Jurnal Teologi Pambelum Volume 5. Nomor 1 (Agustus 2. : 67-82 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: https://doi. org/10. 59002/jtp. Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja Dewi Magdalena1. Susanti Birahim2. Happy Wahyu Nizar3 Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia Manado dewimagdalena68@gmail. Abstract Systematic theology plays a vital role in shaping Christian education within the church's life. This article explores the connection between theological doctrines and educational practices by emphasizing the significance of biblical principles, doctrinal accuracy, and theological reflection in enhancing Christian teaching. The study adopts a qualitative-descriptive approach, employing a literature review method to analyze and synthesize theological and educational sources, including Scripture, academic books, and peer-reviewed journals. Its goal is to examine the biblical foundations and practical strategies for implementing contextual and effective Christian education. The findings highlight that integrating systematic theology into church education is essential for cultivating spiritually mature believers with a thorough understanding of faith and preparing them for meaningful ministry. Additionally, this article offers a fresh perspective by linking theology and education while discussing practical strategies for application across various church ministries. Keywords: Theology. Systematics. Education. Christian. Church. Abstrak Artikel ini mengeksplorasi peran teologi sistematika sebagai landasan bagi kurikulum dan praktik pendidikan Kristen dalam konteks gereja lokal. Melalui kajian pustaka sistematis terhadap literatur teologi dan pedagogi Kristen, penelitian ini memetakan hubungan doktrin Ie tujuan pembelajaran Ie strategi pedagogis, lalu mengusulkan model kurikulum gerejawi yang dapat diukur. Temuan utama menunjukkan bahwa integrasi doktrin (Kristologi. Pneumatologi. Ekklesiolog. dengan pendekatan transformatif dan relasional menghasilkan outcome spiritual dan perilaku yang lebih dapat dipantau. Artikel menutup dengan rekomendasi desain modul dan agenda evaluasi empiris. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi teologi sistematika dalam pendidikan gereja penting untuk menghasilkan jemaat yang dewasa secara rohani, memiliki pemahaman iman yang utuh, dan mampu menjalankan pelayanan secara efektif. Artikel ini juga menawarkan pendekatan baru dengan menjembatani teologi dan pendidikan serta memberikan strategi praktis yang dapat diterapkan dalam berbagai pelayanan gerejawi. Kata kunci: Teologi. Sistematika. Pendidikan. Kristen. Gereja. Pendahuluan Pemahaman akan teologi sistematika penting dalam membentuk iman dan praktik hidup Kristen. Disiplin ini bukan sekadar kerangka intelektual untuk memahami kebenaran Diterima Redaksi: 15-05-2025 | Selesai Revisi: 21-08-2. Diterbitkan Online: 30-08-2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja ilahi, tetapi juga menjadi dasar spiritualitas dan pelayanan gereja. Teologi sistematika membantu orang percaya merangkai doktrin iman secara konsisten, menyatukan berbagai kebenaran Alkitab menjadi sistem yang utuh dan saling terhubung. Tanpa pemahaman yang kuat, iman Kristen bisa menjadi dangkal, mudah disesatkan oleh ide-ide yang tidak alkitabiah, dan kehilangan makna dalam kehidupan sehari-hari. Teologi sistematika menyediakan dasar iman yang teguh dengan menjelaskan ajaranajaran pokok seperti sifat Allah, penciptaan, keberdosaan manusia, keselamatan dalam Kristus, karya Roh Kudus, peran gereja, dan akhir zaman. Dengan memahami ajaran ini secara mendalam, umat percaya dapat menjalankan iman mereka secara sadar dan nyata. Sebagai contoh, pemahaman tentang anugerah memupuk kerendahan hati dan rasa syukur, sementara pemahaman akan kekudusan Allah menumbuhkan gaya hidup yang etis dan taat (Lumintang, 2. Dengan begitu, teologi sistematika menjadi sarana yang mentransformasi hidup, bukan sekadar kumpulan teori. Lebih dari itu, teologi sistematika menjadi benteng dalam menjaga kemurnian iman Kristen dari pengaruh zaman. Di tengah perubahan dunia yang cepat, berbagai ideologi mencoba menggantikan otoritas Alkitab. Teologi sistematika berperan sebagai panduan berpikir yang jelas, membantu umat membedakan antara ajaran benar dan sesat (Muada et al. , 2. Tanpa bekal teologi yang solid, orang Kristen bisa terombang-ambing oleh ajaran-ajaran asing seperti sinkretisme, relativisme, atau bahkan penolakan terhadap Alkitab sebagai otoritas tertinggi. Pada zaman ini, pendidikan Kristen menghadapi tantangan yang semakin rumit. Salah satu tantangan utamanya adalah sekularisme, yang menempatkan agama sebagai hal privat dan meminggirkannya dari ruang publik (Salombe et al. , 2. Sekularisme menilai bahwa kebenaran hanya dapat diakses lewat sains dan logika, sementara agama dianggap subjektif dan kurang relevan dalam masyarakat modern (Kumowal, 2. Hal ini melemahkan otoritas Alkitab dalam pendidikan Kristen, menggeser posisinya dari sumber kebenaran absolut menjadi sekadar salah satu cerita di antara banyak narasi lain. Tantangan lainnya datang dari pluralisme agama, yang dalam konteks masyarakat multikultural menekankan bahwa semua keyakinan memiliki nilai yang sama dan sah (Matalu, 2. Pandangan ini bertentangan dengan klaim eksklusif kekristenan bahwa hanya melalui Yesus orang dapat mengenal Allah (Yohanes 14:. Dalam pendidikan Kristen, pluralisme bisa mengaburkan identitas iman siswa dan meruntuhkan keyakinan mereka akan keunikan iman Kristen. Tanpa pemahaman teologis yang kuat, generasi muda bisa tergoda menerima pandangan relativistik yang mencampuradukkan kebenaran Alkitab. Postmodernisme turut menjadi ancaman serius karena menolak gagasan tentang kebenaran absolut dan lebih mengedepankan narasi personal dan kultural. Dalam kerangka ini, ajaran Kristen dianggap sebagai konstruksi sosial, bukan sebagai kebenaran universal (Hutahaean, 2. Dalam pendidikan