ADAWATUL ISTIFHAM DALAM NOVEL AoALA MAIDATIN DAAoISY KARYA ZAHRA AoABDULLAH (Kajian Ilmu Nahwu dan MaAoan. Miftahul Khoer UIN Sunan Gunung Djati Bandung Miftahkey96@gmail. ABSTRACT This study examines AdawAt al-IstifhAm in the sentences contained in a novel titled AoAlA MAAoidatin DAAoish by Zahra AoAbdullah. A total of 166 words categorized as AdawAt al-IstifhAm were found, spread across various sentences. The purpose of this research is to describe the forms and meanings of AdawAt al-IstifhAm from the perspective of AoIlm al-MaAoAn, as well as their IAorAb Mauall from the perspective of AoIlm al-Nauw. This study applies a qualitative descriptive method with a library research design. The data sources of this research consist of sentences in the novel AoAlA MAAoidatin DAAoish that contain AdawAt al-IstifhAm. Data collection was carried out through comprehensive reading of the identified data, which was then analyzed using existing theoretical approaches, classified, and interpreted thoroughly before presenting the conclusions. The results of the study are as follows: . The AdawAt al-IstifhAm found in the novel AoAlA MAAoidatin DAAoish by Zahra AoAbdullah consist of ten . forms, namely: limAdhA (A)EIA, hal (A)NEA, hamzah (A)A, ayna (A)OIA, mAdhA (A)IA, kam (A)EIA, kayfa (A)EOAA, matA (A)IOA, mA (A)IA, and man )A(IIA. Their meanings are both literal . and figurative . , including: amazement, prohibition, persuasion, wishing, equivalence, denial, command, transformation, reprimand, belittlement, warning, delaying, explanation, arrogance, and comparison. The IAorAb Mauall includes: having no syntactic position, occupying the position of jarr, functioning as an adverb of place . arf makA. , as a subject . , and as a fronted predicate . habar muqadda. This research provides opportunities for other researchers to use it as a reference and comparison for future studies. Keywords: AlA MAAoidatin DAAoish. Zahra AoAbdullah. AdawAt al-IstifhAm. Nahw. MaAoAn ABSTRAK Penelitian ini mengupas perihal Adawatul Istifham pada kalimat yang termuat di dalam sebuah novel berjudul AAla Maidatin DaAisyh karya Zahra AAbdullah. Ditemukan total sebanyak 166 kata yang tergolong Adawatul Istifham yang tersebar atas berbagai kalimat yang berbeda. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan tentang bentuk dan makna Adawatul Istifham dilihat dari segi Ilmu Mani serta IArab Mahalli untuk Adawatul Istifham yang dikandungnya dilihat dari segi Ilmu Nahwu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain penelitian berupa studi kepustakaan . ibrary researc. Sumber data penelitian ini yakni berupa kalimatkalimat di dalam novel AAla Maidatin yang mengandung Adawatul Istifham. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pembacaan secara komprehensif terhadap data yang ditemukan, setelahnya dianalisis dengan pendekatan teori yang ada, diklasifikasikan lalu memberikan pemahaman secara lengkap, untuk kemudian disajikan kesimpulan. Hasil penelitian: . Adawatul Istifham di dalam Novel AAla Maidatin DaiAsy karya Zahra AAbdullah berjumlah sepuluh . bentuk, yakni :limaza (A)EIA, hal (A)ENA, hamzah ( A)A. Aaina (A)IOA, maza (A)IA, kam (A)IEA, kaifa (A)AOEA, mata (A)IA, ma (A)IA, man )A(IIA. Makna-maknanya berjenis hakiki dan majazi, yakni: tajjub, nahyu, taswiq, al-tamanna, taswiyah, inkar, amr, at-tahwil, teguran, tahqir, tarbih, al-istibta, ifham, sombong, dan taswiyah. IArab mahalli: tidak memiliki kedudukan, berkedudukan pada tempat jar, sebagai zharaf makan, mubtada dan khabar Penelitian ini mengijabkan peluang atas peneliti lain guna menjadikannya sebagai rujukan dan perbandingan untuk penelitian-penelitian yang hendak dilaksanakan di masa yang akan datang. Kata kunci: AAla Maidatin DaiAsy. Zahra AAbdullah. Adawatul Istifham. Nahwu. Mani Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 159 PENDAHULUAN Bahasa yang digunakan oleh umat manusia di muka bumi ini tercatat jumlahnya sangat banyak. David M. Ebenhard . adalah seorang ahli linguis yang turut mengungkapkan berdasarkan hasil penelitiannya bahwa ditemukan 7000 lebih total bahasa yang ada di dunia sejak tahun 1951 sampai dengan tahun 2020. Diluar itu, bahasapun tentunya memiliki kaitan yang erat dengan masing-masing karakteristik yang membangunnya. Meskipun pada dasarnya bahasa memuat kandungan fungsi yang sama, yakni untuk meneruskan maksud ataupun tujuan terkait informasi dari seorang yang bertugas menyampaikan pesan kepada target yang hendak ditujunya menyebabkan lahirnya sebuah Akan tetapi, umumnya akan dijumpai berbagai perbedaan di dalam setiap bahasa, yang paling signifikan letak perbedaan itu pada kaidah bahasa atau gramatikal. Istilah kaidah bahasa atau gramatikal dikenal dalam bahasa Arab sebagai Ilmu Nahwu, yang dimaknai oleh pakar bahasa sebagai ilmu yang mempelajari mengenai keadaan-keadaan pada akhir kata, iArab atau binaA (Rahman, 2010 : . Ilmu ini dominan diaplikasikan pada tulisan-tulisan Arab baik yang berwujud fiksi atau sebaliknya. Implementasi Ilmu Nahwu akan berkontribusi sangat positif terutama pada kualitas tulisan, sehingga mengurangi peluang terhadap berbagai kesalahan berbahasa. Hal ini sejalan dengan tujuan awal kemunculan Ilmu Nahwu ini yaitu guna mencegah menyebarnya kekeliruan di dalam berbahasa (Sari, 2017: . Novel berbahasa Arab yang diberi judul AAla Maidatin DaAisy atau bermakna AuDi atas Meja ISISAy ialah karangan fiksi yang diciptakan oleh penulis asal Lebanon yang bernama Zahra AAbdullah. Jika dilihat dari aspek kebahasaan, novel ini banyak mengimplementasikan kaidah Ilmu Nahwu dan salah-satu yang banyak diterapkan berupa penggunaan Adawatul Istifham pada kalimat-kalimat pada karangannya. Novel ini diterbitkan oleh Dar Al-Adab pada tahun 2017 di kota Beirut, negara Lebanon. Halamannya berjumlah 191 yang dibangun oleh sepuluh bagian cerita yang berkesinambungan. Pada novel ini mengisahkan seorang perempuan kuat dan tegar dinamai Yufa, ia adalah seorang korban dari kebiadaban ISIS yang berusaha menghilangkan hak-hak kemanusiaan, terutama hak-hak bagi para kaum perempuan. Yufa adalah salah satu anggota yang berasal dari daerah Yezidis yang kebanyakan masyarakatnya memiliki keyakinan yang tidak sejalan dengan ajaran ISIS. Yufa akhirnya ditangkap beserta Mereka mendapati banyak penyiksaan dan penderitaan. Yufa terus berusaha menerjang berbagai penderitaan yang dihadapkannya, bahkan ia mencoba mencari jalan untuk bisa keluar dari penjara ISIS setelah ditangkap bersama keluarganya. Pada cerita ini, terasa sangat nuansa kisah cinta yang menambah suasana semakin berwarna selain dari Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 160 berbagai keprihatinan yang dirasakan. Yufa