Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6. p-ISSN : 2655-657X http://jurnal. id/index. php/IJEC Manajemen Holistik pada Kurikulum Pendidikan Karakter Anak Usia Mursal Aziz1. Dedi Sahputra Napitupulu2. Muhammad Qolbi Salim3 STIT Al-Ittihadiyah Labuhanbatu Utara Sumatera Utara. Indonesia Email Korespondensi : mursalaziz@stit-al-ittihadiyahlabura. 1,2,3 ABSTRAK Karakter sangat penting diajarkan sejak usia dini. Melalui pembiasaan, terutama nilai karakter islami yang konsisten, diharapkan akan menjadi permanen setelah anak tumbuh menjadi Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana membangun karakter anak usia dini dengan melakukan manajemen pembelajaran holistik. Studi ini menggunakan penelitian kepustakaan dengan menelusuri sumber-sumber tertulis dari buku dan jurnal otoritatif. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pembelajaran holistik dalam membentuk karakter anak usia dini merupakan pendekatan yang menyeluruh dan integratif, yang mencakup aspek kognitif, afektif, sosial, moral, dan spiritual dalam proses pendidikan. Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak hanya diajarkan kecerdasan intelektual, tetapi juga dibimbing untuk memiliki nilai-nilai karakter yang kuat, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, serta keimanan yang Pembelajaran holistik dapat diterapkan melalui berbagai metode berbasis pengalaman, eksplorasi, dan interaksi sosial, seperti bermain, mendongeng, diskusi, dan proyek berbasis kolaborasi, yang membuat proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan. Kata kunci: Karakter. Anak. Manajemen. Holistik Holistic Management in the Character Education Curriculum for Children ABSTRACT Character is very important to be taught from an early age. Through habituation, especially consistent Islamic character values, it is hoped that it will become permanent after the child grows into an adult. This study aims to describe how to build early childhood character by conducting holistic learning management. This study uses literature research by tracing written sources from authoritative books and journals. The data obtained is then analyzed using content analysis techniques. The results of the study show that holistic learning management in shaping early childhood character is a comprehensive and integrative approach, which includes cognitive, affective, social, moral, and spiritual aspects in the educational process. With this approach, children are not only taught intellectual intelligence, but also guided to have strong character values, such as honesty, responsibility, discipline, empathy, and a firm faith. Holistic learning can be applied through a variety of experiential, exploration, and social interaction-based methods, such as play, storytelling, discussions, and collaboration-based projects, which make the learning process more meaningful and Keywords: Character. Child. Management. Holistic Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. A Tahun Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini PENDAHULUAN Pendidikan merupakan alat yang paling efektif untuk mencerdaskan, dan melalui pendidikan, umat dapat mengubah keadaan dunia mereka (Aziz et al. , 2019: . Pendidikan Islam secara khusus, adalah proses bimbingan yang melibatkan aspek jasmani dan rohani, yang berdasarkan pada ajaran dan hukum-hukum agama Islam (Aziz, 2025: . Kurikulum pendidikan Islam merupakan aspek penting dalam membentuk generasi unggul dalam bidang akademis dan memiliki pemahaman agama yang mendalam serta karakter yang baik (Aziz et 2025: . Pendidikan anak usia dini (PAUD) memiliki peran krusial dalam membentuk karakter anak sejak dini. Masa usia dini, yang mencakup usia 0-6 tahun, merupakan periode emas . olden ag. dalam perkembangan anak, di mana mereka memiliki kemampuan menyerap nilai-nilai dan pengalaman dengan sangat cepat (Khasanah, 2023: . Oleh karena itu, pembelajaran karakter perlu direncanakan dengan cara yang sistematis dan menyeluruh, agar anak dapat berkembang menjadi pribadi yang berakhlak mulia, mandiri, dan bertanggung Salah satu cara yang efektif untuk mencapai hal ini adalah dengan menerapkan manajemen pembelajaran yang holistik, yang tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga memperhatikan