http://journal. id/index. php/anterior BIGBOOK SEBAGAI SARANA LITERASI INKLUSIF BAGI ANAK USIA DINI DI SEKOLAH MULTIKULTURAL (Studi TK Satu Atap Wonco Kota Bauba. BIGBOOK AS AN INCLUSIVE LITERACY TOOL FOR EARLY CHILDHOOD IN MULTICULTURAL SCHOOLS (Study of Wonco One-Roof Kindergarten in Baubau Cit. Kadar Risman1* Syamsul Arifin Ishomuddin Yohana Meylandri4 *1,2,3,4Universitas Muhammadiyah Malang. Kota Malang. Jawa Timur. Indonesia *email: rysmanqadha@gmail. Kata Kunci: Bigbook. Literasi inklusif. Pendidikan mulitkultural. Anak Usia Dini. Sikap Prososial Keywords: Bigbook. inclusive literacy. multicultural education early childhood. prosocial behavior. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas media Bigbook sebagai sarana literasi inklusif dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan multikultural pada anak usia Studi dilakukan di TK Satu Atap Wonco. Kota Baubau, yang terletak di lingkungan masyarakat heterogen secara agama dan etnis. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis Participatory Action Research (PAR), digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan Intervensi dilakukan dalam tiga sesi tematik: literasi keagamaan, pengenalan keberagaman etnis, dan pembentukan sikap prososial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bigbook secara efektif memfasilitasi pemahaman anak terhadap simbol dan praktik lintas agama, mendorong kesadaran etnis melalui representasi visual, serta membentuk perilaku prososial seperti berbagi, peduli, dan bekerja sama. Selain sebagai media visual. Bigbook berperan sebagai alat naratif yang mengintegrasikan dimensi kognitif dan afektif anak. Peran guru yang responsif dan kontekstual menjadi faktor penting dalam keberhasilan program literasi inklusif ini. Studi ini menyimpulkan bahwa Bigbook memiliki potensi sebagai strategi pedagogis dalam pendidikan multikultural yang adaptif, kontekstual, dan reflektif di tingkat PAUD, serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebijakan pendidikan inklusif di masyarakat majemuk. Abstract This study aims to analyze the effectiveness of Bigbook as an inclusive literacy tool for instilling multicultural values in early childhood education. The research was conducted at TK Satu Atap Wonco. Baubau City, located within a socially diverse community in terms of religion and ethnicity. A descriptive qualitative approach was Participatory Action Research (PAR), with data collected through participatory observation, in-depth interviews, and The intervention was structured into three thematic sessions: religious literacy, ethnic diversity awareness, and prosocial behavior development. The findings reveal that Bigbook effectively facilitated childrenAos understanding of interfaith symbols and practices, encouraged ethnic awareness through visual representation, and nurtured prosocial behaviors such as sharing, empathy, and cooperation. Beyond serving as a visual medium. Bigbook functioned as a narrative tool that integrated childrenAos cognitive and affective development. The success of this inclusive literacy program was significantly supported by the responsiveness and contextual awareness of the teachers. This study concludes that Bigbook holds strong potential as a pedagogical strategy in multicultural education at the early childhood level, offering an adaptive, contextual, and reflective It further contributes to the development of inclusive education policy within pluralistic societies. A2025 The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). PENDAHULUAN Keberagaman budaya, agama, dan etnis merupakan realitas sosial yang melekat dalam struktur masyarakat indonesia dan menjadi tantangan fundamental dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). Seiring meningkatnya potensi konflik horizontal dan intoleransi di ruang publik, pendidikan multikultural pada usia dini menjadi salah satu strategi kunci untuk membangun dan mempersiapkan generasi yang