Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Inovasi Pembelajaran Dengan Generative Learning dan Media Pop-Up Book: Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar Putu Linda Sasmitha Maharani. Ni Made Anggreni. I Komang Wisnu Budi Wijaya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia putulindasasmithamaharani@gmail. Abstract: This research is motivated by the low learning outcomes of students in Natural and Social Sciences (IPAS) subjects caused by the learning process that is still teacher-centered and the lack of use of innovative learning models and media. This study aims to analyze the influence of the Generative Learning learning model assisted by Pop-Up Book media on student learning outcomes on natural and artificial appearance materials in my area in grade i of SD Negeri 11 Sesetan City Denpasar Academic Year 2025/2026. This study uses a quantitative approach with a quasi experiment method and a Nonequivalent Control Group Design. The research population was all grade i students of SD Negeri 11 Sesetan with a sample of class i A as the experimental class and class i B as the control class. Data collection was carried out using learning outcome test instruments in the form of pretest and Data were analyzed using descriptive statistics and inferential statistics through normality tests, homogeneity tests, and hypothesis tests using independent sample t-tests. The results showed that there was a significant difference in learning outcomes between students who participated in learning using the Generative Learning model assisted by Pop-Up Book media and students who participated in conventional learning. The results of the hypothesis test showed a significance value . -taile. < 0. 05, so that HCA was rejected and HCA was accepted. These findings show that the use of the Generative Learning model assisted by Pop-Up Book media can increase student involvement in learning and help students understand the concept of IPAS more concretely. Based on the results of the study, it can be concluded that the Generative Learning learning model assisted by Pop-Up Book media has a significant effect on the learning outcomes of social studies of grade i elementary school students. This research contributes as an alternative to innovative learning strategies that can help teachers create more active, interesting, and meaningful IPAS learning. Keywords: Generative Learning. Pop-up Book, learning outcomes. IPAS, elementary school. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) yang disebabkan oleh proses pembelajaran yang masih berpusat pada guru serta kurangnya penggunaan model dan media pembelajaran inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book terhadap hasil belajar siswa pada materi kenampakan alam dan buatan di daerahku pada kelas i SD Negeri 11 Sesetan Kota Denpasar Tahun Ajaran 2025/2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu . uasi experimen. dan desain Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas i SD Negeri 11 Sesetan dengan sampel kelas i A sebagai kelas eksperimen dan kelas i B sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen tes hasil belajar berupa pretest dan Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial melalui uji normalitas, uji homogenitas, serta uji hipotesis menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Hasil uji Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 hipotesis menunjukkan nilai signifikansi . -taile. sebesar 0,001 < 0,05, sehingga HCA ditolak dan HCA diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan model Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran serta membantu siswa memahami konsep IPAS secara lebih konkret. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas i sekolah Penelitian ini memberikan kontribusi sebagai alternatif strategi pembelajaran inovatif yang dapat membantu guru menciptakan pembelajaran IPAS yang lebih aktif, menarik, dan Kata Kunci: Generative Learning. Pop-Up Book, hasil belajar. IPAS, sekolah dasar. PENDAHULUAN Pendidikan dipandang sebagai tahap pembentukan dan mengoptimalkan diri manusia yang berlangsung melalui interaksi antara individu dengan lingkungan sosial serta lingkungan fisik sejak lahir hingga hayatnya. Proses ini berlangsung secara terus-menerus dan menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Lingkungan masyarakat berperan sebagai wadah pewarisan nilai, norma, pengetahuan, dan budaya yang membentuk cara berpikir dan bertindak individu. Warisan sosial tersebut menjadi sarana bagi manusia guna beradaptasi dengan transformasi zaman yang kian berkembang. Melalui pendidikan, manusia dibekali kemampuan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Berbagai aspek kehidupan, seperti aspek intelektual, sosial, emosional, dan moral, dapat dikembangkan melalui aktivitas belajar yang mempunyai arah. Pandangan tersebut searah dengan pendapat oleh NurAoaini dan Hamzah bahwa pendidikan memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar mentransfer pengetahuan, karena melalui pendidikan generasi muda dipersiapkan untuk membangun peradaban dan mengambil peran penting di masa depan. 1 Pendidikan merupakan kunci dalam meningkatkan kesejahteraan perorangan dan masyarakat, karena pendidikan berperan dalam mengembangkan potensi manusia, membentuk karakter, serta meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan. 2 Pendidikan merupakan bimbingan jasmani dan rohani. 3 Proses pendidikan juga berfungsi untuk menata dan menyeimbangkan perkembangan individu agar sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai. Dengan pendidikan yang baik, individu diharapkan mampu berpikir secara kritis dan bertindak secara bijaksana. Pendidikan dasar dikenal sebagai jenjang pendidikan awal yang berperan penting guna meletakkan dasar perkembangan peserta didik, khususnya dalam aspek NurAoaini & Hamzah. AuKecerdasan Emosional . Intelektual . Spiritual . Moral Dan Sosial Relevansinya Dengan Pendidikan Agama Islam Perspektif Al- Qur Ao an,Ay Jurnal Educatio 9, no. 1783Ae90, https://doi. org/10. 31949/educatio. 2 Tinah Martoyo. AuFasal 6 Permulaan Belajar. Ukuran Belajar & Tata Tertib Belajar,Ay Jurnal Pendidikan Indonesia ( PJPI ) 2, no. 3 Mursal Aziz. Berkah 90 Tahun Al-Ittihadiyah: Kontribusi Al-Ittihadiyah Dalam Pendidikan Islam Mewujudkan Visi Keumatan (Sukabumi: Haura Utama, 2. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 pengetahuan dan kemampuan berpikir. Pendidikan dasar berperan sebagai fondasi bagi jenjang pendidikan berikutnya yang berfungsi mengembangkan potensi peserta didik serta membentuk sikap dan kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. 4 Pada tahap ini, pendidikan dasar bertujuan memberi bekal murid dengan keterampilan dasar seperti membaca, menulis, berhitung, serta memahami konsep-konsep sederhana yang terkait dengan aktivitas keseharian. Proses pembelajaran pada pendidikan dasar diarahkan untuk mengoptimalkan keterampilan berpikir logis, terstruktur, dan kritis sesuai dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Melalui pembelajaran yang terstruktur dan berkesinambungan, peserta didik dilatih untuk mengolah informasi dan memecahkan masalah sederhana. Pendidikan dasar juga bertujuan menumbuhkan kesiapan belajar peserta didik agar mampu mengikuti pembelajaran pada jenjang pendidikan selanjutnya. Dengan tercapainya tujuan pendidikan dasar, peserta didik diharapkan memiliki landasan kognitif yang kuat sebagai bekal pengembangan potensi akademik di masa depan. Mata pelajaran IPAS merupakan singkatan dari Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, yaitu pengintegrasian bidang studi IPA dan IPS pada kurikulum pendidikan di Indonesia yang mempelajari fenomena alam serta kehidupan sosial beserta Penggabungan ini bertujuan membantu peserta didik memahami keterkaitan antara lingkungan alam dan sosial sebagai satu kesatuan. Pada praktik pembelajaran. IPAS masih menghadapi tantangan berupa rendahnya pemahaman konseptual peserta didik terhadap fenomena alam dan sosial. Pembelajaran yang masih didominasi model pembelajaran Teacher Centered Learning (TCL) yang menggunakan metode konvensional dan hafalan menyebabkan peserta didik kesulitan mengaitkan konsep dengan kehidupan nyata. 