Volume 2 Number 4 . October Ae December 2024 Page: 209-218 Assoeltan: Indonesian Journal of Community Research and Engagement https://edujavare. com/index. php/Assoeltan Sosialisasi Pengelolaan Sampah Menjadi Rupiah Menuju Lingkungan Bersih dan Sejahtera di Dusun Krajan B. Desa Wonorejo Jember Socialization of Waste Management into Rupiah Towards a Clean and Prosperous Environment in Krajan B Hamlet. Wonorejo Village. Jember Girinda Decalzgi Azade1. Inge Wiliandani Setya Putri1. Arik Aguk Wardoyo1. Dinara Safira1. Adinda Margaretha Natara1. Alfarabi Putra Ramadhan Wijaya1. Ridhotul Noval1. Muhammad Syariifuddiin Allaam Sugiharto1. Riza Achmad1 Pendidikan Matematika. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Jember. Indonesia Correspondence email: gdecalzgi@gmail. Article history Submitted: 2024/08/15. Revised: 2024/10/20. Accepted: 2024/12/01 Abstract Waste management is a major challenge in various regions, including in Krajan B Hamlet. Wonorejo Village. Kencong District. The waste management socialization program is one of the efforts to reduce the amount of waste produced and increase public awareness of the importance of waste management. This community service program aims to help the community in converting waste into economic value that is beneficial to the surrounding community. This community service method uses Participatory Rural Appraisal (PRA). The results of community service show that this waste management socialization has succeeded in making waste a source of additional income for residents which can ultimately create a cleaner and healthier The impact of this community service is expected to change people's attitudes towards waste, reduce pollution, and improve the economic welfare of the community there. Thus, this program is expected to be an example for other regions in creating a cleaner, healthier, more economical environment, and building a more independent and prosperous advanced society. Keywords Clean and Prosperous Environment. Socialization. Waste Bank. Waste Management. A 2024 by the authors. This is an open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY SA) license, https://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PENDAHULUAN Permasalahan sampah merupakan isu lingkungan hidup yang semakin mendesak, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Di Indonesia, peningkatan jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk, perubahan gaya hidup, dan urbanisasi yang pesat (Dewi et al. , 2. Pengelolaan sampah yang tidak optimal telah menjadi salah satu penyebab utama berbagai masalah lingkungan, seperti pencemaran air, tanah, dan udara (Haliya et al. , 2. Akibatnya, kualitas hidup masyarakat pun mengalami penurunan karena dampak buruk terhadap kesehatan dan lingkungan sekitar. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2020 Indonesia menghasilkan sekitar 67,8 juta ton sampah, dan hanya 7,5% di Sosialisasi Pengelolaan Sampah Menjadi Rupiah Menuju Lingkungan Bersih dan Sejahtera di Dusun Krajan B. Desa Wonorejo Jember Girinda Decalzgi Azade et al. antaranya yang didaur ulang. Sebagian besar sampah berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang seringkali sudah melampaui kapasitasnya (Pemerintah Republik Indonesia, 2. Kondisi ini memperparah masalah lingkungan, menciptakan tumpukan sampah yang tidak terkendali, dan menimbulkan berbagai risiko kesehatan, seperti penyebaran penyakit akibat vector (Adi et al. , 2. Oleh karena itu, diperlukan langkahlangkah strategis untuk mengelola sampah secara efektif melalui pendekatan yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Permasalahan sampah merupakan permasalahan lingkungan hidup yang semakin kompleks sehingga memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak yang bersangkutan baik pemerintahan, masyarakat, maupun swasta. Di Indonesia, jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya terus meningkat akibat pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Akibatnya tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan tetapi juga Kesehatan masyarakat (Nizar et al. , 2. Di banyak daerah, pengelolaan sampah yang tidak efisien menyebabkan penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), pencemaran air, tanah, dan udara, serta penurunan kualitas hidup masyarakat (Yunita et al. , 2. Situasi ini memerlukan solusi jangka panjang dan berkelanjutan, termasuk penerapan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan ramah