ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 10 No. 04 Desember 2024 id/index. php/andharupa AKULTURASI BUDAYA ISLAM PADA MOTIF BATIK AuPELO ATIAy DESA KALIPUCANG WETAN KABUPATEN BATANG Anik Rahmawati1,Pradnya Paramytha2. Agus Triyono3 Program Studi Desain Komunikasi Visual. Fakultas Komputer & Desain Universitas Selamat Sri. Kendal Program Studi Desain Interior. Fakultas Seni Rupa & Desain Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Yogyakarta Program Studi Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Komputer. Universitas Dian Nuswantoro. Semarang email : arahma2108@gmail. com1, pradnyaparamytha@isi. id2 , agustriyono7@dsn. Corespondent Author : Anik Rahmawati1 Abstrak Batik RifaAoiyah tumbuh dari Komunitas perajin di Desa Kalipucang Wetan. Kabupaten Batang yang menerapkan nilai-nilai ajaran Islam pada motifnya. Batik RifaAoiyah memiliki keunikan dari segi proses pembuatan, visualisasi bentuk serta wujud akulturasi budaya pada motifnya. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji teknik pembuatan, visualisasi motif batik, dan wujud akulturasi budaya pada motif batik Pelo Ati. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pembeda pada proses pembuatan batik RifaAoiyah yaitu perajin membaca syair kidung berbahasa Jawa yang berisi ajaran Islam ketika menorehkan malam ke selembar kain batik. Kedua, motif Pelo Ati pada dua sisi kain batik (Pagi- Sor. divisualisasikan dari hewan . dengan bagian tubuh yang terpisah. Ketiga, wujud akulturasi budaya pada motif batik RifaAoiyah, diantaranya: . Motif batik RifaAoiyah mengikuti ajaran Islam bahwa tidak diperbolehkan menggambar makhluk hidup secara utuh. Terdapat percampuran budaya lain pada motif yang mendapat pengaruh dari Eropa. Mataram dan China. Pengaruh dari Eropa tervisualisasikan pada motif renda-renda sebagai ornamen hiasan. Kemudian motif mataram terwujud pada motif Hujan Liris di pinggiran kain. Sedangkan pengaruh dari budaya Cina terwujud pada warna yang digunakan yaitu warna merah. Kata Kunci: Batik Rifaiyah. Pelo Ati, akulturasi budaya Abstract Rifa'iyah batik grew from the artisan community in Kalipucang Wetan Village. Batang Regency, which applies Islamic values to its motifs. Rifa'iyah batik has uniqueness in the production process, visualization of forms and forms of cultural acculturation in its motifs. This research aimed to examine the production techniques, motif visualization, and cultural acculturation in the Pelo Ati batik motif. This study used a descriptive qualitative method. Data was collected through observation, interviews, and documentation. The research findings reveal a distinction in the process of making RifaAoiyah Batik, where artisans recite Javanese hymns containing Islamic teachings while applying wax to a piece of batik cloth. Second, the Pelo Ati motif on both sides of the batik (Pagi-Sor. features animals . with separated body parts. Third, the cultural acculturation in RifaAoiyah Batik motifs includes: . The motifs adhere to Islamic teachings, which prohibit depicting living creatures in their entirety. The motifs are influenced by European. Mataram, and Chinese cultures. The European influence is visualized in the lace motif as a decorative ornament. The Mataram influence is reflected in the Hujan Liris motif along the fabric's edges. The influence of Chinese culture is reflected in the use of red. Keywords: Rifa'iyah Batik. Pelo Ati. Cultural Acculturation Available online at: do/andharupa 30 Desember 2024 Received: 07 September 2023 Revised: 18 Desember 