Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 SISTEM AGROSILVOPASTURA TROPIS: TINJAUAN INTEGRASI KELAPA, JAHE. TURI DAN KAMBING UNTUK KEBERLANJUTAN AGROEKOSISTEM DAN PELUANG PENERAPANNYA DI PULAU LOMBOK AGROSILVOPASTORAL SYSTEMS IN THE TROPICS: COCONUT-GINGERSESBANIA-GOAT INTEGRATION FOR SUSTAINABLE AGROECOSYSTEMS AND IMPLEMENTATION OPPORTUNITIES IN LOMBOK ISLAND Mutia Devi Ariyana1,2. Wayan Wangiyana1,3* Program Studi Doktor Pertanian Berkelanjutan. Program Pascasarjana. Universitas Mataram. Mataram. Indonesia Fakultas Teknologi Pangan dan agroindustry. Universitas Mataram. Mataram. Indonesia Fakultas Pertanian. Universitas Mataram. Mataram. Indonesia *E-mail: mutiadevi0705@unram. Abstrak Pertanian skala kecil di wilayah tropis seperti Pulau Lombok menghadapi tantangan keberlanjutan akibat keterbatasan lahan, degradasi tanah, dan variabilitas iklim. Sebagai solusi, sistem agrosilvopastura yang mengintegrasikan kelapa (Cocos nucifer. , jahe (Zingiber officinal. , turi (Sesbania grandiflor. , dan kambing menawarkan model pertanian terpadu yang berkelanjutan. Kajian ini bertujuan menganalisis konsep, manfaat, dan peluang implementasi sistem ini melalui sintesis literatur. Hasil tinjauan menunjukkan adanya interaksi sinergis antar komponen: kelapa sebagai kerangka struktural yang memodifikasi iklim mikro dan penyedia jasa hidrologis melalui hydraulic lift. jahe sebagai tanaman sela bernilai ekonomi tinggi yang toleran terhadap naungan moderat . Ae50%). turi sebagai leguminoseae fiksator nitrogen yang memperbaiki kesuburan tanah dan sumber pakan berkualitas tinggi. serta kambing sebagai komponen daur ulang nutrien melalui pupuk organik dan aset ekonomi Integrasi ini secara signifikan meningkatkan produktivitas penggunaan lahan, mendiversifikasi sumber pendapatan . angka pendek, menengah, dan panjan. , serta memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga terhadap guncangan pasar dan iklim. Secara ekologis, sistem ini membentuk siklus hara yang lebih tertutup, meningkatkan kesuburan dan kandungan karbon tanah, serta mengurangi ketergantungan pada input eksternal. Disimpulkan bahwa model agrosilvopastura kelapa, jahe, turi, dan kambing merupakan bentuk intensifikasi ekologis yang strategis dan relevan untuk wilayah semi-kering seperti Lombok, yang mampu meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan agroekosistem sekaligus berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Kata kunci: agrosilvopastura, jahe, kambing, kelapa, pertanian terpadu berkelanjutan Abstract Small scale agriculture in tropical regions like Lombok Island faces sustainability challenges due to land scarcity, soil degradation, and climate variability. As a solution, an agrosilvopastoral system integrating coconut (Cocos nucifer. , ginger (Zingiber officinal. , turi (Sesbania grandiflor. , and goats offers a sustainable integrated farming model. This study aims to analyze the concepts, benefits, and implementation opportunities of this system through a literature synthesis. The review results indicate synergistic interactions between the components: coconut as a structural framework that modifies the microclimate and provides hydrological services through hydraulic lift. ginger as a high-value intercrop that is tolerant to moderate shade . Ae50%). turi as a nitrogenfixing legume that improves soil fertility and provides high-quality feed. and goats as a component of nutrient recycling through organic fertilizer and a liquid economic asset. This integration can significantly increases land use productivity, diversify income sources . hort, medium, and long-ter. , and strengthen household economic resilience to market and climate shocks. Ecologically, this system forms a closed nutrient cycle, improving soil fertility and carbon content, and reducing dependence on external inputs. It is concluded that agrosilvopastira model integrating coconut, ginger, sesbania, and goat agroforestry, is a strategic and relevant form of ecological intensification for semi-arid regions like Lombok island, capable of increasing agroecosystem productivity and sustainability while contributing to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDG. Keywords: Agrosilvopasture, ginger, goat, coconut, sustainable integrated farming Ariyana. , dan Wangiyana. Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara produsen kelapa terbesar dunia dengan total produksi kelapa dari 38 provinsi sejumlah 2. 822,12 ribu ton (BPS, 2. Akan tetapi, sektor pertanian di Indonesia, termasuk komoditas unggulan seperti kelapa, masih didominasi oleh petani kecil (Batas et al. , 2025. Nabillah et al. , 2. Hasil Sensus Pertanian tahun 2023 mencatat lebih dari 90% unit usaha tani nasional berada pada skala <2 ha (BPS, 2. Meskipun memainkan peran krusial dalam menjaga keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan, petani kecil menghadapi berbagai tantangan keberlanjutan (Batas et al. , 2. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan lahan, tingkat literasi yang rendah, dan kurangnya akses terhadap teknologi maju, yang sering kali mengakibatkan kemiskinan (Achmad et al. Diversifikasi melalui agroforestri, termasuk sistem agroforestry, termasuk system agrisilvopastura yang mengintegrasi kehutanan, pertanian, dan ternak menjadi strategi adaptasi yang efektif (Achmad et al. , 2. Produktivitas sistem agroforestri menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan monokultur (Atapattu & Udduman, 2. Sebuah tinjauan yang menganalisis 77 kasus praktik agroekologi menemukan bahwa 63% di antaranya melaporkan hasil panen yang lebih tinggi dibandingkan praktik pertanian konvensional (Dittmer et al. Kombinasi beberapa spesies tanaman dan hewan menciptakan interaksi positif yang meningkatkan produktivitas dan stabilitas secara keseluruhan (Atapattu et al. , 2024. Penerapan sistem agroforestri juga terbukti secara signifikan meningkatkan pendapatan rumah tangga petani di berbagai wilayah Indonesia, seperti Sumatra. Kalimantan, dan Sulawesi, dengan peningkatan berkisar antara 38% hingga 76% (Duffy et al. , 2021. Widianto et al. , 2. Sebuah studi lainnya menunjukkan bahwa agroforestri menjadi sumber pendapatan rumah tangga yang menonjol, menyumbang 29% dari total pendapatan, sementara pertanian konvensional hanya menyumbang 14% (Race et al. , 2. Salah satu keunggulan utama dari sistem pertanian yang terdiversifikasi adalah peningkatan ketahanan terhadap guncangan eksternal, termasuk perubahan iklim dan fluktuasi pasar (Achmad et al. , 2022. Race et al. Pertanian yang menerapkan diversifikasi menunjukkan skor yang lebih tinggi di semua dimensi ketahanan, termasuk kapasitas penyangga, pembelajaran, dan adaptasi (Achmad et al. Sistem ini juga lebih tangguh terhadap perubahan iklim dan memberikan berbagai jasa ekosistem, seperti mengurangi erosi tanah dan menjaga kesehatan tanah (Yusriadi et al. , 2. Agrosilvopastura dipandang sebagai salah satu model agroekosistem tropis yang berkelanjutan karena mampu mengintegrasikan tanaman tahunan, tanaman semusim, leguminoseae, dan ternak dalam satu unit lahan secara sinergis (Tumana et al. , 2. Dibandingkan dengan sistem monokultur yang rentan terhadap degradasi tanah, penurunan keanekaragaman hayati, dan ketidakstabilan pendapatan, agrosilvopastura menawarkan produktivitas multi-output yang lebih tinggi sekaligus diversifikasi risiko (Grass et al. , 2. Bukti lapang menunjukkan bahwa tumpangsari tanaman tahunan seperti kelapa (Cocos nucifer. dengan tanaman semusim seperti rempah dan sayuran, dapat meningkatkan pendapatan dan diversifikasi hasil (Tumana et al. , 2. Selain itu, keberadaan leguminoseae mampu memperbaiki kesuburan tanah melalui fiksasi nitrogen, meningkatkan biomassa organik, dan mengurangi kebutuhan pupuk sintetis, yang sejalan dengan manfaat ekosistem dari agroforestri dalam memperbaiki struktur tanah (Gusmyo et al. , 2025. Mukhlis et al. , 2. Integrasi ternak dalam system agrosilvopastura, baik ternak besar seperti sapi maupun ternak kecil seperti kambing, menutup siklus nutrien dengan mengonversi biomassa menjadi pupuk organik, sekaligus memberikan pendapatan tambahan melalui produk daging dan susu (Tumana et al. , 2. Jika dibandingkan dengan sistem agroforestri tanpa ternak, agrosilvopastura lebih efisien dalam daur ulang hara dan konservasi sumber daya. Secara sosialekonomi, ternak juga berfungsi sebagai aset likuid yang memperkuat ketahanan petani kecil Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 terhadap guncangan iklim maupun pasar (Mukhlis et al. , 2. Dengan demikian, agrosilvopastura tidak hanya meningkatkan produktivitas dan kesehatan ekosistem, tetapi juga membangun ketahanan sosial-ekonomi yang lebih tangguh dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional lainnya (Duffy et al. , 2021. Mukhlis et al. , 2. Model agrosilvopastura yang dibangun pada kajian ini adalah integrasi antara kelapa sebagai tanaman tahunan utama, jahe sebagai tanaman semusim bernilai ekonomi tinggi, turi sebagai komponen leguminoseae multifungsi, dan kambing sebagai komponen ternak strategis. Secara kontekstual, model ini sangat relevan untuk wilayah tropis semi-kering . emi-ari. seperti Pulau Lombok. Nusa Tenggara Barat (NTB), yang Sebagian besar wilayahnya memiliki musim hujan yang cukup panjang untuk mendukung tanaman rempah dan kelapa, dan musim kemarau yang cukup tegas tetapi tidak ekstrem di banyak Lokasi. Oleh karena itu, kondisi ini memungkinkan integrasi tanaman semusim atau tahunan bersama system pakan ternak dengan manajemen air yang tepat. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menilai dan memahami: . Konsep agrosilvopastura berbasis integrasi komponen kelapa, jahe, turi, dan kambing sebagai model pertanian tropis berkelanjutan, . Manfaat dan keberlanjutan penerapan agrosilvopastura berbasis integrasi komponen kelapa, jahe, turi, dan kambing pada petani kecil, dan . Peluang dan keterbatasan dalam penerapan sistem agrosilvopastura kelapa, jahe, turi dan kambing, khususnya dalam konteks lahan semi-kering di Pulau Lombok dan kawasan tropis serupa. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka . iterature revie. dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui penelusuran sistematis berbagai sumber ilmiah yang relevan, seperti jurnal, tesis/disertasi, buku, dan laporan Seleksi sumber dilakukan berdasarkan beberapa kriteria inklusi, yaitu kesesuaian topik, kredibilitas penerbit, relevansi dengan konsep sistem agrosilvopastura tropis, dan ketersediaan dokumen secara lengkap. Selain itu, juga digunakan beberapa data skunder berupa data statistik dari Biro Pusat Statistik, yang tersedia di internet. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelusuran pustaka dan data statistik, dapat dikatakan bahwa pembangunan dan penerapan sistem agrosilvopastura kelapa-jahe-turi-kambing sangat relevan dikembangtkan di wilayah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama pulau Lombok, yang sebagian besar wilayahnya merupakan wilayah tropis semi-kering . emi-ari. , yang telah terbukti sangat mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa. Berdasarkan data yang ada (Tabel . , pulau Lombok memiliki lebih dari 45 ribu ha tanaman kelapa dan populasi kambing lebih dari 150 ribu ekor (BPS, 2. Oleh karena itu, kondisi ini memungkinkan untuk dilakukan integrasi tanaman kelapa dengan tanaman semusim atau tahunan bersama tanaman pakan ternak dengan manajemen air yang tepat. Dengan demikian, pengembangan sistem agrosilvopastura kepala-jahe-turi-kambing sangat memungkinkan untuk diwujudkan. Tabel 1. Data Terbaru Luas Tanaman Kelapa dan Populasi Kambing di Provinsi NTB Indikator Nilai Terbaru n Kabupaten Lombok Timur: 11. 