https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X Volume 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 SIMBOL GENDER DALAM UPAKARA WIWAHA DI BALI Page 136-145 Oleh: Ida Ayu Tary Puspa Made Ika Kusuma Dewi Ida Bagus Radhakrisnyam Saitya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia tarypuspa@uhnsugriwa. Proses Review 5-28 Juli, dinyatakan lolos 2 Agustus Abstract Gender in Balinese culture is patriarchal. This can be seen in the wiwaha or marriage ceremony. Wiwaha can cause a personAos family law ties to break up with the parents or the fatherAos side and his A woman who is married will become a family member on her husbandAos side and be bound by the family law ties on her husbandAos side and break up with the family law ties on her fatherAos side. The wiwaha ceremony will require an ceremony offering as a symbol of gender equality. The ceremony will contain paraphernalia symbolizing men and women in equality as they are displayed side by side. However, as an expressive symbol that is felt by the Balinese people, women still have not been able to achieve equality and justice. The more a family formed from marriage respects women, the better gender relations will be because it places women in a position that is not subordinated and in accordance with what is symbolized in the wiwaha. Keywords: symbol, gender, wiwaha Abstrak Gender dalam budaya Bali yakni patriarki. Hal ini terlihat pada upacara wiwaha ataupun Wiwaha bisa menyebabkan pertalian hukum kekeluargaan seseorang putus dengan pihak orag tua ataupun pihak ayahnya dan saudara-saudaranya. Seorang perempuan yang melakukan perkawinan akan menjadi anggota keluarga pihak suaminya dan terikat pada pertalian anggota keluarga pihak suaminya dan terikat pada pertalian hukum kekeluargaan suaminya dan putus dengan pertalian hukum kekeluargaan pihak ayahnya. Upacara wiwaha akan memerlukan upakara/ banten sebagai simbol kesetaraan gender. Upakara tersebut akan berisi perlengkapan yang menyimbolkan laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan karena ditampilkan berdampingan. Namun sebagai simbol ekspresif yang dirasakan oleh masyarakat Bali, tetap saja para perempuan belum Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 bisa mencapai kesetaraan dan keadilan. Semakin sebuah keluarga yang terbentuk dari perkawinan menghormati perempuan, maka relasi gender akan semakin baik karena menempatkan perempuan pada posisi yang tidak tersubordinasi dan sesuai dengan yang disimbolkan dalam wiwaha tersebut. Kata kunci: simbol, gender, wiwaha PENDAHULUAN Manusia yang hidup dimuka bumi ini pasti membutuhkan orang lain bukan hanya sebagai teman, saudara, melainkan sebagai pasangan Dalam lembaga perkawinan yang resmi, maka manusia Hindu akan mencari pasangan hidup ataupun lazim disebut wiwaha . Bali yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu dalam melaksanakan pawiwahan . yang dibenarkan yakni memadik ataupun meminang dan merangkat ngerorod ataupun kawin lari atas dasar cinta. Hadikusumo . alam Puspa, 2013:. menyatakan bahwasanya untuk melanjutkan keturunan, maka manusia akan melangsungkan perkawinan. Perkawinan termasuk unsur tali temali meneruskan kehidupan manusia serta masyarakat karena tidak saja erat kaitannya dengan proses lahir, tetapi masalah perkawinan erat hubungannya dengan agama kepercayaan, sosial budaya, dan adat istiadat. Bagi masyarakat adat perkawinan itu bertujuan untuk membangun, membina, dan memelihara hubungan kekerabatan yang rukun dan damai. Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, maka Pernikahan yakni pembentukan kemitraan seumur hidup yang saling mendukung antara seorang pria dan seorang wanita untuk tujuan membesarkan keluarga yang bersuka cita dan takut akan Tuhan yang Maha Esa. Wiwaha bisa menyebabkan pertalian hukum kekeluargaan seseorang putus dengan pihak orag tua ataupun pihak ayahnya dan saudara-saudaranya. Seorang perempuan yang melakukan perkawinan akan menjadi anggota keluarga pihak suaminya dan terikat pada pertalian anggota keluarga pihak suaminya dan terikat pada pertalian hukum kekeluargaan suaminya dan putus dengan pertalian hukum kekeluargaan pihak ayahnya. SIMBOL GENDER DALAM UPAKARA WIWAHA DI BALI Setiap perempuan Hindu yang melakukan wiwaha dengan seorang laki-laki akan berubah status mengikuti suaminya maupun keluarga Adat di Bali dijiwai agama Hindu menganut sistem kekerabatan patrilenial . Kehadiran anak laki-laki samgat diharapkan dari sebuah wiwaha karena anak laki-lakilah yang akan menyebarangkan roh leluhurnya dari Pada wiwaha di Bali karena mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu, maka dengan budaya patriarki yang menurut Sukarlinawati . menyatakan bahwasanya Patriarki yakni struktur masyarakat di mana laki-laki secara kolektif memegang semua posisi otoritas atas perempuan. Masyarakat patriarkal yakni masyarakat di mana laki-laki lebih dihormati daripada perempuan. Akan halnya budaya Bali, memang menganut patriarki, sehingga dalam perkawinan, perempuan akan ninggal kedaton ataupun meninggalkan rumah dan masuk ke rumah laki-laki dan menjadi bagian dari keluarga suami sampai akhir hayat. Oleh karena itu, kesetaraan serta keadilan gender dalam budaya patriarki sulit untuk dicapai, namun harus terus diperjuangkan untuk mengikis dominasi laki-laki terhadap Sedangkan tujuan menikah yakni hidup yang penuh kebahagiaan dan kesuksesan. Menurut Manawadharmasastra, pasangan menikah agar mereka bisa mengalami AuDharmasampatiAy . ekerja sama untuk mewujudkan dharm. AuPrajaAy . emiliki ana. , dan AuRatiAy . ehidupan seksual dan bentuk pemenuhan sensual lainny. (Titib, 1995:. Terdapat konsep ardanareswari sebagai konsep gender di Bali yang termuat dalam kitab Manawadharmasastra I. 32 yaitu Tuhan membagi dirinya menjadi sebagian laki-laki dan perempuan (Arda nar. Darinya terciptalah wiraja ataupun alam Menurut Puspa . karena kedua jenis kelamin diciptakan oleh Tuhan, umat Hin- Ida Ayu Tary Puspa | Made Ika Kusuma Dewi | Ida Bagus Radhakrisnyam Saitya Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X du percaya bahwasanya mereka harus diperlakukan sama. Oleh karena itu, dalam pandangan dunia Hindu, perempuan tidak tunduk pada laki-laki. Terdapat konsep ardanareswari yang dijadikan acuan dalam memahami kesetaraan gender di Bali. Pemahaman umum tentang gender sering kali bertepuk sebelah tangan dan dipersepsikan secara sempit sebagai gagasan yang terutama membicarakan persoalan perempuan dengan Gagasan perbedaan biologis antara jenis kelamin hanyalah salah satu aspek gender. istilah itu sendiri mengacu lebih dari sekedar perempuan dan laki-laki. Gender mengacu pada perbedaan antara perilaku dan tanggung jawab yang diharapkan laki-laki dan perempuan dalam budaya, ras, bangsa, dan tradisi agama Akibatnya, disparitas gender dalam peran, perilaku, dan kualitas yang berlaku di satu tempat/budaya belum tentu terbawa ke tempat/budaya lain (Widaningsih. Hlm . Menurut Laporan UNICEF 2007 (Hartiningsih, 2. , akan ada beberapa AudividenAy dari pencapaian kesetaraan gender. Wanita yang sehat, berpendidikan, dan mandiri cenderung menghasilkan anak yang juga sehat, berpendidikan, dan mandiri. Kepemimpinan perempuan di rumah dikaitkan dengan kesehatan, pendidikan, dan gizi anak yang lebih baik. Banyak konflik keluarga yang berlarut-larut bisa ditelusuri kembali ke hierarki yang