2026 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Volume 1. Issue 8. June 2026. Licenced by CC BY-SA 4. e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi. org/10. 5281/zenodo. Implementasi Minat Membaca melalui Program Pojok Baca di SDN 13 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya Implementation of Reading Interest through the Reading Corner Program at SDN 13 Koto Baru. Dharmasraya Regency Hesti Agustian STITNU Sakinah Dharmasraya Abstract This study aims to describe the implementation of the reading corner . ojok bac. program at SDN 13 Koto Baru. Dharmasraya Regency, identify its supporting and inhibiting factors, and analyze its impact on students' reading A descriptive qualitative approach was used, with the principal, three classroom teachers, and several students selected through purposive sampling as informants. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and their validity was established through source and technique triangulation. Data were analyzed using the Miles. Huberman, and Saldaya model. The results show that the reading corner program has been implemented in every classroom as part of the School Literacy Movement, supported by a 15minute reading habit before lessons. The program has a positive impact on students' reading interest, reflected in increased reading frequency, vocabulary, and discussion habits, as well as growing peer book-sharing. Its success is supported by the principal's commitment, teacher creativity, and parental involvement, but is hindered by limited book collections, infrequent updates, competition with gadget use, and the absence of routine program Sustained collaboration among the school, parents, and other stakeholders is needed to strengthen the program going forward. Keywords : reading interest. reading corner. school literacy movement. elementary school Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi program pojok baca di SDN 13 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta menganalisis dampaknya terhadap minat membaca siswa. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan informan kepala sekolah, tiga guru kelas, dan beberapa siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis data menggunakan model Miles. Huberman, dan Saldaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pojok baca telah diterapkan di setiap kelas sebagai bagian dari Gerakan Literasi Sekolah, didukung pembiasaan membaca 15 menit sebelum pembelajaran. Program ini memberikan dampak positif terhadap minat membaca siswa, terlihat dari meningkatnya frekuensi membaca, penguasaan kosakata, kebiasaan berdiskusi, serta tumbuhnya kebiasaan berbagi buku antarsiswa. Keberhasilan program didukung oleh komitmen kepala sekolah, kreativitas guru, dan dukungan orang tua, namun masih terkendala keterbatasan koleksi buku, minimnya pembaruan bahan bacaan, persaingan dengan penggunaan gawai, serta belum adanya evaluasi program secara rutin. Keberlanjutan program memerlukan sinergi yang kuat antara sekolah, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya. Kata Kunci: minat baca. pojok baca. gerakan literasi sekolah. sekolah dasar Article Info Received date: 15 June 2026 Revised date: 17 June 2026 Accepted date: 15 July 2026 PENDAHULUAN Minat membaca merupakan salah satu indikator penting dalam membangun kemampuan literasi peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat membaca tinggi cenderung lebih mudah memahami materi pembelajaran, memperluas wawasan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif (UNESCO, 2. Minat membaca tidak tumbuh secara instan, melainkan dibentuk melalui proses pembiasaan yang berkelanjutan sejak usia dini, baik di lingkungan keluarga maupun di Semakin sering peserta didik terpapar pada aktivitas membaca yang menyenangkan, semakin besar pula peluang mereka untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar tugas akademik yang dibebankan oleh guru. Oleh karena itu, peningkatan minat membaca menjadi salah Vol. 4 No. Implementasi Minat Membaca melalui (Agustia. | 153-159 