inklusif, empatik, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman (Digdoyo, 2018. Hasanuddin, 2. Dalam konteks ini, pembelajaran yang didalamnya terdapat proses penanaman nilai-nilai toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan kerja sama lintas identitas menjadi penting bahkan mendesak untuk dterapkan sejak usia dini (Ramelan & Suryana, 2. Pendidikan anak usia dini tidak hanya memfasilitasi kesiapan akademik anak, tetapi juga merupakan fondasi untuk membentuk kecerdasan sosial, nilai moral, dan kesadaran interkultural sejak dini. Konteks pendidikan masa kini menekankan perlunya pendekatan yang holistik dan adaptif terhadap perkembangan identitas sosial anak Anterior Jurnal. Volume 24 Issue i. September 2025. Page 76 - 80 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 (Currie, 2001. Edwards, 2. Dalam konteks ini. Pendidikan Anak Usia Dini berperan sebagai arena penting untuk menanamkan nilai-nilai keadaban sejak awal kehidupan (Jamilah. Lukman, & Asfiati, 2. Faktanya, pendidikan anak usia dini yang berbasis multikultural seringkali menghadapi tantangan implementasi, terutama dalam hal pendekatan pedagogi yang responsif terhadap keberagaman anak. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan seragam dalam pembelajaran paud tidak hanya mengabaikan kebutuhan dan latar belakang sosial anak, tetapi juga berisiko memperkuat ketimpangan akses dan partisipasi anak dalam proses belajar (Perlman Et Al. , 2. Dalam kerangka ini, strategi pembelajaran berbasis media visual yang representatif terhadap konteks sosial-budaya anak menjadi sangat krusial. Salah satu media yang mulai diperhatikan dalam pembelajaran anak usia dini adalah bigbook yaitu buku bergambar berukuran besar yang digunakan dalam sesi membaca bersama . hared readin. Bigbook bukan hanya alat literasi visual, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk membangun ruang interaktif yang memungkinkan anak mengenali identitas diri dan temannya melalui narasi dan ilustrasi lintas budaya (Pinhui Sandra & Lim-Ratnam, 2. Selain menguatkan literasi dini, pendekatan ini juga memfasilitasi proses dialogis dan reflektif anak terhadap nilai-nilai perbedaan, toleransi, dan Meski potensinya menjanjikan, penggunaan bigbook dalam konteks pendidikan multikultural belum banyak dieksplorasi secara sistematis. Pendidikan multikultural menekankan pengakuan terhadap keberagaman ras, etnis, bahasa, dan agama sebagai dimensi integral dari proses pembelajaran. Dalam praktiknya, pendekatan ini memerlukan integrasi antara nilai toleransi, kearifan lokal, dan partisipasi aktif dalam masyarakat majemuk (Hasanuddin, 2024. Salim & Aprison, 2. Konsep literasi inklusif dalam pendidikan multikultural juga berkembang melalui digitalisasi dan representasi simbolik lintas budaya yang memperkuat kohesi social (Fahmi et al. , 2025. Jayashree Prabhakar et al. , 1 C. Olufunke, 2. Di sisi lain, sebagian besar riset yang menyoroti pendidikan multikultural pada Lembaga PAUD masih bersifat normatif-deskriptif dan berfokus pada konsep nilai toleransi tanpa intervensi media pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman anak (Jamilah et al. , 2021. Olufunke, 2. Sehingga perlu adanya penelitian literasi inklusif berbasis media yang ramah anak seperti media bigbook. Studi-studi terdahulu menunjukkan bahwa integrasi antara pendidikan multikultural dan strategi pedagogi berbasis media visual seperti bigbook merupakan pendekatan inovatif yang potensial dalam membentuk karakter anak. Namun, hingga saat ini jarang dijumpai studi yang mengkaji secara spesifik media bigbook dalam konteks Lembaga PAUD yang memiliki anak didik yang beragam, baik secara agama maupun etnis. Sebagian besar literatur yang ada masih terfokus pada pendidikan dasar atau menengah, dan jarang menyentuh praktik pedagogis konkret di jenjang PAUD. Bahkan, kajian yang secara eksplisit meneliti bagaimana bigbook dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan sumber daya di lembaga PAUD serta membentuk perilaku