907 ha n Kabupaten Lombok Tengah: 10. 849,49 Luas tanaman kelapa di Pulau Lombok n Kabupaten Lombok Barat: 12. 431,58 ha n Kabupaten Lombok Utara: 11. 490,32 ha n Kota Mataram : 36,87 ha Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 n Kabupaten Lombok Timur: 91. 886 ekor n Kabupaten Lombok Tengah: 63. 704 ekor Populasi kambing di Pulau Lombok n Kabupaten Lombok Barat: 11. 759 ekor n Kabupaten Lombok Utara: 19. 775 ekor n Kota Mataram 1. 476 ekor Sumber: Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat . Model agrosilvopastura kelapaAejaheAeturiAekambing sejalan dengan paradigma circular bioeconomy, di mana limbah satu komponen menjadi input bagi komponen lain, membentuk siklus nutrien yang lebih efisien dan berkelanjutan (Carvalho et al. , 2024. Atapattu et al. , 2. Sistem ini menghasilkan sinergi multi-dimensi, yasitu sinergi ekologis, yang meliputi efisiensi siklus hara, konservasi tanah dan air, serta penyimpanan karbon (Shil et al. , 2025. Maryal et al. Carvalho et al. , 2024. Jung & Vendrametto, 2. , sinergi ekonomi berupa diversifikasi pendapatan, pengurangan biaya input, dan peningkatan profitabilitas (Shil et al. , 2025. Sari & Jumiyati, 2025. Shanmugam et al. , 2024. Jung & Vendrametto, 2. , dan sinergi sosial melalui pemberdayaan petani kecil, peningkatan ketahanan pangan, dan penguatan mata pencaharian pedesaan Sari & Jumiyati, 2025. Shanmugam et al. , 2024. Atapattu et al. , 2. Hal-hal yang berkaitan dengan semua bentuk sinergi ini akan dibahas berikut ini. Konsep Agrosilvopastura Kelapa-Jahe-Turi-Kambing Kelapa Kelapa merupakan tanaman pokok tahunan yang hampir seluruh bagian tanamannya termasuk diantaranya buah, nira, serabut, dan tempurung bernilai ekonomi, sehingga menjadi jangkar pendapatan jangka panjang dalam unit usaha tani kecil (Reddy & Sang-Arun, 2011. Ekhorutomwen et al. , 2023. Kumar & Kunhamu, 2. Selain aspek ekonomi, kelapa juga mengungguli tanaman tahunan lainnya yaitu kakao (Theobroma caca. dan kopi (Coffea sp. dari aspek ekologis (Kumar & Kunhamu, 2022. Ekhorutomwen et al. , 2. Keunggulan kelapa pada pertanian tropis didukung oleh dua faktor utama yaitu . kemampuan kelapa dalam menyediakan kerangka penopang struktural bagi agroforestri tropis melalui pembentukan kanopi berlapis, modifikasi mikroklimat melalui reduksi radiasi langsung, suhu permukaan, dan evaporasi, serta stabilisasi tanah melalui perakaran serabut yang luas dan . sebagai penyedia jasa ekosistem air melalui mekanisme hydraulic lift (Kumar & Kunhamu. Panda et al. , 2020. Reddy & Sang-Arun, 2. Kedua faktor ini menjadikan kelapa lebih unggul dibanding tanaman tahunan tropis lain dalam mendukung produktivitas dan keberlanjutan sistem terpadu. Keunggulan kelapa dalam menyediakan kerangka penopang struktural bagi agroforestri tropis menempatkan kelapa sebagai spesies payung yang sesuai dengan berbagai tanaman sela seperti sayuran, umbi, rempah, serta pakan hijauan. Hal ini disebabkan karena arsitektur tajuknya memungkinkan naungan sedang yang dapat dimanfaatkan tanaman toleran bayang (Kumar & Kunhamu, 2. Kajian sintesis dan uji lapang melaporkan peningkatan system productivity index, perbaikan indikator kesuburan tanah dari aspek kandungan karbon organik dan biomassa mikroba, serta rasio manfaat-biaya yang lebih baik ketika kelapa diintegrasikan dengan tanaman sela seperti hortikultura dan rempah (Dissanayaka et al. , 2023. Panda et al. Kumar & Kunhamu, 2. Studi pengembangan sistem pertanian berbasis kelapa di Filipina juga menunjukkan bahwa diversifikasi di bawah tegakan kelapa yang terdiri atas sayur, rempah, tanaman pakan dan disertai ternak kecil dapat menaikkan pendapatan petani dan menyebar risiko usaha, sekaligus memanfaatkan ruang dan cahaya yang sebelumnya tidak termanfaatkan pada kebun kelapa monokultur (Reddy & Sang-Arun, 2011. Kairupan et al. Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 Kelapa Jahe Air dilepas ke tanah atas Jahe Air ditarik dari lapisan dalam Gambar 1. Mekanisme Hydraulic Lift oleh Kelapa dan Dampaknya pada Tanaman Sela Keunggulan kelapa sebagai penyedia jasa ekosistem khususnya penyediaan air diperoleh melalui mekanisme hydraulic lift. Hydraulic lift adalah fenomena di mana tumbuhan berakar dalam pada siang hari menarik air dari lapisan tanah dalam yang lembab dan pada malam hari melepaskannya ke lapisan tanah yang lebih kering dan dangkal melalui akar (Horton & Hart, 1. Kemampuan hydraulic lift kelapa sangat terkait dengan sistem perakarannya yang efektif untuk menjalar jauh ke dalam tanah (Alagele et al. , 2. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar, atau sekitar 75Ae80%, akar kelapa terkonsentrasi pada kedalaman 20 hingga 100 cm, dengan kemampuan serapan air yang tinggi pada rentang kedalaman tersebut (Arachchi, 1. Meskipun akar kelapa dapat meluas hingga kedalaman lebih dari 2 meter, kepadatan tertinggi berada di 1 meter lapisan tanah teratas (Carr, 2. Struktur perakaran ini ideal untuk mengakses sumber air yang tidak tersedia bagi tanaman sela yang berakar dangkal. Dalam sistem tumpangsari, pohon kelapa dapat berfungsi sebagai "pompa air alami" selama periode kering. Proses ini terjadi ketika akar kelapa yang dalam menyerap air dari lapisan tanah yang lebih lembap dan melepaskannya ke lapisan tanah permukaan yang lebih kering, sehingga menyediakan air bagi tanaman di sekitarnya (Alagele et al. , 2. Mekanisme ini akan mewakili sinergi yang kuat, di mana pohon kelapa tidak hanya menyediakan struktur pendukung dan iklim mikro tetapi juga secara aktif berbagi sumber daya vital . , meningkatkan ketahanan dan produktivitas seluruh sistem agroforestri. Oleh karena itu, agroforestri berbasis kelapa memungkinkan transformasi monokultur yang tidak efisien menjadi sistem yang sangat produktif, menguntungkan, dan regeneratif secara ekologis yang meningkatkan ketahanan pangan, melestarikan sumber daya alam, dan memberikan mata pencaharian yang stabil bagi komunitas petani. Sebaliknya, kakao dan kopi cenderung berakar dangkalAemenengah, sehingga meski bermanfaat dalam penciptaan mikroklimat yaitu sebagai peneduh dan penahan evaporasi, kapasitas redistribusi air kedua jenis tanaman ini terbatas (Yang et al. , 2020. Schwendenmann et al. , 2. Oleh karena itu, pemilihan kelapa sebagai tanaman pokok tahunan sangat direkomendasikan pada ekosistem semi-kering seperti di Pulau Lombok, karena meningkatkan ketersediaan air tanah mikro bagi tanaman semusim, sekaligus mengurangi risiko cekaman kekeringan. Jahe Jahe bersifat toleran naungan moderat dimana penelitian lapang dan rumahkaca menunjukkan jahe dapat tumbuh baik di bawah naungan sekitar 25Ae50% dan bahkan mencatat Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 respon pertumbuhan yang lebih baik dari aspek tinggi tanaman dan jumlah daun pada kepadatan paranet menengah hingga tinggi dalam beberapa studi eksperimental (Kurnianingsih et al. Lashley et al. , 2. Bukti lain menunjukkan bahwa naungan yang sangat tinggi hingga 75% justru menurunkan bobot rimpang kering hingga 25% dan kandungan metabolit gingerol hingga 33% dibandingkan dengan naungan 50%. Fakta ini menunjukkan bahwa manfaat naungan bersifat non-linier dan naungan optimal untuk jahe berada pada tingkat moderat (Setyaningrum et al. , 2. Jika ditinjau dari perspektif fisiologi, naungan moderat memperkuat mekanisme fotosintetik jahe dan dapat mengurangi kerusakan akibat cekaman air sehingga jahe lebih adaptif pada kondisi naungan (Lv et al. , 2020. Kurnianingsih et al. , 2. Naungan moderat berperan menurunkan radiasi berlebih dan fluktuasi suhu, yang pada jahe dikaitkan dengan peningkatan kandungan klorofil, laju fotosintesis efektif, serta penurunan stress oksidatif. Kondisi ini dapat mempertahankan turgor daun dan rasio alokasi biomassa ke rimpang meskipun total radiasi menurun (Yongxing et al. , 2. Selain itu, interaksi akar dengan pohon dan perubahan sifat tanah berupa peningkatan C organik. K, serta perubahan komunitas mikroba dapat memperbaiki ketersediaan hara dan kesehatan tanah untuk jahe, sehingga menyokong hasil jangka menengah hingga jangka Panjang (Dissanayake & Palihakkara, 2. Berbagai bukti empiris menunjukkan bahwa jahe sebagai tanaman sela di bawah kelapa dapat meningkatkan produktivitas sistem dibanding monokultur kelapa atau jahe. Kajian tumpang sari buah kiwi dengan jahe menghasilkan pengurangan iluminasi hingga 58% yang diikuti dengan kenaikan klorofil, laju fotosintesis bersih, aktivitas enzim antioksidan, dan hasil jahe, sehingga mendukung kemampuan jahe tumbuh baik pada kondisi ternaungi (Yongxing et al. , 2. Peningkatan produktivitas sistem tumpang sari jahe dilaporkan juga pada beberapa studi agroforestri diantaranya tumpang sari jahe bersama bambu atau Gmelina yang menunjukkan kenaikan hasil jahe dan/atau kandungan oleoresin dibanding monokultur jahe (Setyaningrum et al. , 2024. Yongxing et al. , 2. Kajian di atas merupakan dasar empiris kuat yang menegaskan bahwa jahe memiliki kesesuaian untuk ditanam dengan sistem tumpang sari di bawah tegakan yang memberikan naungan moderat dan bahwa tumpeng sari juga dapat memperbaiki indikator tanah khususnya mikrobiota, sehingga integrasi jahe berpeluang menambah produktivitas sistem dan arus kas rumah tangga petani pada banyak dimensi. Selain itu, sifat agronomis jahe juga sangat mendukung integrasi dimana siklus panen relatif pendek yaitu sekitar 8-10 bulan pada praktik lapang yang dilaporkan, sehingga memungkinkan rotasi serta pendapatan tahunan dan fleksibilitas manajemen pada usaha tani kecil (Kurnianingsih et , 2022. Omo & Limon, 2. Turi Turi (Sesbania grandiflor. dan anggota genus Sesbania lainnya merupakan leguminoseae dengan pertumbuhan tinggi yang sering digunakan sebagai pupuk hijau dan sumber biomassa untuk memperbaiki kesuburan tanah dalam sistem tropis (Kwesiga & Coe. Wortmann & Kaizzi, 2. Potensi fiksasi N dan kontribusi hara dari pemangkasan atau serasah Sesbania cukup besar. Pemangkasan Sesbania dapat menyediakan jumlah nutrien yang tinggi hingga 448 kg N, 31. 