Kristen, hal ini dapat mengikis keyakinan siswa terhadap otoritas Alkitab dan menurunkan iman menjadi sekadar pilihan subjektif di tengah banyaknya pandangan hidup yang tersedia. Menghadapi tantangan ini, pendidikan Kristen perlu memperkuat akar teologisnya sembari tetap menjawab konteks zaman. Salah satu langkah penting adalah Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja mengintegrasikan teologi sistematika secara lebih mendalam dalam kurikulum. Orang Kristen tidak hanya perlu mengetahui doktrin, tetapi juga memahami bagaimana ajaran tersebut berkaitan dengan realitas hidup dan tantangan intelektual saat ini. Contohnya, ketika mempelajari doktrin penciptaan, orang Kristen juga perlu memahami bagaimana mempertahankan kebenaran tersebut di tengah arus pemikiran evolusionis dan sains sekuler. Selain itu, pendekatan pengajaran perlu bersifat interaktif dan terbuka terhadap dialog. Orang Kristen diberi ruang untuk bertanya dan menemukan jawaban berdasarkan pemahaman teologi yang sesuai Alkitab. Metode ini akan memperdalam wawasan mereka dan mempersiapkan mereka untuk hidup di tengah dunia yang kompleks dan penuh pertentangan terhadap iman. Pendeta pun perlu terus belajar dan memperdalam pemahaman mereka agar bisa membimbing orang Kristen secara bijak dan berwibawa. Gereja sebagai tubuh Kristus juga berperan penting dalam mendukung pendidikan Kristen yang berlandaskan teologi sistematika. Gereja menjadi pusat pengajaran yang setia pada Alkitab dan tempat di mana jemaat didorong untuk terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan (Sapatandekan et al. , 2. Melalui khotbah, pemuridan, dan komunitas kecil, gereja dapat memperkuat dasar teologis jemaat dan membantu mereka mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari (Nendissa, 2. Namun demikian, pemahaman akan teologi sistematika bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mengenal Allah lebih dalam dan menjalani hidup sesuai kehendak-Nya. Dalam dunia yang terus berubah, gereja dan institusi pendidikan Kristen tetap teguh pada kebenaran yang tidak berubah, sambil terus mencari cara yang relevan untuk menyampaikannya kepada generasi muda. Penelitian-penelitian sebelumnya telah membahas seputar teologi sistematika dan Pendidikan Kristen misalnya Peran Teologi Sistematika Bagi Pertumbuhan Iman Umat Kristen (Trecilia Dwi Lestari Sababalat et al. , 2. Artikel ini menyoroti bagaimana pembelajaran teologi sistematika dapat membentuk dasar yang kokoh bagi kehidupan Kristen secara pribadi, membantu dalam pembentukan kerangka pemikiran yang benar, dan mempersiapkan individu untuk menjawab tantangan terkait keyakinan Kristen. Artikel lain Pendidikan dalam Gereja Sebagai Bentuk Partisipasi Kristen dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa (Darmawan et al. , 2. Tulisan ini membahas dasar teologis holistik dalam gereja dan bagaimana gereja dapat berperan dalam mendukung teologia holistik formal di sekolah-sekolah, serta kontribusinya dalam membentuk karakter dan kepribadian anggota jemaat. Tulisan lain lagi ialah Berteologi secara Sistematis sebagai Ekspresi Hidup Menggereja di Era Disrupsi Digital: Sebuah Relevansi dalam Belajar Teologi Sistematika (Patora & Sutiono, 2. Artikel ini menekankan pentingnya teologi sistematika dalam kehidupan bergereja di era digital, serta bagaimana konsep-konsep teologis dapat diterapkan dalam konteks teknologi dan komunikasi modern. Tulisan ini bertujuan untuk menggali peran teologi sistematika dalam membentuk iman dan praktik Kristen, serta mengkaji tantangan yang dihadapi oleh pendidikan Kristen masa kini. Harapannya, kajian ini dapat menemukan strategi yang efektif guna memperkuat pendidikan Kristen di tengah pengaruh sekularisme, pluralisme, dan postmodernisme. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja sehingga generasi muda tetap berpegang teguh pada Alkitab dan hidup sebagai murid Kristus yang setia. Metode Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif sangat cocok untuk mengeksplorasi keterkaitan antara Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di lingkungan gereja. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk memahami secara mendalam konsep-konsep teologis dan bagaimana konsep-konsep tersebut diterapkan dalam proses pendidikan iman di komunitas gereja (Fadli, 2021. Melalui pendekatan kualitatif, peneliti dapat menyelami nilai-nilai, makna, dan pemahaman yang tersembunyi dalam praktik pendidikan Kristen yang bersumber dari doktrin-doktrin utama dalam teologi sistematika seperti doktrin tentang Allah. Kristus. Roh Kudus, keselamatan, dan lainnya. Pendekatan deskriptif dimanfaatkan untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai bagaimana teologi sistematika memengaruhi isi, metode, serta tujuan Pendidikan Kristen di gereja. Tujuan dari pendekatan ini bukanlah untuk menguji hipotesis atau membuat generalisasi secara statistik, melainkan untuk menggambarkan fenomena secara rinci berdasarkan data yang diperoleh (Fadli, 2021. Gambaran ini dapat mencakup bagaimana ajaran-ajaran teologis menjadi dasar penyusunan kurikulum sekolah minggu, pelatihan kepemimpinan jemaat, hingga penyampaian khotbah yang mendidik. Dalam pengumpulan data, penelitian ini mengandalkan studi kepustakaan. Peneliti menganalisis berbagai literatur yang relevan seperti buku-buku teologi sistematika, artikel ilmiah, dokumen gereja, serta karya tulis lain yang membahas Pendidikan Kristen (Sugiyono, 2. Studi pustaka ini memberikan dasar teoritis yang kuat serta membantu dalam membentuk kerangka pemikiran yang sistematis untuk memahami hubungan antara ajaran iman dan praktik pendidikan gerejawi. Proses analisis data dilakukan secara kualitatif dengan menelaah, mengklasifikasi, dan menafsirkan informasi dari berbagai sumber literatur. Peneliti mengidentifikasi tematema penting yang muncul dari data tersebut, kemudian menafsirkan maknanya dalam konteks teologi dan pendidikan (Ahmad & Nasution, 2. