Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 KEGIATAN INESIAN MEMBENTUK KARAKTER RELIGIUS ANAK USIA 3-4 TAHUN DI KB KATOLIK SANTA CLARA SURABAYA BERDASARKAN TEORI THOMAS LICKONA Christabel Anneke. Regina Christine Takumansang Universitas Katolik Widya Mandala. Surabaya anneke@gmail. com, regina@ukwms. Abstract This study observes how Inesian educative activities form the religious character of children aged 3-4 years. The Inesian educative approach emphasizes nurturing the Catholic faith and values of Beata Maria Ines Teresa Arias in children. Inesian activities are unique because they focus on different values from the values taught in other Catholic schools in Surabaya. The study takes a qualitative approach to observe the case study of Santa Clara Catholic Kindergarten in Surabaya. The data sources for this study are the observation of B2 Kindergarten children and interviews with Inesian activity teachers which were collected in the 7 days of study period. The Miles & Huberman model was used to analyze the data in this study. The results of this study show that Inesian activities can form the religious and daily character of the observed children by reinforcing consistent habits in school. Keywords: inesian activities. religious character. age 3-4 years PENDAHULUAN Aspek nilai, agama, dan moral sangat penting diajarkan sejak anak usia dini karena dasar untuk mengembangkan kepribadian dan perilaku yang bermartabat dan berakhlak. Salah satu contoh aspek nilai, agama, dan moral ini yaitu karakter Hal ini disebabkan karakter religius mencakup sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama yang didalamnya berisi nilai-nilai etika dan moral (Hestiana, 2. Karakter religius menjadi panduan bagi anak untuk berperilaku dan bersikap dengan benar. Anak yang memiliki karakter religius dapat memiliki pengetahuan dan menerapkan sikap agamanya (Novitasari, 2. Dengan membangun karakter religius sejak usia dini, maka anak dapat menghargai dan mengikuti ajaran agama. Karakter ini sangat penting agar anak dapat bertindak untuk perkembangan pribadi yaitu memiliki integritas, empati, tanggung jawab, dan interaksi sosial. Selain itu, pembentukan karakter religius tidak hanya bermanfaat untuk perkembangan spiritual anak, tetapi juga untuk perkembangan sosial dan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Karakter religius yang baik dapat membantu anak untuk membangun hubungan yang positif dengan orang lain, serta mengembangkan empati, kejujuran, dan rasa tanggung jawab. Anak yang memiliki karakter religius umumnya memiliki keteguhan dalam keyakinan, kepatuhan dalam beribadah, menjaga hubungan baik sesama manusia dan alam sekitar (Fathurrohmah, 2. Karakter religius anak menunjukkan keyakinan yang kuat terhadap ajaran agama yang dianutnya. Hal ini juga membentuk anak memiliki sikap bersemangat dan pantang menyerah, menghargai orang lain, menghormati orang tua, patuh, mandiri, tenang, suka membantu, bersosialisasi (Suprihatiningsih, 2. Keyakinan ini memberikan panduan karakter religius dalam menjalani kehidupan sehari-hari sehingga anak memiliki prinsip bertindak yang jelas. Penerapan karakter religius sangat dibutuhkan untuk mengatasi degradasi moral yang dialami oleh anak-anak saat ini. Menurut Windi (Zai, 2. , dalam mengatasi kondisi degradasi moral di era saat ini maka diperlukan penanaman karakter religius yang merupakan aspek terpenting dalam membentuk dan memperbaiki kepribadian seseorang demi terciptanya masyarakat yang berkarakter. Hal ini sejalan dengan (Salsabila, 2. , degradasi moral di era sekarang ini sering terjadi di kalangan anak dan remaja. Hal ini dapat diatasi dengan memperkuat karakter religius melalui pembekalan pendidikan agama. Karakter religius menjadi kunci utama dalam menanggulangi kondisi degradasi moral yang terjadi sekarang Salah satu contoh kondisi degradasi moral sekarang ini yaitu konten negatif dari aplikasi YouTube . ornografi, horor dan kekerasa. yang ditonton anak dan remaja (Pramesthi, 2. Anak yang sejak dini memiliki karakter religius lebih mampu mengenali dan menghindari perilaku yang dapat mengarah pada degradasi moral (Fatin, 2. Nilai-nilai dalam karakter religius dapat membantu menjaga diri anak dari tindakan yang kurang baik. Kemudian, anak mengembangkan kesadaran untuk peka terhadap situasi yang mengarah pada perilaku tidak etis dan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi tindakan yang tidak sesuai. Anak diharapkan mampu berperilaku dengan ukuran baik