dimensi sosial, emosional, dan spiritual. Kepemimpinan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter anak-anak, terutama melalui penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an (Aziz et al. 2025: . Pendidikan karakter pada anak usia dini dalam praktiknya masih menghadapi berbagai tantangan (Hadisi, 2015: . Salah satu permasalahan utama adalah kurangnya pemahaman dan implementasi manajemen pembelajaran yang menyeluruh dalam lingkungan pendidikan. Banyak lembaga PAUD yang masih berfokus pada aspek akademik, seperti membaca, menulis, dan berhitung, sementara pembentukan karakter sering kali diabaikan atau hanya dianggap sebagai bagian sampingan dari kurikulum (Aziz et al, 2. Padahal, karakter yang kuat sejak dini akan menjadi dasar bagi anak dalam menjalani kehidupan sosial yang lebih baik di masa depan. Penyebab utama dari permasalahan ini adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman para pendidik serta orang tua mengenai pentingnya pendekatan holistik dalam pembelajaran karakter (Hadisi, 2015: . Banyak tenaga pendidik yang belum mendapatkan pelatihan memadai mengenai manajemen pembelajaran berbasis karakter (Nurhayani, 2024: . , sehingga metode pengajarannya cenderung monoton dan tidak memberikan dampak yang Selain itu, pola asuh di rumah juga sangat berpengaruh. Orang tua yang kurang terlibat dalam pendidikan anak cenderung menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pembentukan karakter kepada sekolah, tanpa menyadari bahwa pembelajaran utama justru terjadi di lingkungan keluarga. Selain faktor internal dari pendidik dan keluarga, sistem pendidikan yang lebih menitikberatkan pada pencapaian akademik juga menjadi kendala dalam penerapan pembelajaran karakter secara menyeluruh (Hadisi, 2015: . Kurikulum yang rigid dan terlalu fokus pada aspek kognitif menyulitkan pendidik untuk menyisipkan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran sehari-hari. Akibatnya, anak-anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman belajar yang mendalam mengenai nilai-nilai moral, sosial, dan spiritual yang seharusnya menjadi dasar dalam perkembangan mereka. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan alternatif solusi yang dapat diterapkan dalam sistem pendidikan anak usia dini. Salah satunya adalah penerapan manajemen Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X pembelajaran holistik yang mencakup aspek akademik, sosial-emosional, dan moral (Nurhayani, 2024: . Pendekatan ini mengharuskan adanya sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar dalam membentuk karakter anak secara komprehensif. Dengan adanya kolaborasi yang baik antara ketiga elemen tersebut, pembelajaran karakter dapat berjalan lebih efektif dan berkesinambungan. Penerapan manajemen pembelajaran holistik dapat dilakukan melalui beberapa strategi, seperti pendekatan berbasis pengalaman, pembelajaran berbasis proyek, serta integrasi nilainilai karakter dalam setiap aspek kegiatan belajar (Gani et al, 2024: . Misalnya, melalui aktivitas bermain peran, anak dapat belajar tentang empati dan kerja sama, sementara dalam kegiatan bercerita, mereka dapat memahami nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Dengan cara ini, anak tidak hanya menerima materi secara teoretis, tetapi juga mengalami langsung nilai-nilai yang ingin ditanamkan. Selain itu, pelatihan dan pengembangan kapasitas pendidik dalam mengelola pembelajaran berbasis karakter juga sangat penting. Pendidik harus dibekali dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana menerapkan strategi pembelajaran yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga mengembangkan aspek sosial dan emosional anak. Workshop, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kompetensi guru dalam membangun karakter anak secara efektif. Peran orang tua juga sangat penting dalam keberhasilan pembentukan karakter anak. Sekolah harus membangun komunikasi yang baik dengan orang tua dan memberikan pemahaman tentang pentingnya pendidikan karakter di rumah. Program parenting, seminar, atau forum diskusi bisa menjadi media bagi orang tua untuk belajar bagaimana mendukung perkembangan karakter anak melalui pendekatan pengasuhan yang tepat. Dengan penerapan manajemen pembelajaran holistik, diharapkan pembentukan