Journal Genta Mulia Volume 15. Number 1, 2023 pp. P-ISSN 2301-6671 E-ISSN: 2580-6416 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm RELEVANSI FILSAFAT KONSTRUKTIVISME DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN SISWA DI ERA DIGITAL Naili Aulia Rahmani*1. ArbaAoiyah Yusuf2. Nazala Wahda Izzati3 ,Nofi Arum Aqilla4 1234 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya * Corresponding Author: aulianaili. 05@gmail. Abstrak Penelitian ini menitikberatkan pada pentingnya filsafat konstruktivisme dalam meningkatkan pendidikan di era digital. Konstruktivisme merupakan teori belajar yang menyoroti peran siswa dalam membangun pengetahuan mereka sendiri melalui interaksi dengan lingkungan serta pemahaman yang dibangun secara pribadi. Era digital membuka akses yang luas terhadap informasi dan sumber daya pendidikan. Tujuan studi ini adalah untuk mengevaluasi sejauh mana kontribusi filsafat konstruktivisme dalam meningkatkan pendidikan di era digital. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan melakukan studi literatur dari beberapa sumber yang membahas tentang filsafat Temuan dari penelitian ini menegaskan bahwa pentingnya relevansi filsafat konstruktivisme dalam meningkatkan pendidikan di era digital, terutama dalam konteks belajar melalui pengalaman, aspek akademis, dan hal-hal kognitif yang berkaitan. Implikasi dari relevansi filsafat konstruktivisme dalam pengembangan pendidikan di era digital memiliki dampak yang berkelanjutan dan dapat digunakan sebagai landasan untuk kemajuan dalam sektor pendidikan. Prinsip-prinsip konstruktivisme yang mendorong siswa untuk aktif dan mengeksplorasi pengetahuan baru, menjadi relevan mengingat perkembangan teknologi saat ini di mana kegiatan belajar seperti mencatat, menggambar, dan mengerjakan tugas sudah beralih ke platform digital. Hal ini dilakukan oleh banyak generasi saat ini yang bisa menghemat waktu. Pendekatan konstruktivisme terbukti mendukung siswa untuk menjadi belajar mandiri dan aktif dalam pendidikan, sesuai dengan tuntutan era digital saat ini. Kata Kunci: filsafat konstruktivisme, pendidikan siswa, era digital Abstract This research focuses on the significance of constructivist philosophy in enhancing education in the digital era. Constructivism is a learning theory that highlights the role of students in constructing their own knowledge through interaction with the environment and personally constructed The digital era provides broad access to information and educational resources. The aim of this study is to assess the extent of constructivist philosophy's contribution to improving education in the digital age. The research method employed is qualitative, involving a literature review from multiple sources discussing constructivist philosophy. The findings emphasize the importance of the relevance of constructivist philosophy in enhancing education in the digital era, particularly concerning experiential learning, academic aspects, and related cognitive elements. The implications of the relevance of constructivist philosophy in the development of education in the digital age have a lasting impact and can serve as a foundation for progress in the education sector. Constructivist principles, which encourage students to be active and explore new knowledge, are pertinent given the current technological advancements where learning activities such as note-taking, drawing, and task completion have shifted to digital platforms. Many of today's generations engage in these activities, and can saving time. The constructivist approach has proven to support students in becoming independent and active learners in education, in line with the demands of the digital era. Keywords: Constructivist philosophy, student education, digital era. Naili Aulia Rahmani 1. Relevansi Filsafat Konstruktivisme PENDAHULUAN Banyaknya fasilitas digital yang mempengaruhi cara kita belajar, bekerja, dan berkomunikasi, namun terdapat kesenjangan dalam pemahaman akan peran esensial teknologi ini dalam pengembangan sistem pendidikan. Masih banyak yang belum memahami bagaimana penggunaan teknologi dapat mengubah paradigma belajar-mengajar dan memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan siswa di era ini. (Ismail, 2. Literatur dan penelitian yang merambah relevansi filsafat konstruktivisme dalam meningkatkan pendidikan di era digital terus berkembang. Kajian-kajian mendalam ini menyoroti peran esensial konstruktivisme sebagai teori belajar yang menekankan partisipasi aktif siswa dalam membangun pemahaman mereka sendiri. Dalam konteks pendidikan yang terus berubah, teori konstruktivisme menawarkan landasan yang kuat untuk mengintegrasikan teknologi sebagai alat pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan pemahaman mereka melalui interaksi dengan lingkungan digital. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa adaptasi konsep ini dalam pembelajaran telah memungkinkan siswa untuk lebih mandiri dalam proses belajar mereka, memfasilitasi pemahaman yang lebih dalam, dan memberikan ruang bagi kreativitas serta kolaborasi yang lebih baik. (Tishana Dkk. , 2. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi dampak dari penerapan konsep konstruktivisme dalam lingkungan pembelajaran digital terhadap kemandirian siswa dalam mengelola proses belajar mereka sendiri. Selain itu, penelitian ini akan menilai sejauh mana kerja sama dan interaksi kolaboratif antara siswa dalam lingkungan pembelajaran digital yang berbasis konstruktivisme dapat mengoptimalkan pemahaman materi serta kemampuan mereka dalam memecahkan masalah secara kreatif. Selain aspek kemandirian dan kerja sama siswa, penelitian ini juga akan menyoroti bagaimana pemanfaatan teknologi sebagai alat pembelajaran aktif melalui pendekatan konstruktivisme dapat memberikan kontribusi pada penguasaan siswa terhadap kompetensi teknologi. Melalui evaluasi ini, diharapkan dapat dipahami sejauh mana integrasi teknologi dalam konteks pembelajaran konstruktivisme mendorong siswa untuk menjadi pengguna teknologi yang lebih terampil dan cerdas dalam proses belajar mereka. Dengan pendekatan ini, tujuan penelitian menjadi lebih rinci, menggali lebih dalam tentang dampak adaptasi konstruktivisme dalam konteks pembelajaran digital terhadap kemandirian, kerja sama, dan penguasaan teknologi siswa. METODE PENELITIAN Literature review merupakan suatu pendekatan penelitian yang mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menginterpretasikan semua temuan penelitian yang relevan terkait dengan pertanyaan penelitian, topik, atau fenomena tertentu yang terkait dengan penelitian Ini merupakan jenis penelitian primer, sedangkan penelitian literatur dikategorikan sebagai penelitian sekunder. Literature review memiliki peran penting dalam mensintesis temuan penelitian yang beragam, sehingga informasi yang disajikan kepada pengambil keputusan menjadi lebih komprehensif dan seimbang. Pendekatan kualitatif digunakan dalam tinjauan literatur untuk mensintesis temuan penelitian deskriptif dan Proses merangkum hasil penelitian kualitatif dikenal sebagai metasintesis, di mana data digabungkan untuk menghasilkan teori atau konsep baru atau meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam. Metode belajar sastra melibatkan kegiatan terkait dengan pengumpulan informasi dari perpustakaan, membaca, mencatat, dan mengelola bahan tulisan. Data penelitian ini mencakup seluruh artikel dari jurnal kajian literatur yang mengandung konsep-konsep yang Konsep yang diteliti berkaitan dengan kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari, khususnya kemandirian lansia dalam senam rematik untuk aktivitas sehari-hari (ADL). P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 37 Naili Aulia Rahmani 1. Relevansi Filsafat Konstruktivisme HASIL DAN PEMBAHASAN Filsafat Konstruktivisme Asal-usul kata 'filsafat' berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua bagian, yaitu "Philos" yang mencerminkan kasih, kesenangan, dan minat, serta "Sophia" yang merujuk pada pengetahuan, kebijaksanaan, dan hikmah. Dengan demikian, istilah "Philosophia" dapat diartikan sebagai kasih terhadap pengetahuan. Aristoteles menggambarkan filsafat sebagai cabang ilmu yang melibatkan pemahaman akan kebenaran, mencakup berbagai disiplin seperti metafisika, retorika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika . ilsafat Cicero menyebut filsafat sebagai 'induk' dari segala seni dan memandangnya sebagai seni kehidupan. Plato menganggap filsafat sebagai upaya untuk memahami kebenaran yang mutlak. Imanuel Kant melihat filsafat sebagai ilmu dasar yang menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan, mencakup empat bidang utama, yaitu metafisika, etika, agama, dan antropologi. Johan Gottlieb Fichte mendefinisikan filsafat sebagai fondasi bagi semua ilmu, mengeksplorasi berbagai bidang dan pengetahuan untuk menemukan kebenaran dalam realitas keseluruhan. Paul Natorp menjelaskan filsafat sebagai ilmu dasar yang mengaitkan keseluruhan pengetahuan manusia dengan menemukan akar yang sama dan menggabungkan semuanya. Bertrand Russell menyimpulkan bahwa filsafat adalah bentuk teologi yang mencakup berbagai pemikiran tentang isu-isu di mana kepastian pengetahuan definitifnya sulit dipastikan. (Nurgiansah & Pd, n. Konstruktivisme memiliki arti yang bersifat konstruktif. Dalam konteks pendidikan, konstruktivisme berarti usaha untuk membangun struktur kehidupan yang modern dan kaya budaya. Dari uraian tersebut, dapat dilihat bahwa konstruktivisme adalah suatu teori yang berfokus pada pembangunan, termasuk dalam pengembangan kemampuan dan pemahaman dalam proses pembelajaran. Dengan sifatnya yang membangun, diharapkan aktivitas siswa akan meningkatkan kecerdasannya. Menurut pakar adalah Hill, yang menyebutkan bahwa konstruktivisme adalah pembelajaran yang generatif, di mana individu menciptakan makna dari apa yang dipelajari. Menurut Hill, konstruktivisme merupakan proses menghasilkan sesuatu dari materi yang dipelajari, atau dengan kata lain, bagaimana mengintegrasikan pembelajaran ke dalam kehidupan sehari-hari untuk tujuan yang berguna. Shymansky, di sisi lain, menggambarkan konstruktivisme sebagai aktivitas yang melibatkan peserta didik dalam pembentukan pengetahuan mereka sendiri. Mereka mencari makna dari apa yang dipelajari, dan proses ini membantu mereka membangun konsep dan ide baru berdasarkan kerangka berpikir yang sudah ada. Berdasarkan pandangannya, konstruktivisme berfokus pada mengaktifkan siswa dengan memberikan kebebasan sebanyak mungkin untuk memahami apa yang dipelajari, kemudian menerapkan konsep-konsep tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Dari pandangan para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme adalah teori yang memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir luas dan menuntut siswa untuk menerapkan teori yang mereka pahami dalam kehidupan mereka sehari-hari. Teori konstruktivisme ini menjadi pendekatan yang akrab dalam dunia pendidikan, yang mengacu pada sifat (Suparlan, 2. Filsafat konstruktivisme merujuk pada aliran pemikiran yang menyelidiki ide bahwa pengetahuan merupakan konstruksi yang bersifat individual. Dalam konteks ini, manusia membentuk pemahamannya melalui keterlibatan dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan sekitar mereka. Sesuai dengan sudut pandang Nurhidayati, konstruktivisme melibatkan pembentukan pengetahuan dari pengalaman konkret dengan menggunakan aktivitas kolaboratif, refleksi, dan interpretasi. Ini menyiratkan bahwa siswa akan memiliki pemahaman yang beragam tergantung pada pengalaman yang mereka miliki dan sudut pandang yang mereka terapkan dalam menafsirkan informasi. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 38 Naili Aulia Rahmani 1. Relevansi Filsafat Konstruktivisme Filsafat konstruktivisme memiliki prinsip dasar bahwa semua pengetahuan tidak dipersepsi secara langsung oleh panca indra, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran manusia. Pengetahuan itu sendiri berasal dari pengalaman yang telah dialami. Konsep ini bertentangan dengan pandangan kaum realis yang menganggap pengetahuan dapat diperoleh melalui persepsi langsung oleh indra seperti penciuman, perabaan, pendengaran, dan sebagainya. Haryanto . menjelaskan bahwa dalam filsafat konstruktivisme, pemikiran bersifat subjektif, dan pengetahuan didasarkan pada pemahaman dan pengalaman pribadi. Karena sifatnya yang subjektif dan bervariasi dari individu ke individu, filsafat konstruktivisme sering disebut sebagai "Paradigma Kesemrawutan" Dalam penerapannya, filsafat konstruktivisme memberikan ruang bagi peserta didik untuk aktif mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Ini melibatkan kolaborasi, refleksi, dan pengalaman praktis sebagai alat untuk pembelajaran. Dalam pendekatan ini, pengetahuan tidak dilihat sebagai sesuatu yang diterima begitu saja, tetapi sebagai hasil dari proses aktif dan subjektif yang melibatkan pemikiran dan interpretasi (Yusuf & Arfiansyah, 2. Pendidikan Siswa di era Digital Pendidikan berasal dari kata AudidikAy yang akhirnya mendapatkan awalan AupeAy dan akhiran Au-anAy sehingga menjadi kata pendidikan. Pendidikan sendiri secara umum memiliki makna sebuah tahap pengubahan sikap seseorang dan karakter yang berupaya mendewasakan manusia, dengan mengaplikasikan pengejaran dan pelatihan. (Ibrahim, 2. Pendidikan menurut Driyarkara adalah suatu usaha atau upaya pembentukan karakter atau sebuah usaha untuk memberikan perubahan dalam hidup seseorang atau mengangkat derajat seorang insani. Beliau juga menyebutkan bahwa pendidikan merupakan suatu perbuatan manusia yang akan mengubah dan menjadi tolak ukur penentu kehidupan manusia(Sasongko, 2. Driyarkara merumuskan pengertian pendidikan ke dalam beberapa aspek seperti hominisiasi dan juga fundamental. Hominisasi berarti pendidikan di tempatkan dalam relasi kebersamaan, hominisiasi juga merupakan suatu tahapan di mana manusia mendapat perilaku kemanusian dalam lingkungan hidupnya secara Sedangkan secara fundamental yakni pendidikan sebagai perbuatan yang menyentuh akar kehidupan sehingga dapat menjadi tolak ukur hidup seseorang. Menurut Muhibbin Syah pendidikan adalah menjaga dan memberikan latihan. Dalam memberi latihan maka seseorang akan memerlukan tuntunan mengenai akhlak dan juga kecerdasan emosional dan pikiran. (Haris, n. ) Menurut Abdul Munir Mulkham yakni pendidikan merupakan suatu kegiatan yang berpeluang untuk mewujudkan akal potensial. Pendidikan menurut John Dewey adalah suatu proses pengolahan secara konsisten dan terstruktur dalam menata pengalaman hidup peserta didik, menurut beliau pengalaman adalah basis dari pendidikan atau dalam terminologi Dewey sendiri AupengalamanAy sebagai AusaranaAy dan tujuan pendidikan, oleh karena itu pada hakikatnya pendidikan merupakan suatu proses penggalian dan pengolahan pengalaman secara terus menerus. Inti dati pendidikan bukan terletak dalam usaha menyesuaikan dengan standar kebaikan, kebenaran dan juga keindahan yang abadi, melainkan dalam usaha terus-menerus menyusun pengalaman hidup peserta didik. (Wasitohadi, 2. Zaman digital menandai kemampuan setiap individu untuk mengakses berbagai informasi melalui jaringan internet. Informasi yang beragam tersedia secara luas di dunia maya, memungkinkan siapa pun untuk mengaksesnya tanpa terbatas oleh ruang atau waktu. Era ini telah menghapus sekat antar individu setelah adopsi sistem digital. Terutama bagi generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital, kecenderungan mencari informasi melalui internet sangat kuat. Penggunaan fitur-fitur cerdas pada ponsel pintar atau perangkat teknologi lainnya sangat populer untuk menjelajahi internet, baik itu untuk hiburan atau memenuhi kebutuhan sehari-hari. Musik dan film dapat dinikmati secara instan atau diunduh dengan tarif yang terjangkau, baik itu gratis atau dengan biaya tertentu. Di ranah ilmu pengetahuan dan P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 39 Naili Aulia Rahmani 1. Relevansi Filsafat Konstruktivisme informasi, akses ke artikel dan materi pengetahuan bisa didapatkan tanpa ada persyaratan yang memberatkan