e-ISSN: 2745-8784 Volume 06 Issue 02 Des 2025 DOI: 10. 37253/jad. EKSPLORASI PENGALAMAN PSIKOLOGIS PENGGUNA DALAM RUANG PUBLIK MELALUI OBSERVASI DAN WAWANCARA (STUDI KASUS WARUNG KAMEUMEUT) Fata Habibullah, 2Kharista Astrini Sakya 1Program Studi Magister Desain. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Teknologi Bandung. Bandung 2KK Manusia dan Ruang Interior. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Teknologi Bandung. Bandung Email: mfatahabibullah@gmail. Informasi Naskah Diterima: 21/06/2025. Disetujui terbit: 15/12/2025. Diterbitkan: 31/12/2025. http://journal. id/index. php/jad ABSTRAK Ruang publik informal seperti warung makan sederhana memegang peranan sosial penting, namun pengalaman psikologis pengguna di dalamnya jarang dieksplorasi secara mendalam. Padahal, ruang-ruang ini seringkali menunjukkan vitalitas sosial yang tinggi, tidak seperti ruang publik formal yang terkadang gagal menciptakan interaksi yang aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam pengalaman psikologis pengguna di Warmindo Kameumeut. Bandung, sebagai studi kasus ruang publik informal. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi lapangan dan wawancara informal, penelitian ini menganalisis pengalaman pengguna melalui kerangka tiga dimensi psikologi lingkungan: kognitif, afektif, dan perilaku . Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi kognitif yang positif terhadap elemen desain sederhana seperti pencahayaan alami secara langsung memicu respons afektif berupa rasa nyaman dan keakraban. Siklus positif ini kemudian termanifestasi dalam perilaku konatif yang konsisten, seperti frekuensi kunjungan yang tinggi untuk bersosialisasi, yang mengindikasikan terbentuknya Sense of Place dan transformasi ruang menjadi sebuah Behavior Setting yang stabil. Studi ini menyimpulkan bahwa efektivitas sebuah ruang publik informal tidak ditentukan oleh kompleksitas desain, melainkan oleh kemampuannya mendukung siklus pengalaman psikologis pengguna secara holistik, yang pada akhirnya membentuk ikatan emosional dan makna yang kuat. Kata kunci: psikologi lingkungan, ruang publik informal, sense of place ABSTRACT Informal public spaces, such as simple local eateries, hold a significant social role, yet the psychological experience of their users is rarely explored in depth. These spaces often exhibit high social vitality, unlike formal public spaces that sometimes fail to generate active interaction. This study aims to deeply explore the psychological experience of users at Warmindo Kameumeut. Bandung, as a case study of an informal public space. Using a qualitative approach with field observation and informal interviews, this research analyzes the user experience through the three-dimensional framework of environmental psychology: cognitive, affective, and behavioral . The findings show that a positive cognitive perception of simple design elements, such as natural lighting, directly triggers an affective response of comfort and familiarity. This positive cycle then manifests in consistent conative behaviors, such as a high frequency of visits for socialization, indicating the formation of a Sense of Place and the transformation of the space into a stable Behavior Setting. This study concludes that the effectiveness of an informal public space is not determined by design complexity, but by its ability to holistically support the user's psychological experience cycle, which ultimately forms strong emotional bonds and meaning. Keyword: environmental psychology. informal public space. sense of place -Vol. 06/No. Desember 2025 Eksplorasi Pengalaman Psikologis Pengguna dalam Ruang Publik A/ 1M. Fata Habibullah, 2Kharista Astrini Sakya Pendahuluan Ruang publik yang berkualitas harus memenuhi kriteria inklusivitas, aktivitas bermakna, keamanan, dan kenyamanan, yang semuanya berkontribusi pada pengalaman psikologis positif bagi penggunanya (Imanto, 2. Penelitian terdahulu mengenai ruang publik menegaskan bahwa kualitas ruang tidak hanya ditentukan oleh elemen fisik, tetapi