terpisah dari keluarga yang dicintainya, termasuk iapun harus berpisah dengan kekasihnya yang sempat ditemuinya. Tragisnya keluarga Yufa kebanyakan telah tewas dan yang lainnya tidak diketahui keberadaannya. Namun, ia masih mempunyai satu-satunya kekasih yang bisa ia temui di tempat terpisah dan berusaha kabur bersamanya dari penjara. Malangnya, setelah ia terbebas dari jeratan neraka itu, ia tetap tidak menemukan kekasihnya di tempat pertemuan yang sempat dijanjikannya. Pada akhirnya ia kembali ke Mosul dan berharap ia dapat menemui kekasihnya, meskipun itu hanya ada di dalam mimpinya (Al-AArabi, 2. Hal ini menjadi dasar peneliti yang tertarik untuk mengkaji teori tersebut secara mendalam bersamaan dengan kajian Ilmu Nahwu pada novel berjudul AAla Maidatin DaAisy oleh Zahra AAbdullah. Peneliti menemukan banyak variasi perangkat Istifham yang digunakan pengarang di dalam karyanya. Adawatul Istifham yang digunakan pengarang tentunya mengandung makna tersendiri pada setiap macamnya di dalam setiap kalimat, begitupun kedudukan iArabnya di setiap kalimat juga berbeda-beda. LANDASAN TEORI DAN METODE Istifham secara bahasa berasal dari Bahasa Arab yakni dari kata AistafhamaA yang dalam perspektif Ilmu Sharaf berwujud mashdar yang memiliki makna meminta suatu kejelasan terhadap suatu hal (MaAsum, 2007:. Kata istifham terbentuk dari akar kata AfahimaA yang mendapat tambahan alif (A)A, sin (A )Adan taA (A )Adi awal kata yang salah satu kegunaannya adalah untuk pernyataan meminta sesuatu (MaAsum, 2007:. Sehingga Istifham diartikan sebagai usaha guna meminta suatu kejelasan atau ujaran yang bertujuan untuk mengajukan pertanyaan, dapat dikenal dengan sebutan kata tanya (Latief, 2014: . Secara istilah Istifham oleh Ahmad Hasyimi . didefinisikan sebagai kehendak yang bertujuan guna memperoleh suatu pengetahuan yang tidak diketahui sebelumnya, dengan memanfaatkan salah satu Adawatul Istifham. Dan selain itu, para ahli linguis lain menambahkan bahwa Istifham tidak dipengaruhi oleh kadar tingkatan antara penanya dan yang ditanyainya (Mayu, 2000 : . Adawatul Istifham diartikan sebagai perangkat, kata, atau alat-alat yang digunakan untuk menunjukkan kalimat tanya. Adawatul Istifham oleh para ahli diklasifikasikan menjadi dua macam, yakni: Pertama. Adawatul Istifham yang berupa isim (Ghani, 2010 : . , lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 161 Tabel 1. 1 Bentuk Adawatul Istifham berupa AIsimA No. Bentuk Istifham Arti Fungsi A( EIA Berapa Menanyakan perihal AIIA Siapa jumlah/hitungan Menanyakan Kam ) Man ) Kaifa sesuatu yang Bagaimana Menanyakan komplit tentang suatu cara Mata AoAina AIA Kapan Menanyakan perihal waktu Dimana Menanyakan perihal tempat Apa Menanyakan perihal suatu yang tidak berakal Kedua. Adawatul Istifham yang berupa huruf (Ghani, 2010 : . , diantaranya sebagai berikut. Tabel 1. 2 Bentuk Adawatul Istifham berupa AHurufA No. Bentuk Istifham Hal ( A)NEA Arti Fungsi Apakah Menyakan perihal jawaban yang singkat diantara dua Hamzah pilihan, ya atau tidak. Apa Untuk meminta pandangan Dari kedua tabel di atas. Adawatul Istifham memiliki 7 . acana, opin. bentuk, namun adapula ahli bahasa yang menambahkan bentuk lain, yakni salah satu tokoh yang menyatakan terkait hal ini ialah Al-Hasyimi, yang kemudian diulas kembali oleh Abdul Lathif Said dalam Al-Basith. Menurutnya, selain ketujuh bentuk Adawatul Istifham di atas, adapula bentuk Adawatul Istifham yang lain sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 162 Tabel 1. 