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman menyeluruh mengenai bagaimana prinsip-prinsip teologi sistematika dapat diaplikasikan secara nyata untuk mendukung misi gereja dalam membentuk iman dan karakter jemaat. Hasil dan Pembahasan Teori Teologi Sistematika Teologi sistematika merupakan salah satu cabang utama dalam ilmu teologi yang bertujuan menyusun ajaran-ajaran iman Kristen secara runtut, konsisten, dan rasional. Cabang ini berupaya mengorganisasikan seluruh doktrin Kristen berdasarkan tema-tema tertentu, dengan menjadikan Alkitab sebagai sumber utama, serta mempertimbangkan tradisi gereja, pemikiran logis, dan pengalaman rohani (Labobar, 2. Cakupan bidang ini meliputi berbagai doktrin penting seperti tentang Allah . eologi prope. Kristus . Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja Roh Kudus . , gereja . , keselamatan . , serta doktrin lainnya seperti antropologi teologis, eskatologi, dan wahyu serta Kitab Suci. Salah satu fokus utama dalam teologi sistematika adalah doktrin tentang Allah, yang membahas siapa Allah itu, karakter-Nya, dan hubungan-Nya dengan ciptaan. Pemahaman ini menjadi dasar bagi seluruh struktur kepercayaan Kristen karena pengenalan akan Allah memengaruhi seluruh aspek pemikiran teologis. Kristologi, sebagai bidang lain dalam teologi sistematika, menelaah pribadi dan karya Yesus Kristus, baik keilahian maupun kemanusiaan-Nya, serta makna penebusan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Sementara itu, peran Roh Kudus juga dikaji secara mendalam, terutama dalam konteks penciptaan, penyucian umat, dan penguatan gereja (Labobar, 2. Aspek lain yang dibahas dalam teologi sistematika adalah doktrin mengenai gereja, termasuk hakikat, misi, dan fungsinya di tengah dunia. Gereja dipahami sebagai tubuh Kristus yang dipanggil untuk melanjutkan karya penyelamatan di bumi. Doktrin keselamatan pun menjadi pokok sentral yang menjelaskan bagaimana manusia berdosa dipulihkan hubungannya dengan Allah melalui kasih karunia, iman, dan karya penebusan Kristus (Berkhof, 2013. Doktrin ini mencakup tahapan-tahapan penting seperti pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan, yang menggambarkan proses keselamatan secara Teologi sistematika memiliki peran dalam kehidupan umat percaya karena memberikan dasar yang kokoh bagi iman dan praktik Kristen (Berkhof, 1. Tanpa pemahaman teologis yang tersusun baik, iman dapat menjadi lemah, tidak konsisten, atau bahkan melenceng dari kebenaran firman Tuhan. Dengan pendekatan sistematis, umat Kristen dapat berpikir secara kritis dan mendalam tentang apa yang mereka yakini, sehingga tidak hanya mengikuti tradisi atau perasaan, melainkan memiliki pijakan yang jelas dalam setiap aspek iman dan tindakan. Di samping itu, teologi sistematika juga menjadi sarana penting dalam menjaga kemurnian ajaran Kristen dari berbagai bentuk penyimpangan. Dalam sejarah gereja, muncul berbagai ajaran sesat yang menyesatkan umat, dan melalui pemahaman sistematik yang benar, gereja dapat merespons dan menegakkan ajaran yang sesuai dengan kebenaran Alkitab (Berkhof, 2013. Dengan demikian, bidang ini tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga memiliki nilai praktis yang tinggi, karena membentuk cara berpikir, beribadah, dan berelasi dengan Allah maupun sesama. Menurut penulis, teologi sistematika adalah disiplin yang menyatukan kajian mendalam terhadap Alkitab, refleksi filosofis, dan penerapan praktis dalam kehidupan Tujuannya bukan sekadar memberikan pengetahuan, melainkan menuntun umat Kristen untuk semakin mengenal Allah dan hidup seperti Kristus. Dengan memahami teologi sistematika, orang percaya memperoleh wawasan yang menyeluruh tentang iman Kristen, sehingga dapat menghadapi berbagai tantangan zaman dengan kebijaksanaan dan tetap teguh pada kebenaran yang tidak berubah. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja Doktrin (Teologi Sistematik. Doktrin Allah (Teologi tentang Allah Tritungga. Pendekatan Pedagogi dalam Indikator Pencapaian Pendidikan Kristen Katekese, diskusi kelompok. Jemaat mampu menjelaskan sifat pembelajaran dialogis untuk dasar Allah . asih, kudus, adi. mengenalkan sifat dan karya dan kaitannya dengan kehidupan Allah sehari-hari Kristologi (Yesus Kristus sebagai Juruselama. Pembelajaran berbasis narasi Dapat memahami peran Yesus Injil, drama rohani, renungan sebagai Penebus dan meneladani sikap-Nya dalam kehidupan Pneumatologi (Roh Kudu. Model partisipatif, sharing pengalaman iman, doa Soteriologi (Keselamata. Pengajaran Alkitab interaktif. Dapat memiliki keyakinan kesaksian hidup, konseling keselamatan dalam Kristus dan hidup dalam pengharapan Dapat menunjukkan keterbukaan pada pimpinan Roh Kudus dalam pelayanan dan pengambilan Ekklesiologi (Gerej. Pembelajaran kolaboratif, pelayanan praktik . ervice learnin. , mentoring Dapat aktif dalam pelayanan gereja dan membangun persekutuan yang inklusif Eskatologi (Akhir Pengajaran reflektif, diskusi Zaman & etika Kristen, ibadah Pengharapan Keka. penguatan iman Dapat memiliki sikap hidup penuh pengharapan, setia, dan tanggung jawab sosial di tengah dunia Pendidikan Kristen di Gereja Pendidikan Kristen di lingkungan gereja merupakan suatu proses yang dirancang untuk membantu umat memahami, menghayati, dan menerapkan ajaran iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum, pendidikan ini diartikan sebagai upaya gereja untuk menyampaikan kebenaran Alkitab, membekali jemaat agar berkembang dalam pengetahuan rohani, karakter Kristiani, serta kesiapan melayani. Tujuan utama dari pendidikan Kristen tidak hanya menyampaikan doktrin teologis, tetapi juga membentuk pribadi yang mencerminkan kehidupan Kristus, melalui proses pengajaran, pembinaan, dan penerapan nilai-nilai iman (Siallagan et al. , 2. Salah satu bentuk pendidikan Kristen yang penting adalah katekisasi, yang biasanya diberikan kepada calon anggota gereja atau mereka yang ingin memahami dasar-dasar iman secara lebih mendalam. Dalam proses