Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 248-260 Email: nurasjournal@gmail. PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN BROS KAIN PERCA DI DUSUN TANAH EMBET BARAT Ni Ketut Ayu Citra Trisnasari1*. I Wayan Rudiarta2. Ida Bagus Alit Arta Wiguna3, & I Komang Widya Purnama Yasa4 1,2,3,&4 Program Studi Ekonomi Hindu. Fakultas Dharma Duta. Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram. Jalan Pancaka Nomor 7B. Mataram. Nusa Tenggara Barat 83126. Indonesia *Email: ayucitratrisnasarii@gmail. Submit: 13-10-2025. Revised: 26-10-2025. Accepted: 27-10-2025. Published: 31-10-2025 ABSTRAK: Pengembangan kreativitas anak di wilayah pedesaan menghadapi tantangan, terutama keterbatasan fasilitas dan minimnya wadah kegiatan produktif yang terstruktur. Dusun Tanah Embet Barat memiliki potensi lokal berupa limbah kain perca dari usaha rumah tangga, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Pelatihan pembuatan bros kain perca dilakukan untuk meningkatkan keterampilan, kreativitas, percaya diri, dan kesadaran anak terhadap pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai sebagai media edukasi kreatif dan pengenalan wirausaha sejak dini. Metode yang digunakan meliputi observasi awal untuk mengidentifikasi kebutuhan dan potensi . engan analisis SWOT), komunikasi dengan pihak terkait, pelatihan langsung, praktik, dan evaluasi hasil karya. Kegiatan ini dilaksanakan selama 6 kali pertemuan dengan melibatkan 23 anak usia 7-12 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa 45% peserta mampu menyelesaikan minimal 2 bros dengan desain bunga dan kupu-kupu, 70% peserta mampu memotong kain sesuai pola, memunculkan inovasi spontan dalam kombinasi warna dan hiasan, serta memperlihatkan peningkatan kemampuan estetika dan kerjasama. Program ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis dalam menjahit, tetapi juga berhasil menambah ide, membentuk karakter kreatif dan kolaboratif yang dapat menghasilkan berbagai produk unik, serta memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai model ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal. Kata Kunci: Bros. Kain Perca. Kreativitas. Pelatihan. ABSTRACT: The development of children's creativity in rural areas faces challenges, especially the limited facilities and the lack of structured productive activities. West Tanah Embet Hamlet has local potential in the form of patchwork waste from household businesses, but it has not been utilized Training on making patchwork brooches is carried out to increase children's skills, creativity, confidence, and awareness of the use of waste into valuable products as a medium of creative education and introduction to entrepreneurship from an early age. The methods used include initial observation to identify needs and potentials . ith SWOT analysi. , communication with related parties, direct training, practice, and evaluation of the results. This activity was carried out for 6 meetings involving 23 children aged 7-12 years. The results showed that 45% of participants were able to complete at least 2 brooches with floral and butterfly designs, 70% of participants were able to cut fabrics according to patterns, come up with spontaneous innovations in color combinations and embellishments, and show improved aesthetic and cooperation skills. This program not only provides technical skills in sewing, but also succeeds in adding ideas, forming a creative and collaborative character that can produce a variety of unique products, and has the potential to be developed as a creative economy model based on local resources. Keywords: Brooch. Patchwork. Creativity. Training. How to Cite: Trisnasari. Rudiarta. Wiguna. , & Yasa. Pengembangan Kreativitas Anak melalui Pelatihan Pembuatan Bros Kain Perca di Dusun Tanah Embet Barat. Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5. , 248-260. https://doi. org/10. 36312/nuras. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 248-260 Email: nurasjournal@gmail. Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is Licensed Under a CC BY-SA Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. PENDAHULUAN Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan kegiatan intrakurikuler yang memadukan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan memberikan pengalaman belajar dan bekerja kepada mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat (Chasana et al. , 2. KKN menjadi salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan daya kritis serta memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa di lingkungan masyarakat. KKN juga merupakan bentuk pengabdian langsung kepada masyarakat dalam rangka pemberdayaan masyarakat pedesaan (Aliyyah et , 2. Program Pengabdian kepada Masyarakat merupakan mata kuliah intrakurikuler yang wajib ditempuh oleh mahasiswa pada setiap program studi jenjang S1 (Syardiansah, 2. Kegiatan KKN memiliki peran penting bagi masyarakat, karena dapat membantu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat, mendukung pengembangan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM), serta menumbuhkan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat. Secara umum, fokus pelaksanaan KKN adalah mendorong masyarakat agar mampu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program pembangunan secara mandiri dan berkelanjutan. Kreativitas merupakan salah satu kemampuan penting yang perlu ditanamkan sejak usia dini, karena berperan besar dalam membentuk keterampilan berpikir dan kemampuan berinovasi di masa depan (Anwar et al. , 2024. Fitri & Suryana, 2. Pada era perkembangan teknologi saat ini, anak-anak diharapkan tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat menunjang kemandirian mereka. Pendidikan nonformal menjadi salah satu sarana yang efektif untuk menumbuhkan kreativitas, karena bersifat fleksibel dan partisipatif (Suherman & Adiputra, 2. Pengembangan kreativitas anak di tingkat nasional menjadi perhatian penting dalam berbagai program pendidikan berbasis keterampilan (Ariyanti et al. Putri et al. , 2. Namun, di wilayah pedesaan masih terdapat berbagai tantangan, seperti keterbatasan fasilitas dan minimnya akses terhadap kegiatan kreatif yang terstruktur. Salah satu bentuk kreativitas yang dipilih dalam pelatihan ini adalah pembuatan bros dari kain perca. Program ini bertujuan untuk mengembangkan kreativitas anak-anak sekaligus mengajarkan pemanfaatan kain perca menjadi produk bernilai guna. Limbah kain perca merupakan potongan kain yang sudah tidak digunakan lagi, namun masih dapat dimanfaatkan untuk membuat produk baru. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah kain jenis ini dapat menimbulkan masalah lingkungan karena terabaikan dan menumpuk (Mulyani, 2. Sejak dahulu, kain perca telah dimanfaatkan menjadi barang bernilai guna, meskipun tujuan dan bentuknya berbeda dibandingkan masa kini. Pada masa lalu, pemanfaatan kain perca dilatarbelakangi oleh keterbatasan bahan dan kebutuhan fungsional, sehingga sisa potongan kain dijahit ulang menjadi pakaian tambal, lap, keset, atau aksesori sederhana yang sekaligus mengembangkan kreativitas anak. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 248-260 Email: nurasjournal@gmail. Menurut Hamiyati . , praktik tersebut merupakan upaya untuk menghemat bahan dan memperpanjang usia pakai kain sebelum kemudian berkembang di era modern menjadi produk kreatif bernilai jual yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai estetika dan ramah lingkungan. Pengolahan dan pemanfaatan limbah kain perca dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan lingkungan sekaligus membuka peluang usaha baru. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat dapat memulai bisnis kecil berbasis kain perca yang berpotensi menghasilkan keuntungan (Hidayat et al. , 2. Penggunaan bahan kain perca diharapkan memberikan dampak positif dalam pengembangan produk kreatif. Oleh karena itu, kain perca dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai kerajinan menarik, seperti bros. Pembuatan kerajinan dari kain perca memerlukan alat sederhana seperti jarum jahit dan benang agar dapat dibentuk menjadi produk yang diinginkan serta memiliki nilai jual tinggi untuk menambah pendapatan ekonomi (Handayani & Nurdin, 2. Proses pembuatan bros dari kain perca relatif sederhana, namun membutuhkan kreativitas dan ketekunan dalam pengerjaannya, khususnya bagi anak-anak di Dusun Tanah Embet Barat. Dusun Tanah Embet Barat merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan kreativitas anak melalui pemanfaatan bahan Ketersediaan kain perca yang dihasilkan dari kegiatan usaha rumah tangga setempat belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini menjadi peluang untuk mengintegrasikan pendidikan kreativitas anak dengan pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan. Selama ini, anak-anak di Dusun Tanah Embet Barat cenderung menghabiskan waktu luang untuk bermain tanpa adanya kegiatan produktif yang dapat mengasah keterampilan dan kreativitas mereka. Padahal, masa kanak-kanak merupakan periode yang tepat untuk menanamkan jiwa wirausaha dan mengembangkan kreativitas sejak dini, salah satunya melalui kegiatan pembuatan bros dari kain perca. Anak-anak di dusun ini memiliki karakter aktif dan antusias terhadap hal-hal baru. Meskipun demikian, di lingkungan tersebut belum terdapat UMKM atau kegiatan kreatif yang mengembangkan pembuatan bros dari kain Di sisi lain, tersedia banyak bahan sisa seperti potongan kain bekas, baju tidak terpakai, serta kain rusak atau robek yang dapat dimanfaatkan. Dengan adanya kegiatan pelatihan ini, anak-anak diharapkan mampu mengolah kain sisa menjadi karya yang bernilai guna. Berdasarkan kondisi tersebut, pelatihan pembuatan bros dari kain perca di Dusun Tanah Embet Barat diharapkan dapat menjadi sarana pengembangan kreativitas anak sekaligus memperkenalkan keterampilan wirausaha sejak dini. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung, mengasah kemampuan berpikir kreatif, meningkatkan keterampilan manual, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap hasil karya sendiri. METODE Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini meliputi metode observasi, komunikasi, dan pelatihan langsung. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan perkembangan keterampilan dan kreativitas Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 248-260 Email: nurasjournal@gmail. peserta, serta mengevaluasi capaian kegiatan berdasarkan indikator yang telah Kegiatan ini dilaksanakan di Dusun Tanah Embet Barat. Kecamatan Batu Layar. Kabupaten Lombok Barat. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pelaksanaan kegiatan berlangsung mulai tanggal 25 Juni 2025 hingga 9 Agustus 2025, dengan total enam kali pertemuan. Lokasi tersebut dipilih berdasarkan potensi lokal berupa ketersediaan limbah kain perca dari usaha rumah tangga, serta tingginya antusiasme anak-anak terhadap kegiatan kreatif. Sasaran kegiatan ini adalah anak-anak berusia 7Ae12 tahun dengan jumlah peserta sebanyak 23 anak yang dipilih berdasarkan ketersediaan waktu dan minat mereka terhadap kegiatan keterampilan tangan. Peserta dikelompokkan berdasarkan usia dan tingkat kemampuan motorik untuk memudahkan proses pendampingan selama pelatihan. Tahapan kegiatan pengabdian ini dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu: . tahap persiapan. tahap pelaksanaan. tahap evaluasi. Tahap Persiapan Tahap persiapan meliputi koordinasi dengan pihak dusun, survei lokasi, identifikasi peserta, pemilihan bahan kain perca yang berkualitas, serta penyusunan materi pelatihan. Pada tahap ini juga dilakukan persiapan alat dan bahan yang diperlukan, seperti jarum jahit, benang, gunting, lem kain, dan aksesori pendukung Selain itu, diberikan materi awal mengenai pengenalan alat dan bahan yang digunakan untuk membuat bros. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan terdiri atas tiga sesi kegiatan, yaitu: . pengenalan alat dan bahan, yaitu peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis kain perca, jarum jahit, benang, gunting, lem tembak, dan aksesori pendukung lainnya. Materi disampaikan secara interaktif melalui tanya jawab untuk membangun pemahaman awal peserta. demonstrasi teknik dasar, yaitu peserta diberikan demonstrasi langkah demi langkah pembuatan bros, mulai dari memotong kain sesuai pola, melipat, menjahit, hingga menempelkan aksesori hiasan. praktik pembuatan bros, yaitu peserta diberi kebebasan untuk memilih kombinasi warna sesuai selera. Setiap kelompok diminta membuat minimal dua buah bros dengan desain berbeda, yaitu bentuk bunga dan kupu-kupu. Tahap Evaluasi Tahap evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anak-anak memahami dan mempraktikkan proses pembuatan bros. Evaluasi dilakukan secara kualitatif melalui pengamatan langsung, penilaian hasil karya, serta diskusi singkat dengan peserta mengenai pengalaman mereka selama pelatihan (Aryanti et al. Penilaian juga mencakup aspek kualitas produk, ketepatan teknik, serta tingkat kreativitas yang ditunjukkan oleh peserta. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi: . bahan utama, yaitu kain perca berbagai warna dan ukuran, aksesori hiasan . utiara, manik-mani. , peniti, dan bros. alat, yaitu jarum jahit, benang jahit, gunting kain, lem tembak, dan pola cetakan . Secara keseluruhan, metode yang digunakan dalam kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan keterampilan anak-anak, tetapi juga untuk menumbuhkan semangat berkreativitas Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 248-260 Email: nurasjournal@gmail. sejak dini melalui pemanfaatan bahan sederhana yang tersedia di lingkungan Harapannya, keterampilan tersebut dapat terus dikembangkan oleh peserta bahkan setelah kegiatan pengabdian ini selesai. Observasi Materi Evaluasi Praktek Gambar 1. Diagram Alur Metode Kegiatan. HASIL DAN DISKUSI Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dari tanggal 25 Juni 2025 hingga 9 Agustus 2025 di Dusun Tanah Embet Barat berlangsung dengan lancar dan baik, serta mendapat respon positif dari masyarakat, baik itu dari anakanak, remaja, dan orang tua, khususnya anak-anak yang menjadi sasaran utama dalam menjalankan program kerja ini. Pelatihan pembuatan bros dari kain perca ini mampu menarik minat anak-anak, karena prosesnya relatif sederhana namun menghasilkan produk yang memiliki nilai estetika dan fungsi. Tahap Observasi Pada tahap observasi, peneliti sebagai mahasiswa yang melakukan pelatihan berusaha melihat secara langsung kondisi lapangan, bukan hanya sekedar datang dan melaksanakan program tetapi memulai dengan memperhatikan bagaimana aktivitas anak-anak di Dusun Tanah Embet Barat di waktu senggang mereka, bagaimana interaksi mereka dengan teman sebaya, dan seberapa sering mereka terlibat dalam kegiatan kreatif. Dari pengamatan ini, peneliti menyadari bahwa mayoritas anak di dusun ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain bebas tanpa diarahkan pada aktivitas produktif. Observasi ini juga menjadi ajang bagi peneliti untuk memahami karakter peserta dan membantu mengidentifikasi faktor-faktor pendukung penghambat melalui analisis SWOT (Waruwu & Munawwaroh, 2. Dari sisi strengths . , peneliti melihat bahwa anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, cepat tertarik pada hal-hal baru, dan suka mencoba. Dari sisi weaknesses . , belum adanya wadah atau kegiatan rutin yang menyalurkan kreativitas anak, serta keterbatasan keterampilan teknik menjahit. Dari sisi opportunities . , kegiatan pelatihan ini dapat menjadi langkah awal membangun keterampilan kreativitas anak-anak. Sedangkan dari sisi threats . , terdapat risiko rendahnya keberlanjutan program, jika tidak ada pendampingan lanjutan atau dukungan dari pihak setempat. Dari hasil