Jurnal Peduli Masyarakat Volume 5 Nomor 2. Juni 2023 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM UPAYA PENURUNAN KEJADIAN PENYIMPANGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA MELALUI KOMUNIKASI EFEKTIF ANTARA ORANGTUA DENGAN REMAJA Eva Nurlina Aprilia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta. Jl. Bener No. Tegalrejo. Yogyakarta 55243. Indonesia *evanurlinaaprilia@gmail. ABSTRAK Kejadian kehamilan remaja tidak hanya terjadi di dunia maupun di kota-kota besar di Indonesia, akan tetapi juga banyak terjadi di daerah pedesaan, salah satu contohnya adalah daerah Gunungkidul di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyimpangan perilaku seksual remaja melalui komunikasi efektif antara orangtua dengan remaja. Kegiatan Pengabdian Masyarakat yang dilaksanakan dengan acara tatap muka dan roleplay. Pelaksanan kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dilakukan oleh 1 orang pelaksana yaitu dari Dosen STIKES Notokusumo Yogyakarta. Komunikasi efektif orangtua dengan remaja sebagai bentuk pencegahan penyimpangan perilaku seksual dengan remaja menjadi meningkat dan hanya terdapat 2 . kategori saja yaitu baik dan cukup. Adapun kategori baik yaitu 11 . ,75%). Setelah remaja mendapatkan penyuluhan dan pelatihan terjadi peningkatan pengetahuan yang baik sebesar 37,5% dari hasil sebelum dilakukan penyuluhan dan pelatihan adalah 31,25% menjadi 68,75%. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan, setelah orangtua remaja mendapatkan penyuluhan dan pelatihan terjadi peningkatan sikap yang baik adalah 68,5% dari hasil sebelum dilakukan penyuluhan dan pelatihan hanya terdapat 1 . ,25%) yang kategori baik dan setelah dilakukan penyuluhan dan pelatihan meningkat menjadi 12 . %). Kata kunci: komunikasi efektif. perilaku seksual remaja EFFORTS TO REDUCE ADOLESCENT SEX BEHAVIOR THROUGH EFFECTIVE COMMUNICATION BETWEEN PARENTS AND ADOLESCENTS ABSTRACT The incidence of teenage pregnancy does not only occur in the world or in big cities in Indonesia, but also occurs in many rural areas, one example is the Gunungkidul area in the Special Region of Yogyakarta (DIY). The purpose of this study was to determine adolescent sexual behavior deviations through effective communication between parents and adolescents. Community Service Activities carried out in face-to-face events and roleplay. The implementation of this Community Service activity was carried out by 1 executor, namely from the Lecturer at STIKES Notokusumo Yogyakarta. Effective communication between parents and adolescents as a form of preventing sexual behavior deviations with adolescents has increased and there are only 2 . categories, namely good and The good category is 11 . 75%). After adolescents received counseling and training there was an increase in good knowledge of 37. 5% from the results before counseling and training 25% to 68. The community service activities carried out, after the parents of teenagers received counseling and training, there was an increase in good attitudes, namely 68. 5% of the Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group results before counseling and training was only 1 . 