PENELITIAN ASLI SOSIALISASI SISWA SMP PENYALAHGUNAAN NARKOBA DIKALANGAN Nurhidayah . Muhammad Fadli2 Fakultas Ilmu Pendidikan. Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Sari Mutiara Indonesia. Medan. Sumatera Utara Info Artikel Riwayat Artikel: Diterima: 14 Juni 2025 Direvisi: 17 Juni 2025 Diterima: 27 Juni 2025 Diterbitkan: 09 Juli 2025 Kata kunci: Narkoba. Sosialisasi. Remaja. Sekolah. Pencegahan Penulis Korespondensi: Nurhidayah Email: nurhidayah@sari-mutiara. Abstrak Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja, khususnya siswa sekolah menengah pertama, merupakan persoalan serius yang mengancam masa depan generasi muda. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai bahaya narkoba serta mendorong terbentuknya sikap dan perilaku yang menjauhi narkoba. Kegiatan dilaksanakan di SMP Negeri 35 Medan dengan pendekatan edukatif melalui seminar, diskusi, dan kuesioner evaluasi. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman dan kesadaran siswa mengenai bahaya narkoba, serta tumbuhnya komitmen siswa untuk menjauhi lingkungan pergaulan bebas dan penggunaan zat adiktif. Dengan keterlibatan aktif pihak sekolah, guru, dan mahasiswa, sosialisasi ini membuktikan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam upaya pencegahan narkoba di lingkungan pendidikan. Jurnal ABDIMAS Mutiara e-ISSN: 2722-7758 Vol. 06 No. Juli, 2025 (P108-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM DOI: https://10. 51544/jam. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi : Sistem Informasi Fakutas Sains dan Teknologi Informasi Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Penyalahgunaan Narkoba dikalangan siswa sangat memprihatinkan, karena narkoba dapat merusak generasi muda. Hal ini dapat kita lihat melalui tayangan-tayangan telivisi, media sosial, dan media Dimana pemakaian narkoba dikalangan remaja yang notabanenya mereka masih pelajar kerap sekali terjadi dimana-mana, dengan penggunaan narkoba ini para remaja tidak segan-segan melakukan tindak-tindakan kriminal di tengah masyarakat seperti : membunuh, mencuri, berjudi, kumpul kebo, dan lain sebagainya. Penyalahgunaan narkoba di kalangan siswa tidak hanya berdampak pada individu pengguna, tetapi juga terhadap stabilitas sosial dan kualitas generasi penerus bangsa. Remaja yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba akan mengalami degradasi moral, menurunnya prestasi akademik, hingga gangguan psikologis yang akut seperti depresi, paranoia, bahkan kecenderungan untuk bunuh diri. Tidak jarang, ketergantungan terhadap narkoba menyebabkan siswa terjerat dalam lingkaran pergaulan bebas, tindak kejahatan, hingga menjadi pelaku kekerasan di lingkungan sekolah maupun masyarakat (Wahyuni, 2. Lingkungan sosial seperti keluarga, sekolah, dan pergaulan memiliki peran signifikan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. Lemahnya pengawasan orang tua, minimnya pendidikan karakter di sekolah, serta pengaruh negatif dari lingkungan sebaya menjadi pemicu utama siswa mudah tergoda untuk mencoba narkoba. Ditambah lagi, arus informasi yang tidak tersaring dari media sosial kerap menampilkan gaya hidup bebas yang seolah-olah menggambarkan penggunaan narkoba sebagai hal yang lumrah atau bahkan trendy (Mulyadi, 2. Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN), sebanyak 2,2 juta remaja Indonesia tercatat sebagai pengguna aktif narkoba. Fakta ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba sudah memasuki fase darurat, di mana remaja sebagai aset masa depan bangsa terancam mengalami kehancuran masa depan (BNN, 2. Kerusakan akibat narkoba tidak hanya bersifat fisik seperti kerusakan organ tubuh, tetapi juga mental dan psikososial penggunanya. Remaja yang menggunakan narkoba cenderung mengalami disorientasi hidup, kehilangan semangat belajar, dan rendahnya rasa tanggung jawab (Kemkes, 2. Upaya pencegahan yang bisa dilakukan antara lain dengan meningkatkan pendidikan anti-narkoba sejak dini di sekolah, mengadakan penyuluhan rutin yang melibatkan pihak berwenang seperti BNN dan kepolisian, serta mengintegrasikan pendidikan karakter dan keagamaan dalam kurikulum. Selain itu, pendekatan keluarga juga menjadi kunci dalam membentengi anak dari pengaruh buruk narkoba, yaitu dengan menciptakan komunikasi yang terbuka dan suasana rumah