di dunia digital ini. (Alfinnas, 2. Integrasi filsafat Kontruktivisme dalam pembelajaran digital Pengembangan Keterampilan berpikir kritis dan Literasi Digital Pengertian literasi digital adalah the ability to find, evaluate, utilize, share, and create content using information technologies and the Internet. Pengertiannya bahwa literasi digital itu lebih menitik beratkan pada upaya mengintegrasikan kemampuan menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membagikan serta membuat sebuah konten dengan menggunakan teknologi dan internet, sehingga literasi digital tidak hanya sebatas penguasaan teknologi komputer dan ketrampilan penggunaan internet yang menjadikan manusia sebagai sosok robotic belaka, melainkan lebih luas lagi yaitu memadupadankan antara "literasi" dan "digital" (Rusman, 2. Jika informasi digital . igital informatio. adalah simbol representasi data, sedangkan literasi lebih pada kemampuan membaca, menulis dan berfikir kritis . he ability to read for knowledge, write coherently, and think critically about the written wor. Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan memang menjadi hal pokok dalam kemajuan peradaban suatu bangsa. Penduduk Indonesia memiliki kuantitas yang besar tetapi kualitas yang rendah padahal kuantitas dan kualitas perlu untuk diimbangi. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia di Indonesia masih rendah bahkan mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Salah satu faktor penurunan rendahnya kualitas sumber daya manusia ini adalah rendahnya pendidikan. Hal ini semakin diperburuk dengan masih dominanya budaya tutur . daripada budaya baca. Pada umumnya kemampuan penggunaan teknologi dan informasi dari perangkat digital membantu setiap pekerjaan agar efektif dan efesien dalam berbagai konteks kehidupan, seperti: akademik, karir, dan kehidupan sehari-hari (Gilster, 1. Konsep literasi yang banyak mengalami perkembangan dan digunakan dalam berbagai bentuk, di antaranya literasi digital yaitu kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital Keterampilan teknologi komunikasi dan informasi menjadi inti kompetensi dalam literasi digital. Seseorang harus memiliki kemampuan dalam penguasaan perangkat teknologi digital, dengan harapan individu tersebut sudah memiliki keterampilam literasi Perangkat teknologi digital yang dikuasai tidak hanya internet saja, tetapi berbagai tipe teknologi digital seperti yang dinyatakan Bhatt, de Roock & Adams . , yaitu penguasaan sistem komunikasi dengan efektif. Salah satu karakteristik kemampuan literasi digital pada generasi digital natives dikemukakan Ng . : seperti teknologi media sosial . dengan berbagai komunitas online yang melingkupinya, kemudian penguasaan perangkat teknologi mobile itu sendiri. Menurut Ng . , penguasaan teknologi digital seperti itu dianggap sebagai tahapan jelas untuk kemampuan literasi digital. Keterampilan multi literacies dalam literasi digital dibagi menjadi tiga dimensi. Dimensi pertama, yaitu technical, di dalamnya adanya penguasaan operasional/mendasar terhadap penguasaan perangkat teknologi digital dan berpikir kritis. Dimensi kedua, disebut cognitive, di dalamnya adanya keterampilan literasi informasi, berpikir kritis . ritical literac. , photo-visual, audio, gestural, spatial, linguistics. Dalam dimensi kedua ini ditekankan berpikir kritis, mengevaluasi, menciptakan sebuah informasi digital, memilih perangkat lunak, pemahaman terhadap isu etika, moral, hukum yang melingkupi informasi digital tersebut. Jika dimensi pertama dan kedua digabungkan, maka disarikan adanya penguasaan keterampilan reproduction dan hypertext literacy, yaitu keterampilan dalam mengkontruksi dan mensintesakan pemahaman menggunakan perangkat teknologi (Mardina, 2. Selanjutnya dimensi ketiga dari literasi digital, adalah social emotional dimension, di dalamnya adala social-emotional literacy dan critical literacy. Jika dimensi kedua dan ketiga digabungkan, maka disarikan lagi, adanya penguasaan akan online etiquette literacy dan P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 40 Naili Aulia Rahmani 1. Relevansi Filsafat Konstruktivisme cyber safety literacy. Dalam gabungan kedua dimensi ini, ditekankan adanya pemahaman terhadap penggunaan internet secara bertanggung jawab untuk berkomunikasi, sosialisasi, belajar, perlindungan hak privasi seseorang, dengan kaitan penggunaan perangkat teknologi Integrasi tiga dimensi literasi digital adalah seperangkat keterampilan inti yang meliputi keterampilan teknis, kognitif, sosial emosional yang bisa diwujudkan dalam penguasaan keterampilan dasar dalam menggunakan perangkat teknologi digital, mencari, mengidentifikasi, mengakses informasi untuk tujuan belajar dan riset, serta mampu mengembangkan keterampilan penggunaan teknologi yang sesuai untuk pemecahan masalah, kemudian menciptakan pemahaman baru, serta berperilaku dengan santun dalam komunitas-komunitas online, termasuk perlindungan diri terhadap ancaman yang berasal dari lingkungan digital. (Sasongko, 2. Pembelajaran Berbasis Masalah dan Kolaboratif Filsafat konstruktivisme juga dapat diterapkan untuk mengembangkan kemampuan kolaboratif dan komunikatif siswa di era digital. Pendekatan pembelajaran kolaboratif dalam era digital menjadi semakin relevan dengan kemajuan teknologi, memungkinkan penyampaian materi pembelajaran yang lebih interaktif dan mendalam. Dimulai