AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 Studi Analisis Nilai-Nilai Melayu tentang Birrul Walidayn dalam Tafsir Nur Al-Ihsan (Telaah teori Sosio-Kultura. Jurnal Ilmu AlQurAoan dan Tafsir Eep Nafis Khamdani1. IstiAoAnatul Machmudah2. Alwi Hanifan Fauzi3. Nur Amniar Rizkoh4. Ahmad Mughisul Lafani5 Universitas Islam Negeri Prof. H Saifuddin Zuhri Purwokerto. Indonesia Nafiskhamdani708@gmil. com1, istianatulmachmudah@gmail. alwihanifanfauzi@gmail. com3, amnirizkoh@gmail. lafaniahmadmughis@gmail. Submitted: 30th June 2025 | Edited: 29th July 2025 | Issued: 01st September 2025 Cited on: Khamdani. Machmudah. Fauzi. Rizkoh. , & Lafani, . Studi Analisis Nilai-Nilai Melayu tentang Birrul Walidayn dalam Tafsir Nur Al-Ihsan (Telaah teori Sosio-Kultura. Jurnal Ilmu AlQurAoan dan Tafsir. AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis, 5. , 12981307. ABSTRACT The Malay community is widely known for upholding noble values deeply rooted in their language, behavior, and daily practices. This study investigates how these Malay cultural values are integrated into the interpretation of Surah Al-IsraAo verses 23Ae25 concerning birrul walidayn . utifulness to parent. as presented in Tafsir Nur Al-Ihsan by Sheikh Muhammad Sa'id bin 'Umar al-Falimbani. The research adopts a qualitative method using content analysis and a socio-cultural approach, with data collected through library research involving primary and secondary sources. The findings reveal that the interpretation in Tafsir Nur Al-Ihsan harmoniously combines textual and contextual meanings, reflecting essential elements of Malay values such as obedience and piety, etiquette, social care, and cultural identity. These values are embedded not only in the textual interpretation but also in the behavioral guidance provided to the Furthermore, the use of the Malay-Jawi language in the tafsir reinforces its accessibility and relevance for the local community. The study concludes that Tafsir Nur Al-Ihsan serves not only as a religious exegesis but also as a cultural medium that bridges Islamic teachings with local wisdom. This research contributes to the development of context-based tafsir studies in Southeast Asia and emphasizes the importance of integrating religious texts with social and cultural perspectives to foster a more grounded and dynamic understanding of Islam. Keywords: Malay Values. Tafsir Nur Al-Ihsan. Birrul Walidayn. Socio-Cultural Approach. Islamic Interpretation PENDAHULUAN Tafsir merupakan proses interpretasi terhadap Al-QurAoan yang tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, budaya, dan latar belakang penafsirnya. Tafsir bukan sekadar pemahaman terhadap teks suci, melainkan juga refleksi dari nilai-nilai, pengalaman, dan dinamika masyarakat tempat tafsir itu lahir (Abubakar, 2. Dalam AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 konteks ini, tafsir tidak hanya menampilkan pemaknaan religius, tetapi juga menjadi sarana pewarisan budaya dan identitas suatu komunitas. Salah satu karya tafsir yang mencerminkan hal tersebut adalah Tafsir Nur AlIhsan karya Syekh Muhammad SaAoid bin AoUmar al-Falimbani, seorang ulama Melayu abad ke-19. Ditulis dalam bahasa Melayu dengan aksara Jawi, tafsir ini menyajikan pemahaman Al-QurAoan secara sederhana namun bermakna dalam konteks budaya masyarakat Melayu (Yusuff et al. , 2. Gaya penyampaiannya yang komunikatif mencerminkan ikhtiar sang penafsir untuk menjadikan Al-QurAoan dapat diakses oleh umat Islam yang tidak menguasai bahasa Arab. Budaya Melayu dikenal menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan adab, terutama dalam hal relasi antara anak dan orang tua. Nilai birrul