tertanam dalam keluarga yang menempatkan hierarki keluarga menurut sistem kekuasaan, bukan berdasarkan kemampuan individu. Ini karena hierarki cenderung memupuk otoritas, yang bisa menjadi sumber kebencian dan pembalasan di antara anggota Laki-laki . yah/suami/anak laki-lak. dan perempuan . bu/istri/anak perempua. bisa berbagi tanggung jawab pengasuhan yang sama dalam struktur keluarga horizontal . on-hierarki. berdasarkan konsep persahabatan. Kesetaraan gender berdasarkan tujuan unik, keterampilan, dan kebutuhan setiap anggota keluarga akan meningkatkan tingkat kesadaran diri setiap orang, yang pada gilirannya akan memperkuat peran inti keluarga. Jika unit keluarga, struktur terkecil di negara manapun, berjalan dengan baik, maka akan menghasilkan anggota masyarakat yang sehat dan produktif. Simbol hampir selalu termasuk representasi dari beberapa aspek realitas sosial. Signifikansi simbol didasarkan pada beberapa fakta keberadaan komunal. Simbol-simbol yang disarankan, menurut Ian Hodder (Ian Hodder dalam Limahelu, 2. , tidak hanya mencerminkan tetapi juga secara aktif membentuk dan memberi makna pada aktivitas sosial. Menurut Thomson dalam Partini . , pembedaan sifat maskulin dan feminin termasuk fabrikasi sosial dan budaya. Dengan demikian, gender mengacu pada fenomena dimana orang-orang yang secara biologis laki-laki ataupun perempuan datang untuk mengadopsi ciri-ciri sosial laki-laki dan perempuan, masingmasing, melalui perolehan fitur maskulin dan feminin yang sering diperkuat oleh sistem nilai ataupun simbol dari budaya. Simbol gender pada vivaha di Bali akan tampak pada upakara ataupun banten yang dipakai dalam persembahan. Simbol-simbol tersebut melambangkan kesetaraan yang mestinya dijadikan acuan oleh umat Hindu dalam kehidupan keluarga melalui perkawinan. Banten yakni anugerah suci yang mewujudkan lambang Hyang Widhi dan manifestasinya melalui penggunaan bahan-bahan tertentu, seperti bunga, buah, dan daun. Namun, karena keterbatasan kemampuan manusia, beribadah kepada-Nya menuntut semacam fokus. II. METODE PENELITIAN Menurut Bungin . berhasilnya suatu penelitian ditentukan oleh pengumpulan Pendekatan metode penelitian kualitatif dipakai pada artikel ini yang mana melalui metode observasi dan dokumentasi. Unit fisik dari realitas sosial dan alam semesta tingkah laku manusia, terutama subjek agama dan budaya, termasuk inti dari pendekatan kualitatif ini. Menurut Bogdan dan Taylor . alam Suyanto dan Sutinah, 2013:. , pendekatan penelitian kualitatif yakni pendekatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi deskriptif melalui kata-kata tertulis dan tampilan visual. Menurut Moleong . 4: . , analisis data yakni proses mencermati seluruh data kajian yang dikumpulkan dengan cara observasi, pencatatan, dokuSIMBOL GENDER DALAM UPAKARA WIWAHA DI BALI Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 Ida Ayu Tary Puspa | Made Ika Kusuma Dewi | Ida Bagus Radhakrisnyam Saitya ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X mentasi, dsb. Karena kajian ini bersifat kualitatif, seperti dikemukakan Sudaryanto . 2: . , metode deskriptif analitik akan dipakai untuk memeriksa data yang dikumpulkan. Dalam posting ini, kami menjelaskan seluruh proses analisis, mulai dari mengumpulkan data hingga menarik kesimpulan. Karena data yang dianalisis meliputi data kualitatif berupa narasi verbal, maka temuan akan disajikan dengan gaya percakapan. Yang dimaksud dengan Aumetode informalAy yakni gaya penyajian hasil olahan data penelitian dalam bentuk rangkaian kata ataupun frase. ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA Upakara Yajya Umat Hindu Bali memakai alat yang disebut upakara untuk melakukan ritual Yajya. Suku kata Sanskerta AuupaAy, yang berarti Auhubungan denganAy, digabungkan dengan suku kata AukaraAy, yang berarti Aupekerjaan tanganAy, untuk mendapatkan istilah upakara. Menurut keputusan Majelis Besar PHDI Pusat tahun 2007, setiap kegiatan yang melibatkan manipulasi unsur-unsur alam, seperti daun, bunga, buah, kayu, air, dan api, termasuk upacara. Sebagian besar upakara menyertakan semacam tanda fisik. Banten yakni sebutan untuk benda-benda ritual yang dipakai sepanjang upakara (Surayin 1992:. Sesajen di Bali menunjukkan nilai luhur yang tak tertandingi karena termasuk benang penghubung antara kreativitas religius . ermasuk magi. dan budaya seni dan adat termasuk desa, kala, dan patra dan nista . dan primal. Daya pikat Banten dan pengejarannya terhadap mereka yang memiliki kekuatan kreatif dan keagungan mulia membantu meningkatkan profil global Bali. Masyarakat Hindu Bali mengakui bangunan tersebut sebagai objek ritual yang sakral. Aksara tingkat, gambar simbol, dan berbagai macam hadiah di banten hanya beberapa contoh simbol yang dipakai dalam ruang upacara agama Hindu. Orang Hindu menganggap alat ritual itu suci karena dikatakan memiliki sifat Yajna yakni kendaraan yang melaluinya ritual dilakukan. Menurut Titib . , istilah Yajna berasal dari kata Sansekerta yaj, yang berarti Aumenyembah, memuja, berkorban, mem- SIMBOL GENDER DALAM UPAKARA WIWAHA DI BALI https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 beriAy. Yaja yakni bahasa Sansekerta untuk Aupersembahan, pengorbanan. Ay Yajna yakni sejenis ibadah yang melibatkan persembahan suci, dan karena itu, membutuhkan baik sarana untuk diberikan ataupun dikorbankan dan kerangka berpikir yang bajik. Yajna memiliki beberapa fungsi, antara lain penyucian, menghubungkan bhakta dengan Tuhan yang dikasihi, mengungkapkan penghargaan, dan meningkatkan kualitas hidup diri sendiri. Persembahan, seperti Yajna ataupun persembahan suci, disebut sebagai upakara dalam ajaran sekolah Hindu Siddhanta. Mengetahui cara membuat upakara yakni tindakan yang mulia, tetapi Anda harus bisa menyucikan laksana untuk menjaga kesucian upakara yang Anda buat. mediator tradisional disebut Au Yajna . Ay daripada mediator modern ketika mengatur persembahan dengan makna religius yang signifikan. Air, daun, bunga, buah, dan api semuanya dipakai sebagai bagian dari perlengkapan upakara keagamaan. Selain air dan api, semua unsur lainnya ditemukan secara alami pada tumbuhan. Ritual Yajna, yang juga dirujuk dalam Shiva Sidhanta, yakni sejenis pelayanan ramah di mana persembahan dilakukan kepada berbagai dewa . ttps://sejarah arirayahindu. com/2011/12/upakara. Upacara wiwaha yakni bagian dari upacara manusa/manusia Yajya suatu korban suci ataupun pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia. Adapun tujuannya yakni untuk menyucikan diri baik bersifat lahir dan batin dan memohon keselamatan dalam upaya peningkatan kehidupan spiritual menuju kebahagiaan di dunia maupun di alam niskala yaitu juga termasuk tahap kehidupan manusia Hindu yang kedua. Sebagai bagian dari catur asrama, yang terdiri dari brahmacari, grahasta, wanaprasta, dan sanyasin. Setelah melewati masa menuntut ilmu . , maka manusia Hindu akan melangkah ke jenjang kedua yaitu Grahasta . iwaha/perkawina. Menurut Ekasana . 