P a g e | 88 Jurnal Kesehatan Primer Vol. No. May, pp. P-ISSN 2549-4880. E-ISSN 2614-1310 Journal DOI: https://doi. org/10. 31965/jkp Website: http://jurnal. id/index. php/jkp Adolescent Knowledge About Sex Education at SMA Negeri 1 Nggaha Ori Angu. East Sumba Regency Martha Meti kody1. Maria Ch. Endang Sukartiningsih2 Poltekkes Kemenkes Kupang Email: kodymartha@gmail. ARTICLE INFO Artikel Histori: Received date: April/21/2025 Revised date: May/10/2025 Accepted date: May/30/2025 Keywords: Knowledge, and sexual education. Adolescents ABSTRACT/ABSTRAK Background: Adolescence is a transitional period from childhood to adulthood, during which significant physical, psychological and social changes occur. An important aspect of adolescent development is understanding reproductive health and sex education. Data from 2022 indicates 29 cases of sexual violence in East Sumba, with most cases occurring in rural areas. However, in many circles, sex education is still considered a taboo topic to discuss openly, both within the family and in educational institutions. Lack of information about correct and transparent sex education can lead to risky sexual behavior, premarital pregnancy, the transmission of sexually transmitted infections (STI. , and mental disorders due to ignorance or misinformation. Sex education is also crucial for adolescents to maintain proper sexual behavior. Several studies have shown that knowledge about correct sex education is highly effective in promoting healthy sexsual behavior in adolescents. Method: This type of research uses descriptive, the population of all teenagers who are in SMA Negeri 1 Nggaha Ori Angu. East Sumba Regency is 131 people. The Sample of this study was . and the sampling was done by Random Sampling with Systematic Random Sampling technique. The independent variable is adolescent knowledge and the dependent variable is sexual The research instrument used a questionnaire and was analyzed univariately. Results: of 105 respondents, 72,38 % or 76 respondents had insufficient knowledge about sexual education, with the largest category of 71,43 % of respondents being female and the most at the age of 15-18 Kata kunci: Pengetahuan, remaja, dan pendidikan seksual. P a g e | 89 years as much as 80, 95 %. Conclusion: Most middle-aged adolescents and females have insufficient knowledge about sexual education. ABSTRACT/ABSTRAK Latar belakang: Masa remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa, di mana terjadi perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang sangat signifikan. Salah satu aspek penting dalam perkembangan remaja adalah pemahaman tentang kesehatan reproduksi dan pendidikan Data tahun 2022 kekerasan seksual di Sumba Timur sebanyak 29 kasus dan kasus kekerasan sesual kebanyakan terjadi di desa-desa. Namun, di banyak kalangan, pendidikan seks masih dianggap sebagai topik yang tabu untuk dibicarakan secara terbuka, baik di lingkungan keluarga maupun di institusi pendidikan. Informasi yang kurang tentang pendidikan seks yang benar dan terbuka dapat mengakibatkan perilaku seksual yang berisiko, kehamilan di luar nikah, penularan Penyakit Menular Seksual (PMS), serta gangguan kesehatan mental akibat ketidaktahuan atau informasi yang Pentingnya pendidikan seksual juga agar remaja dapat menjaga perilaku seksualnya dengan baik dan benar. Beberapa penelitian mengatakan bahwa pengetahuan tentang pendidikan seks yang benar sangat efektif terhadap perilaku seksual yang sehat pada remaja. Metode: Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif, populasi semua anak remaja yang berada di SMA Negeri 1 Nggaha Ori Angu Kabupaten Sumba Timur berjumlah 131 orang. Sampel dari penelitian ini berjumlah . dan pengambilan sampel secara Random Sampling dengan teknik Systematic Random Sampling. Variabel independen adalah pengetahuan remaja dan variabel dependen adalah pendidikan seksual. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan dianalisis secara Hasil: dari 105 responden 72,38 % atau 76 responden mempunyai pengetahuan kurang tentang pendidikan seksual, dengan katagori terbanyak 71,43 % responden berjenis kelamin perempuan dan terbanyak pada umur 15 Ae 18 tahun sebanyak 80,95 %. Kesimpulan: terbanyak remaja madya dan berjenis kelamin perempuan yang pengetahunnya kurang tentang pendidikan seksual. CopyrightA Year Jurnal Kesehatan Primer All rights reserved Corresponding Author: Martha Meti kody Poltekkes Kemenkes Kupang Email: kodymartha@gmail. P a g e | 90 PENDAHULUAN Menurut World Health Organization (WHO) Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa Batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Remaja masuk dalam periode/ fase yang tidak jelas. Mereka sudah tidak termasuk dalam golongan anak- anak, tetapi belum juga diterima secara penuh untuk masuk kegolongan orang dewasa. Masalah yang sering dialami oleh remaja saat ini adalah masalah seputar seksualitas, terutama seks pranikah. Fenomena yang kian hari semakin marak dalam kalang remaja adalah seks bebas atau seks pranikah (Mona & Universitas Batam. Batam, 2. Masa remaja atau biasa disebut masa pubertas merupakan masa dimana terbangunnya kepribadian ditunjukan oleh perkembangan pribadi dalam diri. Pada masa ini adanya tampak sifat- sifat perkembangan sebagai berikut: . Terjadinya gangguan keseimbangan emosional, . cenderung menyembunyikan perasaan, . awal tahap perkembangan sosial . Perbedaan sikap laki-laki dan perempuan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Periode tersebut menunjukkan bahwa seorang remaja akan banyak sekali mengalami perkembangan dan pertumbuhan guna mencari identitas dan jati Berbagai perubahan akan muncul baik dari sisi psikologis, fisik . dan sosial lingkungan (L. Anggraeni, 2. Di Indonesia perilaku seksual dini Hal ini dapat dilihat dari data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 yang dilakukan secara berkala, sekitar 2 % remaja perempuan dan 8 % remaja laki-laki berusia 15 Ae 24 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seksual si usia muda, dan 11 % dari remaja tersebut mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Di antara remaja yang melakukan hubungan seksual dini, 59% perempuan dan 74% laki-laki menyatakan pertama kali melakukannya pada usia 15-19 tahun (Lestari et al. , 2. Badan Pusat Statistik (BPS) nasional tahun 2020 merilis data remaja putri berusia 1519 tahun sebanyak 10,7 juta jiwa, 33,76% diantaranya melakukan perkawinan dibawah umur 16 tahun dan sekitar 100 remaja putri, diantaranya pernah melahirkan ketika umurnya belum mencapai 20 tahun (BPS 2. Data profil kesehatan Provinsi NTT tahun 2021, presentase remaja yang pernah kawin dan melahirkan usia 15Ae19 tahun adalah 14,17 % dan kehamilan remaja capai tahun 2022 capai 20,4% (Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2. Pengetahuan remaja yang kurang tentang perilaku seksual memungkinkan remaja melakukan kesalahan dalam bersikap. Sikap seksual remaja dapat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain: pengetahuan, kebudayaan, media massa, pengalaman pribadi, lembaga pendidikan, lembaga agama, dan emosi dari dalam diri individu. Adanya kesalahan dalam bersikap yang dilakukan oleh remaja selanjutnya dapat mengakibatkan remaja mempunyai perilaku yang tidak bertanggung jawab terhadap Adanya perilaku seksualitas yang tidak bertanggungjawab pada remaja dapat memberikan dampak terjadinya Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dan aborsi. Kondisi ini apabila dibiarkan maka akan mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia, mengingat remaja sebagai generasi penerus bangsa harus dipersiapkan menjadi manusia yang sehat secara jasmani. P a g e | 91 rohani, mental, dan spiritual (Sri Agustin Sutrisnowati, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tirsa A Sirupa, 2016, dari 200 responden. Terdadpat 182 responden . %) memiliki pengetahuan yang baik dan 192 responden . %) memiliki sikap yang baik tentang kesehatan Artinya Sebagian besar remaja memiliki pengetahuan dan sikap yang baik tentang kesehatan reproduks (Sirupa et al. Pendidikan seksual adalah proses pemberian informasi yang benar, menyeluruh, dan sesuai dengan