juga oleh pengalaman psikologis pengguna yang melibatkan proses kognitif, afektif, dan perilaku (Sakhaei et al. , 2. , serta keterikatan emosional yang terbentuk melalui memori dan pengalaman personal (Lomas et al. , 2. Dalam konteks ruang publik informal, studi sebelumnya menunjukkan bahwa aktivitas spontan dan sektor informal dapat menciptakan vitalitas sosial yang kuat (Rahma & Marcillia, 2. , namun kajian tersebut umumnya berfokus pada aspek fungsi, ekonomi, atau dinamika teritorial sehingga pembahasan mengenai bagaimana pengalaman psikologis pengguna terbentuk masih terbatas dan belum sistematis. Secara lebih luas, perkembangan penelitian mutakhir menunjukkan bahwa studi ruang publik telah banyak membahas kualitas spasial dan dinamika sosial, tetapi integrasi antara temuantemuan tersebut masih belum menghasilkan pemahaman komprehensif mengenai dimensi psikologis pada ruang informal. Dengan demikian, posisi penelitian ini berada pada irisan antara kajian ruang informal dan psikologi lingkungan, yang hingga kini masih belum dieksplorasi secara memadai. Mengacu pada celah penelitian tersebut, studi ini mengeksplorasi pengalaman psikologis pengguna di Warmindo Kameumeut melalui kerangka kognitifAeafektifAekonatif untuk memahami bagaimana persepsi spasial, suasana emosional, dan pola perilaku berinteraksi dalam membentuk sense of place pada ruang publik informal yang tumbuh secara organik. Meskipun literatur arsitektur dan perencanaan telah menghasilkan berbagai pedoman untuk merancang ruang publik yang ideal, sejumlah penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara intensi desain dan realitas pengalaman pengguna. Pemenuhan standar desain tidak selalu menjamin terciptanya ruang yang aktif secara sosial (Putri et al. , 2. , dan banyak ruang publik formal justru cenderung sepi serta minim aktivitas. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kualitas ruang tidak hanya bergantung pada elemen desain yang terencana, tetapi sangat dipengaruhi oleh interaksi dinamis antara manusia dan lingkungannya. Fenomena tersebut menyoroti perlunya mengalihkan perhatian pada ruang publik informal yang tumbuh secara organik, seperti warmindo, yang meskipun tidak dirancang secara formal, justru sering menunjukkan vitalitas sosial yang lebih tinggi. Namun demikian, kajian ilmiah mengenai ruang informal masih terbatas, khususnya penelitian yang secara sistematis mengeksplorasi pengalaman psikologis pengguna melalui kerangka kognitif, afektif, & Kekosongan inilah yang menjadi gap penelitian utama dan sekaligus dasar urgensi studi ini. Dengan menegaskan gap tersebut secara eksplisit, studi ini berupaya memberikan kejelasan akademik mengenai kontribusi yang ditawarkan, yaitu menjembatani kekurangan penelitian terdahulu dalam memahami pengalaman psikologis pada ruang informal. Gambar 1. Warung Kameumeut. Bandung Sumber: (Pribadi, 2. -Vol. 06/No. Desember 2025 Eksplorasi Pengalaman Psikologis Pengguna dalam Ruang Publik A/ 1M. Fata Habibullah, 2Kharista Astrini Sakya Berangkat dari urgensi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman psikologis pengguna dalam ruang publik informal di Warmindo Kameumeut. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode observasi dan wawancara, studi ini menguraikan secara mendalam bagaimana persepsi spasial . , respons emosional . , dan manifestasi perilaku . saling berinteraksi membentuk totalitas pengalaman pengguna dalam konteks ruang informal. Selain merumuskan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pengalaman psikologis pengguna, penelitian ini juga menawarkan kontribusi teoretis dengan memperluas penerapan konsep behavior setting dan kerangka psikologi lingkungan pada konteks warmindo, sebuah ruang informal yang masih jarang dikaji. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengisi kekosongan literatur, tetapi juga memberikan kontribusi ilmiah berupa perluasan konteks penerapan teori psikologi lingkungan pada ruang informal yang tumbuh secara organik. Secara praktis, temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi perancang atau pengelola ruang makan informal dalam menciptakan ruang yang lebih responsif terhadap kebutuhan psikologis penggunanya. Kajian Pustaka Bagian ini menguraikan landasan teoritis yang digunakan untuk menganalisis pengalaman psikologis pengguna dalam ruang publik informal. Pemahaman mengenai fenomena ini menjadi krusial karena ruang publik, baik formal maupun informal, berperan sebagai arena terbentuknya interaksi sosial dan pengalaman spasial yang memengaruhi kesejahteraan psikologis masyarakat. Aktivitas informal seperti pedagang kaki lima atau warung makan sederhana sering muncul secara organik dan memenuhi kebutuhan sosial serta ekonomi pengguna (Rahma & Marcillia, 2. Namun, keberadaan sektor informal ini juga dapat memunculkan ketegangan antara kenyamanan, kebersihan, dan kualitas lingkungan. Kondisi tersebut menegaskan bahwa analisis ruang informal tidak dapat hanya berfokus pada aspek fisik atau ekonomi, tetapi harus mencakup dimensi subjektif dan pengalaman manusia. Karena itu, kajian pustaka ini tidak hanya merangkum teori, tetapi melakukan sintesis yang menunjukkan bagaimana konsep-konsep kunci saling melengkapi dalam menjelaskan pengalaman psikologis pada ruang informal. Untuk itu, kajian pustaka ini disusun dengan sintesis teori yang mengintegrasikan tiga kelompok konsep utama: . Ruang sosial dan ruang informal, . Teori Third Place, dan . Pendekatan psikologi lingkungan. Ketiganya berfungsi komplementer dalam menjelaskan bagaimana ruang informal seperti warmindo membentuk pengalaman psikologis pengguna. Integrasi ini penting karena masing-masing teori memberi fokus yang berbeda, ruang informal menekankan dinamika sosial. Third Place menyoroti kualitas interaksi dan atmosfer, sedangkan psikologi lingkungan menguraikan proses kognitifAeafektifAekonatif yang jika disatukan dapat membentuk kerangka analitis yang lebih komprehensif. Ruang Publik Informal dan Ruang Sosial Ruang publik informal berkembang sebagai respons organik terhadap kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat, ditandai oleh fleksibilitas ruang, aktivitas spontan, dan kemunculan fungsi sosial yang tidak dirancang secara formal. Berbagai studi menunjukkan bahwa ruang informal seperti warung makan sederhana, pedagang kaki lima, dan kedai lokal berperan sebagai titik temu sosial yang mendukung interaksi antar pengguna dan memperkuat kohesi komunitas (Putri et al. , 2024. Rahma & Marcillia. Penelitian di Indonesia juga memperlihatkan bahwa keberadaan PKL dalam ruang publik berfungsi sebagai penggerak vitalitas area kota, menciptakan titik temu sosial sekaligus ruang berkumpul bagi warga, ruang publik di Stabat yang menunjukkan bahwa pedagang kaki lima tidak hanya menyediakan layanan ekonomi tetapi juga membentuk pola interaksi sosial yang berulang (Luthfi et al. , 2. Aktivitas informal secara konsisten menghasilkan konfigurasi spasial baru yang mendukung keterhubungan sosial serta menghidupkan ruang publik melalui pola penggunaan yang adaptif dan partisipatif (Peimani & Kamalipour, 2. Secara keseluruhan, ruang- -Vol. 06/No. Desember 2025 Eksplorasi Pengalaman Psikologis Pengguna dalam Ruang Publik A/ 1M. Fata Habibullah, 2Kharista Astrini Sakya ruang informal menghadirkan vitalitas sosial yang sering kali tidak tercapai pada ruang publik formal yang dirancang secara top-down. Namun, literatur yang ada masih cenderung memfokuskan perhatian pada aspek ekonomi, legalitas, atau penataan ruang, sehingga analisis mengenai bagaimana ruang informal menghasilkan pengalaman psikologis pengguna masih terbatas. Kesenjangan ini menegaskan perlunya pendekatan konseptual yang mampu menjelaskan peran ruang informal dalam membentuk persepsi, emosi, dan perilaku pengguna secara lebih mendalam. sinilah penelitian ini menempatkan diri, yaitu dengan menggabungkan literatur ruang informal dan pengalaman psikologis guna menjelaskan bagaimana dinamika sosialspasial pada warmindo berkontribusi terhadap pembentukan sense of place. Teori Third Place Konsep Third Place yang