yang harmonis (Sari & Ramadhan, 2. Secara umum, semua elemen masyarakat perlu bersinergi dalam memerangi narkoba. Pemerintah, sekolah, orang tua, tokoh agama, hingga media massa memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk menyelamatkan generasi muda dari kehancuran akibat narkoba. Ketika remaja dibekali dengan pengetahuan, nilai moral, dan lingkungan yang mendukung, maka mereka akan lebih tangguh menghadapi godaan dan ancaman narkoba. Penting untuk disadari bahwa dampak narkoba tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Ketika remaja menjadi pengguna narkoba, maka tatanan sosial masyarakat ikut terganggu. Lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai positif dan pendidikan justru berubah menjadi tempat persembunyian aktivitas ilegal, seperti penyelundupan dan peredaran narkoba skala kecil antar pelajar (Yulianti, 2. Hal ini menyebabkan degradasi moral di lingkungan pendidikan dan menurunnya kualitas generasi muda. Dari sisi kesehatan, efek jangka panjang penyalahgunaan narkoba pada usia remaja sangat berbahaya karena otak mereka masih dalam masa perkembangan. Zat-zat adiktif dalam narkoba dapat menghambat perkembangan sistem saraf pusat, menyebabkan gangguan kepribadian, halusinasi, serta menimbulkan risiko ketergantungan seumur hidup. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, narkoba jenis sabu, ganja, dan pil koplo menjadi jenis yang paling banyak dikonsumsi oleh remaja di bawah usia 18 tahun (Kemkes, 2. Sementara dari perspektif psikologi pendidikan, remaja pengguna narkoba cenderung mengalami kehilangan motivasi belajar, konflik dengan guru, dan cenderung terlibat dalam pelanggaran tata tertib Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi para guru dan konselor sekolah. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan guidance and counseling yang berkelanjutan untuk membantu siswa keluar dari pengaruh buruk narkoba, serta pemberdayaan peran guru sebagai figur teladan dalam membentuk karakter siswa (Syamsuddin, 2. Dalam konteks ini, program sosialisasi dan penyuluhan mengenai bahaya narkoba harus dilakukan secara konsisten. Salah satu pendekatan yang efektif adalah melalui program ekstrakurikuler dan kegiatan keagamaan yang dapat memberikan ruang aktualisasi diri bagi siswa tanpa harus lari ke Selain itu, kerja sama antara pihak sekolah dan instansi seperti BNN. Polres setempat, dan dinas pendidikan daerah menjadi sangat penting dalam melakukan pendampingan dan rehabilitasi bagi siswa yang sudah terlanjur menjadi pengguna (BNN, 2. Maka dari itu program sosialisasi ini dilakukan untuk para siswa Sekolah Menengah Pertama karena mereka adalah para remaja yang rentan untuk dijebak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Metode Pengabdian Masyarakat ini dilakukan dengan mengadakan seminar sosialisasi dengan tema Au Sosialisasi Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan SiswaAy adapun tempat sosialisasi dilakukan di SMPN 35 Medan. Kegiatan ini dilakasankan pada Tanggal 12 Juni 2025, dan melibatkan Dosen. Mahasiswa PGSD, dan Juga peserta seminar yakni guru dan siswa yang berjumlah sekitar 50 orang. Adapun tahap pelakasanaan ya narasumber melakukan diskusi interaktif kepada para siswa agar mereka mengetahui apa itu narkoba?. Bagaimana bentuk Narkoba?. Bagaimana dampak negatif Narkoba dan lain sebagainya. Hasil Dan Pembahasan Pelaksanaan Sosialisasi Kegiatan sosialisasi dilakukan pada tanggal 12 Juni 2025 di SMP Negeri 35 Medan, dengan jumlah peserta sebanyak 50 orang yang terdiri dari siswa dan guru. Kegiatan ini dimulai dengan sambutan dari kepala sekolah dan dosen pembimbing, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh narasumber dari kalangan dosen PGSD dan mahasiswa. Materi yang disampaikan Definisi dan jenis-jenis narkoba . arkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainny. Ciri-ciri pengguna narkoba. Dampak negatif narkoba terhadap kesehatan fisik dan mental. Dampak sosial dan hukum bagi penyalahguna narkoba. Strategi pencegahan dan pentingnya membangun lingkungan pergaulan yang sehat. Para siswa diberikan kesempatan berdiskusi secara terbuka, mengajukan pertanyaan, serta menceritakan pengalaman mereka terkait pengaruh lingkungan sosial terhadap gaya hidup Diskusi berlangsung dinamis dan menunjukkan bahwa siswa memiliki kepedulian yang cukup besar terhadap isu ini. Perubahan Pengetahuan dan Sikap Siswa Untuk mengukur efektivitas kegiatan sosialisasi, tim pelaksana menyebarkan kuesioner sebelum . re-tes. dan sesudah . ost-tes. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman siswa sebagai berikut: Pengetahuan tentang jenis-jenis narkoba meningkat dari 45% menjadi 91%. Pemahaman dampak narkoba terhadap kesehatan mental dan fisik meningkat dari 52% menjadi 89%. Kesadaran akan bahaya pergaulan bebas dan tekanan teman sebaya meningkat dari 38% menjadi 85%. Komitmen pribadi untuk menjauhi narkoba tercatat naik dari 60% menjadi 93%. Perubahan signifikan ini membuktikan bahwa sosialisasi yang dilakukan mampu menyentuh aspek kognitif dan afektif siswa, yaitu bukan hanya memberikan pengetahuan tetapi juga membentuk sikap dan nilai. Identifikasi Faktor Risiko dari Lingkungan Siswa Melalui diskusi dan pengisian kuesioner, ditemukan beberapa faktor yang dianggap berisiko dalam mendorong siswa mendekati narkoba, antara lain: Lingkungan rumah yang kurang harmonis atau kurangnya komunikasi dengan orang tua. Bebasnya penggunaan gadget tanpa pengawasan. Kurangnya pengawasan guru terhadap pergaulan siswa di luar jam pelajaran. Minimnya kegiatan positif di luar jam belajar seperti ekstrakurikuler atau bimbingan Faktor-faktor tersebut selaras dengan temuan Yulianti . yang menyebut bahwa lemahnya kontrol sosial dan lingkungan menjadi penyumbang utama keterlibatan remaja dalam penyalahgunaan narkoba. Peran Guru dan Orang Tua Dalam sesi wawancara dengan guru-guru yang hadir, mereka mengungkapkan bahwa sebagian besar sekolah belum memiliki program edukasi narkoba secara berkelanjutan. Guru-guru menyambut baik kegiatan ini karena menjadi ruang refleksi bersama untuk menguatkan peran mereka dalam pendidikan karakter. Beberapa guru juga menyarankan agar sosialisasi serupa dapat dilakukan secara berkala, bahkan diintegrasikan dalam kegiatan rutin sekolah, seperti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), pertemuan wali murid, dan kegiatan keagamaan. Ini sejalan dengan gagasan Sari & Ramadhan . tentang pentingnya sinergi antara keluarga dan sekolah dalam membangun benteng moral anak. Rekomendasi Pasca Sosialisasi Berdasarkan hasil kegiatan, berikut rekomendasi yang dapat diambil: Sekolah perlu membentuk Tim Satgas Anti Narkoba yang melibatkan guru, siswa, dan orang Perlu adanya konten digital edukatif yang disebarkan kepada siswa untuk meningkatkan pemahaman secara berkelanjutan. Menjalin kerja sama rutin dengan BNN dan pihak kepolisian untuk mendampingi dan memantau lingkungan sekolah. Menyediakan layanan bimbingan konseling yang lebih aktif dan responsif terhadap siswa dengan masalah sosial atau pribadi. Kesimpulan Kegiatan sosialisasi penyalahgunaan narkoba yang dilaksanakan di SMPN 35 Medan berhasil memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bahaya narkoba dari sisi kesehatan, sosial, psikologis, dan hukum. Para siswa menunjukkan perubahan sikap positif dan antusias dalam mengikuti kegiatan, serta termotivasi untuk menghindari pergaulan bebas dan pengaruh negatif Penyalahgunaan narkoba merupakan ancaman nyata bagi generasi muda, terutama siswa yang masih dalam tahap pencarian jati diri. Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi dan edukasi seperti ini sangat penting untuk terus dilakukan secara berkelanjutan dan diperluas ke sekolah-sekolah lain. Diharapkan setelah kegiatan ini, siswa mampu menjadi pelopor lingkungan sekolah yang sehat, bebas narkoba, serta menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Ucapan Terimakasih Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada: Kepala Sekolah dan guru SMPN 35 Medan yang telah memberikan dukungan dan fasilitas dalam kegiatan ini. Para siswa peserta sosialisasi yang telah aktif dan antusias selama kegiatan berlangsung. Tim dosen dan mahasiswa PGSD yang telah merancang dan melaksanakan kegiatan ini dengan penuh tanggung jawab. Pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) yang telah memberikan data dan referensi yang membantu kelancaran kegiatan ini. Semua pihak yang turut serta dalam menyukseskan kegiatan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi siswa dan menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dari narkoba. Daftar Pustaka