ini, peserta diajak untuk belajar mengenai pokokpokok utama iman Kristen seperti pengakuan iman, sakramen, dan kehidupan dalam jemaat. Tujuan dari katekisasi adalah memberikan pemahaman yang menyeluruh bagi setiap individu yang ingin menjadi bagian dari komunitas gereja. Di samping itu, pengajaran Alkitab menjadi inti dari pendidikan Kristen, yang dilakukan melalui khotbah, kelas studi Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja Alkitab, atau seminar, untuk menolong jemaat memahami firman Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Pelle & Togelang, 2. Pemuridan, yang bersifat lebih pribadi dan relasional, melibatkan pendampingan oleh orang percaya yang lebih matang secara rohani untuk membimbing yang lain dalam pertumbuhan iman melalui teladan hidup dan diskusi rohani. Dalam pelaksanaannya, pendidikan Kristen di gereja dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk utama: formal, non-formal, dan informal. Pendidikan Kristen formal adalah pendidikan yang terstruktur dengan kurikulum yang sistematis, seperti program di sekolah teologi, seminari, atau pelatihan resmi yang diakui oleh lembaga gerejawi. Program ini biasanya bertujuan untuk mempersiapkan pemimpin gereja, pengajar, atau pelayan yang memiliki pengetahuan teologis dan keterampilan praktis yang memadai. Contoh dari pendidikan ini adalah program diploma atau sarjana teologi dari institusi pendidikan Kristen. Sementara itu, pendidikan Kristen non-formal bersifat lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan jemaat. Kegiatan seperti kelas Alkitab mingguan, retreat rohani, seminar, atau pelatihan singkat tentang tema-tema praktis seperti pernikahan dan etika kerja merupakan contoh dari pendidikan non-formal. Meskipun tidak seformal program di seminari, pendekatan ini tetap bertujuan memberikan pemahaman yang mendalam tentang iman Kristen dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata (Agoestina, 2. Pendidikan ini juga cenderung lebih partisipatif dan interaktif, mendorong keterlibatan aktif jemaat dalam proses belajar. Pendidikan Kristen informal, di sisi lain, berlangsung secara alami dalam kehidupan sehari-hari dan tidak terstruktur. Ini mencakup pembelajaran iman yang terjadi dalam konteks relasi antarindividu, seperti dalam keluarga atau kelompok kecil. Misalnya, orang tua yang menanamkan nilai-nilai Kristen kepada anak-anaknya, atau seorang pemimpin kelompok kecil yang berbagi pengalaman rohani dan memberikan nasihat spiritual (Budiyana, 2. Walaupun tidak disusun secara sistematis, pendidikan informal memainkan peran besar karena terjadi dalam hubungan yang nyata dan penuh kedekatan, yang dapat sangat memengaruhi pertumbuhan iman seseorang. Ketiga bentuk pendidikan tersebut saling mendukung dan melengkapi satu sama lain dalam membentuk komunitas Kristen yang sehat dan berkembang. Pendidikan formal memberikan landasan teologis yang kuat, non-formal memperluas pemahaman dalam aspek praktis kehidupan, sedangkan informal memastikan bahwa iman dijalani dalam konteks nyata kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan yang menyeluruh dan sesuai konteks, gereja dapat menjalankan misinya dalam menjadikan semua bangsa murid Kristus secara Hubungan Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen Teologi Sistematika dan pendidikan Kristen memiliki hubungan yang erat dan saling Teologi Sistematika menyediakan kerangka teologis yang menyeluruh mengenai iman Kristen, sementara pendidikan Kristen bertugas menyampaikan pemahaman tersebut secara tepat kepada jemaat. Doktrin-doktrin penting dalam iman KristenAiseperti Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja pemahaman tentang Allah. Kristus. Roh Kudus, keselamatan, akhir zaman, dan gerejaAi bukan hanya menjadi bahan ajar, tetapi juga membentuk isi serta metode penyampaian ajaran dalam konteks gerejawi. Pertama, doktrin tentang Allah (Teologi Prope. menjadi landasan utama bagi seluruh proses pembelajaran Kristen. Pemahaman bahwa Allah adalah Pencipta. Pemelihara, dan Hakim yang berdaulat memengaruhi struktur kurikulum gereja. Atribut-atribut Allah seperti kasih, kekudusan, keadilan, dan kemahatahuan menuntut pendekatan pengajaran yang menyeluruh, menyentuh aspek kognitif, emosional, dan praktis dari kehidupan jemaat (Salombe et al. , 2. Oleh karena itu, metode yang digunakan mencerminkan rasa hormat kepada Allah, alkitabiah, penuh kesungguhan, dan berdasarkan rasa takut akan Tuhan. Kedua. Kristologi . jaran tentang Kristu. menekankan bahwa Yesus adalah inti dari semua pengajaran Kristen. Setiap materi ajar, baik dalam kegiatan Sekolah Minggu, katekisasi, maupun pemuridan, berfokus pada pribadi dan karya Kristus: kelahiran-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kedatangan-Nya yang kedua (Hwang, 2. Metode pengajaran dapat meniru pendekatan Yesus yang memakai perumpamaan, interaksi dialogis, dan contoh dari kehidupan sehari-hari, sehingga ajaran menjadi relevan dan mudah dipahami oleh jemaat. Ketiga. Pneumatologi . jaran tentang Roh Kudu. menekankan bahwa pendidikan Kristen tidak sebatas pada penyampaian informasi, melainkan merupakan proses perubahan hidup yang digerakkan oleh kuasa Roh Kudus. Karena itu, metode pengajaran perlu melibatkan unsur spiritual seperti doa, penyembahan, dan ketergantungan pada bimbingan Roh Kudus (Situmorang, 2. Strategi pembelajaran seperti diskusi kelompok, refleksi pribadi, dan aplikasi praktis digunakan agar peserta mengalami pekerjaan Roh secara nyata dalam hidup mereka. Keempat. Soteriologi . jaran tentang keselamata. menunjukkan bahwa sasaran utama pendidikan Kristen adalah membawa orang kepada pertobatan dan pertumbuhan iman. Hal ini berdampak pada konten ajaran yang berfokus pada topik-topik seperti kasih karunia, iman, dan pertobatan (Sapatandekan et al. , 2. Pendekatan pedagogis yang digunakan disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan peserta: bercerita untuk anak-anak, studi kasus untuk remaja, dan