5 Hal ini searah dengan pendapat yang menegaskan bahwa kesulitan belajar murid pada bidang studi IPAS dipengaruhi oleh penggunaan metode pengajaran yang masih konvensional serta keterbatasan media pengajaran yang mampu memicu perhatian murid, sehingga partisipasi murid pada aktivitas belajar belum optimal. 6 Integrasi antara aspek alam dan sosial juga belum diterapkan secara optimal pada aktivitas pengajaran. Selain itu, penerapan model inovatif dan media interaktif masih terbatas. Kondisi ini berdampak pada belum berkembangnya keterampilan berpikir kritis dan penyelesaian masalah murid pada pengajaran IPAS. Kondisi pembelajaran IPAS di SD Negeri 11 Sesetan menunjukkan adanya beberapa hambatan yang berkaitan dengan proses pembelajaran di kelas. Kegiatan 4 Dwi Pita Reski. AuParadigma Perkembangan Pendidikan Dasar Indonesia Dalam Era,Ay Journal on Education 07, no. : 6628Ae36. 5 Alfin Julianto Donna Meylovvia. AuInovasi Pembelajaran IPAS Pada Kurikulum Merdeka Belajar Di SDN 25 Bengkulu Selatan,Ay Jurnal Pendidikan Islam Al-Affan 4, no. : 84Ae91. 6 rahayu et Al. AuAnalisis Kesulitan Pembelajaran IPAS Siswa Sekolah Dasar Analysis of IPAS Learning Difficulties for Elementary School Students,Ay Action Research Journal indonesia 7, no. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 pengajaran masih berorientasi pada pendidik sebagai sumber pokok informasi, sehingga keterlibatan aktif peserta didik belum berkembang secara optimal. Peserta didik lebih banyak menerima materi secara pasif tanpa kesempatan yang memadai untuk mengemukakan pendapat atau mengaitkan materi dengan pengalaman belajar Penggunaan media pembelajaran yang diterapkan juga masih terbatas dan kurang bervariasi. Materi IPAS yang bersifat abstrak belum disajikan secara konkret dan kontekstual sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar. Kondisi tersebut mengakibatkan murid terkendala pada upaya mengartikan konsep serta hubungan antara fenomena alam dan sosial. Dampaknya, capaian belajar IPAS murid belum mampu meraih tingkat yang optimal sesuai dengan tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif sejalan dengan teori konstruktivisme. Teori belajar konstruktivisme memandang belajar tidak sekadar sebagai aktivitas yang dialami oleh manusia, melainkan sebagai proses aktif dalam membangun dan mengorganisasi pengetahuan berdasarkan pengalaman masing-masing individu. 7 Hasil belajar siswa dapat meningkat apabila proses pembelajaran dirancang dengan melibatkan keaktifan siswa, model pembelajaran aktif memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami materi melalui diskusi, interaksi, dan kegiatan belajar yang bermakna. 8 Efektivitas pembelajaran diperkuat oleh keterlibatan aktif anak, dukungan lembaga, serta peran guru dalam mengelola pembelajaran. Selain teori konstruktivisme, teori kognitif yang memandang belajar sebagai aktivitas mental yang terjadi dalam diri individu. Proses belajar melibatkan kegiatan berpikir, memahami, mengingat, serta mengolah informasi yang diperoleh dari Perkembangan kognitif peserta didik sangat berpengaruh terhadap kemampuan dalam memahami suatu konsep pembelajaran. Pada jenjang sekolah dasar, peserta didik berada pada tahap operasional konkret menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget, sehingga siswa lebih mudah memahami materi melalui pengalaman nyata dan penggunaan media yang konkret. Penggunaan media pembelajaran perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan psikologis siswa, karena peserta didik masih berada pada fase operasional konkret. 10 Tahap perasional konkret menurut Piaget menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar mulai memiliki 7 Nur Hikmah and Nur Latifah. AuThe Development of Interactive Pop-Up Book Media on Food Chain Material to Enhance Learning Interest in Grade V of Elementary School Students,Ay Indonesian Journal of Primary Science Education (IJPSE) 5, no. : 226Ae33. 8 Yuliana Siregar. Linda Hayati, and Siti Umayyah. AuImplementasi Model Pembelajaran Aktif Oleh Guru Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Al- Qur Ao an Hadis Di Madrasah Ibtidaiyah,Ay Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 4, no. : 76Ae90. 9 Mursal Aziz. Dedi Sahputra Napitupulu, and Fatimah. AuEfektivitas Metode Storytelling Dalam Penanaman Nilai Karakter Islami Pada Anak Usia Dini Perspektif Kurikulum Pendidikan Islam,Ay Al-Munawwarah: Jurnal Pendidikan Islam 18, no. : 23Ae38. 10 Dimas Setiyawan and Abidah Ayu. AuMedia Pembelajaran Tingkat Madrasah Ibtidaiyah Dalam Perspektif Psikologi PendidikanAy 6, no. : 48Ae56. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 kemampuan berpikir logis, tetapi masih membutuhkan bantuan benda konkret dalam memahami konsep yang bersifat abstrak. Oleh sebab itu, strategi pembelajaran yang digunakan perlu mempertimbangkan perkembangan kognitif siswa. Selain itu, teori Vygotsky menekankan bahwa perkembangan kognitif siswa terjadi melalui interaksi sosial, diskusi, dan bantuan dari lingkungan belajar. Perkembangan kognitif individu tidak terlepas dari interaksi sosial dan lingkungan. Inti teori Vygotsky terletak pada pentingnya interaksi antara individu dengan individu lain serta dengan lingkungannya pada proses belajar. Belajar dipandang sebagai proses sosial yang berlangsung melalui komunikasi dan kerja sama. Pengetahuan tidak dibangun secara individual semata, tetapi melalui interaksi dengan orang lain. Berdasarkan teori tersebut, model Generative Learning menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang sesuai karena mendorong siswa untuk aktif membangun pengetahuan melalui proses menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan awal serta melakukan interaksi dengan lingkungan belajar. Model pembelajaran berbantuan Generative Learning dipandang sebagai model pembelajaran yang menitik beratkan pada keterlibatan aktif murid guna mengontruksi dan merekonstruksi pengetahuannya sendiri melalui interaksi sosial pada kelompok yang bersifat Dalam penerapannya, peserta didik telah diarahkan untuk saling bertukar gagasan, mengemukakan pemahaman awal, serta mengintegrasikan pengetahuan baru dengan wawasan yang sudah diketahui sebelumnya, sehingga aktivitas belajar bukan sekadar bersifat menerima informasi, melainkan juga menghasilkan makna secara mandiri. Sejalan dengan pandangan,13 model Generative Learning telah menekankan pentingnya aktivitas mental siswa dalam menghasilkan, menguji, dan menyempurnakan pemahaman konsep melalui diskusi dan kerja sama kelompok. Tujuan penerapan model ini telah diarahkan untuk meningkatkan keaktifan belajar, kemampuan berpikir konstruktif, serta pendalaman pemahaman konsep melalui proses generasi ide dan interaksi antar peserta didik. Permasalahan pembelajaran IPAS memerlukan penerapan model pengajaran yang memicu kontribusi murid yang aktif pada aktivitas pengajaran. Model pengajaran Generative Learning dipandang sesuai karena menekankan peran aktif peserta didik dalam membangun dan merekonstruksi pengetahuan berdasarkan teori Pentingnya penelitian ini didukung oleh hasil penelitian terdahulu yang menjabarkan bahwa penerapan model pengajaran Generative Learning terbukti Azhar. Fuadi, dan Dawi. AuStrategi Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Fikih Dalam Mengenalkan Hukum Islam di Madrasah Ibtidaiyah,Ay Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 6, no 1 . 