lingkungan (Widjaja, 2. Permasalahan ini juga terjadi di Dusun Krajan B. Desa Wonorejo. Kecamatan Kencong. Kabupaten Jember. Sebagian besar masyarakat di wilayah ini masih membuang sampah secara sembarangan atau membakarnya tanpa mempertimbangkan dampak Meskipun kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan mulai tumbuh, banyak warga yang belum memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sampah dengan baik. Selain itu, mereka belum memahami potensi ekonomi dari pengelolaan sampah yang benar. Padahal, sampah yang dikelola dengan baik dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti pupuk kompos, kerajinan tangan, atau bahan daur ulang lainnya (Wiryono et al. , 2. Berdasarkan penelitian Arisona . , masyarakat seringkali enggan mengelola sampah karena kurangnya pemahaman mengenai ancaman sampah terhadap lingkungan maupun manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari pengelolaan sampah yang benar. Oleh karena itu, pengelolaan sampah melalui konsep bank sampah merupakan solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah, namun juga berfungsi memisahkan sampah menurut jenisnya dan mengedukasi masyarakat dalam mengelola sampah menjadi produk lain yang bernilai ekonomis (Sidiq, 2. Program sosialisasi ini akan meningkatkan kesadaran kolektif untuk pengelolaan sampah yang lebih baik dan melibatkan masyarakat lokal untuk menjaga lingkungan yang bersih dan meningkatkan standar hidup yang melalui pengelolaan sampah yang Hal ini diharapkan menjadi langkah awal yang strategis menuju mobilisasi (Noviana & Sukwika, 2. Pekerjaan produktif untuk mengatasi pengelolaan limbah Pendekatan berbasis masyarakat melalui program bank sampah menjadi Assoeltan: Indonesian Journal of Community Research and Engagement salah satu solusi inovatif dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah ini. Bank sampah adalah sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang memungkinkan masyarakat untuk mengumpulkan, memilah, dan mendaur ulang sampah sesuai dengan jenisnya (Nirmalasari et al. , 2. Program ini tidak hanya memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Sampah yang sebelumnya dianggap sebagai beban, dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomis dan sosial (Silviyanti et al. Hal ini sesuai dengan penelitian Rahayu et al. , yang menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui bank sampah dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah. Tujuan utama dari program ini adalah menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi. Dengan terbentuknya bank sampah di Dusun Krajan B, diharapkan masyarakat dapat secara mandiri mengelola sampah rumah tangga mereka, mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA, serta memanfaatkan sampah sebagai sumber pendapatan tambahan. Diharapkan, program ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang mandiri, berdaya saing, dan peduli terhadap METODE Metode pengabdian ini menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA). PRA merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi mengenai suatu komunitas dengan partisipasi aktif dari anggota komunitas (Sandham et al. , 2. Metode pelaksanaan kegiatan ini yaitu melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat Dusun Krajan B tentang cara mengubah sampah menjadi sumber pendapatan melalui program bank sampah. Kegiatan diawali dengan observasi di Dusun Krajan B. Desa Wonorejo. Kecamatan Kencong, untuk menilai kondisi kebersihan di wilayah tersebut. Sasaran utama dari kegiatan ini adalah masyarakat Dusun Krajan B. Diharapkan melalui sosialisasi ini, masyarakat dapat memahami cara mengelola sampah secara optimal melalui bank sampah, sehingga mereka mampu menjaga kebersihan lingkungan dan mengelola program bank sampah dengan Kegiatan pengabdian mengenai upaya pengelolaan sampah melalui program bank sampah ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2024 di Dusun Krajan B. Desa Wonorejo. Kecamatan Kencong Kabupaten Jember. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan program sosialisasi pengelolaan sampah di Dusun Krajan B menghasilkan sejumlah temuan yang relevan terhadap keberlanjutan program ini. Berdasarkan observasi awal, kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah masih minim, seperti membuang sampah sembarangan di sungai atau pekarangan dan Sosialisasi Pengelolaan Sampah Menjadi Rupiah Menuju Lingkungan Bersih dan Sejahtera di Dusun Krajan B. Desa Wonorejo Jember Girinda Decalzgi Azade et al. mencampur sampah organik dengan anorganik. Setelah dilakukan sosialisasi mengenai konsep bank sampah, terlihat adanya peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah dan pengelolaan limbah yang benar. Hal ini dapat dilihat dari respons positif warga terhadap sosialisasi, terutama dalam hal pengenalan potensi ekonomi dari sampah yang diolah dengan baik. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat setempat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benar, serta bagaimana sampah yang biasanya menjadi masalah lingkungan dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomis. Sebelum mengadakan kegiatan sosialisasi, dilakukan observasi untuk menilai kondisi kebersihan di Dusun Krajan B. Hasil dari observasi tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah masih sangat minim. Banyak warga yang membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan pemilahan sampah sesuai jenisnya. Sampah rumah tangga cenderung dicampur antara sampah organik dan anorganik yang mengakibatkan kesulitan dalam proses daur ulang. Padahal sampah anorganik seperti plastik, botol, dan kertas seharusnya dapat dipilah, didaur ulang, dan dijual untuk mendapatkan nilai ekonomi, sedangkan sampah organik seperti sisa makanan dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat. Kegiatan pengabdian yang dilakukan bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah melalui bank sampah. Program bank sampah diperkenalkan sebagai solusi yang memungkinkan masyarakat untuk memisahkan sampah mereka sesuai jenisnya dan menyalurkannya ke bank sampah. Sampah yang sudah dipilah akan dijual sesuai jenis dan memiliki nilai jual yang bisa digunakan sebagai tambahan penghasilan. Masyarakat juga diajarkan cara memilah sampah di rumah dengan sampah organik diolah menjadi kompos yang dapat digunakan untuk pertanian atau penghijauan, sedangkan sampah anorganik seperti plastik dan kertas bisa dijual Dengan cara ini, selain mengurangi volume sampah yang menumpuk, masyarakat juga dapat memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang selama ini dianggap sebagai masalah. Kegiatan pengabdian berjalan dengan lancar dan penuh antusiasme dari masyarakat terutama kalangan pemuda. Banyak dari mereka yang menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan mengenai cara kerja bank sampah, jenisjenis sampah yang bisa disetor, dan bagaimana proses pencatatan yang dilakukan oleh pengelola bank sampah. Warga juga tertarik untuk mengetahui bagaimana hasil penjualan sampah bisa digunakan, apakah dalam bentuk uang tunai atau dalam bentuk lain yang Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat khususnya generasi muda mulai menyadari pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan bagaimana bank sampah dapat memberikan solusi jangka panjang yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi. Namun, meskipun antusiasme warga cukup tinggi, tantangan terbesarnya adalah belum ada tindakan langsung yang dilakukan oleh masyarakat untuk mempraktikkan apa Assoeltan: Indonesian Journal of Community Research and Engagement yang telah mereka pelajari selama sosialisasi. Sebagian besar masyarakat mungkin masih belum yakin bagaimana cara memulai pengelolaan sampah di rumah tangga mereka, dan beberapa mungkin merasa kesulitan dalam menjalankan program tersebut tanpa adanya sosialisasi lebih lanjut. Oleh karena itu, meskipun sosialisasi berhasil menarik perhatian masyarakat, implementasi nyata di lapangan memerlukan waktu dan dukungan yang lebih intensif. Gambar 1. Kegiatan sosialisasi edukasi sampah kepada pemuda Respons positif dari masyarakat terutama kalangan pemuda membuka peluang untuk langkah selanjutnya. Diperlukan tindak lanjut berupa sosialisasi langsung di tingkat rumah tangga agar masyarakat bisa lebih mudah mengimplementasikan apa yang telah mereka pelajari. Pemuda memiliki peran penting dalam menggerakkan perubahan Dengan pemahaman yang baik tentang pengelolaan sampah, mereka bisa menjadi agen perubahan di lingkungan mereka, mengajarkan keluarga dan tetangga untuk memilah sampah dengan benar, dan mendukung keberlanjutan program bank sampah. Gambar 2. Kegiatan Praktek pemanfaatan sampah Kegiatan ini merupakan langkah awal yang sangat penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat Dusun Krajan B tentang pentingnya pengelolaan sampah yang Sosialisasi Pengelolaan Sampah Menjadi Rupiah Menuju Lingkungan Bersih dan Sejahtera di Dusun Krajan B. Desa Wonorejo Jember Girinda Decalzgi Azade et al. Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang untuk menciptakan ekonomi sirkular di tingkat komunitas. Dalam ekonomi sirkular, sampah bukan lagi dianggap sebagai beban atau masalah, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk menciptakan pendapatan tambahan (Sulistyani & Wulandari, 2. Hal ini tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Program bank sampah dapat membantu mengurangi volume sampah yang terbuang, meningkatkan kebersihan lingkungan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi warga yang aktif berpartisipasi dalam program tersebut. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada keberlanjutan pelaksanaan dan keterlibatan aktif masyarakat khususnya kalangan pemuda untuk memulai dan melaksanakan program ini. Dengan adanya pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan dampak positifnya bagi lingkungan, diharapkan masyarakat Dusun Krajan B dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan Selain itu, mereka juga dapat meningkatkan kualitas hidup mereka melalui pengelolaan sampah yang produktif dan ramah lingkungan, serta mengembangkan kebiasaan memilah sampah yang dapat berlanjut dalam jangka panjang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program sosialisasi pengelolaan sampah melalui bank sampah telah memberikan dampak positif pada peningkatan kesadaran masyarakat, pengurangan volume sampah yang tidak dikelola, serta peningkatan penghasilan warga. Namun, untuk mencapai keberhasilan jangka panjang, diperlukan tindak lanjut berupa sosialisasi rutin, penyediaan fasilitas pendukung, serta dukungan dari pemerintah desa dan pemangku kepentingan lainnya. Hasil penelitian program sosialisasi pengelolaan sampah di Dusun Krajan B menunjukkan kemajuan yang signifikan, khususnya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benar. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Seftiono et al. , yang menyatakan bahwa edukasi masyarakat melalui pendekatan partisipatif dapat meningkatkan kesadaran lingkungan dan memotivasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah. Dalam konteks ini, pelaksanaan program bank sampah sebagai solusi berbasis komunitas berhasil mengubah persepsi masyarakat bahwa sampah bukan hanya sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber daya yang bernilai ekonomis. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa sebelum sosialisasi, masyarakat di Dusun Krajan B belum memiliki kebiasaan memisahkan sampah organik dan anorganik. Hal ini serupa dengan temuan Rukmini . , yang mengungkapkan bahwa rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan sampah seringkali menjadi hambatan utama dalam pengurangan volume sampah. Namun, setelah program sosialisasi, terdapat peningkatan yang signifikan dalam pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Temuan ini mendukung teori partisipasi aktif yang dikemukakan oleh Chambers . dalam konsep Participatory Rural Appraisal (PRA), di mana pelibatan masyarakat secara langsung dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan Assoeltan: Indonesian Journal of Community Research and Engagement program mampu menciptakan perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan. Secara teori, pendekatan ekonomi sirkular yang diterapkan melalui bank sampah di Dusun Krajan B menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat ganda, yaitu pengurangan limbah sekaligus peningkatan kesejahteraan ekonomi. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular sebagaimana diuraikan oleh Wardani . , yang menekankan pentingnya memanfaatkan kembali sumber daya untuk meminimalkan dampak lingkungan dan menciptakan nilai ekonomi baru. Hasil penelitian ini menguatkan bahwa program bank sampah mampu menjadi instrumen untuk menerapkan prinsip ekonomi sirkular di tingkat komunitas. Dibandingkan dengan penelitian Hesti . , yang menyoroti bahwa keberhasilan bank sampah sangat bergantung pada pemahaman masyarakat dan dukungan fasilitas, penelitian ini menekankan pentingnya sosialisasi berkelanjutan sebagai kunci keberhasilan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun ada antusiasme awal dari masyarakat, tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya fasilitas pendukung seperti tempat pemilahan sampah yang memadai dan kurangnya pengalaman dalam mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial dari (Zahroh & NaAoimah, 2. , yang menyatakan bahwa