dengan pemberian masalah kepada siswa atau mahasiswa, guru atau dosen dapat memanfaatkan teknologi untuk memilih atau merancang masalah yang tidak hanya memerlukan pemahaman konsep, tetapi juga mendorong siswa untuk menggali definisi, aturan, prinsip, konsep, rumus, atau algoritma. Dalam konteks ini, teknologi dapat berperan sebagai fasilitator dalam memberikan tantangan dan bimbingan melalui sumber daya daring yang Teknologi digital memungkinkan guru atau dosen untuk menyediakan siswa dengan masalah-masalah yang bersifat dinamis dan kontekstual, mencerminkan situasi dunia nyata yang seringkali kompleks. Penggunaan simulasi, permainan edukatif, atau studi kasus interaktif dapat membimbing siswa dalam merespons masalah-masalah ini dengan cara yang melibatkan pemahaman mendalam, penalaran kritis, dan kemampuan pemecahan Seiring dengan itu, teknologi juga dapat memberikan akses lebih luas terhadap informasi dan sumber daya pendukung, memungkinkan siswa untuk menjelajahi konsepkonsep tersebut lebih mendalam. (Widjajanti, 2. Dalam pembelajaran kolaboratif era digital, siswa dapat menggunakan platform kolaborasi online, seperti Google Workspace atau Microsoft Teams, untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah. Diskusi kelompok dapat terjadi melalui forum daring atau pertemuan virtual, memungkinkan siswa untuk berkomunikasi, berbagi ide, dan membangun pemahaman bersama. Kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dalam dunia digital menjadi keterampilan penting yang dapat ditemukan dan diperkuat melalui model pembelajaran kolaboratif. Selain itu, penerapan media digital untuk presentasi hasil belajar memberikan dimensi tambahan pada pembelajaran. Siswa dapat menggunakan presentasi slide, video, atau platform kreatif lainnya untuk menyampaikan solusi mereka. Hal ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik, tetapi juga mempersiapkan siswa untuk mengkomunikasikan ide-ide mereka secara efektif dalam lingkungan digital yang semakin mendominasi. (Kanca Dkk, 2. Dengan menggabungkan pendekatan pembelajaran kolaboratif yang melibatkan pemecahan masalah dan penggunaan teknologi dalam era digital, siswa tidak hanya dilibatkan dalam pemahaman konsep, tetapi juga dikembangkan keterampilan yang relevan dengan tuntutan masa depan, seperti kreativitas, kritisitas, komunikasi digital, dan kerja sama tim. Pendekatan pembelajaran kolaboratif yang diuraikan di atas menggabungkan harmoni antara konsep konstruktivisme dan potensi teknologi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di era digital. Dalam era ini, teknologi menjadi alat integral yang memfasilitasi setiap tahapan proses belajar. Siswa, dengan bimbingan guru atau dosen, dapat P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 41 Naili Aulia Rahmani 1. Relevansi Filsafat Konstruktivisme mengidentifikasi masalah melalui pencarian online, memperoleh informasi, dan merencanakan strategi penyelesaian dengan memanfaatkan berbagai aplikasi dan sumber daya digital yang tersedia. Proses ini merangsang kreativitas dan kritisitas siswa, sesuai dengan prinsip-prinsip konstruktivisme yang menekankan pembelajaran aktif. Pentingnya keterampilan kolaborasi dalam pendidikan saat ini terus mendapat perhatian, khususnya untuk generasi milenial yang hidup di era digital. Perkembangan model pembelajaran mencakup aspek kolaboratif, di mana siswa didorong untuk bekerjasama dalam kelompok. Dalam hal ini, penggunaan teknologi menjadi kunci utama untuk meningkatkan kolaborasi, memungkinkan siswa bekerja sama meskipun berada di lokasi yang berbeda. Guru, sebagai fasilitator dan motivator, dapat memberikan arahan dan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama secara digital, membangun kekompakan dan kebersamaan dalam kegiatan pembelajaran. Tantangan emosional siswa, seperti ketidakmauan membantu atau rasa malu meminta bantuan, dapat diatasi melalui desain proyek kolaboratif yang membangun kepercayaan diri dan kenyamanan siswa. Dengan mengintegrasikan keterampilan kolaborasi dalam konteks pendidikan di era digital, siswa tidak hanya mengembangkan kemampuan berkolaborasi, tetapi juga mempersiapkan diri untuk berinteraksi dalam lingkungan yang didominasi oleh teknologi di masa (Tishana Dkk. , 2. Peningkatan Kreatifitas dan Inovasi Pembelajaran Dalam konteks peningkatan kreativitas dan inovasi dalam proses pembelajaran, filosofi konstruktivisme menjadi dasar yang signifikan dalam mengubah paradigma pendidikan tradisional. Konstruktivisme menekankan bahwa pembelajaran tidak bersifat pasif di mana siswa hanya menerima petunjuk dari guru. Sebaliknya, proses pembelajaran menjadi aktif dengan keterlibatan aktif siswa dalam memahami materi pelajaran melalui interaksi langsung dengan materi itu sendiri serta pengalaman pribadi mereka. Siswa didorong untuk bertanya, meragukan, dan mencari jawaban atas pertanyaan mereka sendiri dalam lingkungan kelas yang dipengaruhi oleh prinsip konstruktivisme. Hal ini juga merangsang kemampuan mereka untuk bersikap kreatif dan menemukan metode baru dalam menyelesaikan masalah. Pentingnya pembelajaran berbasis proyek menjadi salah satu aspek krusial dalam pendekatan konstruktivisme. Siswa didorong secara alami untuk mengembangkan kreativitas mereka melalui proyek-proyek yang memungkinkan mereka untuk berkolaborasi, menggali ide-ide mereka sendiri, serta menemukan solusi untuk masalah-masalah