling sulung almarhum. Setelah acara pemberian hiou parpudi itu selesai maka dilanjutkan acara manakih gondrang . enutup gendang ) Pemberkatan jenazah dan acara diambil alih oleh tokoh agama. Pihak tondong menurunkan sebagai tanda bahwa jenazah orang tua telah Membagiakan keturunan almarhum, sesuai porsi dan bagiannya masing-masing. Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 Panutup Tulang marujung goluh, pakon anak boru jabu i rumah ai p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Penutupan acara, dilakukan sebagai tanda bahwa sudah selesai semua acara untuk upacara adat sayur matua oleh semua pihak keluarga terutama tondong, sanina, anak boru jabu pakon boru i rumah ai. Salah satu elemen penting dalam upacara kematian sayur matua ini yaitu AuporsaAy. AuPorsaAy adalah kain putih yang diikatkan pada kepala. Tentunya porsa ini tidak hanya digunakan sebagai pelengkap saja namun memiliki makna simbolis dan nilai sosial. AuPorsaAy Dalam Upacara Sayur Matua Dalam tradisi masyarakat Simalungun, upacara Sayur Matua mengandung berbagai simbol dan ritual yang mencerminkan nilai sosial serta kebudayaan yang hidup dalam masyarakat. Salah satu elemen penting dalam upacara Sayur Matua adalah Porsa, yaitu kain putih yang dikenakan oleh kaum laki-laki dengan cara diikatkan pada kepala sebagai tanda duka cita sekaligus bentuk penghormatan kepada almarhum. Porsa bukan sekadar kain biasa, melainkan memiliki makna yang mendalam terkait hubungan kekerabatan serta penghormatan terhadap orang yang telah meninggal. Selain itu. Porsa juga mengandung nilai sosial yang tinggi di tengah masyarakat Simalungun. Menurut Bapak J. Sinaga . , seorang Par Tuha Maujana, secara umum warna putih pada Porsa melambangkan kesucian dan keikhlasan dalam melepas kepergian almarhum. Warna ini juga merepresentasikan duka cita yang mendalam dari pihak keluarga dan kerabat. Perbedaan ukuran Porsa pun memiliki makna tersendiri. Ukuran Porsa Sapar Gotongan . x 100 c. umumnya dikenakan oleh keluarga inti . , seperti anak-anak dan saudara kandung almarhum. Sementara itu. Porsa Sasapu Tangan . x 50 c. biasanya dikenakan oleh saudara jauh dan masyarakat setempat . Dengan demikian. Porsa juga merepresentasikan ikatan kekerabatan dalam upacara Sayur Matua. Patape Porsa . roses pemakaian pors. Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Patape Porsa merupakan salah satu prosesi penting dalam rangkaian upacara Sayur Matua dalam adat Simalungun. Proses ini merujuk pada pemakaian kain Porsa, yang diawali oleh pihak tulang . aman dari pihak ib. , kemudian diteruskan kepada Suhut Bolon atau keluarga inti dari almarhum. Sebelum proses pemakaian Porsa dilaksanakan, keluarga inti atau suhut terlebih dahulu melakukan prosesi manurduk demban marpiring kepada pihak tondong sebagai bentuk penghormatan dan permohonan Demban marpiring sendiri merupakan simbol penghormatan yang mengandung makna mendalam dalam budaya Simalungun. Dalam demban marpiring terdapat beberapa komponen yang harus dipersiapkan, antara lain delapan lembar daun sirih . yang dibagi rata, empat lembar di sisi kanan dan empat di sisi kiri. Daun sirih tersebut telah dilengkapi dengan atup . ang terdiri dari kapur sirih, gambir, dan pinan. , gambir adat, timbaho . , batu demban . atu khusus untuk menyimpan siri. , serta ditutup dengan daun bulung tinapak. (Sumber: Hasil wawancara dengan Bapak J. Saragih, 5 Februari 2. Makna dari demban marpiring atau yang juga disebut demban sayur adalah sebagai wujud rasa hormat kepada pihak tondong, yang berperan