diskusi teologis untuk orang dewasa agar pesan keselamatan dapat disampaikan secara efektif. Kelima. Eskatologi . oktrin tentang akhir zama. memberikan arah bahwa pendidikan Kristen menyiapkan jemaat untuk hidup dalam pengharapan akan kedatangan Yesus yang Pengajaran tentang etika, pelayanan, dan misi gereja didasarkan pada pandangan bahwa kehidupan duniawi ini bersifat sementara, dan fokus utama adalah Kerajaan Allah (Matalu, 2. Oleh sebab itu, metode seperti simulasi pelayanan dan proyek misi digunakan untuk membentuk gaya hidup yang aktif dan berorientasi kekekalan. Keenam. Eklesiologi . jaran tentang gerej. menegaskan bahwa pendidikan Kristen berlangsung dalam konteks komunitas, bukan secara individual. Gereja sebagai tubuh Kristus memiliki tanggung jawab untuk mendidik seluruh anggotanya (Christiaan de Jonge. Oleh karena itu, pendekatan pengajaran yang menekankan interaksi seperti Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja pembelajaran kelompok kecil, mentoring, dan ibadah bersama untuk memperkuat relasi dan pertumbuhan iman secara bersama-sama. Menurut penulis. Teologi Sistematika memberikan dasar dan arah yang penting bagi pelaksanaan pendidikan Kristen. Doktrin-doktrin inti tidak hanya menjadi isi ajaran, tetapi juga menentukan pendekatan pengajaran yang digunakan. Dengan demikian, pendidikan Kristen dapat dijalankan secara setia pada Alkitab, relevan terhadap kehidupan jemaat, dan mampu menghasilkan perubahan yang nyata dalam hidup orang percaya. Teologi Sistematika sebagai Dasar Kurikulum Pendidikan Kristen Pendidikan Kristen dapat membentuk iman, karakter, dan spiritualitas para peserta Salah satu pendekatan utama dalam penyusunan kurikulum pendidikan Kristen adalah penggunaan teologi sistematika. Teologi ini bukan hanya sekadar fondasi doktrinal, tetapi juga menjadi dasar filosofis dan pedagogis yang menyatukan kebenaran Alkitab dalam seluruh proses pengajaran. Dengan begitu, pendidikan Kristen tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pola pikir, nilai-nilai hidup, dan praktik iman yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Integrasi Doktrin dengan Materi Pengajaran Doktrin tentang Allah dan penciptaan menjadi pilar utama dalam kurikulum Kristen. Kesadaran bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu menegaskan nilai kemanusiaan dan Dalam proses belajar, peserta didik diajak memahami bahwa manusia diciptakan serupa dengan Allah (Imago De. , sehingga setiap pribadi memiliki nilai dan kehormatan (Sapatandekan et al. , 2. Pemahaman ini membentuk dasar etika Kristen, termasuk penghormatan terhadap hidup, keadilan, dan tanggung jawab terhadap alam. Dengan demikian, pendidikan diarahkan agar peserta melihat kehidupan dalam hubungan dengan Sang Pencipta. Doktrin tentang Kristus (Kristolog. dan keselamatan . juga menjadi bagian inti dari pendidikan Kristen. Kristologi mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah pusat dari rencana keselamatan Allah. Melalui pengajaran tentang inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan-Nya, peserta didik dibimbing untuk mengenal kasih Allah yang diwujudkan dalam penebusan dosa. Soteriologi menekankan bahwa keselamatan adalah pemberian Tuhan yang diterima melalui iman (Waruwu & Wijaya, 2. Materi pelajaran dapat mengarahkan peserta pada pengenalan akan kebutuhan manusia terhadap Kristus dan tanggapan iman pribadi terhadap karya keselamatan-Nya. Aspek spiritualitas dan kehidupan bersama dalam pendidikan Kristen dikembangkan melalui doktrin tentang Roh Kudus . dan gereja . Roh Kudus dilihat sebagai pribadi yang membimbing, menguduskan, dan melengkapi orang percaya. Dalam pendidikan, ini berarti proses belajar tidak hanya bertumpu pada kemampuan intelektual, tetapi juga pada tuntunan Roh Kudus. Ekklesiologi menekankan bahwa proses belajar berlangsung dalam komunitas iman, yaitu gereja, di mana setiap orang bertumbuh, melayani, dan hidup dalam persekutuan yang mendalam. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja Implikasi terhadap Kurikulum Gerejawi Dengan menggabungkan berbagai doktrin teologis, kurikulum pendidikan Kristen perlu disusun dengan tujuan pembelajaran yang jelas dan berlandaskan pada teologi. Fokusnya tidak hanya pada penguasaan teori, tetapi juga pada perubahan hidup peserta didik. Contohnya, saat membahas penciptaan, siswa tidak hanya mengetahui bahwa Allah menciptakan dunia, tetapi juga belajar bersyukur, menghargai sesama, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sebagai ciptaan Allah. Materi pengajaran dalam kurikulum Kristen bersumber dari Alkitab dan tersusun secara sistematis. Alkitab dipandang sebagai firman Tuhan yang menjadi dasar utama dalam setiap bagian kurikulum (Franklin, 2. Pendekatan sistematis membantu peserta memahami keterkaitan antar doktrin dan relevansinya dalam kehidupan nyata. Misalnya, pengajaran tentang dosa perlu dihubungkan dengan doktrin keselamatan, sehingga peserta didik tidak hanya memahami konsep dosa, tetapi juga mengalami pengampunan dan pemulihan melalui Kristus. Dalam merancang kurikulum, konteks gereja dan kebutuhan jemaat juga dapat diperhitungkan. Setiap komunitas Kristen memiliki situasi dan tantangan tersendiri, sehingga kurikulum dibuat kontekstual dan relevan. Sebagai contoh, dalam masyarakat yang majemuk, pengajaran tentang Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan disampaikan dengan penuh kasih dan pengertian, tanpa mengurangi kebenaran Alkitabiah dan tetap menghormati mereka yang berbeda keyakinan. Dengan demikian, teologi sistematika menyediakan kerangka yang kuat untuk mengembangkan kurikulum pendidikan Kristen. Dengan mengintegrasikan berbagai doktrin penting seperti tentang Allah. Kristus, keselamatan. Roh Kudus, gereja, dan pendidikan Kristen diarahkan tidak hanya pada aspek pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kehidupan rohani. Maka, kurikulum gerejawi seharusnya bersifat transformatif, alkitabiah, dan tersusun dengan