pengamatan ini, peneliti menyimpulkan bahwa pelatihan pembuatan bros kain perca sangat tepat Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 248-260 Email: nurasjournal@gmail. dilaksanakan, karena dapat memanfaatkan potensi yang ada, mengatasi kelemahan yang teridentifikasi, serta memaksimalkan peluang untuk mengembangkan kreativitas anak secara berkelanjutan. Gambar 2. Observasi. Tahap Pemberian Materi Tahap pemberian materi merupakan bagian penting sebelum anak-anak masuk ke proses praktik. Di tahap ini, peneliti tidak langsung memaksa peserta membuat bros, tetapi mengajak mereka untuk memahami konsep dasar serta pengenalan alat dan bahan yang akan digunakan. Pengenalan ini penting agar anakanak tidak bingung saat praktik, dan mereka mempunyai gambaran awal mengenai apa yang akan dibuat (Sit et al. , 2. Dengan demikian, tahap pemberian materi berfungsi sebagai pondasi awal yang membantu peserta lebih siap dan percaya diri. Materi disampaikan dengan cara yang sederhana dan interaktif. membawa contoh kain perca sebagai warna dan ukuran, lalu menjelaskan bahwa bahan ini awalnya adalah sisa jahitan yang biasanya dibuang, tetapi bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai guna. Anak-anak diperkenalkan pada alat-alat seperti jarum jahit, benang, gunting, lem tembak dan aksesoris pendukung. Setiap alat dijelaskan fungsi, cara memegang yang aman, dan tips menggunakannya supaya hasilnya rapi dan indah. Proses ini dibuat santai, melibatkan tanya jawab, bahkan beberapa anak diberi kesempatan mencoba memegang dan menggunakan alat ditempat, supaya mereka lebih percaya diri saat masuk ke tahap praktik. Gambar 3. Materi Pengenalan Alat dan Bahan. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 248-260 Email: nurasjournal@gmail. Tahap Praktik Pertemuan pertama, anak-anak dibagi ke dalam kelompok berdasarkan usia dan kemampuan motorik halus, anak-anak dilatih untuk membuat bros yang berbentuk bunga. Mereka menunjukkan antusiasme yang luar biasa dalam mengikuti pelatihan ini. Namun, beberapa tantangan muncul, terutama terkait kemampuan motorik halus dan fokus konsentrasi. Anak-anak usia 7-8 tahun mengalami kesulitan dalam menggunakan jarum jahit, sementara yang berusia 1012 tahun lebih mudah beradaptasi dengan alat-alat yang digunakan. Berdasarkan observasi, strategi yang efektif adalah pengelompokan peserta berdasarkan usia dan kemampuan, dengan pendampingan yang lebih intensif untuk kelompok usia muda. Hal ini sejalan dengan teori perkembangan kognitif Piaget yang menekankan pentingnya pendekatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak (Ilhami, 2022. Marinda, 2. Tabel 1. Capaian Keterampilan Peserta Pelatihan Pembuatan Bros Kain Perca. Indikator Keterampilan Jumlah Peserta Persentase % Mampu menyelesaikan minimal 2 bros Mampu memotong kain sesuai pola dengan rapi Mampu menjahit dengan teknik dasar Menunjukkan kreativitas dalam kombinasi warna Menyelesaikan 1 bros dengan pendampingan intensif Total peserta aktif Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa 69,6% peserta mampu memotong kain sesui pola dengan rapi, sementara 78,3% peserta menunjukkan kreativitas spontan dalam memilih kombinasi warna dan hiasan. Sebanyak 43,5% peserta berhasil menyelesaikan minimal 2 bros secara mandiri, sementara 56,5% peserta lainnya berhasil menyeesaikan 1 bros dengan pendampingan intensif. Gambar 4. Praktek Menjahit. Proses penempelan bros dan hiasan merupakan tahap yang membutuhkan ketelitian dan kreativitas anak-anak. Pada sesi ini, anak-anak diajak untuk menentukan posisi yang tepat untuk menempelkan hiasan seperti mutiara yang telah Kegiatan ini dapat mengasah estetika dan rasa percaya diri mereka dalam mengambil keputusan desain. Melalui tahapan ini, anak-anak diajak memahami bahwa setiap elemen dalam kerajinan memiliki nilai dan makna, serta Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 248-260 Email: nurasjournal@gmail. bagaimana menyesuaikan