memberikan arahan dan nasihat adat kepada keluarga Setelah semua komponen demban marpiring lengkap, pihak keluarga inti . akan menyerahkannya kepada tondong sambil menyampaikan tuturan adat sebagai bentuk permohonan izin dan Tuturan yang disampaikan berbunyi: AuTulang, andon ma demban sayur nami, ase marporsa manasiam janah porsai nasiam ma homa hanami. Ay Tuturan ini mengandung makna bahwa pihak keluarga almarhum dengan penuh kerendahan hati memohon kepada tondong agar bersedia mengenakan Porsa sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap Prosesi ini tidak hanya bermakna simbolis, tetapi juga Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 memperkuat ikatan kekeluargaan dan nilai-nilai adat yang dijunjung tinggi dalam masyarakat Simalungun. Pembahasan Penelitian Makna Simbolis Porsa Dalam Upacara Sayur Matua Warna Putih - Kesucian dan Keikhlasan Warna putih pada AuporsaAy bukan hanya sekedar pemilihan estetis, tetapi memiliki makna filosofi yang mendalam dalam adat Simalungun putih sering dikaitkan dengan kepergian jiwa, kesucian, dan keikhlasan dalam berbagai tradisi, termasuk dalam upacara Kematian Sayur Matua. Dalam konteks ini, putih menjadi simbol bahwa almarhum telah mencapai akhir kehidupan penuh keberkahan dan kehormatan. Kesucian yang dimaksud dalam warna putih AuporsaAy juga mencerminkan harapan agar arwah almarhum dapat diterima di tempat yang baik. Dalam kepercayaan adat, warna putih melambangkan kebersihan spiritual, dimana jiwa seseorang akan kembali dalam keadaan kepada sang Pencipta. Oleh sebab itu, warna ini dipilih untuk menunjukan bahwa keluarga yang ditinggalkan mengiringi keluarga almarhum dengan doa yang tulus. Selain itu, putih juga melambangkan kedamaian dan ketenangan. Dalam prosesi adat, keluarga yang ditinggalkan diharapkan dapat menghadapi kepergian orang yang mereka cintai dengan ketenangan hati. Tidak ada ratapan yang berlebihan, melainkan penghormatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Kesimpulannya, warna putih pada masyarakat simalungun adalah simbol duka, dan memiliki makna yang sangat dalam, mulai dari kesucian,keikhlasan, pengingat kesederhanaan hidup. Ini bukan sekedar warna, melainkan representasi dari nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun dalam budaya Simalungun. Bentuk Ikatan di Kepala - Tanggung Jawab Dan Kebersamaan. Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Bentuk ikatan pada porsa juga melambangkan kekuatan dan Dalam Simalungun, seorang laki-laki diharapkan mampu menahan emosi dan tetap kuat dalam situasi berduka. Ikatan yang erat di kepala menjadi simbol bahwa mereka harus tetap teguh dan bersatu dalam menghadapi peristiwa itu dan juga harus kuat dan tangguh agar upacara adat tersebut dapat berjalan lancar. Ikatan porsa juga memiliki makna spiritual, yaitu menghubungkan yang hidup dengan yang sudah meninggal. Dalam pandangan adat kematian bukanlah perpisahan yang mutlak, melainkan perpisahan dari satu fase kehidupan ke fase berikutnya. Dengan mengikat porsa di kepala laki-laki dalam keluarga menunjukkan bahwa mereka masih terhubung dengan leluhur dan tetap menghormati keberadaan mereka. Kesimpulannya, bentuk ikatan pada porsa bukan hanya sekedar memakai kain, tetapi juga simbol dari tanggung jawab, kebersamaan, keteguhan hati, serta hubungan spiritual antara yang masih hidup dengan yang sudah meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa dalam adat Simalungun, setiap aspek upacara memiliki makna mendalam yang diwariskan secara turun temurun. Demban Marpiring - Rasa Hormat Demban marpiring ini diberikan sebagai rasa hormat, ucapan terimakasih, dan juga permohonan maaf, adapun isi dari demban marpiring ini yaitu, demban sayur nadob iatupi . erisikan kapur sirih, gambir, pinin. , timbaho, gambir adat, batu demban, dan ditutup dengan bulung tinapak. Adapan makna dari setiap simbol diatas yaitu: Demban sayur Ae simbol kehormatan demban . di dalam demban marpring memiliki jumlah genap bisa 6 dan dibagi rata untuk dibuat dibagian kiri dan kanan adapun makna dari tata letak sirih tersebut adalah keseimbangan. Demban sayur ini biasanya dilengkapi dengan bumbunya yaitu kapur sirih, gambir dan juga pinang adapun makna dari isian demban tersebut adalah Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 melambangkan persatuan dan keharmonisan antar keluarga. Demban sayur memiliki makna hormat dimana pada masyarakat simalungun sering disebut AuDemban do mulani sahap, sukkun do mulani uhumAy Adapun arti dari kutipan tersebut bahwa, ketika kita meminta sesuatu kepada orang dalam upacara adat maka kita harus menanya menggunakan sirih yang artinya kita menghormati orang kita tuju, dan melalui demban atau sirih itu kita bisa bertanya tentang aturan adat yang berlaku dan harus kita jalankan. Timbaho . dalam adat Simalungun diyakini sebagai obat yang dapat menyembuhkan penyakit gatal-gatal. Keberadaan timbaho ini bukan sekadar simbol, melainkan memiliki makna yang lebih Ketika kita mengajukan permohonan atau meminta bantuan kepada pihak tondong, timbaho ini berperan penting. Apabila kita telah melakukan kesalahan atau membuat pihak tondong merasa tersakiti, melalui timbaho ini, kesalahan tersebut dapat diperbaiki. Gambir adat dalam masyarakat Simalungun dikenal sebagai obat, tetapi dalam konteks upacara adat, gambir ini memiliki makna yang lebih dalam. Permukaan gambir adat berbeda dari gambir biasa, karena gambir adat memiliki permukaan yang rata dan berbentuk Bentuk ini melambangkan bahwa setiap kegiatan adat harus dilaksanakan dengan baik dan teratur. Selain itu, bentuk bulat gambir adat juga mengisyaratkan pentingnya kerjasama antar anggota keluarga dalam menyelesaikan kegiatan adat tersebut. Batu demban adalah isian dari demban sayur yang berbentuk uang batu demban ini adalah sebagai bentuk rasa hormat dimana ketika kita akan menjumpai orang tua tidak boleh dengan tangan kosong. Jumlah batu demban biasanya 6, 8, 12, 24 dan sampai seterusnya Bisanya batu demban untuk inang . lebih kecil daripada bapa . Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Bulung tinapak yaitu daun pisang yang dibentuk untuk menutupi demban marpiring adapun makna nya yaitu sebagai penutup yang melindungi isi piring, melambangkan perlindungan dan penghormatan. Hal ini mencerminkan nilai-nilai kebersihan dan kesucian dalam tradisi Simalungun, di mana demban . dianggap sebagai hal yang sakral, bentuk bulat dari bulung tinapak juga melambangkan kesatuan dan keharmonisan. Dalam budaya Simalungun, kesatuan keluarga dan komunitas sangat dihargai, dan penggunaan bulung tinapak dalam upacara adat mencerminkan pentingnya kerjasama dan saling menghormati di antara anggota masyarakat. Kain yang tidak berjahitan- keikhlasan dalam melepas almarhum Salah satu ciri khas porsa dalam adat Simalungun adalah kain yang tidak berjahitan. Hal ini tentunya memiliki makna simbolis yang mendalam, yaitu sebagai lambang keikhlasan dalam melepas kepergian almarhum. Kain tanpa jahitan ini melambangkan penerimaan bahwa kehidupan dan kematian adalah siklus alami yang harus diterima tanpa