12 Ira Nur Azizah dan Jayanti Putri Purwaningrum. AuPenerapan Teori Vygotsky Pada Pembelajaran Matematika Materi Geometri,Ay Jurnal Riset Pembelajaran Matematika 3, no. : 19Ae26. 13 Made Suparmini. AuPenerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar,Ay Journal of Education Action Research 5, no. : 67Ae73. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 efektif mampu mengoptimalkan capaian belajar serta memberikan respons positif dari siswa, yang ditunjukkan oleh perolehan skor rata-rata hasil belajar pada kategori 14 Melalui model ini, peserta didik diarahkan untuk mengaitkan pengetahuan awal dengan informasi baru yang diperoleh selama proses pembelajaran. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa Generative Learning efektif guna mengoptimalkan pemahaman konsep dan keaktifan belajar peserta didik. Model ini mendorong anak didik untuk mengemukakan ide, berdiskusi, serta menguji pemahamannya melalui interaksi sosial. Penerapan model generative Learning ini menjadi lebih optimal dengan dukungan media Pop-up Book sebagai media visual interaktif yang menyajikan materi secara konkret melalui tampilan tiga dimensi. Dalam penelitian terdahulu 15menjabarkan bahwa media pengajaran Pop-up Book mampu mendukung penyerapan konsep murid, yang mampu dilihat melalui hasil uji coba dengan nilai rata-rata 6,85% serta tuntas klasikal pada tingkat kognitif mudah hingga sulit. Media Pop-up Book mampu mengoptimalkan minat, motivasi, serta memudahkan murid mengartikan hubungan antara peristiwa alam dan sosial, sehingga kombinasi Generative Learning yang dibantu Pop-up Book dipandang relevan guna mengoptimalkan capaian belajar pada bidang studi IPAS di sekolah dasar. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengangkat judul Pengaruh Model Pembelajaran Generative Learning Berbantuan Media Pop-up Book Terhadap Hasil Belajar Siswa di Kelas i Pada Mata Pelajaran IPAS di SD Negeri 11 Sesetan Kota Denpasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu . uasi experimen. Pendekatan kuantitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suatu perlakuan terhadap hasil belajar siswa yang dapat diukur melalui data berupa angka dan dianalisis secara statistik. Jenis penelitian eksperimen semu digunakan karena peneliti tidak dapat melakukan pengacakan subjek secara penuh, sehingga kelompok yang sudah terbentuk digunakan sebagai kelas penelitian. Desain penelitian yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group Design, yaitu desain penelitian yang melibatkan dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, yang diberikan pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah Desain ini digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara 14 Abdul Hamid. AuEfektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Generatif Ditinjau Dari Hasil Belajar Dan Respon Siswa Pada Materi Program Linier Di Kelas XI IPA 1 Abstrak Pendahuluan Salah Satu Tujuan Sistem Pendidikan Nasional Adalah Adanya Keseimbangan Antara Pendidikan Umu,Ay Jurnal Humaniora Rinjani (JHR) 4, no. : 15Ae30. 15 Melinia Sianturi. Gunaria Siagian, and Sunggul Pasaribu. AuPengembangan Media Pembelajarajan Pop-up Book Pada Materi Keanekaragaman Hayati,Ay Jurnal Pendidikan Sains Dan Komputer 3, no. : 171Ae78. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 kedua kelompok setelah penerapan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 11 Sesetan Kota Denpasar pada Tahun Ajaran 2025/2026 dengan populasi seluruh siswa kelas i yang berjumlah 40 siswa yang terdiri atas kelas i A dan i B. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampel jenuh . , sehingga seluruh anggota populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Kelas i A ditetapkan sebagai kelas eksperimen dan kelas i B sebagai kelas kontrol. Pada pelaksanaan penelitian, kelas eksperimen diberikan perlakuan berupa penerapan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book, sedangkan kelas kontrol diberikan pembelajaran dengan model Teacher Centered Learning (TCL) menggunakan metode konvensional. Kedua kelompok diberikan pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan posttest untuk mengetahui perubahan hasil belajar setelah proses pembelajaran. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan tes hasil belajar IPAS berbentuk pilihan ganda. Instrumen penelitian terlebih dahulu diuji melalui validitas isi, validitas butir soal, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda untuk memastikan instrumen layak digunakan. Selain tes, penelitian ini juga menggunakan teknik dokumentasi sebagai data pendukung. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui nilai rata-rata, nilai minimum, nilai maksimum, dan standar deviasi hasil belajar siswa. Analisis inferensial dilakukan melalui uji prasyarat berupa uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk dan uji homogenitas menggunakan Levene Test. Selanjutnya, uji hipotesis dilakukan menggunakan independent sample t-test dengan bantuan aplikasi SPSS Statistics for Windows pada taraf signifikansi 5%. Analisis tersebut digunakan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas i SD Negeri 11 Sesetan. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Penelitian Deskripsi hasil penelitian merupakan gambaran mengenai data dan temuan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian serta perubahan yang terjadi akibat perlakuan yang diberikan. Penelitian ini berfokus pada peningkatan hasil belajar peserta didik kelas i SD Negeri 11 Sesetan Kota Denpasar pada mata pelajaran IPAS materi Kenampakan Alam dan Buatan di Daerahku melalui penerapan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui perubahan hasil belajar siswa setelah diberikan perlakuan berupa penerapan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book. Data hasil penelitian diperoleh melalui tes pretest dan posttest yang diberikan kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan bentuk Nonequivalent Control Group Design yang melibatkan dua kelompok, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Penelitian dilaksanakan pada peserta didik kelas i SD Negeri 11 Sesetan dengan jumlah sampel sebanyak 40 peserta didik. Kelas i A yang berjumlah 20 peserta didik digunakan sebagai kelas eksperimen dan diberikan perlakuan berupa penerapan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book, sedangkan kelas i B yang berjumlah 20 peserta didik digunakan sebagai kelas kontrol dengan menerapkan pembelajaran Teacher Centered Learning (TCL) berbantuan buku pembelajaran. Data penelitian diperoleh melalui instrumen tes hasil belajar berupa pretest dan posttest yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan. Pemberian pretest bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik sebelum pembelajaran, sedangkan posttest digunakan untuk mengetahui perubahan hasil belajar setelah diberikan perlakuan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan inferensial sesuai dengan tujuan penelitian. Berdasarkan hasil pretest, diketahui bahwa sebagian besar peserta didik masih memiliki pemahaman yang belum optimal terhadap materi Kenampakan Alam dan Buatan di Daerahku pada mata pelajaran IPAS. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran sebelum perlakuan masih membutuhkan strategi yang mampu membantu peserta didik memahami konsep secara lebih konkret dan bermakna. Setelah diberikan perlakuan, peserta didik pada kelas eksperimen mengikuti pembelajaran menggunakan model Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book, sedangkan kelas kontrol mengikuti pembelajaran dengan model Teacher Centered Learning (TCL). Selanjutnya, kedua kelas diberikan posttest untuk mengetahui perubahan hasil belajar setelah proses pembelajaran berlangsung. Data Hasil Pretest Peserta Didik Kelas Kontrol dan Eksperimen Berdasarkan data yang diperoleh peneliti, pada kelas eksperimen terdapat 10 siswa yang mencapai ketuntasan dan 10 siswa yang belum mencapai ketuntasan. Sementara itu, pada kelas kontrol 4 siswa yang mencapai ketuntasan dan 16 siswa yang belum tuntas pada materi Kenampakan Alam dan Buatan di Daerahku dalam mata pelajaran IPAS. Sebaran nilai pretest siswa dari kedua kelas kemudian disajikan oleh peneliti dalam bentuk tabel distribusi frekuensi pada interval kelas tertentu, sebagai berikut: Tabel Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Kontrol Interval Frekuensi Presentase Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. TOTAL E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 (Sumber: Data Peneliti Ms. Excel, 2. Berdasarkan data distribusi frekuensi pada kelas kontrol, frekuensi tertinggi terdapat pada interval skor 60-64 dan 65-69 dengan presentase sama sebesar 30%, yang menunjukkan bahwa terdapat 12 siswa yang berada pada rentang skor tersebut. Sementara itu, frekuensi terendah terdapat pada interval skor 50-54 dan skor 75-79 dengan presentase sama yaitu sebesar 5 %, yang menujukkan bahwa terdapat 2 siswa yang memperoleh rentang tersebut. Tabel Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Eksperimen Interval Frekuensi Presentase TOTAL (Sumber: Data Peneliti Ms. Excel, 2. Berdasarkan tabel di atas, frekuensi tertinggi terdapat pada interval skor 60-64 dengan presentase sama sebesar 25% yang menunjukkan bahwa terdapat 5 siswa yang berada pada rentang skor tersebut. Sementara itu, frekuensi terendah terdapat pada interval skor 55-59 dengan presentase sama yaitu sebesar 5 %, yang menujukkan bahwa terdapat 1 siswa yang memperoleh rentang tersebut. Setelah data distribusi frekuensi nilai pretest diperoleh, data tersebut kemudian diubah terlebih dahulu ke dalam bentuk diagram batang dengan menggunakan Microsoft Excel. Hasil diagram batang tersebut disajikan sebagai berikut: Gambar Diagram Distribusi Hasil Pretest kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Pretest kelas Kontrol Pretest kelas Eksperimen 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75-79 55-59 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Berdasarkan diagram, dapat diamati hasil pretest pada kelas kontrol dan kelas Pada kelas eksperimen, frekuensi tertinggi terdapat pada interval skor 60Ae64 dengan jumlah 5 siswa, sedangkan pada kelas kontrol, frekuensi tertinggi berada pada interval skor 65Ae69 dengan jumlah 6 siswa. Frekuensi terendah pada kelas eksperimen berada pada interval skor 55Ae59 terdiri dari 1 siswa, sedangkan pada kelas kontrol, frekuensi terendah berada pada interval skor 50Ae54 dan 75-79 dengan 2 Diagram ini menunjukkan bahwa kedua kelas memiliki sebaran skor yang bervariasi, namun sebagian besar siswa berada pada interval skor menengah. Dengan demikian, diagram ini memberikan gambaran awal mengenai kondisi nilai pretest kedua kelas sebelum perlakuan dilakukan pada kelas eksperimen. Adapun data deskriptif yang disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Tabel Hasil Deskriptif Data Nilai Pretest Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Klasifikasi Skor Tertinggi Skor Terendah Mean Median Varians Standar Deviasi Kelas Kontrol 62,50 62,50 38,15 6,17 Pretest Kelas Eksperimen 68,25 67,50 61,25 7,82 (Sumber: Data Peneliti SPPS 30, 2. Berdasarkan hasil pretest, diketahui bahwa kemampuan awal peserta didik pada kedua kelas masih belum optimal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebelum diberikan perlakuan, siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep materi IPAS yang bersifat abstrak. Pada kelas kontrol diperoleh nilai rata-rata sebesar 62,50 dengan nilai tertinggi 75 dan nilai terendah 50, sedangkan pada kelas eksperimen diperoleh nilai rata-rata sebesar 68,25 dengan nilai tertinggi 80 dan nilai Perbedaan nilai rata-rata yang tidak terlalu besar menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang relatif sebanding sebelum diberikan perlakuan. Oleh karena itu, penerapan model pembelajaran yang lebih inovatif dan penggunaan media pembelajaran yang konkret diperlukan untuk membantu siswa memahami konsep IPAS secara lebih mudah. Hasil Posttest Materi Kenampakan Alam dan Buatan di Daerahku Peserta Didik Kelas Kontrol dan Eksperimen Berdasarkan data yang diperoleh peneliti, pada kelas eksperimen semua siswa yang berjumlah 20 mencapai ketuntasan. Sementara itu, pada kelas kontrol terdapat 14 siswa yang mencapai ketuntasan dan 6 siswa yang belum tuntas pada materi Kenampakan Alam dan Buatan di Daerahku dalam mata pelajaran IPAS. Sebaran nilai Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 posttest siswa dari kedua kelas kemudian disajikan oleh peneliti dalam bentuk tabel distribusi frekuensi pada interval kelas tertentu, sebagai berikut: Tabel Distribusi Frekuensi Posttest Kelas Kontrol Interval Frekuensi Presentase TOTAL (Sumber: Data Peneliti Ms. Excel, 2. Berdasarkan data distribusi frekuensi pada kelas kontrol, frekuensi tertinggi terdapat pada interval skor 64-70 dengan presentase sama sebesar 35%, yang menunjukkan bahwa terdapat 7 siswa yang berada pada rentang skor tersebut. Sementara itu, frekuensi terendah terdapat pada interval skor 50-56 dan skor 85-91 dengan presentase sama yaitu sebesar 5%, yang menujukkan bahwa terdapat 2 siswa yang memperoleh rentang tersebut. Tabel Distribusi Frekuensi Posttes Kelas Eksperimen Interval TOTAL Frekuensi Presentase (Sumber: Data Peneliti Ms. Excel, 2. Berdasarkan tabel di atas, frekuensi tertinggi terdapat pada interval skor 82-87 dengan presentase sama sebesar 25% yang menunjukkan bahwa terdapat 5 siswa yang berada pada rentang skor tersebut. Sementara itu, frekuensi terendah terdapat pada interval skor 76-81 dengan presentase sebesar 5 %, yang menujukkan bahwa terdapat 1 siswa yang memperoleh rentang tersebut. Setelah data distribusi frekuensi nilai pretest diperoleh, data tersebut kemudian diubah terlebih dahulu ke dalam bentuk diagram batang dengan menggunakan Microsoft Excel. Hasil diagram batang tersebut disajikan sebagai berikut: Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Gambar Diagram Distribusi Hasil Posttest kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Posttest kelas Kontrol Posttest kelas Eksperimen 50-56 57-63 64-70 71-77 78-84 85-91 70-75 76-81 82-87 88-93 94-99 Berdasarkan diagram, bahwa hasil posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan adannya perbedaan pada interval kelas, baik pada nilai terendah maupun tertinggi. Frekuensi tertinggi pada kelas eksperimen terdapat pada interval skor 82-87 dengan 5 siswa, sedangkan frekuensi tertinggi pada kelas kontrol berada pada interval skor 64-70 dengan jumlah 7 siswa. Selanjutnya, adapun data deskriptif yang disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Tabel Hasil Deskriptif Data Nilai Posttest Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Klasifikasi Skor Tertinggi Skor Terendah Mean Median Varians Standar Deviasi Kelas Kontrol 71,50 72,50 76,57 8,75 Posttest Kelas Eksperimen 88,25 74,40 8,62 (Sumber: Data Peneliti SPPS 30, 2. Sesuai dengan hasil perhitungan statistik yang telah dilaksanakan pada hasil posttest peserta didik, didapatkan hasil perhitungan nilai rata-rata yaitu untuk kelas kontrol 71,50 dan kelas eksperimen 88,25. Perbedaan nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Peningkatan tersebut terjadi karena model Generative Learning memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran melalui kegiatan mengemukakan gagasan awal, menghubungkan konsep baru dengan pengalaman sebelumnya, serta melakukan diskusi untuk membangun pemahaman. Berbeda dengan pembelajaran TCL yang lebih banyak berpusat pada penyampaian materi