antara warna dan bentuk (Telaumbanua & BuAoulolo. Pendampingan dilakukan secara intensif untuk memastikan keamanan penggunaan lem dan alat, serta memberikan ruang bagi anak-anak mengekspresikan kreativitasnya tanpa batasan yang kaku. Gambar 5. Penempelan Bros dan Hiasan. Pada pertemuan selanjutnya, anak-anak dilatih untuk membuat bros dengan bentuk yang menyerupai kupu-kupu. Bentuk kupu-kupu dipilih karena memerlukan tingkat ketelitian dan kesabaran yang tinggi, sehingga dapat melatih koordinasi mata dan tangan peserta dibandingkan dengan bros sebelumnya. Aktivitas ini menjadi wadah eksplorasi imajinasi anak-anak dan juga meningkatkan kemampuan mereka dalam mengikuti instruksi. Kegiatan berkelompok dalam pembuatan bros mengembangkan kemampuan kerjasama anak-anak. Mereka belajar berbagi alat, saling membantu ketika mengalami kesulitan, dan memberikan apresiasi terhadap karya teman (Hasibuan & Basri, 2. Dinamika kelompok yang positif ini berkontribusi pada terciptanya lingkungan belajar yang kondusif. Gambar 6. Menjahit Bros dengan Bentuk Berbeda. Pada pertemuan ini anak-anak diminta untuk melanjutkan proses pembuatan bros kupu-kupu. Meskipun bentuknya lebih kompleks, sebagian besar anak berhasil menyelesaikan dengan hasil yang cukup memuaskan berkat pendampingan yang intensif dan suasana belajar yang menyenangkan. Keberhasilan menyelesaikan produk yang memiliki nilai estetik memicu rasa bangga pada peserta. Anak-anak yang awalnya ragu menjadi lebih percaya diri untuk mencoba teknik baru. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 248-260 Email: nurasjournal@gmail. Gambar 7. Penyelesaian Pembuatan Bros. Tabel 2. Tingkat Partisipasi Peserta Selama 6 Kali Pertemuan. Tingkat Kehadiran Jumlah Peserta Persentase % Hadir 6 kali Hadir 4-5 kali Hadir 1-3 kali Total Tabel 2 menunjukkan konsistensi kehadiran mempengaruhi capaian akhir peserta, hanya peserta yang hadir minimal 5 kali yang mampu menyelesaikan bros secara mandiri. Tahap Evaluasi Dokumentasi dalam kegiatan ini berperan penting sebagai bentuk pelaporan sekaligus bukti keterlibatan aktif peserta selama proses pelatihan berlangsung. Setiap foto yang diambil tidak hanya merekam aktivitas teknis seperti menjahit, memotong kain, dan menyusun bros, tetapi juga menunjukkan ekspresi antusias dan kebersamaan antar peserta. Hal ini menjadi indikator bahwa metode pendekatan partisipatif yang digunakan berjalan dengan baik. Dokumentasi ini memberikan gambaran visual tentang proses belajar anakanak yang berlangsung secara bertahap namun konsisten, mulai dari pengenalan alat, praktik, hingga hasil akhir. Dengan adanya dokumentasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi program sejenis di masa mendatang serta sebagai referensi bagi mahasiswa lain yang akan melanjutkan program pelatihan berikutnya di lokasi yang sama. Dokumentasi ini juga menjadi sarana refleksi bahwa program ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga menghargai proses pembelajaran yang dialami anak-anak secara menyeluruh. Dari 23 anak yang mengikuti pelatihan hanya ada beberapa yang bisa, karena ada 6 kali pertemuan dan terkadang anak-anak tidak datang jadi hanya 10 anak yang berhasil menyelesaikan minimal 2 bros dalam 3 kali pertemuan, sisanya memerlukan pendampingan ekstra karena usia yang masih terlalu muda . meskipun demikian, mereka tetap antusias dan berhasil menyelesaikan 1 bros dengan bantuan kakak pendamping. Aspek paling menarik dari kegiatan ini adalah munculnya kreativitas spontan dari peserta. Anak-anak mulai bereksperimen dengan kombinasi warna, bentuk, dan aksesoris tambahan. Ada 2 karya bros yang penulis buat, yaitu bros Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 248-260 Email: nurasjournal@gmail. berbentuk bunga dengan hiasan mutiara, dan bros berbentuk kupu-kupu dengan hiasan Mutiara. Adapun tantangan dan solusi dari proses pembuatan bros ini, yaitu: keterbatasan waktu dan perhatian, anak-anak usia 7-8 tahun