dan buruk yang didasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama. Ramdhani (Wulandari, 2. , di era modern perlu menanamkan nilai-nilai religius yang kuat pada anak-anak sejak Hal ini disebabkan saat Indonesia emas 2045, manusia tidak hanya unggul dalam bidang kemampuan dan keterampilan penguasaan teknologi, tetapi memiliki kualitas karakter yang positif terutama religius dalam hidup bermasyarakat. Pembentukan karakter religius dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak hanya menumbuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter anak agar memiliki akhlak mulia, beriman, dan berbudaya. Oleh karena itu, anak-anak tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri, lingkungan, dan bangsa. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Anak yang memiliki karakter religius akan terlihat dari pengetahuan, perasaan dan sikap dalam diri. Pada buku Lickona . yang berjudul AuEducating for Character: How Our Schools can Teach Respect and ResponbilityAy, menekankan bahwa karakter religius menjadi acuan utama yang membawa manusia untuk membentuk kehidupan yang positif. Nilai religius pada setiap agama memiliki kesamaan, artinya manusia dibentuk untuk memiliki sikap cinta kepada Tuhan, sesama, dan lingkungan yang akhirnya membentuk seseorang memiliki karakter religius. Selain itu. Lickona menyatakan karakter seseorang berkaitann dengan moral knowing . engetahuan mora. , moral feeling . erasaan mora. , dan moral action . indakan mora. (Loloagin, 2. Komponen ini menjadi alat ukur untuk mengetahui seseorang memiliki karakter religius yang baik dan benar. Di Indonesia, karakter religius merupakan fokus penting dalam kurikulum pendidikan nasional, khususnya jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hal ini disebabkan Indonesia merupakan negara yang menganut agama yang didasarkan falsafah negara yaitu Pancasila terutama pada sila pertama AuKetuhanan Yang Maha EsaAy. Pembentukan karakter religius telah ada sejak masa era tradisional terutama dalam bentuk pendidikan agama di Indonesia (Laili, 2. Karakter religius anak dibentuk melalui kegiatan pembelajaran dan menjadi inti . dari sebuah kurikulum sebagai pemegang kunci utama keberhasilan dalam bidang pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, setiap peserta didik perlu memiliki karakter religius melalui pembelajaran yang dirancang oleh guru. Cara yang dapat dilakukan untuk membentuk karakter religius anak usia dini yaitu melibatkan anak dengan kegiatan bermain yang menyenangkan. Kegiatan bermain menjadi sarana anak usia dini untuk mengubah tenaga potensial dalam diri anak sehingga membentuk macam-macam penguasaan untuk kehidupan yang akan datang (Hayati, 2. Anak usia dini mengenali dunia sekitar melalui pengalaman yang didapatkan selama bermain. Kegiatan bermain memberikan rangsangan pada anak untuk melakukan berbagai tugas perkembangannya. Pembentukan karakter religius melalui kegiatan bermain yang menyenangkan perlu dilakukan agar anak usia dini dapat menunjukkan sikap religius yang benar. Pembentukan karakter religius anak usia 3-4 tahun perlu dibentuk melalui kegiatan yang menyenangkan, dan mengenalkan karakter religius secara konkret. Berdasarkan teori kognitif Jean Piaget menyatakan anak usia 3-4 tahun berada dalam tahap praoperasional, anak-anak mulai mengembangkan pemikiran simbolik dan imajinasi, namun pemikiran anak masih sangat konkret dan egosentris (Nainggolan, 2. Dalam konteks pembentukan karakter religus, anak-anak usia 3-4 tahun dengan karakteristik cara berfikir simbolik dan imajinasi dapat memahami dan berinteraksi melalui cerita tokoh dan simbol agama. Anak dapat mulai memahami konsep-konsep agama melalui permainan yang menyenangkan secara konkret. Kegiatan yang konkret dan menyenangkan sesuai usia anak sangat Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 dibutuhkan agar menanamkan karakter religius anak. Salah satu pendekatan yang dapat di terapkan yaitu kegitan Inesian. Berdasarkan hasil observasi anak usia 3-4 tahun di KB Katolik Santa Clara Surabaya karakter religius dibentuk melalui kegiatan Inesian. Kegiatan Inesian di KB Katolik Santa Clara Surabaya yaitu kegiatan mengenalkan Tuhan Yesus dan Iman Katolik melalui kehidupan Beata Maria Ines Teresa Arias yang merupakan pendiri kongregasi Misionaris Claris (MC). Kegiatan Inesian ini dibentuk dengan kegiatan bermain konkret yang menyenangkan. Nilai-nilai kegiatan Inesian berbeda dari sekolah Katolik lainnya karena kegiatan Inesian memiliki