perkembangan usia mengenai aspek biologis, psikologis, sosial, dan etis dari Pendidikan ini bertujuan membantu remaja memahami tubuh dan fungsinya, mencegah perilaku seksual berisiko, serta menanamkan sikap bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain. Hal ini juga salah satu upaya dalam mengurangi adanya dampakdampak negatif yang tidak diharapkan seperti contohnya terjadinya pelecehan seksual, terjadinya kehamilan diluar pernikahan, kejadian aborsi serta penyakit menular seksual atau yang biasa disebut dengan PMS. Pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), pendidikan seksual menjadi sangat penting karena peserta didik berada pada fase perkembangan remaja madya hingga akhir, yang rawan terhadap paparan informasi keliru dan perilaku berisiko (Febriyana et al. , 2. Pemberian bertujuan menjadikan responden memperoleh pengetahuan tentang pencegahan perilaku penyimpangan seksual yang lebih baik. Bila perilaku tidak didasari dengan pengtahuan maka perilaku tersebut tidak akan berlangsung lama (Umah & Saputro, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Febriyana, 2022 mengatakan bahwa ada hubungan antar tingkat pengetahuan dengan perilaku mengarah kepada seks bebas didapati hasil p-value sebesar 0. 000 < 0. 05, dan terdapat hubungan antar sikap remaja mengenai pendidikan seks dengan perilaku mengarah kepada seks bebas didapati hasil p-value sebesar 007 < 0. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja tentang pendidikan seks dengan perilaku mengarah kepada seks bebas di SMK Kota Tangerang Selatan Tahun 2021. Hal ini disebabkan karena terbatasnya informasi yang diterima oleh remaja yang menyebabkan remaja tidak menerina informasi secara utuh dan berasal dari sumber yang salah (Febriyana et al. , 2. Peneliti juga sebelumnya melakukan Studi pendahuluan yang dilakukan di SMA Negeri 1 Nggaha Ori Angu Sumba Timur dari 10 responden yang diwawancarai hanya 3 orang . %) yang mengetahui tentang pendidikan seksual pada remaja. Remaja juga mengatakan bahwa diskusi atau pembicaraan tentang seksual tiak biasa diperbincangkan dengan alasan hal yang privasi an tabu. Beberapa hasil penelitian menyarankan bahwa pentingnya pendidikan seksual pada remaja dengan tujuan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan oleh masyarakat, dengan demikian pentingnya meneliti tentang pengetahuan renaja tentang pendidikan seksual di abupaten Sumba Timur, khususnya di SMA Negeri 1 Nggaha Ori Angu. P a g e | 92 METODE Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif, populasi semua anak remaja yang berada di SMA Negeri 1 Nggaha Ori Angu Kabupaten Sumba Timur berjumlah 131 orang. Sampel dari penelitian ini berjumlah . dan pengambilan sampel secara Random Sampling dengan teknik Systematic Random Sampling. Variabel independen adalah pengetahuan remaja dan variabel dependen adalah pendidikan seksual. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat (Sri Agustin Sutrisnowati, 2. HASIL Hasil dari penelitian ini: Tabel 1. 1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin di SMA Negeri 1 Nggaha Ori Angu Sumba Timur Tahun 2022 Karakteristik Umur (Tahu. < 15 5,72 15 Ae 18 80,95 > 18 13,33 Jenis Kelamin Laki-laki 28,57 Perempuan 71,43 Sumber: Hasil Penelitian Juli 2022 Berdasarkan Tabel. 1 dapat dilihat bahwa Distribusi responden menurut umur terbanyak pada usia 15-18 tahun berjumlah 85 responden . ,95 %) dan paling rendah pada usia < 15 tahun berjumlah 6 responden . ,72 %). Distribusi responden menurut jenis kelamin terbanyak berjenis kelamin perempuan berjumlah 75 responden . ,43 %)dan yang terendah berjenis kelamin laki-laki 30 responden . , 57 %). Tabel 1. 2 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Remaja tentang Pendidikan Seksual di SMA Negeri 1 Nggaha Ori Angu Sumba Timur Tahun 2022 Pengetahuan Baik 11,43 Cukup 16,19 Kurang 72,38 Total Sumber: Hasil Penelitian Juli 2022 Berdasarkan Table 1. 