4 kg P, dan 125 kg K per ha per tahun (Masutha et al. , 1. Secara umum, leguminoseae dapat menambat N dalam rentang besar hingga 43Ae581 kg/ha/tahun, sehingga Sesbania termasuk kelompok yang berpotensi tinggi untuk kontribusi dalam proses fiksasi nitrogen biologis di sistem agroforestri (Masutha et al. , 1997. Kebede, 2. Beberapa studi sistem rotasi tanam menemukan bahwa Sesbania menghasilkan biomassa dan fiksasi N lebih tinggi dibanding kacang gude (Wortmann & Kaizzi, 2. Kemampuan Sesbania dalam fiksasi N didukung oleh isolat rhizobia pada Sesbania yang memiliki keragaman besar dan variasi efektivitas simbiotik (Tendwa, 2. Selain itu, asosiasi dengan mikroba non-rhizobia diantaranya Azotobacter spp. dapat meningkatkan pertumbuhan, parameter fisiologis dan aktivitas nitrogenase pada Sesbania sehingga berpotensi menambah nilai agronomisnya sebagai Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 sumber N hayati (El-Gamal, 1. Tinjauan terkini mengenai tumpang sari leguminoseaeinosa menegaskan bahwa penambahan sesbania pada sistem campuran meningkatkan efisiensi sumber daya, kesuburan tanah, layanan ekosistem, dan ketahanan iklim dalam sistem terpadu (Akchaya et al. , 2025. RibeiroAaBarros et al. , 2. Sesbania lebih dominan dipilih sebagai komponen dalam sistem pertanian terpadu karena keunggulannya pada beberapa aspek diantaranya pertumbuhan yang tinggi, kemampuan dipangkas berulang sebagai sumber biomassa segar, dan kontribusi N yang relatif cepat melalui biomassa dan nodulasi yang efektif (Kwesiga & Coe, 1994. Wortmann & Kaizzi, 2. samping itu, serasah Sesbania memiliki kualitas yang baik akibat rasio C:N relatif rendah, lebih mudah terdekomposisi dan mengembalikan N ke tanah disbanding beberapa leguminoseae yang memiliki biomassa lebih berserat atau rasio C:N tinggi (Wortmann & Kaizzi, 2000. Masutha et al. , 1. Oleh karena itu, pemanfaatan Sesbania salah satunya turi dapat mempercepat siklus hara pada sistem yang memerlukan pasokan N berkelanjutan untuk tanaman sela seperti jahe. Daun turi merupakan hijauan berkualitas sebagai pakan kambing karena kandungan protein kasar yang tinggi dengan kisaran 20-25% berat kering dan tingkat kecernaan tinggi pada percobaan lapang dan in vitro (Hang et al. , 2010. Tessema & Baars, 2. Percobaan menunjukkan peningkatan konsumsi, peningkatan retensi N, dan peningkatan pertambahan bobot badan ketika turi digunakan dalam ransum kambing atau sebagai suplemen terhadap rumput gajah dibanding perlakuan kontrol tanpa leguminoseae (Hang et al. , 2010. van Eys et , 1. Studi evaluasi leguminoseaeinosa menemukan bahwa turi termasuk spesies dengan potensi degradasi yang tinggi. Hal ini berkaitan dengan tekstur daun relatif lunak dan derajat lignifikasi yang lebih rendah sehingga palatabilitas dan kecernaan menjadi lebih baik bagi ruminansia kecil (Kaitho et al. , 1. Beberapa percobaan melaporkan kecernaan protein yang tinggi saat turi disertakan dalam ransum atau sebagai campuran dengan rumput gajah, termasuk angka kecernaan protein yang melebihi 65% pada perlakuan tertentu (Hang et al. , 2010. Tessema & Baars, 2004. Hambakodu et al. , 2. Turi memiliki keunggulan dibandingkan dengan lamtoro (Leucaen. sebagai pakan Lamtoro menunjukkan karakteristik metabolik berbeda terutama kandungan Rumen Undegradable Protein (RUP) yang lebih tinggi dibandingkan beberapa leguminoseaee lain sehingga ketersediaan sumber N untuk mikroba rumen lebih rendah (Patra & Saxena, 2. Faktor pembatas lainnya pada lamtoro adalah adanya kandungan fenolik/tannin atau senyawa spesifik yang berinteraksi dengan protein dan enzim sehingga dapat membatasi degradasi dalam rumen (Makkar, 2003. Brutti et al. , 2. Secara biokimia, tannin membentuk kompleks dengan protein sehingga mengurangi ketersediaan protein untuk mikroba rumen dan berpotensi meningkatkan RUP (Brutti et al. , 2023. Patra & Saxena, 2. Kondisi ini menegaskan bahwa turi adalah sumber hijauan bergizi yang sangat cocok untuk kambing karena menyuplai protein kasar dalam jumlah besar, memiliki tingkat kecernaan yang baik, dan serta efek menguntungkan pada retensi N serta pertumbuhan hewan dalam banyak percobaan yang dilaporkan. Kambing Kambing (Capra aegagrus hircu. merupakan ruminansia kecil yang berperan strategis dalam sistem pertanian terpadu tropis karena ukuran tubuhnya relatif kecil, sifat adaptifnya tinggi, dan kebutuhan pakannya fleksibel. Dibanding sapi, kambing lebih toleran terhadap pakan hijauan dengan kualitas menengah, dapat memanfaatkan berbagai sumber biomassa termasuk leguminoseae pohon, dan memiliki laju perputaran ekonomi lebih cepat melalui produksi daging, susu, serta pupuk kandang. Berdasarkan konteks sistem usaha tani kecil, kambing sering dianggap sebagai mesin daur hara sebab kambing menghasilkan pupuk kandang relatif kaya N yang cepat terdekomposisi, dapat meningkatkan ketersediaan hara dan perbaikan sifat tanah, dan berkontribusi pada efisiensi siklus nutrien dalam integrasi tanaman-ternak (Washaya & Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 Washaya, 2023. Boudalia et al. , 2024. Paul et al. , 2. Produksi kotoran kambing bervariasi menurut bobot individu, dengan angka yang dilaporkan berkisar 0,32Ae0,625 kg/hari/ekor atau setara dengan 0,3 ton/tahun pada kambing dengan bobot 20Ae40 kg (Washaya & Washaya. Jika diakumulasi dengan total ternak kambing pada suatu sistem terpadu maka dapat tercapai beberapa ton/tahun potensi pasokan pupuk on-farm nyata. Kotoran kambing juga memiliki konsentrasi N relatif tinggi dibanding kotoran sapi dan mengandung C dan N mudah terurai sehingga memberikan nutrien yang cepat tersedia bagi mikroba tanah dan tanaman (Washaya & Washaya, 2. Dengan demikian, keberadaan kambing dalam sistem pertanian terpadu menjamin pasokan nutrien on-farm dengan menyuplai pupuk kandang yang bila dikomposkan atau dimanfaatkan sebagai mulsa terkontrol akan menambah kandungan N yang tersedia untuk jahe dan memperbaiki sifat tanah bagi kelapa dan turi (Washaya & Washaya. Paul et al. , 2. Hasil analisis kotoran kambing menunjukkan rasio C/N relatif rendah yaitu sekitar 5 dan kandungan nitrogen sedang yaitu 1,86% berat basah (Lu et al. , 2. Data rasio C/N pada kotoran kambing belum memenuhi rasio C:N yang disarankan untuk proses komposting optimal yang umumnya berada di kisaran 25-35, sehingga bahan dengan kandungan C rendah biasanya dicampur dengan substrat berserat untuk mencapai rasio target ini (Yaman, 2. Namun, jika dibandingkan dengan kotoran sapi