baik, agar dapat menghasilkan murid-murid Kristus yang hidup sesuai kehendak Tuhan dan menjadi terang bagi dunia. Teologi Sistematika dalam Praktik Pengajaran di Gereja Dalam konteks pendidikan Kristen, teologi sistematika tidak hanya dipelajari secara akademis, tetapi juga menjadi landasan penting dalam membentuk kehidupan rohani jemaat. Dua pendekatan pendidikan Kristen yang mengakar pada teologiAiyakni pendidikan transformatif dan pendidikan relasionalAimenawarkan cara yang menyeluruh untuk membantu jemaat bertumbuh dalam iman. Keduanya tidak hanya menekankan transfer informasi, melainkan juga mendorong penerapan nyata dari kebenaran teologis dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan transformatif: perubahan hidup melalui pengenalan akan kebenaran teologis Pendidikan transformatif berfokus pada keyakinan bahwa memahami kebenaran teologis dapat membawa perubahan hidup yang mendalam. Dalam model ini, iman Kristen tidak dianggap sekadar kumpulan ajaran yang harus diketahui, melainkan sebagai kebenaran Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja yang memiliki kuasa untuk mengubah manusia secara utuh. Dalam pengajaran gereja, pendekatan ini mengedepankan pentingnya pemahaman yang sistematis terhadap ajaranajaran utama seperti keselamatan, kasih karunia, kekudusan, dan misi Allah (Langi et al. Dengan memahami doktrin ini secara menyeluruh, jemaat diharapkan mengalami pembaruan dalam pola pikir dan tindakan mereka. Transformasi ini sering dimulai dari pengajaran yang jelas dan berdasarkan Alkitab mengenai karakter Allah dan rencana-Nya bagi umat manusia. Sebagai contoh, ketika jemaat memahami bahwa mereka diciptakan menurut gambar Allah, mereka akan menyadari nilai dan tujuan hidup mereka (Nendissa et al. , 2. Pemahaman tentang dosa dan kejatuhan manusia membuat mereka memahami kebutuhan akan keselamatan, dan ajaran tentang pengorbanan Kristus serta kebangkitan-Nya memberi dasar untuk harapan dan hidup yang baru (Sigarlaki, 2. Dengan demikian, pendidikan transformatif berfungsi tidak hanya secara kognitif, tetapi juga mengarah pada perubahan perilaku dan cara pandang. Pendidikan ini juga melibatkan aspek pembentukan karakter sesuai ajaran Kristen. Teologi sistematika memberikan pemahaman tentang buah Roh, kehidupan kudus, serta panggilan untuk hidup taat kepada Tuhan. Ajaran-ajaran ini mendorong jemaat untuk mempraktikkan iman dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun Proses perubahan ini bersifat terus-menerus, membentuk jemaat untuk semakin menyerupai Kristus. Dalam hal ini, peran pengajar penting, karena mereka bukan hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga menjadi teladan dan pendamping spiritual. Pendidikan relasional: memperkuat komunitas berdasarkan ajaran kasih dan persekutuan Pendidikan relasional menekankan pentingnya membangun kehidupan bersama yang didasarkan pada kasih dan persekutuan. Teologi sistematika menjadi fondasi untuk memahami pentingnya relasi dalam iman Kristen baik dengan Allah maupun dengan sesama. Misalnya, doktrin Trinitas menggambarkan bahwa Allah sendiri hidup dalam relasi kasih antara Bapa. Anak, dan Roh Kudus. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan Kristen seharusnya dijalani dalam komunitas, bukan secara individual. Dalam praktiknya di gereja, pendidikan relasional diwujudkan melalui berbagai bentuk interaksi yang menumbuhkan kebersamaan dan saling membangun. Kelompok kecil, kegiatan pemuridan, serta persekutuan doa menjadi sarana di mana jemaat dapat saling Ajaran tentang kasih Kristus menjadi dasar untuk membangun relasi yang sehat dan saling memperkuat (Aprilia, 2. Ketika jemaat memahami diri mereka sebagai bagian dari tubuh Kristus, mereka terdorong untuk hidup dalam kesatuan, rendah hati, dan saling melayani. Pendidikan relasional juga menekankan peran aktif setiap anggota jemaat dalam Teologi sistematika mengajarkan bahwa Roh Kudus menganugerahkan karuniakarunia tertentu kepada setiap orang untuk membangun tubuh Kristus. Dengan memahami hal ini, jemaat terdorong untuk tidak hanya menerima ajaran, tetapi juga mengambil bagian dalam pelayanan (Wagey, 2. Hal ini menciptakan dinamika komunitas yang saling Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja mendukung, di mana setiap individu merasa berharga dan berkontribusi terhadap pertumbuhan gereja. Kedua model pendidikan di atas sebenarnya saling melengkapi satu sama lain. Pendidikan transformatif menekankan perubahan pribadi melalui pemahaman teologi, sementara pendidikan relasional memastikan bahwa perubahan tersebut terjadi dalam konteks komunitas yang mendukung. Dalam pengajaran teologi sistematika di gereja, penting untuk menggabungkan kedua pendekatan ini agar pertumbuhan iman jemaat terjadi secara seimbang dan utuh. Tanpa teologi yang mendalam, relasi bisa menjadi dangkal, dan tanpa komunitas yang sehat, pengajaran teologi bisa terasa kering. Dalam penerapannya, gereja perlu menyadari bahwa jemaat memiliki kebutuhan dan pendekatan belajar yang beragam. Ada yang lebih mudah mengalami pertumbuhan iman melalui pendalaman ajaran, sementara yang lain lebih berkembang melalui relasi yang mendalam dalam kelompok kecil atau kegiatan pemuridan. Oleh karena itu, gereja perlu menyediakan berbagai bentuk wadah pembelajaran yang mendukung kedua model ini. Kolaborasi antara pengkhotbah, guru sekolah minggu, dan pemimpin kelompok kecil diperlukan dalam menciptakan suasana yang kondusif untuk pembelajaran yang holistik. Dengan kata lain, teologi sistematika tidak hanya menjadi kajian teoritis dalam gereja, tetapi menjadi fondasi untuk membangun kehidupan Kristen yang aktif dan dinamis. Melalui pendidikan transformatif, jemaat mengalami pembaruan hati dan pikiran, dan melalui pendidikan relasional, mereka mempraktikkan kebenaran dalam relasi dan pelayanan. Kedua pendekatan ini bersama-sama menumbuhkan gereja yang kuat dalam iman dan penuh kasih, siap untuk menggenapi misi Allah di dunia. Kontekstualisasi