memodifikasi atau Dalam kepercayaan masyarakat Simalungun kain tanpa jahitan menggambarkan bahwa manusia akan kembali ke asalnya keadaan yang murni. Jahitan seringkali dikaitkan dengan modifikasi atau kesederhanaan dan keaslian. Ini mengingatkan bahwa setelah meninggal, manusia kembali kepada sang Pencipta dalam keadaan suci. Posisi porsa dikepala simbol kebijaksanaan dan kedewasaan. Posisi porsa yang diikat di kepala laki-laki dalam upacara Sayur Matua memiliki makna yang mendalam. Kepala adalah bagian tubuh yang melambangkan kebijaksanaan, sehingga kain yang dikenakan di sana menjadi simbol bahwa seseorang harus menggunakan pikirannya dengan baik dalam menghadapi kehilangan. Dalam adat Simalungun, kepala juga dianggap sebagai pusat kehormatan dan martabat seseorang. Dengan mengenakan porsa di Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 kepala, laki-laki dalam keluarga menunjukkan bahwa mereka menerima kepergian almarhum dengan penuh kebijaksanaan dan tidak larut dalam kesedihan yang berlebihan. Posisi kain ini juga melambangkan kedewasaan. Dalam kehidupan masyarakat Simalungun, seseorang dianggap dewasa ketika ia mampu mengendalikan emosi dan bertindak dengan bijak dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk kematian orang yang dicintai. Oleh karena itu, mengenakan porsa adalah bentuk perwujudan dari sikap dewasa dalam menjalani adat. Selain itu, kain di kepala juga dapat diartikan sebagai bentuk perlindungan spiritual. Dalam beberapa kepercayaan, kepala adalah Dengan mengenakan porsa, seseorang menunjukkan bahwa ia siap menghadapi duka dengan hati dan pikiran yang jernih. Di sisi lain, kain ini juga bisa diartikan sebagai tanda bahwa seseorang sedang menjalani fase transisi. Dalam upacara Sayur Matua, keluarga yang mengenakan porsa berada dalam masa berkabung, tetapi mereka juga sedang dalam proses menerima kenyataan dan melanjutkan Dalam menandakan bahwa seseorang telah siap menjalankan peran barunya dalam keluarga. Setelah kematian seorang anggota keluarga yang lebih tua, generasi berikutnya harus mengambil alih tanggung jawab dan meneruskan nilai-nilai leluhur. Kesimpulannya, kebijaksanaan, kedewasaan, tanggung jawab, penghormatan, serta kesiapan dalam menghadapi kehidupan setelah kehilangan. Ini adalah simbol yang kuat dalam adat Simalungun yang mengajarkan bahwa kematian harus diterima dengan pikiran yang jernih dan hati yang tabah. Porsa sebagai Lambang Perjalanan Roh ke Alam Baka Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Dalam adat Simalungun, porsa tidak hanya sekedar kain yang dikenakan oleh laki-laki saat upacara Sayur Matua, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Salah satu makna utamanya adalah sebagai lambang perjalanan roh almarhum menuju alam baka. Dalam kepercayaan tradisional, setiap orang yang meninggal akan melalui proses transisi dari dunia fana ke dunia roh, dan porsa menjadi simbol yang mengiringi perjalanan tersebut. Dalam perspektif adat, roh seseorang yang telah meninggal tidak langsung pergi begitu saja, tetapi memerlukan bimbingan dan doa dari keluarga yang ditinggalkan. Oleh karena itu, sejalan dengan hasil wawancara dengan J. Saragih, 5 februari 2025 yang yang menyatakan mengenakan porsa adalah bagian dari ritual penghormatan yang bertujuan untuk mendoakan agar perjalanan roh almarhum berlangsung dengan lancar dan diterima di tempat yang seharusnya. Kain putih porsa juga melambangkan kebersihan dan kesucian roh almarhum dalam perjalanan menuju alam baka. Sama seperti kain putih yang tidak