SPIRIT AND LAMENT: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi Minggus Minarto Pranoto** Abstract: This article aims to explain about lament from the perspective of psychology and pneumatology. Psychology helps to explain psychic state of one who laments because of experiencing grief and and pneumatology understands lament theologically by seeing and knowing God, self, and the world through the experience with the Holy Spirit in the believers. The two perspectives above are synthesized to understand the lament in the context of the life of believer. The method used is an interdisciplinary study between psychology and pneumatology by looking for connecting points that might fill and complement each other, especially in explaining the lament of believer. The thesis of this article is that the act of lament is a self-actualization of believer which can be explained from a psychology-pneumatology perspective and in lament the Holy Spirit transforms the life of believer. Lamentation can lead to an attitude of trust in God and the courage to continue with life again or, in psychologically term, a "restorationorientedAy life. Keywords: Spirit/Holy Spirit, lament, psychology, pneumatology. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan perihal ratapan dari perspektif psikologi dan pneumatologi. Psikologi membantu untuk menjelaskan keadaan psikis orang yang meratap karena sedang mengalami kedukaan . dan kehilangan . pneumatologi memahami ratapan secara teologis dengan cara melihat dan mengenal Allah, diri, dan dunia melalui pengalaman dengan Roh * Penulis adalah dosen di STT Abdiel. Penulis dapat dihubungi melalui email: minggusminarto@gmail. Jurnal Amanat Agung Kudus. Kedua perspektif di atas disintesiskan untuk memahami ratapan dalam konteks kehidupan orang beriman. Metode yang dipakai adalah studi interdisipliner antara psikologi dan pneumatologi melalui mencari poin-poin penghubung yang mungkin saling mengisi dan melengkapi terutama dalam menjelaskan ratapan orang-orang beriman. Pernyataan tesis tulisan ini adalah tindakan ratapan merupakan sikap mengaktualkan diri dari orang beriman yang dapat dijelaskan dari perspektif psikologi-pneumatologi dan di dalam ratapan Roh Kudus mentransformasi hidup orang beriman. Ratapan dapat membawa kepada sikap percaya kepada Allah yang semakin mendalam dan berani melanjutkan kehidupan kembali atau istilahnya secara psikologi memiliki Aurestoration-oriented. Ay Kata-kata kunci: Roh/Roh Kudus, ratapan, psikologi, pneumatologi. Pendahuluan Pagebluk yang diakibatkan oleh virus Covid-19 dengan berbagai variannya menimbulkan gangguan kesehatan fisik dan psikis yang parah di dalam kehidupan manusia. 1 Angka kematian karena virus ini telah mencapai lebih dari 4 juta jiwa manusia di seluruh dunia sampai sekarang sedangkan di Indonesia angka kematiannya telah mencapai lebih dari 140 ribu orang. Pengalaman kedukaan . dan kehilangan . dialami oleh begitu banyak orang. Pemerintah pusat . uga pemerintah daera. dan para tokoh agama berharap agar supaya rakyat Indonesia menghadapi pandemi ini dengan doa. berupaya menemukan vaksin penangkal virus. dan terus menghimbau untuk menjaga protokol kesehatan dengan lebih ketat. Banyak kisah tentang duka dan kehilangan Lihat Tan dkk. AuTekanan Ekonomi Picu Masalah Kesehatan Jiwa,Ay Kompas 11 Oktober 2021. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi karena serangan virus ini. Sakit penyakit dan kematian yang ditimbulkannya menyebabkan munculnya jeritan ratapan manusia saat menghadapi tragedi yang mengenaskan ini. Ratapan adalah ekspresi kesedihan yang mendalam saat manusia menghadapi berbagai macam tragedi kehidupan, seperti karena wabah penyakit, bencana alam, perang, kejahatan, dan sebagainya. Bisakah ratapan diterangkan dari perspektif psikologi dan pneumatologi . ? Apakah kata Alkitab mengenai ratapan. dan bagaimana hal ini disoroti dari perspektif psikologi dan pneumatologi? Pernyataan tesis tulisan ini adalah tindakan ratapan merupakan sikap mengaktualkan diri dari orang beriman yang dapat dijelaskan dari pandangan psikopneumatologi dan di dalam ratapan Roh Kudus mentransformasi hidup orang beriman. Psikologi memaparkan kondisi-kondisi psikis seseorang dan pneumatologi memaparkan karya Roh Kudus dalam memberikan karya transformasi-Nya kepada orang beriman dalam tragedi kehidupan yang dihadapinya. Kedua perspektif di atas dicoba untuk disintesiskan agar dapat memahami ratapan dalam konteks hidup orang beriman. Metode Penelitian Metode yang dipakai untuk mengeksplorasi topik ini adalah teoriteori psikologi, yang diambil dari pemikiran Elisabeth Kybler-Ross dan Yorick Spiegel, mengenai tahap-tahap psikis akibat kedukaan dan kehilangan yang memunculkan ratapan. Sedangkan teori pneumatologi akan didasarkan pada pemahaman iman bahwa Roh Kudus berkarya dan tidak meninggalkan orang beriman saat situasi penderitaan yang Jurnal Amanat Agung Jembatan pemikiran untuk mengintegrasikan kedua perspektif di atas adalah berangkat dari realitas ratapan itu sendiri yang merupakan ekspresi kedukaan dan kehilangan yang dapat dirasakan secara kognitif . dan afektif . , melalui ekspresi tindakan dan 2 Psikologi membantu untuk menjelaskan keadaan jiwa atau psikis yang meratap akibat adanya kedukaan dan kehilangan. Kajian pneumatologi mencoba memahami ratapan secara teologis dengan cara melihat dan mengenal Allah, diri, dan dunia melalui pengalaman dengan Roh Kudus. Pembahasan Ekspresi Ratapan: Sebuah Kajian Psikologis Meratap . o chant an elegy or dirge !nEAq, qone. atau ratapan . ament, hn"yqi qina. dalam tradisi spiritualitas orang beriman, baik secara personal maupun komunal, merupakan laku spiritual yang diekspresikan dengan kesadaran kognitif dan afektif serta melalui ekspresi-ekspresi tindakan tertentu sebagai respons yang kompleks terhadap kedukaan dan kehilangan yang dialaminya. Misalnya, seperti memakai kain kabung dan abu serta melolong-lolong dengan nyaring dan pedih serta berbagai ekspresi lainnya (Est. 4:1-2. Mzm. Yes. 15:3, 22:12. Yer. 4:8, Ratapan menggambarkan keadaan jiwa orang beriman yang dirundung duka yang mendalam karena ada kematian (Kej. 37:34. 