2024 Accepted: 26 Desember 2024 Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Rahmawati et al. Akulturasi Budaya Islam A 550-561 PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki banyak suku bangsa dan tersebar luas mulai dari Sabang sampai Merauke. Banyaknya suku di Indonesia, hampir setiap daerah terdapat hasil kesenian tradisional warisan budaya. Warisan budaya tersebut salah satunya adalah seni batik (Amalia, 2. Batik merupakan salah satu seni tradisional yang sudah ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2009, sebagai warisan budaya yang patut dilestarikan (Selamet, 2. Menurut Poerwodarminto dalam (Amalia, 2. batik merupakan kain bergambar yang proses pembuatannya dengan cara ditorehkan motif, lalu ditutup menggunakan lilin untuk proses pewarnaanya. Lain halnya menurut (Hamzuri, 1. batik merupakan lukisan pada kain polos yang dibuat menggunakan canting. Lebih lanjut menurut (Dalijo, 1. batik merupakan suatu teknik menggambar pada kain dengan cara menutup dan mencelup zat warna sehingga terbentuk motif pada kain tersebut. Menurut (Roojen, 2. , batik dikelompokan menjadi dua bagian yaitu Batik pedalaman dan Batik Pesisiran. Batik pedalaman biasa disebut juga dengan Batik Mataraman atau Keraton. Batik Pedalaman identik mengacu pada Keraton Solo dan Yogyakarta dengan ciri khas motif geometris dan non figuratif. Menurut Asa dalam (Christine Claudia Lukman, 2. Batik Pedalaman dipengaruhi oleh filosofi Hindu-Buddha dan Islam. Hal ini terlihat pada warna yang digunakan cenderung menggunakan warna coklat, marunsoga, hitam, kuning pucat, biru serta putih sebagai ciri khasnya. Sedangkan Menurut Sondari & Yusmawati dalam (Christine Claudia Lukman, 2. Batik Pesisir merupakan batik yang diproduksi di luar Keraton dan dibuat oleh rakyat biasa yang tidak berorientasi pada budaya Keraton. Batik Pesisir memiliki banyak corak, warna, serta ragam hias yang bervariasi. Hal ini disebabkan oleh faktor geografis yang mempengaruhi pola pikir masyarakat karena adanya pendatang, sehingga berpengaruh pada motif batik pesisiran menjadi beragam (Enrico et al. , 2. Batik pesisiran umumnya berkembang di daerah pesisir Utara Pulau Jawa. Salah satu kota yang membuat batik pesisiran yaitu Batang Jawa Tengah, dimana kota tersebut terdapat komunitas perajin batik RifaAoiyah. Batik RifaAoiyah sendiri tepatnya berada di Desa Kalipucang Wetan. Kabupaten Batang. Berdasarkan hasil wawancara dengan (Miftakhutin, 2. menjelaskan bahwa di komunitas batik RifaAoyah ini sudah menciptakan 24 motif batik, dimana ada salah satu motif yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam dari K. H Ahmad Rifaiyah. Motif batik tersebut yaitu motif Pelo Ati, sedangkan motif lainnya berisi tentang harapan akan kehidupan yang lebih baik, kehidupan masyarakat Rifaiyah, dan gambaran kehidupan yang mengandung jalinan persaudaraan yang tidak pernah putus. Perbedaan motif Pelo Ati dengan motik batik Rifaiyah lainnya yang ada di Batang terletak pada pakem atau aturan yang melarang menggambar makhluk hidup secara utuh. Barang siapa yang mengenakan batik dengan motif makhluk hidup secara utuh, kemudian ia melaksanakan sholat, maka sholatnya dianggap tidak sah (Aquamila Bulan Prizilla, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan (Miftakhutin, 2. , sebelum proses membatik, perajin melakukan ritual yaitu dengan melaksanakan salat Duha terlebih dahulu. Setelah itu, perajin harus membaca syair kidung berbahasa Jawa yang berisi ajaran Islam pada saat menorehkan malam ke selembar kain batik. Oleh sebab