25%) which was in a good category and after counseling and training it increased to 12 . %). Keywords: adolescent. effective communication. sexual behavior deviation PENDAHULUAN Perilaku seksual dapat didefinisikan sebagai segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun sesama jenis (Saifudin AB, 2. Sedangkan menurut (Heriana, 2. perilaku seksual adalah sesuatu yang terjadi antara laki-laki dan perempuan sebagai manifestasi dan dorongan seksual. Bentuk-bentuk tingkah laku tersebut bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai dengan berkencan, bercumbu dan Perilaku seksual merupakan kegiatan yang dilakukan dalam upaya memenuhi dorongan seksual atau kegiatan untuk mendapatkan kesenangan organ kelamin atau seksual melalui berbagai perilaku seperti berfantasi, masturbasi, cium pipi, cium bibir, petting dan berhubungan intim (Kusmiran, 2. Besarnya jumlah penduduk remaja memiliki pengaruh terhadap peningkatan kejadian penyimpangan perilaku seksual. Penyimpangan perilaku seksual tidak hanya terjadi di dunia tetapi juga terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Penelitian (Remaja, 2. tentang perilaku seksual di empat kota besar di Indonesia menunjukkan bahwa 3,6% remaja di kota Medan, 8,5% remaja di kota Yogyakarta, 3,4% remaja di kota Surabaya, serta 31,1% remaja di kota Kupang telah terlibat hubungan seks secara aktif. Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah di Indonesia. Data yang tersedia berhubungan dengan perilaku seksual remaja yang menyimpang di peroleh dari Data pusat informasi dan layanan remaja (PILAR) dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah pada tahun 2012 mengenai kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa remaja yang melakukan hubungan seksual dan hamil pranikah masih tinggi. Menurut catatan PKBI pada tahun 2010, sebesar 379 . %) remaja dari jumlah seluruh remaja yang berkonsultasi tentang kesehatan reproduksi di PILAR PKBI yang melakukan hubungan seksual pranikah mencapai 98 . %), hamil pranikah mencapai 85 . %). Pada tahun 2011 sebesar 821 . %) remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah mencapai 153 . %), hamil pranikah mencapai 75 . %) dan sebesar 52% remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah berusia 15-19 tahun (PILAR PKBI Jawa Tengah, 2. Perilaku seksual yang dilakukan remaja saat ini disebabkan oleh perkembangan perilaku seksual. Perilaku seksual yang menyimpang tidak hanya memberikan dampak negatif pada remaja tetapi juga pada keluarganya dan menimbulkan efek negatif salah satunya adalah kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi pada remaja (Soetjiningsih, 2. Kejadian kehamilan remaja tidak hanya terjadi di dunia maupun di kota-kota besar di Indonesia, akan tetapi juga banyak terjadi di daerah pedesaan, salah satu contohnya adalah daerah Gunungkidul di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurut menunjukkan perempuan yang menikah di usia 16 tahun di Yogyakarta adalah 8,74% dengan prosentase terbesar di kabupaten Gunungkidul . ,40%) diikuti oleh kabupaten Sleman . ,49%). Prosentase tersebut meningkat pada tahun 2010 menjadi 10,81%. Dengan prosentase terbesar di kabupaten Gunungkidul . ,24%), diikuti oleh kabupaten Kulon Progo . ,81%) dan kabupaten Sleman . ,12%) (PKBI, 2. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group Risiko perilaku seksual yang berdampak pada kejadian kehamilan remaja banyak terjadi di daerah Gunungkidul di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pengusul mengambil lokasi pengabdian masyarakat di Desa Pengkol karena Desa Pengkol merupakan salah satu Desa yang berada di Daerah Gunungkidul. Alasan pengusul mengambil lokasi pengabdian masyarakat di Desa atau daerah tersebut adalah menurut Data Susenas dari Badan Pusat Statistik propinsi DIY pada tahun 2009 menunjukkan perempuan yang menikah di usia 16 tahun di Yogyakarta adalah 8,74% dengan prosentase terbesar di kabupaten Gunungkidul . ,40%) diikuti oleh kabupaten Sleman . ,49%). Prosentase tersebut meningkat pada tahun 2010 menjadi 10,81%. Dengan prosentase terbesar di kabupaten Gunungkidul . ,24%), diikuti oleh kabupaten Kulon Progo . ,81%) dan kabupaten Sleman . ,12%) (PKBI DIY, 2. Menurut hasil pencatatan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di Gunungkidul, menunjukkan bahwa dari 366 kasus kehamilan tidak diinginkan di kabupaten tersebut sepanjang tahun 2010, sebesar 31,96% diantaranya dialami oleh remaja berusia 11 hingga 19 tahun . Desember 2. Detik health. Berdasarkan data diatas, maka dapat disimpulkan bahwa angka kejadian kehamilan remaja di Kabupaten Gunungkidul dari tahun ke tahun semakin meningkat dan hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menyebabkan meningkatkanya kejadian kehamilan remaja tersebut. Sehingga perlu dilakukan intervensi-intervensi untuk dapat menekan tingginya angka kejadian kehamilan remaja akibat dari perilaku seksual remaja yaitu dengan memberikan pendidikan atau penyuluhan serta pelatihan keterampilan kepada orangtua mengenai komunikasi efektif antara orangtua dengan remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyimpangan perilaku seksual remaja melalui komunikasi efektif antara orangtua dengan METODE Kegiatan Pengabdian Masyarakat yang dilaksanakan dengan acara tatap muka dan roleplay dapat berjalan dengan baik dan lancar. Pertemuan tatap muka dengan metode ceramah dan Kegiatan ini dilaksanakan sehari yaitu pada hari Kamis tanggal 14 April 2022 dari pukul 14. 00 WIB-Selesai. Peserta kegiatan berjumlah 16 orangtua yang bertempat tinggal di Kalurahan Pengkol yang terdiri dari Dusun Gagan. Kedokploso. Glompong. Geger. Pagutan. Kebonjero. Pengkol. Wungurejo dan Karangsari. Pelaksanan kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dilakukan oleh 1 orang pelaksana yaitu dari Dosen STIKES Notokusumo Yogyakarta dengan pokok bahasan yang disampaikan mengenai : Pelaksanaan Pre Test Penjelasan latar belakang kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan oleh Dosen STIKES Notokusumo (Sebagai Pelaksana Pengabdian Masyaraka. Pemberian informasi / edukasi dari Dosen STIKES Notokusumo sebagai Pelaksana Pengabdian Masyarakat mengenai Upaya Penurunan Kejadian Penyimpangan Perilaku Seksual Remaja melalui Komunikasi Efektif antara Orangtua dengan Remaja Pelaksanaan Role play mengenai cara Komunikasi efektif orangtua ke Remaja Pelaksanaan Post Test Program pengabdian pada masyarakat berupa pemberian informasi dan pelatihan mengenai Upaya Penurunan Kejadian Penyimpangan Perilaku Seksual Remaja melalui Komunikasi Efektif antara Orangtua dengan Remaja serta keterampilannya dalam melakukan cara Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group komunikasi efektif orangtua dengan remaja. Hasil pemberian informasi maupun pelatihan ini tentunya bermanfaat untuk para orangtua yang memiliki remaja di Kalurahan Pengkol. Nglipar. Gunungkidul. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Subyek penelitian terdiri dari 16 Orangtua. Karakteristik responden dalam penelitian terdiri dari usia, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan dan sikap. Berdasarkan kegiatan pengadian masyarakat yang telah dilakukan pada bulan April 2022 dapat dideskripsikan karakteristik responden seperti tabel berikut ini: Tabel 1. Karakteristik Responden Orangtua berdasarkan usia (Dewasa awal dan Dewasa akhi. Karakteristik 26-35 Tahun 6,25 36-45 Tahun 93,75 Jumlah responden orang tua remaja di kalurahan Pengkol. Nglipar. Gunungkidul terbanyak di usia dewasa akhir, yaitu usia . -35 tahu. sebanyak 15 . ,75%) dan usia paling