2Sam. Richard Gross. The Psychology of Grief (New York: Routledge, 2. , 6. Amos Yong. Discerning The Spirit. : A Pentecostal-Charismatic Contribution to Christian Theology of Religions (Sheffield: 2. , 102. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi 3:31, dsb. berada dalam ketakutan karena ancaman musuh (Mzm. 13:16. Est. mengalami tragedi kesusahan hidup karena pembuangan dan penderitaan sebagai bangsa dan umat Allah (Yer. 6:26. Rat. 2:10. Yun. beroleh murka Allah yang menimpa (Yer. 4:8. Rat. dan memohon akan pengampunan (Dan. 9:4. Yl. , pemulihan dan kesembuhan . Taw. 4:10. Mzm. 90:13-. Di Perjanjian Baru, kisah Yesus waktu disalib (Mrk. 15:34. Mat. 27:45-46. Luk. 23:44-49. Yoh. Mzm. adalah kisah mengenai ratapan juga. 4 Dalam ratapan, orang beriman mengekspresikan kesedihan, kemarahan, dan sikap protes. pemulihan, berkat, kekuatan, belas kasihan, pembelaan, dan kelepasan. pengakuan dosa dan permohonan pengampunan Allah dan lain Paul Joyce mengatakan bahwa ratapan, berdasarkan penelitian Elisabeth Kybler-Ross di dalam bukunya berjudul On Death and Dying dan Yorick Spiegel dalam bukunya berjudul The Grief Process, muncul karena adanya kedukaan . dan kehilangan . 5 Menurut dua penelitian di atas, kedukaan dan kehilangan mempunyai struktur psikologis atau tahap-tahap psikis. Joyce memberi catatan bahwa Spiegel meneliti terhadap reaksi orang-orang atas kematian orang yang dekat dan dicintainya dan memaparkan empat tahap psikis yang disebut sebagai proses duka. 6 Sedangkan Kybler-Ross berfokus pada pengalaman menuju Matthew S. Rindge. AuReconfiguring the Akedah and Recasting God: Lament and Divine Abandonment in Mark,Ay The Journal of Biblical Literature 130, 1 . : 755Ae74. Paul Joyce. AuLamentations and The Grief Process: A Psychological Reading,Ay Biblical Interpretation 1, no. : 308. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 308. Jurnal Amanat Agung kematian pada pasien-pasien yang sakit parah tak terobati dan mengemukakan tahap-tahap reaksi terhadap hal tersebut. Kybler-Ross, seorang psikiater yang berfokus pada pendampingan dan telah melakukan riset kepada sekitar dua ratus pasien yang sekarat . ying patient. , mengatakan tentang struktur tahap-tahap psikis yang mencakup: pertama, penolakan dan terisolasi. kedua, kemarahan. usaha melakukan tawar menawar . keempat, kondisi depresi. dan kelima, penerimaan. Tahap psikis pertama berbicara tentang ketidaksiapan pasien saat menerima berita kedukaan. Kybler-Ross mengatakan bahwa: AuFungsi penolakan sebagai penyangga setelah berita mengejutkan yang tidak terduga memungkinkan pasien untuk menenangkan dirinya sendiri. seiring waktu memobilisasi pertahanan lain yang tidak terlalu radikal. Ay9 Setelah tahap psikis penolakan ini kemudian menuju ke tahap psikis penerimaan sebagian terhadap apa yang dialaminya. 10 dan mulai membuka isolasi dirinya yang tadinya bersikap membentengi diri dari berita yang menakutkannya. 11 Tahap psikis kedua terjadi transisi di mana penolakan tidak dapat dipertahankan lagi kemudian tergantikan oleh perasaan-perasaan marah, iri, dan dendam. dan pertanyaan logis yang muncul adalah "Mengapa saya?Ay12 Tahap psikis ketiga terkait dengan Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 308. Elisabeth Kybler-Ross. On Death and Dying (New York: Routledge, 2. , 31-111. Kybler-Ross. On Death and Dying, 32. Kybler-Ross. On Death and Dying, 32. Kybler-Ross. On Death and Dying, 32. Kybler-Ross. On Death and Dying, 40. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi posisi tawar menawar yang merupakan suatu usaha menunda jika mungkin mendapat apa yang diharapkan, yaitu bisa menunda kematian melalui janji-janji yang dibuatnya sendiri. 13 Misalnya, akan menjalani hidup yang lebih baik jika diberi umur tambahan. Secara lebih jelas KyblerRoss mengatakan bahwa posisi tawar-menawar tersebut merupakan: Auan attempt to postpone. it has to include a prize offered Aofor good behavior,Ao it also sets a self-imposed AodeadlineAo . , one more performance, the sonAos weddin. , and it includes an implicit promise that the patient will not ask for more if this one postponement is granted. Ay14 Kebanyakan janji secara rahasia ditujukan kepada Allah dan diucapkan di kantor pendeta rumah 15 Kybler-Ross menyampaikan informasi mengenai orang-orang yang menjanjikan: AuAoa life dedicated to GodAo or Aoa life in the service of the churchAo in exchange for some additional time. Many of our patients also promised to give parts of or their whole body Aoto scienceAo . f the doctors use their knowledge of science