oleh guru, model Generative Learning memberikan Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 ruang kepada siswa untuk menemukan dan mengembangkan konsep secara mandiri. Hal tersebut menunjukkan bahwa penerapan Generative Learning berbantuan PopUp Book mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa melalui pembelajaran yang lebih aktif, konkret, dan bermakna. Adapun skor atau nilai peserta didik yang beragam dan untuk nilai terendah pada kelas kontrol adalah 50 dan nilai tertinggi Sedangkan untuk kelas eksperimen nilai terendah yaitu 70 dan nilai tertinggi yaitu 100. Hasil rekapitulasi penelitian posttest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen selanjutnya disajikan dalam bentuk persentase kategori berdasarkan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) dengan batas ketuntasan minimal sebesar 70 pada setiap predikat, sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut ini: Tabel Persentase Katageori Hasil Posttest Kelas Kontrol Nilai Persentase 85 Ae 100 70 Ae 84 55 Ae 69 40 Ae 54 0 Ae 39 Total Jumlah Siswa Kategori Keterangan Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat kurang (Sumber: Data Peneliti, 2. Tabel Persentase Kategori Hasil Posttest Kelas Eksperimen Jumlah Nilai Persentase Kategori Keterangan Siswa 85 Ae 100 Sangat baik 70 Ae 84 Baik 55 Ae 69 Cukup 40 Ae 54 Kurang 0 Ae 39 Sangat kurang Total (Sumber: Data Peneliti Ms. Excel, 2. Sesuai dengan deskriptif data pada hasil pretest dan posttest peserta didik kelas kontrol dan kelas eksperimen maka untuk memperjelas hasilnya akan disajikan dalam bentuk diagram batang sebagai berikut: Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 HASIL PRETEST DAN POST TEST Kelas Kontrol Kelas eksperimen Hasil Pretest Hasil Posttest Berdasarkan diagram batang di atas, terlihat bahwa nilai rata-rata pretest kelas eksperimen yaitu 68,25 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 62,5. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan awal peserta didik pada kedua kelas relatif sebanding, meskipun kelas eksperimen sedikit lebih unggul. Setelah diberikan perlakuan dalam pembelajaran, terjadi peningkatan hasil posttest pada kedua kelas. Pada kelas kontrol, nilai rata-rata meningkat dari 62,5 menjadi 71,5 dengan selisih peningkatan sebesar 9,0. Sementara itu, pada kelas eksperimen terjadi peningkatan yang lebih tinggi, yaitu dari 68,25 menjadi 88,25 dengan selisih peningkatan sebesar 20,0. Berdasarkan diagram tersebut, peningkatan hasil belajar pada kelas eksperimen terlihat lebih besar dibandingkan kelas kontrol. Peningkatan hasil belajar pada kelas eksperimen terjadi karena model Generative Learning memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuan melalui kegiatan mengemukakan ide, berdiskusi, dan menghubungkan pengetahuan awal dengan informasi baru. Selain itu, media Pop-Up Book membantu siswa memahami materi secara lebih konkret melalui tampilan visual yang menarik, hal ini sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar yang masih berada pada tahap perkembangan operasional konkret, sehingga membutuhkan bantuan media visual agar konsep yang dipelajari lebih mudah dipahami. Penyajian materi melalui Pop-Up Book membuat siswa lebih fokus, tertarik, dan mampu menghubungkan materi IPAS dengan kondisi lingkungan sekitar. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-up Book memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar IPAS siswa. Dengan demikian, perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen melalui penggunaan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-up Book menunjukkan hasil belajar IPAS yang lebih Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Vol. 7 No. tinggi dibandingkan dengan pembelajaran Teacher Centered Learning (TCL) pada kelas kontrol. Pengujian Prasyarat Analisis Berdasarkan hasil deskriptif tersebut, terlihat bahwa penerapan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book memberikan perubahan positif terhadap hasil belajar siswa. Selanjutnya dilakukan uji prasyarat dan uji hipotesis untuk mengetahui signifikansi pengaruh perlakuan. Pengujian Prasyarat Analisis dalam penelitian berguna untuk memastikan data penelitian yang digunakan memenuhi syarat atau kriteria agar hasil dari analisis statistik tersebut bersifat valid atau reliabel. Uji Prasyarat Analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik inferensial. Dalam penggunaan analisis statistik inferensial ini akan melakukan beberapa uji asumsi yaitu uji normalitas dan juga uji homogenitas. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji shapiro- wilk yang bertujuan untuk melihat data bersifat normal atau tidak. Sampel yang digunakan berjumlah adalah 40 orang dan uji shaipro-wilk cocok digunakan untuk data yang memiliki sampel O 50 orang. Tingkat signifikan yang digunakan dalam uji shapiro-wilk ini adalah 0,05 . %). Uji normalitas penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS 30 for Windows. Berikut tabel Uji Normalitas pada penelitian di atas: Hasil Kelas Pretest A (Eksperime. Posttest A (Eksperime. Pretest B (Kontro. Posttest B (Kontro. Tabel Hasil Uji Normalitas Test of Normality Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Statistic Statistic Sig Sig ,161 ,186 ,918 ,092 ,153 ,200 ,935 ,196 ,157 ,200 ,925 ,404 ,155 ,200 ,937 ,209 (Sumber: Data Uji SPSS 30, 2. Sesuai dengan hasil uji normalitas dengan menggunakan SPSS 30 for Windows didapatkan hasil bahwa nilai signifikan dari hasil pretest kelas eksperimen (A) adalah 0,92 dan untuk pretest kelas kontrol (B) adalah 0,404. Untuk hasil dari posttest pada kelas eksperimen (A) adalah 0,196 dan untuk posttest kelas kontrol adalah 0,209. Sesuai dengan pengujian menggunakan shapiro-wilk bahwa: Jika nilai Sig. > 0,05, maka distribusi pada data dapat dikatakan normal Jika nilai Sig. O 0,05, maka distribusi pada data dapat dikatakan tidak normal Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Sesuai dengan hasil yang telah dijabarkan di atas bahwa keseluruhan nilai Sig. Pada pretest dan posttest kelas kontrol serta kelas eksperimen bernilai >0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut memiliki distribusi normal. Setelah melakukan uji normalitas, maka uji homogenitas juga perlu dilaksanakan agar mengetahui data tersebut homogen atau tidak. Dalam uji homogenitas akan memastikan dua atau lebih kelompok memiliki varians yang sama atau homogen. Dalam penelitian ini melaksanakan uji homogenitas dengan bantuan program SPSS 30 for Windows. Hasil uji homogenitas dalam penelitian ini akan dijabarkan sebagai berikut: Tabel Hasil Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic Sig. Pretest Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed Posttest Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed (Sumber: Data Uji SPSS 30, 2. Berdasarkan hasil uji homogenitas yang ditampilkan pada tabel tersebut, didapat nilai sig untuk pretest yaitu 0,127 dan untuk posttest yaitu 0,962. Dalam uji homogenitas, data akan dikatakan homogen jika: Jika nilai Sig. > 0,05, maka varians dapat dikatakan bersifat homogen Jika nilai Sig. O 0,05, maka varians dapat dikatakan bersifat tidak Sesuai dengan hasil data yang telah dijabarkan seperti di atas, maka kedua nilai tersebut melebihi batas signifikansi 0,05, yang mengartikan bahwasannya data pretest dan posttest memenuhi asumsi homogenitas atau mempunyai variansi yang sama yang dapat disimpulkan bahwa data bersifat homogen. Pengujian Hipotesis Penelitian memerlukan pengujian hipotesis untuk mengetahui perbedaan yang signifikan pada dua rata-rata dan juga untuk mengetahui pengaruh dari Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Vol. 7 No. perlakuan yang diberikan kepada peserta didik. Dalam penelitian ini melakukan uji hipotesis yaitu menggunakan uji t independen atau Independent Sample T-Test yang digunakan untuk menguji perbedaan yang terdapat diantara dua kelompok dalam Uji t independen ini juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari model Generative Learning berbantuan Pop Up Book terhadap hasil belajar siswa. Hasil uji t independen ini akan diukur dengan menggunakan posttest dari kedua kelas. Kriteria pengambilan keputusan uji hipotesis dalam penelitian ini adalah: Ha: AACA O AACC: Adanya pengaruh yang signifikan pemanfaatan model Generative Learning berbantuan media pembelajaran Pop up Book terhadap hasil belajar siswa pada dalam pembelajaran IPAS siswa kelas i di SD N 11 Sesetan . hitung > t table maka HCA ditolak dan HCA diterima. Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan bantuan dari program SPSS 30 for windows dan hasil uji hipotesis akan dijabarkan sebagai berikut: Tabel Hasil Uji Independent T-test Independent Sampel Test Levene Test for Equality of Variances Nila Equal Equal Varian ces not ,00 t-test of Equality of Mean Sig ,96 6,09 6,09 Confidence Interval of the Device Low Upper Sig . tale ,001 Mean Std Error Difference 16,75 2,748 22,312 ,001 16,75 2,748 22,312 (Sumber: Data Uji SPSS 30, 2. Hasil dari uji hipotesis setelah dilakukan dengan SPSS 30 for Windows menunjukkan bahwa nilai t sebesar 6,096 dengan besar nilai df sebesar 38 serta nilai signifikansi . -taile. memiliki nilai sebesar 0,001. Sesuai dengan kriteria uji hipotesis Jika hasil nilai Sig. -taile. Ou 0,05, maka Ho diterima dan HCA ditolak. Jika hasil nilai Sig. -taile. < 0,05, maka Ho ditolak dan HCA diterima. Berdasarkan hasil tersebut, karena nilai Sig. -taile. 0,001 < 0,05, maka HCA ditolak dan HCA diterima. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perbedaan hasil belajar Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 antara kelas eksperimen dan kelas kontrol bukan terjadi secara kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh penerapan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book. Selisih rata-rata nilai . ean differenc. antara kedua kelas adalah sebesar 16,750, yang menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hasil penelitian, penggunaan model pembelajaran yang melibatkan aktivitas berpikir dan interaksi sosial mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran IPAS. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus pada pencapaian nilai, tetapi juga pada bagaimana siswa membangun pemahaman melalui pengalaman belajar yang Dengan demikian, berdasarkan hasil uji Independent Sample T-Test yang telah dilakukan, bahwa model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop up Book berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar siswa dibandingkan penggunaan pembelajaran TCL. Oleh karena itu. HCA ditolak dan HCA diterima. Inovasi Pembelajaran Dengan Generative Learning dan Media Pop-Up Book Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop Up Book memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas i pada materi kenampakan alam dan buatan di daerahku di SD Negeri 11 Sesetan Kota Denpasar setelah dilaksanakan selama 3 kali pertemuan. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji hipotesis menggunakan uji Independent Sample T-Test yang menunjukkan nilai signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,001 < 0,05, sehingga HCA ditolak dan HCA diterima. Pada penelitian ini digunakan instrumen berupa tes pilihan ganda sebanyak 20 Berdasarkan data hasil pretest, nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 62,50 sedangkan kelas eksperimen sebesar 68,25. Setelah diberikan perlakuan yang berbeda, hasil posttest menunjukkan adanya perbedaan rata-rata hasil belajar antara kedua kelas. Nilai rata-rata posttest kelas eksperimen sebesar 88,25 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 71,50. Dengan demikian, rata-rata hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi 16,75 poin dibandingkan kelas kontrol. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop Up Book memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa dibandingkan pembelajaran Teacher Centered Learning (TCL). Model pembelajaran Generative Learning berpengaruh positif terhadap hasil belajar peserta didik karena karakteristik model ini menekankan bahwa siswa membangun sendiri pengetahuannya dengan cara menghubungkan pengetahuan awal yang sudah dimiliki dengan informasi atau konsep baru yang dipelajari. Jadi, dalam Generative Learning, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi siswa diajak untuk berpikir aktif, mengamati, berdiskusi, bertanya, menghubungkan, menyimpulkan, dan menjelaskan kembali materi dengan bahasannya sendiri. Model Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 pembelajaran Generative menekankan keterlibatan aktif siswa dalam mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki, sehingga siswa dapat membangun pemahaman secara lebih bermakna, 16 hal ini sejalan dengan teori bahwa pembelajaran dengan model Generative Learning dapat menciptakan suasana belajar yang membuat siswa terlibat langsung dalam menemukan suatu konsep, menghubungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang telah diketahui Dalam model pembelajaran Generative Learning, interaksi antar siswa dalam kelompok dapat membantu meningkatkan pemahaman terhadap materi yang Melalui kegiatan diskusi kelompok, siswa dapat saling bertukar pendapat, menyampaikan pemahaman, serta membantu teman dalam memahami konsep yang belum dikuasai. Adanya kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran juga membantu siswa menghubungkan pengetahuan awal dengan pengetahuan baru, sehingga pemahaman siswa terhadap materi menjadi lebih baik. Hal ini sejalan dengan,18 yang menyatakan bahwa model Generative Learning berpengaruh terhadap kemampuan pemahaman konsep siswa. Pemahaman konsep tersebut berkaitan dengan hasil belajar, karena siswa yang memahami materi dengan baik akan lebih muda menjawab soal dan mencapai hasil belajar yang lebih baik. Selain itu, penggunaan model pembelajaran yang dipadukan dengan media pembelajaran dapat membantu proses belajar siswa. Hal ini sejalan dengan,19 yang menunjukan bahwa model Generative Learning berbantuan media mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, model pembelajaran Generative Learning juga membantu siswa memahami materi melalui tahapan pembelajaran yang bertahap. Pernyataan ini selaras dengan penelitian20. Dengan melalui tahapan orientasi, pengungkapan ide awal, rekonstruksi pengetahuan, serta aplikasi dan evaluasi, siswa didorong untuk membangun pemahaman konsep yang lebih mendalam dan bermakna. Hal tersebut didukung pendapat bahwa penerapan model ini mampu meningkatkan rasa ingin tahu peserta didik terhadap permasalahan pembelajaran yang dihadapi 16 Ariyadi Wijaya Tista Sugiarti. Mohamad Salam. AuPengaruh Model Pembelajaran Generative Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Ditinjau Dari Perbedaan Gender,Ay Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika 13, no. : 243Ae53. 17 I Kusumawati and Tedi Yanto. AuPengaruh Model Generative Learning ( GL ) Terhadap Pemahaman Konsep Siswa Pada Materi Kinematika,Ay Jurnal Variabel 4, no. : 9Ae14. 18 Nila Nurjanah et al. AuPengaruh Model Pembelajaran Generatif Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Pada Siswa Kelas Vi Di MTS Nur Et-Taqwa Cikande,Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika. Matematika Dan Statistika 3, no. : 446Ae52. 19 Dila Ayu Lestra. Yenni Darvina, dan Fuja Novitra. AuPengaruh Model Pembelajaran Generatif Berbantuan Media Mind Mapping terhadap Kompetensi Fisika Siswa Kelas XI MIA SMAN 1 Painan,Ay Jurnal Pendidikan Tambusai 8, no. : 39171Ae77. 