Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi https://journal. id/index. php/ABDIKAN ISSN 2828-4526 (Media Onlin. | ISSN 2828-450X (Media Ceta. Vol. 4 No. 2 (Mei 2. 176-183 DOI: 10. 55123/abdikan. Submitted: 01-04-2025 | Accepted: 30-04-2025 | Published: 20-05-2025 Peningkatan Perilaku Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui Intervensi Edukasi di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar Alfiyaturrahmi1*. Anwar Arbi2. Riza Septiani3 Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Muhammadiyah Aceh. Banda Aceh. Indonesia Email: 1*alfiyaturrahmi9@gmail. com, 2anwar68arbi@gmail. com, 3riza. septiani@unmuha. 1,2,3 Abstract Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by infection with the DEN-1. DEN-2. DEN-3, or DEN-4 viruses transmitted through the bite of the Aedes aegypti mosquito. This activity aims to see the increase in dengue fever (DHF) prevention behavior through educational interventions in Gampong Dayah Mamplam. Leupung District. Aceh Besar. This activity uses a quantitative method with a cross-sectional design which was carried out from April 29 to May 5, 2024 in Gampong Dayah Mamplam. Leupung District. Aceh Besar. The population was 217 families with a sample size of 70 Data analysis used the chi-square statistical test. The results showed that 46 female respondents . 6%) and 40 respondents aged 20-35 years . 8%). The results of the univariate analysis showed that the largest percentage of prevention behavior was not doing as many as 44 respondents . 9%). The results of the bivariate analysis showed a relationship between knowledge p-value . attitude p-value . , education p-value . , work p-value . , the role of health workers pvalue . and family support p-value . with dengue fever (DHF) prevention behavior in Gampong Dayah Mamplam. Leupung District. Aceh Besar in 2024. The independent variables in this activity have a relationship with DHF prevention behavior. Suggestions are expected that Puskesmas officers and cadres can improve health education regarding DHF and its prevention so that the community can be more positive and act better. It is hoped that the community can independently become mosquito larvae control agents in their own homes. Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever. Preventive Behavior. Family Support. Knowledge. Education. Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus DEN1. DEN-2. DEN-3, atau DEN-4 yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat peningkatan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD) melalui intervensi edukasi di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar. Kegiatan ini dengan metode kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilakukan 29 April - 5 Mei 2024 di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar. Populasi berjumlah 217 KK dengan jumlah sampel 70 responden. Analisis data menggunakan uji statistic chi-square. Hasil kegiatan menunjukkan responden berjenis kelamin perempuan sebesar 46 orang . 6%) dan usia responden 20-35 tahun sebanyak 40 orang . 8 %). Hasil analisis univariat menunjukkan persentase terbesar perilaku pencegahan yaitu tidak melakukan sebanyak 44 responden . 9 %). Hasil analisis bivariat ada hubungan antara pengetahuan pvalue . , sikap p-value . , pendidikan p-value . , pekerjaan p-value . , peran petugas kesehatan p-value . dan dukungan keluarga p-value . dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar tahun Saran diharapkan petugas Puskesmas dan kader dapat meningkatkan edukasi Kesehatan mengenai DBD dan pencegahannya sehingga masyarakat dapat bersikap lebih positif dan bertindak lebih baik. Diharapkan masyarakat secara mandiri dapat menjadi jumantik di rumah sendiri. Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue. Perilaku Pencegahan. Dukungan Keluarga. Pengetahuan. Pendidikan. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Alfiyaturrahmi1. Anwar Arbi2. Riza Septiani3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 176 Ae 183 PENDAHULUAN Demam Berdarah merupakan penyakit menular berbahaya yang dapat menyebabkan kematian. Dalam waktu yang relatif singkat, demam berdarah dapat merenggut nyawa penderitanya jika tidak segera diobati (Garc\Ao\ia et al. , 2. Demam Berdarah merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus DEN-1. DEN-2. DEN-3, atau DEN-4 yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang terinfeksi virus dengue dari penderita demam berdarah lainnya (Widiyaning et al. , 2. Menurut data World Health Organization (WHO) Insiden DBD meningkat secara signifikan di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir. Dari total kasus DBD yang dilaporkan ke WHO hingga 30 April 2024 yaitu lebih dari 7,6 juta kasus, 3,4 juta kasus terkonfirmasi laboratorium. Lebih dari 16. tergolong demam berdarah berat dan Lebih dari 3. 000 kematian (WHO, 2. Secara nasional di Indonesia pada tahun 2021 terdapat 73. 518 kasus dengan jumlah kematian 705, tahun 2022 terdapat 143. 266 kasus dengan jumlah kematian 1. 237 orang, pada tahun 2023 terdapat 114. kasus dengan jumlah kematian 894 orang dan pada minggu ke-17 tahun 2024, tercatat 88. 593 kasus DBD dan 621 kematian. Penderita DBD tertinggi berada di provinsi Jawa Barat. Jawa Timur, dan Jawa Tengah, sedangkan provinsi Aceh menduduki peringkat ke 19 (Kemenkes RI, 2. Insiden DBD di Provinsi Aceh pada tahun 2020 terdeteksi 891 kasus DBD dengan 1 kematian. Jumlah tersebut meningkat pada tahun 2021 yaitu 366 kasus dengan 7 kematian. Sepanjang tahun 2022, terdapat 232 kasus DBD ditemukan di Aceh (Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Besar, 2. Dari jumlah tersebut paling banyak terdapat kasus di Kabupaten Bireuen dengan 207 kasus. Kabupaten Pidie dengan 176 kasus. Aceh Besar 154 kasus dan Banda Aceh 152 kasus. Di Kabupaten Aceh Besar jumlah penderita DBD pada tahun 2020 terdapat 71 kasus, pada tahun 2021 terdapat 30 kasus. kasus DBD mengalami peningkatan pada tahun 2022 yaitu sebanyak 296 kasus. (Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. Berdasarkan data DBD Puskesmas Leupung Kabupaten Aceh Besar menunjukkan bahwa jumlah penderita DBD mengalami peningkatan pada tahun 2023 yaitu terdapat 12 kasus DBD dengan kasus tertinggi berada di Gampong Dayah Mamplam yaitu 10 kasus, sedangkan kasus terendah berada di gampong Lamseunia yaitu 1 kasus. Tingginya kejadian penyakit DBD ini disebabkan oleh perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan Kurangnya pengetahuan masyarakat terutama tentang pencegahan DBD menjadi salah satu penyebab banyak masyarakat yang penderita DBD. Penyebaran DBD terkait dengan perilaku masyarakat yang erat kaitannya dengan pola hidup bersih dan kesadaran akan bahaya DBD. Faktor lainnya adalah kurangnya pengetahuan, sikap dan tindakan menjaga kebersihan lingkungan (Asmar et al. , 2. Perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan tentang pengelolaan lingkungan dan kebersihan lingkungan yang bersih dan sehat. Sebagian besar angka kematian DBD kemungkinan disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat terutama orang tua terhadap gejala DBD (N. Dewi & Azam, 2. , (T. Dewi et al. , 2. Dalam bidang kesehatan di Indonesia, termasuk di Provinsi provisni Aceh, penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah besar. Jumlah kasus DBD yang meningkat setiap tahun menunjukkan bahwa strategi pencegahan dan pengendalian masih kurang efektif. Di antara daerah lain seperti di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar, daerah ini memiliki jumlah kasus tertinggi, menurut data Puskesmas Leupung. Mayoritas masyarakat belum sepenuhnya menyadari pentingnya pencegahan dan penanganan dini DBD. Di sisi lain, sistem pengelolaan epidemiologi dan surveilans DBD belum sepenuhnya terintegrasi, yang membuat deteksi dini dan intervensi tepat waktu menjadi sulit. Faktor lain yang berkontribusi pada penyebaran nyamuk Aedes