nilai keutamaan yang Tiga nilai keutamaan yang khas yaitu kegembiraan, kesederhanaan dan Hal ini dilakukan sebagai bagian dari pembentukan karakter religius sejak dini. Pembentukan karakter religius melalui kegiatan Inesian untuk usia 3-4 tahun dilakukan dengan mengajak anak-anak mengenal konsep kesederhanaan. Konsep ini dikenalkan melalui kegiatan bermain, seperti membuat celengan, dan menabung, mengenal sukacita melalui dongeng interaktif. Aktivitas secara langsung ini dapat membantu anak usia 3-4 tahun untuk menghubungkan pengajaran agama dengan pengalaman sehari-hari dan memahami nilai-nilai yang diajarkan dalam pembentukan karakter religius. Kegiatan Inesian ini membuat anak usia 3-4 tahun mengenal Tuhan Yesus, mengenal Beata Maria Ines Teresa Arias, dan mempraktikkan ajaran agama Katolik dalam kegiatan bermain yang menyenangkan sesuai tahap praoperasional. Penelitian sebelumnya menerapkan pembentukan karakter religius dengan pendekatan, dan usia yang berbeda. Pada peneltian Dyahningtyas . , pembentukan karakter religius menggunakan pendekatan proyek AuMini BibleAy yang menggunakan kegiatan bermain secara konkret menyenangkan sehingga membentuk karakter iman Katolik yang berbudi pekerti serta dapat mengembangkan aspek nilai agama, motorik, kognitif, bahasa, dan emosi. Namun, penelitian terdahulu dilaksanakan dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional yang mengenalkan ayat Kitab Suci dengan peserta didik kelompok B, usia 5-6 tahun. Kegiatan Inesian memberikan sumbangsih dalam membentuk karakter religius anak usia dini yang diterapkan pada usia 3-4 tahun. Selain itu, kegiatan ini telah dimasukkan ke dalam kurikulum kegiatan bermain anak dengan mengenalkan iman Katolik sekaligus pendiri kongregasi Pada penelitian ini memiliki keunikan 3 nilai keutamaan Beata Maria Ines Teresa Arias yaitu cinta kasih, kesedehanaan, dan kepercayaan dan Tuhan Yesus yang diajarkan kepada anak melalui kegiatan inesian. Berbeda dengan penelitan terdahulu yang berfokus pada proyek AuMini BibleAy saja. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti melakukan penelitian dengan judul AuKegiatan Inesian Membentuk Karakter Religius Anak Usia 3-4 Tahun di KB Katolik Santa Clara Surabaya Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Berdasarkan Teori Thomas Lickona. Ay Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kegiatan Inesian membentuk karakter religius anak usia 3-4 tahun berdasarkan teori Thomas Lickona? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan kegiatan Inesian dalam membentuk karakter religius anak usia 3-4 tahun berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Thomas Lickona. II. PEMBAHASAN Kajian Teori Teori Kognitif Jean Piaget Teori belajar kognitif yang dikemukakan oleh Jean Piaget merupakan salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak dapat beradaptasi dengan lingkungan, pengalaman, serta kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya. Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas dunia. Proses belajar pada anak-anak, menurut Piaget, dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain lingkungan fisik, kematangan, dan pengaruh sosial. Dalam kerangka teorinya. Piaget mengemukakan bahwa proses belajar terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi atau penyeimbangan (Al Ayyubi, 2. Tahap asimilasi merupakan proses kognitif ketika seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep, atau pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Selanjutnya, tahap akomodasi merujuk pada proses penyesuaian skema yang telah dimiliki agar sesuai dengan informasi atau pengalaman baru yang diperoleh ketika anak menghadapi suatu rangsangan yang belum pernah dialami sebelumnya. Adapun tahap ekuilibrasi merupakan proses penyeimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga anak mampu membentuk pemahaman baru yang lebih stabil terhadap Selain menjelaskan proses belajar. Jean Piaget juga mengemukakan tahapan perkembangan kognitif anak yang terdiri atas empat tahap, yaitu tahap sensorimotor . -2 tahu. , tahap pra-operasional . -7 tahu. , tahap operasional konkret . -11 tahu. , dan tahap operasional formal . tahun ke ata. (Purnamasari, 2. Dalam penelitian ini, fokus kajian adalah pada anak usia 3-4 tahun, yang berada dalam rentang tahap pra-operasional. Ciri utama dari tahap ini adalah penggunaan simbol atau tanda, seperti bahasa, serta mulai berkembangnya konsep-konsep Tahap pra-operasional sendiri terbagi menjadi dua bagian, yakni