berjahit, roh yang telah meninggalkan jasad juga diharapkan dapat kembali kepada Sang Pencipta dalam keadaan bersih, tanpa beban duniawi yang menghalangi perjalanannya. Selain itu, bentuk porsa yang melingkar di kepala laki-laki dalam upacara juga memiliki makna filosofis. Lingkaran dalam budaya Simalungun melambangkan siklus kehidupan, di mana manusia lahir, hidup, meninggal, dan kembali ke asalnya. Dengan mengenakan porsa, keluarga menunjukkan bahwa mereka memahami dan menerima siklus ini dengan ikhlas. Dalam kepercayaan adat, roh seseorang yang meninggal juga memiliki hubungan dengan leluhur yang telah mendahuluinya. Oleh karena itu, porsa juga menjadi simbol bahwa almarhum akan kembali bergabung dengan roh leluhur di alam baka. Ini menjadi pengingat bagi keluarga yang ditinggalkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan hanya perpindahan ke kehidupan yang baru. Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Selain aspek spiritual, porsa juga menjadi simbol penghormatan terakhir yang diberikan oleh keluarga kepada almarhum. Dengan mengenakan kain ini, laki-laki dalam keluarga menunjukkan bahwa menghormatinya dengan menjalankan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Penggunaan porsa juga mengajarkan bahwa manusia tidak boleh takut akan kematian, karena itu adalah bagian dari takdir yang harus Dengan mengikuti prosesi adat dengan tenang dan penuh penghormatan, keluarga menunjukkan bahwa mereka memahami dan menghormati perjalanan hidup yang telah dilalui oleh almarhum. Kesimpulannya, porsa dalam upacara Sayur Matua memiliki makna mendalam sebagai lambang perjalanan roh ke alam baka, penghormatan terakhir, kesucian, siklus kehidupan, hubungan dengan leluhur, serta pengingat bahwa kematian adalah bagian dari perjalanan manusia. Ini adalah salah satu simbol adat Simalungun yang mengajarkan tentang penerimaan, kebersamaan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi Utei mukur -air yang berisikan jeruk purut Dalam masyarakat simalungun penggunaan air yang berisikan jeruk purut adalah mengurus penyakit untuk membersihkan jiwa dari halhal buruk, sesuai dengan hasil wawancara dengan IP. Purba, 05 februari 2025 dengan menggunakan jeruk purut ini dalam pelepasan porsa adalah sebagai menguras dan membersihkan diri dari rasa sedih sehingga bersemangat untuk melanjutkan hidup. Dan untuk air jeruk purut yang diminum adalah sebagi obat untuk penyakit yang tidak terlihat di dalam kunyit dan bawang batak itu memiliki nilai obat untuk tubuh. Dayok Nabinatur Dayok nabinatur dideskripsikan dalam bahasa indonesia berarti ayam yang dimasak lalu disajikan dengan cara teratur. Dalam upacara Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 adat sayur matua dayok naiatur ini akan diberikan pihak tondong kepada suhut bolon sebagai tenaga baru untuk melanjutkan kehidupan berikutnya. Dayok nabinatur ini juga memiliki makna dimana dengan susunanya yang teratur maka orang yang memakannya diharapkan melanjutkan hidup yang teratur. Pembahasan makna yang terdapat dari simbol-simbol yang terdapat pada porsa dalam upacara kematian sayur matua adat Simalungun. Berdasarkan pendapat Dharmojo (Hamdani, 2. terdapat pada BAB II, simbol terbagi menjadi dua bentuk yaitu simbol verbal dan simbol nonverbal. Maka simbol yang terdapat pada porsa dalam upacara kematian sayur matua adat Simalungun, dikategorikan ke dalam simbol Nonverbal. Adapun Dharmojo (Hamdani, 2. Simbol nonverbal adalah sistem simbol yang berasal dari komponen- komponen selain komponen verbal yang berupa bahasa