aegypti, penyebab virus dengue, adalah perubahan iklim dan kondisi lingkungan yang tidak stabil. Semakin menurunnya kesadaran masyarakat akan akan pencegahan menjadi kendala utama dalam pengendalian DBD seperti kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah yang kurang memadai, dan pendidikan tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan adanya permasalahan tersebut penulis tertarik untuk melakukan kajian tentang Peningkatan Perilaku Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) Melalui Intervensi Edukasi di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Alfiyaturrahmi1. Anwar Arbi2. Riza Septiani3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 176 Ae 183 PELAKSAAN DAN METODE Kegiatan ini bersifat kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilakukan 29 April - 5 Mei 2024 di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar. Populasi berjumlah 217 KK dengan jumlah sampel yaitu 70 responden. Tehnik pengumpulan sampel menggunakan simple random sampling dan pengambilan sampel menggunakan rumus slovin. Sampel diambil di Dusun yaitu Baroh Lhok. Dayah Baroh. Padang Ru dan Mideun dan diambil secara proporsional. Analisis data menggunakan uji statistic chi-square. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis deskriptif dilakukan untuk melihat karakteristik responden dan besar masalah pada tiap-tiap variabel baik independen maupun variabel dependen, hasil analisis di sajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase sebagaimana tabel 1. Kemudian pada tabel 2 menjelaskan hubungan antar variabel independen dengan variabel independen, pada analisis ini juga ditampilkan hasil uji statistik sebagai dasar pengambilan kesimpulan dan menjawab tujuan kegiatan Tabel 1. Analisis Deskriptif Variabel Frekuensi Persentase (%) Baik Kurang baik Positif Negatif Tinggi Menengah Bekerja Tidak Bekerja Berperan Tidak berperan Mendukung Tidak mendukung Melakukan Tidak Melakukan Total Pengetahuan Sikap Pendidikan Pekerajaan Peran Petugas Kesehatan Dukungan Keluarga Perilaku Pencegahan Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa dari 70 responden di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung persentase tertinggi berada pada kategori pengetahuan baik . 9 %), sikap positif . 4 %), pendidikan menengah . 4 %), memiliki pekerjaan . 3 %), petugas Kesehatan tidak berperan . 7 %) dan Dukungan Keluarga yang mendukung yaitu . 0 %). Persentase terbesar perilaku pencegahan tidak melakukan yaitu sebanyak 44 responden . 9 %), sedangkan yang melakukan pencegahan sebesar 26 responden . 1 %). Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Alfiyaturrahmi1. Anwar Arbi2. Riza Septiani3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 176 Ae 183 Variabel Pengetahuan Baik Kurang baik Sikap Positif Negatif Pendidikan Tinggi Menengah Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Peran Petugas Kesehatan Berperan Tidak berperan Dukungan keluarga Mendukung Tidak mendukung Tabel 2. Analisis Bivariat Perilaku pencegahan Melakukan Tidak Melakukan 0,000 0,010 0,047 0,046 0,001 0,041 p-value Total Berdasarkan tabel 2 pada variabel pengetahuan diperoleh nilai p-value 0,000 < 0,05 berarti ada hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD). Pada variabel sikap diperoleh nilai p-value 0,010 < 0,05 berarti ada hubungan sikap dengan dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD). Pada variabel pendidikan menunjukkan p-value 0,047 < 0,05 berarti ada hubungan pendidikan dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD). Pada variabel pekerjaan p-value 0,046 < 0,05 berarti ada hubungan pekerjaan dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD). Variabel peran petugas kesehatan p-value 0,001 dan variabel dukungan keluarga p-value 0,041 dapat disimpulkan ada hubungan peran petugas kesehatan dan dukungan keluarga dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar Pembahasan Hubungan Pengetahuan masyarakat dengan perilaku pencegahan DBD Analisis univariat menunjukkan 47,1% responden memiliki pengetahuan kurang. Kemudian analisis baviariat diperoleh mayoritas responden yang melakukan pencegahan memiliki pengetahuan baik 5% lebih tinggi dibandingkan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik sebesar Berdasarkan karakteristik responden bahwa Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 65. 