dikemukakan memposisikan ruang sosial informal sebagai komponen penting dalam struktur kehidupan sehari-hari (Oldenburg, 2. Third Place didefinisikan sebagai ruang yang netral, egaliter, mudah diakses, dan mampu memfasilitasi percakapan serta interaksi sosial yang berkelanjutan dengan keberadaan regulars sebagai identitas sosial tempat tersebut. Kajian empiris pada kedai kopi lokal, warung komunitas, dan ruang makan kecil menunjukkan bahwa karakteristik sederhana, atmosfer santai, dan kedekatan spasial dapat meningkatkan kenyamanan sosial, memperkuat afeksi terhadap ruang, serta menumbuhkan sense of place (Jeffres et al. , 2009. Waxman, 2. Keselarasan karakteristik Third Place dengan fungsi ruang informal memperlihatkan bahwa warmindo berpotensi beroperasi sebagai Third Place yang autentik. Namun, kajian ilmiah yang menghubungkan warmindo dengan Third Place, khususnya melalui perspektif psikologi lingkungan, masih jarang dilakukan. Dengan menghubungkan konsep Third Place dengan proses kognitifAeafektifAekonatif, penelitian ini menawarkan sintesis baru di mana kualitas atmosfer dan interaksi sosial dijelaskan tidak hanya sebagai fenomena sosial, tetapi juga sebagai pemicu respons psikologis yang kompleks pada pengguna. Pendekatan Psikologi Lingkungan Untuk membedah pengalaman pengguna secara mendalam, penelitian ini mengadopsi pendekatan dari Psikologi Lingkungan. Disiplin ini berfokus pada studi tentang transaksi dan hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan fisiknya (Gifford, 2. Psikologi lingkungan menyediakan kerangka kerja yang kuat untuk memahami bahwa interaksi manusia dengan sebuah ruang bukanlah kejadian tunggal, melainkan sebuah proses dinamis yang berkelanjutan. Proses ini dapat diuraikan melalui tiga dimensi fundamental yang saling memengaruhi: kognitif, afektif, dan perilaku . Ketiganya tidak berjalan secara terpisah, melainkan membentuk sebuah siklus pengalaman yang utuh. Dimensi Kognitif: Memahami dan Memetakan Ruang Dimensi kognitif adalah fondasi dari semua pengalaman. Ini merujuk pada seluruh proses mental yang digunakan individu untuk menerima, memproses, menafsirkan, dan memahami informasi dari lingkungan sekitarnya. Ini adalah tentang bagaimana otak "membaca" sebuah ruang. Proses Inti: Proses ini dimulai dari persepsi sensoris . pa yang dilihat, didengar, diciu. yang kemudian diolah menjadi pemahaman yang lebih kompleks. Ini mencakup bagaimana pengguna mengenali fungsi sebuah area . isalnya, "ini area kasir," "itu area untuk makan"), memahami sirkulasi atau alur pergerakan, dan menilai properti spasial seperti skala, proporsi, dan tata letak (Kaplan & Kaplan, 1. Dimensi Afektif: Merasakan dan Menilai Ruang Setelah ruang diproses secara kognitif, secara otomatis akan muncul respons emosional atau afektif. Dimensi ini adalah tentang "perasaan" yang ditimbulkan oleh lingkungan. Penilaian kognitif terhadap suatu tempat akan menentukan kualitas dan intensitas dari respons afektif yang muncul. Proses Inti: Dimensi afektif mencakup spektrum emosi yang luas, mulai dari perasaan dasar . enang, sedih, taku. hingga kondisi suasana hati . yang -Vol. 06/No. Desember 2025 Eksplorasi Pengalaman Psikologis Pengguna dalam Ruang Publik A/ 1M. Fata Habibullah, 2Kharista Astrini Sakya lebih bertahan lama . erasa rileks, bersemangat, atau jenu. Atmosfer atau "suasana" sebuah tempat adalah manifestasi kolektif dari faktor-faktor yang memengaruhi kondisi afektif pengguna. Dimensi Konatif (Perilak. : Bertindak dan Merespons Ruang Dimensi konatif atau perilaku adalah manifestasi fisik dan tindakan nyata yang dihasilkan dari kombinasi proses kognitif dan afektif. Jika kognisi adalah tentang "berpikir" dan afeksi tentang "merasa", maka konasi adalah tentang "melakukan". Perilaku pengguna adalah data paling kasat mata yang menunjukkan bagaimana mereka sesungguhnya mengalami sebuah ruang. Proses Inti: Perilaku dapat dibagi menjadi dua kategori besar: perilaku mendekat . dan perilaku menghindar . Lingkungan yang menghasilkan respons afektif positif akan mendorong perilaku