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) satu fokus utama dalam penyelenggaraan pendidikan dasar, mengingat masa sekolah dasar merupakan periode emas dalam pembentukan kebiasaan dan karakter anak. Meskipun berbagai program literasi telah dilaksanakan, kemampuan literasi membaca peserta didik Indonesia masih memerlukan perhatian serius. Hasil Programme for International Student Assessment (OECD, 2. menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara anggota (OECD, 2. Rendahnya capaian ini tidak hanya disebabkan oleh faktor kurikulum, tetapi juga oleh terbatasnya akses terhadap bahan bacaan yang bervariasi dan menarik, minimnya waktu khusus yang dialokasikan untuk kegiatan membaca di sekolah, serta rendahnya keteladanan membaca dari lingkungan sekitar peserta didik, termasuk orang tua dan Kondisi tersebut menunjukkan perlunya strategi pembelajaran yang mampu membangun kebiasaan membaca sejak usia sekolah dasar, sehingga literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kemampuan memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara kritis. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Program ini mendorong sekolah menciptakan lingkungan belajar yang kaya literasi melalui pembiasaan membaca, penyediaan bahan bacaan, dan pengembangan budaya membaca di lingkungan sekolah (Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi, 2. GLS dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu tahap pembiasaan, tahap pengembangan, dan tahap pembelajaran, yang masingmasing memiliki indikator capaian berbeda sesuai dengan kesiapan sekolah. Pada tahap pembiasaan, sekolah didorong untuk menumbuhkan minat baca melalui kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, penyediaan sudut baca di kelas, serta penciptaan lingkungan fisik yang kaya teks. Salah satu bentuk implementasi GLS pada tahap ini adalah penyediaan pojok baca di setiap kelas, yang berfungsi sebagai perpustakaan mini yang mudah diakses oleh peserta didik tanpa harus meninggalkan ruang kelas. Keberadaan pojok baca dinilai strategis karena mendekatkan bahan bacaan kepada peserta didik dalam jarak dan waktu yang paling efisien. Berbeda dengan perpustakaan sekolah yang letaknya terpisah dan memerlukan waktu khusus untuk dikunjungi, pojok baca berada tepat di dalam ruang kelas sehingga dapat dimanfaatkan kapan saja, baik pada waktu istirahat, waktu luang di sela pembelajaran, maupun pada sesi literasi terjadwal. Kedekatan akses ini diyakini dapat menumbuhkan kebiasaan membaca secara lebih alami, karena peserta didik tidak dihadapkan pada hambatan jarak maupun birokrasi peminjaman buku yang rumit. SDN 13 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya telah mengembangkan program pojok baca sebagai bagian dari budaya literasi sekolah. Setiap ruang kelas dilengkapi dengan pojok baca yang berisi berbagai jenis buku bacaan, seperti cerita anak, buku pengetahuan, cerita rakyat, komik edukasi, dan ensiklopedia sederhana. Guru juga membiasakan siswa membaca selama 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Selain itu, sebagian guru mengembangkan variasi kegiatan literasi lain, seperti membaca bergiliran, mendongeng, serta memberikan penghargaan sederhana bagi siswa yang aktif memanfaatkan pojok baca, sebagai upaya untuk menjaga motivasi peserta didik agar tetap tinggi sepanjang tahun ajaran. Berdasarkan hasil observasi awal, program pojok baca telah dimanfaatkan oleh siswa, meskipun intensitas pemanfaatannya masih berbeda pada setiap kelas. Sebagian siswa terlihat antusias membaca saat waktu literasi, sedangkan sebagian lainnya masih memerlukan motivasi dari guru. Selain itu, variasi koleksi buku yang belum merata menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan minat membaca siswa. Perbedaan intensitas pemanfaatan ini menarik untuk dikaji lebih dalam, sebab dapat memberikan gambaran mengenai faktor-faktor apa saja yang memengaruhi keberhasilan maupun hambatan pelaksanaan program pojok baca di lapangan, sekaligus menjadi dasar bagi perbaikan pengelolaan program pada masa yang