2: . pada wiwaha ini dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu Keberangkatan mempelai wanita dari rumah yang ditandai dengan upacara, penjemputan mempelai pria dan keluarganya pada saat lamaran. ini yakni upacara Ida Ayu Tary Puspa | Made Ika Kusuma Dewi | Ida Bagus Radhakrisnyam Saitya Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X Adapun upakara-nya yakni byakala kecil dan upacara penjemputan dimuka rumah mempelai laki dengan upakatra byakala kecil berupa segehan cacahan warna lima, api takep, tetabuhan dilengkap dengan caru patemon. Dua orang saksi melakukan pembersihan spiritual benih calon pengantin pada saat upacara pengukuhan vivaha . yang termasuk upacara utama dan bertujuan untuk mencapai kesucian dan keabsahan vivaha : Dewa Sang Syang Widhi Wasa dalam wujud manifestasi-Nya dikenal sebagai Dewa Saksi karena hadir dalam ritual tersebut. Saksi Manusa adalah umat manusia dan para pemimpinnya yang menjadi saksi atas ritual tersebut. Buthakala . akhluk yang lebih rendah dari manusia dan lingkungan buata. disebut sebagai AuSaksi ButhaAy ketika mereka berpartisipasi dalam sebuah upacara. Upacara mapejati ataupun majauman. Tujuan dari ritual ini yakni untuk menyelesaikan penyucian kedua mempelai, untuk memberikan arah bagi kehidupan mereka, dan untuk mengubah status hukum salah satu dari mereka menjadi sama dengan pihak purusa . alam hati yang berubah, status seseorang dalam mengikuti ketentuan hukum yang berlaku bagi purusa ataupun laki-lak. Surayin . menyatakan bahwasanya pada acara meminang dilakukan apabila pasangan sepakat akan kawin dan kedua orangtua merestui. Oleh karena bersifat Patriarkhat maka pihak laki-laki yang lebih dahulu , kemudian baru diiringi oleh pihak wanita mengadakan pula keaktivan. Boleh dikatakan kedua pihak sama-sama AusibukAy dan juga samasama mengeluarkan biaya. Bentuk Gender dalam Upacara Wiwaha Upacara wiwaha akan memerlukan upakara/banten sebagai simbol kesetaraan gender. Upakara tersebut akan berisi perlengkapan yang menyimbolkan laki-laki dan perempuan Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 dalam kesetaraan karena ditampilkan berdampingan. Hal tersebut terlihat dalam upakara seperti di bawah ini. Sayut Patemon/Pawarangan A Untuk yang perempuan Alasnya dulang, di atasnya diisi kulit sayut, berisi tumpeng merah 1, dagingnya ayam merah/biing dipanggang, buah-buahan, penyeneng alit, peras alit, sampian nagasari, canang payasan, benang merah. A Untuk yang laki Alasnya dulang, di atasnya diisi kulit sayut, berisi tumpeng putih 1, dagingnya ayam putih dipanggang, buah-buahan, penyeneng alit, peras alit, sampian nagasari, canang payasan, benang putih. Upakara di atas menyiratkan tumpeng merah, daging ayam merah, benang merah sebagai simbol perempuan karena perempuan memiliki kama swanita yang ditandai dengan bahwasanya perempuan bisa menstruasi sedangkan laki-laki disimbolkan dengan tumpeng putih, daging ayam putih, dan benang putih karena lali-laki memiliki kama petak berupa sperma. Banten Sayut Plakempa A Untuk perempuan Dasarnya tampah, di atasnya diisi kulit sayut, diisi nasi dengan guratan 9 buah, di atasnya diisi penek diatas setengah butir kelapa, putih telur didadar dan diukir diletakkan diatas nasi guratan 9, di atas penek ditancapkan bunga teratai putih. A Untuk laki-laki Dasarnya tampah, di atasnya diisi kulit sayut, diisi nasi dengan guratan 7 buah, di atasnya diisi penek di atas setengah butir kelapa, kuning telur didadar dan diukir diletakkan diatas nasi guratan 7, di atas penek ditancapkan bunga teratai kuning. Pada banten di atas, perempuan disimbolkan dengan warna kuning sebagai lambang kemakmuran sedangkan laki-laki disimbolkan dengan warna putih sebagai lambang kesucian. Jadi lambang putih Aekuning itu yakni lambang kemakmuran dan kesucian. SIMBOL GENDER DALAM UPAKARA WIWAHA DI BALI Ida Ayu Tary Puspa | Made Ika Kusuma Dewi | Ida Bagus Radhakrisnyam Saitya ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X Sayut Pagoyan A Untuk perempuan Disiapkan 2 buah dulang yang masing-masing ditengahnya ditancapkan