3 Bentuk lain dari Adawatul Istifham beserta jenis dan fungsinya berikut. No. Bentuk Istifham Arti Jenis Fungsi Manza Siapa Isim Untuk meminta pernyataan tentang Aoaqil . esuatu yang Maza Apa Untuk Isim pernyataan tentang ghair Aoaqil . esuatu yang tidak beraka. AAyyana Kapan Isim Untuk meminta penjelasan tentang AAnni Dari Isim AAyyun Yang Untuk meminta kejelasan tempat Isim Cocok untuk semua makna dimuka, sesuai isim yang disandarkan Kajian Ilmu Nahwu yang berkaitan dengan Adawatul Istifham lebih terfokus pada makna iArab yang menunjukkan pada kedudukan huruf atau kata di dalam kalimat, hal itu termasuk ke dalam jenis iArab mahalli ( A)uE OEEIA, disebabkan keadaan pada akhir kata Istifham seluruhnya bersifat mabni . etap dan tidak beruba. (Massih, 1981: . Adapun dari beberapa bentuk Adawatul Istifham, hanya satu bentuk Istifham yang memiliki sifat muArob atau berubah-ubah, yaitu kata Aayyun (A)OA, ia tergolong ke dalam jenis isim, dan para ahli bahasapun memasukannya ke dalam salah satu bentuk Istifham (Rappe, 2016 : . IArab mahalli merupakan iArab yang berlaku pada kata yang bersifat mabni dan letaknya pada satu tempat, entah itu pada berupa rafaA, nashab, atau jar atau jazm, namun tidak mempengaruhi harakat akhir nya sehingga tidak berubah. Adapun kata tersebut dapat dikatakan dalam keadaan rafaA, nashabA, jar atau jazm yakni bergantung pada kedudukannya pada kalimat (Amin, 1993 : . Selain itu, iArab mahalli sebagai kata yang termasuk mabni yang posisinya berada di awal kalimat yang diperlukan tatkala diucapkan sebagaimana terdengar, namun diungkapnya secara lisan dalam keadaan rafaA, nashab, jar, atau jazm yang menyesuaikan dengan posisi kata tersebut (Nasif, 2006: . Secara sederhana iArab mahalli adalah penyebutan kedudukan kata yang bersifat mabni yang bergantung pada situasi kata itu di dalam kalimat. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 163 Keadaan iArab yang mengacu pada kedudukan Adawatul Istifham di dalam kalimat bermacam-macam, bergantung pada posisinya pada kalimat yang ada. Metode irAab untuk Adawatul Istiham yang dilihat dari aspek iArab mahalli diantaranya sebagai berikut (Latief, 2014: . HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan oleh peneliti, pada novel Maidatin DaAisy karya Zahra AAbdullah, ditemukan AAla Adawatul Istifham sebanyak 166 kata dari jumlah total keseluruhan yang memiliki kuantitas 10 bentuk, secara komprehensif data yang dimaksud diantaranya: Bentuk limaza Di dalam novel AAla Maidatin DaAisy ditemukan bentuk limaza (A)EIA yang berjumlah 16 . nam bela. kata, salah-satu contohnya sebagai AOE E II IOOE OO EIA. ANO EE IA Artinya: AuKenapa dia kembali hari ini? Apa untuk ikut merayakan, atau sengaja ingin Kalimat ini bermakna tashowwur yang bersifat hakiki, yakni menuntut penggambaran atau kejelasan terhadap salah satu pilihan diantara dua bagian yang dinisbatkan antara jawaban A OE E IIAatau AN O EEA. Limaza (A )EIAdiiArab sebagai isim istifham, mabni sukun pada tempat jar, mutallaq pada fiAil setelahnya. Selain dari kalimat di atas, terdapat juga makna dan iArab mahalli pada bentuk limaza yang ditemukan pada kalimat lainnya, diantaranya: Makna hakiki, yang