akan datang. Vol. 4 No. Implementasi Minat Membaca melalui (Agustia. | 153-159 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Pengelolaan yang baik dalam konteks ini mencakup penataan ruang yang nyaman, pembaruan koleksi buku secara berkala, serta keterlibatan aktif guru dalam mendampingi siswa selama kegiatan membaca berlangsung. Temuan serupa j menunjukkan bahwa optimalisasi kegiatan literasi berbasis pojok baca secara konsisten mampu meningkatkan minat baca peserta didik. Namun, implementasi program tersebut sangat dipengaruhi oleh peran guru, dukungan kepala sekolah, dan ketersediaan sarana literasi (Saputri. Pradana. Apriliyanto, & Wahyudi, 2. Dengan kata lain, keberhasilan pojok baca bukan semata-mata bergantung pada ketersediaan fisik rak dan buku, melainkan juga pada ekosistem dukungan yang melingkupinya, mulai dari kebijakan sekolah hingga keterlibatan orang tua di rumah Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi program pojok baca di SDN 13 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta menganalisis dampaknya terhadap peningkatan minat membaca Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang komprehensif mengenai praktik baik yang dapat direplikasi oleh sekolah lain, sekaligus rekomendasi perbaikan bagi sekolah yang menjadi lokasi penelitian, sehingga program pojok baca dapat berkembang secara lebih optimal dan berkelanjutan di masa mendatang. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif karena bertujuan memahami secara mendalam implementasi program pojok baca di SDN 13 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya (Creswell & Creswell, 2. Pendekatan kualitatif dipilih karena peneliti ingin menggali makna, proses, dan pengalaman para pelaku program secara alami, tanpa memberikan perlakuan atau intervensi tertentu terhadap subjek penelitian. Penelitian dilaksanakan di SDN 13 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya pada semester genap tahun ajaran berjalan. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, tiga guru kelas, pustakawan, serta beberapa siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu, seperti keterlibatan langsung dalam pengelolaan pojok baca dan tingkat pemanfaatan program oleh siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama. Pertama, observasi terhadap kegiatan literasi di kelas, yang dilakukan untuk mengamati secara langsung suasana, interaksi, dan perilaku siswa selama memanfaatkan pojok baca. Kedua, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan siswa, yang bertujuan untuk menggali persepsi, pengalaman, dan pandangan informan mengenai pelaksanaan program. Ketiga, dokumentasi berupa foto kegiatan, jadwal literasi, dan administrasi program pojok baca, yang digunakan sebagai data pendukung untuk memperkuat temuan observasi dan Instrumen penelitian berupa pedoman observasi dan pedoman wawancara semi terstruktur yang dikembangkan berdasarkan indikator keberhasilan program literasi sekolah. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari kepala sekolah, guru, dan siswa untuk melihat konsistensi maupun perbedaan pandangan di antara mereka, sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi mengenai objek yang sama. Analisis data menggunakan model Miles. Huberman, dan Saldaya . yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan merangkum, memilih hal-hal pokok, dan memfokuskan data pada hal-hal yang berkaitan dengan implementasi pojok baca. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian naratif yang disusun secara sistematis agar mudah dipahami, sedangkan penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap sejak awal pengumpulan data hingga data dianggap jenuh. Prosedur penelitian juga mengacu pada tahapan penelitian kualitatif menurut Sugiyono . , yang meliputi tahap orientasi, tahap eksplorasi terfokus, dan tahap pemeriksaan keabsahan data. Vol. 4 No. Implementasi Minat Membaca melalui (Agustia. | 153-159 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Program Pojok Baca di SDN 13 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pojok