yang lebih encer dan berkadar air tinggi, kotoran kambing lebih mudah dikomposkan, lebih stabil, serta memiliki risiko kehilangan nitrogen melalui volatilisasi yang lebih rendah. Karaketristik kotoran yang berbeda antar ternak seperti kandungan air, kebutuhan pengomposan dan potensi emisi akan memepengaruhi strategi pengelolaan sebelum aplikasi ke tanah (Goldan et al. , 2. Begitu juga dengan kotoran ayam, walaupun kaya nitrogen yaitu 2-2,3% berdasarkan berat basah (Wehunt et al. , 1. , namun kotoran ayam bersifat hot manure yaitu kondisi kotoran ayam segar yang kaya nitrogen atau ammonia, memiliki aktivitas mikroba tinggi dan berpotensi menghasilkan kondisi yang merusak tanaman . jika diaplikasikan tanpa proses penstabilan terlebih dahulu(Nainggolan et al. , 2025. Erickson et al. , 2. Dengan demikian, dari sisi keseimbangan hara dan keamanan aplikasi, kotoran kambing cenderung lebih unggul untuk tanaman berakar rimpang seperti jahe yang sensitif terhadap cekaman lingkungan. Manfaat dan Keberlanjutan Agrosilvopastura Kelapa-Jahe-Turi-Kambing Potensi keberlanjutan sistem agrosilvopastura Kelapa-Jahe-Turi-Kambing dapat ditinjau dari tiga dimensi yang menudukung keberlanjutan sistem, yaitu dimensi ekologi, dimensi ekonomi, serta dimensi sosial dan kelembagaan (Gambar . Dimensi Ekologi: Efisiensi Siklus Nutrien dan Konservasi Sumberdaya Sintesis literatur menegaskan bahwa kombinasi kelapa sebagai struktur utama agroforestri dengan tanaman lain serta ternak dapat membentuk suatu sistem pertanian terpadu yang berkelanjutan (Dissanayaka et al. , 2023. Atapattu & Udumann, 2. Sistem agroforestri berbasis kelapa seperti ini mampu menciptakan interaksi positif yang meningkatkan produktivitas dan stabilitas secara keseluruhan dibandingkan dengan sistem monokultur (Atapattu & Udumann, 2. Integrasi tanaman tahunan dan perenial, bersama dengan hewan ternak, dapat meningkatkan fungsi ekosistem dengan memperbaiki sifat fisik, biologis, dan kimia tanah serta membuka jalur baru untuk sekuestrasi karbon (Dissanayaka et al. , 2. Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 Ekologi Ekonomi Sosial Keberlanjutan Ekonomi (Multi-output: Kopra. Jahe. Susu/Daging. Kompo. Keberlanjutan Ekologi (Kelapa-Jahe-Turi-Kambing Ie Siklus Nutrie. (Daur Hara. Resiliensi Ikli. Sosial (Kambing Ie Bank Berjalan. Ketahanan Rumah Tangg. Gambar 2. Diagram Integrasi Dimensi Sistem Pertanian Terpadu Kelapa-Jahe-TuriKambing Dalam sistem ini (Gambar . , ternak . eperti kambin. berperan sebagai penghubung siklus hara, dengan mengonversi biomassa menjadi pupuk organik (Dissanayaka et al. , 2. Pengembalian nutrisi ini ke tanah akan mengurangi risiko kegagalan panen dan menyeimbangkan fungsi ekosistem (Dissanayaka et al. , 2. Alur sirkuler ini secara efektif menciptakan "ekosistem mini yang harmonis dan berkelanjutan" yang mengurangi ketergantungan pada input eksternal, mendiversifikasi sumber pendapatan bagi petani, dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim (Dissanayaka et al. , 2023. Atapattu & Udumann, 2. Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 Jahe Kelapa Sisa panen Ie Pakan tambahan Turi Daun turi Ie Pakan protein Kambing Kompos/ Pupuk Gambar 3. Diagram Alir Siklus Biomassa & Nutrien Sistem Pertanian Terpadu Kelapa-JaheTuri-Kambing Dimensi Produktivitas dan Diversifikasi Ekonomi Secara agronomis dan ekonomi, integrasi jahe sebagai tanaman sela di bawah naungan kelapa terbukti jauh lebih unggul daripada sistem monokultur. Studi menunjukkan bahwa kombinasi kelapa dan jahe dapat meningkatkan produktivitas penggunaan lahan sebesar 56% . itunjukkan oleh Land Equivalent Ratio 1,. dan menghasilkan laba bersih hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan kebun kelapa monokultur (Thomas et al. , 2. Dalam sistem ini, jahe berfungsi sebagai sumber pendapatan jangka pendek yang cepat, sementara kelapa menyediakan stabilitas pendapatan jangka panjang, sedangkan jangka pendek, jahe sangat penting terutama selama tahap awal kebun kelapa belum produktif. Penambahan ternak seperti kambing semakin memperkuat sistem ini dengan menciptakan sumber pendapatan tambahan dari produk seperti daging dan susu (Chapin i et , 2. Disamping itu, ternak berperan sebagai komponen daur ulang nutrisi, mengubah biomassa berkualitas rendah dan pakan dari pohon leguminoseae seperti turi menjadi pupuk Praktik ini secara signifikan dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, menekan biaya produksi, dan meningkatkan kesuburan tanah. Kombinasi multi output yang dihasilkan yang mencakup kopra, jahe, pakan ternak, produk ternak, dan pupuk organik akan menciptakan sistem pertanian yang terdiversifikasi yang menjadi fondasi ketahanan ekoomi bagi rumah tangga usaha tani kecil (Dissanayaka et al. Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 Dengan tidak bergantung pada satu komoditas, petani terlindungi dari resiko kegagalan panen total dan sistem ini juga berfungsi sebaga Auasuransi biologisAy terhadap ancaman spesifik seperti hama, penyakit atau variabilitas iklim. Selain itu, diversifikasi pendapatan ini memberikan penyangga finansial yang krusial terhadap volatilisasi harga pasar, di mana pendapatan dari berbagai produk dapat saling mengkompensasi dan menstabilkan arus kas petani sepanjang tahun, sehingga mengurangi ketidakpastian ekonomi yang sering dihadapi dalam pertanian monokultur (Thomas et al. , 2. Dimensi Sosial dan Kelembagaan Integrasi ternak kambing dalam sistem pertanian tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga sosial, karena terbukti menjadi pendorong ekonomi pedesaan dan dapat membantu mengurangi kemiskinan di kalangan