pemikiran pra-konseptual . sia sekitar 2-4 tahu. dan pemikiran intuitif . sia sekitar 4-7 Pada tahap pemikiran pra-konseptual, anak mulai merepresentasikan objek melalui bahasa, gambar, dan permainan khayalan. Sementara itu, pada periode Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 pemikiran intuitif, anak cenderung merepresentasikan suatu objek berdasarkan pengalaman pribadi, bukan berdasarkan penalaran logis. Teori Perkembangan Moral Kolberg Teori perkembangan moral Kohlberg mendefinisikan penalaran moral individu sebagai penilaian nilai, sosial, dan kewajiban yang mengikat dalam melakukan tindakan (Fauzi, 2. Kohlberg mengemukakan bahwa penalaran moral merupakan suatu pemikiran mengenai masalah moral. Pemikiran moral merupakan prinsip yang digunakan untuk menilai dan melakukan suatu tindakan dalam situasi moral. Kohlberg menjelaskan 3 tahap bagaimana individu mengembangkan pemahaman moral yaitu Pra-konvensional . -10 tahu. , konvensional, dan pasca-konvensional . tahun ke ata. Penelitian ini membahas anak usia 3-4 tahun, sehingga masuk tahap prakonvensional yang terbagi tahap 1 . rientasi hukuman dan kepatuha. dan tahap 2 . rientasi relativis-instrumenta. Pada tahap 1 . rientasi hukuman dan kepatuha. , anak mendasarkan perbuatannya atas otoritas konkret . dan atas hukuman yang akan menyusul, apabila anak tidak patuh (Hanafiah, 2. Perspektif anak belum memandang kepentingan orang lain, namun kepentingan diri sendiri. Pada tahap 2 . rientasi relativis-instrumenta. , anak mendasarkan perbuatan adalah baik, apabila dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan kebutuhan orang lain. Anak mulai menyadari kepentingan orang lain juga, namun hubungan antara manusia dianggapnya seperti hubungan timbal balik. Kegiatan Inesian Kegiatan Inesian merupakan kegiatan yang menekankan pada penanaman nilai-nilai religius Katolik serta nilai keutamaan yang diwariskan oleh Beata Maria Ines Teresa Arias. Istilah AuInesianAy diambil dari nama pendiri Kongregasi Misionaris Claris (MC), yaitu Beata Maria Ines Teresa Arias. Kongregasi MC memiliki karisma misioner yang berpusat pada Yesus dalam Ekaristi yang ditahtakan dalam Sakramen Mahakudus. Karisma ini dihidupi dalam semangat kegembiraan, kesederhanaan, dan kepercayaan melalui spiritualitas yang bersifat misioner, imami, marian, ekaristis, dan penuh sukacita (Claris, 2. Kegiatan Inesian merupakan salah satu bentuk karya nyata Kongregasi MC dalam menerapkan nilai-nilai keutamaan yang diajarkan oleh pendirinya. Di KB Katolik Santa Clara, kegiatan ini mulai dilaksanakan sejak tahun 2021. Sejak dicetuskan, kegiatan ini telah terbukti mampu membentuk sikap dan perilaku anak yang berkarakter, khususnya karakter religius yang sesuai dengan nilai-nilai Katolik. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menanamkan nilai religius sekaligus nilai-nilai keutamaan Inesian kepada anak usia dini, agar anak mampu menghidupi nilai-nilai tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari secara nyata Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 dan sesuai dengan prinsip hidup Kristiani. Dengan demikian, anak diharapkan mampu menunjukkan karakter religius dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berbangsa. Pelaksanaan kegiatan Inesian dilakukan melalui proses pembelajaran yang berlangsung setiap hari Rabu. Pada awal bulan, anak-anak dikenalkan pada tema yang berkaitan dengan tokoh atau kisah dalam Kitab Suci. Sementara itu, pada minggu-minggu berikutnya, mereka diajak mengenal dan memahami ajaran serta keteladanan hidup Beata Maria Ines Teresa Arias. Dalam kegiatan ini, terdapat tiga nilai keutamaan yang secara khusus diajarkan dan ditanamkan kepada anak-anak, yakni kegembiraan, kesederhanaan, dan kepercayaan. Kegembiraan dimaknai sebagai sikap hati yang menciptakan suasana atau perasaan senang. Pada anakanak, nilai ini tampak dalam sikap aktif bermain, percaya diri, serta ekspresi wajah yang ceria dan penuh senyum. Kesederhanaan dipahami sebagai kebiasaan atau perilaku yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan, tanpa menunjukkan sikap berlebihan atau kecenderungan terhadap kemewahan. Nilai ini tercermin dalam tindakan anak seperti memaafkan dan meminta maaf, menaati aturan yang berlaku, serta merapikan mainan yang telah Sementara itu, kepercayaan berarti berserah dan percaya kepada Allah serta Sabda-Nya. Wujud konkret dari nilai ini dalam diri anak tampak melalui sikap menghargai dan merawat ciptaan Tuhan, mandiri tanpa terlalu