batang pisang kecil kemudian ditusukkan jajan gender melingkar 27 jajan gender-genderan A Untuk Laki-laki 33 tusuk untuk jajannya yang perempuan dengan warna kuning dan laki-laki berwarna Paling atas diisi sampian pagoyan. Sayut pagoyan ini akan diletakkan berdampingan sebagai simbol pengantin laki dan perempuan. Tentang upakara di atas Sudarsana . menyebutnya dengan Sayut Anten yang terdiri dari sayut anten Yoni . dan sayut anten Cingga (Laki-lak. https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 laki-laki dan perempuan. Rantasan laki-laki dibuat dengan kain endek aneka warna yang dibentuk agak panjang dan menyerupai milik laki-laki secara kodrat ataupun palus diatur sedemikian rupa di atas dulangmengelilingi dulang dan paling atas ataupun puncak diisi udeng. Udeng yakni ikat kepala yang dipakai oleh lakilaki. Rantasan perempuan dibuat dengan kain endek aneka warna yang dibentuk menyerupai badan perempuan, diatur sedemikian rupa diatas dulang mengelilingi dulang dan paling atas ataupun puncak diisi canang iseh. Rantasan yang dibuat untuk upacara wiwaha ini memang menyerupai tampilan laki-laki dan prempuan dan akan diletakkan berdampingan di bale dangin, tempat mempelai laki-laki dan perempuan natab upakara medengen-dengen. Gambar 1 Sayut anten Yoni . dan sayut anten Cingga (Laki-lak. Sumber: Puspa . Rantasan Laki-laki dan Perempuan Rantasan yakni kain yang disusun sedemikian rupa sehingga akan tampak keindahannya. Dalam upacara pawiwahan di Tabanan, maka akan dibuat tigasan yang melambangkan Gambar 2 Rantasan Laki-laki dan Rantasan Perempuan Sumber: Puspa . SIMBOL GENDER DALAM UPAKARA WIWAHA DI BALI Ida Ayu Tary Puspa | Made Ika Kusuma Dewi | Ida Bagus Radhakrisnyam Saitya Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X Pengantin disatukan dengan kain Simbol kesetaraan gender dalam upacara wiwaha terlihat pula pada kedua mempelai setelah selesai melakukan pakalan-kalan, maka kedua mempelai akan sembahyang di sanggah ataupun merajan. Pada waktu sembahyang dan natab banten mereka akan disatukan dengan selembar kain kuning yang diletakkan dikedua pundak mempelai. Hal ini termasuk bentuk penyatuan kedua mempelai yang disatukan secara sekala dan niskala untuk mencapai kesetaraan Gambar 3 Pengantin yang Disatukan Kain Kuning Sumber: Puspa . Sesayut Ardanareswari Alasnya tamas sesayut yang berisi tumpeng kuning meplekir dilengkapi dengan kuangen yang diisi bunga kunin disampingnya diisi pula tumpeng putih 1 yang hiasannya sama dengan tumpeng kuning hanya bunga kuangennya yakni bunga berwarna putih. Upakara ini dilengkapi dengan buah-buahan, jajan, sampian nagasari. Hiasan pintu masuk Upacara wiwaha yakni kebahagiaan dan semarak bergembira, rumah mempelai lakilakipun dihias dengan smbol laki-laki dan perempuan yang tampak pada pintu masuknya. Uniknya yakni pada pintu masuk dikanan hiasannya yakni dengan memakai topeng lakilaki sedangkan dikiri yakni topeng perempuan. Hukum adat Bali umumnya mengikuti prinsipprinsip etis agama Hindu. Dari perspektif etika Hindu, perempuan memainkan peran penting dalam masyarakat. Pria dan wanita memiliki pijakan yang sama dan harus bekerja sama erat sebagai sebuah tim. Inilah keadaan yang sempurna, sebagaimana Dewa Brahma memiliki Dewi Saraswati. Dewa Wisnu memiliki Dewi Sri, dan Dewa Siwa memiliki Dewi Durga (Sri Utari. Fungsi Gender dalam Upakara Wiwaha Salah satu peran utama simbol agama yakni untuk mewakili sesuatu yang tidak terlihat oleh indra dalam pengalaman profan . Simbol yakni sarana komunikasi yang kuat yang memiliki kekuatan untuk menyatukan umat manusia dengan realitas suci ataupun kosmik yang Simbol tidak monolitik dalam arti hanya mencerminkan satu ideologi