to extend their lif. Ay16 Tahap psikis keempat adalah kondisi depresi atau kedukaan yang besar yang terjadi karena pasien semakin sakit parah. tidak dapat menyangkal penyakitnya. membutuhkan banyak operasi dan rawat inap. dan tubuhnya mengalami banyak gejala kelemahan serta semakin 17 Tahap psikis kelima adalah adanya suatu penerimaan, namun Kybler-Ross. On Death and Dying, 67. Kybler-Ross. On Death and Dying, 67. Kybler-Ross. On Death and Dying, 67. Kybler-Ross. On Death and Dying, 68. Kybler-Ross. On Death and Dying, 69. Kybler-Ross memberi contoh hal ini sebagai berikut: AuThis loss may have many facets: a woman with a breast cancer may react to the loss of her figure. a woman with a cancer of the uterus Jurnal Amanat Agung tidak dapat diartikan sebagai keadaan bahagia, malahan sebaliknya ini bisa mengarah kepada kosongnya perasaan. 18 Diibaratkan seolah-olah penyakitnya telah berlalu, perjuangan sudah selesai, dan siap memasuki peristirahatan terakhir sebelum meneruskan perjalanan yang panjang. Meskipun demikian, sebaliknya ada pasien-pasien yang siap untuk menerima hari-hari terakhir hidup mereka dengan kerelaan karena ada kepercayaan kepada janji-janji Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Dalam bukunya yang lain berjudul AuTanya Jawab Tentang Kematian dan Menjelang AjalAy (Questions and Answer. , sebuah edisi buku pendamping dari karya utamanya On Death and Dying. Kybler-Ross memaparkan adanya kasus-kasus mengenai pasien yang ingin melakukan bunuh diri karena tidak ada harapan lagi atas hidupnya. 21 Biasanya mereka yang ingin melakukan bunuh diri adalah Autidak beragama secara konvensional, namun menerima kefanaannya dan lebih memilih untuk mempersingkat proses menjelang ajal daripada Aoterkatung-katungAo selama beberapa minggu atau bulan lagi dalam situasi yang menurut may feel that she is no longer a woman. Our opera singer responded to the required surgery of her face and the removal of her teeth with shock, dismay, and the deepest depression. But this is only one of the many losses that such a patient has to endure. Ay Lih. Kybler-Ross. On Death and Dying, 69 Kybler-Ross. On Death and Dying, 92. Kybler-Ross. On Death and Dying, 92. Kybler-Ross. On Death and Dying, 111. Elisabeth Kybler-Ross. Tanya Jawab Tentang Kematian dan Menjelang Ajal, terj. Maria Adriana (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi mereka adalah penderitaan yang tidak perlu. Ay22 Mereka mengidap penyakit kronis dalam keputusasaan dan berharap mengakhiri penderitaan dengan segera dan ratapan mereka menjadi ekspresi akhir pengharapan dan kepedihan hidup yang mendalam tanpa masa depan Dalam pengamatannya. Kybler-Ross mengatakan bahwa mereka yang menjalani dialisis . uci dara. atau sedang menunggu transplantasi organ namun tidak kunjung dijalani maka akan berakibat mudah menyerah dan akhirnya kerap kali memikirkan bunuh diri secara pasif. Bunuh diri ini dilakukan melalui tindakan seperti: Aumelanggar peraturan, banyak minum, tidak minum obat. Dengan cara itu, mereka semi pasif mempercepat kematiannya dan bukan dengan menggunakan obat secara Ay25 Selain dari teori Kybler-Ross di atas, ada teori lain dari Yorick Spiegel . he bereavemen. ,26 yang memiliki beberapa manifestasi sebagaimana dituliskannya dalam bukunya berjudul The Grief Process. 27 Spiegel, sebagaimana disarikan oleh Heath Aaron Thomas, meringkaskan beberapa tahap psikis kehilangan sebagai berikut: Kybler-Ross. Tanya Jawab Tentang Kematian, 66. Kybler-Ross. Tanya Jawab Tentang Kematian, 66. Kybler-Ross. Tanya Jawab Tentang Kematian, 69. Kybler-Ross. Tanya Jawab Tentang Kematian, 69. Heath Aaron Thomas. AuRelating Prayer and Pain: Psychological Analysis and Lamentations Research,Ay Tyndale Bulletin 61. : 188. Thomas. AuRelating Prayer and Pain,Ay 188. Jurnal Amanat Agung . Shock: brief and devastating awareness of bereavement, which often is associated with the third stage, regression. Controlled grief: often expressed through mourning rites. Regression: withdrawal to childlike behaviour, expressed by weeping, defence mechanisms, memory of happier times, searching for the guilty party, and laying blame. Adaptation: assimilation and adjustment to bereaved condition where new start on life can be made. Tahap-tahap psikis yang dipaparkan oleh Kybler-Ross dan Spiegel memiliki titik-titik asir penjelasan yang mirip. Pada tahap psikis pertama, kedua tokoh di atas mempunyai pandangan yang mirip tentang adanya situasi renjatan . ejut/kage. orang-orang yang mengalami kedukaan dan kehilangan dalam hidup mereka dan kemudian memunculkan penolakan dan sikap isolatif. Dalam tahap psikis kedua. Spiegel menghubungkannya dengan munculnya ritus-ritus perkabungan dari orang-orang yang mengalami kedukaan dan hal ini juga mulai terjadi permulaan regresi yang memunculkan frustasi namun masih terkontrol. 29 Tahap ini terkait tahap psikis Kybler-Ross yang berhubungan dengan kemarahan yang dapat ditujukan kepada orang-orang terdekat, diri sendiri bahkan kepada Allah. 30 Permulaan regresi awal akan berlanjut dalam tingkatan regresi memuncak dan ini mungkin bisa berlangsung sampai tiga bulan 31 dan oleh karena itu menurut Joyce. Spiegel menghubungkan Thomas. AuRelating Prayer and Pain,Ay 188. Thomas. AuRelating Prayer and Pain,Ay 188. Kybler-Ross. On Death and Dying, 40-43. Thomas. AuRelating Prayer and Pain,Ay 187. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 309. Ringkasan pemaparan Joyce ini dikutip dari Yorick Spiegel. Der Prozess des Trauerns: Analyse und Beratung (Munich: Christian Kaiser Verlag/Matthias-Grynewald-Verlag. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi tahap psikis kedua ini dengan tahap psikis yang ketiga, yaitu tahap regresi di mana seseorang mengalami kedukaan mendalam, yang dampaknya berperilaku mundur ke tahap fase perkembangan kehidupan yang sebelumnya, misalnya bertingkah kekanak-kanakan. 32 Tambahan, mengenai tahap regresi ini terkait dengan pertahanan mekanisme seperti Aumengingat peristiwa yang lebih bahagia di masa-masa lalu dan secara agresif mencari pihak-pihak yang dapat disalahkan, bahkan 'identifikasi' dengan agresor yang dirasakan dapat terjadi. Ay33 Tahap psikis kedua dan ketiga Speigel ini mungkin bisa disejajarkan dengan tahap psikis kedua . arah/ange. awar menawar/bargainin. paparannya Kybler-Ross. Tahap psikis keempat Spiegel adalah proses tahap adaptasi, intinya bahwa tahap ini adalah tahap asimilasi dan penyesuaian yang membawa orang yang berduka untuk dapat melanjutkan kehidupannya kembali. Ay34 Tahap psikis keempat Spiegel ini mirip dengan tahap krisis kelima dari Kybler-Ross yang berbicara mengenai penerimaan . yang positif atas apa yang 35 Sebelum masuk tahap psikis ini, pasien yang semakin parah kondisinya bisa mengalami depresi, yang oleh Kybler-Ross dijelaskan dalam tahap psikis keempat. Buku Spiegel ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul The Grief Process (Nashville: Abingdon, 1. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 309. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 309. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 309. Kybler-Ross. On Death and Dying, 99-100. Kybler-Ross. On Death and Dying, 69- 90. Jurnal Amanat Agung Teori tentang beberapa tahap psikis dari orang-orang yang mengalami kedukaan dan kehilangan dalam prosesnya tentu tidak dipahami secara baku dan mekanis dalam urutan-urutannya, tetapi sebaliknya bisa terjadi saling bercampur dan berkelindan. 37 Jadi, tahaptahap psikis tersebut bukan merupakan paparan preskriptif, melainkan paparan deskriptif dari orang-orang yang mengalaminya. 38 Hal ini mengingat tahap-tahap psikis itu kompleks dan selalu saling terhubung di dalamnya39 atau disebut sebagai tidak linear yang berarti: AuManusia yang menghadapi kesedihan bergerak bolak-balik di antara tahap-tahap, dalam beberapa kasus terjadi lagi atau repitisi. Ay40 Tambahan, di setiap kebudayaan manusia memiliki ekspresi-ekspresi kognitif, afeksi, tindakantindakan yang berbeda-beda sebagai akibat tragedi hidup yang dihadapinya . ontoh: Ul. 14:1. 1Raj. Teori-teori psikologi yang sudah dipaparkan di atas ini sering dijadikan kajian studi interdisipliner dengan teologi Kristen, misalnya dijadikan referensi untuk menggambarkan kisah ratapan orang beriman di kitab Ratapan dan Mazmur. Kitab Ratapan dipakai untuk dialog karena dipertimbangkan sebagai Aua prime example of the silence of God in the Hebrew ScripturesAy41 dalam konteks kehancuran kota Yerusalem dan Samarel. AuThe Dying Process,Ay dalam Dying: Facing the Facts, ed. Wass/R. Neimeyer, ed. ke-3 (New York: Routledge, 2. , 94. Dikutip dalam David J. Reimer. AuGood Grief? A Psychological Reading of Lamentations,Ay Zeitschrift fyr die Alttestamentliche Wissenschaft 114, no. : 544 Reimer. AuGood Grief?Ay 544 dan Thomas. Prayer and Pain, 189. Reimer,AuGood Grief?Ay 544. Thomas. Relating Prayer and Pain, 197. Jerry A. Gladson. AuPostmodernism and the Deus absconditus in Lamentation 3,Ay Biblica 91, no. 3: 321-34. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi umat Israel. Kitab Mazmur Ratapan merupakan ungkapan-ungkapan ekspresi doa tidak saja dalam sejarah perjalanan kehidupan orang-orang beriman, tetapi juga muncul dalam kehidupan umat sehari-hari. Ungkapan-ungkapan kondisi psikis dari orang beriman atau umat bisa diparalelkan dan digambarkan melalui teori-teori psikologi di atas. Ambil contoh dalam tahap psikis pertama yang berbicara mengenai penolakan, isolasi . eori Kybler-Ros. , renjatan . ejut dan kaget, teori Spiege. , menurut Joyce dapat dihubungankan dengan pernyataan di kitab Ratapan 1:1. AuAh, betapa terpencilnya kota itu, yang dahulu ramaiAy yang menggambarkan kehancuran kota Yerusalem dan kota itu tidak ada penghibur lagi43 . 2, 9, 16, 21. AuJanganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkankah telingaMu kepadaku. pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku,Ay dalam Mzm. Tahap psikis kedua terkait dengan kemarahan . eori KyblerRos. muncul dalam bentuk protes, kitab Ratapan 2:20: AuLihatlah. Tuhan dan tiliklah, kepada siapakah Engkau telah berbuat ini? Apakah perempuan harus makan anak kandungnya, anak-anak yang masih dibuai? Apakah dalam tempat kudus harus dibunuh imam dan nabi?Ay44 Dalam teori Spiegel, tahap psikis kedua ini terkait dengan keadaan kedukaan terkendali . he controlled grie. mungkin dapat digambarkan melalui ritual-ritual sosial kedukaan seperti dicatat dalam kitab Ratapan 2:10. AuDuduklah tertegun para tua-tua puteri Sion. mereka menabur abu Claus Westermann. The Living Psalms (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 65-66. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 311. Thomas. Prayer and Pain, 189. Jurnal Amanat Agung di atas kepala, dan mengenakan kain kabung. Dara-dara Yerusalem menundukkan kepalanya ke tanah. Ay45 Sebenarnya tahap psikis kedua Spiegel ini sudah mulai muncul regresi meski belum penuh. dan oleh karena itu mengapa Spiegel selanjutnya menghubungkan tahap psikis kedua ini dengan tahap psikis ketiga, yaitu tahap regresi yang ditandai dengan beberapa pertahanan mekanisme,46 misalnya pertama, mengingat peristiwa bahagia di masa lalu 47 yang dapat diberi contohnya di kitab Ratapan 1:7. AuTerkenanglah Yerusalem, pada hari-hari sengsara dan penderitaannya, akan segala harta benda yang dimilikinya dahulu tatkala penduduknya jatuh ke tangan lawan, dan tak ada penolong keruntuhannyaAy . Rat. 5:21. Mzm. 80:1-. Kedua, mencari pihak yang dapat disalahkan,48 misalnya Ratapan 5:7. AuBapak-bapak kami berbuat dosa, mereka tidak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan merekaAy . Mzm. Ketiga, identifikasikan diri dengan agresor,49 misalnya dapat dicontohkan di kitab Ratapan 4:10. AuDengan tangan sendiri wanita yang lemah lembut memasak kanak-kanak mereka, untuk makanan mereka tatkala runtuh puteri bangsakuAy . Mzm. 137:8-. Tahap ketiga. Autawar menawarAy dari teori Kybler-Ross, menurut Joyce50 dapat dilihat ekspresinya dalam kitab Ratapan 2:19. AuCurahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan dan angkatlah tanganmu Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 311. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 311. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 311. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 311. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 311. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 312. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi kepada-Nya demi hidup anak-anakmu . Ay. juga dalam kitab Ratapan 3:40-42. AuMarilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada Tuhan. Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di surga: kami telah mendurhaka dan memberontak. Engkau tidak mengampuniAy . Rat. 3:8, 44. dan bdk. Mzm. 6:5-6. AuKembalilah pula. Tuhan, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu. Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu. yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam orang mati?A. Tahap keempat, yaitu kondisi depresi yang dimunculkan oleh teori Kybler-Ross merupakan tahap psikis yang banyak ditemui dalam kitab Ratapan,51 misalnya kitab Ratapan 3:17-18. Au. hilang lenyap kemasyhuranku dan harapanku kepada TuhanAy . Mzm 102:3-. dan kitab Ratapan 5:15. AuLenyaplah kegirangan hati kami, tarian-tarian kami berubah menjadi perkabungan. Ay Tahap kelima dari teori Kybler-Ross, yaitu mengenai penerimaan . ,52 misalnya terdapat dalam kitab Ratapan 3:26. AuAdalah baik menanti dengan diam pertolongan TuhanAy . Mzm 3:5, 6. 103:17, . dan kitab Ratapan 3:37. AuSiapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya?Ay Tahap psikis ini bisa disejajarkan dengan tahap psikis keempat dari Spiegel tentang adaptasi . Rat. 53, yang intinya berbicara mengenai: The time of adjustment, assimilation of the traumatic experience, and the beginning of moving on. We can perhaps discern such elements in the central section of ch. 3, where the tragic events are Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 312. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 312. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 311. Jurnal Amanat Agung seen as justly deserved punishment at the hands of God, who now shows mercy. For example, 3:32: AuThough he causes grief, he will have compassion according to the abundance of his steadfast Ay54 Tahap penerimaan dalam keputusasaan dalam teori Kybler-Ross mungkin bisa juga disebut sebagai Auloss-orientedAy yang diterangkan oleh John Archer, melalui mengacu teorinya M. Stroebe and Schut tentang Dual-Process Model, sebagai: Aurefer to facing grief, confronting stimuli and thoughts associated with the loss . Aogrief wor. , and in the process gradually breaking the affectional bonds to the deceased. Ay55 Menurut pendapat Antje Labahn, sebagaimana disarikan oleh Heath Aaron Thomas, sebenarnya tersebar ekspresi-ekspresinya di dalam pasal-pasal 1, 2, 3, dan 5 yang merefleksikan pengertian ekstrem mengenai kesepian . dan rasa sakit. 56 Labahn mengatakan bahwa: AuThe experienced disruption leads to loneliness. Grief does not only isolate humans from their God, but also from each other. Therefore loneliness is a constitutive part of grief. Ay57 Kebalikannya dari Aulost-orientationAy adalah Aurestoration-orientedAy, yang artinya AuIt concerns the way in which the person attends to other aspects of his or her life . oping with daily life. Joyce. AuLamentations and The Grief Process,Ay 311. John Archer. The Nature of Grief The Evolution and Psychology of Reactions to Loss (London: Routledge, 1. , 103. Thomas. Relating Prayer and Pain, 193. Antje Labahn. AuTrauern als Bewyltigung der Vergangenheit zur Gestaltung der Zukunft. Bemerkungen zur anthropologischen Theologie der Klagelieder,Ay VT 52 . : 513-27. Dikutip dari Thomas. Relating Prayer and Pain. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi learning new task. instead of being concerned with the loss. Ay58 Tahap psikis ini adalah seperti tahap penerimaan yang positif setelah kedukaan dan kehilangan terjadi karena telah mengalami adaptasi. Roh Kudus dan Ratapan Ratapan adalah suatu realitas yang terjadi di dalam kehidupan manusia dan memiliki kedalaman aspek-aspek psikis yang kompleks dan memunculkan ekspresi-ekspresi tindakan yang berbeda-beda dalam setiap kebudayaan dan kepercayaan, baik dalam tradisi budaya Alkitab . mat Israe. Babilonia, dan dalam agama-agama kuno. 59 Secara teologi, ratapan terjadi karena ciptaan . ti,sij, ktisi. telah ditaklukan dalam kesiasiaan dan mengeluh bersama . ustena,zw, sustenazo, to groan togethe. karena adanya penderitaan dan kerinduan akan adanya pembebasan (Rm. Ciptaan berada dalam perbudakan kepada kebinasaan . he bondage to decay. dan mereka mengeluh serta merasa sakit bersalin (Rm. Bukan saja ciptaan yang mengeluh, tetapi Rasul Paulus berkata bahwa: Aukita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kitaAy (Rm. Gordon D. Fee mengatakan bahwa frasa Aumengeluh dalam hatiAy tidak berarti bahwa keluhan itu hanya Archer. The Nature of Grief, 103. Westermann. The living Psalms, 71. National Council of the Churches of Christ. Revised Standard Version (RSV)(USA: the Division of Christian Education of National Council of the Churches of Christ, 1. Jurnal Amanat Agung disimpan dalam hati saja, tidak disuarakan dan diekspresikan. 61 Ratapan adalah keluhan-keluhan yang mendalam karena ada penderitaan yang begitu berat dan menyesakkan yang dialami oleh orang beriman. Roh Kudus menjadi perantara bagi orang-orang beriman untuk menyampaikan baik keluhan-keluhan yang terucapkan maupun yang tidak terucapkan (Rm. yang tidak dapat dimengerti oleh pikiranpikiran orang beriman. 62 Roh Kudus ikut mengeluh atau mengerang karena kesengsaraan dan penderitaan dunia ini. 63 Luke E. Powery menegaskan bahwa AuRatapan menghubungkan kita dengan Roh dan semua ciptaan. Ay64 Roh Kudus adalah Roh yang mampu menelisik kedalaman jiwa manusia, termasuk di dalam hidup orang beriman yang sedang berada dalam tahap-tahap psikis yang saling bercampur dan berkelindan. Oleh karena itu, penting untuk memikirkan mengenai relasi Roh Kudus tidak hanya terkait dengan sukacita saja, tetapi juga dengan ratapan. Hal ini karena melalui ratapan orang beriman dapat dipimpin oleh Roh Kudus untuk semakin mengenal diri sendiri, dunia, dan Allah lebih mendalam. Luke A. Powery mengatakan bahwa: Gordon D. Fee. GodAos Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul (Peabody: Hendrickson, 1. , 574-75. Ini mungkin karena begitu beratnya penderitaan sehingga Roh Kudus bertindak menjadi perantara orang beriman menyampaikan keluhankeluhannya. Fee. GodAos Empowering Presence, 574, 582-83. Luke A. Powery. AuLament: Homiletical Groans in the Spirit,Ay The Journal of the Academy of Homiletics 34, no. : 24. Powery. AuLament,Ay 24. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi Approaching God, not only in joy, but also in sorrow. Celebration, therefore, needs to be paired with the lament, another faithful response of worship to God who should be praised in the midst of both joyful and sorrowful occasions. Lament can be appropriate way of addressing human failure or loss before God. Istilah yang berbicara tubuh orang beriman sebagai bait . ao,j, nao. Roh Kudus . Kor. dapat menjadi sebuah diskusi mengenai suatu ruang teologis . theological spac. 66 yang mengaitkan kehidupan orang beriman dengan Roh Kudus. Jikalau orang beriman bisa mendukakan Roh Kudus . Kor. 2:2. Ef. dan memadamkan Roh Kudus . Tes. karena hidupnya yang bercela. bukankah sebaliknya jika orang beriman menderita. Roh Kudus yang tinggal di dalamnya juga dapat ikut berempati dan merasakan penderitaannya. Dalam kedukaan dan kehilangan yang dialami orang beriman. Roh Kudus ikut menolong orang beriman menyatakan erangan yang mungkin sulit untuk diucapkan, atau yang disebut oleh Serene Jones sebagai Auunnarratable experiences of loss,Ay67 dan harapannya akan adanya restorasi di masa depan. Hal ini karena tubuh orang beriman adalah bait-Nya. Thomas L. Hoyt Jr. AuThe Spirit participates in the yearning by assisting the believer who hardly knows how to prepare in anticipation of the future restoration. The Spirit puts a meaning into human sighs that they would themselves not have. Ay68 Powery. AuLament,Ay 23. Shelly Rambo. AuSaturday in New Orleans: Rethinking the Holy Spirit in the Aftermath of Trauma,Ay Review and Expositor 105 (Spring 2. : 231. Rambo. AuSaturday in New Orleans,Ay 231. Thomas L. Hoyt Jr. AuRomans,Ay dalam True to Our Native Land: An African American New Testament, ed. Brian K. Blount, dkk. (Minneapolis: Fortress, 2. , 262. Dikutip dalam Powery. AuLament,Ay 23. Jurnal Amanat Agung Roh Kudus bersolidaritas dengan orang beriman dan menyatakan kesetiaan-Nya di tengah-tengah situasi kehilangan dan kedukaan. Roh Kudus yang tinggal dalam hidup orang beriman adalah bukti mengenai perjanjian penyertaan Roh Kudus bagi orang beriman (Yoh. Istilah pathos yang dikenakan Allah dalam pemikiran teologi Abraham Heschel dan Jyrgen Moltmann dapat diterapkan juga kepada Roh Kudus, yaitu Roh Kudus yang tinggal dalam hidup orang beriman berarti Ia mengambil bagian penderitaan secara aktif dan bersolidaritas secara gigih dengan orang beriman. 