sedikit adalah remaja awal yaitu usia . sebanyak 1 . ,25%). Tabel 2. Karakteristik Responden Orangtua berdasarkan pekerjaan . Karakteristik Wiraswasta Guru Swasta 1,75 Ibu Rumah Tangga Petani 18,75 Jumlah responden orangtua remaja di Kelurahan Pengkol. Nglipar. Gunungkidul berdasarkan pekerjaan. Pekerjaan orangtua terbanyak adalah Wiraswasta dan Ibu Rumah Tangga masing-masing yaitu Wiraswasta sebesar 4 . %) dan Ibu Rumah Tangga sebesar 4 . %). Sedangkan pekerjaan rangtua remaja paling sedikit adalah Guru yaitu sebesar 2 . ,5%). Tabel 3. Karakteristik Responden Orangtua berdasarkan pendidikan . Karakteristik SMO 31,15 SMA 18,75 Jumlah responden orangtua remaja di Kelurahan Pengkol. Nglipar. Gunungkidul berdasarkan pendidikan. Pendidikan orangtua terbanyak adalah pendidikan SMP yaitu Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group sebesar 5 . ,25%), sedangkan pendidikan orangtua remaja paling sedikit adalah SMA yaitu sebesar 3 . ,75%). Tabel 4. Pengetahuan tentang Komunikasi Efektif Orangtua dengan Remaja pada Orangtua yang Memiliki Remaja . Pengetahuan Komunikasi Efektif Pretest Baik Cukup Kurang Postest Baik Cukup Kurang 31,25 56,25 68,75 31,25 Tabel 4. Sikap mengenai tata cara komunikasi efektif orangtua dengan remaja . Cara komunikasi efektif orangtua dengan remaja Pretest Baik 6,25 Cukup Kurang 81,25 Postest Baik Cukup Kurang Pengetahuan Mengenai Komunikasi Efektif Orangtua dengan Remaja sebagai Bentuk Pencegahan Penyimpangan Perilaku Seksual pada Remaja Tabel 3 menunjukkan bahwa Pengetahuan responden Remaja sebelum dilakukan tindakan penyuluhan dan pelatihan . re tes. terdapat 3 . kategori yaitu baik, cukup dan Kategori terbanyak adalah kategori kurang yaitu 9 . ,25%), dilanjutkan dengan kategori baik yaitu 5 . ,25%) dan yang terakhir kategori cukup sebesar 2 . ,5%). Namun setelah dilakukan tindakan penyuluhan dan pelatihan mengenai Komunikasi efektif orangtua dengan remaja sebagai bentuk pencegahan penyimpangan perilaku seksual dengan remaja menjadi meningkat dan hanya terdapat 2 . kategori saja yaitu baik dan cukup. Adapun kategori baik yaitu 11 . ,75%) dan kategori cukup sebesar 5 . ,25%). Acuan yang digunakan dalam menentukan kategori baik, cukup dan kurang dengan menggunakan dengan rincian baik . %-100%), cukup . %-75%) dan kurang (<56%) (Arikunto, 2. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group Berdasarkan uraian tersebut diatas maka yang dimaksud dengan pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang atau kelompok melakukan pengideraan terhadap objek tertentu dan pengetahuan merupakan domain yang penting dalam membentuk tindakan Pengetahuan yang diperoleh responden sesuai dengan bentuk dan macam pengetahuan menurut (Notoatmodjo, 2. adalah pengetahuan empiris yaitu pengetahuan yang lebih menekankan pada pengamatan dan pengalaman inderawi, diperoleh dengan melakukan pengamatan dan observasi serta melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulang kali. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan setelah remaja mendapatkan penyuluhan dan pelatihan terjadi peningkatan pengetahuan yang baik sebesar 37,5% dari hasil sebelum dilakukan penyuluhan dan pelatihan adalah 31,25% menjadi 68,75%. Pengetahuan cukup terjadi peningkatan sebesar 18,75% dari hasil sebelum dilakukan penyuluhan dan pelatihan adalah 12,5% menjadi 31,25%. Hal tersebut sesuai dengan (Notoatmodjo, 2. yang menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang meningkat adalah faktor pendidikan, media dan keterpaparan informasi. Persepsi remaja mengenai komunikasi orangtua turut membantu