menunjukkan makna tashowwur dan bermakna meminta kejelesan sebab terjadinya sesuatu. Makna majazi, berupa: makna tajjub, bermakna nahyu, bermakna taswiq, al-tamanna, taswiyah, bermakna inkar, dan bermakna amr. Adapun dari segi iArab mahalli, ditemukan total dua jenis Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 164 kedudukan iArab, yakni: DiiArab sebagai isim istifham, mabni sukun yang berkedudukan pada tempat jar dalam keadaan majrur talluq pada fiil setelahnya. DiiArab sebagai isim istifham, mabni sukun yang berkedudukan pada tempat jar dalam keadaan majrur mutalaq pada kalimat setelahnya. Bentuk hal (A)ENA Di dalam novel AAla Maidatin DaAisy ditemukan bentuk hal (A )ENAyang berjumlah 59 . ima puluh sembila. Salah-satu contohnya sebagai AOA O N I IOA. AEE INO ENA Artinya: AuDia wujud penghormatan yang sederhana. Apakah itu hanya anggapanku saja?Ay Kalimat ini bermakna inkar yang bersifat majazi, yakni adanya anggapan bahwa seseorang mengganggukan kepalanya bukan untuk memberikan penghormatan tapi ada maksud yang lain. Hal diiArab sebagai haraf istifham, mabni sukun, tiada tempat untuk iArab. Selain dari kalimat di atas, terdapat juga makna dan iArab mahalli pada bentuk hal yang ditemukan pada kalimat lainnya, diantaranya: Makna hakiki, yang menunjukkan pada makna tashowwur, makna dikotomis menuntut jawaban antara AyaA atau AtidakA, makna tasdiq dan makna meminta pendapat. Makna majazi, berupa: makna tajjub, makna nahyu, makna taswiq, makna al-tamanna, makna inkar, makna amr, makna at-tahwil, makna teguran, makna tahqir, makna tarbih, makna al-istibta dan makna Ifham. Adapun dari segi iArab hal termasuk ke dalam bentuk yang dikecualikan, sebagai haraf istifham, mabni sukun, tiada tempat untuk iArab. Bentuk hamzah (A)A Di dalam novel AAla Maidatin DaAisy ditemukan bentuk hamzah (A )Ayang berjumlah 20 . ua pulu. Salah-satu contohnya sebagai berikut: Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 165 Artinya: AuApa yang kamu rasakan?Ay AEE acE IA Kalimat ini bermakna hakiki, yakni bermaksud untuk menanyakan perihal pendapat dari lawan bicara, dalam hal ini pendapat mengenai perasaan yang sedang dialami oleh Hamzah (A )AdiiArab sebagai haraf istifham, mabni fatah, tiada tempat untuk iArab. Selain dari kalimat di atas, terdapat juga makna dan iArab mahalli pada bentuk hal yang ditemukan pada kalimat lainnya, diantaranya: Makna menunjukkan makna dikotomis menuntut jawaban antara AyaA atau AtidakA dan makna meminta pendapat. Makna majazi, berupa: makna tajjub, makna al-tamanna, makna inkar, makna amr, makna teguran, makna tahqi, makna tarbih, makna kesombongan, dan makna taswiyah. Adapun dari segi iArab hamzah termasuk ke dalam bentuk yang dikecualikan, sebagai haraf istifham, mabni sukun, tiada tempat untuk iArab. Bentuk Aaina (A )IOADi dalam novel AAla Maidatin DaAisy ditemukan bentuk Aaina (A)IOA yang berjumlah 9 . Salah-satu contohnya sebagai berikut: AEO NI IOA Artinya: AuWahai pria, kemana kita akan pergi?Ay Kalimat ini bermakna hakiki yang menuntut seseorang untuk memberikan jawaban terkait tempat yang hendak dituju. AAina (A )IOAdiiArab sebagai isim istifham, mabni fatah, pada tempat nashab, menjadi zharaf makan, talluq kepada fiAil setelahnya. Selain dari kalimat di atas, secara keseluruhan makna dan iArab mahalli pada bentuk Aaina hanya berjenis satu saja, yakni