PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. e-ISSN : 2622-6383 Brand Image. Kualitas Produk dan Persepsi Harga Dalam Membentuk Keputusan Pembelian: Bukti Dari Pasar Air Minum Kemasan di Indonesia Kurnia Anggi Pratiwi 1 Dian Widyaningtyas 2*. Irawan Randikaparsa 3 Herni Justiana Astuti 4. Maulida Nurul Innayah 5 dianoer@gmail. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Indonesia1,2*,3,4,5 Abstrak Penellitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh brand image, kualitas produk, dan harga terhadap keputusan konsumen dalam membeli Aqua merupakan produk Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK). Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner daring yang disebarkan kepada 200 pelanggan Aqua di Purwokerto. Responden yang dipilih merupakan pelanggan usia produktif yang telah melakukan pembelian dalam tiga bulan terakhir, dengan penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis dilakukan menggunakan Partial Last Square-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui aplikasi SmartPLS. Temuan ini mengungkapkan bahwa semua variabel brand image, kualitas produk dan harga secara positif serta signifikan mempengaruhi keputusan pembelian. Variabel harga merupakan faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi keputusan pembelian, yang menunjukkan bahwa konsumen sangat memperhatikan kesesuaian antara harga yang dibayarkan dengan manfaat yang diperoleh. Ketiga variabel tersebut mampu menjelaskan variasi keputusan Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas produk, harga, dan brand image memiliki peran strategis dalam menjaga daya saing perusahaan AMDK. Secara praktis, hasil ini dapat dijadikan dasar penyusunan strategi pemasaran yang berfokus pada nilai konsumen, sementara secara teoretis memperkuat kajian pemasaran terkait faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian. Kata Kunci: AMDK. Brand Image. Kualitas Produk. Harga. Keputusan Pembelian This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Air minum merupakan jenis air yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidrasi tubuh manusia (Nazava, 2. Di era moderen seperti sekarang, berbagai kebutuhan dirancang dengan lebih praktis, termasuk hadirnya Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) (Febriana et al. , 2. Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia masih menunjukan peluang pertumbuhan yang signifikan. Kondisi ini disebabkan oleh tingkat konsumsi AMDK yang relatif rendah, sehingga memberikan kesempatan bagi para produsen untuk terus memperluas pasar (Isma, 2. Kondisi tersebut memicu persaingan yang semakin ketat antar produsen dalam menawarkan keunggulan melalui brand image, kualitas produk, serta strategi harga untuk menarik minat konsumen. Aqua dikenal sebagai merek AMDK pertama yang di produksi di Indonesia (Sustainability, 2. Aqua didirikan oleh Tirto Utomo pada 23 February 1973 melalui PT Golden Missipi (Nurdyansa, 2. Aqua tidak hanya berperan sebagai merek air minum, tetapi juga mencerminkan komitmen terhadap mutu, kesehatan, dan keberlanjutan, nilainilai tersebut menjadikan Aqua tetap signifikan di tengah perkembangan zaman dan meningkatnya kepedulian masyarakat akan pentingnya ketersediaan air bersih (Kresnomurti, 2. Keberadaan aqua tidak hanya membentuk standar baru bagi industri AMDK tetapi juga menjadi fondasi utama dalam perkembangan kompetisi bisnis di sektor Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 608 ini hingga kini. Namun dalam beberapa tahun terakhir, posisi dominan Aqua mulai mengalami Kehadiran berbagai merek baru yang memasarkan harga lebih terjangkau, disertai strategi promosi yang lebih agresif serta klaim kualitas yang kompetitif, membuat konsumen menjadi semakin berhati-hati dalam menentukan pilihan. Saat ini, keputusan pemebelian tidak lagi semata-mata ditentukan oleh brand image, melainkan juga oleh mutu produk yang diberikan serta seberapa efektif perusahaan menjalankan promosi. Gambar dibawah ini menunjukan grafik penjualan air minum dalam kemasan dalam beberapa tahun terakhir. Gambar 1. Indeks Merek Teratas (TBI) Produk AMDK thn 2025 Sumber : Topbrand-award, . Berdasarkan gambar 1, data Aqua telah mengalami penurunan secara konsisten yaitu dari 62,5% di tahun 2021 hingga menjadi 47,4% ditahun 2025. Berbeda dengan Le Mineral yang mengalami peningkatan. Namun dengan demikian. Aqua tetap menduduki peringkat pertama di Indonesia sebagai pemimpin Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Dalam upaya mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar. Aqua menerapkan strategi pemasaran