Available online through http://ejournal. id/index. php/modul ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X Persepsi Multigenerasi terhadap Elemen Persisten Kawasan Pusat Kota Pasuruan PERSEPSI MULTIGENERASI TERHADAP ELEMEN PERSISTEN KAWASAN PUSAT KOTA PASURUAN Phylicia Deosephine Soegiono1*) Rony Gunawan Sunaryo. Agus Dwi Hariyanto. *) Corresponding Author email : deosephinephylicia@gmail. Departemen Arsitektur. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Universitas Kristen Petra . Departemen Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Atma Jaya Yogyakarta Article info MODUL vol 24 no 1, issues period 2024 Doi : 10. 14710/mdl. Received : 17 january 2024 Revised : 6 april 2024 Accepted : 14 mei 2024 Abstrak Kota Pasuruan pertama kali dikenal sebagai pelabuhan transit dan pasar perdagangan antar pulau serta antar negara di timur Jawa. Hal ini dikarenakan lokasinya strategis berada di utara yang berbatasan langsung Madura. Namun, perkembangannya, kota Pasuruan tidak lagi sebagai central perdagangan di Jawa Timur. Keberadaan kota Pasuruan tetap bertahan namun sebagai kota yang bercirikan perkebunan dengan memiliki beberapa elemen pusat kota, antara lain pemerintah kota, pusat penelitian gula, masjid dan alun-alun, serta klenteng yang menjadi khas dari kota Pasuruan. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui morfologi tipologi kawasan pusat Kota Pasuruan, mengidentifikasi tingkat permanensi elemen-elemen pembentuk pusat Kota Pasuruan, dan mendapatkan gambaran perubahan karakter kawasan pusat Kota Pasuruan. Metodologi penelitian yang dipakai adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan analisis urban tissue secara diakronis dan sinkronis setiap elemen pembentuk pusat kota, melakukan analaisis matrikulasi permanensi elemen di tiap layer wakti, dan peta mental untuk mendapatkan gambaran masyarakat. Hasil akhir dari penelitian ini adalah berupa saran elemen kota apa yang perlu dipertahankan dan diubah untuk perbaikan citra kawasan. Keywords: pusat kota Pasuuran. kawasan Eropa Pasuruan. kota pelabuhan. elemen kota Pasuruan PENDAHULUAN Pasuruan pertama kali dikenal sebagai pelabuhan transit dan pasar perdagangan antar pulau serta antar Sebelum Pasuruan resmi menjadi sebuah pemerintahan, pada tahun 1450, pelabuhan Kota Pasuruan sangat terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan tembikar (Asnawi, 2021. ihat gambar . Kemudian pada tahun 1500-an, pemekaran terjadi ke arah selatan sejak masuknya Kerajaan Demak dalam menyebarkan agama Islam, sehingga muncul langgar, sekolah agama, alun-alun kota, hingga pondok pesantren tertua di Sidogiri (Adryamarthanino, 2. Pada tahun 1900-an ketika kota Pasuruan ditaklukkan oleh Belanda. Belanda menganggap Pasuruan sebagai kota bandar yang cukup penting, sehingga Kota Pasuruan dijadikan pusat pemerintahan (Purwanto, 2. Selat madura Gempol Bangil Pandakan Wangkal Grati Poerworedjo Tengger Gambar 1. Kota Pasuruan pertama kali sebagai pelabuhan transit (Analisis, 2. Berdasarkan Staatsblatd 1918 No. Gementee Pasuruan resmi statusnya menjadi Kotapraja Pasuruan. Dengan disahkannya Pasuruan sebagai daerah otonom, maka Belanda mulai menerapkan pembagian kawasan etnis secara tegas, yang berbunyi orang timur asing yang menjadi penduduk Hindia-Belanda sedapat mungkin dikumpulkan terpisah dari kawasan hunian orang Eropa dibawah pimpinan kepala mereka masing-masing Phylicia Deosephine Soegiono. Rony Gunawan Sunaryo. Agus Dwi Hariyanto ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X MODUL vol 24 no 1,issues period 2024 (Hamdy & Wisnu, 2. Hal ini menyebabkan sejak saat itu. Kota Pasuruan memiliki teritori yang jelas antara kawasan elit Eropa, kawasan pecinan, kawasan pribumi / Arab . ihat gambar . Kawasan Eropa Kawasan Arab / Kawasan