bermakna hakiki, yang bermaksud untuk meminta kejelasan terkait tempat dan dari segi iArab mahalli pada bentuk Aaina (A)IOA, ditemukan satu jenis kedudukan iArab, yakni sebagai isim istifham, mabni fatah, pada tempat nashab, menjadi zharaf makan, talluq kepada fiAil setelahnya. Bentuk maza (A)IA Di dalam novel AAla Maidatin DaAisy ditemukan bentuk maza (A )IAyang berjumlah 11 . Salah-satu contohnya sebagai berikut: AEAO I OA Artinya: AuTerkait ayahku, apa dia akan berhasil?Ay Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 166 Kalimat ini bermakna hakiki yang berusaha menuntut seseorang untuk penjelasan terkait sesuatu hal, dalam hal ini mengenai kemungkinan keberhasilan yang akan dicapai seseorang. Maza (A )IAdiiArab sebagai isim istifham, mabni sukun, pada tempat rofaA jadi mubtada. Selain dari kalimat di atas, terdapat juga makna dan iArab mahalli pada bentuk maza yang ditemukan pada kalimat lainnya, diantaranya: Makna hakiki, yang menunjukkan makna meminta penjelasan terkait sesuatu hal. Makna majazi, berupa: makna tajjub, makna al-tamanna, makna inkar, makna amr. Adapun dari segi iArab mahalli, ditemukan satu . jenis kedudukan iArab, yakni sebagai isim istifham, mabni sukun, pada tempat rofaA jadi mubtada. Bentuk kam (A)IEA Di dalam novel AAla Maidatin DaAisy ditemukan bentuk kam (A)IEAyang berjumlah 6 . Salah-satu contohnya sebagai berikut: a AIIuE IEI II AOE OA AO IEA Artinya: AuSeberapa mungkin keadaan takut dapat merubah raut wajah seseorang?Ay Kalimat ini bermakna tajjub yang bersifat majazi, yakni adanya pernyataan yang secara tidak langsung mengungkapkan rasa heran terhadap sesuatu, tepatnya heran atas perasaan takut yang ternyata memiliki dampak besar terhadap sikap atau gerak-gerik manusia. Kam (A )IEAdiiArab sebagai isim istifham, mabni sukun pada tempat rofaA, menjadi mubtada. Selain dari kalimat di atas, terdapat juga makna dan iArab mahalli pada bentuk kam yang ditemukan pada kalimat lainnya, diantaranya: Makna hakiki, untuk menunjukkan makna meminta kejelasan terkait jumlah/bilangan. Makna majazi, berupa: makna tajjub, makna al-tamanna, makna inkar dan makna Adapun dari segi iArab mahalli bentuk kam, ditemukan tiga . jenis kedudukan iArab, yakni: Sebagai isim istifham, mabni sukun pada tempat rofaA, menjadi mubtada. Sebagai isim istifham, mabni sukun, pada tempat rofaA jadi khobar Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 167 muqaddam. Bentuk kaifa (A)AOEA Di dalam novel AAla Maidatin DaAisy ditemukan bentuk kaifa (A)AOEA yang berjumlah 19 . embilan bela. Salah-satu contohnya sebagai aU AEO AOE IEuE EO aIO OA Artinya: AuBagaimana cara dia meminta dan menyuruh orang untuk masuk Islam?Ay Kalimat ini bermakna hakiki, yakni menuntut jawaban dari seseorang mengenai cara kerja sesuatu, dalam hal ini berupa cara meminta dan menyuruh orang lain masuk Islam. Kaifa (A )AOEAdiiArab sebagai isim istifham, mabni fatah, pada tempat rofaA, menjadi mubtada. Selain dari kalimat di atas, terdapat juga makna dan iArab mahalli pada bentuk kaifa yang ditemukan pada kalimat lainnya, diantaranya: Makna hakiki, yang menunjukkan makna menuntut keterangan terkait cara kerja sesuatu. Makna majazi, berupa: makna tajjub, makna nahyu, makna al- tamanna, makna inkar, makna teguran, makna tarbih, makna al- istibta, dan makna kesombongan. Adapun dari segi iArab mahalli