yang komprehensif melalui bauran pemasaran . arketing mi. yang mencakup produk, harga, distribusi dan promosi lewat media digital, kampanye sosial dan kolaborasi dengan influencer (Yekti, 2. Pesan AuAqua DuluAy yang digunakan dalam strategi komunikasi merek Aqua berperan dalam memperkuat brand image sebagai produk yang memperhatikan aspek kesehatan konsumen serta keberlanjutan lingkungan (Yekti, 2. Selain itu Aqua juga perlu meningkatkan daya saing dan memepertahankan mangsa pasar yang ada. Brand image memiliki peran signifikan dalam membentuk persepsi konsumen terhadap suatu produk atau merek. Berdasarkan pendapat Kotler & Keller, . brand image dapat dipahami sebagai kekuatan merek yang tercipta melalui persepsi dan tertanam dalam ingatan konsumen. Dalam konteks produk Aqua, brand image Aqua sempat diuji oleh kasus pemalsuan air minum dalam kemasan oleh oknum yang memanfaatkan tutup botol asli untuk memberikan kesan meyakinkan, namun isi airnya bukan berasak dari produk resmi Aqua (Rasyid Ridho, 2. Yang menurunakan kepercayaan masyarakat meskipun kualitas produknya tetap terjamin. Sejumlah penelitian terdahulu Ardiansa & Siregar, . Firdausi et al. , . Octavia et al. , . menunjukan bahwa adanya berpengaruh positif dan signifikan brand image terhadap keputusan pembelian, walaupun beberapa penelitian sebelumnya menemukan hasil yang berbeda Fatya, et al. , . dan (Nuha, et al. , 2. Hal ini menandakan adanya kesenjangan hasil temuan di lapangan yang menarik untuk diteliti lebih dalam. Di samping brand image, kualitas produk menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen terhadap Aqua. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 609 Kualitas produk menggambarkan kemampuan produk dalam memenuhi bahkan melampaui harapan pelanggan, yang meliputi aspek fungsi, keamanan, kebersihan dan keaslian (Indrasari, 2. Tingginya kualitas mampu memperkuat kepercayaan dan keputusan konsumen, sedangkan penurunan kualitas berpotensi menurunkan reputasi Menjaga dan memperhatikan kualitas produk merupakan hal yang sangat penting, karena kualitas menjadi faktor utama yang dibutuhkan perusahaan agar bisnis yang dijalankan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Lita Q. et al. , 2. Pada kasus Aqua, sejumlah isu pernah muncul dimana perusahaan pernah menghadapi masalah yang berkaitan dengan kandungan bromat di dalam produknya, yang menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat, dugaan Mulyawan et al . dan vidio air galon keruh seperti Auair comberanAy yang beredar di TikTok, yang menimbulkan kekhawatiran publik (Baiquni, 2. Sorotan tersebut semakin menguat setelah pemberitahuan terkait sidak yang dilakukan gubernur Jawa Barat yaitu Dedi Mulyadi di pabrik Aqua Subang, yang mengungkapkan bahwa sumber air yang digunakan berasal dari sumur bor, bukan dari mata air pegunungan seperti yang disampaikan dalam materi promosi (Tempo, 2. Beberapa penelitian sebelumnya juga mengungkapkan pandangan terhadap kualitas produk berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian, antara lain penelitian dari Lorinda & Amron, . Fera et al. , . Budiansyah et al. , . , meskipun hasil yang berbeda ditemukan oleh Anugrah, . yang menyatakan bahwa variabel tersebut tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Sementara itu, harga juga berperan penting dalam menentukan keputusan Menurut Indrasari, . harga merupakan bentuk pengorbanan yang harus dikeluarkan oleh konsumen guna memperoleh manfaat dari suatu produk. Aqua kerap di anggap memiliki harga lebih tinggi dibanding merek lain, situasi ini membuat sebagian konsumen memilih untuk beralih ke merek lain yang lebih terjangkau harganya, meskipun iklannya menyebutkan bahwa harga Aqua sekitar Rp1. 000 per liter (Siti Aisyah Hops, 2. Penelitian Firdausi et al. , . juga menyatakan bahwa harga produk air minum dalam kemasan merek Aqua memiliki daya saing yang baik karena dinilai sesuai dengan kualitas dan manfaat yang diperoleh konsumen sehingga produk Aqua dipersepsikan memiliki nilai yang baik dan harga yang relatif terjangkau menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap kualitas air minum dalam kemasan merek Aqua. Dalam proses pengambilan keputusan pembelian, harga menjadi salah satu pertimbangan utama bagi konsumen karena merupakan faktor yang paling sensitif dalam menentukan pembelian barang atau jasa, sehingga tidak jarang perbedaan atau tingkat harga yang menyebabkan konsumen mengurungkan niatnya untuk melakukan pembelian (Wicaksono et al. , 2. Menurut Harsanto, 2017 dalam Hertina & Wulandari, . juga menyatakan bahwa harga merupakan salah satu