yang kompleks. Kolaborasi antar siswa dalam diskusi, eksperimen, dan penyelesaian masalah juga menjadi bagian penting yang memacu kemunculan ide-ide baru dan solusi. (Tishana Dkk. , 2. Pembelajaran langsung memiliki peranan yang sangat penting dalam pendekatan Proses belajar melalui pengalaman langsung, eksplorasi lapangan, percobaan, serta pengamatan membantu siswa dalam memahami dan menginterpretasikan informasi dengan lebih baik. Karena setiap siswa memiliki cara belajar yang berbeda, fleksibilitas dalam metode pembelajaran menjadi hal yang krusial. Untuk merangsang keragaman pemikiran dan memupuk kreativitas siswa, guru atau pengelola pendidikan perlu menyajikan berbagai macam metode pembelajaran. Siswa ditanamkan untuk menjadi pembelajar yang mandiri, yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan menemukan pendekatan baru dalam menyelesaikan masalah dalam lingkungan pembelajaran yang mengadopsi konstruktivisme. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah serta penekanan pada kemampuan berpikir kritis menjadi sarana untuk meningkatkan kreativitas siswa dengan menghasilkan solusi-solusi yang kreatif. Secara keseluruhan, filosofi konstruktivisme mendukung pendidikan yang mendorong kreativitas, memungkinkan siswa untuk menciptakan konsep-konsep baru, dan merangsang inovasi dalam dunia (Rahmatika, 2. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 42 Naili Aulia Rahmani 1. Relevansi Filsafat Konstruktivisme Guru menjadi wakil pemerintah di lingkungan sekolah saat menerapkan metode pembelajaran modern. Di sekolah resmi, penerapan keterampilan 4C . ikiran kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativita. dianggap penting dalam pendidikan. Tidak hanya dibutuhkan kinerja guru dalam mengubah cara mengajar, tetapi juga peran serta guru nonresmi dalam membiasakan anak-anak menggunakan keterampilan 4C dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas pengajaran selalu terhubung dengan kondisi belajar yang optimal. Untuk mencapai standar kualitas ini, setiap mata pelajaran harus disampaikan dengan sangat baik melalui model pembelajaran yang optimal, yang disesuaikan dengan kebutuhan (Handayani, 2. Keahlian dalam menyelesaikan masalah sangat bergantung pada kemampuan berpikir kritis seseorang. Berpikir kritis juga dikategorikan sebagai salah satu dari keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS), yang meliputi berpikir kreatif, pemecahan masalah, dan refleksi. Kemampuan berpikir kreatif merupakan kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru dan menerapkan ide-ide tersebut dalam penyelesaian masalah. Kreativitas melibatkan karakteristik seperti kelancaran, keluwesan, dan keaslian dalam berpikir, serta sifat ingin tahu, keinginan untuk bertanya, dan motivasi untuk menjalani pengalaman baru. Secara sederhana, kreativitas adalah proses dalam mengembangkan konsep atau gagasan baru untuk menghasilkan produk baru dan mengembangkan ide-ide . amhudi et. al, 2. Proses konstruktivisme dalam belajar melibatkan menginternalisasi, merekonstruksi, atau menciptakan informasi baru dengan memanfaatkan pengetahuan yang sudah ada. Pendekatan konstruktivis memanfaatkan pengetahuan serta pengalaman masa lalu untuk memahami cara mengumpulkan informasi dan data baru dari luar, sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru. Sesuai dengan konsep pembelajaran bermakna dari Ausubel, terdapat dua jenis belajar: belajar hafalan dan belajar bermakna. Belajar bermakna adalah suatu proses di mana pembelajar mengaitkan informasi baru dengan struktur pengetahuan yang sudah ada pada dirinya. Pembelajar memperoleh pemahaman baru dengan menghubungkan fenomena atau informasi baru dengan kerangka pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Perbandingan dan implikasi filsafat kontruktivisme Pandangan konstruktivisme proses pembelajaran meyakini bahwa siswa bukanlah hanya penerima pasif dari informasi, tetapi mereka secara aktif terlibat dalam proses Setiap pengalaman, interaksi, atau pemahaman sebelumnya menjadi dasar untuk membangun makna baru. Inti dari konstruktivisme adalah bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri secara unik, berdasarkan pada pengalaman pribadi dan interaksi mereka dengan dunia sekitarnya. Dalam proses ini, siswa berperan aktif dalam membangun makna, serta memperluas dan memperdalam pemahaman mereka melalui refleksi, percobaan, dan penyesuaian terus-menerus terhadap dunia yang mereka (Tamboto, 2. Dalam pandangan perenialisme, pendidikan adalah upaya untuk mencapai pemahaman akan nilai-nilai kebenaran yang dianggap sebagai sesuatu yang tidak berubah dan ada di luar individu. Kebenaran ini dianggap sebagai sesuatu yang universal, tetap, dan abadi, yang dapat ditemukan melalui eksplorasi dan analisis terhadap karya-karya agung dari masa lampau. Pendekatan ini menganggap karya-karya agung sebagai sumber pengetahuan yang tidak tergantikan, di mana nilai-nilai yang dianggap kebenaran tertinggi dapat ditemukan. Siswa diarahkan untuk menggali, menganalisis, dan memahami nilai-nilai ini, sehingga pendidikan menjadi suatu proses untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang kebenaran yang dianggap abadi dalam karya-karya tersebut. Ini memungkinkan siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai ini sebagai bagian integral dari pemahaman mereka P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 