Pecinan Gambar 2. Pembagian wilayah berdasarkan etnis di kota Pasuruan awal abad ke-20 (Analisis, 2. Pada sepanjang abad ke-19, dengan berlakunya sistem tanam paksa. Kota Pasuruan disebut juga sebagai Aicollecting centerAn sebagai wilayah distribusi perdagangan bagi hasil bumi dari daerah disekitarnya, sehingga pada tahun ini mulai didirikan jalan-jalan pos sebagai bagian dari kebijakan sistem tanam paksa untuk transportasi tebu di Kota Pasuruan (Asnawi, 2021. ihat gambar . Gambar 3. Kota Pasuruan sebagai Aicollecting centerAn tebu (Analisis, 2. Pada era bersejarah, kawasan Eropa merupakan faktor dominan pendorong berkembangnya kota Pasuruan. Hal ini dibuktikan dengan letak pusat perkantoran Belanda berada di jalan utama kawasan Eropa, yaitu Jalan Pahlawan (Hamdy & Wisnu, 2. Akibatnya, kawasan Eropa diera tersebut dibangun fasilitas lengkap seperti gedung hiburan Harmonie, sekolah teknik Ambracht School, pabrik katun Vroeger Europeeschuis, taman kota, dan hotel Tonjes (Hamdy & Wisnu, 2. Namun, pada era saat ini, kepadatan dan keramaian di beberapa bagian kawasan Eropa kota Pasuruan sudah mulai memudar. Hal ini dibuktikan dari adanya penurunan aktivitas dan jumlah kendaraan umum (SasnindyahA, 2. Penelitian ini berfokus pada perubahan kawasan pusat kota Pasuruan yang dahulunya ramai kegiatan dan terkenal sebagai kawasan Eropa di Kota Pasuruan. Perubahan tersebut diakibatkan oleh beberapa isu, yaitu: Perubahan sektor ekonomi kota Pasuruan dari komoditas gula menjadi sektor industri. Sejak adanya kebijakan cultursteelsel. Kota Pasuruan terkenal dengan komoditas gulanya. Pada tahun 2018, meskipun Kota Pasuruan mengalami laju pertumbuhan positif sebesar 54%, tetapi usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, dan pertambangan dan penggalian justru mengalami penurunan sebesar -0. 05% (Kadarwati, 2. Laju pertumbuhan positif karena digerakkan oleh sektor industri (Kadarwati, 2. Pengesahan kota Pasuruan sebagai kota pusaka yang memiliki potensi menjadi kota wisata. Kota Pasuruan berada dalam kawasan WPS . ilayah pengembangan strategi. 14 dan berdekatan dengan KSPN prioritas Bromo Ae Tengger Semeru (BPIW, 2. Di dalam kota Pasuruan terdapat sejumlah ikon bangunan kuno yang menjadi simbol kota tua, seperti Gedung Harmoni. Pelabuhan Rakyat, dan Gedung Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) (BPIW, 2. Menurut kepala BPIW Kota Pasuruan, perlu adanya sejumlah pembenahan bangunan-bangunan kuno di kota Pasuruan karena sejauh ini bangunan tersebut belum dikelola dengan baik, apalagi kota Pasuruan telah disahkan sebagai kota pusaka yang berpotensi sebagai daerah wisata (BPIW, 2. Berubahnya persepsi masyarakat terhadap karakter kawasan Eropa kota Pasuruan. Bila di era 1900-an, masyarakat menganggap kawasan pusat kota Pasuruan berisikan kehidupan masyarakat elite Eropa, seperti pusat pemerintahan, pusat perumahan pejabat dan karyawan gula, maka saat ini di area jalan-jalan tersebut cenderung sepi (AiCerita Gemilang Industri Gula Pasuruan,An 2. Kawasan tersebut tidak lagi memiliki aktivitas menonjol ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X yang menjadi pusat perhatian masyarakat, namun hanya dijadikan sebagai area perlintasan kendaraan saja. Oleh karena itu, dilakukan satu dan dua penelitian pendahuluan yang hanya ingin mencoba memetakan secara dangkal apakah persepsi masyarakat terhadap elemen-elemen kota yang penting memiliki relasi dengan morfologi kota Pasuruan dan Peta mental dilakukan untuk mengetahui indikasi perubahan wilayah pusat kota Pasuruan yang dulunya sebagai kawasan Eropa yang strategis namun saat ini tidak lagi. Pendekatan peta mental melalui persepsi multigenerasi akan membantu Bagaimana urban tissue kawasan pusat kota Pasuruan? Elemen-elemen apa saja yang persisten di kawasan pusat kota Pasuruan? Apa kaitan elemen persisten di kawasan pusat kota Pasuruan terhadap peta mental yang dilakukan oleh multigenerasi? Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini, yaitu: Mengetahui lapisan-lapisan urban tissue kawasan pusat Kota Pasuruan. Mengidentifikasi tingkat permanensi elemenelemen pembentuk pusat Kota Pasuruan. Mencari relasi / kaitan antara elemen persisten di kawasan pusat Kota Pasuruan dengan persepsi yang ada di kalangan msyarakat. KAJIAN TEORI Analisis Urban Tissue Dalam membedah indikasi perubahan yang terjadi pada kawasan pusat kota Pasuruan, maka diperlukan analisis lapisan sosial-morfologi dari setiap elemen urban tissue. Urban tissue dalam buku The Handbook of Urban Morphology karya Kropf, dikenal sebagai "struktur kota" atau "jaringan kota," merujuk pada pola dan karakter fisik dari sebuah kota mencakup elemen alam, pengaturan jalan, blok, dan pola bangunan dalam menciptakan kehidupan perkotaan (Kropf, 2. Permanensi Berdasarkan periode tertentu, maka dapat diklasifikasikan elemen kota yang tetap bertahan melalui tabel permanensi. Menurut teori kepermanenan dalam buku The Architecture of The City karya Aldo Rossi, kepermanenan menampilkan dua aspek, yaitu sebagai elemen pendorong dan patologis (Rossi, 1. Fungsi saja tidak cukup untuk menjelaskan sebuah artefak Pada kenyataannya, kita sering terus menghargai unsur-unsur yang fungsinya telah hilang dari waktu ke waktu. Dalam perkembangannya, beberapa elemen di kota Pasuruan mengalami resiliensi. MODUL vol 24 no 1,issues period 2024 Peta Mental (Mental Ma. Dalam membuktikan elemen persisten secara konsisten, maka perlu diperdalam dengan pendekatan mental map oleh multigenerasi. Peta mental adalah interpretasi pribadi terhadap ruang yang menunjukkan bagaimana tempat dapat dirasakan dan dialami oleh penghuni (Romice et al. , 2. Menurut Kevin Lynch pada bukunya The Image of the City, pandangan masyarakat terhadap kawasan dengan mudah dapat memberikan identitas yang kuat terhadap suatu tempat. Ada 5 elemen kota yang bisa dilihat secara fisik dan imagable oleh masyarakat, yaitu path, edge, node, landmark, dan district (Lynch, 1. METODOLOGI PENELITIAN Konsep besar penelitian adalah ingin mengetahui apakah ada relasi antara elemen permanensi yang ada di kawasan pusat kota Pasuruan dengan persepsi yang ada di masyarakat Kota Pasuruan . ihat gambar . Hal ini dikarenakan seringkali kebijakan perbaikan kawasan hanya berpacu pada identifikasi elemen permanensi saja, namun tidak melihat kesesuaiannya dengan persepsi yang ada dikalangan masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pertimbangan dalam membuat kebijakan perbaikan kawasan yang menjawab kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, diagram di bawah menjelaskan: A: Pemakaian teori urban tissue (Kropf, 2. dan teori permanensi (Rossi, 1. sebagai bagian dari studi literatur untuk menemukan elemen permanensi pembentuk pusat Kota Pasuruan B: Pemakaian teori peta mental (Lynch, 1. untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap elemenelemen tersebut. C: Menganalisis apakah elemen permanensi pembentuk pusat Kota Pasuruan sejalan atau memiliki relasi dengan persepsi yang ada dimasyarakat. Urban Tissue (Kropf, 2. Peta mental (Lynch, 1. Permanensi (Rossi, 1. Relasi Gambar 4. Konsep Penelitian (Analisis, 2. ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X Dalam menemukan letak relasi antara elemen permanensi dan persepsi yang ada di masyarakat, maka dilakukan beberapa tahapan penelitian. Metode penelitian yang dipakai adalah deskriptif kualitatif dan pengambilan survei terhadap elemen kawasan pusat kota Pasuruan, meliputi Analisis urban tissue secara diakronis dan sinkronis setiap elemen pembentuk kota. Lapisan morfologitipologi menampilkan transformasi setiap elemen urban tissue berdasarkan periode 1915 . erbentuknya Gemente. , 1937 . erbentuknya kota mady. , 1944 . ra kemerdekaa. , 2023 . ra sekaran. , yang meliputi natural context, street / square, block/kapling, building. Analisis matrikulasi permanensi elemen di setiap layer waktu. Matrikulasi ini akan mengklasifikasikan elemen yang termasuk persisten, change, dan extinct melalui tabel permanensi dan menyimpulkan elemen persisten propelling dan patologis. Peta mental untuk mendapatkan gambaran Peta mental dilakukan dengan pengambilan survei kepada multigenerasi untuk melihat kaitan elemen kota yang dipersepsikan oleh masyarakat dengan elemen permanensi. Pada pendalaman peta mental, maka ada beberapa tahap yang perlu dilakukan, yaitu: Pengambilan data melalui wawancara multigenerasi bersama generasi kelahiran tahun 1951, 1971, 1999, dan 2007 dengan Path, yaitu penghubung antar elemen dalam kawasan Pusat Kota Pasuruan. Path bisa ditunjukkan berupa jalan, pedestrian, jembatan Edge, yaitu batas kawasan pusat kota Pasuruan. Hal ini bisa ditunjukkan bermacam-macam bergantung ciri khasnya masing-masing. Contohnya pedagang keliling yang memang sudah ada sejak dulu dan menjadi penanda wilayah tersebut. Node, persimpanganpersimpangan utama yang menjadi karakter kawasan pusat kota Pasuruan. Landmark, yaitu elemen yang paling menonjol, bisa berupa bangunan / penanda lainnya District, pembagian kawasan dalam kawasan pusat kota Pasuruan, bisa berupa karakter kampung-kampung MODUL vol 24 no 1,issues period 2024 Hasil wawancara dari keempat generasi tersebut dituang ke dalam bentuk sketsa gambar peta mental . ihat gambar Gambar 5. Kerangka peta sebagai acuan wawancara kepada narasumber dengan Kali Gembong sebagai elemen alam yang persisten (Analisis, 2. Melakukan perbandingan antar elemen Menyimpulkan letak kesesuaian matriks multigenerasi sehingga dapat memberikan sumbangsih tentang elemen apa saya yang harus dipertahankan dan diubah untuk menjadi identitas kawasan kota Pasuruan. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Urban Tissue Kawasan Pusat Kota Pasuruan Kota Pasuruan memiliki dua elemen natural context, yaitu Kali Gembong yang bermuara ke selat madura dan kebun tebu yang berada di lingkup kawasan pusat kota Pasuruan. Pada tahun 1915. Eropa memilih daerah sepanjang sungai gembong hingga ke pelabuhan karena merupakan jalur yang penting sebagai pintu masuk kota dari laut . ihat gambar . Pada tahun 1937. Belanda mengembangkan gudang dan perindustrian ke arah laut untuk ekspor gula sehingga jalan besar diperluas ke utara . ihat gambar . Pada tahun 1944, saat era kemerdekaan, tidak terlalu banyak perubahan terjadi pada keberadaan Kali Gembong maupun kebun penelitian gula. Hanya saja perubahan terjadi pada status kepemilikan pengelola karena efek dari sistem nasionalisasi . ihat gambar . Pada tahun 2023, adanya jumlah penduduk yang terus bertambah mengakibatkan kebun tebu ekspansi ke arah utara sedangkan pemukiman mulai dibangun ke arah timur . ihat gambar ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X Gambar 6. Transformasi natural context tahun 1915, 1937, 1944, 2023 . ari satu ke-empa. (Analisis, 2. Pada elemen street / square, di tahun 1915 terjadi penetapan batas jalan utama pemukiman Kolonial, yaitu Jalan Pahlawan. Jalan Veteran. Jl. WR. Supratman. Jl. Balai Kota . ihat gambar . Pada tahun 1937, sejak disahkannya kotamadya, terjadi perbaikan infrastruktur besar-besaran, seperti pembangunan drainase kota (Hamdy & Wisnu, 2. Hal ini menyebabkan terjadinya pelebaran jalan . ihat gambar . Pada tahun 1944, terjadi sistem nasionalisasi, yaitu membuang bangunan yang berbau kolonial seperti keresidenan, namun semakin memperluas fasilitas publik, sehingga sepanjang jalan kawasan Eropa Kota