ataupun jenis kognisi. sebaliknya, mereka multivalen ataupun polivalen, yang berarti bahwasanya mereka menyampaikan berbagai motif dan dengan demikian mengungkapkan beberapa makna secara bersamaan. Perkawinan dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan keluarga kecil sehat, sejahtera, dan bahagia, memperoleh keturunan suputra, mengadakan kerjasama yang baik dalam kehidupan sosial. Hindu mempersiapkan sarana untuk perempuan dalam berjuang untuk meraih takdirnya, mengolah tubuh kedalam jiwa, mengetahui potensi alam untuk belajar serta memperoleh kebahagiaan darinya. SIMBOL GENDER DALAM UPAKARA WIWAHA DI BALI Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 Ida Ayu Tary Puspa | Made Ika Kusuma Dewi | Ida Bagus Radhakrisnyam Saitya ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X Sarana yang dimaksud yakni empat tahap objek kehidupan . atur purusa arth. , empat tahap tatanan sosial . atur warn. , dan empat tahap rangkaian hidup . atur asram. Sebagai pemimpin perempuan bisa menjadi inovator dalam berkontribusi untuk pemenuhan sarana catur purusaartha, catur warna, dan catur asrama secara kontekstual (Subadra, 2. Upakara dalam pawiwahan yang termasuk niasa ataupun simbol dalam memuja Hyang Widhi yang berfungsi agar umat lebih terpusat dalam memuja-Nya. Pada upacara wiwaha kedua mempelai dengan rasa bhakti dan tulus mengabdikan dirinya pada agama sehingga tercipta hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dengan sesama, dan alam semesta. Dengan demikian tujuan hidup bersama akan terwujud. Bentuk banten dalam upacara pawiwahan bisa dijadikan alat konsentrasi dalam memuja sehingga penyyatuan dua manusia ini bisa memberi manfaat dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Fungsi estetis bisa terpancar dalam penggunaan warna dalam simbol banten. melalui reringgitan, tetiasan, dan tetandingan yang serasi bisa menenteramkan dan menyejukkan jiwa. Makna simbol Gender dalam Upacara Wiwaha Utama . 5: 43-. menyatakan bahwasanya dalam upacara perkawinan terdapat upacara mejauman ataupun ngaba tipat bantal. Kata mejauman Berasal dari istilah jaum dan benang, jaum. Jaum memiliki beberapa arti, namun di sini mengacu pada penyatuan keluarga purusa . engantin pri. dan keluarga pradana . engantin wanit. , yang diwakili oleh tipat Perpaduan simbol seks maskulin bantal dan tipat simbol seks feminin nampaknya menjadi inspirasi terciptanya bantal tipat. Demikian pula terdapat penggunaan keris yang dipegang oleh pengantin laki-laki sebagai simbol laki-laki dan tikeh dadakan/tikar sebagai simbol perempuan. Setelah upacara mekala-kalaan, maka pengantin perempuan akan memegang tikeh dadakan itu dan ditoreh oleh keris oleh pengantin laki-laki sebagai simbol virginitas. Menurut Wiana . , bingkisan yang diberikan kepada Hyang Widhi bukanlah barang yang bisa dimakan. Agama Hindu menganggap SIMBOL GENDER DALAM UPAKARA WIWAHA DI BALI https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 Banten sebagai bahasa simbol suci. Banten yakni bahasa simbol yang dipakai untuk menggambarkan prinsip-prinsip Hindu. Simbol gender dalam upacara Wiwaha mestinya bisa dijadikan pegangan oleh setiap pasangan dalam perkawinan untuk menghargai dan menghormati Walaupiun adat dan budaya yakni patriarki, namun semakin baik relasi yang dibangun antara laki-laki dan perempuan dalam perkawinan, maka akan membentuk relasi gender yang baik. Paritas gender dalam lambang upacara Pawiwahan dipandang sebagai kompromi yang disebut keseimbangan, yang menurut teori ekuilibrium menonjolkan pengertian kolaborasi dan keharmonisan dalam interaksi antara perempuan dan laki-laki. Perspektif ini tidak mendiskriminasi laki-laki ataupun