mendekat, sementara yang negatif akan memicu perilaku menghindar (Mehrabian & Russel. Dengan memahami ketiga dimensi ini secara terpadu, kita dapat melihat bahwa sebuah desain ruang yang sederhana sekalipun mampu memicu rangkaian proses psikologis yang kompleks, yang pada akhirnya menentukan apakah ruang tersebut akan menjadi tempat yang hidup dan dicintai, atau sekadar menjadi ruang fungsional yang dilupakan. Pendekatan ini penting karena melengkapi konsep Third Place dan ruang informal: jika Third Place menjelaskan suasana, dan ruang informal menjelaskan dinamika sosial, maka psikologi lingkungan menjelaskan proses internal yang mengubah suasana dan dinamika tersebut menjadi pengalaman subjektif pengguna. Sintesis ini menegaskan bahwa ruang informal yang sederhana dapat menciptakan pengalaman psikologis yang kaya, terutama jika elemen fisik dan sosialnya mendorong persepsi positif, respons emosional yang menyenangkan, dan perilaku yang berulang. Dengan demikian, integrasi psikologi lingkungan, konsep Third Place, dan kajian ruang informal menjadi dasar penting untuk memahami bagaimana warmindo berfungsi tidak hanya sebagai ruang konsumsi, tetapi juga sebagai ruang sosial dan psikologis yang membentuk sense of place. Pada titik ini, penelitian ini menempati posisi akademik yang jelas, yaitu sebagai studi yang menjembatani kekosongan antara literatur ruang informal yang cenderung fisik-ekonomis dan literatur Third Place yang cenderung sosiologis, dengan menambahkan lapisan analitis berupa proses psikologis kognitifAeafektifAekonatif. Pendekatan ini memberikan kontribusi teoretis dengan menawarkan kerangka integratif untuk menganalisis pengalaman pengguna pada ruang informal organik seperti warmindo, sebuah konteks yang masih jarang dieksplorasi dalam kajian internasional maupun lokal. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi pengalaman psikologis pengguna Warmindo Kameumeut melalui observasi lapangan dan wawancara informal. Observasi non-partisipatif dilakukan pada 20 Mei 2025 pukul 10Ae13. 00 WIB di lokasi warmindo untuk mencatat kondisi fisik, pola aktivitas, dan interaksi pengguna pada periode aktivitas puncak. Wawancara dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan dua informan yang dipilih berdasarkan kriteria: pengguna aktif, memiliki pengalaman kunjungan minimal dua kali dalam seminggu, dan bersedia memberikan informasi secara mendalam. Pemilihan dua informan dianggap memadai untuk studi eksploratif berskala kecil karena penelitian menekankan kedalaman pengalaman, bukan generalisasi. Selain purposive sampling, proses rekrutmen dilakukan dengan pendekatan langsung di lokasi setelah mengamati calon informan yang sesuai kriteria, sehingga pemilihan responden bersifat terarah dan relevan dengan tujuan penelitian. Instrumen yang digunakan berupa daftar pertanyaan terbuka yang menggali dimensi kognitif, afektif, dan konatif pengguna. Seluruh wawancara direkam dan ditranskrip, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tahap coding, -Vol. 06/No. Desember 2025 Eksplorasi Pengalaman Psikologis Pengguna dalam Ruang Publik A/ 1M. Fata Habibullah, 2Kharista Astrini Sakya pengelompokan tema, dan interpretasi berbasis kerangka psikologi lingkungan. Tahap analisis dilakukan melalui proses open coding untuk mengidentifikasi unit makna awal, dilanjutkan axial coding untuk menghubungkan kategori-kategori yang muncul, dan selective coding untuk merumuskan tema inti yang merepresentasikan pengalaman psikologis pengguna secara komprehensif. Proses analisis dilakukan secara iteratif antara data lapangan dan kerangka teori untuk memastikan konsistensi interpretasi. Validitas data diperkuat melalui triangulasi metode, yaitu membandingkan temuan Triangulasi dilakukan dengan mencocokkan data dari observasi lapangan, transkrip wawancara, serta dokumentasi foto situasi ruang untuk memastikan konsistensi temuan dan mengurangi bias peneliti. Selain itu, member checking dilakukan secara informal kepada informan untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan pengalaman mereka. Tabel 1. Daftar Pertanyaan Wawancara Aspek Kognitif Menurut Anda, suasana warmindo ini lebih cocok untuk makan cepat atau untuk bersantai? Bagaimana pendapat Anda tentang pencahayaan, suara, dan sirkulasi udara di warmindo ini? Elemen apa yang menurut Anda paling nyaman atau paling mengganggu? . ontoh: kursi, meja, jarak antar meja, tampilan interior, dan lain-lai. Aspek Afektif Apa yang biasanya Anda rasakan saat berada di warung ini? Apakah Anda merasa hangat atau akrab dengan desain dan suasana ruang Aspek Konatif Seberapa sering Anda datang ke sini, dan kenapa memilih tempat ini dibanding tempat makan lain? Apakah ruang ini membuat Anda merasa santai, fokus, atau justru cepat ingin Apakah Anda merasa punya "tempat favorit" di warmindo ini? Kenapa? Sumber: (Pribadi, 2. Hasil dan Pembahasan Bagian ini menyajikan temuan empiris yang diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara, sebelum dianalisis lebih lanjut pada bagian pembahasan. Hasil disusun berdasarkan tiga dimensi pengalaman psikologis: kognitif, afektif, dan Hasil Temuan Observasi Gambar 2. Kondisi Ruang Warung Kameumeut. Bandung Sumber: (Pribadi, 2. -Vol. 06/No. Desember 2025 Eksplorasi Pengalaman Psikologis Pengguna dalam Ruang Publik A/ 1M. Fata Habibullah, 2Kharista Astrini Sakya Aspek yang diamati Perilaku & Interaksi Desain & Kondisi Spasial Tabel 2. Hasil Temuan Observasi Elemen/Indikator Hasil Temuan Observasi Pola Aktivitas Pengguna Teridentifikasi alur perilaku yang homogen dan efisien, meliputi tahapan: masuk Ie lihat menu Ie pesan Ie makan Ie bayar Ie pergi. Kinerja Pelayanan Waktu penyajian makanan sangat responsif, berkisar antara 3Ae5 optimalisasi alur kerja internal. Elemen Desain Dominan Pemanfaatan pencahayaan alami melalui jendela berukuran besar mendefinisikan atmosfer ruang. Efek Spasial & Visual Pencahayaan peningkatan kenyamanan visual dan efektif memitigasi persepsi ruang yang terbatas. Dimensi Fisik Ruang Pengukuran objektif menunjukkan tinggi plafon berada pada 1,95 meter, menjadi data kuantitatif mengenai adanya keterbatasan ruang vertikal. Sumber: (Pribadi, 2. Hasil observasi lapangan di Warmindo Kameumeut mengindikasikan adanya sinergi antara efisiensi fungsional dan elemen desain spasial. Dari segi perilaku, teridentifikasi sebuah alur aktivitas pengguna yang sangat konsisten dan efisien, yang diperkuat oleh kinerja pelayanan dengan waktu penyajian responsif antara 3 hingga 5 Sementara itu dari aspek spasial, meskipun terdapat keterbatasan ruang vertikal yang terukur secara objektif dengan tinggi plafon hanya 1,95 meter, pemanfaatan pencahayaan alami yang melimpah dari jendela besar menjadi elemen kompensasi yang dominan. Fitur desain ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kenyamanan visual, tetapi juga secara efektif berhasil memitigasi persepsi ruang yang sempit, menciptakan atmosfer yang lebih lapang bagi para pengunjung. Hasil Temuan Wawancara Tabel 3. Hasil Temuan Wawancara Aspek Psikologis Kognitif Afektif Kognitif. Dimensi Temuan Responden 1 Temuan Responden 2 Persepsi terhadap pencahayaan, tata Perasaan berada di ruang "Pencahayaan siang oke, banyak cahaya alami, tapi malam agak gelap dan banyak nyamuk. "Suka tempatnya, lebih warmindo lain di daerah "Sering ke sini, mungkin 3Ae4 Murah dan deket. "Kalau siang oke sih, terang. Tapi malam biasanya agak lembab dan kurang terang. Tindakan perilaku . rekuensi kunjungan, durasi tinggal, motivas. Sumber: (Pribadi, 2. "Tempatnya nyaman kalau nggak ramai. Enak buat ngobrol juga. "Datang seminggu dua kali, sering buat nongkrong juga. Proses Analisis Tematik Data hasil observasi dan wawancara dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tiga tahap: open coding, axial coding, dan selective coding. Seluruh proses -Vol. 06/No. Desember 2025 Eksplorasi Pengalaman Psikologis Pengguna dalam Ruang Publik A/ 1M. Fata Habibullah, 2Kharista Astrini Sakya dilakukan secara manual dengan membaca ulang transkrip wawancara dan catatan observasi secara berulang. Open Coding Pada tahap