Pasuruan diperlebar untuk kepentingan publik . ihat gambar . (Hamdy & Wisnu, 2. Pada tahun 2023, pembagian etnis sudah tidak berlaku, sehingga pembangunan jalan mengikuti sistem perekonomian saat ini. Pada daerah perkebunan yang mayoritas profesi petani dan para pekerja, maka bagian tersebut muncul gang-gang kecil sebagai akses hunian mereka . ihat gambar . MODUL vol 24 no 1,issues period 2024 Pada elemen blok Ae kapling, di tahun 1915, terjadi pembagian fungsi lahan. Kapling yang digunakan sebagai hunian masyarakat dialokasikan di sisi selatan, berlawan arah dari bangunan industri di sisi utara . ihat gambar . Pada tahun ini, kapling cenderung besarbesar mengikuti strategis iklim arsitektur kolonial. Pada tahun 1937, anggapan pentingnya penerapan gaya hidup Eropa di tanah jajahan mengakibatkan kavling di tengah Jl. Pahlawan menjadi sempit karena dibangun beberapa tempat petemuan dan hiburan . ihat gambar . Pada tahun 1944, jarak kapling semakin berdempetan karena pemenuhan fasilitas publik . ihat gambar . Pada tahun mengakibatkan ukuran kavling semakin kecil . ihat gambar . Gambar 8. Transformasi blok atau kapling tahun 1915, 1937, 1944, 2023 . ari satu ke-empa. (Analisis, 2. Pada elemen building, di tahun 1915, dibangun bangunan pemerintahan, hunian para pejabat dan pekerja bisnis Belanda . ihat gambar . Pada tahun 1937, pembangunan bergerak ke utara untuk menyediakan fasilitas lengkap bagi warga Belanda, seperti gedung Harmonie. Taman Kota. Stadion. P3GI. Sekolah Teknik, dan Bengkel Kapal . ihat gambar . Pada tahun 1944, pembangunan semakin bergerak ke utara dengan pendirian Gereja Katolik St. Padua dan fungsi bisnis, seperti pabrik katun, hotel, hunian para pedagang / petinggi Belanda . ihat gambar . Pada tahun 2023, pembangunan mulai bergerak ke selatan, untuk mewadahi kebutuhan hunian pegawai dan warga sipil Eropa lainnya . ihat gambar . Gambar 7. Transformasi street atau square tahun 1915, 1937, 1944, 2023 . ari satu ke-empa. (Analisis, 2. ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X MODUL vol 24 no 1,issues period 2024 Gambar 10. Rumah pekerja P3GI . urvei lapangan, 2. Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Pasuruan . oogle earth, 2. ari kiri ke kana. Analisis Elemen Permanensi Kawasan Pusat Kota Pasuruan Dari analisis lapisan morfologi dan tipologi pusat kota Pasuruan, maka dapat diklasifikasikan elemen apa yang persisten, changing, dan extinct melalui tabel permanensi sebagai berikut . ihat tabel . Tabel 1. Tabel Permanensi (Analisis, 2. (Google Earth, 2. Periode Perkembangan 5 Elements of Urban Tissue Gambar 9. Transformasi building tahun 1915, 1937, 1944, 2023 . ari satu ke-empa. (Analisis, 2. Berdasarkan bentuknya, bangunan di kota Pasuruan mengikuti pembagian zona. Kawasan pusat kota Pasuruan yang terdiri dari Jl. Pahlawan dan Jl. Balaikota diklasifikasikan ke dalam zona i (Sudikno, 2. , yang berarti: Deretan bangunan di sepanjang jalan, memiliki tingkatan lantai 1-3 . ihat gambar . Gaya arsitektur Kolonial dan Modern Setiap bangunan memiliki ketentuan KDB sekitar 60% - 100%. KLB 60% - 300% Pada setiap kavling, batas lahan (GSB) bisa mencapai 0 - 18m. Bangunan-bangunan tersebut dapat dibedakan menjadi dua karakter (Chawari, 2. Karakter pertama, yaitu bangunan yang bersifat umum, seperti kantor pemerintah. Gereja Katolik St. Padua, gedung hiburan Harmonie, taman kota, maupun sekolah teknik yang mayoritas memiliki ketinggian hingga tiga lantai. Karakter kedua, yaitu bangunan yang bersifat pribadi, seperti rumah dinas wakil walikota serta rumah tinggal para pekerja peneliti gula yang dulunya digunakan sebagai rumah tinggal pejabat Eropa . ihat gambar . Di sepanjang kawasan pusat kota Pasuruan, mayoritas menggunakan gaya arsitektur kolonial, dimana ciri khas yang paling terlihat, yaitu