yang dipergunakan sebagai mengemukakan bahwa simbol nonverbal meliputi fisik, tindakan dan latar. ritual acara Porsa dalam upacara kematian sayur matua termasuk ke dalam simbol nonverbal fisik, tindakan dan latar. Berikut ini simbol Ae simbol yang terdapat pada posesei penggunaan dan pelepasan porsa. Kategori Benda Bentuk Porsa Sapar Gotongan Porsa Markopala Demban Marpiring Makan Simbol kesucian, penghormatan, dan ikatan kekerabatan dalam duka cita. Digunakan oleh keluarga inti . , menunjukkan kedekatan dengan almarhum. Dipakai oleh saudara jauh dan . , menunjukkan hubungan yang lebih jauh. Dipakaikan pada anak laki-laki sulung dan tulang pamupus kepemilikan dan tanggung jawab kepada almarhum. Persembahan berupa sirih di dalam piring yang diberikan kepada tondong, melambangkan Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Jeruk Purut (Utei Muku. Dibagi dua ada yang membasuh wajah dan ada juga untuk diminum Dayok nabinatur Komunik asi verbal Tuturan saat Patape Porsa - AuTulang, andon ma demban sayur nami, ase marporsa manasiam amma ho ma hanamiAy Tuturan Pihak Tondong saat Memasang Porsa AuAndon marporsama ho, ase ulang mirdong tongon simanjujungmuAy Tuturan saat Parturun Porsa - AuOn ma demban nami tulang, mardemban ma nasiam, ase buka nasiam porsa nami onAy Tuturan Pihak Tondong saat Pelepasan Porsa AuDoma horjata sadarion, aima horja sayur matuani orang tua nasimAy Ikatan pada porsa Lipatan keluar Tuturan Penutup Jeruk purut yang digunakan untuk membasuh wajah setelah pelepasan Porsa, melambangkan penyucian dan peralihan dari duka ke kehidupan normal. Jeruk purut yang diminum memiliki makna sebagai obat atau obat untuk penyakit dalam atau penyakit yang tidak terlihat pada tubuh. Simbol tenaga baru dan patokan kehidupan dengan ayam yang di masak lalu disajikan dengan susunan yang teratur, yang artinya siapapun yang menerima dengan teratur. Permohonan keluarga kepada Porsa penghormatan terakhir kepada Pesan laki-laki Porsa menjalankan tanggung jawabnya. Permohonan kepada tondong agar bersedia membuka Porsa sebagai simbol berakhirnya masa duka mendalam. Menyatakan bahwa tugas adat telah selesai, dan anak-anak harus siap melanjutkan tanggung jawab orang tua. Melambangakan kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab pada upacara kematian sayur Lipatan keluar pada pemakain porsa melambangkan tidak ada lagi tanggungb jawab duniawi yang tidak terselesaikan. - Menyampaikan agar keluarga Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 Komunik l fisik Komunik Nonverba Tindakan Komunik Nonverba l Latar p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 AuDoma tongon salosei, tidak terus larut dalam kesedihan. domma i taruhkon hita orang tua ta ai hu Ay Pemasangan Porsa oleh Tindakan menghormati adat dan Tondong Pamupus kekerabatan yang erat. Pelepasan Porsa oleh Simbol bahwa tanggung jawab Tondong dalam upacara kematian sayur matua orang tua yang telah meninggal dunia telah selesai dan masa berkabung telah berakhir. Pembasuhan Wajah Melambangkan pembersihan diri dengan Jeruk Purut dan dan penyucian sebelum kembali Meminum air jeruk purut menjalani kehidupan setelah Meminum air jeruk purut sebagai didalam tubuh. Pengeringan Wajah oleh Tindakan kasih sayang dan Tondong dukungan moral agar keluarga tetap kuat. Manurduk Demban Simbol permohonan restu dan Marpiring (Menyerahkan penghormatan sirih kepada tondon. kepada tondong. Pelepasan Porsa Proses Berurutan (Dimulai dari menunjukkan penghormatan adat tondong hingga anak- dan anak almarhu. Pemilihan Warna