usaha tani kecil (Wirasti et al. , 2021. Sugiarto et al. , 2. Kambing memberikan kontribusi pendapatan yang signifikan bagi petani, baik melalui produk utama seperti daging dan susu maupun produk sampingan berupa pupuk organik (Wirasti et al. Fitriani et al. , 2023. Asih et al. , 2. Sementara itu, kelapa merupakan komoditas perkebunan utama yang dikelola oleh mayoritas petani di berbagai wilayah di Indonesia, dengan kontribusi signifikan terhadap total produksi nasional (Kairupan et al. , 2. Dalam konteks lokal Pulau Lombok, sinergi ini sangat relevan mengingat pulau Lombok memiliki luasan tanaman kelapa lebih dari 45 ribu ha serta populasi kambing lebih dari 150 ribu ekor (BPS NTB, 2. , sehingga basis sumber daya untuk pengembangan sistem ini sudah tersedia. Dengan demikian, sistem ini memperkuat ketahanan sosial-ekonomi usaha tani kecil dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG. , khususnya ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan. Dimensi Keberlanjutan dan Ketahanan Hasil tinjauan literatur menunjukkan bahwa sistem agroforestri agrosilvopastura, yang mengintegrasikan tanaman perkebunan, tanaman semusim, pohon leguminoseae, dan ternak memiliki potensi ekologis dan ekonomi yang signifikan. Berikut adalah beberapa manfaat Meningkatkan Cadangan Karbon dan Mengurangi Emisi: Sistem tumpangsari seperti kelapa dengan turi terbukti meningkatkan laju sekuestrasi karbon secara substansial, bahkan bisa mencapai tiga kali lipat dibandingkan sistem monokultur (Nuwarapaksha et al. , 2. Praktik agroforestri secara umum meningkatkan karbon organik tanah dan kesuburan tanah, yang membuka jalur baru untuk penyerapan karbon (Dissanayaka et al. , 2. Selain itu, integrasi ternak memungkinkan daur ulang nutrisi melalui pupuk organik, yang dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk sintetis dan jejak karbon yang terkait (Shanmugam et al. , 2. Membangun Ketahanan Sistem dan Ekonomi: Diversifikasi komoditas merupakan strategi inti untuk memperkuat ketahanan pertanian (Shanmugam et al. , 2024. Atapattu & Udumann, 2. Dengan mengintegrasikan berbagai tanaman dan ternak, petani mengurangi risiko kegagalan panen tunggal dan menciptakan sumber pendapatan tambahan yang menstabilkan ekonomi rumah tangga (Dissanayaka et al. , 2. Sistem ini terbukti lebih tahan terhadap variabilitas iklim dan fluktuasi pasar dibandingkan dengan monokultur (Atapattu & Udumann, 2. Secara integratif, sistem pertanian ini dapat dipandang sebagai model agroforestri multistrata berkelanjutan yang khas untuk ekosistem tropis. Dalam model ini, kelapa berfungsi sebagai kerangka struktural yang menciptakan iklim mikro bagi tanaman di bawahnya (Dissanayaka et al. , 2. Pohon leguminoseae seperti turi berperan ganda sebagai peningkat kesuburan tanah dan sumber pakan berkualitas bagi ternak. Ternak, seperti kambing, berfungsi sebagai motor penggerak siklus hara dan sekaligus aset ekonomi yang memperkuat keberlanjutan sosial rumah tangga petani (Nuwarapaksha et al. , 2. Kombinasi ini menciptakan skenario yang andal untuk meningkatkan produktivitas, keuntungan ekonomi. Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 memperkuat ketahanan sosial-ekonomi, serta menjaga fungsi ekologi jangka panjang (Shanmugam et al. , 2. Peluang dan Tantangan Pengembangan Agrosivopastura Kelapa-Jahe-Turi-Kambing Peluang dan Tantangan Ekologis Integrasi kelapa, jahe, turi, dan kambing dapat dipandang sebagai sistem agroforestri multistrata yang menurunkan stres panas dan evapotranspirasi bagi tanaman sela melalui kanopi moderat serta mendukung peningkatan stok karbon dan layanan keanekaragaman hayati pada lanskap (Ashraf et al. , 2. Pohon peneduh berupa leguminoseae seperti turi memberikan biomassa dan memasok nitrogen tersedia melalui fiksasi nitrogen secara biologis sehingga berkontribusi pada akumulasi bahan organik dan peningkatan kesuburan tanah (Shi et al. Integrasi kambing sebagai ternak kecil melengkapi sirkulasi hara dengan mengubah biomassa menjadi pupuk kendang, memperkuat daur nutrien dalam sistem dan berpotensi mengurangi ketergantungan pada pupuk sintetis sambil menambah pendapatan rumah tangga (Sari & Jumiyati, 2. Bukti metaanalitik dan ulasan menunjukkan bahwa sistem agroforestri multistrata umumnya meningkatkan cadangan karbon tanah dan stok karbon di atas tanah serta meningkatkan stabilitas biofisik dan layanan ekosistem dibandingkan monokultur (Shi et al. Namun desain spasial dan manajemen kerapatan pohon, konfigurasi lorong, intensitas naungan, dan pengelolaan mulsa/kompos harus dioptimalkan untuk menghindari kompetisi cahaya atau hara yang dapat menurunkan hasil tanaman sela (Ashraf et al. , 2019. Shi et al. Di samping itu, praktik naungan dan mulsa yang meningkatkan kelembapan mikro dapat memperpanjang kondisi lembap sehingga perlu pemantauan kelembapan dan sanitasi kompos untuk mengurangi risiko penyakit rimpang dan kehilangan nutrien melalui volatilisasi (Kenzo et al. , 2. Dengan pengaturan agronomi yang tepat meliputi intensitas naungan sedang, jarak tanam dan pola lorong yang sesuai, praktik pengelolaan bahan organik, serta integrasi pakan dan rotasi ternak, sistem kelapa-jahe-turi-kambing berpotensi menjadi model agroforestri multistrata yang berkelanjutan untuk wilayah tropis lembap kering seperti Pulau Lombok. Peluang dan Tantangan Sosial Agrosilvopastura dapat diadopsi bertahap oleh petani kecil karena memanfaatkan input lokal . ijauan turi dan serasah kelap. dan tenaga kerja keluarga (Race & Wettenhall, 2024. Nyberg et al. , 2. Peran gender dapat menguat, di mana perempuan kerap terlibat pada budidaya jahe, pengolahan kompos, dan manajemen