69 Dalam konteks wabah virus Covid-19. Roh Kudus hadir secara dinamis menyatakan karya-karya-Nya bagi orang beriman melalui penyertaan-Nya yang menguatkan. Orang beriman dapat menanggung kedukaan dan kehilangan akibat menjadi korban keganasan virus ini serta mencari jalan keluar mengatasi pagebluk ini melalui penemuan vaksin yang mujarab. Coupled with oneAos faith in God, it is oneAos responsibility to provide protection for oneself. So, anyone who has been praying for answers may see them in the form of vaccine. A Christian may see that the vaccines are a gift that need to be unwrapped by rolling up oneAos sleeves and getting vaccinated. Ultimately, a Christian may think that God has worked through science to provide us with this kind of an answer. David Thang Moe. AuWalter Brueggemann. Virus as a Summons to Faith: Biblical Reflections in a Time of Loss. Grief, and Uncertainty,Ay Homiletic 45, 2 . : 79. Joseph Renus F. Galang dan Justine Renus F. Galang. AuCorrespondence A Fundamental Christian Argument for Vaccine promotion,Ay Jurnal of Public Health . : 1. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi Dalam sejarah manusia, pagebluk telah muncul berkali-kali seperti Flu Spanyol. Kolera, wabah Pes. Flu Babi dan lainnya. namun demikian Roh Kudus, yang tinggal di dalam hidup orang beriman, berjanji untuk selalu menyertai dan memberi kekuatan. Kedukaan dan kehilangan mungkin dapat menjadi sebuah proses pemurnian dan pengudusan orang beriman untuk semakin mengenal Allah. Hal ini tidak berarti untuk mengabaikan dan tidak memedulikan penderitaan yang dialami oleh orang beriman. Kedukaan dan kehilangan tidaklah menghancurkan kehidupan orang beriman, sebaliknya itu mungkin dapat menjadi sebuah titik awal dalam membawa transformasi di dalam kehidupan orang beriman melalui karya Roh Kudus. Dalam terang perspektif ini. Roh Kudus berperan sebagai the agent of transformative suffering. 71 Roh Kudus berkuasa dalam mentransformasi kehidupan orang beriman sehingga dalam penderitaan yang seberat apapun orang beriman dapat menghayati dan memaknai penderitaan mereka dalam terang kasih dan kuasa Allah. Orang beriman dapat mengalami pergumulan psikologis sebagaimana diterangkan oleh Kybler-Ross dan Spiegel. Tahap-tahap psikis seperti penolakan dan keterisolasian, kemarahan, rasa terkejut, kedukaan, regresi, posisi tawar menawar, depresi dan penerimaan atau adaptasi adalah suatu proses perjalanan dan dinamika pengalaman hidup yang pelik, pahit dan menyakitkan sebagai respons terhadap kedukaan Minggus M. Pranoto. AuKesembuhan. Penebusan, dan Kebaikan Allah dalam Teologi Pentakostal,Ay Jurnal Abdiel 1, no. 1 (April 2. : 93. Pranoto. AuKesembuhan. Penebusan, dan Kebaikan Allah dalam Teologi Pentakostal,Ay 93. Jurnal Amanat Agung dan kehilangan. Tahap-tahap psikis tersebut adalah suatu pengalaman yang manusiawi dan wajar jika memunculkan ratapan-ratapan. Roh Kudus yang berkarya di dalam hidup orang beriman justru mendorong agar ratapan-ratapan itu disampaikan dalam berbagai ekspresi. Hal tersebut dapat melalui perkataan atau bahasa. tingkah laku atau laku spiritual tertentu seperti tangisan atau tindakan menangis, nyanyian, erangan atau berkata-kata dalam bahasa roh atau bahkan teriakan. dan sebagainya. Ekspresi-ekspresi di atas tersebut merupakan jeritan hati yang dalam. sikap protes yang jujur, tulus dan berani. ekspresi-ekspresi tindakan ungkapan keragu-raguan. luapan kesedihan yang mendalam dan rasa kesakitan. juga luapan mempertanyakan atas kehadiran dan keadilan Allah yang mengizinkan semuanya ini terjadi. Roh Kudus menjaga hati orang beriman untuk tidak meninggalkan Tentunya sejauh orang beriman itu terus bertanggung jawab dalam merespons karya-Nya dan memiliki iman yang terus bersandar kepada Allah. Begitu sulit untuk membayangkan dan menjelaskan mengapa orang beriman dapat bertahan terhadap tragedi yang begitu pahit dan pelik yang menimpa hidupnya. Namun demikian, kekuatan untuk bertahan dan melewati krisis kehidupan merupakan bukti bahwa Roh Kudus menyatakan penyertaan dan penghiburan-Nya. Seperti sebuah ungkapan bahwa buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya . Mat. Dalam perspektif iman Kristen, ratapan tidak berakhir kepada kekecewaan dan penyangkalan iman. Sebaliknya, hal tersebut dapat membawa kepada keteguhan hati dan sikap percaya kepada Allah yang Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi semakin mendalam, atau istilah psikologinya memiliki AurestorationorientedAy, sekalipun mungkin kelepasan akan kedukaan dan kehilangan belum terlihat titik terangnya. Saat menelaah Mazmur-Mazmur Ratapan, khususnya Mazmur 13. Claus Westernmann berpendapat: AuThe one who laments his suffering to God does not remain in his lament. But before this poin can be reached, the suffering must express itself, it must be put into words through the lament in which the sufferer Aopours out his soulAo before God. Psalm 42:4. Ay73 Roh Kudus menuntun orang beriman untuk menyatakan ratapan secara jujur, tulus dan berani. Ratapan yang demikian adalah ratapan yang memiliki etika atau etika meratap . he ethics of lamen. 