prososial anak usia 4Ae6 tahun dalam keberagaman agama dan etnis belum banyak dilakukan. Selain itu, sebagian besar studi pendidikan multikultural di Indonesia masih menitikberatkan pada jenjang pendidikan dasar atau menengah, sementara aspek literasi inklusif pada jenjang paud masih menjadi celah literatur yang signifikan (Salim & Aprison, 2. Dalam mendidik dan mengembangkan literasi inklusif dan perilaku prososial anak usia dini maka perlu kreatvitas lembaga PAUD seperti Taman Kanak-Kanak. Kelompok Bermain dan Tempat Penitipan Anak. Oleh dengan mengacu dan berpedoman pada kurikulum PAUD yang dijabarkan dalam PERMENDIKBUD Nomor 137 dan Nomor 146 Tahun 2014 tentang kurikulum PAUD 2013, didalamnya memuat Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) tentang aspek spritual dan sosial-emosional. Adapun KI/KD yang didalamnya tentang pengembangan nilai-nilai keagamaan dan sifat toleransi salah satunya yaitu. KD. memiliki perilaku yang mencerminkan sikap menghargai dan toleran kepada orang lain (Hidayat. Nurlatifah. Putra, & Ciamis, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam penggunaan media bigbook sebagai sarana literasi inklusif dalam menginternalisasi nilai-nilai multikultural pada anak usia dini di TK Satu Atap Wonco. Fokus utama diberikan pada dimensi keragaman agama, etnis, dan budaya prososial, dengan menekankan bagaimana representasi visual dalam bigbook berkontribusi terhadap pemahaman dan sikap toleran anak. Penelitian ini menawarkan kontribusi konseptual dan praktis dalam membangun praktik pedagogi berbasis keadilan sosial di jenjang PAUD, serta menjawab kebutuhan akan pendekatan literasi visual yang responsif terhadap konteks sosial indonesia yang majemuk. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Participatory Action Research (PAR), yang bersifat kolaboratif dan transformative (Brown, 2024. Cornish et al. , 2. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan interaksi reflektif antara peneliti, pendidik, dan anak dalam merancang dan mengimplementasikan strategi literasi inklusif melalui media bigbook. Proses intervensi dilakukan dalam tiga siklus tindakan perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi (Brown, 2. dengan fokus pada penguatan nilai-nilai multikultural yang disampaikan melalui representasi visual dalam bigbook. Penelitian dilaksanakan di TK Satu Atap Wonco dengan subjek anak usia 4Ae6 tahun dalam konteks PAUD yang memiliki keberagaman agama dan etnis. Pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi teknik, yaitu observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi (Kusumastuti & Khoiron, 2. Observasi mencermati interaksi anak dalam merespons perbedaan identitas, wawancara mendalami strategi guru dalam mengintegrasikan nilai multikultural, sedangkan dokumentasi digunakan sebagai bahan refleksi dan validasi. Data dianalisis secara tematik berdasarkan kerangka (Braun & Clarke, 2. Kadar Risman. Syamsul Arifin. Ishomuddin dan Yohana Meylandri. Bigbook Sebagai Sarana Literasi Inklusif Bagi Anak Usia Dini Di Sekolah Multikultural (Studi TK Satu Atap Wonco Kota Bauba. melalui tahap transkripsi, pengkodean, identifikasi, dan interpretasi tema. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan temuan empiris sekaligus kontribusi praktis dalam pengembangan literasi inklusif di pendidikan anak usia dini. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di TK Satu Atap Wonco. Kelurahan Kampeonaho Kecamatan Bungi Kota Baubau. Salah satu Lembaga PAUD yang berada di tengah-tengah masyarakat yang beragam, baik beragam secara agama, etnis bahkan Wonco merupakan nama perkampungan transimigrasi yang dihuni oleh penduduk yang berasal dari Bali. Meskipun berada di Kota Baubau Sulawesi Tenggara, adat istiadat Bali tetap dilestarikan hingga saat ini. Subjek yang diamati pada penelitian ini adalah anak didik TK Satu Atap Wonco berusia 4-6 tahun dengan jumlah 16 anak, dengan persentase 75% atau 12 orang anak beragama Islam dan 25% atau 4 orang anak yang beragama Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media bigbook sebagai sarana literasi inklusif dalam menanamkan nilainilai pendidikan multikultural pada anak usia 4Ae6 tahun di tk satu atap wonco. Fokus utama diarahkan pada tiga dimensi pembelajaran multikultural: pemahaman keagamaan, pengenalan keberagaman etnis, dan pembentukan sikap prososial. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara dengan pendidik, dan dokumentasi kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam tiga sesi intervensi. Literasi Keagamaan: Mengenalkan Perbedaan Sebagai Bagian Dari Kesadaran Diri Sesi pertama pembelajaran difokuskan pada penguatan literasi keagamaan melalui pengenalan tempat ibadah, pakaian ibadah, hari besar keagamaan, dan praktik berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Temuan lapangan menunjukkan bahwa anak-anak telah mengetahui agama yang dianut secara personal, namun belum memiliki kesadaran mengenai keberadaan agama lain dalam kelas. Dengan menggunakan bigbook yang menyajikan ilustrasi visual lintas agama, anak-anak mulai mengenal dan memahami simbol serta praktik keagamaan yang berbeda dari miliknya. Dalam salah satu pengamatan, anak-anak menyebutkan agama mereka sendiri, namun tidak mengetahui keyakinan teman sekelas. Melalui gambar dan narasi dalam bigbook, guru mengenalkan tempat ibadah dan pakaian agama hindu. Islam, dan kristen, serta menjelaskan sikap berdoa yang sesuai. Anak-anak menunjukkan ketertarikan dan mengaitkan informasi baru dengan pengalaman mereka. Seorang anak beragama hindu, yang awalnya mengikuti cara berdoa anak muslim, mulai mempraktikkan doa sesuai agamanya setelah mendapatkan penjelasan visual dari guru. Wawancara dengan guru mengonfirmasi dampak bigbook sebagai jembatan untuk mengembangkan kesadaran lintas agama. Guru menyatakan. Auanak-anak mulai tahu bahwa teman-temannya memiliki agama berbeda. Kami juga bekerja sama dengan orang tua untuk memperkuat pemahaman anak ketika berada di rumah. Ay Temuan ini sejalan dengan pendapat Solikhah. Setyaningrum, & Adiningsih . yang menekankan bahwa pengajaran agama berbasis nilai-nilai multikultural harus menciptakan ruang untuk mengenal keragaman keyakinan dengan pendekatan yang non-dogmatis. Selain itu. Gultom & Lubis . menyoroti pentingnya sinergi antara guru dan orang tua dalam membentuk pemahaman keagamaan yang inklusif sejak usia dini. Keberagaman Etnis: Membangun Identitas Budaya Melalui Representasi Visual Pada minggu kedua, intervensi berfokus pada pengenalan keberagaman etnis melalui pakaian adat. Anak-anak sebelumnya hanya mengenal suku mereka sendiri dan tidak menyadari keragaman etnis di kelas. Melalui bigbook, guru memperlihatkan berbagai gambar pakaian adat seperti Buton. Jawa. Bugis, dan Bali. Aktivitas ini memicu antusiasme tinggi dari anak-anak, yang mulai menyebutkan nama-nama suku, berbagi cerita pribadi saat mengenakan pakaian adat, dan bahkan mulai menyadari perbedaan suku di antara teman mereka. Dalam wawancara, guru menyatakan bahwa Ausebelum penggunaan Bigbook, pengenalan budaya hanya dilakukan setahun sekali saat karnaval. Namun kini, anak-anak mulai menginternalisasi pemahaman tentang suku secara berkelanjutan dalam pembelajaran sehari-hariAy. Temuan ini memperkuat gagasan (Mulyati. Sumadi, & Yetti, 2. yang menyatakan bahwa pendekatan budaya dalam pendidikan anak usia dini harus bersifat partisipatif, kontekstual, dan bukan sekadar simbolik atau perayaan tahunan. Selain itu. Olufunke . menekankan pentingnya representasi multikultural dalam bahan ajar untuk menumbuhkan kesadaran identitas sosial pada anak. Gambar dan narasi yang mencerminkan keragaman memungkinkan anak untuk mengenali bahwa keberagaman bukan sesuatu yang asing, melainkan bagian dari lingkungan sosial mereka. Sikap Prososial: Menumbuhkan Nilai Inklusivitas melalui Narasi Sesi ketiga pembelajaran dirancang untuk menumbuhkan sikap prososial, seperti berbagi, peduli teman, bekerjasama, dan menggunakan bahasa