pertimbangan utama bagi sebagian besar konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk karena variabel pemasaran yang bersifat fleksibel, harga dapat mudah disesuaikan oleh perusahaan sehingga tingkat harga yang ditetapkan, baik tinggi maupun rendah, sangat menentukan keputusan konsumen sebelum membeli suatu produk. Fenomena pengaruh positif harga terhadap keputusan pembelian dalam penelitian ini bisa dijelaskan dengan konsep harga sebagai sinyal dan perilaku konsumen moderen yang tidak selalu rasional sesuai hukum permintaan. Harga yang lebih tinggi diasosiasikan dengan kualitas, keamanan, dan kepercayaan yang lebih baik terutama pada produk yang berkaitan dengan kesehatan. Jadi, meskipun air mineral bukan barang mewah, dalam praktiknya Aqua bisa dipersepsikan sebagai produk dengan diferensiasi kualitas dan brand, sehingga harga yang lebih tinggi justru meningkatkan kepercayaan dan keputusan pembelian. Beberapa penelitian Firdausi et al. , . Octavia et al. , . Ardiansa & Siregar, . membuktikan bahwa harga memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian, namun penelitian Rozjiqin & Ridlwan, . menunjukan hasil sebaliknya. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 610 Berbagai temuan dan fenomena tersebut menandakan bahwa keputusan pembelian produk Aqua tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor harga, melainkan juga oleh brand image dan kualitas produk. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih lanjut strategi pemasaran air mineral Aqua: analisis pengaruh brand image, kualitas produk, dan harga terhadap keputusan pembelian. Studi ini merupakan pengembangan dari penelitian yang dilakukan oleh Ardiansa & Siregar, . terkait pengaruh brand image dan harga terhadap keputusan pembelian. Penelitian ini selanjutnya mengembangkan model penelitian dengan memasukan variabel kualitas produk, sebagaimana didukung oleh temuan (Hertina & Wulandari, 2. yang menyatakan bahwa kualitas produk, harga dan brand image secara bersama-sama mempengaruhi keputusan pembelian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi perusahaan dalam meningkatkan kualitas produk dan menetapkan harga yang bersaing dipasar. Tiga Komponen Sikap Teori sikap yang menjadi dasar penelitian ini adalah teori tiga komponen sikap yang Rosenberg Hovland Menurut Rosenberg,M. ,&Hovland,C. kecenderungan seseorang dalam memberikan respon terhadap suatu objek, yang keberadaanya tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diketahui melalui reaksi atau tanggapan yang ditunjukan individu. Respons tersebut kemudian dikelompokan ke dalam tiga komponen utama, yaitu kognitif, afektif, dan konatif atau perilaku. Komponen kognitif berkaitan dengan pemahaman, keyakinan, serta persepsi individu terhadap suatu Komponen afektif berhubungan dengan perasaan atau penilaian emosional individu, baik berupa rasa suka maupun tidak suka. Selanjutnya, komponen konatif atau perilaku menggambarkan kecenderungan individu untuk melakukan tindakan tertentu sebagai bentuk respon terhadap objek sikap. Ketiga komponen tersebut saling berkaitan dan membentuk sikap individu secara menyeluruh dan relatif konsisten. Dalam konteks penelitian ini, brand image, kualitas produk, dan harga dipandang sebagai variabel yang membentuk sikap konsumen berdasarkan teori tiga komponen Brand image dikaitkan dengan komponen afektif karena mencerminkan perasaan dan penilaian emosional terhadap suatu merek. Selanjutnya, kualitas produk dan harga berhubungan dengan kognitif, karena berkaitan dengan pertimbangan dan keyakinan konsumen mengenai manfaat serta kesesuaian nilai produk. Sikap afektif dan kognitif yang terbentuk tersebut kemudian mempengaruhi komponen konatif, yang dalam penelitian ini tercermin melalui keputusan pembelian. Oleh karena itu, semakin baik persepsi konsumen terhadap brand image, kualitas produk, dan harga maka semakin besar kecenderungan untuk melakukan keputusan pembelian. Keputusan pembelian Penelitian Indrasari, . mendefinisikan keputusan pembelian sebagai proses yang melibatkan individu secara langsung untuk membeli barang yang disediakan oleh Kotler & Keller, . mengungkapkan bahwa aksi belanja oleh konsumen pada akhirnya melibatkan dua individu atau lebih yang mengakuisisi barang atau layanan untuk kebutuhan pribadi. Keputusan untuk membeli menunjukan bagaimana seseorang memilih untuk memperoleh suatu barang atau jasa dengan mempertimbangkan kebutuhan, keinginan, dan keyakinan mengenai keuntungan yang di dapat. Selain itu, keputusan tersebut turut dipengaruhi oleh penilaian konsumen terhadap kualitas, tingkat kinerja, dan kegunaan produk, sehingga pilihan yang diambil bersifat rasional dan sesuai dengan preferensi masing-masing individu. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 611 Brand Image Brand image bukan hanya menunjukan faktor visual seperti logo, kemasan, atau promosi, tetapi juga mencakup nilai-nilai, keyakinan, serta perasaan yang dialami konsumen saat berinteraksi dengan merek itu. Menurut Indrasari, . brand image mencerminkan sekumpulan persepsi yang terbentuk dalam pikiran konsumen mengenai suatu merek. Ardiansa & Siregar, . mengemukakan bahwa brand image yang positif dalam memperkuat keyakinan dan kepercayaan pelanggan terhadap produk tersebut. Bagi para produsen, brand image yang kuat bisa menghentikan usaha pemasaran dari Untuk menciptakan dan menjaga brand image yang kokoh, sebuah perusahaan perlu menjalankan strategi yang terpadu dan dirancang secara matang. Upaya tersebut tidak hanyak menekankan pada konsistensi dalam menyampaikan nilai dan karakter merek, tetapi juga mencakup pemantauan secara berkelanjutan terhadap umpan balik, persepsi, dan ekspetasi konsumen. Disamping itu, perusahaan mampu beradaptasi dengan dinamika serta perubahan tren pasar agar citra merek tetap relevan, memiliki daya saing, dan dapat memenuhi kebutuhan konsumen dalam jangka panjang. Temuan Firdausi et al. , . dan Octavia et al. , . membuktikan bahwa brand image memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, sehingga hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut: H1: Brand image memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Kualitas produk Penejelasan dari Pahmi, . kualitas produk menggambarkan tingkat keunggulan yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi bahkan melampaui eskpetasi konsumen, yang mencakup produk, layanan, sumber daya manusia, prosedur, dan suasana. Dengan kata lain, kualitas produk merupakan sejauh mana suatu barang dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan melalui efek, penampilan, serta ketahananya sehingga mampu memberikan kepuasan dan keyakinan kepada Temuan Lorinda & Amron, . dan Ramadhan & Suprihhadi, . menegaskan bahwa kualitas produk berpengaruh positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian, sehingga hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut: H2: Kualitas produk memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap keputusan Harga Harga dapat diartikan sejumlah uang yang dikeluarkan oleh pembeli untuk mendapatkan produk atau layanan tertentu. Studi Kotler et al. , . mendefinisikan harga sebagai sejumlah nilai moneter yang dikorbankan oleh konsumen dan mitra untuk memperoleh manfaat dari produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan. Penentuan harga pada umumnya dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal serta memperhatikan elemen-elemen yang mempengaruhi keputusan harga, termasuk keputusan untuk menyesuaikan harga agar disetujui oleh pasar (Pahmi, 2. Produk yang dipasarkan dengan harga yang tinggi cenderung dianggap oleh konsumen sebagai produk dengan mutu dan nilai yang lebih baik (Octavia et al. , 2. Sebaliknya, harga yang ditetapkan terlalu murah kerap menimbulkan persepsi kurang baik terhadap kulitas produk, karena konsumen dapat meragukan ketahanan, fungsi, serta manfaat yang diberikan (Oktaviani, 2. Dengan demikian, harga berperan sebagai salah satu acuan utama bagi konsumen dalam menilai kualitas produk sebelum menentukan keputusan Hasil penelitian Octavia et al. , . Fera et al. , . dan Firdausi et al. membuktikan adanya pengaruh yang positif dan signifikan harga terhadap keputusan pembelian. Oleh karena itu, hipotesis yang di kembangkan adalah: H3: Harga memiliki pengaruh yang positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 612 Penelitian ini beranggapan bahwa dampak brand image, kualitas produk, dan harga berpebgaruh terhadap keputusan pembelian Aqua, berdasarkan teori tentang nilai Ketiga variabel independen ini diyakini memiliki keterkaitan ppsitif dan signifikan dengan keputusan pembelian sebagai variabel yang bergantung. Pandangan ini mempengaruhi pada hipotesis brand image yang kuat, kualitas produk yang baik, dan harga yang sesuai berpengaruh dalam meningkatkan peluang konsumen untuk memilih dan membeli produk Aqua dibanding merek lainnya. Gambar 2. Kerangka Penelitian Metode Analisis Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif . untuk menguji brand image, kualitas produk, dan harga sebagai variabel independen, terhadap keputusan pembelian sebagai variabel dependen. Penelitian ini dilakukan di daerah Purwokerto. Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik nonprobability sampling melalui penekatan purposive sampling, yang ditentukan dengan syarat telah membeli produk air mineral Aqua setidaknya dalam tiga bulan terakhir. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus hair. Berdasarkan Hair et al. , . jika ukuran populasi tidak ditentukan secara pasti, maka jumlah sampel minimum dapat dilakukan dengan cara mengalihkan jumlah indikator dengan rentang 5 hingga 10. Dalam penelitian ini terdapat 20 item pernyataan, sehingga perhitungan kebutuhan sampel dilakukan sebagai berikut: Sampel = 20 x 10 = 200 Responden Penelitian ini memanfaatkan data primer yang diperoleh langsung dari responden sebagai sumber utama. Proses pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner yang disusun dengan masing-masing variabel penelitian kepada konsumen air mineral merek Aqua. Kuesioner disebarkan secara online melalui Google From agar responden dapat mengisi dengan mudah dan proses pengumpulan data menjadi lebih Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mengetahui pengaruh brand image, kualitas produk, dan harga terhadap keputusan pembelian. Studi ini melibatkan dua jenis variabel yaitu variabel independen dan dependen. Dalam studi ini variabel independen terdiri dari Brand Image (X. Kualitas Produk (X. Harga (X. Sedangkan variabel dependen yaitu Keputusan Pembelian (Y) produk air mineral Aqua. Penelitian ini menggunakan skala likert sebagai alat pengukuran, yang termasuk dalam jenis skala pengukuran yang sering dipakai dalam penelitian kuantitatif untuk mengavakuasi sikap, persepsi, atau opini individu terhadap suatu objek penelitian atas pernyataan. Studi ini menggunakan PLS-SEM karena orientasi prediktifnya dan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 613 kesesuaiannya untuk model kompleks dengan variabel laten. Pengukuran terhadap variabel brand image, kualitas produk, harga, dan keputusan pembelian dapat dilihat pada tabel 1. Table 1. Karakteristik Responden Variabel Indikator Kode Item Pernyataan Brand Image (BI) Perbedaan & kekuatan merek BI1 (Sheykhan Kualitas produk BI2 Inovasi dan teknologi BI3 BI4 Kualitas Produk (KP) Manajemen ramah lingkungan & sertifikasi Kualitas layanan Kualitas kinerja Aqua memiliki perbedaan kekuatan merek yang unik dibanding merek lain Brand image aqua memiliki kualitas produk yang Aqua Aqua memiliki manajemen yang ramah lingkungan (Kotler et al. , 2. Kualitas kesesuaian KP2 Daya tahan Keandalan Fitur Harga yang sesuai dengan Persepsi harga dan manfaat KP3 KP4 KP5 Harga terjangkau Persaingan harga Kesesuaian harga dan kualitas Pengenalan masalah KEP1 Pencairan masalah KEP2 Evaluasi alternatif KEP3 Keputusan pembelian KEP4 Perilaku pasca pembelian KEP5 et al. Harga (H) (Dewi et al. , 2. Keputusan pembelian (KEP) (Kotler BI5 KP1 Keller. Aqua memiliki layanan yang bagus Produk aqua memiliki mutu yang baik dalam menghidrasi tubuh Aqua memenuhi kualitas kesehatan yang saya Produk aqua memiliki kualitas yang tahan lama Saya merasa aqua adalah produk yang handal Aqua mempunyai fitur kemasan praktis berkualitas Harga aqua sesuai dengan manfaat yang saya Saya memiliki persepsi bahwa manfaat Aqua lebih tinggi daripada harganya Harga aqua terjangkau bagi saya Harga aqua kompetitif dibandingkan dengan merek Harga aqua sesuai dengan kualitas produk yang Saya sering menyadari kebutuhan air minum aqua ketika merasa haus Saya sering mengonsumsi Aqua karena sudah terbiasa menggunakannya Saya menerima aqua dibandingkan dengan merek Saya akan membeli Aqua meskipun menemukan merek lain Saya tidak ragu untuk merekomendasikan Aqua ke teman saya Hasil dan Pembahasan Krakteristik responden dalam studi ini diperoleh 200 responden sebagai sampel penelitian dari populasi konsumen Aqua di wilayah Purwokerto. Ringkasan karakteristik responden yang mencakup jenis kelamin, umur, dan alamat disajikan pada tabel 2: Table 2. Karakteristik Responden Karakteristik Jenis Kelamin Kategori Jumlah Presentase (%) Laki-laki Perempuan TOTAL <17 Tahun Umur >17-25 Tahun >25-35 Tahun >35-50 Tahun Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 614 TOTAL Alamat Purwokerto Timur Purwokerto Utara Purwokerto Barat Purwokerto Selatan TOTAL Sumber: Data primer diolah . Berdasarakan hasil analisis terhadap karakteristik responden yang berjumlah 200 orang, diketahui bahwa sebagian besar responden adalah perempuan, yaitu sebanyak 150 orang atau sebesar 75,0% dari total responden. Tingginya jumlah responden perempuan mengindikasi bahwa perempuan lebih aktif dalam memberikan penliaian terhadap produk kebutuhan sehari-hari, termasuk air minum seperti