Teologi Sistematika dalam Pendidikan Kristen Kontekstualisasi teologi sistematika dalam pendidikan Kristen berarti mengaitkan prinsip-prinsip teologis dengan kehidupan nyata dalam proses pembelajaran, sehingga iman tidak berhenti sebagai sekadar konsep, melainkan menjadi sesuatu yang dirasakan dan dijalankan dalam keseharian. Agar teologi sistematika tidak terkesan sebagai teori yang jauh dari kenyataan, guruguru Kristen perlu memakai pendekatan yang interaktif dan sesuai konteks. Sebagai contoh, saat membahas doktrin tentang dosa . , pendidik sebaiknya tidak hanya menjelaskan bahwa dosa adalah bentuk pemberontakan terhadap Tuhan, melainkan juga mengajak siswa untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk dosa dalam kehidupan mereka, seperti korupsi, plagiarisme, atau penyalahgunaan teknologi. Pendekatan seperti studi kasus atau diskusi kelompok membantu siswa mengaitkan ajaran teologis dengan pengalaman mereka sehari-hari. Menggunakan cerita dan narasi juga bisa memperdalam pemahaman peserta didik terhadap ajaran-ajaran iman. Misalnya, dalam mengajarkan kristologi, pendidik dapat mengaitkan karya penebusan Yesus dengan kisah nyata mengenai orang-orang yang telah mengalami pengampunan dan perubahan hidup. Dengan demikian, pengajaran doktrin tidak hanya menyentuh aspek intelektual, tetapi juga aspek emosional dan spiritual. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja Kontekstualisasi teologi sistematika mencakup juga ajakan untuk mewujudkan iman dalam bentuk tindakan nyata. Dalam membahas eklesiologi, misalnya, pembelajaran bukan hanya menjelaskan bahwa gereja adalah tubuh Kristus, tetapi juga mendorong siswa untuk aktif dalam pelayanan dan persekutuan. Eskatologi pun sebaiknya tidak hanya menjadi bahan spekulasi akhir zaman, tetapi mengilhami peserta didik untuk hidup dalam pengharapan dan bertanggung jawab sebagai warga kerajaan Allah. Menghubungkan ajaran Alkitab dengan konteks kehidupan peserta didik menjadikan proses pendidikan Kristen bersifat dinamis dan relevan. Tanpa kontekstualisasi, pengajaran teologi bisa terasa kering dan jauh dari kehidupan. Namun sebaliknya, jika tidak berpijak pada dasar teologis yang kokoh, pendidikan Kristen berisiko kehilangan arah dan menjadi sekadar pragmatis. Dengan demikian, pendidik Kristen perlu menjaga keseimbangan antara kedalaman teologi dan relevansi praktis agar iman tidak hanya dikenal secara intelektual, tetapi benarbenar membawa perubahan hidup. Teologi sistematika tidak cukup hanya dipelajari, tetapi dihidupi, diajarkan, dan diwujudkan dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga pendidikan Kristen benar-benar menjawab panggilan untuk membentuk murid-murid Kristus dari segala Implikasi Secara teoritis, pendekatan ini menjamin bahwa pendidikan Kristen tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghasilkan perubahan hidup. Hal ini dicapai dengan mengaitkan setiap unsur pembelajaran pada prinsip-prinsip Alkitab secara terstruktur. Pendekatan ini mendorong terjadinya penyatuan antara iman dan akal, sehingga peserta didik tidak hanya memahami doktrin secara intelektual, tetapi juga mengalami pertumbuhan rohani yang menyeluruh. Secara praktis. Teologi Sistematika membimbing gereja dalam menyusun kurikulum pendidikan yang menyeluruh, meliputi katekisasi, pemuridan, dan pengembangan pemahaman teologis bagi jemaat. Sebagai contoh, doktrin tentang anugerah tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga diterapkan dalam tindakan nyata seperti memberi pengampunan dan melayani dengan kasih. Di samping itu, pendekatan yang sistematis memungkinkan gereja memberikan respons teologis yang terarah terhadap isu-isu modern seperti pluralisme agama dan sekularisme. Rekomendasi untuk Penelitian Lanjutan Masih terdapat ruang untuk pengembangan dalam penelitian ini, khususnya dalam menggali penerapan teologi sistematika di berbagai denominasi gereja yang memiliki latar belakang tradisi serta penekanan doktrinal yang beragam. Selain itu, diperlukan studi lanjutan yang lebih mendalam mengenai bagaimana teologi sistematika mampu memberikan respons terhadap isu-isu kontemporer seperti globalisasi, keberagaman agama, dan kemajuan teknologi digital, terutama dalam konteks pendidikan Kristen. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja Penelitian ke depan juga dapat diarahkan pada penilaian terhadap efektivitas model pendidikan Kristen berbasis teologi sistematika dalam membentuk karakter serta spiritualitas peserta didik. Kajian perbandingan antara gereja-gereja dari berbagai wilayah atau latar budaya dapat memperkaya pemahaman tentang bagaimana teologi sistematika diadaptasi dalam konteks pendidikan yang berbeda. Di samping itu, penting pula untuk menelusuri kontribusi para pemimpin gereja dan pendidik dalam menjembatani kesenjangan antara konsep teologis dan implementasi pengajaran. Dengan pendekatan ini, penelitian lanjutan diharapkan tidak hanya memperluas wawasan akademis, tetapi juga menghasilkan rekomendasi praktis bagi gereja dalam mengembangkan pendidikan Kristen yang kontekstual dan berdampak. Kesimpulan Teologi sistematika memainkan dua peran penting dalam pendidikan Kristen di lingkungan gereja. Pertama, ia berfungsi sebagai fondasi doktrinal yang memberikan pemahaman yang mendalam mengenai inti ajaran iman. Kedua, teologi ini juga berperan sebagai kerangka pedagogis yang membentuk cara dan pendekatan dalam mengajar. Oleh karena itu, pendidikan Kristen tidak terbatas pada penyampaian informasi teologis semata, melainkan juga melibatkan integrasi kebenaran tersebut ke dalam praktik hidup jemaat. Hal ini menunjukkan bahwa teologi sistematika seharusnya tidak dilihat sebagai disiplin yang kaku, tetapi sebagai sarana yang dinamis untuk mendukung pertumbuhan rohani dan intelektual umat. Selain sebagai materi pengajaran, teologi sistematika turut menentukan pola pembelajaran yang terstruktur dan relevan dengan realitas kehidupan jemaat. Dengan cara ini, gereja mampu menjalankan fungsinya sebagai komunitas yang terus belajar, bukan hanya dalam mengakui kebenaran iman, tetapi juga dalam menerapkannya dalam kehidupan Sinergi antara aspek teologis dan pedagogis ini menjamin bahwa pendidikan Kristen tidak hanya memperluas wawasan teologis, melainkan juga mendorong transformasi spiritual yang nyata dalam keseharian umat. Penelitian ini berkontribusi terhadap warga gereja untuk memahami teologi sistematika sebagai pedoman pembentukan pendidikan Kristen di dalam gereja. Kemudian, tulisan ini memiliki keterbatasan dari segi metode penelitian karena hanya studi pustaka. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk menggunakan metode penelitian dengan pendekatan etnografi. Daftar Rujukan Agoestina. Gereja sebagai Pusat Pendidikan Kristen. Kaluteros Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, 4. , 1Ae17. https://doi. org/10. Ahmad. , & Nasution. Analisis Kualitatif Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Yang Diberi Pembelajaran Matematika Realistik. Jurnal Gantang, 3. , 83Ae95. https://doi. org/10. 31629/jg. Aprilia. Membangun Relasi dalam Pendidikan Kristiani Intergenerasi. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, 6. , 1Ae19. https://doi. org/10. 34081/fidei. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja Berkhof. Teologi Sistematika 4. In Lembaga Reformed Injili Indonesia. Berkhof. Teologi Sistematika-Doktrin Kristus. Momentum. Berkhof. Teologi Sistematika-Doktrin Manusia. Momentum. Budiyana. Kristus Sebagai Pusat Misi Pendidikan Kristen Untuk Mewujudkan Murid Kristus Dalam Gereja Lokal. TELEIOS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, 1. , 45Ae63. https://doi. org/10. 53674/teleios. Christiaan de Jonge. Apa dan bagaimana gereja? Pengantar sejarah BPK. Gunung Mulia. Darmawan. Mardin. , & Urbanus. Pendidikan dalam Gereja Sebagai Bentuk Partisipasi Kristen dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Proceeding National Conference of Christian Education and Theology, 1. , 50. https://doi. org/10. 46445/nccet. Fadli. Memahami desain metode penelitian kualitatif. HUMANIKA, 21. https://doi. org/10. 21831/hum. Fadli. Memahami desain metode penelitian kualitatif. HUMANIKA, 21. 33Ae54. https://doi. org/10. 21831/hum. Franklin, & D. Transformasi Kurikulum Pendidikan Agama Kristen: Menjawab Tantangan Pendidikan Abad 21. REGULA FIDEI Jurnal Pendidikan Agama Kristen, 9. , 215Ae223. Hutahaean. DOGMATIKA. Ahlimedia Books. Hwang. TRINITAS & KRISTOLOGI. AMI INDONESIA. Kumowal. Mensiasati Peranan Publik Gereja dalam Masyarakat Sipil: Kajian terhadap Isu Minyak Goreng di Indonesia. Proskuneo: Journal of Theology, 1. , 24Ae34. https://doi. org/10. 53674/pjt. Labobar. Pengantar Teologi Sistematika. ANDI. Langi. Nendissa. Kowal. , & Nyaming. Cultural Transformation through Contextual Mission Approach in the Digital Age. Studia Philosophica et Theologica, 25. , 17Ae33. https://doi. org/10. 35312/studia. Lumintang. THEOLOGIA SISTEMATIKA BAGI SPIRITUALITAS KAUM MUDA DI ERA DISRUPSI. Excelsis Deo: Jurnal Teologi. Misiologi. Dan Pendidikan, 8. https://doi. org/10. 51730/ed. Matalu. Dogmatika Kristen: Dari Perspektif Reformed. Gerakan Kebangunan Kristen Reformed. Muada. Chandra. , & Yohanes. RELEVANSI TEOLOGI KRISTEN DALAM ERA KONTEMPORER: TINJAUAN TERHADAP TANTANGAN DAN KESEMPATAN DALAM KONTEKS GLOBALISASI. ORTHOTOMEO : Jurnal Penelitian Ilmiah, 1. , 41Ae54. https://doi. org/10. 71304/h3b6nc44 Nendissa. PEMUDA GEREJA DI TENGAH PANDEMI COVID-19 SUATU ANALISIS DASAR TERHADAP PELAYANAN PEMUDA GEREJA DI TENGAH PANDEMI COVID-19. Mello: Jurnal Mahasiswa Kristen, 3. , 1Ae10. Nendissa. Taroreh. , & Pangaribuan. Membaca Wahyu 1:11-19 sebagai Resistensi Simbolik: Telaah Hermeneutik dengan pendekatan Sosiologi Pengetahuan. Jurnal Salvation, 6. , 18Ae35. Patora. , & Sutiono. Berteologi secara Sistematis sebagai Ekspresi Hidup Menggereja di Era Disrupsi Digital: Sebuah Relevansi dalam Belajar Teologi Sistematika. JURNAL TERUNA BHAKTI, 7. , 13Ae24. Pelle. , & Togelang. Peran PAK di Gereja dan Membangun Fondasi Iman Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja Pemuda Melalui Kegiatan Katekisasi Sidi. PARADOSI: Jurnal Teologi Praktika, 1. , 44Ae58. https://doi. org/10. 70420/09qjh898 Salombe. Prasetyo. , & Aulu. The Doctrine of the Holy Spirit in the Confession of the Toraja Church and Its Implementation for the People of the Toraja Church Leppan Congregation. Proskuneo: Journal of Theology, 1. , 81Ae93. https://doi. org/10. 53674/pjt. Sapatandekan. Hendi. Halim. , & Handoko. JesusAo Prayer as a Contemplative Practice: Inner Transformation and Encounter with the Divine. Proskuneo: Journal of Theology, 1. , 58Ae68. https://doi. org/10. 53674/pjt. Siallagan. Sarumpaet. Zamasi. Hutahaean. , & Sembiring. Kompetensi Sosial Guru PAK Dan Citra Diri Siswa Serta Kontribusinya Terhadap Minat Belajar. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 5. , 2866Ae2876. Sigarlaki. TRANSFORMASI HIDUP DALAM KEKUDUSAN: UPAYA PENINGKATAN MORALITAS KEPEMIMPINAN GEREJA. Manna Rafflesia, 10. , 476Ae489. https://doi. org/10. 38091/man_raf. Situmorang. Pneumatologi: Pengajaran Mengenai Roh Kudus. Pribadi. Karya. Manifestasi Dan Kuasa-Nya. ANDI. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif. Dan R&D. Alfabeta. Trecilia Dwi Lestari Sababalat. Martina Novalina. Anwar Three Millenium Waruwu, & Eddy Simanjuntak. Peran Teologi Sistematika Bagi Pertumbuhan Iman Umat Kristen. NABISUK : Jurnal Teologi Dan Pelayanan, 2. , 01Ae17. https://doi. org/10. 46965/jn. Wagey. KARUNIA ROH MENURUT PENGAJARAN RASUL PAULUS: SUATU KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP PANDANGAN NEO-PENTAKOSTA TENTANG KARUNIA SPEKTAKULAR. Missio Ecclesiae, 1. , 44Ae86. https://doi. org/10. 52157/me. Waruwu. , & Wijaya. Konsep Doa Yesus Menurut Kallistos Ware: Sebuah Doa Membangun Spiritual Yang Kokoh. JURNAL KADESI, 7. , 71Ae90. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025