74 Dalam konteks Kitab Ratapan. Robin Parry mengatakan: AuLamentation never resolves this conflicted ethical assessment of Yahweh but it does provide space for the expression of ethical pain, protest and perplexity alongside more traditional expressions of piety. Ay75 Hasilnya, orang beriman mungkin dapat melakukan katarsis atas beban derita yang dipendam dalam hatinya melalui kata-kata . aik yang terucapkan maupun yang tidak terucapka. atau tindakan-tindakan tertentu. Roh Kudus mengizinkan kedukaan dan kehilangan dialami oleh orang beriman, bahkan Roh Kudus membawa orang-orang beriman memasuki realitas kedukaan dan kehilangan. Dalam Westermann. The Living Psalms, 69. Lihat dan bdk. Robin Parry. AuThe Ethics of Lament,Ay dalam Reading the Law: Studies in Honour of Gordon J. Wenham, ed. McConville dan Karl Myller (New York: T&T Clark, 2. , 138-55. Parry. AuThe Ethics of Lament,Ay 149. Jurnal Amanat Agung tafsiran Surat Roma berjudul True to Our Native Land. Thomas Hyot menuliskan bahwa: The Spirit does not bring release from present suffering but propels believers into it. Present suffering prevents confidence for the future from becoming triumphalistic. But if the Spirit does not nullify suffering, neither does suffering nullify the confidence that the community may have for the future. In PaulAos mind the Spirit is connected with a universal yearning to experience the fulfillment of GodAos purposes. Walter Brueggemann mengatakan bahwa adanya ratapan dalam hidup orang-orang beriman yang menaruh percaya kepada Allah justru menunjukkan suatu interaksi perjanjian yang asli atau otentik . enuine covenant interactio. di antara keduanya. 77 Jika tidak adanya ratapan maka menunjukkan: The loss of genuine covenant interaction because the second party to the covenant . he petitione. has become voiceless or has a voice that is permitted to speak only praise and doxology. Where lament is absent, covenant comes into being only a celebration of joy and well-being. Or in political categories, the greater party is surrounded by subjects who are always Aoyes men and womenAo from whom Aonever is heard a discouraging word. Since such a celebrative, consenting silence does not square with reality, covenant minus Hoyt Jr. AuRomans,Ay 262. Dikutip dalam Powery. AuLament,Ay 23. Lihat Walter Brueggemann. AuThe Costly Loss of Lament,Ay Journal for the Study of the Old Testament 36 . : 57-71. Dalam artikel ini. Brueggemann menghubungkan pentingnya ratapan terkait transformasi yang memunculkan jati diri yang asli atau otentik . enuine self, perspektif psikolog. , proses sosial untuk menegakkan keadilan . erspektif sosia. , dan relasi antara orang beriman dengan Allah . erspektif teologi Perjanjian atau Covenant theolog. Munculnya ratapan sebagai tuntutan terhadap munculnya keadilan tidak menjadi fokus perhatian dalam tulisan artikel ini. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi lament is finally a practice of denial, cover-up, and pretense, which sanctions social control. Kedukaan dan kehilangan yang dihayati melalui pimpinan Roh Kudus akan membawa orang beriman berada dalam keikutsertaan dan pengiringan untuk semakin menjadi serupa dengan Kristus dalam penderitaan-Nya. Powery mengatakan bahwa Roh Kudus tidak menghindarkan penderitaan atau rasa sakit dari orang-orang beriman, tetapi sebenarnya menjadikan mereka menderita bersama Kristus untuk mengantisipasi pada akhirnya dimuliakan bersama-Nya (Rm. Kedukaan dan kehilangan mengingatkan tentang keterbatasan dan kemortalitasan manusia di dunia ini. Kedua hal ini membatasi manusia untuk melakukan triumfalistik atas hidupnya dan atas pencapaian prestasi-prestasi sehebat apapun di berbagai bidang kehidupan. Roh Kudus memberikan jaminan bahwa ada waktu pembebasan dan kelepasan eschaton yang menjadikan orang beriman akan beroleh Aupengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuhAy (Rm. Selama masa kepenuhan eschaton itu belum tiba, penyertaan-Nya tetap tersedia bagi orang beriman. Kesimpulan Tindakan meratap atau ratapan adalah bagian dalam kehidupan orang beriman dan merupakan sikap mengaktualkan diri saat mengalami kedukaan dan kehilangan. Psikologi memiliki otoritas keilmuan untuk Brueggemann. AuThe Costly Loss of Lament,Ay 60. Powery. AuLament,Ay 23. Jurnal Amanat Agung tahap-tahap psikis ratapan. Thomas mengatakan. AuPsychological analyses bear some fruit. On the most fundamental level, psychological approaches help to provide an entrye to begin thinking about the present reality, and depiction of pain . Ay80 Psikologi juga berguna untuk membantu dalam menjelaskan model-model deskripsi empiris mengenai kedukaan dan kehilangan 81 dan beragam cara respons manusia berhadapan dengan kesakitan dan penderitaan. 82 Pneumatologi memberi makna teologis dan pengharapan bagi kehidupan orang beriman yang mengalami dan bergumul dalam kedukaan dan kehilangan. Analisis-analisis dari psikologi perlu disintesiskan dengan pneumatologi, yang menekankan karya Roh Kudus yang mentransformasi untuk pemulihan orang beriman yang sedang meratap. Dalam perspektif iman Kristen, ratapan tidak berakhir kepada kekecewaan dan penyangkalan iman, sebaliknya pengenalan yang semakin mendalam dan benar mengenai Allah, diri, dan dunia. Hal ini karena Roh Kudus berkarya dalam hidup orang beriman dan orang beriman mengalami orientasi kehidupan yang baru. Ratapan perlu diberi ruang dalam konteks pertumbuhan iman orang beriman . uga dalam konteks umat Alla. dan umat Tuhan perlu menyatakan sikap yang berempati dan berbela rasa terhadap mereka yang mengalami kedukaan dan kehilangan. Thomas. Relating Prayer and Pain,Ay 194. Thomas. Relating Prayer and Pain,Ay 196. Thomas. Relating Prayer and Pain,Ay 196. Spirit and Lament: Tinjauan dari Perspektif Psikologi-Pneumatologi Daftar Pustaka