perempuan karena kedua jenis kelamin sangat penting untuk keberhasilan kelompok mana pun. Kesetaraan dan keadilan gender tidak bisa diterapkan secara universal ataupun berdasarkan perhitungan matematis yang abstrak. sebaliknya, mereka harus mempertimbangkan lingkungan spesifik di mana mereka diimplementasikan. Memperhatikan tantangan dan kondisi yang unik pada suatu wilayah dan periode tertentu bisa membantu mewujudkan kesetaraan gender. Maksud gagasan ini yakni bahwasanya laki-laki dan perempuan harus bekerja sama untuk mencapai kesetaraan gender. Gagasan equilibrium, sering dikenal sebagai teori equilibrium, mendukung kesetaraan dan saling menghormati antara jenis kelamin. Karena kedua jenis kelamin sama pentingnya untuk berfungsinya masyarakat secara luas, perspektif ini tidak mendukung jenis kelamin mana pun di atas yang lain. Untuk menerapkan konsep ini, setiap program dan rencana pembangunan harus mempertimbangkan kebutuhan unik laki-laki dan perempuan. Kedua bagian tersebut tidak bersaing satu sama lain melainkan bekerja sama secara harmonis. Menurut R. Tawney . alam Fitri, 2. , peran orang dalam kehidupan berbeda-beda karena berbagai alasan termasuk biologi, etnis, aspirasi, minat, dan preferensi pribadi serta latar belakang budaya gratis, gratis, berdasarkan keinginan untuk kebersamaan untuk membantu hubungan yang damai. mereka paling menggambar- Ida Ayu Tary Puspa | Made Ika Kusuma Dewi | Ida Bagus Radhakrisnyam Saitya Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X kan dinamika antara perempuan dan laki-laki daripada oposisi biner stereotip atau fungsi Hal ini disebabkan karena kedua kelompok tersebut memasukkan representasi perempuan dari dewi Hindu Ardhanareswari, yang melambangkan kesetaraan jenis kelamin dan kesetaraan otoritas antara laki-laki dan Kekuatan seorang wanita sering Tokoh mitologis Durgamahisa-suramandini menunjukkan hal tersebut. Dalam legenda India, hanya ilmu sihir Siwa yang berwujud Dewi Durga yang dapat menghancurkan raksasa bernama Raktawijaya yang kebal terhadap keperkasaan dewa. Durga sang dewi berubah menjadi kerbau untuk membunuh raksasa Raktawijaya (Titib, 2003: . Mitologi tersebut menerangkan bahwasanya seorang wanita bisa mengalahkan musuh yang tidak bisa dikalahkan oleh laki-laki. Kekuatan tersebut tidak hanya dimiliki oleh kaum laki-laki, namun kaum wanita juga memiliki kekuatan yang besar bahkan melebihi kaum laki-laki. Hal ini berarti wanita sejatinya setara dengan laki-laki. Inilah wujud aspek ardhanareswari dari Tuhan yang Tunggal. Tuhan, yang Esa, membagi diri-Nya menjadi dua, laki-laki dan Lingga yoni adalah representasi dari dua kualitas ini. Menurut Ritiaksa . , . , lingga merepresentasikan energi laki-laki, sedangkan yoni merepresentasikan energi feminin. Masing-masing pihak memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing yang harus diseimbangkan dan dilengkapi oleh yang lain. Dengan demikian, lambang upacara wiwaha mengungkapkan pentingnya kesetaraan gender dalam ritual tersebut. IV. SIMPULAN Laki-laki dan perempuan Hindu-Bali memiliki kekuatan, perawakan, dan kemampuan yang sama untuk membuat keputusan cepat dalam mengejar kehidupan yang utuh, sebagaimana diwakili oleh tanda kesetaraan gender. Menurut Sudharta . 6:92-. Ardsha mengimplikasikan separuh, separuh yang sama, mengacu pada pengertian gender ardanareswari di Bali. Seorang nara adalah pria manusia. Seorang wanita disebut sebagai Iswari. Sebagai belahan atas, langit, dan belahan bawah, bumi, masing-masing memiliki misi, kekuatan yang seimbang untuk mencapai keharmonisan alam dan keberadaan manusia di planet ini, sebuah inkarnasi tidak akan lengkap tanpa aspek feminin. DAFTAR PUSTAKA