Aqua. Kondisi ini juga menggambarkan bahwa persepsi dan evaluasi pasar terhadap produk Aqua dalam penelitian ini terutama dipengaruhi oleh pandangan konsumen perempuan (Bakti, 2. Jika dilihat dari aspek usia, sebagian besar responden berada pada kelompok umur > 17 hingga 25 tahun, dengan jumlah sebanyak 159 orang atau setara dengan 79,5%. Kelompok usia tersebut pada umumnya berada pada fase dewasa muda yang memiliki tingkat aktivitas yang tinggi dalam berbelanja, memanfaatkan teknologi, serta berpartisipasi dalam pengisian survei, sehingga tidak heran apabila jumlah responden dari kelompok ini lebih besar. Selanjutnya, responden berusia >25-35 tahun berjumlah 17 orang . ,5%), usia >35-50 tahun sebanyak 14 orang . ,0%), sementara itu, responden yang berusia dibawah 17 tahun berjumlah 10 orang atau sebesar 5,0% dari keseluruhan responden. Pola distribusi tersebut mengidentifikasikan bahwa penelitian ini terutama menggambarkan kelompok usia produktif yang memiliki pola konsumsi air minum yang relatif konsisten serta mampu menilai kualitas produk berdasarkan pengalaman mereka dalam menggunakan produk tersebut (Peng et al. , 2. Berdasarkan alamat tempat tinggal, responden tersebar di empat kecamatan di Purwokerto, yaitu Purwokerto utara. Timur. Barat, dan Selatan. Distribusi responden terbesar berasal dari wilayah Purwokerto Utara dengan total 64 orang . ,0%), disusul oleh Purwokerto Timur sebanyak 55 responden . ,5%). Adapun purwokerto barat mendapatkan 41 responden . ,0%), sedangkan purwokerto selatan mencatatkan 39 responden . ,5%). Distribusi ini menggambarkan bahwa penelitian melibatkan partisipasi dari berbagai kawasan secara relatif seimbang, meskipun wilayah Purwokerto Utara memiliki proporsi yang sedikit lebih tinggi. Persebaran yang cukup merata tersebut memperkaya kualitas penelitian karena mencerminkan keragaman lingkungan temoat tinggal responden yang berpotensi mempengaruhi . ola konsumsi dan preferesnsi mereka terhadap produk Aqua Evaluasi Model Pengukuran Uji Validitas Convergen validity digunakan untuk menilai apakah indikator yang digunakan benar-benar valid dalam mengukur suatu variabel. Menurut ketentuan umum . ule of thum. , suatu indikator dinilai valid apabila memiliki nilai loading factor (LF) sebesar Ou 0,7 (Hair J et al. , 2. Namun, pada model yang masih dalam tahap pengembangan atau ketika menggunakan indikator baru, nilai LF di kisaran 0,5 hingga 0,6 masih dianggap layak digunakan (Haryono, 2. Outer loading merupakan nilai yang menggambarkan tingkat korelasi antar indikator dengan variabel laten yang diukurnya. Nilai outer loading tersebut dapat dilhat pada tebel 3. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 615 Tabel 3. Variabel. Indikator. Loading faktor running 1, dan loading faktor running 2 Variabel Indikator Brand Image (X. (Sheykhan et al. , 2. Kualitas Produk (X. (Kotler et al. , 2. Harga (X. (Dewi et al. , 2. Keputusan Pembelian (Y) (Kotler & Keller, 2. Loading Faktor Running 1 Loading Faktor Running 2 BI1 BI2 BI3 BI4 BI5 KP1 KP2 KP3 KP4 KP5 KEP1 Ommitted KEP2 KEP3 KEP4 KEP5 Sumber: Data primer diolah . Pada tahap pertama, terdapat satu nilai loading factor yaitu (X1. yang harus dieliminasi guna meningkatkan nilai average variance extraced. Setelah proses running kedua diselesaikan, seluruh indikator dalam model dinyatakan valid. Tabel 4. Average Variance Extracted (AVE) Average Variance Extracted (AVE) Brand Image (X. Kualitas Produk (X. Harga (X. Keputusan Pembelian (Y) Sumber: Data primer diolah . Berdasarkan tabel 4, hasil perhitungan Average Variance Extracted (AVE), nilai AVE untuk variabel Brand Image . Kualitas Produk . Harga . , dan Keputusan Pembelian . , memiliki nilai AVE di atas ambang minimum 0,5. Hasil tersebut menunjukan bahwa setiap variabel laten dapat menerangkan lebih dari 50% varian pada indikator-indikator yang mengukurnya (Hair J et al. , 2. Validitas diskriminan bertujuan untuk memastikan bahwa setiap konstruk dalam model memiliki berbedaan yang jelas dan tidak tumpang tindih dengan konstruk lainnya. Suatu model dikatakan memiliki validitas discriminant yang baik apabila hubungan antara konstruk dengan indikator-indikatornya lebih kuat dibandingkan hubungan indikator tersebut dengan konstruk lain (Hair J et al. , 2. Output Smart PLS terkait nilai fornell-lacker pada tahap analisis ketika ditampilkan pada Tabel 5. Tabel 5. Uji Discriminant Validity (Fornell-Larcker Criterio. Brand Image (X. Kualitas Produk (X. Harga (X. Keputusan Pembelian (Y) Brand Image (X. Kualitas Produk (X. Harga (X. Sumber: Data primer diolah . Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 616 Keputusan Pembelian (Y) Berdasarkan tabel 5, hasil uji validitas diskriminan menggunakan kriteria Fornell-Lacker Criterion, dapat dilihat bahwa nilai korelasi masing-masing variabel terhadap konstruknya sendiri lebih besar dibandingkan korelasinya dengan variabel laten yang lain (Hair J et al. Temuan ini mengindikasikan bahwa model penelitian telah memenuhi ketentuan validitas diskriminan secara memadai. Uji Reliabilitas Penilaian reliabilitas konstruk dilakukan melalui CronbachAos Alpha dan Composite Reliability. Sebuah konstruk dapat dikatakan reliabel apabilai nilai CronbachAos Alpha mencapai minimal 0,7(Hair J et al. , 2. Tabel 6. CronbachAos Alpha dan Composite Reliability Brand Image (X. Kualitas Produk (X. Harga (X. Keputusan Pembelian (Y) CronbachAos Alpha Composite Reliability Sumber: Data primer diolah . Pada Tabel 6, dapat diketahui bahwa semua konstruk memiliki nilai CronbachAos Alpha lebih besar 0. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setiap indikator telah menunjukan konsistensi yang baik dalam mengukur konstruk yang diteliti. Evaluasi Model Structural Gambar 3. Inner Model Dalam gambar 3, metode PLS hubungan dalam model diasumsikan bahwa variabel laten dan indikator atau variabel manifes telah dinormalisasikan pada skala dengan ratarata nol dan varians satu . ilai terstandarisas. Oleh karena itu, parameter atau konstanta dapat dihilangkan dari model tanpa mempengaruhi kemampuan generalisasi hasil analisis (Haryono, 2. Tabel 7. R Square Keputusan Pembelian (Y) R Square R Square Adjusted Sumber: Data primer diolah . Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 617 Berdasarkan Tabel 7, nilai koefisien determinasi (R. untuk variabel keputusan pembelian (Y) sebesar 0. 690 menunjukan bahwa 69,0% variasi dalam keputusan pembelian dapat diterangkan oleh pengaruh Brand Image. Kualitas Produk, dan Harga. Sementara itu, sebesar 31,0% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak termasuk dalam variabel yang diteliti pada penelitian ini. Path Coefficient Nilai t-statistik dan p-value yang dihasilkan melalui proses bootstrapping digunakan sebagai dasar dalam pengujian hipotesis. Suatu koefisien dapat dikatakan signifikan apabila nilai t yang diperoleh lebih besar 1,96 dan didukung nilai p-value yang berada di bawah 0,05 (Hair J et al. , 2. Hasil output SmartPLS yang berkaitan dengan pengujian hipotesis menggunakan metode bootstrapping disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Uji Hipotesis Brand Image i Keputusan Pembelian Kualitas Produk i Keputusan Pembelian Harga i Keputusan Pembelian Original Sample (O) T Statistics (|O/STDEV|) P Value Keterangan H1 DIterima H2 Diterima H3 Diterima Sumber: Data primer diolah . Berdasarkan informasi pada tabel 8, hipotesis H1 dapat diterima karena nilai tstatistic yang diperoleh melebihi batas 1. 96 yaitu sebesar 2. dengan nilai signifikansi values sebesar 0,013, sehingga hasil pengujian dinyatakan signifikan. H2 dinyatakan diterima karena memenuhi kriteria nilai t-statistic sebesar 3. 318 telah melalui batas minimum 1. 96, dengan nilai signifikansi P values 0. 001, sehingga hasilnya di anggap Hipotesis H3 juga diterima karena memiliki nilai t-statistic sebesar 3. 771, jauh di 96, dengan tingjat Pvalues 0. 000 sehingga dinyatakan signifikan. Pembahasan Pengaruh Brand Image terhadap Keputusan Pembelian Hasil analisis menunjukan bahwa Brand Image berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan pembelian produk Aqua. Temuan ini dapat dijelaskan melalui teori tiga komponen sikap, khusisnya pada aspek afektif, dimana brand image mencerminkan perasaan, kesan, serta evaluasi emosional konsumen terhadap suatu merek. Brand image yang kuat mampu menciptakan rasa percaya, aman, dan nyaman sehingga membentuk sikap positif konsumen terhadap produk Aqua. Penilaian positif konsumen terhadap aqua sebagai pelopor air minum dalam kemasan di Indonesia menumbuhkan keterkaitan emosional yang selanjutnya mendorong kecenderungan perilaku konsumen dalam melakukan pembelian. Dengan demikian, sikap afektif yang terbentuk melalui brand image berperan penting dalam memicu komoonen konatif, yaitu keputusan pembelian. Oleh karena itu, brand image Aqua yang kuat tetap menjadi pertimbangan utama konsumen dalam menentukan keputusan pembelian meskipun menghadapi persaingan berbagai isu produk. Temuan ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh (Ardiansa & Siregar, . Firdausi et al. , . Octavia et al. , . ) yang menyatakan bahwa brand image memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan Pengaruh Kualitas Produk terhadap