itu, pengerjaan satu kain batik dapat memakan waktu hingga tiga bulan. Hal ini dikarenakan bagi kelompok RifaiAoyah membatik bukan hanya Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Rahmawati et al. Akulturasi Budaya Islam A 550-561 tentang budaya tetapi sekaligus mempelajari sejarah dan mendalami Agama. Motif yang dihasilkan berupa lingkungan alam flora dan fauna. Batik RifaAoiyah merupakan jenis batik Pagi-Sore. Menurut (Anik Rahmawati, 2. Batik Pagi-Sore sudah ada sejak tahun 1930, dimana pada masa itu sedang masuk masa krisis global dan Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Hindia-Belanda. Pada saat krisis global inilah orang terdahulu mencoba membuat batik pada selembar kain dengan dua motif berbeda yang akan digunakan pada pagi hari dan sore hari (Anik Rahmawati. Tujuan pembuatan batik pagi sore ini sebagai salah satu upaya penghematan kain batik yang langka keberadaanya pada saat itu. Sedangkan untuk teknik pewarnaan yang dilakukan pada komunitas pembatik RifaiAoyah dilakukan dengan cara mewarnai pada kedua sisinya . olak bali. (Mustika, 2. Gambar 1. Kain Batik RifaAoiyah Motif Pelo Ati [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Menurut (Miftakhutin, 2. menjelaskan bahwa Batik RifaiAoyah memiliki kombinasi beberapa motif yang diadopsi oleh masyarakat komunitas RifaiAoyah dikarenakan adanya proses akulturasi budaya. Menurut (Lukman Firdaus, 2. Proses akulturasi budaya merupakan proses percampuran dua kebudayaan atau lebih yang kemudian diterima dan diolah tanpa menghilangkan kebudayaan itu sendiri. Proses akulturasi budaya ini terdapat pada motif batik Pelo Ati (Nita Virena Nathania, 2. Penggambaran motif batik Pelo Ati dari bentuk unggas yang bagian badannya terpisah menjadi salah satu wujud akulturasi yang mengandung pesan dari ajaran Islam (Aquamila Bulan Prizilla. Berdasarkan pemikiran-pemikiran di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah ingin mengidentifikasi proses pembuatan batik, visualisasi, makna dan akulturasi budaya pada satu lembar kain motif batik Pelo Ati. Pentingnya kajian ini adalah memberi gambaran tentang dinamika keragaman budaya pada karya seni batik pesisir, termasuk bagaimana perwujudan ajaran Islam tervisualisasikan dalam motif Pelo Ati. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Ketua Komunitas Batik Rifaiyah yang menyatakan bahwa dari total 24 motif, hanya motif Pelo Ati yang mengandung nilai ajaran Islam sedangkan motif lainnya mengandung makna tentang harapan kehidupan masyarakat Rifaiyah. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Rahmawati et al. Akulturasi Budaya Islam A 550-561 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sasaran penelitian ini adalah aspek-aspek intra estetik dan ekstra estetik perwujudan bentuk motif batik Pelo Ati sebagai simbol akulturasi budaya (Triyanto, 2. Selain itu, analisis tentang makna simbolik yang terdapat pada motif batik Pelo Ati menggunakan semiotika teks (Christine Claudia Lukman, 2. Lokasi penelitian ini berada di Desa Kalipucang Wetan. Kabupaten Batang tepatnya pada sanggar komunitas perajin batik RifaAoiyah. Teknik pengumpulan data ini menggunakan pengamatan, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi literatur. Pada tahap wawancara mendalam, peneliti melakukan wawancara dengan (Miftakhutin, 2. selaku ketua komunitas batik RifaAoiyah. Secara umum, data yang diperoleh selama proses penelitian kemudian dianalisis menggunakan pendekatan analisis kualitatif. Selanjutnya, prosedur analisis data pada penelitian ini menggunakan tahapan