santun. Sebelum intervensi, observasi menunjukkan bahwa beberapa anak menunjukkan sikap individualistik, enggan berbagi mainan, dan kurang responsif dalam kerja sama. Setelah diberikan narasi prososial melalui gambar dan cerita dalam bigbook, anak-anak mulai mengucapkan kata AumaafAy. AutolongAy, dan Auterima kasihAy sesuai konteks, serta mulai menunjukkan inisiatif membantu teman dan berbagi secara spontan Wawancara dengan guru memperkuat temuan ini. Guru menyampaikan bahwa anak-anak dengan cepat menyerap nilai-nilai yang ditampilkan dalam Bigbook dan langsung mempraktikkannya dalam interaksi sehari-hari. Hal ini selaras dengan temuan Pinhui Sandra & Lim-Ratnam . yang menekankan bahwa pendidikan anak usia dini harus fokus pada pembentukan personhood, yakni kesadaran moral dan sosial anak yang terintegrasi melalui aktivitas reflektif dan relasional. Anterior Jurnal. Volume 24 Issue i. September 2025. Page 76 - 80 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 Bigbook, dalam konteks ini, tidak hanya berfungsi sebagai media visual, tetapi juga sebagai medium naratif yang mempertemukan kognisi dan afeksi anak. Cerita-cerita yang disampaikan guru melalui Bigbook menstimulasi anak untuk merefleksikan tindakan, memahami konsekuensinya, dan menerapkannya secara kontekstual dalam relasi sosial di kelas. Disamping itu, terdapat pula diferensiasi pengalaman belajar anak, dimana penggunaan bigbook menunjukkan kapasitas untuk mengakomodasi kebutuhan belajar yang beragam. Setiap anak diberikan ruang untuk menanggapi materi sesuai tingkat pemahaman dan latar belakang mereka. Hal ini mencerminkan pandangan Perlman et al. bahwa pendekatan pendidikan anak usia dini tidak dapat bersifat seragam . ne size does not fit al. , melainkan harus mempertimbangkan karakteristik individual anak dan konteks sosial-budayanya. Responsivitas guru dalam memediasi interaksi antar anak dari latar belakang yang berbedaAibaik agama, etnis, maupun perilaku social menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program literasi inklusif ini. Melalui observasi, terlihat bahwa guru mampu menciptakan ruang pembelajaran yang aman, menyenangkan, dan mendukung pertumbuhan kesadaran multikultural anak. KESIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa bigbook merupakan media yang efektif dalam mendukung literasi inklusif dan menanamkan nilai-nilai multikultural pada anak usia dini. Melalui pendekatan tematik yang mencakup literasi keagamaan, pengenalan keberagaman etnis, dan pembentukan sikap prososial, anak-anak di tk satu atap wonco menunjukkan perkembangan signifikan dalam mengenali dan menghargai perbedaan agama, budaya, serta dalam membentuk perilaku sosial yang inklusif. Visualisasi dalam bigbook terbukti mampu menjadi medium transformatif yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk kesadaran dan empati melalui keterlibatan afektif dan kognitif anak. Disamping itu, keberhasilan program ini ditentukan oleh responsivitas guru dalam memediasi interaksi lintas identitas dan memberikan ruang pembelajaran yang adaptif terhadap latar belakang sosial-budaya anak. Bigbook berperan sebagai sarana pedagogis yang tidak bersifat seragam, melainkan membuka ruang bagi diferensiasi pengalaman belajar. Hal ini, menggarisbawahi pentingnya pengembangan bahan ajar multikultural yang kontekstual, serta perlunya pelatihan guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang reflektif, toleran, dan berkeadilan sosial. Penelitian ini, berkontribusi strategis dalam perumusan kebijakan dan praktik pendidikan anak usia dini berbasis nilai-nilai multikultural di masyarakat majemuk UCAPAN TERIMA KASIH Pada akhirnya, kami mengucapkan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi dari proses penelitian hingga tahap penulisan artikel. Ucapan terima kasih terkhusus kepada Kepala Sekolah dan Guru TK Satu Atap Wonco Kota Baubau yang telah bersedia menerima tim peneliti untuk melakukan penelitian dan pengambilan data di sekolah. REFERENSI