walidaynAiberbuat baik kepada kedua orang tuaAibukan hanya tuntunan agama, tetapi juga bagian integral dari etos budaya Melayu (Mukhlis, 2. Nilai ini tercermin dalam berbagai bentuk ekspresi budaya, mulai dari pepatah, sastra lisan, hingga sistem pendidikan keluarga. Integrasi antara nilai-nilai keislaman dan adat Melayu inilah yang menjadi fokus penting dalam kajian tafsir lokal. Berbagai penelitian terdahulu lebih banyak membahas aspek metodologis Tafsir Nur Al-Ihsan maupun ciri khas kebahasaan dan penafsirannya (Khaleda, 2020. Rahman et al. , 2. Sementara itu, kajian tentang nilai-nilai Islam dalam budaya Melayu telah banyak dikaji melalui sastra dan cerita rakyat (Hanafiah & Yaacob, 2. Namun, penelitian khusus yang membahas integrasi nilai-nilai budaya Melayu dalam penafsiran ayat-ayat tertentu dalam Al-QurAoan, khususnya tentang birrul walidayn, masih sangat Oleh karena itu, penelitian ini berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis bagaimana nilai-nilai budaya Melayu termanifestasi dalam penafsiran Surah Al-IsraAo ayat 23Ae25 dalam Tafsir Nur Al-Ihsan. Penelitian ini penting untuk menunjukkan bahwa pemahaman tafsir tidaklah netral, melainkan dipengaruhi oleh konteks sosial-budaya mufassir serta nilai-nilai lokal yang hidup dalam masyarakatnya (Wardani, 2020. Mubhar et al. , 2. Kajian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan tafsir kontekstual di Asia Tenggara, tetapi juga memperkuat posisi tafsir sebagai medium dialog antara teks wahyu dan budaya. AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 LANDASAN TEORI Penafsiran Al-QurAoan tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya masyarakat tempat seorang mufassir hidup. Dalam teori sosio-kultural, pemahaman seseorang terhadap teks sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, interaksi budaya, serta konstruksi nilai yang membentuk cara pandang masyarakat (Vygotsky, 1978, dalam Yustika & Izzah, 2. Oleh karena itu, tafsir sebagai bentuk pemahaman terhadap wahyu bersifat kontekstual dan senantiasa berinteraksi dengan nilai-nilai lokal. Menurut Luth . , pendekatan sosio-kultural dalam tafsir memosisikan AlQurAoan sebagai teks yang terbuka terhadap nilai-nilai hidup masyarakat, selama nilai tersebut tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Dalam konteks masyarakat Melayu, nilai-nilai seperti tata krama, ketaatan kepada orang tua, kepedulian sosial, dan identitas budaya merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial sekaligus keagamaan. Nilainilai ini kemudian menjadi lensa interpretatif bagi mufassir lokal, seperti yang dilakukan oleh Syekh Muhammad SaAoid bin AoUmar al-Falimbani dalam Tafsir Nur AlIhsan. Tafsir kontekstual sebagaimana dijelaskan oleh Sahal . , menekankan pentingnya mempertimbangkan latar historis, sosial, dan budaya dalam memahami makna Al-QurAoan. Tafsir tidak hanya dipahami sebagai upaya linguistik, tetapi juga sebagai refleksi sosial. Di sinilah pentingnya pendekatan interdisipliner antara ilmu tafsir dan ilmu sosial, seperti sosiologi dan antropologi budaya, untuk membangun pemahaman Islam yang kontekstual dan fungsional (Aziz, 2. Konteks ini sejalan dengan konsep local wisdom dalam interpretasi keislaman. Menurut Nurjaman . , kearifan lokal bukan hanya pelengkap tafsir, tetapi juga dapat berfungsi sebagai medium dakwah kultural. Penafsiran yang memperhatikan budaya setempat memungkinkan pesan Al-QurAoan menjadi lebih relevan dan membumi, sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai karya tafsir Nusantara seperti Tafsir Al-Azhar. Marah Labid, dan Nur Al-Ihsan. Lebih lanjut, pendekatan sosio-kultural juga dapat memperkuat nilai pendidikan Zaini . menyatakan bahwa tafsir yang selaras dengan nilai-nilai budaya dapat dijadikan sebagai instrumen pendidikan moral dan pembentukan akhlak. Dalam hal ini, birrul walidayn tidak hanya menjadi kewajiban agama, tetapi juga ekspresi budaya yang tertanam dalam keseharian masyarakat Melayu. AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 Dengan demikian, landasan teori dalam penelitian ini bertumpu pada pendekatan tafsir sosio-kultural yang memadukan antara teks dan konteks, serta menekankan pentingnya pemahaman lokal dalam membentuk makna religius. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengkaji Tafsir Nur Al-Ihsan sebagai hasil dialog antara wahyu Ilahi dan budaya Melayu. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan . ibrary researc. yang berorientasi pada analisis isi . ontent analysi. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menggali secara mendalam kandungan teks keagamaan, khususnya dalam menganalisis penafsiran ayat-ayat Al-QurAoan yang sarat dengan dimensi sosial dan budaya. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti memahami makna yang tersembunyi di balik teks, serta menelusuri keterkaitan antara tafsir dan konteks budaya masyarakat tempat tafsir tersebut lahir (Moleong, 2. Data utama dalam penelitian ini diperoleh dari kitab Tafsir Nur Al-Ihsan karya Syekh Muhammad SaAoid bin AoUmar al-Falimbani, khususnya penafsiran terhadap Surah Al-IsraAo ayat 23Ae25. Selain itu, digunakan pula sumber data sekunder berupa buku, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian yang berkaitan dengan budaya Melayu, konsep birrul walidayn, teori sosio-kultural, serta studi tafsir lokal. Kriteria pemilihan data didasarkan pada relevansi terhadap fokus penelitian dan validitas akademik sumber. Proses analisis dilakukan melalui tiga tahap utama, yaitu reduksi data, kategorisasi tema, dan interpretasi. Reduksi dilakukan dengan memilih kutipan dan penjelasan dalam tafsir yang berhubungan langsung dengan nilai-nilai budaya Melayu. Selanjutnya, dilakukan kategorisasi tematik terhadap nilai-nilai tersebut seperti nilai ketaatan, tata krama, kepedulian, dan jati diri dalam kerangka teori sosio-kultural. Interpretasi dilakukan dengan memadukan teks tafsir dan konteks budaya secara dialogis, untuk menemukan makna-makna tersirat yang memperkuat pemahaman terhadap nilai birrul walidayn dalam perspektif masyarakat Melayu (Farida & Susanto, 2. Keabsahan data dijaga melalui teknik triangulasi sumber dan rujukan silang antar Validasi interpretasi dilakukan dengan menelusuri konsistensi antara penjelasan tafsir dan nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat Melayu kontemporer (Setiawan, 2. Selain itu, peneliti juga merujuk pada pendekatan AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 hermeneutik lokal yang menekankan pentingnya memperhatikan struktur bahasa, simbol budaya, dan pola pikir masyarakat dalam memahami teks keagamaan (Ardiansyah, 2. Dengan metode ini, penelitian diharapkan dapat menggambarkan keterpaduan antara isi tafsir dan nilai-nilai sosio-kultural, sekaligus memberikan kontribusi dalam pengembangan tafsir kontekstual berbasis kearifan lokal. HASIL PENELITIAN Pendekatan Sosio-Kultural Masyarakat Melayu Budaya Melayu merupakan sistem nilai yang menyatu dengan ajaran Islam, membentuk karakter masyarakat yang religius dan beradab. Nilai-nilai seperti ketaatan, sopan santun, tanggung jawab, dan kasih sayang menjadi elemen kunci yang memengaruhi perilaku sosial, termasuk dalam memperlakukan orang tua. Dalam konteks ini, nilai birrul walidayn dipahami sebagai bagian dari identitas keislaman dan kebudayaan Melayu. Penelitian ini menunjukkan bahwa Tafsir Nur Al-Ihsan menafsirkan Surah