karakter anak usia dini dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan efektif. Anak-anak tidak hanya berkembang dalam hal kecerdasan akademik, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat, empati, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan manajemen pembelajaran holistik dalam pendidikan anak usia dini serta menggali strategi terbaik yang bisa diterapkan oleh pendidik dan orang tua untuk membangun karakter anak secara maksimal. METODE Penelitian ini mengadopsi metode studi pustaka . ibrary researc. dengan pendekatan kualitatif untuk menganalisis konsep manajemen pembelajaran holistik dalam pembentukan karakter anak usia dini. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menelaah literatur dari berbagai sumber, seperti jurnal ilmiah, buku, artikel, dan dokumen resmi yang relevan dengan topik penelitian. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. , yaitu dengan mengidentifikasi, mengkategorikan, dan menginterpretasikan berbagai konsep, teori, serta hasil penelitian terdahulu untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh mengenai strategi pembelajaran karakter berbasis holistik. Hasil analisis ini disusun secara sistematis untuk menghasilkan temuan yang dapat dijadikan rekomendasi bagi pendidik dan pemangku kebijakan dalam pendidikan anak usia dini. Untuk lebih jelasnya alur penelitian yang digunakan dapat dilihat pada bagan berikut ini: Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Gambar 1. Alur penelitian studi pustaka HASIL DAN PEMBAHASAN Urgensi Pendidikan Karekter Bagi Anak Usia Dini Pendidikan karakter pada anak usia dini memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk kepribadian dan moralitas mereka sejak awal (Pertiwi & Jahro, 2018: . Masa usia dini, yang dikenal sebagai golden age, merupakan periode perkembangan yang sangat pesat, di mana anak-anak mulai menyerap nilai-nilai yang akan membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku mereka di masa depan. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dijadikan prioritas utama dalam sistem pendidikan anak usia dini, agar mereka dapat berkembang menjadi individu yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan penuh empati terhadap Salah satu alasan utama mengapa pendidikan karakter pada anak usia dini sangat penting adalah karena periode ini merupakan dasar utama dalam pembentukan kepribadian seseorang (Widyastuti & Mua, 2025: . Jika seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik sejak dini, mereka akan lebih mudah untuk memahami dan mengaplikasikan nilainilai moral seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama dalam kehidupan seharihari. Sebaliknya, jika pendidikan karakter diabaikan, anak-anak bisa mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial dan menghadapi tantangan di masa depan. Pendidikan karakter membantu anak dalam membangun kecerdasan emosional (Zubaedi, 2024: . (Aziz et al, 2. Kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi sangat penting dalam kehidupan sosial. Anak-anak yang diajarkan nilai-nilai seperti empati, kesabaran, dan kepedulian akan lebih mudah menjalin hubungan yang baik dengan teman sebaya dan lingkungannya. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya berfokus pada pembentukan moral, tetapi juga mendukung perkembangan sosial dan emosional anak. Di era modern ini, tantangan dalam pendidikan karakter semakin besar akibat perkembangan teknologi dan globalisasi. Anak-anak terpapar berbagai informasi dari media digital yang tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai moral yang seharusnya ditanamkan. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi alat penting untuk membentengi anak dari pengaruh negatif lingkungan, sehingga mereka tetap memiliki prinsip dan nilai yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Peran pendidikan karakter juga sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan budaya sejak dini. Dalam masyarakat yang semakin beragam, anak-anak harus diajarkan tentang toleransi, menghargai perbedaan, dan menjaga identitas budaya mereka. Pendidikan karakter yang baik dapat membantu menciptakan generasi yang memiliki sikap nasionalisme, cinta tanah air, serta kesadaran akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Selain dari aspek sosial dan budaya, pendidikan karakter juga berkontribusi dalam membangun disiplin dan tanggung jawab (Khabibah et al, 2023: . Anak-anak yang terbiasa dengan aturan dan nilai-nilai moral akan lebih mampu mengatur diri mereka sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Mereka akan memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, sehingga lebih berhati-hati dalam bertindak dan mampu mengambil keputusan yang tepat. Peran orang tua dan pendidik sangat krusial dalam membentuk karakter anak sejak dini. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dan dengar dari lingkungan sekitar (Widyastuti & Mua, 2025: . Oleh karena itu, baik orang tua maupun guru harus menjadi contoh yang baik dalam menerapkan nilai-nilai moral dan etika. Interaksi yang hangat, penuh kasih sayang, serta komunikasi yang baik antara anak dan orang dewasa dapat membantu memperkuat pembelajaran karakter yang mereka terima. Pendidikan karakter juga berdampak langsung pada keberhasilan akademik anak. Anak-anak yang memiliki sikap disiplin, gigih, dan percaya diri cenderung lebih sukses dalam belajar dibandingkan dengan mereka yang kurang memiliki nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak hanya membantu anak menjadi individu yang baik secara moral, tetapi juga memberikan mereka modal sosial dan psikologis yang kuat untuk meraih keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan (Fiah, 2018: . Pendidikan karakter pada anak usia dini dalam praktiknya harus dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan dan interaktif. Metode seperti bermain peran, bercerita, bernyanyi, serta diskusi ringan dapat menjadi cara efektif untuk mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak-anak. Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak akan lebih mudah memahami dan menerapkan karakter positif dalam kehidupan sehari-hari tanpa merasa tertekan atau Dengan melihat berbagai urgensi tersebut, pendidikan karakter bagi anak usia dini harus menjadi perhatian utama bagi semua pihak, termasuk orang tua, pendidik, dan pemerintah. Dengan membangun karakter sejak dini, kita dapat menciptakan generasi masa depan yang memiliki integritas, tanggung jawab, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat. Oleh karena itu, investasi dalam pendidikan karakter bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan yang harus diprioritaskan demi masa depan yang lebih baik. Pembiasaan Karakter Islami Bagi Anak Usia Dini Pendidikan karakter Islami pada anak usia dini dapat dibentuk melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pembiasaan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam. Melalui metode pembiasaan, anak-anak tidak hanya memahami konsep karakter Islami secara teoretis, tetapi juga dapat mengaplikasikannya dalam tindakan nyata. Salah satu bentuk pembiasaan karakter Islami yang penting adalah membiasakan anak untuk mengucapkan salam setiap kali bertemu atau masuk ke dalam rumah (Suryana, 2021: Ucapan salam seperti AuAssalamuAoalaikumAy mengajarkan anak tentang nilai kasih sayang, doa, dan kepedulian terhadap sesama Muslim. Orang tua dan pendidik perlu memberikan contoh dalam penggunaan salam agar anak terbiasa melakukannya dengan tulus dan ikhlas. Selain itu, membiasakan anak untuk berdoa sebelum dan sesudah melakukan aktivitas juga merupakan bentuk pembiasaan karakter Islami yang penting. Doa sebelum makan, sebelum tidur, saat belajar, dan doa ketika keluar rumah mengajarkan anak untuk selalu bersandar kepada Allah dalam setiap aspek kehidupannya (Suryana, 2021: . Dengan rutin membaca doa, anak akan tumbuh dengan kesadaran bahwa setiap tindakan harus diawali dengan niat yang baik dan penuh keberkahan. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Pembiasaan shalat lima waktu sejak dini juga menjadi aspek fundamental dalam pembentukan karakter Islami (Suryana, 2021: . Anak-anak harus diperkenalkan dengan shalat secara bertahap, dimulai dengan melihat orang tua atau guru melaksanakannya, lalu diajak untuk mengikuti, hingga akhirnya mampu melaksanakannya sendiri. Selain menanamkan disiplin dan ketaatan kepada Allah, shalat juga mengajarkan anak tentang ketertiban, kebersihan, dan pentingnya menjaga hubungan dengan Sang Pencipta. Pembiasaan bersikap jujur dan amanah dalam kehidupan sehari-hari juga perlu diterapkan sejak dini (Muharrom et al, 2019: . Orang tua dan pendidik dapat memberikan contoh bagaimana bersikap jujur dalam berbicara dan berperilaku. Misalnya, jika anak melakukan kesalahan, ia harus diajarkan untuk mengakuinya tanpa rasa takut, karena kejujuran adalah salah satu akhlak utama dalam Islam. Selain itu, anak juga perlu dibiasakan untuk bertanggung jawab atas amanah yang diberikan kepadanya, seperti menjaga barang miliknya atau menepati janji kepada teman-temannya. Karakter Islami juga dapat dibangun melalui pembiasaan berbagi dan peduli terhadap sesama (Febriyanti, 2022: . Anak-anak perlu diajarkan untuk berbagi makanan, mainan, atau barang lain kepada saudara, teman, atau orang yang membutuhkan. Konsep sedekah dalam Islam dapat diperkenalkan melalui tindakan sederhana, seperti memberikan makanan kepada tetangga atau menyisihkan sebagian uang jajan untuk fakir miskin. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang dermawan dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Selain berbagi, anak juga perlu dibiasakan untuk bersikap sabar dan tidak mudah marah. Orang tua dan pendidik dapat memberikan pemahaman bahwa setiap masalah harus dihadapi dengan kepala dingin dan solusi yang baik. Dalam Islam, kesabaran merupakan salah satu sifat yang sangat dianjurkan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 153 yang menyebutkan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. Dengan pembiasaan ini, anakanak akan belajar mengendalikan emosinya dan menyelesaikan masalah dengan cara yang Terakhir, membiasakan anak untuk membaca Al-Qur'an dan mendengarkan kisah-kisah Islami merupakan bentuk pembiasaan karakter Islami yang sangat efektif (Anisah, 2011: . Dengan mengenalkan anak kepada Al-Qur'an sejak dini, mereka akan lebih mudah mencintai dan memahami ajaran Islam. Selain itu, kisah-kisah Islami tentang para nabi dan sahabat dapat menjadi inspirasi bagi anak dalam meneladani akhlak yang baik. Orang tua dapat membacakan kisah-kisah tersebut sebelum tidur atau menggunakan media interaktif untuk menarik minat Dengan menerapkan berbagai bentuk pembiasaan karakter Islami ini, anak-anak akan tumbuh dengan kepribadian yang kuat, berakhlak mulia, dan memiliki kesadaran tinggi dalam menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan ini harus dilakukan secara konsisten dan dengan pendekatan yang menyenangkan agar anak merasa nyaman dan tertarik untuk terus melakukannya. Manajemen Pembelajaran Holistik dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini Manajemen pembelajaran holistik adalah pendekatan pendidikan yang komprehensif, yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga mencakup aspek moral, sosial, emosional, dan spiritual anak (Nuraeni, 2022: . Dalam konteks pendidikan anak usia dini, pendekatan ini sangat penting karena anak berada pada fase perkembangan yang sangat cepat, di mana mereka mulai memahami nilai-nilai dasar kehidupan. Melalui manajemen pembelajaran holistik, anak-anak tidak hanya dibimbing untuk menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga untuk mengembangkan karakter yang baik dan kuat. Salah satu prinsip utama dalam manajemen pembelajaran holistik adalah integrasi antara kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam proses pembelajaran. Anak-anak tidak hanya Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X belajar melalui teori atau hafalan, tetapi juga melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, serta kegiatan yang melibatkan emosi dan nilai-nilai moral. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mampu membentuk karakter anak secara lebih mendalam. Dalam penerapan pembelajaran holistik, peran pendidik sangatlah penting. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan teladan bagi anak-anak (Nuraeni, 2022: . Oleh karena itu, pendidik harus memiliki pemahaman yang baik tentang metode pembelajaran yang berpusat pada anak serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter. Pembelajaran yang menyenangkan, interaktif, dan berbasis pengalaman dapat membantu anak memahami nilainilai kehidupan dengan cara yang lebih efektif. Pendekatan pembelajaran holistik juga menekankan pada pembentukan karakter melalui kegiatan sehari-hari. Misalnya, kegiatan bermain bersama dapat mengajarkan anak tentang kerja sama, berbagi, dan menghargai teman. Sementara itu, kegiatan bercerita atau mendongeng dapat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan kebaikan hati. Dengan cara ini, pendidikan karakter tidak hanya menjadi bagian terpisah dari kurikulum, tetapi terintegrasi dalam setiap aktivitas anak. Selain itu, lingkungan belajar yang kondusif juga menjadi faktor penting dalam mendukung pembelajaran holistik. Anak-anak perlu berada dalam suasana yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang agar mereka dapat menyerap nilai-nilai positif dengan baik. Lingkungan yang penuh perhatian dan keterlibatan dari guru serta teman sebaya dapat membantu anak dalam mengembangkan sikap empati, tanggung jawab, dan disiplin diri (Azman, 2019: . Manajemen pembelajaran holistik juga melibatkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam pembentukan karakter anak. Orang tua memiliki peran utama dalam memberikan contoh dan dukungan moral kepada anak di rumah, sementara sekolah bertugas untuk memperkuat nilai-nilai tersebut melalui kurikulum dan interaksi sosial (Azman, 2019: Keterlibatan masyarakat, seperti melalui kegiatan sosial atau keagamaan, juga dapat membantu anak memahami konsep kepedulian, gotong royong, dan etika dalam kehidupan Pendekatan holistik juga sejalan dengan prinsip pembelajaran Islami, di mana nilai-nilai spiritual dan moral menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan. Anak-anak diajarkan untuk mengenal dan memahami konsep keimanan, akhlak mulia, serta hubungan mereka dengan Allah dan sesama manusia. Misalnya, melalui pembiasaan doa sebelum belajar, anak diajarkan untuk selalu mengingat dan bersyukur kepada Tuhan atas ilmu yang mereka Dalam implementasinya, tantangan terbesar dalam manajemen pembelajaran holistik adalah konsistensi dan kesinambungan dalam pelaksanaannya (Nurhayani, 2024: . Dibutuhkan komitmen dari semua pihak untuk terus menanamkan nilai-nilai karakter dalam setiap aspek pembelajaran. Selain itu, pendidik juga perlu mendapatkan pelatihan yang berkelanjutan agar mereka dapat mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan menerapkan manajemen pembelajaran holistik, anak usia dini dapat tumbuh menjadi individu yang cerdas, berakhlak baik, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga membangun karakter dan nilai-nilai moral, akan membantu menciptakan generasi yang lebih baik di masa depan. Oleh karena itu, pendekatan ini harus menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan anak usia dini guna memastikan perkembangan anak secara optimal dan menyeluruh Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X SIMPULAN Manajemen pembelajaran holistik dalam membentuk karakter anak usia dini merupakan pendekatan yang menyeluruh dan integratif, yang mencakup aspek kognitif, afektif, sosial, moral, dan spiritual dalam proses pendidikan. Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak hanya diajarkan kecerdasan intelektual, tetapi juga dibimbing untuk memiliki nilai-nilai karakter yang kuat, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, serta keimanan yang Pembelajaran holistik dapat diterapkan melalui berbagai metode berbasis pengalaman, eksplorasi, dan interaksi sosial, seperti bermain, mendongeng, diskusi, dan proyek berbasis kolaborasi, yang membuat proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan. Selain itu, keberhasilan pembentukan karakter anak tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif dari orang tua dan masyarakat dalam memberikan teladan serta lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan karakter anak. Dalam praktiknya, tantangan utama dalam menerapkan manajemen pembelajaran holistik adalah menjaga konsistensi dan keberlanjutan dalam menanamkan nilai-nilai karakter, serta kesiapan pendidik untuk mengembangkan metode yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan anak. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen dari berbagai pihak untuk terus memperkuat pendidikan karakter sejak usia dini, agar dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moralitas dan kepribadian yang unggul dalam menghadapi tantangan hidup di masa depan. DAFTAR PUSTAKA