kambing, sehingga sistem ini mendorong pemberdayaan ekonomi rumah tangga (Njiru et al. , 2023. Kpoviwanou et al. , 2. Akan tetapi, keberhasilan sistem terpadu menuntut pengetahuan praktis tentang pemangkasan, formulasi pakan, kompos aerob, dan sanitasi kendang (Smith, 2018. Nyberg et al. , 2020. Race & Wettenhall, 2. Tanpa penyuluhan intensif, beban kerja harian bisa meningkat . emotongan hijauan, pemeliharaan ternak, pengelolaan bedenga. , yang berpotensi memicu kelelahan tenaga kerja keluarga (Nyberg et al. , 2. Oleh karena itu, diperlukan model kelompok usaha tani untuk berbagi tenaga atau alat dan penerapan learning-by-doing yang mempercepat penguasaan praktik baik. Peluang dan Tantangan Ekonomi Secara ekonomi, kombinasi arus kas jangka pendek . , arus kas menengah . , dan arus kas jangka panjang . menstabilkan pendapatan dan menurunkan volatilitas risiko pasar (Baker et al. , 2023. Danso-Abbeam et al. , 2025. Asfaw et al. , 2. Bukti lapang jangka panjang menunjukkan sistem kelapa dan rempah meningkatkan indeks produktivitas sistem dan pengembalian investasi dibanding monokultur (Atapattu & Udumann. Rivera, 2. Penerapan sistem kelapaAerempah dilaporkan dapat memberikan hasil yang lebih tinggi, pendapatan lebih stabil, dan risiko lebih rendah dibanding monokultur (Atapattu & Udumann, 2024. Rivera, 2. Hijauan pakan dari turi di lahan usaha tani juga dapat menekan biaya pakan yang ditunjukkan dengan adanya efisiensi dan peningkatan produktivitas pada sistem terdiversifikasi(Danso-Abbeam et al. , 2025. Rivera, 2. Akan tetapi di sisi Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 pembiayaan, petani kecil sangat memerlukan kredit mikro yang selaras siklus arus kas multikomoditas, serta asuransi cuaca untuk mitigasi risiko iklim (Danso-Abbeam et al. , 2025. Asfaw et al. , 2. Peluang dan Tantangan Kelembagaan Lembaga kolektif dalam bentuk koperasi atau kelompok tani berperan dalam meningkatkan posisi tawar petani dan menghubungkan mereka ke pasar (Fudjaja et al. , 2024. Untari & Vellema, 2. Hal ini termasuk mengurangi ketergantungan pada tengkulak dan memungkinkan petani menjadi penentu harga daripada hanya penerima harga. Selain itu lembaga kolektif juga diharapkan berperan dalam pengadaan sarana produksi seperti alat cacah hijauan dan biofermentor. Kebijakan berbasis insentif, misalnya subsidi alat kompos, bibit turi bersertifikat, layanan uji tanah gratis dapat mempercepat adopsi dan mengangkat skala usaha. Akan tetapi, tanpa koordinasi lintas dinas, program bisa terfragmentasi, di mana dukungan benih jahe tidak diimbangi pelatihan pakan atau kompos, atau sebaliknya. Diperlukan penyuluhan terpadu satu pintu dan sekolah lapang petani yang mengintegrasikan paket teknologi budidaya jahe, manajemen kelapa, agroforestri turi, dan kesehatan ternak. Peluang dan Tantangan Teknologi Kemajuan sensor tanah dan air, pemodelan cahaya . anopi kelap. , dan irigasi tetes atau mulsa memungkinkan tata letak 1 ha yang presisi untuk mencapai naungan efektif 25Ae50% dan efisiensi air tinggi (Arjun & Kamalraj, 2024. Meriy, 2025. Abdelmoneim et al. , 2. Penerapan bioinput berupa inokulan Rhizobium untuk turi dan starter kompos dapat mempercepat fiksasi N dan dekomposisi. Selain itu, aplikasi digital . obile extensio. mempermudah pemantauan SOP, hama, dan catatan usaha (Meriy, 2. Akan tetapi, tetap diperlukan standar operasional untuk pemangkasan, densitas lorong, dosis kompos, dan rotasi pakan, agar replikasi konsisten. Pada skala lebih besar, supply chain harus siap menyerap multiproduk. Oleh karena itu, penilaian Life Cycle Assessment (LCA) di tingkat kebun menjadi penting untuk menakar dampak emisi atau jejak air dan menyempurnakan strategi AuorganikplusAy. Dengan menintegrasikan peluang dan tantangan di atas ke dalam paket teknis hingga kelembagaan, agrosilvopastura kelapa-turi-jahe-kambing menawarkan jalur intensifikasi ekologis yang menguntungkan dan tahan iklim (Arjun & Kamalraj, 2024. Meriy, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dapat disimpulkan bahwa model agrosilvopastura kelapa, jahe, turi, dan kambing merupakan bentuk intensifikasi ekologis yang strategis dan relevan untuk wilayah semi-kering seperti Lombok, yang mampu meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan agroekosistem sekaligus berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Model ini mampu menjawab tantangan produktivitas dan ketahanan bagi petani kecil dengan membentuk sinergi antar komponen dimana kelapa berfungsi sebagai tanaman pokok jangka panjang yang menyediakan kerangka struktural, memodifikasi iklim mikro, dan meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman sela, jahe sebagai tanaman bernilai ekonomi tinggi untuk memberikan pendapatan jangka pendek, turi,yang berperan ganda sebagai leguminoseae fiksator nitrogen untuk menyuburkan tanah dan sebagai sumber pakan hijauan berkualitas tinggi bagi ternak serta kambing yang menutup siklus nutrien dengan mengubah biomassa dari turi dan sisa tanaman menjadi pupuk organik kaya hara, sehingga mengurangi ketergantungan pada pupuk sintetis dan meningkatkan kesehatan tanah. Sistem ini juga terbukti meningkatkan cadangan karbon tanah dan berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim. Saran Perlu dilakukan pengujian lapangan secara riil di lokasi sekitar pulau Lombok, agar dapat dibuktikan secara nyata keunggulan dari sistem agrosilvopastura kelapa-jahe-turi-kambing ini. Ariyana. dan W. Wangiyana Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 dan sekaligus akan dapat menjadi percontohan . penerapannya, yang dapat ditiru oleh petani sekitarnya. DAFTAR PUSTAKA