memiliki halaman luas yang digunakan untuk penyesuaian terhadap iklim tropis di Indonesia, keamanan, ketersendirian . , dan untuk perlindungan . ihat gambar . Con Urban Tissue Pusat Pusat Sungai Natural Context Kebun Tebu Jalan Streets Jalur Pemu Block Kapling Dis Gereja Buildings / Seko Kantor Keterangan 1915 1937 1944 2023 Dari dulu hingga sekarang, kawasan Eropa yang meliputi Jl. Pahlawan. Jl. Veteran. Jl. WR. Supratman. Jl. Balaikota Persis tetap menjadi Aipusat kotaAn Pasuruan karena aglomerasi dari segala gedung pemerintahan kota Pasuruan. Dari dulu hingga sekarang, kota Pasuruan Persis memiliki pusat penelitian gula satusatunya di Indonesia yang masih beroperasi yang terletak di Jl. Pahlawan. Area lahan air tawar mengalami pertambahan luas pada tahun 2014 dan Luas 2017 dengan adanya pelebaran tanggul tam Persis dan normalisasi Sungai Gembong sebagai bah tent rencana pengelolaan kawasan rawan banjir di pesisir Kota Pasuruan. Pada tahun 1800 - 1900 an, luas lahan tebu mencapai 12. 514 Ha, namun setelah kemerdekaan hingga 2017 . terus mengalami penurunan menjadi Luas Persis 4. 464 Ha. Hal ini karena teknologi usaha kurang tent tebu mengalami stagnasi dan peningkatan produksi padi naik. Pada tahun 1937 terjadi pelebaran jalan karena penambahan drainase. Pada tahun Pedes Persis 2018 terjadi pelebaran trotoar dari semula Drainase trian tent 2m menjadi 3m untuk menciptakan kawasan heritage. Jalur trem uap Pasuruan - Warungdowo dibuka pada tahun 1896 - 1897 untuk melayani angkutan penumpang, hasil bumi perkebunan dan mobilisasi gula untuk didistribusikan ke daerah lain / dikirim ke pelabuhan. Pada tahun 1988 ditutup karena kalah bersaing dengan angkutan jalan raya, kondisi tua dan Extinct diubah menjadi jalur lori pabrik gula Kedawung. Setelah Ganti Persis kolonial tidak lagi ditinggali oleh pejabat fungsi tent pemerintahan Belanda namun menjadi guest house / rumah dinas pekerja P3GI Hanya bisnis gula yang dipertahankan. Ganti Persis bisnis pariwisata . otel Morbeck dan tent hotel Tonje. telah bergeser menjadi fungsi kantor pemerintah. Tetap peresmiannya dan saat ini menjadi cagar Persis budaya sesuai dengan Surat Keputusan tent Walikota Pasuruan Nomor 188/496/423. 031/2015 Terdapat 3 sekolah yang didirikan sejak Persis masa kolonial (SMK Untung Suropati, tent SMPN 1. SDN Pekunce. dan hanya berganti nama saja menjadi disamakan. Tetap ada dan jumlah luasan bertambah. Persis hanya saja kantor yang bersifat tent keresidenan telah diganti dengan kantor walikota sejak pasca kemerdekaan. ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X Pada kawasan pusat kota Pasuruan, elemen persisten propelling, yaitu bangunan pemerintah dan perkebunan gula karena masih difungsikan dengan baik seperti Hanya saja ada perubahan terjadi pada bagian belakang bangunan dikarenakan sudah rusak dan tidak dapat mengakomodasi kebutuhan (Sudikno, 2. Perkebunan gula masih bertahan hanya saja mengalami penurunan jumlah luasan area. Persepsi Masyarakat Kota Pasuruan terhadap Elemen Permanensi Kawasan Pusat Kota Pasuruan Dari hasil wawancara terhadap multigenerasi, maka persepsi elemen kota dapat disketsakan berupa peta mental sebagai berikut . ihat gambar . MODUL vol 24 no 1,issues period 2024 Setiap generasi memiliki perbedaan persepsi terhadap elemen kota yang disebabkan oleh pengalaman sesuai masa hidupnya masing-masing. Hal ini termasuk perbedaan persepsi terhadap lingkup kawasan pusat kota Pasuruan. Menurut generasi generasi 1951, kawasan pusat kota yang dahulunya terkenal sebagai kawasan Eropa kota Pasuruan meliputi Jalan Soekarno Hatta hingga Jalan Pahlawan. Menurut generasi 1978, kawasan Eropa meliputi Jalan Hasanudin. Jalan Soekarno Hatta, hingga ke Jalan Pahlawan. Menurut generasi 1999, kawasan Eropa meliputi Jalan Hasanuduin, hingga