ini, peneliti mengidentifikasi potongan-potongan informasi dari transkrip wawancara dan observasi yang relevan dengan pengalaman Contoh kode awal yang muncul meliputi: Auruang terasa terangAy. Aumalam gelap dan lembapAy. Aunyaman untuk ngobrolAy. Ausering datang karena dekat dan murahAy. Auruang sempit tapi tidak terasa sumpek saat siangAy. Aupelayanan cepatAy. Kode-kode ini merupakan representasi langsung dari ungkapan responden dan fenomena yang diamati di lapangan. Axial Coding Kode-kode awal kemudian dikelompokkan ke dalam kategori berdasarkan kesamaan makna. Proses ini menghasilkan beberapa kategori utama, seperti: Tabel 4. Tabel Axial Coding Kategori Utama Kode Awal Persepsi visual ruang Terang, gelap, lapang, sempit Kualitas lingkungan Suhu, kelembapan, keberadaan Atmosfer sosial Nyaman, santai, akrab Motivasi kunjungan Kedekatan lokasi, harga, interaksi Efisiensi aktivitas Alur Sumber: (Pribadi, 2. Pengelompokan ini membantu memetakan hubungan antara kondisi fisik ruang, suasana yang dirasakan, dan pola perilaku. Selective Coding Tahap terakhir adalah penarikan tema inti yang menghubungkan kategori menjadi pola pengalaman yang utuh. Tema-tema utama kemudian dipetakan berdasarkan kerangka psikologi lingkungan. Tabel 5. Tabel Selective Coding Aspek Psikologis Kognitif Temuan Utama Kode Pendukung Persepsi dipengaruhi pencahayaan dan kondisi lingkungan. Afektif Atmosfer nyaman dan akrab namun situasional. Kognitif Perilaku membentuk pola kunjungan Sumber: (Pribadi, 2. Terang, gelap, lapang, lembap. Nyaman, terganggu saat ramai Sering datang, nongkrong, makan cepat. Tema-tema tersebut kemudian dijadikan dasar untuk membangun interpretasi teoretis pada bagian pembahasan. Pembahasan -Vol. 06/No. Desember 2025 Eksplorasi Pengalaman Psikologis Pengguna dalam Ruang Publik A/ 1M. Fata Habibullah, 2Kharista Astrini Sakya Gambar 1. Kerangka Analisis dan Pembahasan Sumber: (Pribadi, 2. Dimensi Kognitif: Persepsi Terhadap Atribut Ruang dan Lingkungan Tema kognitif menunjukkan bahwa persepsi pengguna dipengaruhi oleh faktor visual . dan faktor lingkungan . elembapan, nyamu. Analisis open coding memperlihatkan pola kode berulang seperti AuterangAy. AulapangAy, dan Augelap saat malamAy. Ini selaras dengan (Kaplan & Kaplan, 1. yang menegaskan bahwa persepsi awal terhadap elemen visual sangat menentukan kualitas pengalaman ruang. Ketidaknyamanan malam hari menunjukkan adanya environmental stressor yang memperlemah pengalaman kognitif mengonfirmasi temuan (Peimani & Kamalipour, 2. bahwa fluktuasi kualitas lingkungan adalah karakteristik umum ruang informal. Dimensi Afektif: Atmosfer Nyaman dan Sense of Place yang Situasional Tema afektif terbentuk dari kategori kenyamanan, keakraban, dan atmosfer santai, sebagaimana muncul pada kode Aunyaman buat ngobrolAy dan Aulebih lapang dibanding warmindo lainAy. Temuan ini mendukung literatur (Waxman, 2. mengenai peran atmosfer sederhana dalam membangun sense of place. Namun, analisis tematik mengungkap bahwa atmosfer tersebut sangat dipengaruhi kepadatan pengguna, membuat sense of place di ruang informal bersifat dinamis, sebuah kontribusi teoretis -Vol. 06/No. Desember 2025 Eksplorasi Pengalaman Psikologis Pengguna dalam Ruang Publik A/ 1M. Fata Habibullah, 2Kharista Astrini Sakya baru yang memperluas pemahaman third place di konteks ruang informal. Dimensi Konatif: Pola Perilaku Berulang dan Pembentukan Behaviour Setting Tema konatif memperlihatkan bahwa kunjungan berulang . Ae4 kali per mingg. tidak hanya dipengaruhi harga dan lokasi, tetapi juga atmosfer yang mendukung interaksi sosial. Kode-kode seperti Ausering ke siniAy. Aubuat nongkrongAy, dan Aumurah dan dekatAy membentuk pola perilaku mendekat . pproach behavio. Hal ini menguatkan konsep tentang behavior setting: ketika ruang dan aktivitas berulang membentuk keteraturan perilaku (Barker, 1. Dalam konteks kaum muda urban, warmindo berfungsi sebagai third place lokal (Oldenburg, 2. meskipun kualitas desainnya Kontribusi Konseptual Penelitian Berdasarkan sintesis tema dan dialog dengan