GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Analisis School Well Being Pelajar SMP Yogyakarta Melalui Rebt pada Pelaku Bullying Muhammad Erwan Syah1*. Dian Juliarti Bantam2 . Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, . Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. Abstract Unpleasant school experiences due to bullying, whether as a victim or perpetrator, can be a significant source of stress and reduce the quality of life for students (Mathew, 2. The stress experienced by students will hurt intrapersonal and interpersonal relationships. This will make students feel that the learning climate at their school is unpleasant (Souttera. This research aims to analyze the effectiveness of SWB through REBT in junior high school students in the city of Yogyakarta. In addition, this research is expected to become the basis for guidance and counseling teaching materials in junior high schools in the city of Yogyakarta. This research is action research carried out by researchers and collaborating with related parties which is adapted to the school situation. The REBT module and SWB measuring instrument used in thiprevious research developmentsprevious researchers' research. The measuring tool used to reveal the SWB of bullying perpetrators is the School Well-Being Scale (SWB Scal. The SWB scale refers to four aspects of SWB, namely having . chool condition. , loving . ocial relationship. , and being . elf-fulfillmen. The results of this research include significant differences in the School Well-Being of the Experimental group which was measured 3 times, namely Pretest. Post-test, and Follow-up so that Rational Emotive Behavior Therapy was proven to be effective in improving and changing attitudes, perceptions, ways of thinking, beliefs and The irrational view of the bully becomes a rational view. Apart from that, there was an insignificant difference in the control group's School Well-Being which was measured 3 times, namely pre-testcarry-over effects and cofounding factors such as intense interaction and communication between the experimental and control groups caused thisperimental and control groups. Keywords: School Well Being. REBT. Pelaku Bullying Article Info Artikel History: Submitted: 2022-06-09 | Published: 2022-08-30 DOI: http://dx. org/10. 24127/gdn. Vol 12. No 2 . Page: 169 - 182 (*) Corresponding Author: Muhammad Erwan Syah. Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, . Email: muhammaderwansyach@yahoo. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium provided the original work is properly cited. Page | 169 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA INTRODUCTION Berbagai pengalaman dapat dialami oleh para siswa, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan, khususnya pengalaman bersama rekan sebaya. Salah satu pengalaman siswa yang terkategori kurang menyenangkan yaitu pengalaman bullying, baik sebagai pelaku maupun korban (Rasyid, 2. Karena hal ini dapat menjadi sumber stres yang signifikan dan mengurangi kualitas hidup siswa (Mathew, 2. Stres yang dialami oleh siswa akan memberikan dampak yang buruk pada intrapersonal maupun hubungan interpersonal, yang kemudian keadaan stres tersebut dapat membuatnya merasa bahwa iklim belajar di sekolah tidak menyenangkan (Souttera, 2. Bullying merupakan salah satu masalah yang masih menjadi perhatian khusus di sekolah (Dariyo, 2. Berdasarkan hasil rekapitulasi yang dilakukan KPAI selama bulan Januari sampai dengan April 2019 yaitu basis data berdasarkan pengaduan yang diterima KPAI diperoleh data pelanggaran hak anak di bidang pendidikan masih didominasi perundangan yaitu berupa kasus pendidikan per tanggal 30 Mei 2018 berjumlah 161 kasus. Rinciannya, yaitu anak korban tawuran sebanyak 23 kasus . ,3%), anak pelaku tawuran sebanyak 31 kasus . ,3 %), anak korban kekerasan dan bullying sebanyak 36 kasus . ,4 %). "Untuk kasus anak pelaku kekerasan dan bullying sebanyak 41 . ,5%) kasus, dan anak korban kebijakan . , dikeluarkan dari sekolah, tidak boleh ikut ujian, dan putus sekola. sebanyak 30 . ,7%) (Sindonews. Siswa yang melakukan bullying memiliki beberapa faktor penyebabnya yaitu tidak terima dengan keadaan diri sendiri, konflik keluarga, sering berpikir negatif, tidak puas dengan fasilitas sekolah, memiliki egoisme yang tinggi, kesadaran untuk meminta maaf dan memaafkan kurang, tidak memiliki rasa percaya diri, tidak tanggungjawab, sulit