2 dapat dilihat bahwa pengetahuan remaja tentang pendidikan seksual terbanyak berpengetahuan kurang berjumlah 76 responden . ,38 %) dan yang terendah berpengetahuan baik berjumlah 12 responden . ,43 %). PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan remaja yang berada di SMA Negeri 1 Nggaha Ori Angu Sumba Timur terbanyak . ,38 %) berpengetahuan kurang tentang pendidikan seksual, umur terbanyak remaja kisaran 15-18 tahun . ,95 %) dan terbanyak responden berjenis kelamin perempuan . ,43 %). Lokasi penelitian ini di SMA Negeri 1 Nggaha Ori Angu, tepatnya 60 km dari kota Waingapu dan posisi daerahnya diantara perbukitan atau di lembah. Di era globalisasi saat ini semua informasi dapat diterima dengan mudah melalui media elektonik tetapi dengan lokasi penelitian yang agak sulit menerima informasi, bahkan mereka mencari signal harus naik di daerah perbukitan. Dengan kondisi seperti ini sehingga mereka agak terlambat menerima P a g e | 93 informasi melalui media khususnya tentang pendidikan seksual. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mbana, 2019 tentang analisis faktor perilaku seks pranikah pada remaja, dimana tingginya angka perilaku seks pranikah disebabkan oleh faktor budaya, kekerabatan, sosial dan gaya hidup. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Sumba Timur (Mbana et , 2. Hasil wawancara peneliti untuk dapat pengetahuan pada remaja tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Nggaha Ori Angu disebabkan karena budaya dimana bercerita atau mendiskusikan tentang seksual adalah hal yang privasi atau tabu di kalangan remaja, hal ini terbukti saat peneliti melakukan studi pendahuluan dari 10 siswa yang diambil secara random hasilnya 7 orang atau 70% tidak memahami tentang pendidikan seksual. Hasil menggambarkan kondisi dari sebagian kecil kondisi remaja di Kecamatan Nggaha Ori Angu kabupaten Sumba Timur. Pengetahuan tentang pendidikan seksual sangat penting mengingat dampak yang terjadi bila remaja tidak mendapatkan informasi secara dini. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden (Azhari et , 2. Pengetahuan remaja yang kurang tentang pendidikan seksual dapat mengakibatkan remaja melakukan kesalahan dalam bersikap dan bertindak, sehingga remaja dapat melakukan perbuatan yang tidak bertanggung jawab terhadap seksualitas seperti seks bebas. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), aborsi dan lain sebagainya (Sri Agustin Sutrisnowati, 2. Pentingnya upaya yang dilakukan baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendidik untuk melakukan pendidikan seksual pada remaja. Sebagian mendengarkan nasihat teman kelompok bila dibandingkan dengan orang tua atau guru. Remaja mempunyai kecenderungan untuk mempercayai semua informasi dari teman sebayanya tanpa mencari kejelasan sumber informasi tersebut. Karena pada masa remaja, ikatan antara teman sebaya lebih kuat, teman sebaya dianggap mempunyai rasa simpati, pengalaman, sehingga remaja dapat mempunyai kebebasan tersendiri (Mali et al. , 2. Upaya menciptakan relasi yang baik antar siswa . eman sebay. di sekolah agar dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap belajar siswa khususnya pendidikan seksual. Menurut pendidikan seksual dikalangan remaja tengah hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa terbanyak yang berpengetahuan kurang adalah remaja berumur 15-18 tahun 85 responden . ,95 %). Dimana usia ini pada tingkat pendidikan menengah atas atau (SMA) dianggap sudah mempunyai kemandirian, rasa percaya diri, disipli, tanggung jawab, inisiatif dan kontrol diri (PUTRI et al. , 2. Sehingga diharapkan sudah dapat belajar secara mandiri khususnya tentang pendidikan seksual. Tetapi kenyataannya yang ditemukan oleh peneliti 76 responden atau . ,38 %) berpengetahuan kurang tentang pendidikan seksual. Pendidikan seks berbasis sekolah P a g e | 94 mensosialisasikan remaja dalam perilaku yang mencerminkan norma dan nilai seksual dari kelompok yang paling berpengaruh dalam masyarakat tertentu. Pendidikan seksual dapat memberikan dampak yang lebih besar pada pengetahuan dan sikap mereka dengan meningkatkan pengetahuan seksual siswa dan waktu yang lama serta kegiatan tambahan untuk pendidikan seksual (Albaar & Umanailo, 2. Penelitian ini juga menggambarkan bahwa terbanyak responden adalah perempuan berjumlah 75 orang . ,43 %). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa jenis kelamin dihubungkan dengan tingkat kematangan dan self efficacy. Perempuan mempunyai self efficacy yang lebih baik dari pada pria. Self efficacy yang baik ini dihubungkan dengan pengendalian diri untuk tidak melakukan perilaku seksual berisiko, presentasi remaja perempuan lebih besar dibandingkan dengan remaja laki-laki (PUTRI et , 2. Melihat dampak yang timbulkan dan banyak korbannya adalah perempuan, oleh sebab itu pentingnya pendidikan seksual yang harus diberikan secara dini di lingkup rumah tangga, sehingga tugas dari orang tua menyampaikan materi tentang sek dan seksualitas dalam bentuk yang wajar sejak dini (Wayan et al. , 2. Penelitian yang dilakukan di Makasar menunjukkan bahwa jenis kelamin perempuan lebih dominan. Hal ini pula menjadikan peneliti menyimpulkan bahwa tingkat pengetahuan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Meskipun disisi lain menyatakan gender tidak memiliki banyak potensi untuk seks remaja, tetapi pada tahap perkembangan, pria dan wanita memiliki sikap yang berbeda terhadap perilaku seksual. Selain jenis kelamin ada pula yang mengaitkan tentang umur, sebagaimana dari hasil penelitian ini juga didapatkan bahwa umur responden mayoritas 16 tahun dimana pada umur itu lagi berada pada tahap-tahapnya mencari jati diri dan ingin mengetahui dan mencoba banyak hal (Aprilya Mutmainnah et al. Pentingnya seksual pada masa remaja, agar dapat mengambil tindakan sesegera mungkin untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan bagi anak mereka. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan kematangan fisik dan mental. Pada saat ini, orang-orang muda sudah siap untuk menerima dan mencerna apa yang telah diajarkan kepada mereka (Zubaidah et , 2. Pendidikan seks . ex educatio. merupakan pemberian informasi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan seksualitas dengan cara yang tepat, jelas, dan sesuai. Informasi itu meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan, dan kemasyarakatan (Puput Risti Kusumaningrum et al. , 2. Hasil penelitian Anggraheni yang dianalisis secara Univariat menunjukkan bahwa dari 52 responden menunjukkan sebagian besar sejumlah 47 . ,4 %) responden yang perilaku pendidikannya baik dan sejumlah 5 . ,6%) responden yang memiliki perilaku tidak baik tentang seksual. Jika dikaitkan dengan teori Health Belief Model perilaku seseorang ditentukan oleh motif dan kepercayaan individu, dan kepercayaan diri ini dari masing-masing individu dapat diperoleh dari pendidikan keluarga atau orang tua (Anggreni, 2. Oleh P a g e | 95 sebab itu menurut peneliti pentingnya pendidikan dan dukungan dari orang tua atau Orang tua lebih berperan aktif dalam mengawasi anak-anak, bukan hanya membatasi teman pergaulan mereka tetapi juga membatasi perilaku remaja masa kini salah satunya disalahgunakan untuk hal-hal yang berbau negatif, selain itu juga orang tua harus mampu memberikan edukasi yang tepat kepada anak tentang dampak yang akan terjadi apabila anak terpapar hal-hal yang negatif (Maria Roswita Seran et al. , 2. Selain orang tua yang dapat mempengaruhi pengetahuan pada remaja ada dari pihak lain seperti masyarakat, keluarga, sahabat, guru, tenaga kesehatan, serta pemerintah juga mengambil kedudukan penting sehingga pengetahuan remaja bisa ditingkatkan. Pemerintah bisa membuat program mengenai kesehatan reproduksi remaja dalam menaikkan tingkatan pengetahuan seks pranikah (NASTITI. Keterbatasan penelitian ini saat pengambilan data tidak semua siswa hadir jadi membutuhkan waktu beberapa hari untuk mendapatkan jumlah responden sesuai dengan sampel yang sudah ditentukan. Juga melibatkan guru dalam pengambilan data. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan terbanyak remaja madya yaitu umur 15 Ae 18 tahun dan pengetahunnya kurang tentang pendidikan Diharapkan dengan hasil penelitian ini memberikan data untuk membuat program tentang kegiatan yang berhubungan dengan remaja, khususnya pendidikan seksual pada REFERENCES