remaja dalam mengembangkan dan mencapai kematangan sebagai seorang dewasa. Pada komunikasi orangtua terdapat penyampaian nilai-nilai, aturan dan budaya yang dianut oleh keluarga yaitu komunikasi orangtua berperan besar untuk mengajarkan aturan, nilai dan budaya yang dianut oleh keluarga kepada remaja. Pendidikan dan pelatihan nilai berguna bagi pembentukan karakter dan jati diri remaja di masa yang akan datang (Sunariani. Suryadinata. , & Mahaputra, 2. Sehingga dengan jati diri dan karakter remaja yang terbentuk dengan baik maka akan dapat mencegah remaja dari perilaku negative yang ada di lingkungan remaja. Pelatihan yang diberikan tersebut mengenai cara menerapkan komunikasi efektif dengan berbagai macam permasalahan yang dihadapi oleh remaja. Manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya pelatihan komunikasi efektif antara orangtua dengan remaja yaitu remaja dapat belajar bagaimana berkomunikasi efektif karena melihat orangtua mereka juga melakukan hal tersebut, membuat remaja menjadi memahami harapan orangtua dan remaja akan cenderung berperilaku sesuai dengan harapan orangtua (Rober & Debbie, 2. Pada proses komunikasi terjadi interaksi. Interaksi antara orangtua dan remaja yang positif yang dicerminkan dari komunikasi positif akan dapat berdampak pada perkembangan karakter remaja terutama pada dimensi perasaan moral, tindakan moral dan karakter secara keseluruhan (Situmorang et al. , 2. Komunikasi antara orang tua dan remaja yang efektif sangat diperlukan untuk mengetahui perkembangan remaja dan pemasalahan-permasalahan yang sedang dialami oleh remaja. Selain itu orang tua jua dapat memberikan dukungan, bimbingan maupun arahan kepada remajanya sehingga remaja pun merasa dimengerti, dipahai dan merasa diperhatikan oleh orang tuanya. Ketika komunikasi efektif sudah terjalin di antara orang tua dan remaja, maka remaja dapat dengan mudah menerima apa yang dikatakan oleh orang tua. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group selanjutnya permasalahan-permasalhan yang sedang dialami remaja dapat didiskusikan dan dipecahkan bersama-sama (Supratiwi et al. , 2. Sikap Mengenai Penolakan Ajakan Negatif Secara Asertif Tabel 4 menunjukkan bahwa sikap terhadap cara komunikasi efektif orangtua dengan remaja terdapat 3 . kategori yaitu baik, cukup dan kurang. Kategori terbanyak adalah kurang yaitu 13 remaja . ,25%), kategori cukup sejumlah 2 remaja . ,5%) dan kategori baik yaitu 1 . ,25%). Setelah dilakukan tindakan penyuluhan dan pelatihan mengenai cara komunikasi efektif orangtua dengan remaja terdapat 2 . kategori yaitu baik dan cukup. Kategori baik meningkat menjadi 68,75%, sebelum diberikan penyuluhan dan pelatihan dari 6,25% menjadi 75%. Sedangkan kategori cukup meningkat menjadi 12,5%, sebelum diberikan penyuluhan dan pelatihan sebesar 12,5% meningkat menjadi 25%. Peran orangtua di dalam keluarga adalah bertanggung jawab penuh sebagai pendidik yang utama dan pertama. Artinya, perilaku remaja merupakan cerminan bagaimana orang tua mendidik Pendidikan kesehatan reproduksi dari orang tua diharapkan bisa meluruskan pemahaman anak terkait seluruh organ tubuh supaya remaja paham terhadap segala resiko dari penyimpangan (Stevanus et al. , 2. Orangtua berusaha harus menjadi seorang sahabat bagi anak remajanya dalam persoalan Sebagai orangtua tidak boleh mengambil jarak dengan anak remaja dalam hal pemahaman persoalan seks sehingga tidak sulit untuk dikomunikasikan dengan anak remaja dan juga anak remaja tidak akan bertanya tentang seks maka anak remaja akan nyaman. Peran pendampingan mutlak harus