Jalan Pahlawan. Sedangkan menurut generasi 2007, kawasan Eropa meliputi Jalan Pahlawan. Jalan Balaikota. Jalan Veteran hingga ke Jalan W. Supratman. Kaitan antara elemen urban tissue dan elemen kota Kevin Lynch dapat diketahui dari perbedaan dan persamaan persepsi masyarakat. Elemen urban tissue yang secara konsisten dipersepsikan masyarakat, maka dipertahankan untuk menjadi identitas Namun, elemen urban tissue yang tidak konsisten dipersepsikan masyarakat, maka perlu direvitalisasi / redesign agar memperkuat identitas Kaitan antara Identifikasi Elemen Permanensi dengan Persepsi Masyarakat Kota Pasuruan Pada generasi 1951, persepsi responden yang paling membedakan dengan generasi yang lain adalah edge menjadi elemen kota yang paling diingat oleh responden bila dibandingkan dengan elemen kota yang Elemen permanensi natural context berupa perkebunan gula, block / kavling dan concept of urban tissue berupa pusat penelitian gula dipersepsikan sebagai batasan kawasan Eropa yang saat itu ramai sehingga menjadi pusat kota Pasuruan. Pada generasi ini, elemen natural context kal Gembong dipersepsikan sebagai path / penghubung berupa jembatan diatas kali . ihat tabel . Hotel-hotel dipersepsikan sebagai landmark, sedangkan pemukiman pejabat dipersepsikan sebagai district berupa kawasan rumah elit masyarakat Belanda . ihat tabel . Building berupa gereja, sekolah teknik, dan kantor pemerintah dipersepsikan sebagai landmark . ihat tabel . Pada Jalan Pahlawan dengan jenis angkutan paling banyak berupa dokar dipersepsikan sebagai salah satu penghubung / path bagi kawasan Eropa kota Pasuruan saat itu . ihat tabel . Gambar 11. Peta mental Susilowati generasi 1951. Soegiono generasi 1971. Deyla generasi 1999. Helga generasi 2007 . ari satu ke-empa. nalisis, 2. ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X MODUL vol 24 no 1,issues period 2024 Tabel 2. Kaitan elemen permanensi dan persepsi generasi 1951 terhadap elemen pusat kota Pasuruan Tabel 4. Kaitan elemen permanensi dan persepsi generasi 1999 terhadap elemen pusat kota Pasuruan Pada generasi 1971, persepsi responden yang paling membedakan dengan generasi yang lain adalah elemen block / kavling berupa kawasan bisnis diingat sebagai landmark dengan bangunan khas Eropanya, yaitu pabrik karton . ihat tabel . Tidak hanya itu saja, menurut generasi 1971, pabrik karton juga merupakan batas selatan kawasan Eropa yang terletak di Jalan Dr. Wahidin. Berbeda dengan generasi 1951, angkutan dokar hanya berada di Jalan Halmahera hingga ke utara pelabuhan sehingga menurut generasi 1971, jalan angkutan dokar bukan merupakan path pusat kota Pasuruan. Tabel 3. Kaitan elemen permanensi dan persepsi generasi 1971 terhadap elemen pusat kota Pasuruan Pada generasi 2007, persepsi responder yang paling membedakan dengan generasi lain terletak pada edge dan node. Menurut generasi ini. Jalan Letnan Kolonel Sugiono merupakan batas paling barat kawasan Eropa kota Pasuruan . ihat tabel . Hal ini dikarenakan persepsi nama jalan Letnan Kolonel merujuk pada status petinggi Belanda saat itu. Tidak hanya itu saja, menurut generasi ini Gedoeng Woloe tidak dipersepsikan sebagai elemen node, berbeda dengan generasi 1951 dan 1971 . ihat tabel . Tabel 5. Kaitan elemen permanensi dan persepsi generasi 2007 terhadap elemen pusat kota Pasuruan Pada generasi 1999, persepsi responden yang paling membedakan dengan generasi lain adalah pertigaan Hasanudin yang dipersepsikan sebagai titik . penting dalam kawasan Eropa kota Pasuruan . ihat tabel . Hal ini dikarenakan menurut generasi 1999, di pertigaan tersebut merupakan akhir dari deretan bangunan kolonial seperti rumah singa, sekolah Pancasila. Gedoeng Woloe, dan sebagainya. Padahal berdasarkan tabel permanensi, pertigaan Hasanudin tidak termasuk ke dalam