Keputusan pembelian Hasil penelitian membuktikan bahwa kualitas produk memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian Aqua. Mengacu pada Teori Tiga Komponen Sikap, kualitas produk termasuk dalam komponen kognitif yang berkaitan dengan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 618 pengetahuan dan keyakinan konsumen mengenai tingkat mutu, keamanan, serta manfaat yang ditawarkan produk. Pada produk air minum dalam kemasan, faktor kebersihan, keamanan, dan kestabilan mutu menjadi pertimbangan utama dalam membangun kepercayaan konsumen. Apabila konsumen menilai bahwa kualitas Aqua sesuai atau melebihi harapan, maka penilaian rasional tersebut akan membentuk sikap kognitif yang mendorong munculnya komponen konatif dalam bentuk kecenderungan untuk melakukan pembelian. Dengan demikian, kualitas produk berperan penting dalam membentuk sikap konsumen yang berujung pada keputusan. Temuan ini juga mendukung pandangan bahwa kualitas mencerminkan kemampuan produk untuk memenuhi atau bahkan melampaui harapan konsumen, sebagaimana dijelaskan oleh (Indrasari, 2. Hasil penelitian sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya, seperti Lorinda & Amron, . Fera et al. , . Budiansyah et al. , . , yang sama-sama menyimpulkan bahwa kualitas produk memiiki pengaruhb signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Pengaruh Harga terhadap Keputusan Pembelian Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga menjadi faktor yang paling kuat dalam memengaruhi keputusan pembelian Aqua. Berdasarkan Teori Tiga Komponen Sikap, harga termasuk dalam aspek kognitif karena berkaitan dengan proses penilaian rasional konsumen mengenai keseimbangan antara biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang Sebelum melakukan pembelian, konsumen umumnya membandingkan harga dengan kualitas dan nilai guna produk. Apabila harga dianggap sesuai dengan manfaat yang dirasakan, maka akan terbentuk keyakinan positif yang mendorong sikap untuk Selanjutnya, sikap kognitif tersebut diwujudkan dalam komponen konatif, yaitu tindakan nyata berupa keputusan pembelian produk Aqua. Dalam situasi persaingan pasar yang semakin ketat, konsumen cenderung menilai apakah harga yang ditetapkan sesuai dengan nilai yang dirasakan. Dengan demikian harga menjadi faktor utama yang mempengaruhi keputusan pembelian produk air minum dalam kemasan. Temuan ini juga konsisten dengan sejumlah penelitian Firdausi et al. , . Octavia et al. , . Ardiansa & Siregar, . yang menegaskan bahwa harga memiliki peran penting dalam keputusan pemeblian, terutama untuk produk kebuttuhan harian. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil analisis menggunakan SmartPLS, dapat disimpulkan bahwa brand image, kualitas produk, dan harga memiliki peran yang sama penting dalam memengaruhi keputusan pembelian produk Aqua. Temuan ini menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut masih menjadi pertimbangan utama konsumen dalam menentukan pilihan terhadap produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa harga merupakan variabel yang paling dominan dalam memengaruhi keputusan pembelian, diikuti oleh kualitas produk dan brand image, sehingga konsumen cenderung mempertimbangkan kesesuaian antara harga, manfaat, dan kualitas produk yang diperoleh. Implikasi praktis dari penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan Aqua perlu menjaga keseimbangan antara kebijakan harga, kualitas produk, dan penguatan brand image guna mempertahankan daya saing di tengah persaingan industri AMDK. Penetapan harga yang sepadan dengan manfaat yang diterima konsumen perlu diiringi dengan upaya berkelanjutan dalam menjaga mutu produk, terutama dari aspek keamanan, kebersihan, dan keaslian. Selain itu, penguatan brand image melalui penyampaian informasi yang konsisten, transparan, dan mudah dipahami menjadi strategi penting untuk mempertahankan kepercayaan serta persepsi positif konsumen. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada karakteristik responden, khususnya terkait sebaran usia yang belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi masyarakat secara Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 619 responden dengan variasi dan proporsi usia yang lebih luas agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan dengan lebih baik. Selain itu, peneliti juga menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menambahkan variabel-variabel seperti pengaruh media sosial, loyalitas pelanggan Satriawan, . , dan promosi Rahmad Hidayat,. guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian produk AMDK. Referensi