pada bentuk kaifa, ditemukan satu . kedudukan iArab, yakni sebagai isim istifham, mabni fatah, pada tempat rofaA, menjadi mubtada. Bentuk mata (A)IA Di dalam novel AAla Maidatin DaAisy ditemukan bentuk mata (A )IAyang berjumlah 3 . Salah-satu contohnya sebagai berikut: AE O IN OCI I ECaO I uEA Artinya: AuSampai kapan kamu akan terus memikirkan dan menangisinya disini, sayangku?Ay Kalimat ini bermakna amr yang bersifat majazi, yakni adanya pernyataan yang secara tidak langsung memerintah seseorang untuk segera berhenti menangisi dan meratapi sesuatu yang telah terjadi. Mata (A )IAdiiArab sebagai isim istifham, mabni sukun, pada tempat nashab, menjadi zharaf zaman, mutallaq pada fiAil setelahnya. Selain dari kalimat di atas, terdapat juga makna dan iArab mahalli pada bentuk mata yang ditemukan pada kalimat lainnya, diantaranya: Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. Makna hakiki, yang menunjukkan makna meminta kejelasan terkait waktu kejadian. Makna majazi, yang menunjukkan pada makna amr. Adapun dari segi iArab mahalli pada bentuk mata, ditemukan dua . jenis kedudukan iArab. Sebagai isim istifham, mabni sukun, pada tempat nashab, menjadi zharaf zaman, mutallaq pad fiAil setelahnya. Sebagai isim istifham, mabni sukun, pada tempat nashab, zharaf zaman, talluq akan kalimah setelahnya. Bentuk ma (A)IA Di dalam novel AAla Maidatin DaAisy ditemukan bentuk ma (A )IAyang berjumlah 18 . elapan bela. Salah-satu contohnya sebagai berikut: Artinya: AuSiapa namamu?Ay AEI IA Kalimat ini bermakna hakiki, yang bermaksud untuk menuntut jawaban mengenai identitas seseorang, tepatnya nama seseorang. Ma (A )IAdiiArab sebagai isim istifham, mabni sukun, pada tempat rofaA jadi mubtada. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka peneliti diperoleh kesimpulan sebagai penyelesaian terkait penelitian ini ialah sebagai berikut. Adawatul Istifham sebanyak 166 kata dari jumlah total keseluruhan masing-masing bentuk Adawatul Istifham yang memiliki kuantitas 10 bentuk, secara komprehensif data yang dimaksud diantaranya: Bentuk limaza (A)EIA, yang berjumlah 16 . nam bela. Bentuk hal (A )ENA, yang berjumlah 59 . ima puluh sembila. Bentuk hamzah (A)A, yang berjumlah 20 . ua pulu. Bentuk Aaina (A)IOA, yang berjumlah 9 . Bentuk maza (A)IA, yang berjumlah 11 . Bentuk kam (A)IEA, yang berjumlah 6 . Bentuk kaifa (A)AOEA, yang berjumlah 19 . embilan bela. Bentuk mata (A)IA, yang berjumlah 3 . Bentuk ma (A)IA, yang berjumlah 18 . elapan bela. Bentuk man (A)IIA, yang berjumlah 5 . Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 169 Dari aspek makna-maknanya berjenis hakiki dan majazi, yakni: tajjub, nahyu, taswiq, al-tamanna, taswiyah, inkar, amr, at-tahwil, teguran, tahqir, tarbih, al-istibta, ifham, sombong, dan taswiyah. IArab mahalli: tidak memiliki kedudukan, berkedudukan pada tempat jar, sebagai zharaf makan, mubtada dan khabar muqaddam. Penelitian ini memberi peluang bagi peneliti lain untuk dijadikan sebagai rujukan dan perbandingan untuk penelitian-penelitian yang akan dilakukan di masa mendatang. Saran terhadap peneliti lain yang mempunyai minat pada kajian Ilmu Nahwu dan Mani atau bidang ilmu lain yang berkaitan yakni perlunya dilakukan penelitian yang berkelanjutan yang berkenaan dengan Adawatul Istifham, terutama yang dikaitkan dengan para tokoh di dalam cerita. REFERENSI