bergantung pada orang lain, serta kemampuan untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan yang baru. Melalui kegiatan Inesian, nilai-nilai keutamaan tersebut tidak hanya diajarkan, tetapi juga dihidupi dan dilatih secara konsisten dalam kehidupan anak sehari-hari, sehingga menjadi bagian dari karakter yang terus tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan usia mereka. Karakter Religius Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda dengan orang lain. Menurut Yanti . , karakter merupakan sifat atau ciri kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Karakter manusia ditunjukkan dengan perilaku yang dilakukan secara langsung. Konsep ini sejalan dengan Lickona . berpendapat bahwa karakter adalah apa yang seseorang lakukan saat tidak ada orang yang melihat. Istilah religius merujuk pada konsep agama (Rena, 2. Hal ini dapat diartikan bahwa agama memiliki sifat pembatasan dan pengaturan dalam interaksi antara manusia dan Tuhan. Dalam konteks agama, hubungan tersebut tidak hanya mencakup keterkaitan dengan Tuhan, melainkan juga melibatkan interaksi dengan sesama manusia, masyarakat, dan lingkungan Religius adalah ketertarikan dan ketaatan seseorang terhadap ajaran agamanya, yang diaktualisasikan dengan berperilaku sesuai dengan perintah Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 agamanya (Arlina, 2. Orang yang beragama tidak hanya mengetahui semua perintah dan larangan agamanya, tetapi mereka juga melakukan dan mematuhi semua perintah agama dan meninggalkan semua larangan. Karakter religius adalah karakter yang dimiliki untuk menunjukkan kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Kana, 2. Manusia menjadikan agama sebagai pegangan dalam segala perkataan, sikap, dan tindakannya, mentaati perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Karakter religius memiliki signifikansi yang besar, sejalan dengan prinsip Pancasila yang menegaskan bahwa masyarakat di Indonesia meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa, serta tercermin dalam pelaksanaan seluruh ajaran agama. Teori Thomas Lickona Dalam bukunya yang berjudul Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Thomas Lickona . menekankan bahwa karakter berkaitan erat dengan tiga komponen utama, yaitu pengetahuan moral . oral knowin. , perasaan moral . oral feelin. , dan perilaku moral . oral Ketiga komponen ini menjadi landasan pembentukan karakter yang baik . ood characte. , yakni karakter yang dibangun atas dasar pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, serta kebiasaan dalam melakukan perbuatan baik. Dalam konteks pendidikan religius, ketiga komponen tersebut sangat relevan karena anak diajarkan untuk memahami nilai-nilai agama yang mencakup dimensi moral sebagai dasar dalam membangun karakter religius. Komponen pertama adalah moral knowing atau pengetahuan tentang moral. Menurut Lickona, hal ini mencerminkan kemampuan seseorang untuk mengetahui, memahami, dan mempertimbangkan apa yang seharusnya dilakukan dan yang seharusnya ditinggalkan. Dalam konteks religius, pengetahuan moral menjadi sangat penting karena dapat membimbing seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan berdasarkan ajaran agama. Komponen ini mencakup beberapa aspek, antara lain moral awareness, yaitu kesadaran seseorang untuk menggunakan akal dan daya intelektualnya dalam membedakan baik dan buruk serta mempertimbangkan tindakan yang seharusnya dilakukan. Dalam konteks religius, kesadaran ini muncul saat seseorang menilai suatu tindakan berdasarkan pertimbangan apakah hal tersebut benar dan diperbolehkan menurut ajaran agama. Selanjutnya, knowing moral values mengacu pada pemahaman seseorang terhadap nilai-nilai moral seperti menghormati kehidupan, kebebasan, tanggung jawab, kejujuran, keadilan, toleransi, sopan santun, disiplin diri, integritas, kasih sayang, dan keberanian. Dalam konteks religius, nilai-nilai ini menjadi panduan hidup yang mencerminkan kesalehan serta komitmen terhadap prinsip-prinsip kebaikan universal. Perspective-taking merupakan kemampuan untuk mengambil sudut pandang orang lain dan memahami kondisi atau perasaan mereka. Dalam konteks religius, kemampuan ini mencerminkan sikap empati yang mendalam dan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 kesediaan untuk melihat kehidupan dari pandangan iman orang lain. Penalaran moral atau moral reasoning merujuk pada pemahaman seseorang mengenai apa artinya menjadi orang baik dan mengapa seseorang harus melakukan kebaikan. Ini