memiliki keterbatasan dalam hal durasi konsentrasi. Solusi yang diterapkan adalah pembagian sesi menjadi periode yang lebih pendek . -45 meni. dengan jeda dan . perbedaan kemampuan individual, perbedaan kemampuan individual diatasi dengan buddy system, dimana anak yang lebih mahir membantu yang masih kesulitan. Pendekatan ini tidak hanya membantu proses pembelajaran tetapi juga mengembangkan karakter kepemimpinan dan empati (Mariam, 2. Salah satu dampak paling terlihat adalah peningkatan kepercayaan diri Anak-anak yang awalnya pemalu menjadi lebih aktif dalam mengemukakan ide dan memamerkan hasil karyanya. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi dalam diskusi dan keberanian untuk mencoba teknikteknik baru. Secara keseluruhan, pelatihan ini berhasil menumbuhkan kreativitas dan keterampilan dasar wirausaha anak melalui kegiatan yang menyenangkan dan Tabel 3. Jenis Bros yang Dihasilkan Kelompok. Jumlah Kelompok Jumlah Bros yang Jenis Bros yang Menyelesaikan Dihasilkan Bros Bunga 5 Kelompok 10 Buah bros Bros Kupu-kupu 4 Kelompok 8 Buah bros Tingkat Kesulitan Sederhana Kompleks Tabel 3 menunjukkan bros bunga dibuat pada pertemuan ke-2 dan 3, peserta dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang masing-masing kelompok menghasilkan 2 buah bros. Sedangkan bros kupu-kupu dibuat pada pertemuan ke-4 hingga pertemuan ke-6, bros ini memerlukan waktu lebih lama karena tingkat kesulitannya dan ketelitian yang lebih tinggi. Gambar 8. Evaluasi. SIMPULAN Pelatihan pembuatan bros kain perca di Dusun Tanah Embet Barat mampu mencapai tujuan utama kegiatan, yaitu menumbuhkan kreativitas anak sekaligus memperkenalkan keterampilan wirausaha sejak dini dengan memanfaatkan bahan sederhana yang ada di sekitar. Dari proses yang dilakukan, terlihat bahwa Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 248-260 Email: nurasjournal@gmail. pendekatan pembelajaran yang santai, melibatkan praktik langsung, dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta membuat anak-anak lebih cepat memahami dan berani coba hal baru. Selain menghasilkan keterampilan teknis seperti memotong, menjahit, dan menghias, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa percaya diri, kerjasama, dan sikap saling membantu antar peserta. Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan kain perca sebagai media belajar kreatif bukan hanya bermanfaat secara keterampilan, tetapi juga bisa menjadi cara efektif untuk membentuk karakter. Sebagai saran, limbah kain yang masih layak pakai sebaiknya tidak langsung dibuang, melainkan dikumpulkan dan diolah kembali menjadi produk yang kreatif seperti bros, gantungan kunci, atau hiasan rumah. Dengan cara ini, limbah kain dapat berkurang, nilai ekonominya meningkat, dan anak-anak memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap pentingnya pengelolaan limbah secara kreatif dan ramah lingkungan. SARAN Mengembangkan variasi produk merupakan langkah penting untuk menumbuhkan kreativitas dan keterampilan anak-anak. Selain membuat bros, pelatihan berikutnya dapat memperkenalkan pembuatan berbagai produk kreatif lain seperti gantungan kunci, pita rambut, atau tas kecil dari kain perca. Dengan kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar memanfaatkan bahan sisa menjadi sesuatu yang bernilai, tetapi juga terdorong untuk terus mengembangkan ide-ide baru serta meningkatkan kemampuan mereka dalam menciptakan karya yang menarik dan bermanfaat. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Terima kasih khusus disampaikan kepada anak-anak peserta berusia 7-12 tahun yang telah menunjukkan semangat dan kreativitas luar biasa selama enam kali pertemuan, serta kepada masyarakat setempat yang turut mendukung dengan menyediakan bahan limbah kain perca. Dukungan dan antusiasme semua pihak telah menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini dalam menumbuhkan keterampilan dan semangat berkarya di kalangan anak-anak. REFERENSI