Putih Warna (Pada Porsa dan kesucian. Pinggan Puti. kepergian almarhum. Lokasi Ritual Menunjukkan (Dilaksanakan di rumah kehidupan ke kematian, serta dari duka dan kemudian di masa duka menuju kehidupan Susunan Keluarga Menunjukkan hierarki dan peran dalam Prosesi (Tondong adat sanina, boru,anak boru terakhir kepada almarhum. Nilai sosial porsa dalam upacara sayur matua adat Simalungun Dalam upacara sayur matua adat simalungun. AuporsaAy . ain putih yang diikatkan pada kepala kaum laki-laki memiliki nilai sosial yang mendalam Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 sesuai hasil penelitian mka dapat dijabarkan nilai sosial yang terkandung dalam porsa tersebut: Identitas dan status sosial Porsa memiliki simbol identitas pada masyarakat simalungun, yang dimana yang menggunakan porsa hanyalah masyarakat simalungun. Kain Putih yang diikatkan pada kepala ini hanya digunakan laki-laki hal ini laki-laki adalah Penggunaan porsa ini juga dapat memperlihatkan identitas dan status sosial dimana akan anak sulung akan menggunakan porsa namarkopala . bersamaan dengan tondong pamupus yang paling sulung juga akan mengenakan porsa namarkola, dan keluarga inti lainnya akan menggunakan porsa dengan ukuran sapar gotongan , tetap kerabat jauh atau sikuta . setempat akan menggunakan porsa yang berukuran sasaputangan. Lebih dari sekedar tanda pengenal, porsa juga memperlihatkan hubungan kekeluargaan yang erat dalam masyarakat Simalungun. Tradisi komunitasnya, terutama dalam momen -momen penting serti pada upacara kematian sayur matua. Dengan memakai porsa, seseorang menunjukan bahwa ia terlibat dalam prosesi adat dan siap untuk menjalankan tanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai yang diwariskan. Kesakralan dan kesucian Warna putih pada porsa bukanlah kebetulan, melainkan memiliki makna mendalam dalam adat simalungun. Putih sering dikaitkan dengan kesucian, kebersihan hati dan ketulusan dalam berbagi budaya, termasuk dalam tradisi Simalungun. Dalam kontek upacra kematian, warna putih ini melambngkan penghormatan terakhir yang diberikan kepada almarhum, sekaligus menandakan bahwa prosesi ini merupakan peristiwa sakral yang harus dilakukan penuh ketulusan. Pemakain porsa juga mencerminkan kesadaran bahwa kematian bukan hanya peristiwa fisik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual. Dalam Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 kepercayaan adat, roh almarhum harus dihormati dan dikembalikan ke tempatnya dengan cara yang benar sesuai dengan tradisi . memakai porsa ini, laki-laki dalam keluarga menunjukan bahwa mereka dalam suasana berkabung yang penuh makna dan siap melaksanakan ritual dengan penuh penghormatan. Kesakralan porsa masyarakat tentang nilai-nilai kebijakan dalam kehidupan . dalam adat simalungun , kematian adalah momentum untuk merenungkan kehidupan, hubungan dengan sesama dan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Porsa sebagai simbol kesucian mengajarkan bahwa setiap orang harus menjalani hidup dengan baik agar kelak dapat dikenang penghormatan yang sama oleh generasi berikutnya. Tanggung jawab sosial Dalam masyarakat Simalungun, kematian tidak hanya urusan keluarga inti, tetapi juga melibatkan seluruh komunitas adat. Dimana masyarakat setempat akan mengambil adil perannya masing-masing, nilai ini menerapkan pentingnya gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan dalam budaya Simalungun. Kebersamaan dan solidaritas Penggunaan porsa dalam upacara kematian sayur matua juga Simalungun. Ketika penggunaan