lingkup kawasan Eropa kota Pasuruan. Dari analisis di atas, maka jawaban pertanyaan riset dalam penelitian ini antara lain: Lapisan morfologi kota Pasuruan berawal dari kota Pasuruan sebagai pelabuhan transit dan pasar perdagangan antar pulau serta antar negara di timur Jawa, namun saat ini telah berubah tidak lagi sebagai central perdagangan di Jawa Timur, tetapi tetap bertahan sebagai kota bercirikan perkebunan yang memiliki elemen pusat kota, antara lain pemerintah kota, pusat penelitian gula, masjid dan alun-alun, dan klenteng yang menjadi khas dari kota Pasuruan. Elemen permanensi yang persisten di Kota Pasuruan, yaitu kawasan kantor pemerintah dan pusat penelitian gula. Sedangkan elemen yang changing, yaitu block / kavling berisikan kawasan bisnis yang diahlifungsikan menjadi kantor pemerintah dan keberadaan pemukiman yang terus bertambah. Elemen yang punah di Kota Pasuruan, yaitu jalur ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X Bentuk tipologi kawasan pusat kota Pasuruan yang mudah diingat sehinga dipersepsikan sebagai elemen kota oleh masyarakat, yaitu elemen bangunan dengan ciri khas gaya arsitektur kolonial 1-3 lantai. Elemen permanensi yang paling konsisten dipersepsikan sebagai elemen kota (Kevin Lync. oleh multigenerasi, yaitu elemen block dan building berupa kawasan pemerintah dan elemen natural context berupa perkebunan gula yang dikelola oleh P3GI. Hanya saja terdapat perbedaan persepsi elemen kota oleh setiap generasi. Elemen permanensi yang tidak konsisten dipersepsikan oleh multigenerasi, yaitu path dan node. Hal ini dikarenakan menurut persepsi generasi tahun 1951 dan 1971. Jalan Soekarno Hatta termasuk ke dalam kawasan pusat kota Pasuruan. Hal ini menyebabkan perbedaan persepsi tentang node oleh multigenerasi. Menurut generasi tahun 1951 dan 1971, perempatan Gedoeng Woloe merupakan titik node yang paling khas karena terdapat bangunan bersejarah di daerah Namun berdasarkan tabel permanensi, jalan dan perempatan tersebut diluar lingkup kawasan pusat kota Pasuruan. KESIMPULAN DAN SARAN Dari pembahasan di atas, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah: Terdapat relasi antara identifikasi elemen permanensi dengan persepsi yang ada di masyarakat Kota Pasuruan . ihat tabel . Relasi positif dibuktikan dengan persepsi masyarakat terhadap karakter kawasan pusat kota Pasuruan yang masih kuat. Oleh karena itu, perlu ditingkatkannya kesadaran masyarakat dalam mempertahankan elemen pusat kota, seperti kawasan pemerintah, perkebunan gula, beserta gedung-gedung bersejarah Relasi negatif dibuktikan dengan temuan bahwa Perempatan Gedoeng Woloe yang dipersepsikan khas di kalangan masyarakat, saat ini hanya menjadi lalu lintas kendaraan saja. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan berupa redesign / revitalisasi yang berfokus pada elemen jalan . di Perempatan Gedoeng Woloe. Jalan Soekarno Hatta sehingga dapat menciptakan titik-titik temu ikonik . yang bisa mengundang wisatawan. MODUL vol 24 no 1,issues period 2024 Tabel 6. Elemen persisten dan yang tidak konsisten dipersepsikan multigenerasi sebagai elemen pusat kota Pasuruan Saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah penelitian ini terbatas pada jumlah responden, sehingga menyebabkan terbatasnya pula persepsi masyarakat terhadap elemen kota bergantung pada daya ingat masing-masing generasi. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah responden lebih banyak yang dapat mewakili masyarakat kota Pasuruan sehingga elemen kawasan pusat kota Pasuruan dapat disketsakan dengan lengkap sesuai dengan daya ingat masyarakat yang semakin kuat ACKNOWLEDGEMENT Penelitian ini ada pengembangan dari tugas mata kuliah tipologi-morofologi program pascasarjana teknik arsitektur Universitas Kristen Petra. REFERENSI