7 % dengan usia 20-35 tahun dan sebagian besar responden berasal dari dusun Mideun. Hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square di peroleh nilai p-value 0,000 < 0,05 berarti (H. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan masyarakat dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar. Mendukung hasil sebelumnya yang menyimpulkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pencegahan DBD (Nurkhasanah. Sitorus, dan Listiono 2021. Lontoh, 2016 dan Wirna dan Nursia, 2. Dari hasil kegiatan dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik berpeluang untuk dilakukannya upaya pencegahan DBD dengan baik dibandingkan responden yang mempunyai pengetahuan kurang baik. Semakin baik pengetahuan responden maka semakin baik pula perilaku pencegahan yang dilakukan oleh responden tersebut. Namun demikian meskipun berpengetahuan baik terdapat 40. 5% responden tidak melakukan pencegahan dengan baik, hal ini dapat dipengaruhi oleh sikap yang negatif. Pengetahuan seseorang seringkali diperoleh dari pengalaman dan dari berbagai sumber, misalnya dari media massa, media elektronik, buku pelajaran, tenaga medis, poster, kerabat, dan lain-lain. Semakin banyak media yang memberitakan penyakit demam berdarah, membantu masyarakat menjadi lebih sadar akan bahaya demam berdarah dan cara mencegahnya (Lastini Asmar et al. , 2. Penelitian lainnya menyebutkan tidak ada hubungan pengetahuan dengan perilaku perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD) (Anggaini et al. , 2. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Alfiyaturrahmi1. Anwar Arbi2. Riza Septiani3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 176 Ae 183 Hubungan sikap masyarakat dengan perilaku pencegahan DBD Analisis univariat menunjukkan 38,6% responden memiliki sikap negatif. Kemudian analisis bivariat diketahui bahwa mayoritas responden yang melakukan pencegahan lebih tinggi memiliki sikap positif 8 % dibandingkan yang memiliki sikap negatif sebesar 18. Berdasarkan karakteristik responden bahwa Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 65. 7 % dengan usia 20-35 tahun dan sebagian besar responden berasal dari dusun Baroh Lhok. Hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square di peroleh nilai p-value 0,010 < 0,05 berarti (H. Mendukung temuan sebelumnya yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan sikap masyarakat dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD) (Asmar et al. , 2. dan (Dwi et al. , 2. Pendapatan lainnya menyebutkan tidak ada hubungan sikap dengan perilaku perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD) (Anggaini et al. , 2. Dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa sikap mempengaruhi perilaku perilaku dalam upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar. Responden yang memiliki sikap positif berpeluang untuk dilakukannya upaya pencegahan DBD dengan baik dibandingkan responden yang mempunyai sikap negatif. Semakin positif sikap responden maka semakin baik pula perilaku pencegahan yang dilakukan oleh responden tersebut. Sikap bukanlah reaksi atau tindakan yang terang-terangan, melainkan sekedar tindakan atau kecenderungan untuk bertindak. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa perilaku belum tentu mencerminkan sikap seseorang karena sikap tidak sama dengan perilaku dan sering kali orang menunjukkan perilaku dan perilaku yang tidak sesuai dengan sikapnya. Tentu saja, meskipun mempunyai sikap positif, tidak ada yang akan berubah kecuali hal itu diwujudkan dalam tindakan. Oleh karena itu, intervensi masyarakat untuk pencegahan demam berdarah mungkin tidak sejalan dengan sikap masyarakat (Pantouw et al. , 2. Hubungan pendidikan masyarakat dengan perilaku pencegahan DBD Analisis univariat menunjukkan 71,4% responden dengan pendidikan menengah. Hasil analisis bivariat diketahui mayoritas responden yang melakukan pencegahan Sebagian besar memiliki pendidikan tinggi 0 % dibandingkan yang memiliki pendidikan menengah sebesar 30. 0 %. Hasil uji statistik di peroleh nilai p-value 0,047 < 0,05 berarti (H. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan pendidikan masyarakat dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar. Peneliti menyimpulkan bahwa responden yang memiliki Pendidikan tinggi berpeluang untuk dilakukannya upaya pencegahan DBD dengan baik dibandingkan responden yang mempunyai Pendidikan menengah. Pendidikan merupakan bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaan nya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidup nya sendiri tidak dengan bantuan orang lain (Sari et al. , 2. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian (Monintja, 2. yang menyatakan ada hubungan pendidikan tindakan PSN DBD masyarakat Kelurahan Malalayang I Kecamatan Malalayang Kota Manado. Namun temuan ini bertolak belakang denga riset sebelumnya yang menyebutkan bahwa pendidikan tidak berhubungan dengan praktik PSN-DBD (N. Dewi & Azam, 2. Tinggi dan rendahnya pendidikan bukanlah jaminan untuk berperilaku sebagaimana yang diharapkan. Walaupun terdapat responden memiliki riwayat pendidikan yang rendah tetapi mampu melakukan praktik PSN-DBD dengan baik, hal ini mungkin karena sebagian besar responden adalah ibu rumah tangga yang mempunyai kebiasaan yang baik dalam menjaga kesersihan lingkungan rumahnya serta tanggap dalam masalah kesehatan keluarganya. Begitupun dengan responden yang memiliki tingkat pendidikan tinggi tetapi perilaku pencegahan DBD tidak dilakukan dengan baik, hal ini dapat disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat tersebut untuk menerapkan pesan-pesan kesehatan dalam upaya mencegah dan memberantas sarang nyamuk meskipun mereka yang berpendidikan tinggi tersebut mampu menyerap dan memahami informasi-informasi kesheatan yang diterimanya. Hubungan pekerjaan masyarakat dengan perilaku pencegahan DBD Mayoritas pekerjaan responden dengan kategori 54. 3% bekerja. Responden yang melakukan pencegahan memiliki pekerjaan yaitu sebesar 47. 4 % dibandingkan yang tidak bekerja sebesar 25. 0 % sedangkan responden yang tidak melakukan pencegahan sebagaian besar tidak bekerja yaitu 75. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Alfiyaturrahmi1. Anwar Arbi2. Riza Septiani3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 176 Ae 183 dibandingkan responden yang bekerja sebesar 52. 6 %. Hasil uji statistik di peroleh nilai p-value 0,046 < 0,05 berarti (H. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan pekerjaan masyarakat dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar. Masyarakat yang tidak bekerja berpeluang untuk dilakukannya upaya pencegahan DBD dengan baik dibandingkan masyarakat yang bekerja. Hasil kegiatian ini mendukung temuan sebelumnya yang menyebutkan bahwa ada hubungan pekerjaan dengan tindakan PSN DBD dilakukan oleh (N. Dewi & Azam, 2. dan (Hasyim, 2. Pekerjaan yang dilakukan secara rutin oleh seseorang baik itu menghasilkan uang secara langsung sebagai upah atas kerjanya atau merupakan tugas keseharian dalam rumah tangga masih mempunyai banyak waktu luang yang tentunya mempunyai cukup kesempatan dan tenaga untuk memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar rumah dibandingkan dengan yang tidak bekerja (Saputri et al. , 2. Dari hasil kegiatan ini diperoleh responden yang tidak bekerja memiliki perilaku PSN DBD yang baik, hal ini disebabkan kemungkinan responden tersebut memiliki tingkat kesadaran yang rendah dalam praktik PSN DBD serta tidak menyadari akan seriusnya