porsa ini dilakukan yang memakai bukan hanya keluarga inti saja tetapi semua kamu laki-laki yang datang pada upacara kematian sayur matua itu. Yang berarti menandakan bahwa semua yang hadir merasakan duka atas kepergian almarhum tersebut. Rasa kebersamaan ini tidak hanya terlibat dalam simbol pemakain berlangsung, biasanya di desa Raya Usang orang yang menggunakan porsa terutama keluarga inti, kerabat terdekat dan masyarakat setempat akan bekerja sama dalam mengurus semua keperluan upacara, mulai dari persiapan tempat, konsumsi, hingga pengaturan tamu yang datang Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Dengan adanya kerja sama ini beban yang dirasakan keluarga akan menjadi ringan. Warisan Budaya Penggunaan porsa juga berperan sebagai salah satu cara untuk warisan budaya Simalungun. turun-temurun Tradisi ini telah Simalungun. Dengan tetap menggunakan porsa dalam upacara kematian sari matua, sayur matua, dan layur matua. Generasi saat ini melestarikan adat dan menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya masih dihormati di tengah perubahan Zaman. Sebagai simbol budaya, porsa juga mengajarkan generasi muda tentang pentingnya memahami dan menghargai adat istiadat leluhur. Dalam masyarakat modern, banyak tradisi yang mulai ditinggalkan karena pengaruh globalisasi dan perubahan gaya hidup. Namun dengan Simalungun memastikan bahwa akar budaya mereka tetap kuat dan tidak hilang ditelan waktu. Warisan budaya porsa dalam upacara kematian sayur matua adat simalungun ini juga mencerminkan kearifan lokal dalam menghadapi hidup dan kematian. Dalam adat simalungun , kematian bukan hanya akhir dari kehidupan, tetapi juga bagian dari siklus yang harus diterima dengan penghormatan dan kebijaksanaan. AuPorsaAy sebagai bagian dari upacara kematian sayur matua menjadi pengingat bahwa budaya bukan hanya tentang kebiasaan, tetapi juga tentang nilai-nilai yang mengikat sebuah komunitas dalam kebersamaan dalam upacara adat termasuk juga upacara kematian sayur matua. Dengan pemaparan ini , terlihat jelas bahwa bukan hanya sekedar kain putih yang diikatkan di kepala, tetapi memiliki makna sosial yang Ia menjadi simbol identitas, kesakralan, tanggung jawab sosial, dan warisan budaya yang terus dilestarikan. Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 KESIMPULAN Dalam upacara Sayur Matua adat Simalungun, "porsa" . ain putih yang diikatkan pada kepala kaum laki-lak. memiliki makna simbolis dan nilai sosial yang mendalam. Pertama, porsa berfungsi sebagai simbol identitas dan status sosial, di mana hanya laki-laki yang mengenakannya, melambangkan peran mereka sebagai kepala keluarga. Penggunaan menunjukkan bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam komunitas, terutama dalam momen-momen penting seperti upacara Warna putih pada porsa melambangkan kesakralan dan kesucian, yang menunjukkan penghormatan terakhir kepada almarhum dan Porsa masyarakat untuk merenungkan kehidupan dan hubungan dengan sesama serta Tuhan, mengajarkan bahwa setiap orang harus menjalani hidup dengan baik agar dikenang dengan penghormatan oleh generasi Porsa juga berperan sebagai warisan budaya yang penting, melestarikan tradisi Simalungun yang telah berlangsung turun-temurun. Dengan tetap menggunakan porsa dalam upacara, generasi saat ini menunjukkan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya di tengah perubahan zaman. Porsa mengajarkan generasi muda untuk memahami dan menghargai adat istiadat leluhur, memastikan bahwa akar budaya tetap kuat dan tidak hilang. DAFTAR PUSTAKA