berkaitan erat dengan refleksi terhadap nilai-nilai religius dalam menentukan pilihan hidup. Decision making atau pengambilan keputusan merupakan kemampuan seseorang dalam merancang langkah-langkah menghadapi persoalan moral secara reflektif, yang dalam konteks religius mencakup kemampuan untuk merenungkan tindakan berdasarkan nilai dan ajaran agama. Adapun self-knowledge atau pengetahuan diri sendiri adalah aspek yang paling menantang dalam pengetahuan moral, karena menuntut seseorang untuk mengembangkan kapasitas reflektif yang tinggi terhadap perilaku diri, termasuk melakukan evaluasi kritis terhadap tindakannya berdasarkan nilai religius. Komponen kedua adalah moral feeling atau perasaan tentang moral, yang merujuk pada kemampuan untuk membangun kecintaan terhadap perilaku baik. Perasaan ini menjadi sumber energi bagi anak untuk melakukan tindakan baik, sebab mengetahui apa yang benar belum tentu cukup untuk mendorong seseorang berperilaku benar. Dalam konteks religius, perasaan moral menjadi sangat penting karena seseorang dapat saja mengetahui nilai-nilai kebaikan, namun tetap salah dalam membuat pilihan. Salah satu unsur penting dari perasaan moral adalah conscience atau hati nurani, yang mencakup kesadaran akan apa yang baik dan buruk serta perasaan bersalah saat melakukan kejahatan. Dalam ajaran agama, hati nurani berperan sebagai suara batin yang membimbing seseorang untuk tetap berada di jalan yang benar. Self-esteem atau harga diri juga berperan penting dalam pembentukan karakter religius. Seseorang yang memiliki harga diri yang baik akan memandang dirinya sebagai pribadi yang bernilai dan bermartabat, serta memiliki kecenderungan untuk memperlakukan orang lain secara positif. Dalam konteks religius, pemahaman positif terhadap diri sendiri akan tercermin dalam cara seseorang memperlakukan sesama sebagai sesama ciptaan Tuhan. Empathy atau empati merupakan kemampuan memahami dan merasakan keadaan orang lain, sekaligus memiliki dorongan untuk mencintai kebaikan. Ini menjadi wujud dari kasih dalam praktik keagamaan, di mana seseorang terdorong untuk membantu sesama dengan kasih tanpa pamrih. Selanjutnya, loving the good atau mencintai hal-hal yang baik merupakan indikasi dari seseorang yang bukan hanya memahami kewajiban moral, tetapi juga memiliki hasrat untuk melakukannya. Dalam konteks religius, hal ini tercermin dalam kesukaan melakukan tindakan-tindakan baik sesuai ajaran iman, bukan sekadar kewajiban, melainkan karena dorongan hati yang tulus. Self-control atau pengendalian diri merujuk pada kemampuan untuk mengendalikan emosi dan dorongan-dorongan negatif, seperti amarah atau kesedihan yang berlebihan. Dalam Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 kehidupan religius, pengendalian diri sangat penting untuk menghindari tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama. Terakhir, humility atau kerendahan hati merupakan sikap yang menjadi penjaga terhadap kesombongan dan dorongan untuk berbuat jahat. Kerendahan hati menjadi wujud afektif dari kesadaran diri dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan. Komponen ketiga dalam teori Lickona adalah moral behavior atau tindakan moral, yang merupakan hasil nyata dari kombinasi antara pengetahuan dan perasaan Dalam konteks religius, ketika seseorang memiliki pengetahuan dan emosi yang baik, maka secara alami ia terdorong untuk melakukan tindakan yang benar menurut iman yang dianut. Competence atau kompetensi moral berarti seseorang memiliki kemampuan untuk menerjemahkan pengetahuan dan perasaannya menjadi tindakan moral yang efektif. Ini mencakup kemampuan untuk bertindak benar dalam situasi nyata berdasarkan prinsip-prinsip agama. Will atau kemauan adalah tekad untuk melaksanakan tindakan-tindakan yang selaras dengan nilai religius, termasuk kemauan untuk mendahulukan kewajiban agama daripada kesenangan pribadi serta kemauan untuk melawan godaan. Terakhir, habit atau kebiasaan menunjukkan bahwa perilaku baik merupakan hasil dari latihan yang terus-menerus. Anak-anak yang mendapatkan pengalaman berulang dalam menjalani hidup religius akan membentuk kebiasaan baik yang mencerminkan karakter religius dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami ketiga komponen tersebut secara holistik, dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter religius tidak hanya bergantung pada aspek kognitif atau pengetahuan tentang nilai-nilai agama, melainkan juga melibatkan aspek afektif dan psikomotorik yang berwujud dalam tindakan