baca telah diterapkan di setiap kelas sebagai bagian dari implementasi Gerakan Literasi Sekolah. Setiap pojok baca dilengkapi dengan rak buku sederhana, alas duduk, hiasan edukatif, serta koleksi buku bacaan yang disesuaikan dengan jenjang kelas. Penataan pojok baca dilakukan secara partisipatif, melibatkan guru dan siswa dalam mendekorasi sudut kelas agar terlihat menarik dan nyaman digunakan. Beberapa kelas bahkan mengembangkan identitas pojok baca masing-masing, misalnya dengan memberikan nama unik, menghias dinding dengan hasil karya siswa, serta menempelkan poster ajakan membaca yang dibuat sendiri oleh siswa. Guru membiasakan siswa membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Kebiasaan ini dilaksanakan secara konsisten setiap hari sebelum jam pelajaran pertama, dengan guru turut mendampingi dan kadang ikut membaca bersama siswa untuk memberikan keteladanan. Selain membaca mandiri, siswa juga diminta menceritakan kembali isi bacaan atau memberikan tanggapan terhadap buku yang telah dibaca, baik secara lisan di depan kelas maupun secara tertulis dalam jurnal membaca sederhana. Kegiatan tersebut mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam aktivitas literasi, karena siswa tidak hanya berperan sebagai pembaca pasif, tetapi juga dilatih untuk mengonstruksi dan mengomunikasikan pemahamannya sendiri. Temuan ini sejalan dengan penelitian ditemukan oleh (Kurniawan. Hayati, & Riskayanti, 2. , yang menunjukkan bahwa pembentukan pojok baca berbasis kelas mendorong terciptanya kebiasaan literasi harian yang lebih terstruktur. Selain itu, keberadaan pojok baca di setiap kelas juga menciptakan rasa kepemilikan . ense of ownershi. siswa terhadap pojok baca tersebut, sehingga mereka cenderung lebih menjaga kerapian dan kelengkapan koleksi buku yang ada. Dampak Program terhadap Minat Membaca Program pojok baca memberikan dampak positif terhadap peningkatan minat membaca siswa. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah siswa yang memanfaatkan pojok baca pada waktu istirahat maupun sebelum pembelajaran dimulai. Guru kelas menyampaikan bahwa pada awal penerapan program, hanya sebagian kecil siswa yang secara sukarela mengunjungi pojok baca di luar jam literasi wajib, namun setelah beberapa bulan berjalan, jumlah siswa yang memanfaatkan waktu luang untuk membaca mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Selain itu, siswa menjadi lebih aktif berdiskusi mengenai isi buku yang dibaca dan menunjukkan peningkatan kosakata dalam proses pembelajaran, yang tercermin dari penggunaan kata-kata baru saat siswa menjawab pertanyaan guru maupun saat menulis karangan sederhana. Dampak positif lain yang teramati adalah tumbuhnya kebiasaan berbagi buku antarsiswa. Sejumlah siswa terlihat saling merekomendasikan judul buku yang menarik kepada teman sekelasnya, bahkan beberapa siswa membawa buku dari rumah untuk ditambahkan ke koleksi pojok baca secara Fenomena ini menunjukkan bahwa minat membaca yang tumbuh melalui program pojok baca tidak berhenti pada aspek kognitif semata, tetapi juga merambah pada aspek sosial, yaitu terbentuknya komunitas kecil pembaca di dalam kelas yang saling mendukung dan memotivasi. Temuan tersebut mendukung hasil penelitian lain menyatakan bahwa pembiasaan membaca secara rutin mampu membentuk kebiasaan membaca dan meningkatkan kemampuan literasi peserta Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dan didukung oleh lingkungan yang kondusif terbukti lebih efektif dibandingkan dengan program literasi yang hanya dilaksanakan secara insidental atau seremonial, sebagaimana juga dilaporkan dalam kegiatan pengabdian literasi berbasis pojok baca di berbagai sekolah dasar lain (Rahayu. Wahib, & Besari, 2. Faktor Pendukung Keberhasilan implementasi program didukung oleh beberapa faktor, yaitu: Vol. 4 No. Implementasi Minat Membaca melalui (Agustia. | 153-159 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) komitmen kepala sekolah dalam mengembangkan budaya literasi, yang tercermin dari kebijakan sekolah yang mewajibkan setiap kelas