bahaya penyakit DBD, di mana seharusnya responden yang tidak bekerja mempunyai waktu luang yang banyak di rumah sehingga lebih banyak kesempatan untuk melakukan praktik PSN DBD sehingga lingkungan menjadi bersih dan bebas DBD (Heryanto & Meliyanti, 2. Hubungan peran petugas kesehatan dengan perilaku pencegahan DBD Mayoritas . ,1%) responden yang melakukan pencegahan yang menyatakan peran petugas Kesehatan telah menjalankan perannya dengan baik dalam upaya pencegahan DBD. Petugas kesehatan secara langsung memberikan penyuluhan dan terlibat dalam kegiatan pencegahan DBD, seperti melakukan fogging, pembagian kelambu berinsektisida dan membagikan bubuk abate kepada masyarakat. Hasil uji statistik di peroleh nilai p-value 0,001 < 0,05 berarti (H. ditolak dan terdapat hubungan peran petugas kesehatan dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar Hasil kegiatan ini dapat dijelaskan semakin berperan petugas Kesehatan berpeluang untuk dilakukannya upaya pencegahan DBD dengan baik dibandingkan dengan petugas Kesehatan yang tidak berperan. Sejelan dengan temuan Maria Ratih . bahwa adanya hubungan yang bermakna antara peran petugas kesehatan dan praktik pencegahan DBD (Widiyaning et al. , 2. Temuan lainnya juga menyatakan bahwa peran petugas dengan pencegahan DBD pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Bakunase (Dawe et al. , 2. Tenaga kesehatan merupakan salah satu pemberi pelayanan kesehatan, harus mampu untu melakukan upaya promosi dan pemeliharaan kesehatan serta mencegah terjadinya penyakit. Adapun peran perawat yaitu melakukan intervensi keperawatan keluarga, tahap intervensi ini diawali dengan penyelesaian perencanaan perawat. Implementasi dapat dilakukan oleh banyak orang yaitu individu dan keluarga (Nurkhasanah et al. , 2. Hubungan dukungan keluarga dengan perilaku pencegahan DBD Hasil analisis deskriptif diperoleh 50% responden menyatakan dukungan keluarga mendukung dan juga tidak mendukung. Mayoritas responden yang melakukan pencegahan memiliki keluarga yang mendukung yaitu sebesar 48. 6 % dibandingkan yang tidak mendukung sebesar 25. 7 %. Hasil uji statistik di peroleh nilai p-value 0,041 < 0,05 berarti (H. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan dukungan keluarga dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar. Didapatkan hasil bahwa masyarakat yang memiliki keluarga yang mendukung berpeluang untuk dilakukannya upaya pencegahan DBD dengan baik dibandingkan masyarakat yang mempunyai keluarga tidak mendukung. Temuan ini menguatkan temuan sebelumnya yang menyatakan ada hubungan dukunga keluarga dengan pencegahan DBD (Widiyaning et al. , 2. , (Hayati et al. , 2. Namun temuan lainnya bertolak belakang dengan hasil kegiatanan ini yang menyebutkan tidak ada kaitan antara dukungan keluarga dengan perilaku berisiko DBD (Azura, 2. Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan (Nofriani Mangera et al. , 2. Dukungan keluarga merupakan Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Alfiyaturrahmi1. Anwar Arbi2. Riza Septiani3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 176 Ae 183 bantuan yang 47 diberikan kepada keluarga lain berupa barang, jasa, informasi dan nasehat, yang mana membuat penerima dukungan akan merasa disayangi dihargai dan tentram. Helbec . menyebutkan dukungan keluarga berbentuk informasi untuk mengenal dan mengatasi masalah dengan lebih mudah, oleh karena itu pentingnya pencegahan terhadap DBD karena keluarga paling nyaman seseorang dalam menghadapi persoalan hidup, berbagi kebahagiaan dan tempat tumbuhnya harapan-harapan akan hidup yang lebih baik (Puluhulawa et al. , 2. PENUTUP Simpulan Dari hasil kegaiatan peningkatan perilaku pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) Melalui Intervensi Edukasi di Gampong Dayah Mamplam Kecamatan Leupung Aceh Besar ditemukan faktor terkain pencegahan DBD adalah pengetahuan, sikap, pendidikan, pekerjaan, peran petugas kesehatan dan dukungan keluarga. Saran