AlIsraAo ayat 23Ae25 dengan mengedepankan prinsip etika sosial dan keagamaan yang selaras dengan budaya Melayu. Ayat 23, misalnya, diinterpretasikan dengan menekankan larangan menyekutukan Allah dan kewajiban berbuat baik kepada orang tua, tanpa mengucapkan perkataan kasar seperti AuuffAy, serta perintah untuk memuliakan dan menghormati mereka. Temuan ini sejalan dengan penelitian Rosyidah . , yang menemukan bahwa tafsir lokal cenderung memasukkan nilai-nilai budaya dalam membentuk pemahaman moral keagamaan. Penafsiran yang kontekstual seperti ini memperkuat relasi antara wahyu dan kearifan lokal. Tata Krama dan Etika dalam Tafsir Nilai tata krama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Melayu tercermin dalam tafsir ayat 24, yang memerintahkan agar anak-anak bersikap lembut dan penuh kasih kepada orang tua serta mendoakan mereka dengan doa: "Rabbirhamhuma kama rabbayani shaghira" Penafsiran Syaikh Muhammad SaAoid terhadap ayat ini menekankan perilaku lembut, rendah hati, dan kasih sayang sebagai manifestasi dari tata krama Islami yang AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 diinternalisasi dalam budaya Melayu. Nilai ini juga ditopang oleh ungkapan-ungkapan tradisional seperti pantun dan peribahasa yang memperkuat adab terhadap orang tua. Penafsiran ini mendukung temuan Anwar . , yang menyatakan bahwa norma kesopanan dalam budaya Melayu telah mengalami Islamisasi sejak abad ke-19, dan tafsir menjadi instrumen penting dalam transformasi nilai tersebut ke dalam praktik Kepedulian Sosial dan Konstruksi Identitas Ayat 25 menekankan kesadaran batin dan pentingnya tobat apabila pernah lalai terhadap orang tua. Dalam Tafsir Nur Al-Ihsan, penafsiran terhadap ayat ini tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga moral kolektif dalam menjaga keharmonisan Penjelasan seperti: AuTuhan lebih mengetahui isi hati kamuAAy diartikan sebagai dorongan untuk selalu introspeksi dan memperbaiki hubungan dengan orang tua melalui amal saleh. Aspek ini merepresentasikan nilai kepedulian dan tanggung jawab moral yang kuat dalam masyarakat Melayu. Hal ini diperkuat oleh penelitian Syahputra dan Rahmi . , yang menyatakan bahwa tafsir lokal seperti Nur Al-Ihsan mampu membumikan nilai-nilai QurAoani dalam narasi budaya, menjadikan praktik sosial seperti penghormatan terhadap orang tua sebagai bagian dari identitas religius Melayu. Penafsiran Surah Al-IsraAo Ayat 23Ae25 dalam Tafsir Nur Al-Ihsan Tafsir Nur Al-Ihsan menggunakan metode tafsir ijmali, yaitu penafsiran ringkas namun menyeluruh dengan bahasa yang mudah dipahami. Ditulis dalam bahasa Melayu-Jawi, tafsir ini disusun mengikuti urutan mushaf agar mudah diakses oleh masyarakat Melayu (Rahman dkk. , 2018. Suri, 2. Dalam menafsirkan Surah Al-IsraAo ayat 23Ae25. Syaikh Muhammad SaAoid bin AoUmar al-Falimbani menekankan pentingnya akhlak kepada orang tua sebagai bagian dari birrul walidayn. Ayat 23 mengajarkan untuk: Tidak menyekutukan Allah. Berbuat baik kepada orang tua. Tidak berkata kasar atau menghina . ermasuk ucapan AuuffA. Menghormati dan memuliakan orang tua. Bersikap lemah lembut dalam bertutur. AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 Ayat 24 menekankan perilaku rendah hati, penuh kasih sayang, serta mendoakan kedua orang tua secara rutin, terutama setelah sholat, dengan doa: "Rabbirhamhuma kamaa rabbayani shaghira". Tafsir ini menegaskan bahwa birrul walidayn mencakup tindakan, ucapan, dan doa yang mencerminkan penghormatan dan cinta kasih mendalam terhadap kedua orang tua. AA acO UA ca AacA a A aI aN aI aE aI aac OI acOA Penafsiran Surat Al-IsraAo ayat 25 pada Tafsir Nur Al-Ihsan adalah sebagai AoBermula Tuhan kamu itu terlebih