memiliki pojok baca serta dukungan anggaran untuk pengadaan buku. kreativitas guru dalam mengelola pojok baca, misalnya melalui variasi kegiatan literasi, penataan ulang koleksi buku secara berkala, dan pemberian apresiasi bagi siswa yang aktif membaca. dukungan orang tua melalui sumbangan buku bacaan, yang membantu memperkaya variasi koleksi tanpa membebani anggaran sekolah secara penuh. pelaksanaan kegiatan literasi secara rutin, yang menjadikan membaca sebagai bagian dari rutinitas harian siswa, bukan sekadar kegiatan tambahan yang bersifat sementara. Faktor Penghambat Beberapa hambatan yang ditemukan antara lain: koleksi buku yang masih terbatas, baik dari segi jumlah maupun variasi judul, sehingga siswa yang telah membaca seluruh koleksi cenderung mengalami penurunan minat karena tidak ada lagi bacaan baru yang dapat dieksplorasi. kurangnya pembaruan bahan bacaan secara berkala, yang menyebabkan koleksi buku di beberapa kelas terkesan monoton dan kurang relevan dengan minat siswa yang terus minat membaca sebagian siswa yang masih rendah karena lebih tertarik menggunakan gawai di rumah, sehingga waktu luang yang seharusnya dapat digunakan untuk membaca justru teralihkan pada aktivitas hiburan digital. belum adanya program evaluasi rutin terhadap pengelolaan pojok baca, yang mengakibatkan sulitnya mengidentifikasi secara sistematis kelas mana yang memerlukan intervensi tambahan maupun praktik baik mana yang dapat direplikasi ke kelas lain. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan program literasi memerlukan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagaimana ditekankan oleh UNESCO . Tanpa adanya sinergi tersebut, program pojok baca berisiko hanya menjadi kegiatan seremonial di sekolah tanpa keberlanjutan dampak pada kebiasaan membaca siswa di rumah maupun di lingkungan masyarakat yang lebih luas. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini memperkuat pandangan bahwa program pojok baca merupakan salah satu strategi yang efektif dan efisien dalam menumbuhkan minat membaca siswa sekolah dasar, khususnya karena kedekatan aksesnya dengan siswa serta biaya pelaksanaannya yang relatif terjangkau dibandingkan dengan pembangunan perpustakaan sekolah berskala besar (Khasanah. Miyono. Utami, & Rachmawati, 2. Namun demikian, keberhasilan program tidak dapat dilepaskan dari peran aktif berbagai pihak. Guru berperan sebagai fasilitator sekaligus teladan dalam menumbuhkan kebiasaan membaca, kepala sekolah berperan sebagai penentu kebijakan dan penyedia sumber daya, sementara orang tua berperan sebagai pendukung di luar lingkungan sekolah. Selain itu, tantangan berupa persaingan dengan penggunaan gawai menunjukkan bahwa program literasi berbasis pojok baca perlu dikembangkan secara lebih inovatif, misalnya dengan mengintegrasikan unsur permainan . , tantangan membaca berjenjang, atau pemberian penghargaan yang lebih variatif, agar mampu bersaing dengan daya tarik hiburan digital yang semakin mudah diakses oleh anak-anak di era sekarang. Pengelolaan koleksi buku secara berkala, misalnya melalui rotasi antar kelas atau kerja sama dengan perpustakaan daerah, juga perlu dipertimbangkan sebagai solusi atas keterbatasan variasi bacaan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pengadaan buku baru. Temuan penelitian ini juga memberikan implikasi praktis bagi sekolah lain yang ingin mengembangkan program serupa. Pertama, penyediaan pojok baca sebaiknya tidak berhenti pada tahap pengadaan sarana fisik semata, tetapi harus disertai dengan perencanaan program yang jelas, termasuk jadwal kegiatan literasi, mekanisme pembaruan koleksi, serta indikator keberhasilan yang terukur. Vol. 4 No. Implementasi Minat Membaca melalui (Agustia. | 153-159 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Kedua, peran guru sebagai penggerak utama program perlu diperkuat melalui pelatihan atau workshop mengenai strategi menumbuhkan minat baca, sehingga guru tidak hanya menjalankan kegiatan literasi secara rutin, tetapi juga mampu berinovasi sesuai dengan karakteristik siswa di