dilakukan orangtua agar tahu apa yang harus dilakukan. Peran komunikasi sangat penting dalam menyampaikan informasi mengenai pengetahuan seksualitas termasuk juga pemahaman akan momen yang tepat (Lumban Gaol. Stefanus M. Marbun, 2. Berdasarkan uraian tersebut diatas maka yang dimaksud dengan sikap adalah suatu pola perilaku kesiapan antisipatif dalam menyesuaikan diri dalam situasi sosial dan sifatnya masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2. Dilaksanakannya kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk dapat meningkatkan dan merubah sikap remaja menjadi sikap yang positif sehingga mampu dengan sigap dan siap untuk dapat menghadapi segala macam problematika yang muncul pada remaja. Komponen yang menunjang dalam struktur sikap yaitu komponen kognitif, afektif dan Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan, setelah orangtua remaja mendapatkan penyuluhan dan pelatihan terjadi peningkatan sikap yang baik adalah 68,5% dari hasil sebelum dilakukan penyuluhan dan pelatihan hanya terdapat 1 . ,25%) yang kategori baik dan setelah dilakukan penyuluhan dan pelatihan meningkat menjadi 12 . %). Hal tersebut sesuai dengan (Notoatmodjo, 2. yang menyampaikan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi pembentukan dan peningkatan sikap yaitu pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media masa, institusi atau lembaga pendidikan dan agama serta faktor emosional. Faktor yang berpengaruh dalam pembentukan dan peningkatan sikap pada remaja dalam kegiatan pengabdian masyarakat Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group ini adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, media masa dan Institusi. Pembentukan jati diri biasanya terjadi pada saat remaja yaitu sekitar usia 11-20 tahun (Papalia, 2. Perilaku asertif merupakan Ausuatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lainAy (Astuti & Suharso, 2. Apabila seseorang memiliki perilaku asertif yang tinggi, maka ia akan lebih memiliki rasa percaya diri, terbuka, jujur serta akan merasa dihormati oleh orang lain (Khairani et al. , 2. Perilaku asertif juga dikatakan sebagai kemampuan untuk mengirimkan pikiran, perasaan, pendapat kepada orang lain dengan bahasa verbal maupun non verbal yang dapat diterima dengan mudah (Yulianti, 2. Sehingga perilaku asertif dapat dikatakan sebagai suatu wujud tingkah laku individu yang mampu secara terbuka untuk menyampaikan hak-haknya, namun tanpa merugikan atau mengesampingkan hak-hak orang lain dan tidak menimbulkan permasalahan baru. SIMPULAN Pengetahuan responden Remaja sebelum dilakukan tindakan penyuluhan dan pelatihan . re tes. terdapat 3 . kategori yaitu baik, cukup dan kurang. Kategori terbanyak adalah kategori kurang yaitu 9 . ,25%). Namun setelah dilakukan tindakan penyuluhan dan pelatihan mengenai Komunikasi efektif orangtua dengan remaja sebagai bentuk pencegahan penyimpangan perilaku seksual dengan remaja menjadi meningkat dan hanya terdapat 2 . kategori saja yaitu baik dan cukup. Adapun kategori baik yaitu 11 . ,75%). Setelah remaja mendapatkan penyuluhan dan pelatihan terjadi peningkatan pengetahuan yang baik sebesar 37,5% dari hasil sebelum dilakukan penyuluhan dan pelatihan adalah 31,25% menjadi 68,75%. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan, setelah orangtua remaja mendapatkan penyuluhan dan pelatihan terjadi peningkatan sikap yang baik adalah 68,5% dari hasil sebelum dilakukan penyuluhan dan pelatihan hanya terdapat 1 . ,25%) yang kategori baik dan setelah dilakukan penyuluhan dan pelatihan meningkat menjadi 12 . %). DAFTAR PUSTAKA