memahami diri sendiri, tidak memiliki pekerjaan yang bermanfaat, kurang kreatif dan pendendam (Rachma, 2. Faktor tersebut sangat mempengaruhi menurunnya kesejahteraan di sekolah, yang dikenal dengan sebutan school well being (SWB) pada siswa yang melakukan bullying. SWB adalah kepuasan siswa untuk memenuhi kebutuhan dasar di sekolah yang meliputi having . ondisi sekola. , loving . ubungan sosia. , being . emenuhan dir. , dan health . tatus kesehata. (Amalia, 2. Berangkat dari urgensi permasalahan serta untuk menjembatani kebutuhan sekolah maka dalam penelitian ini akan berfokus pada pelaku bullying yang diberikan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). Menurut Ellis REBT merupakan pendekatan kognitif behavioral yang berfokus pada tingkah laku individu maupun kelompok. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisa School Well Being melalui Rational Emotive Behavior Therapy pada siswa SMP di kota Yogyakarta. Selain itu, penelitian ini diharapkan menjadi dasar untuk materi ajar bimbingan dan konseling di sekolah jenjang menengah pertama kota Yogyakarta. METHOD Design Model rancangan eksperimen yang digunakan merupakan model yang dikemukakan oleh Cambell dan Stanley (Shaughnessy. Zechmeister & Zechmeister, 2. yaitu desain kelompok kontrol nonekuivalen (Nonequivalent Control Group Design with Pretest and Posttes. Model ini merupakan suatu desain penelitian eksperimen dimana sebuah kelompok eksperimen dan sebuah kelompok pembanding . elompok kontro. Page | 170 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA diperbandingkan dengan menggunakan ukuran-ukuran prates dan pascates. Berikut desain eksperimen yang digunakan: Tabel 1. Nonequivalent Control Group Design With Pretest and Posttest Kelompok Prates Perlakuan Pascates Tindak Lanjut Eksperimen Kontrol Keterangan: : Prates : Pascates : Tindak Lanjut : Perlakuan (Treatmen. : Tanda Perlakuan (Waiting Lis. Participants Subjek yang akan dijadikan bagian dari penelitian ini adalah Siswa SMP di Yogyakarta pelaku bullying yang memiliki SWB dalam kategori rendah sampai sedang dan bersedia mengikuti program. Baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen akan diberikan pengukuran awal . yaitu dua minggu sebelum terapi. Kemudian kelompok eksperimen akan diberikan perlakuan berupa REBT selama tiga hari. Sedangkan kelompok kontrol akan dijadikan waiting list artinya akan diberi perlakuan setelah serangkaian penelitian berakhir. Setelah program selesai, peserta akan diberikan pengukuran lagi . baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen yaitu setelah dua minggu terapi berakhir. Kurang lebih dua minggu setelah pascates akan diadakan tindak lanjut untuk mengetahui efek yang lebih lanjut terkait dampaik dari REBT. Prosedur Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan . ction researc. dengan jenis eksperimen, yang di desain sendiri oleh peneliti dan berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait yang disesuaikan dengan situasi sekolah. Modul rational emotive behavior therapy (REBT) dan Skala School well-being (Skala SWB) yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil pengembangan dari penelitian peneliti sebelumnya. Skala SWB digunakan untuk mengungkapkan school well-being, dengan mengacu pada empat aspek yaitu having . ondisi sekola. , loving . ubungan sosia. , being . emenuhan dir. , dan health . tatus Sedangkan REBT merupakan program untuk memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan pelaku bullying yang irasional agar pelaku bullying dapat mengembangkan diri, meningkatkan aktualisasi diri seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. REBT ini akan diberikan kepada kelompok eksperimen selama 3 hari dengan estimasi waktu 4 jam setiap hari. Awal pelaksanaan terapi akan diberikan materi terkait REBT dan mengajarkan kepada pelaku bullying secara aktif-direktif. Kemudian mengubah cara berpikir siswa dengan membuang cara berpikir yang tidak logis, kemudian hari ketiga memberikan tugas kepada pelaku bullying untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata. Page | 171 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA RESULT AND DISCUSSION Analisis data dilakukan untuk mempermudah dan menyederhanakan dalam menginterpretasikan data. Proses analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kuantitatif berupa analisis skala School Well Being. Analisis data secara kuantitatif dengan menggunakan Non-Parametric Uji Friedman, melalui bantuan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) 17. 