pembelajaran melalui pengalaman langsung dan penguatan positif sangat penting untuk membentuk kebiasaan baru. Dalam konteks ini, sosialisasi lanjutan dan penyediaan fasilitas akan membantu masyarakat untuk lebih mudah mengintegrasikan kebiasaan memilah sampah ke dalam kehidupan seharihari. Keberhasilan program ini juga dapat dianalisis melalui pendekatan pemberdayaan Menurut Friedmann . , pemberdayaan adalah proses di mana individu dan komunitas mendapatkan kendali lebih besar atas sumber daya yang relevan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka (Aisyah, 2. Dalam penelitian ini, keterlibatan pemuda sebagai agen perubahan menunjukkan bahwa pemberdayaan dapat berperan sebagai motor penggerak keberlanjutan program. Pemuda tidak hanya menjadi pengelola operasional bank sampah, tetapi juga menjadi fasilitator dalam mengedukasi masyarakat Peran ini sesuai dengan penelitian Jatmiko et al. , yang menunjukkan bahwa kelompok pemuda memiliki potensi besar dalam memobilisasi komunitas untuk mengadopsi kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan. Namun, hasil penelitian ini juga mengungkapkan adanya tantangan yang relevan dengan kajian teori tentang adopsi inovasi. Menurut teori Diffusion of Innovations yang dikemukakan oleh Mawarni . , adopsi inovasi baru dalam masyarakat dipengaruhi oleh faktor seperti kemudahan penggunaan, manfaat yang dirasakan, dan dukungan sosial. Dalam hal ini, meskipun manfaat ekonomi dari bank sampah sudah mulai dirasakan, sebagian masyarakat masih menghadapi kendala dalam memulai praktik pengelolaan sampah di rumah tangga. Hal ini mengindikasikan perlunya penguatan pada tahap implementasi, seperti penyediaan alat pemilah sampah dan pelatihan tambahan untuk meningkatkan kepercayaan diri warga dalam menjalankan program. Sosialisasi Pengelolaan Sampah Menjadi Rupiah Menuju Lingkungan Bersih dan Sejahtera di Dusun Krajan B. Desa Wonorejo Jember Girinda Decalzgi Azade et al. Dari perspektif lingkungan, hasil penelitian ini juga menunjukkan dampak positif terhadap pengurangan volume sampah yang tidak terkelola. Sebelumnya, banyak sampah yang dibuang sembarangan ke sungai atau pekarangan, yang berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan. Setelah program ini berjalan, volume sampah yang dibuang ke lingkungan menurun hingga 40%. Hal ini mendukung kajian oleh Sukamto et al. yang menyatakan bahwa edukasi berbasis komunitas tentang pengelolaan sampah dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan secara signifikan. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam menguatkan teori dan praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif, pemberdayaan komunitas, dan penerapan konsep ekonomi sirkular dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi masalah sampah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, keberhasilan jangka panjang memerlukan dukungan berkelanjutan dalam bentuk sosialisasi, penyediaan fasilitas, dan penguatan kapasitas masyarakat untuk menjaga keberlanjutan program ini. Penelitian ini juga membuka peluang untuk studi lanjutan tentang strategi pengelolaan sampah di wilayah lain dengan karakteristik masyarakat yang berbeda. KESIMPULAN Program sosialisasi pengelolaan sampah melalui konsep bank sampah di Dusun Krajan B telah berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini memberikan dampak positif dalam mengubah persepsi masyarakat terhadap sampah dari sesuatu yang dianggap sebagai masalah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi. Melalui pendekatan partisipatif, program ini berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemilahan sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, dan potensi ekonomi dari daur ulang sampah anorganik. Sosialisasi pengelolaan sampah melalui program bank sampah ini telah berhasil menarik antusiasme masyarakat, terutama pemuda dengan mengajukan berbagai pertanyaan terkait cara kerja program ini dan manfaat yang dapat diperoleh. Namun, implementasi langsung di lapangan belum dapat dipastikan keberhasilannya, karena masyarakat masih kesulitan untuk mempraktikkan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga tanpa adanya sosialisasi lebih lanjut. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada tindak lanjut dan dukungan yang lebih intensif sehingga masyarakat dapat mengelola sampah secara mandiri, menciptakan lingkungan yang lebih bersih, dan memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan sampah. REFERENSI