literatur, penelitian ini mengajukan tiga kontribusi: . Third place dapat terbentuk dalam ruang informal yang sangat sederhana, asalkan memenuhi syarat atmosfer sosial yang mendukung interaksi. Pengalaman ruang informal bersifat temporal dan situasional. analisis tematik mengungkap fluktuasi siangAemalam sebagai elemen penting yang jarang dibahas dalam studi third place. Behavior setting terbentuk bukan dari desain formal, tetapi dari interaksi konsisten antara pengguna dan ruang, menunjukkan fleksibilitas konsep tersebut dalam konteks ruang informal di Indonesia. Kesimpulan Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana pengalaman psikologis pengguna terbentuk dalam ruang publik informal Warmindo Kameumeut melalui dimensi kognitif, afektif, dan konatif. Temuan menunjukkan bahwa persepsi pengguna dipengaruhi secara kuat oleh elemen fisik khususnya pencahayaan alami, skala ruang, dan efisiensi pelayanan yang memunculkan pengalaman kognitif positif pada siang hari namun menurun pada malam hari karena kualitas lingkungan yang kurang stabil. Suasana informal yang nyaman dan akrab mendukung terbentuknya sense of place, sementara pola kunjungan berulang menandakan hadirnya behavior setting yang membuat warmindo berfungsi sebagai third place lokal. Kontribusi penelitian ini terletak pada penjelasan bahwa ruang informal sederhana dapat menghasilkan pengalaman psikologis yang kompleks dan situasional, memperluas pemahaman literatur tentang third place dan perilaku spasial dalam konteks informal perkotaan. Temuan ini menegaskan bahwa pengalaman psikologis yang muncul pada ruang informal ternyata memiliki kompleksitas yang setara dengan ruang publik formal, sehingga memperluas pemahaman teoretis mengenai bagaimana interaksi kognitifAeafektifAekonatif bekerja dalam konteks ruang yang tumbuh secara organik tanpa desain formal. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada literatur psikologi lingkungan dan kajian third place dengan menunjukkan bahwa kualitas pengalaman pengguna tidak hanya bergantung pada aspek fisik, tetapi juga sangat ditentukan oleh atmosfer sosial dan relasional yang terbentuk secara alami. Penelitian ini memperkuat argumen bahwa ruang informal sederhana dapat berfungsi sebagai ruang sosial signifikan yang membentuk sense of place dan mendukung kesejahteraan psikologis, sehingga memperluas cakupan teoretis studi tentang perilaku spasial di ruang publik informal Penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan, terutama jumlah informan yang terbatas dan ruang lingkup observasi yang hanya mencakup satu rentang waktu. Penelitian selanjutnya dapat melibatkan lebih banyak partisipan, memperluas periode observasi, dan menggunakan pendekatan mixed-method untuk memperkaya analisis. Studi mendatang juga perlu mempertimbangkan perbandingan antara warmindo dan ruang informal lainnya, sehingga pola pengalaman psikologis dapat dipetakan secara lebih komprehensif pada berbagai tipe ruang organik di perkotaan. Meskipun demikian, temuan ini memberikan implikasi praktis bagi perancangan ruang informal: kualitas pencahayaan buatan, pengendalian lingkungan pada malam hari, serta fleksibilitas ruang untuk aktivitas sosial perlu diperhatikan agar pengalaman pengguna dapat lebih -Vol. 06/No. Desember 2025 Eksplorasi Pengalaman Psikologis Pengguna dalam Ruang Publik A/ 1M. Fata Habibullah, 2Kharista Astrini Sakya konsisten dan nyaman. Implikasi ini menegaskan bahwa pendekatan psikologi lingkungan dapat digunakan sebagai dasar pengembangan desain dan pengelolaan ruang informal, sehingga ruang-ruang sederhana seperti warmindo tidak hanya berfungsi sebagai tempat konsumsi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mendukung kenyamanan, interaksi, dan kesejahteraan psikologis penggunanya. Secara keseluruhan, penelitian ini memperjelas posisi warmindo sebagai entitas penting dalam kajian ruang publik informal dan psikologi lingkungan, sekaligus memberikan arah konseptual dan praktis bagi penelitian dan pengembangan ruang informal di masa depan. Daftar Pustaka