0 realease for Windows. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui efektivitas Rational Emotive Behavioral Therapy dalam meningkatkan School Well-Being pada pelajar SMP Yogyakarta pada Pelaku Bullying, antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, yang dilakukan pengukuran pada saat prates, pascates dan tindak lanjut. Berikut disampaikan data terkait kategorisasi berdasarkan hasil prates, pascates dan tindak lanjut penelitian. Tabel 2. Kategorisasi Kategori Rendah Sedang Tinggi Keterangan: Aitem Nmax Nmin Xmax Xmin Mean (AA) SD (E) Rumus Norma X 0. 05, maka Ho diterima dan Ha ditolak Page | 175 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Jika Nilai Asymp. Sig. < 0. 05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hasil dari Uji Friedman menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dari dari data School Well-Being kelompok Eksperimen yang di ukur selama 3 kali ((Prates. Pascates dan Tindak Lanju. , dengan nilai N 2 . , n = . = 25. 529, p < 0. Data sebelumnya juga menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari prates (Md = . ke pascates (Md = . , serta peningkatan juga terjadi pada pengukuran tindak lanjut (Md = Artinya, pada penelitian ini Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan terjadi peningkatan School Well-Being pada kelompok Eksperimen setelah diberikan Rational Emotive Behavioral Therapy atau ada perbedaan School Well-Being pada kelompok Eksperimen antara ketiga pengukuran yaitu Prates. Pascates dan Tindak Lanjut. Berikut disampaikan data terkait uji hipotesis menggunakan uji friedman test pada kelompok kontrol: Tabl 11. Uji Friedman kelompok kontrol Descriptive Statistics Percentiles Mean Std. Deviation Minimum Maximum (Media. Prates Pascates Tindak Lanjut Dari Tabel 11. pertama ini dapat dijabarkan informasi data deskriptif penelitian untuk School Well-Being kelompok kontrol . Nilai N menunjukkan banyaknya jumlah responden atau subjek yang digunakan, yaitu sebanyak 13 orang baik saat prates, pascates maupun tindak lanjut. Mean atau nilai rata-rata dari masing-masing pengukuran yaitu prates 46, pascates sebesar 80. 77, dan tindak lanjut sebesar 83. Nilai Std. Deviation atau standar deviasi untuk prates sebesar 12. 96, pascates sebesar 12. 99 dan tindak lanjut sebesar 11. Nilai minimum School Well-Being yaitu saat prates sebesar 54, pascates sebesar 55 dan tindak lanjut sebesar 60. Nilai maksimum School WellBeing yaitu saat prates sebesar 98, pascates sebesar 99 dan tindak lanjut sebesar 100. Selain itu ada juga informasi tentang percentile median untuk masing-masing waktu Tabel 12. Mean School Well-Being dalam bentuk rangking Ranks Mean Rank Prates Pascates Tindak Lanjut Tabel 12. ini menunjukkan mean School Well-Being dalam bentuk rangking. Dimana School Well-Being pada kelompok kontrol yang paling besar berada pada waktu pengukuran tindak lanjut, sedangkan pada saat pascates terjadi penurunan dibandingkan Page | 176 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Tabel 13. Uji Friedman Ketiga Pengukuran Test Statisticsa Chi-Square Asymp. Sig. Friedman Test Tabel 13. ini merupakan tabel yang terpenting dari uji analisis hipotesis penelitian dengan menggunakan Uji Friedman. Sebelum mengambil keputusan hipotesis diterima atau ditolak, maka perlu melihat kembali Hipotesis penelitian ini, yaitu: Ho: Tidak ada perbedaan School Well-Being pada kelompok kontrol antara ketiga pengukuran yaitu Prates. Pascates dan Tindak Lanjut Ha: Ada perbedaan School Well-Being pada kelompok kontrol antara ketiga pengukuran yaitu Prates. Pascates dan Tindak Lanjut. Berdasarkan Hipotesis penelitian tersebut, maka dasar pengambilan keputusan dari analisis ini yaitu sebagai berikut: Jika Nilai Asymp. Sig. > 0. 05, maka Ho diterima dan Ha ditolak Jika Nilai Asymp. Sig. < 0. 05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hasil dari Uji Friedman menunjukkan bahwa ada perbedaan dari data School WellBeing kelompok Kontrol yang di ukur selama 3 kali (Prates. Pascates dan Tindak Lanju. , dengan nilai N2 . , n =. = 13. 