nyata. Metodologi Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif . ualitatif researc. dengan jenis penelitian studi kasus . ase stud. Pada penelitian ini membutuhkan kehadiran peneliti sebagai pengamat subjek penelitian dan pengumpul data yang dilakukan di KB Katolik Santa Clara Surabaya pada bulan Januari hingga Maret 2025. Sumber data penelitian ini yaitu data primer . bservasi anak KB-B. , dan data sekunder . awancara guru pengajar inesian, dan dokumentasi foto penelitia. Instrumen pengumpulan data terdiri dari observasi anak berdasarkan komponen pembentukan karakter religius dari teori Thomas Lickona, dan wawancara guru mengenai karakter religius dan kegiatan inesian. Teknik analisis data menggunakan model Miles & Huberman yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, menyajikan data, dan penarikan kesimpulan. Disamping itu, teknik pengecekan keabsahan temuan dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Hasil Penelitian dan Diskusi Berdasarkan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa kegiatan Inesian yang dilaksanakan oleh guru berperan dalam membentuk karakter religius anak usia 3-4 tahun di kelompok KB-B2. Seluruh kegiatan Inesian menekankan nilai-nilai religius Katolik serta tiga nilai keutamaan Beata Maria Ines Teresa Arias. Hal ini tercermin dalam komponen pembentukan karakter religius sebagaimana dikemukakan oleh Thomas Lickona . , yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Dalam aspek moral knowing . engetahuan tentang mora. , anak-anak menunjukkan kemampuan untuk mengenali dan memahami nilai-nilai moral. Hal ini tercermin dari perilaku anak yang dapat berbagi saat bermain dan mengucapkan kata-kata sopan seperti Auterima kasih,Ay Autolong,Ay dan Aumaaf. Ay Observasi menunjukkan bahwa anak-anak di kelompok KB-B2 mampu membagikan mainan kepada teman serta mengucapkan kata-kata tersebut dalam konteks kegiatan harian, seperti saat menggunakan atau melepas celemek. Perilaku ini menunjukkan bahwa anak memiliki kemampuan untuk mengetahui dan mempertimbangkan tindakan yang patut dilakukan. Temuan ini sejalan dengan pendapat Rena . yang menyatakan bahwa seseorang yang mengetahui nilai moral berarti memahami kehidupan religius serta cara menerapkannya dalam hubungan sosial. Guru Inesian di KB Katolik Santa Clara Surabaya memiliki peran penting dalam memberikan teladan secara langsung, sehingga anak-anak terbiasa melakukan perilaku religius. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, karakter religius anak masih dalam tahap perkembangan, sehingga peran guru dalam membimbing dan memberi contoh menjadi sangat penting. Hal ini sejalan dengan teori kognitif Piaget (Al Ayyubi, 2. yang menjelaskan bahwa karakter religius anak terbentuk melalui proses belajar yang melibatkan tiga tahapan, yaitu asimilasi . eniruan skem. , akomodasi . ntegrasi pengalama. , dan ekuilibrasi . enyeimbangan pengalaman baru dengan struktur yang telah ad. Pada aspek moral feeling . erasaan tentang mora. , anak-anak menunjukkan adanya hati nurani dan empati terhadap orang lain. Hasil observasi memperlihatkan bahwa anak dapat menolong teman yang tidak sengaja menjatuhkan mainannya saat bermain, serta memberikan pujian atau tepuk tangan ketika teman berhasil menyelesaikan kegiatan. Perilaku ini menunjukkan bahwa anak memiliki kepekaan terhadap kondisi orang lain dan mencintai hal-hal yang baik sesuai dengan ajaran Temuan ini sejalan dengan pendapat Kana . yang menyatakan bahwa anak yang memiliki perasaan moral akan menunjukkan kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui tindakan nyata. Hal ini diperkuat oleh Arlina . yang menegaskan bahwa orang beragama tidak hanya mengetahui perintah dan larangan agamanya, tetapi juga melaksanakan dan mematuhinya secara konsisten. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Selanjutnya, dalam aspek moral action . indakan tentang mora. , anak-anak menunjukkan kemauan untuk melakukan kebaikan serta kebiasaan dalam menjalankan perilaku religius. Observasi menunjukkan bahwa anak bersemangat dalam mengikuti berbagai kegiatan, seperti kegiatan pembuka, mendengarkan dongeng tokoh Kitab Suci atau Beata Maria Ines Teresa Arias, tanya jawab, bernyanyi dan bergerak, bermain, hingga kegiatan penutup. Selain itu, anak dibiasakan untuk melakukan tindakan baik secara konsisten, seperti menyapa guru dan teman, mencuci tangan, berbaris, mengantri, membuang sampah pada tempatnya, serta mengembalikan mainan ke tempat semula. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa anak memiliki kemampuan untuk melaksanakan kewajiban dan membentuk perilaku baik yang dilakukan secara berulang sesuai nilai-nilai Guru kegiatan Inesian menyatakan bahwa pembentukan karakter religius anak dilakukan melalui kegiatan religius, pembiasaan, dan konsistensi. Guru juga berperan dalam mengajarkan, membimbing, dan memberikan contoh secara Hal ini sejalan dengan teori moral Kohlberg (Hanafiah, 2. yang menjelaskan bahwa anak usia 3-4 tahun berada pada tahap pra-konvensional, di mana mereka patuh terhadap otoritas konkret . dan perilaku mereka didasarkan pada hubungan timbal balik dengan orang lain. Penelitian ini menemukan bahwa karakter religius anak di kelompok KBB2 di KB Katolik Santa Clara Surabaya dibangun melalui pembiasaan dalam kegiatan Inesian yang konsisten, seperti pengenalan jargon AuAnak Inesian,Ay lagu AuAku Anak Inesian,Ay dan lagu AuKasih Yesus Indah. Ay Pembiasaan ini membantu anak-anak untuk mengenal, memiliki, dan menerapkan tiga nilai keutamaan Beata Maria Ines Teresa Arias. Hal ini sejalan dengan pendapat Claris . yang menyatakan bahwa kegiatan Inesian dirancang untuk membentuk perilaku berkarakter dengan menanamkan nilai religius Katolik. Selain itu, hasil wawancara dengan guru juga menegaskan bahwa kegiatan Inesian berkaitan erat dengan pembentukan karakter religius dan berkontribusi dalam mengubah sikap yang kurang baik menjadi perilaku yang benar. Sejalan dengan pendapat Melani . , pembentukan karakter religius anak tidak hanya bergantung pada keluarga dan masyarakat, tetapi juga pada peran sekolah sebagai tempat strategis untuk membangun karakter religius dalam rangka menciptakan generasi muda yang berakhlak mulia. PENUTUP Kesimpulan Kegiatan Inesian yang dilakukan di KB Katolik Santa Clara Surabaya membentuk karakter religius anak KB-B2. Karakter religius anak terlihat berdasarkan landasaan teori Thomas Lickona mengenai komponen karakter religius yang terdiri dari moral knowing . engetahuan tentang mora. , moral feeling Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 . erasaan tentang mora. , dan moral action . indakan tentang mora. Selain membentuk karakter religius, tetapi juga membentuk pembiasaan karakter seharihari dalam diri anak KB-B2. Pembiasaan karakter sehari-hari seperti perilaku mengucapkan kata AutolongAy atau Auterima kasihAy. Selain itu, pembentukan karakter religius melalui kegiatan Inesian juga membentuk anak untuk mengenal, memahami, menerapkan, dan mencintai perilaku baik dan benar. Dengan demikian, kebiasaan karakter religius sejak dini dapat membentuk anak memiliki pribadi mencintai Tuhan, sesama dan lingkungan dengan menjalankan ajaran agama dan menjauhi segala larangan. Saran Peran pendidik sangat besar dalam membentuk karakter religius anak. Oleh karena itu, pendidik sebaiknya membentuk karakter religius secara berkelanjutan melalui keteladanan dalam perilaku, sikap, dan tutur kata yang baik serta benar. Misalnya, guru memberikan contoh dengan membuang sampah pada tempatnya, mengucapkan kata Auterima kasihAy ketika dibantu atau menerima sesuatu, serta menghindari penggunaan kata-kata negatif seperti AubodohAy. Keteladanan ini akan menjadi panutan bagi anak-anak dalam membentuk sikap religius mereka sejak usia Selain pendidik, peran orang tua juga sangat penting dalam proses pembentukan karakter religius anak. Dalam konteks kegiatan Inesian yang dikaji dalam penelitian ini, orang tua diharapkan dapat meluangkan waktu untuk terlibat secara aktif bersama anak. Kegiatan tersebut dapat berupa membaca buku cerita yang mengandung nilai-nilai religius, bermain bersama, serta melakukan tanya jawab yang mengarah pada pemahaman anak terhadap nilai-nilai keimanan. Contohnya, orang tua bersama anak membaca buku cerita mengenai Aukelahiran Tuhan YesusAy, lalu mendiskusikan makna cerita tersebut dengan anak, dan melanjutkannya dengan kegiatan bermain yang menyenangkan namun tetap bermuatan nilai. Ke depan, peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperluas cakupan penelitian, misalnya dengan mengkaji kegiatan Inesian dalam kaitannya dengan aspek-aspek perkembangan lainnya. Selain itu, penelitian juga dapat diarahkan pada kegiatan atau program lain yang berpotensi membentuk karakter religius anak, khususnya kegiatan yang menjadi kekhasan institusi PAUD. Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai upaya pembentukan karakter religius anak sejak usia dini. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 DAFTAR PUSTAKA