reduksi, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Teknik Pembuatan Batik Pelo Ati yang Diproduksi oleh Komunitas RifaiAoyah Batik RifaiAoyah merupakan salah satu batik yang dikembangkan oleh Komunitas perajin batik yang berkembang di Desa Kalipucang Wetan. Kabupaten Batang. Saat melakukan wawancara dengan informan Ibu Miftakhutin selaku Ketua Komunitas Batik RifaiAoyah mengatakan bahwa Batik Rifaiyah memiliki 24 jenis ragam motif batik diantaranya pelo ati, nyah pratin, gemblong sairis, lancur, kotak kitir, banji, sigar kupat, krokotan, liris, tambal, kawung ndog, kawung jenggot, dlorog, materos satrio, ila ili, dapel, romo gendong, jeruk noAoi, kluwungan, keongan, klasem, jamblang, gendaghan dan wagean (Miftakhutin, 2. Berdasarkan ke-24 motif batik RifaiAoiyah, motif Pelo Ati merupakan salah satu batik yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam dari K. Ahmad RifaAoiyah. Batik RifaiAoyah merupakan salah satu batik tulis yang memiliki keunikan disebabkan oleh adanya proses akulturasi budaya pada motif batiknya. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan (Miftakhutin, 2. selaku Ketua Komunitas Perajin Batik RifaiAoyah. Beliau mengatakan bahwa Batik RifaiAoyah dibuat dengan menganut ajaran Islam yang diajarkan oleh K. H Ahmad Rifaiyah. Proses pembuatan batik RifaiAoyah di lakukan pada selembar kain mori yang dibatik di kedua sisi kainnya . olak bali. Warna yang digunakan untuk mewarnai batik Pelo Ati yaitu menganut batik Tiga Negeri diantaranya warna merah, biru, dan coklat. Selain ketiga warna tersebut, ada juga yang menggunakan warna bangbiron . ang: merah dan biron: bir. (Aquamila Bulan Prizilla. Dalam motif batik Pelo Ati sisi kiri terdapat warna putih, bang-bangan ati, bangbangan lombok, gadung, wedelan, dan coklat. Sedangkan sisi kanan terdapat warna warna putih, bang-bangan ati, bang-bangan lombok, gadung, wedelan, coklat dan hitam. Menurut (Miftakhutin, 2. teknik pewarnaan batik RifaiAoyah pada zaman dahulu masih menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan, namun sekarang sudah diganti menggunakan pewarna kimia. Menurut (Jumadi, 2. Batik RifaiAoyah masih dibuat dengan cara ditulis secara tradisional menggunakan alat berupa canting untuk membuat motif, corak, hingga proses pewarnaanya. Bahan yang digunakan untuk membuat batik RifaiAoyah antara lain malam atau lilin batik, kompor, minyak tanah dan pewarna batik. Dalam proses membuat batik RifaiAoyah, tahap yang dilakukan sama dengan proses membuat batik Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Rahmawati et al. Akulturasi Budaya Islam A 550-561 pada umumnya. Yang membedakan proses membatik pada umumnya terletak pada ritual yang dilakukan oleh komunitas perajin batik RifaiAoyah. Menurut Jumadi . ada ritual yang biasa dilakukan sebelum membatik yaitu dengan melaksanakan salat Duha terlebih dahulu. Setelah itu, perajin harus membaca syair kidung berbahasa Jawa yang berisi ajaran Islam pada saat menorehkan malam ke selembar kain batik. Teknik membuat batik diawali dengan menggambar pola pada selembar kain mori. Kemudian, setelah membuat pola dilanjutkan proses membatik menggunakan canting Menurut (Anik Rahmawati, 2. Canting Klowong merupakan canting yang dipakai khusus untuk membuat pola dasar batik. Tahap selanjutnya yaitu proses pembuatan corak dan dilanjutkan dengan proses pewarnaan. Teknik yang digunakan dalam proses pewarnaan yaitu dengan teknik Tiga Negeri dengan minimal 3 warna. Setelah proses pewarnaan selesai, selanjutnya dilakukan proses pelorodan. Lalu, tahap terakhir dilakukan penguncian menggunakan air keras yang sudah dicairkan 2% total dari 100%. 