ketahui dengan barang yang dalam hati kamu daripada qasad berbuat kebaikan pada ibu-bapa atau qasad durhaka. Jika ada pada kamu sholih sekalian toat surah Allah dan tukah-Nya maka bahwasanya adalah Allah TaAoala bagi segala orang yang bertaubat daripada maksiat itu umat, mengampuni bagi segala dosa yang keluar daripada mereka itu pada hak dua ibu-bapa mereka itu dan pada hak Allah TaAoala dan Rosul-NyaAo Ayat 23Ae25 Surah Al-IsraAo dalam Tafsir Nur Al-Ihsan menegaskan bahwa segala perilaku terhadap orang tua, baik yang mulia maupun durhaka, diketahui oleh Allah, dan dosa tersebut dapat diampuni jika disertai taubat. Tafsir ini tidak hanya memuat makna tersurat, tetapi juga pesan tersirat tentang akhlak kepada Allah dan orang tua. Akhlak kepada Allah tercermin dari perintah beriman dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana ditunjukkan melalui istilah seperti sholih, taat, dan hak Allah dan RasulNya. Sementara itu, akhlak kepada orang tua dijelaskan secara rinci, seperti larangan berkata AuhuffAy . ata kasar atau menghin. , kewajiban memuliakan orang tua, tidak membentak (A)OaE a eI aN eNa aIA, a serta menggunakan ucapan yang mulia (A)Ca eO aE E aaO IA. Penjelasan ini menunjukkan bahwa Syaikh Muhammad SaAoid bin AoUmar al-Falimbani sangat menekankan pentingnya penghormatan dan kebaikan kepada orang tua dalam kehidupan beragama. Integrasi Tafsir dan Budaya Lokal Temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa Tafsir Nur Al-Ihsan bukan hanya menafsirkan ayat secara tekstual, tetapi mengintegrasikan tafsir dengan nilai-nilai sosial dan budaya lokal. Bahasa yang digunakan (Melayu-Jaw. , gaya penyampaian sederhana, serta kedekatan dengan budaya pembaca menjadi kekuatan utama tafsir ini dalam membentuk pemahaman moral masyarakat Melayu. Konsep ini diperkuat oleh teori tafsir kontekstual yang dikemukakan oleh Sahal . , di mana Al-QurAoan dipahami tidak secara statis, tetapi responsif terhadap nilai AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 dan dinamika sosial. Pendekatan seperti ini juga diadopsi dalam Tafsir Al-Azhar karya HAMKA, yang menjadi model tafsir budaya yang menjembatani teks dan konteks (Isnaini, 2. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Tafsir Nur Al-Ihsan karya Syekh Muhammad SaAoid bin AoUmar al-Falimbani menafsirkan Surah Al-IsraAo ayat 23Ae25 secara kontekstual, dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya Melayu ke dalam pemaknaan ayat tentang birrul walidayn. Nilai-nilai seperti ketaatan, tata krama, kepedulian, dan jati diri tidak hanya hadir sebagai norma sosial, tetapi juga tercermin dalam praktik keagamaan masyarakat Melayu melalui tafsir tersebut. Tafsir ini tidak hanya menjelaskan pesan-pesan etika QurAoani secara tekstual, tetapi juga menyesuaikan dengan realitas sosial masyarakat lokal. Penggunaan bahasa Melayu-Jawi dan gaya penulisan yang komunikatif menjadikan Tafsir Nur Al-Ihsan sebagai jembatan antara wahyu ilahi dan kearifan lokal, sekaligus media pendidikan moral yang relevan lintas generasi. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan sosio-kultural dalam tafsir memiliki potensi besar dalam memperkaya pemahaman Al-QurAoan secara kontekstual. Integrasi tafsir dan budaya membuka ruang dialog antara teks dan realitas masyarakat, serta memperkuat peran tafsir dalam pembentukan karakter dan identitas umat Islam. Dengan pengembangan kajian tafsir lokal, tetapi juga menjadi landasan awal bagi model pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam dan budaya. Tafsir seperti Nur Al-Ihsan patut terus dikaji, diperkenalkan, dan dijadikan referensi dalam pembangunan budaya QurAoani yang berakar pada kearifan lokal. DAFTAR PUSTAKA