20 Dina Dahliana Zahra Atila. Nurhayati. AuPeningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Sekolah Dasar Melalui Model Generatif Berbantuan Media Animasi,Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 11, 1 . Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 sehingga dapat membantu mencapai hasil belajar yang diharapkan oleh pendidik. Hal ini diperkuat oleh pendapat bahwa model pembelajaran Generative Learning dapat menciptakan pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa . tudent centere. , sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator, mediator, dan motivator dalam membimbing kegiatan belajar. Penggunaan media Pop up Book berpengaruh positif terhadap hasil belajar peserta didik karena media ini mampu menyajikan materi pembelajaran secara visual, konkret, dan menarik sehingga membantu siswa lebih mudah memahami konsep yang dipelajari. Sejalan dengan temuan yang menjelaskan penggunaan media interaktif ini membuat siswa lebih terlibat dalam proses pembelajaran karena media Pop up Book menyajikan pengalaman belajar visual dan konkret yang menarik perhatian siswa. 23 Temuan ini sejalan dengan pendapat bahwa media Pop up Book memiliki karakteristik visual dua dimensi . D) dan tiga dimensi . D) yang mampu menarik perhatian siswa selama pembelajaran. 24 Tampilan gambar yang dapat muncul dan bergerak ketika halaman dibuka membuat materi terlihat lebih nyata dan membantu siswa memahami konsep pembelajaran dengan lebih mudah. Selain itu, hal ini sejalan dengan penelitian tentang penggunaan media Pop up Book juga membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta memahami situasi nyata. 25 Penggunaan media Pop up Book tidak hanya membantu siswa memahami materi pembelajaran, tetapi juga mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik karena siswa menjadi lebih tertarik, fokus, dan mudah memahami konsep yang dipelajari selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini sama dengan penelitian,26 yang mengemukakan bahwa media Pop up Book dapat membantu siswa memahami materi pembelajaran melalui tampilan yang menarik dan interaktif, sehingga siswa lebih tertarik mengikuti pembelajaran dan hasil belajar menjadi lebih baik, hal tersebut didukung penelitian Utami et al . Penelitian ini menunjukkan 21 Shinta Utami. Desy Hanisa Putri, dan Henny Johan. AuImplementasi Model Pembelajaran Generatif Berbasis Peta Konsep Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Getaran Harmonik di SMAN 7 Kota Bengkulu,Ay Jurnal Ilmu Pembelajaran Fisika 3, no. 22 Indra Budiman. AuAnalisis Pembelajaran Generatif Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Larutan Penyangga,Ay Jurnal Sosiohumaniora Kodepena InformationCenterfor Indonesian Social Sciences 3, no. : 212. 23 Hidayatullah Rezky Said Amin Muhammad. Dr. AuPengaruh Penggunaan Alat Peraga Pop-Up Book Terhadap Hasil Belajar Materi Tata Surya Pada Siswa Kelas VI SD Inpres JeAonetallasa,Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 11, no. : 213Ae25. 24 Kholil Muhammad Nisa Nurfadilatun. AuPenggunaan Media Pembelajaran Pop Up Book Untuk Meningkatkan Pemahaman Belajar Siswa MI Dalam Mengelompokkan Jenis Tumbuhan,Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 10 , no. : 236Ae54. 25 Meirza Nanda Faradita Dinda Iftitach. Holy Ichda Wahyuni. AuPengembangan Media Pop Up Book Rantai Makanan pada Pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar,Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 09, 4 . : 231Ae46. 26 Shella Nabila. Idul Adha, and Riduan Febriandi. AuPengembangan Media Pembelajaran Pop Up Book Berbasis Kearifan Lokal Pada Pembelajaran Tematik Di Sekolah Dasar,Ay Jurnal Basicedu 5, no. : 3928Ae39. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 bahwa media Pop up Book efektif meningkatkan hasil belajar siswa karena membuat pembelajaran lebih menarik dan interaktif. Hasil penelitian ini didukung dengan oleh temuan penelitian internasional yang dilakukan yang menunjukkan bahwa model pembelajaran Generative Learning efektif dalam meningkatkan hasil belajar kognitif siswa. 28 Model pembelajaran ini mendorong siswa untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan pembelajaran melalui proses menghubungkan pengetahuan awal dengan konsep baru, melakukan diskusi, serta membangun pemahaman secara mandiri sehingga proses pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami dan tidak sekadar menghafal. Selain itu, penelitian internasional oleh Ibrahim et al . menunjukkan bahwa media Pop up Book dengan pendekatan saintifik efektif meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang inovatif serta menarik dalam pembelajaran IPA di SD. 29 Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa model pembelajaran Generative Learning merupakan pendekatan yang efektif untuk mengoptimalkan proses kognitif, kerja sama antar peserta didik, serta pencapaian tujuan pembelajaran. Hasil penelitian ini juga didukung oleh landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan teori belajar kognitif, proses belajar merupakan aktivitas mental yang melibatkan pengolahan informasi, sehingga peserta didik perlu berperan aktif dalam membangun pemahamannya sendiri. Hal ini sejalan dengan penerapan model pembelajaran Generative Learning yang mendorong peserta didik untuk mengaitkan pengetahuan awal dengan informasi baru sehingga terbentuk pemahaman yang lebih baik. Selain itu, temuan penelitian ini juga sesuai dengan teori konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh peserta didik melalui pengalaman belajar. Dalam pembelajaran menggunakan model Generative Learning berbantuan media Pop-up Book, peserta didik tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengonstruksi pengetahuan melalui diskusi, pengamatan, dan interaksi dengan media pembelajaran. Lebih lanjut, hasil penelitian ini juga relevan dengan teori Vygotsky yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam proses belajar. Melalui kegiatan diskusi kelompok dan kerja sama, peserta didik saling bertukar ide dan membantu 27 N L G S Utami. I B P Arnyana, and I M Candiasa. AuMeningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VI SD Pada Topik Masa Pubertas Melalui Media Pop-Up Book,Ay Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia 8, no. : 94Ae110. 28 Boby Syefrinando et al. AuThe Effects of Generative Learning Model for Learning Temperature and Heat on Science Learning Outcomes,Ay Jrunal Pendidikan Sains 10, no. : 169Ae76. 29 Moch Bayu Ibrahim S. Nurlela Nurlela, and M Burhan Rubai Wijaya. AuDevelopment of Water Pop-Up Book Media with a Scientific Approach : Efforts to Increase Elementary Students Ao Scientific Literacy,Ay Journal of Primary Education 11, no. : 190Ae202. 30 I Putu Ari Sudana dan I Gede Astra Wesnawa. AuPenerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ipa,Ay Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar 1, no. : 1Ae8. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 satu sama lain dalam memahami materi, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih Dengan demikian, perpaduan antara model pembelajaran Generative Learning dan media Pop up Book terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa serta mendukung terciptanya pembelajaran yang aktif dan mudah dipahami. Selain itu, penggunaan media Pop up Book turut memperkuat pemahaman siswa terhadap materi kenampakan alam dan buatan di daerahku karena menyajikan visual yang konkret, menarik, dan mudah diamati sehingga membantu siswa dalam membandingkan serta mengidentifikasi konsep-konsep IPAS dengan lebih jelas, tampilan yang interaktif juga mampu meningkatkan perhatian, keterlibatan siswa, selama proses pembelajaran berlangsung, dengan demikian perpaduan antara model Generative Learning dan media Pop up Book menciptakan suasana belajar yang interaktif, menyenangkan, dan bermakna yang pada akhirnya berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa sekaligus dapat dijadikan sebagai alternatif inovasi pembelajaran bagi guru dalam mengoptimalkan kualitas pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Penelitian yang berjudul Pengaruh Model Generative Learning Berbantuan Media Pembelajaran Pop up Book Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas i pada Pembelajaran IPAS di SD N 11 Sesetan memiliki kesamaan dengan penelitian Halmuniati et al . mengungkapkan bahwa penerapan model pembelajaran Generative Learning berpengaruh terhadap capaian hasil belajar siswa, hal ini ditunjukkan melalui adanya perbedaan hasil belajar antara kelas yang diberikan perlakuan dan yang tidak, sehingga model pembelajaran generatif dinyatakan efektif dalam mengoptimalkan hasil belajar, kesamaan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan aktif siswa dalam membangun pengetahuan memberikan pengaruh terhadap capaian belajar, sehingga temuan penelitian ini semakin memperkuat bahwa model Generative Learning relevan diterapkan dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Penelitian ini juga selaras dengan hasil penelitian, yang menunjukkan bahwa penerapan model Generative Learning mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan yang ditandai dengan adanya peningkatan hasil belajar setelah pembelajaran, temuan ini memperkuat bahwa model Generative lebih efektif dibandingkan menggunakan metode konvensional, kesamaan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran menjadi faktor penting dalam meningkatkan hasil belajar, sehingga mendukung hasil penelitian ini. Selain itu, penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh, yang mengungkapkan bahwa pembelajaran konstruktivisme yang bersifat generatif mampu meningkatkan 31 Halmuniati et al. AuPengaruh Model Pembelajaran Generatif Terhadap Hasil Belajar Fisika,Ay Jurnal Pendidikan Fisika 10, no. : 187Ae92. 32 Lusi Hardiyani and Yoyo Zakariya. AuImplementasi Model Generative Learning Menggunakan Wordwall Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Informatika Kelas Vi,Ay Ainara Journal (Jurnal Penelitian Dan PKM Bidang Ilmu Pendidika. 5, no. : 391Ae97. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 keaktifan siswa serta membantu siswa membangun pemahaman secara mandiri, hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang menekankan pada peran aktif siswa dapat menciptakan proses belajar yang lebih bermakna, sehingga mendukung temuan dalam penelitian ini di mana siswa menjadi lebih aktif selama pembelajaran Selanjutnya, penelitian oleh Pratiwi et al. menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran generatif mampu meningkatkan kemampuan siswa yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar secara bertahap, hal ini menunjukkan bahwa model generatif efektif dalam membantu siswa memahami materi secara lebih baik melalui proses pembelajaran yang aktif, sehingga hasil penelitian tersebut memperkuat temuan dalam penelitian ini bahwa model Generative Learning mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Selanjutnya, penelitian oleh Fitriana juga menunjukkan bahwa penggunaan media pop-up book mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan melalui penyajian visual yang menarik dan interaktif, sehingga siswa lebih aktif dan mudah memahami konsep yang dipelajari. 35 Hal ini sejalan dengan hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa penggunaan media pop-up book pada pembelajaran IPAS juga mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Media ini tidak hanya membantu memvisualisasikan materi secara konkret, tetapi juga meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pop-up book memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, baik dari segi proses maupun hasil belajar siswa di sekolah Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi guru dalam memilih serta menerapkan model pembelajaran yang sesuai di kelas. Penggunaan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop up Book menunjukkan bahwa model dan media tersebut dapat mendukung pemahaman siswa terhadap materi serta meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu, model pembelajaran ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran. Melalui penerapan model Generative Learning, guru dapat menciptakan proses pembelajaran yang membantu siswa menghubungkan pengetahuan awal dengan pengetahuan baru, sehingga pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami. Di samping itu, media Pop up Book yang bersifat visual dan konkret juga dapat membantu siswa memahami materi Mega Ananta Julia. Novia Fitriani, and Roni Setiawan. AuProses Pembelajaran Konstruktivisme Yang Bersifat Generatif Di Sekolah Dasar,Ay Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar 1, no. : 1Ae7. 34 Amelia Putri Pertiwi. Yurniwati, dan Dudung Amir Soleh. AuPeningkatan Kecerdasan Logis Matematis Melalui Model Pembelajaran Generatif Pada Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar Negeri Rambutan 03 Pagi,Ay Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 10, no. : 276Ae90. 35 Adriyani Zuanita Nisa Fitriana. AuPengaruh Penggunaan Pop-Up Book Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Konsep Siklus Air,Ay Journal of Integrated Elementary Education 1, no. 89Ae97. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 dengan lebih mudah, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan mendukung pencapaian hasil belajar siswa. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, namun tidak mengurangi keberhasilan penerapan pembelajaran. Masih terdapat sebagian kecil siswa yang belum memahami materi secara optimal meskipun telah menggunakan media up book, yang kemungkinan disebabkan oleh perbedaan kemampuan awal siswa dan tingkat fokus selama pembelajaran. Selain itu, penggunaan media ini memerlukan penyesuaian, terutama dalam hal ukuran dan penyajian, agar dapat terlihat jelas oleh seluruh siswa, khususnya yang berada di bagian belakang kelas. Oleh karena itu, guru perlu memberikan penjelasan yang lebih terarah dan berulang agar pemanfaatan media dapat lebih maksimal. Meskipun demikian, berdasarkan seluruh hasil analisis dan pembahasan, dapat ditegaskan bahwa penerapan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop up Book tetap memberikan pengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas i pada mata pelajaran IPAS, serta mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan media Pop up Book menyajikan materi secara visual, konkret, dan menarik sehingga memudahkan siswa memahami konsep kenampakan alam dan buatan yang bersifat abstrak. Selain itu, tampilan tiga dimensi pada media Pop up Book mampu menarik perhatian siswa, menumbuhkan rasa ingin tahu, serta mendorong siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti kegiatan Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami dan membantu siswa dalam mengingat materi yang dipelajari sehingga hasil belajar siswa mengalami peningkatan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan model pembelajaran Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas i SD Negeri 11 Sesetan Kota Denpasar Tahun Ajaran 2025/2026. Hal ini dibuktikan melalui hasil uji hipotesis menggunakan independent sample t-test yang menunjukkan nilai signifikansi . -taile. sebesar 0,001 < 0,05, sehingga HCA ditolak dan HCA diterima. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada kelas yang menggunakan model Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran Teacher Centered Learning (TCL). Dengan demikian, model Generative Learning berbantuan media Pop-Up Book dapat menjadi alternatif pembelajaran inovatif yang mampu meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran IPAS. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 DAFTAR PUSTAKA