43 Naili Aulia Rahmani 1. Relevansi Filsafat Konstruktivisme tentang dunia. (Tamboto, 2. Perbedaan inti di antara keduanya adalah pada peran siswa dan sumber pengetahuan yang dianggap utama dalam proses pembelajaran. Konstruktivisme menempatkan penekanan pada peran aktif siswa dalam pembentukan pemahaman mereka sendiri dari pengalaman, sementara perenialisme lebih menitikberatkan pada nilai-nilai kebenaran yang dianggap universal dari karya-karya agung sebagai sumber pengetahuan yang utama. Guru tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membantu siswa mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan pemikiran kritis. (Handayani, 2. Mereka memberikan pendekatan yang seragam kepada seluruh siswa tanpa memberikan kebebasan bagi siswa untuk menentukan pengalaman pendidikan mereka sesuai keinginan pribadi mereka. (Yasyakur Dkk. , 2. Tingginya minat akan berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa, namun jika materi pembelajaran tidak sesuai dengan minat siswa, hal tersebut dapat mengurangi motivasi belajar siswa karena kurang menariknya materi yang disampaikan. (Tishana Dkk. , 2. Aliran humanisme dalam pembelajaran mengacu pada proses belajar yang bertujuan untuk mengangkat martabat manusia. Ini merujuk pada kemampuan setiap individu untuk menjelajahi lebih dalam potensinya dan beradaptasi dengan lingkungan yang kompleks. Pembelajaran dalam pendekatan humanisme menempatkan fokus pada siswa dengan penilaian yang mengakomodasi aspek kognitif dan afektif. Dalam teori pembelajaran humanistik, keberhasilan belajar dilihat dari pemahaman siswa terhadap lingkungannya dan pencapaian pribadi yang diinginkan, baik secara internal maupun eksternal. Teori pembelajaran ini berusaha untuk memahami perilaku belajar melalui perspektif (Tishana Dkk. , 2. Dan sedangkan di dalam aliran konstruktivisme siswa disini dituntut untuk memberikan teori-teori baru, mereka juga diminta untuk aktif di dalam Dan di era digital ini kita bisa tahu bahwa banyak sekali hal hal baru yang bisa di ekspos untuk masa depan lainnya. Hal tersebut akan selalu dan terus berkembang mengingat bahwa anak muda yang akan selalu penasaran dan mengikuti arus perkembangan teknologi, bahkan anak-anak jaman sekarang pun telah banyak membuat karya karya yang bagus seperti pembuatan artikel, pembuatan web karya mereka sendiri dan sebagainya. uraini, 2. Aliran konstruktivisme yang mana lebih memandang dan mengarah ke pengetahuan kognitif siswa dan pengaman belajar siswa maka aliran ini lebih mengarah ke bagaimana siswa itu terbentuk pengetahuannya dan bagaimana prosesnya dalam pembentukan siswa Sedangkan di dalam aliran humanistik disini lebih mengarah ke bagaimana guru memberikan pendidikan yang baik terhadap peserta didiknya, sehingga yang dilihat disini nanti adalah nilai nilai yang dibuktikan siswa dalam pengembangan belajar untuk meningkatkan diri di era digital, yang mana disini nanti akan banyak sesuatu yang mempengaruhi jika tidak diberikan pondasi yang kuat, pengetahuan kognitif yang kuat dan juga pemberian pembelajaran dari pengalaman siswa itu sendiri. Sehingga disini sama pentingnya bahwa aliran konstruktivisme dan humanistik dalam filsafat ini sangatlah melengkapi satu dengan yang lainnya. (Nursikin, 2. Jika aliran humanistik dibentuk karena bawaan dan lingkungan, maka hal tersebut juga perlu diperhatikan. Karena setiap pendidik akan menghadapi peserta didik yang sangat unik dan bisa membuat para pendidik harus ikut mempertanggungjawabkan tindakan siswa Sehingga disini siswa didorong untuk lebih bisa mempertanggungjawabkan perbuatan yang ia lakukan, maka dari itu pendidik dituntut untuk bisa mengeluarkan dan mengajari nilai-nilai kemanusiaan yang mana nantinya harus ada di dalam diri peserta Berbeda dengan aliran konstruktivisme yang mana membentuk siswa itu sejak ia berada di dalam lingkungan pembelajaran, hal ini lebih mengarah ke pembentukan otomatis terhadap siswa itu sendiri dengan menggali sumber sumber pengetahuan yang mana mungkin belum pernah ditemukan di dalam dunia pendidikan ini. Jadi aliran konstruktivisme lebih ke memperhatikan bagaimana perkembangan siswa itu sendiri. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 44 Naili Aulia Rahmani 1. Relevansi Filsafat Konstruktivisme sedangkan aliran humanistik bisa dilihat bahwa peran pendidik disini sangatlah penting untuk bisa membantu para peserta didik membangun nilai-nilai yang ada pada diri (Farida, 2015. Filsafat humanisme dalam konteks pendidikan menggambarkan pentingnya pendidik untuk mengarahkan peserta didik dalam proses pembelajaran dengan fokus pada prinsip-prinsip kemanusiaan. (Rohmah & Muckromin, n. ) Filsafat pendidikan humanisme menitikberatkan pada pendorongan ke arah kemanusiaan dalam proses pendidikan. Pendekatan filosofis ini memusatkan perhatian pada upaya untuk menjadikan individu lebih manusiawi melalui proses pendidikan. Teori pendidikan humanisme memungkinkan penggunaan berbagai teori asalkan tujuan pembelajaran tercapai. Pendekatan ini menekankan pada aspek kemanusiaan, sementara konstruktivisme memfokuskan pada penerimaan dan pengembangan pengetahuan serta pemikiran kognitif siswa. Dalam konteks kemajuan pendidikan di era digital, kedua pendekatan ini memiliki kepentingan yang signifikan dan saling mendukung bagi keamanan serta perkembangan peserta didik oleh para pendidik. (Mayasari & Nidn, n. Istilah idealisme mencerminkan suatu pandangan dalam filsafat yang telah diperkenalkan oleh Plato sekitar 2400 tahun yang lalu. Menurut beliau, realitas yang mendasar adalah ide atau gagasan, sedangkan realitas yang dapat dirasakan oleh indra manusia hanyalah bayangan dari ide atau gagasan tersebut. Hal ini mengimplikasikan bahwa di balik alam empiris atau alam fenomena yang kita alami, terdapat alam ideal atau alam esensi. Dalam perspektif idealisme, alam ini memiliki tujuan yang bersifat spiritual. idiastuti, n. ) Bagi para idealis, hukum-hukum alam sejalan dengan kebutuhan watak intelektual dan moral manusia. Mereka meyakini adanya harmoni fundamental antara manusia dan alam. Meskipun manusia merupakan bagian dari proses alam, mereka juga dipandang bersifat spiritual karena memiliki akal, jiwa, budi, dan nurani. Kelompok yang mengikuti pandangan ini cenderung menghormati kebudayaan dan tradisi, menganggap sesuatu dalam hidup seseorang memiliki tingkatan yang tinggi. (Poedjiadi & Al Muchtar, 2. Berdasarkan hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kekuatan idealisme dapat ditemukan dalam dimensi mental dan spiritual kehidupan. Dalam konteks kontemporer, konstruktivisme masih dianggap sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan, meskipun sebenarnya kontruktivisme merupakan suatu aliran dalam filsafat. Giambattista Vico pada tahun 1710 memperkenalkan inti dari konstruktivisme, yaitu bahwa pengetahuan seseorang merupakan hasil konstruksi individu melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Jean Piaget dan Von Galsersfeld kemudian menyatakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif, sebaliknya manusia menumbuhkan pengetahuan mereka dengan cara membangun interaksi dengan lingkungannya. (Nurhidayati, 2. Pandangan konstruktivis menekankan bahwa pengetahuan adalah konstruksi individu yang melibatkan aktifitas mental dalam merespon dan mengolah informasi. Meskipun terdapat perbedaan mendasar antara pandangan idealisme dan konstruktivisme, keduanya memberikan kontribusi penting dalam memahami sifat dan asal-usul Konstruktivisme dikenal dalam tiga bentuk utama: konstruktivisme kognitif, konstruktivisme sosial, dan konstruktivisme kritis. Konstruktivisme kognitif, yang dikembangkan oleh Piaget, mengajukan pandangan bahwa individu, terutama anak-anak, membangun pengetahuan mereka melalui berbagai jalur seperti membaca, mendengarkan, bertanya, menelusuri, dan melakukan eksperimen terhadap lingkungan sekitarnya. (Basuki. Rahman. Juansah, & Nulhakim, 2. Proses ini terjadi melalui tahap-tahap perkembangan kognitif yang mencakup sensori motor, pra-operasi, operasi konkret, dan formal. Piaget menekankan pentingnya mekanisme asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrium dalam proses pembelajaran. Sementara itu, konstruktivisme sosial, dikembangkan oleh Vigotsky. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 45 Naili Aulia Rahmani 1. Relevansi Filsafat Konstruktivisme menekankan bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi individu dengan lingkungan sosial dan fisiknya. Vigotsky berpendapat bahwa penemuan atau discovery dalam pembelajaran lebih mudah dicapai dalam konteks sosial budaya seseorang. Konsep ini kemudian berkembang menjadi konstruktivisme kritis, di mana pembelajaran didorong dengan merangsang peserta didik menggunakan teknik-teknik kritis untuk mengaplikasikan konsep-konsep yang bermakna bagi diri mereka sendiri. (Almuzani & Hamami, 2. Konteks pengembangan sumber daya manusia di Indonesia untuk menghadapi persaingan global, konstruktivisme kognitif dan konstruktivisme sosial menjadi landasan berpikir yang sangat relevan yang dapat menambah Meningkatkan pemahaman ilmu dalam bidang tertentu perlu disertai dengan pelatihan kemampuan penalaran, berpikir kritis, identifikasi masalah, dan pemecahan masalah. Konstruktivisme memberikan pandangan bahwa pembelajaran yang bermakna terjadi saat guru berperan sebagai perantara yang menciptakan suatu kondisi yang tenang untuk mencapai pembelajaran yang sempurna. SIMPULAN DAN SARAN Kontribusi filsafat konstruktivisme dalam relevansi nya terhadap era digital ini bisa menitikberatkan kepada keaktifat peserta didik. pada peran aktif siswa dalam mengonstruksi pengetahuan dan pemahaman mereka sendiri melalui pengalaman dan Dalam konteks era digital, teknologi informasi dan komunikasi dapat menjadi sarana yang membantu menerapkan prinsip konstruktivisme dalam pendidikan dengan memberikan akses yang lebih luas terhadap informasi dan sumber daya pendukung. Hal ini memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi konsep-konsep tersebut dengan lebih Penguasaan literasi dalam berbagai aspek kehidupan menjadi hal krusial dalam kemajuan suatu bangsa. Keterkaitan antara aliran humanistik dan konstruktivisme menjadi aspek penting, di mana aliran humanistik menyoroti nilai-nilai kemanusiaan, sementara konstruktivisme fokus pada pengembangan pengetahuan kognitif siswa. Kedua aliran ini saling melengkapi, terutama jika dikaitkan dengan era digital yang membutuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang masih relevan, bersama dengan pengetahuan akademis dan pengalaman yang dimiliki oleh pendidik dan peserta didik. Kontribusi filsafat konstruktivisme ini yang mana memiliki keterkaitan dengan perkembangan era digital, sangatlah patut untuk diterapkan. DAFTAR PUSTAKA