kelasnya masingmasing. Ketiga, keterlibatan orang tua perlu dikelola secara lebih terstruktur, misalnya melalui program donasi buku berkala atau kegiatan membaca bersama di rumah yang dilaporkan melalui jurnal membaca sederhana, sehingga kebiasaan membaca yang telah dibangun di sekolah dapat berlanjut dan diperkuat di lingkungan keluarga. Implikasi lain dari penelitian ini adalah pentingnya dukungan kebijakan di tingkat satuan pendidikan maupun pemerintah daerah dalam menjamin keberlanjutan program pojok baca. Dukungan tersebut dapat berupa alokasi anggaran khusus untuk pengadaan dan pembaruan buku, penyediaan pelatihan literasi bagi guru secara berkala, serta pemberian penghargaan bagi sekolah atau kelas yang berhasil mengembangkan budaya literasi secara konsisten. Tanpa dukungan kebijakan yang memadai, program pojok baca berpotensi mengalami stagnasi setelah periode awal antusiasme mereda, sebagaimana lazim terjadi pada berbagai program inovasi pendidikan yang tidak diiringi dengan sistem penjaminan keberlanjutan yang kuat. Penelitian ini tentunya masih memiliki keterbatasan, antara lain cakupan lokasi penelitian yang hanya terbatas pada satu sekolah dasar, sehingga temuan yang diperoleh belum tentu dapat digeneralisasikan pada konteks sekolah lain dengan karakteristik sosial, ekonomi, dan geografis yang Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan cakupan lokasi yang lebih luas, serta pendekatan kuantitatif atau campuran . ixed method. untuk mengukur secara lebih terukur hubungan antara pemanfaatan pojok baca dan peningkatan kemampuan literasi siswa, sangat direkomendasikan untuk memperkaya khazanah penelitian di bidang literasi sekolah dasar. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa implementasi program pojok baca di SDN 13 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya telah terlaksana dengan baik sebagai bagian dari upaya penguatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Program ini diwujudkan melalui penyediaan pojok baca di setiap kelas, pembiasaan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai, penyediaan koleksi buku yang beragam, serta keterlibatan aktif guru dalam membimbing dan memotivasi siswa untuk Pelaksanaan program tersebut menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif bagi pengembangan budaya literasi di sekolah, sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kebiasaan membaca secara mandiri dan menyenangkan. Implementasi program pojok baca memberikan dampak positif terhadap peningkatan minat membaca siswa. Hal ini ditunjukkan oleh meningkatnya antusiasme siswa dalam memanfaatkan pojok baca, bertambahnya frekuensi membaca, meningkatnya kemampuan memahami isi bacaan, serta berkembangnya kebiasaan berdiskusi dan menceritakan kembali isi buku yang telah dibaca. Temuan ini menunjukkan bahwa pojok baca tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyedia bahan bacaan, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang mampu menumbuhkan budaya membaca dan mendukung peningkatan kemampuan literasi siswa, baik pada aspek kognitif maupun sosial. Keberhasilan program didukung oleh komitmen kepala sekolah, peran aktif guru dalam mengelola kegiatan literasi, serta dukungan orang tua terhadap penyediaan bahan bacaan. Namun demikian, implementasi program masih menghadapi beberapa kendala, antara lain keterbatasan jumlah dan variasi koleksi buku, kurangnya pembaruan bahan bacaan, persaingan dengan penggunaan gawai, serta belum meratanya kebiasaan membaca siswa di lingkungan keluarga. Oleh karena itu, keberlanjutan program memerlukan sinergi yang lebih kuat antara sekolah, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk melalui evaluasi program secara berkala, pembaruan koleksi buku, dan inovasi kegiatan literasi, agar budaya membaca dapat berkembang secara berkesinambungan di SDN 13 Koto Baru Kabupaten Dharmasraya maupun sekolah-sekolah lain dengan karakteristik serupa. Vol. 4 No. Implementasi Minat Membaca melalui (Agustia. | 153-159 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) REFERENSI