2 Visualisasi Batik RifaAoitah Pada Motif Pelo Ati Menurut (Feldman, 1. bentuk merupakan Aumanifestasi fisik luar dari suatu obyek yang hidupAy. Suatu bentuk akan memiliki kualitas yang terletak pada suatu garis lurus jika kita dapat fokus memperhatikan batas-batasannya. Namun, terkadang garis bentuk yang terdapat di dalamnya terkadang membuat kita tersadar akan adanya efek melalui warna-warna pada bidang yang mereka batasi. Penyusunan warna tersebut akan menimbulkan kesan estetik serta makna wujud tidak tampak yang disajikan kepada Batik motif Pelo Ati merupakan salah satu motif batik yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam K. Ahmad RifaAoiyah. Batik Pelo Ati merupakan batik Pagi-Sore, dimana dalam visualisasi ornamen yang terdapat pada motif Pelo Ati . isi kir. menggambarkan seekor unggas yang telah dipenggal dengan jantung yang masih utuh. Sedangkan visualisasi ornamen visual Pelo Ati sisi kanan, menggambarkan hati unggas di luar tubuhnya. bawah ini disajikan bentuk visual motif batik Pelo Ati Pagi-Sore. Tabel 1. Visual Motif Batik Pelo Ati Pagi [Sumber: Analisis Peneliti, 2. Visual Motif Batik Pelo Ati Sisi Kiri (Pag. Gambar 2. Visual Motif Batik Pelo Ati Sisi Kiri (Pag. [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Rahmawati et al. Akulturasi Budaya Islam A 550-561 Motif Batik Sisi Kiri (Pag. Gambar 3. Motif Pelo Ati 1 [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Gambar 3a. Ilustrasi Motif Pelo Ati 1 [Sumber: Peneliti, 2. Gambar 4. Motif Pelo Ati 2 [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Gambar 4a. Ilustrasi Motif Pelo Ati 2 [Sumber: Peneliti, 2. Gambar 5. Motif Pelo Ati 3 [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Gambar 5a. Ilustrasi Motif Pelo Ati 3 [Sumber: Peneliti, 2. Keterangan Motif satu motif utama pada batik Pelo Ati. Pada kain sisi kiri terdapat motif Pelo Ati berupa ayam digambarkan secara Pada motif terlihat gambar hati sifat manusia. yang diganti dengan bunga-bunga. Kemudain kaki ayam Bentuk ekor ayam diganti dengan daun/tumbuhan. Berdasarkan wawancara dengan Miftakhutin . , motif batik bagian . terdapat 3 motif Pelo Ati Gambar disamping Pinggiran sebagai pelengkap Gambar 6. Motif Pinggiran [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Gambar 6a. Ilustrasi Motif Pinggiran [Sumber: Peneliti, 2. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Rahmawati et al. Akulturasi Budaya Islam A 550-561 Gambar 7. Motif Pinggiran 2 [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Gambar 8. Motif Tumpal [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Gambar 9. Motif Bunga [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Gambar 7a. Ilustrasi Motif Pinggiran [Sumber: Peneliti, 2. Gambar 8a. Ilustrasi Motif Tumpal [Sumber: Peneliti, 2. Gambar 9a. Ilustrasi Motif Bunga [Sumber: Peneliti, 2. Gambar 10. Motif Tanahan [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Gambar 10a. Ilustrasi Motif Tanahan [Sumber: Peneliti, 2. Gambar 11. Motif Tanahan Batik [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Gambar 11a. Ilustrasi Motif Tanahan Batik [Sumber: Peneliti, 2. Gambar 12. Motif Pinggiran [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Gambar disamping Pinggiran RantaiRantai motif gaya Eropa. Motif Tumpal. Motif Tumpal merupakan salah satu ragam hias geometris pada relief non-cerita di dinding Candi. Motif Tumpal Sumber: (Istari. Gambar disamping disebut Motif bunga tumbuhan liar yang digunakan sebagai pelengkap batik. Gambar 12a. Ilustrasi Motif Pinggiran [Sumber: Peneliti, 2. Tabel 2. Visual Motif Batik Pelo Ati Malam [Sumber: Analisis Peneliti, 2. Gambar disamping Tanahan. Bagian Tanahan terdapat motif bunga Mawar dan Melati kelopak enam sebagai IsenIsen batik. Motif ini sebagai hiasan dan pelengkap batik. Gambar disamping Tanahan Batik. Motif ini pelengkap batik. Gambar disamping Pinggiran sebagai hiasan dan pelengkap batik. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Rahmawati et al. Akulturasi Budaya Islam A 550-561 Visual Motif Batik Pelo Ati Sisi Kanan (Sor. Gambar 13. Visual Motif Batik Pelo Ati Sisi Kanan (Sor. [Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Motif Batik Sisi Kanan (Sor. Gambar 14. Motif Pelo Ati [Sumber: Dokumentasi Peneliti. Keterangan Gambar di samping merupakan Pelo Ati digambarkan pada kain batik Sore. Wujud yang terlihat tampak bagian badan dan ekor. Gambar 14a. Ilustrasi Motif Pelo Ati [Sumber: Peneliti, 2. Motif tumbuhan menjalar yang berfungsi sebagai hiasan dan Gambar 15. Motif Flora [Sumber: Dokumentasi Peneliti. Gambar 16. Motif Tumpal [Sumber: Dokumentasi Peneliti. Gambar 15a. Ilustrasi Motif Flora [Sumber: Peneliti, 2. Gambar 16a. Ilustrasi Motif Tumpal [Sumber: Peneliti, 2. Motif Tumpal memiliki bentuk dasar bidang segitiga berderet Motif Tumpal merupakan salah satu ragam hias geometris pada relief noncerita di dinding Candi. Sumber: (Istari, 2. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Rahmawati et al. Akulturasi Budaya Islam A 550-561 Tanaman bunga Mawar dan bunga Melati kelopak tujuh. Motif disamping digunakan sebagai hiasan dan pelengkap Gambar 17. Motif bunga Mawar dan bunga Melati [Sumber: Dokumentasi Peneliti. Gambar 16a. Ilustrasi Motif bunga Mawar dan bunga Melati [Sumber: Peneliti, 2. Daun tumbuhan liar disamping digunakan pada motif batik sisi kanan sebagai hiasan dan pelengkap batik. Gambar 17. Motif Daun [Sumber: Dokumentasi Peneliti. Gambar 18. Motif Sulur [Sumber: Dokumentasi Peneliti. Gambar 19. Motif Sulur 2 [Sumber: Dokumentasi Peneliti. Gambar 17a. Ilustrasi Motif Daun [Sumber: Peneliti, 2. Gambar 18a. Ilustrasi Motif Sulur [Sumber: Peneliti, 2. Gambar 19a. Ilustrasi Motif Sulur [Sumber: Peneliti, 2. Ormanen tumbuhan sulur-suluran yang digunakan sebagai hiasan dan pelengkap batik. Ormanen tumbuhan sulur-suluran yang digunakan sebagai hiasan dan pelengkap batik. Bunga dengan kelopak enam. Digunakan sebagai ornamen hiasan dan pelengkap batik. Gambar 20. Motif Bunga kelopak enam [Sumber: Dokumentasi Peneliti. Gambar 20a. Ilustrasi Motif Bunga kelopak enam [Sumber: Peneliti, 2. 3 Makna Motif Batik Pelo Ati Menurut (Djajasudarma, 2. makna merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari semantik. Pada motif batik Pelo Ati terdapat beberapa makna yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam dari K. Ahmad RifaAoiyah. Hal tersebut dibuktikan dengan perwujudan bentuk motif batik Pelo Ati. Untuk menguraikan makna yang terkandung pada motif batik Pelo Ati, penulis menggunakan analisis semiotika text sebagai berikut. Pewarnaan RifaAoiyah termasuk motif batik Pelo Ati menggunakan Teknik pewarnaan tiga negeri dimana hal ini menjadi suatu tanda simbolik dari prinsip hidup masyarakat RifaAoiyah yaitu ushuliddin, fiqih, dan tasawuf. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Rahmawati et al. Akulturasi Budaya Islam A 550-561 Motif seekor ayam yang telah dipenggal dengan jantung masih utuh pada tafsir Haji Ali Nahri memiliki makna manusia itu mirip dengan binatang, dan yang membedakan adalah hati. Motif ini memiliki tanda simbolik bagi komunitas RifaAoiyah yang bermakna manusia yang memiliki hati. Motif ati pada batik Pelo Ati memiliki tanda simbolik dari 8 . sifat mulia manusia dari Asnal Maqashid. Ahmad RifaAoI R. diantaranya yaitu zuhud . , qanaat . , shabar . , tawakkal . epercayaan kepada Tuha. , mujahadah . , ridla . epuasan yang sempurna dengan kehendak Alla. , syukur . , dan ikhlas . ungguh-sunggu. Bulan Prizilla & Sachari . Motif pelo memiliki tanda simbolik dari kebalikan motf ati yaitu sifat buruk manusia seperti hubbub-al-dunya . ecintaan yang berlebihan pada duni. , thamaAo . , itbaAoal-hawa . unduk pada naf. , ujub . , riya, takabur . , hasud . ri hat. , dan sumAoah . endambakan perhatian yang tidak semestiny. dimana sifat-sifat ini seharusnya dibuang. Makna simbolik dari udan liris yaitu kesuburan/kesejahteraan . alam konteks budaya agraris Jaw. Makna secara keseluruhan terkait tanda simbolik yang terdapat pada motif batik Pelo Ati yaitu dualism dalam aspek kehidupan manusia yang terdiri dari sifat mulia dan sifat Sifat mulia pada manusia selayaknya dipertahankan, sedangkan sifat buruk manusia harus disingkirkan untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera. 4 Wujud Akulturasi Budaya pada Motif Batik AuPelo AtiAy Berdasarkan hasil penelitian, motif batik Pelo Ati mengandung unsur serta nilai-nilai budaya Islam ajaran Syaikh Ahmad RifaAoi, kombinasi motif dari budaya Eropa. Mataraman, dan China. Berdasarkan hasil wawancara dengan (Miftakhutin, 2. selaku Ketua pada Komunitas Batik Rifaiyah di Kalipucang Wetan, nilai ajaran islam itu diantaranya adalah sebagai berikut. Pertama, bahwa motif batik Pelo Ati mengandung nilai-nilai ajaran Islam yang mengungkapkan bahwa dalam ajarannya tidak diperbolehkan menggambar makhluk hidup secara utuh. Larangan terkait menggambar makhluk hidup secara utuh dijelaskan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya yang artinya : AuTelah menceritakan kepada kami Abd al-AoAAola bin Abd AAola dari Yahya yakni Ibn Abu Ishaq, dari SaAoid bin Abu al-Hasan berkata:seorang laki-laki datang kepada Ibn Abbas lalu berkata:Wahai Abu al-Abbas, sesungguhnya saya adalah orang yang menggambar gambar-gambar ini dan aku yang membuat gambargambar ini. Maka berilah fatwa kepada saya mengenai gambar- gambar tersebut. ! IbnAoAbbas berkata: Dekatkan ia padaku. ! Lalu orang itu mendekat kepadanya sampai meletakkan tangannya di atas Ibn Abbas berkata: Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah saw, beliau bersabda: Setiap penggambar di neraka. Akan dibuatkan jiwa untuknya pada setiap gambar yang digambarnya, yang akan menyiksanya di dalam Jahannam. Jika engkau harus melakukannya maka gambarlah pepohonan atau sesuatu yang tidak memiliki nyawaAy. Hadits tersebut menjelaskan tentang adanya larangan keras dalam Islam untuk menggambar atau melukis makhluk bernyawa dan adanya adzab yang duterima oleh pembuat (Abu'Abdillah, 1. Kedua. Warga RifaiAoyah tetap mempertahankan ke-eksklusif-annya dengan cara menggambarkan motif binatang yang terpisah seperti badan dan kepala yang terputus. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Rahmawati et al. Akulturasi Budaya Islam A 550-561 Ketiga, batik RifaiAoyah merupakan suatu ekspresi proses pencarian jati diri satu kelompok yang dituangkan dalam motif batik tentang himbauan ajaran Islam. Berdasarkan ketiga nilai ajaran Islam di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motif batik Pelo Ati divisualisasikan dalam bentuk penggambaran makhluk hidup dengan bagian tubuh terpisah karena tidak boleh digambarkan secara utuh. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama. Batik Rifaiyah memiliki 24 jenis ragam motif batik diantaranya pelo ati, nyah pratin, gemblong sairis, lancur, kotak kitir, banji, sigar kupat, krokotan, liris, tambal, kawung ndog, kawung jenggot, dlorog, materos satrio, ila ili, dapel, romo gendong, jeruk noAoi, kluwungan, keongan, klasem, jamblang, gendaghan dan wagean. Batik RifaiAoyah dibuat dengan menganut ajaran Islam yang diajarkan oleh K. H Ahmad Rifaiyah. Proses pembuatan batik RifaiAoyah di lakukan pada selembar kain mori yang dibatik di kedua sisi kainnya . olak bali. Menurut (Jumadi, 2. ada ritual yang biasa dilakukan sebelum membatik yaitu dengan melaksanakan salat Duha terlebih dahulu. Setelah itu, perajin harus membaca syair kidung berbahasa Jawa yang berisi ajaran Islam pada saat menorehkan malam ke selembar kain batik. Teknik pembuatan batik terdiri dari proses pembuatan pola, proses pencantingan menggunakan canting klowong, dan proses Setelah proses pewarnaan selesai proses selanjutnya dilakukan proses Lalu tahap terakhir dilakukan penguncian menggunakan air keras yang sudah dicairkan 2% total dari 100%. Teknik pewarnaan yang digunakan yaitu Tiga Negeri dimana warna-warna yang digunakan melambangkan prinsip hidup yang dipegang oleh masyarakat rifaiAoyah yaitu Ushuliddin . rinsip-prinsip agam. Fiqih . urisprudensi Isla. , dan Tasawuf. Warna-warna tersebut diantaranya merah, biru dan coklat. Ada juga yang menggunakan warna bangbiron . ang: merah dan biron: bir. (Aquamila Bulan Prizilla, 2. Kedua, pada visualisasi motif batik pelo ati sisi kiri terdapat motif utama yaitu pelo ati yang digambarkan tiga bentuk berbeda . engger ayam diganti dengan bunga-bunga, kaki ayam diganti dengan ranting, dan ekor ayam diganti dengan daun sulur-sulura. , bunga mawar, bunga melati kelopak enam, motif pucuk rebung/tumpal, tanahan, tutul pitu, papan serta tanaman menjalar . ulur-sulura. Sedangkan pada sisi kanan terdapat motif pelo ati tanpa kepala dan ekor yang diganti dengan tumbuhan sulur-suluran. Terdapat tumbuhan menjalar . ulur-sulura. , tumpal, tanahan, bunga mawar, bunga melati kelopak tujuh. Terdapat warna putih. Bang-bangan Ati. Bang-bangan Lombok. Gadung. Wedelan. Coklat, dan Hitam. Ketiga, wujud akulturasi budaya yang terkandung dalam motif batik pelo ati diantaranya mengandung nilai-nilai ajaran islam dan pengaruh dari Cina. Nilai ajaran islam itu diantaranya adalah sebagai berikut: . Bahwa motif Batik RifaiAoyah mengikuti ajaran islam yang mengungkapkan bahwa dalam ajaran islam tidak diperbolehkan menggambar makhluk hidup secara utuh . warga rifaiAoyah tetap mempertahankan keeksklusif-annya dengan cara menggambarkan motif binatang yang terpisah seperti badan dan kepala yang terputus. Batik rifaiAoyah merupakan suatu ekspresi proses pencarian jati diri satu kelompok yang dituangkan dalam motif batik tentang himbauan Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Rahmawati et al. Akulturasi Budaya Islam A 550-561 ajaran islam. Motif yang terdapat pada Pelo Ati selain menganut ajaran nilai-nilai Islam juga mendapat pengaruh dari budaya Eropa. Mataram dan China. Pengaruh dari Eropa tampak pada motif renda-renda sebagai pelengkap batik. Kemudian motif matarammataraman terwujud pada motif hujan liris yang terletak dipinggiran motif utama batik Pelo Ati. Sedangkan pengaruh dari budaya China tidak terdapat pada motif melainkan warna yang digunakan yaitu warna merah. DAFTAR PUSTAKA