378, p < 0. Data sebelumnya menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tetapi tidak signifikan dari prates (Md = . ke pascates (Md = . , sedangkan pada pengukuran tindak lanjut terjadi peningkatan yang signifikan (Md = . Artinya. Ha diterima dan Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan School Well-Being pada kelompok kontrol antara ketiga pengukuran yaitu Prates. Pascates dan Tindak Lanjut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisa School Well Being melalui Rational Emotive Behavior Therapy pada siswa. SMP di kota Yogyakarta. Selain itu, penelitian ini diharapkan menjadi dasar untuk materi ajar bimbingan dan konseling di sekolah jenjang menengah pertama kota Yogyakarta. Siswa yang melakukan bullying memiliki beberapa faktor penyebabnya yaitu tidak terima dengan keadaan diri sendiri, konflik keluarga, sering berpikir negatif, tidak puas dengan fasilitas sekolah, memiliki egoisme yang tinggi, kesadaran untuk meminta maaf dan memaafkan kurang, tidak memiliki rasa percaya diri, tidak tanggungjawab, sulit memahami diri sendiri, tidak memiliki pekerjaan yang bermanfaat, kurang kreatif dan pendendam (Evans, 2. Faktor tersebut sangat mempengaruhi menurunnya kesejahteraan di sekolah, yang dikenal dengan sebutan school wellbeing (SWB) pada siswa yang melakukan bullying (NaAoimah dan Pamuji, 2. SWB adalah kepuasan siswa untuk memenuhi kebutuhan dasar di sekolah yang meliputi having . ondisi sekola. , loving . ubungan sosia. , being . emenuhan dir. , dan health . tatus kesehata. (Faizah, 2. Pelaksanaan Pelatihan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) pada pelaku bullying di SMP Yogyakarta telah dilaksanakan selama 3 kali pertemuan yaitu pada tanggal 16, 17 dan 18 Juli 2021. Pertemuan dilakukan melalui media zoom meeting. Sebelum melakukan penelitian peneliti melakukan wawancara pendahuluan, kegiatan pra penelitian ini dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang biasanya dihadapi oleh siswa sebagai Page | 177 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA pelaku bullying yang terjadi selama kegiatan belajar mengajar di kelas. Pada tahap perencanaan diantaranya peneliti mempersiapkan materi dan modul penelitian dengan melakukan analisis masalah untuk mengetahui permasalahan yang ada di saat pembelajaran daring terkait pelaku bullying. Secara garis besar penelitian ini dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap implementasi dan tahap evaluasi. Selain itu, serangkaian prosedur REBT dengan melibatkan seorang psikolog yang berpengalaman di bidang pelatihan, memiliki keterampilan verbal dan nonverbal, memiliki keterampilan dalam beradaptasi dengan remaja dan memiliki kemampuan dalam menguasai informasi dan teknologi. Tahapan persiapan terdiri dari perencanaan dan simulasi pelatihan secara daring. Dimana pada tahan ini di identifikasi permasalahan awal, koordinasi dengan berbagai pihak, menyesuaikan modul pelatihan serta alat ukur, menjelaskan tahapan pelaksanaan pelatihan kepada psikolog dan co-fasilitator, simulasi pelatihan secara daring bersama cofasilitator, menyiapkan co-fasilitator, pembagian kelompok pelatihan serta menentukan zoom yang digunakan untuk platform atau media pelatihan. Tahapan implementasi berupa pelaksanaan pelatihan. REBT dilaksanakan tiga kali pertemuan selama empat jam setiap hari. Aspek yang ada dalam REBT yaitu having . ondisi sekola. , loving . ubungan sosia. , being . emenuhan dir. , dan health . tatus Metode yang digunakan berupa metode ceramah atau mini lecture, video, tugas rumah, praktek individual, diskusi dan tanya jawab. Pertemuan pertama merupakan pertemuan untuk pengenalan tentang kondisi sekolah yang nyaman, hubungan baik di sekolah, pemberian motivasi, pemberian tugas rumah. Pertemuan kedua merupakan pertemuan untuk praktek individual penggunaan praktek individual penggunaan REBT. Pada pertemuan 2 ini, didampingi juga co-fasilitator dengan pembagian setiap kelompok terdiri dari 2 kelompok yang terdiri dari 6-7 orang subjek dengan 1 co-fasilitator. Tahap evaluasi terdiri dari pengamatan, penilaian, analisa, penyimpulan dan laporan. Pengamatan dilakukan oleh dua co-fasilitator saat pelatihan. Evaluasi dilakukan dengan memberikan angket evaluasi reaksi dan pengetahuan . aat pasca tes dan tindak lanju. Berdasarkan hasil uji hipotesis pada kelompok eksperimen dari Uji Friedman menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dari data School Well-Being kelompok Eksperimen yang di ukur selama 3 kali yaitu Prates. Pascates dan Tindak Lanju. , dengan nilai N2 . , n = . = 25. 529, p < 0. Data sebelumnya juga menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari prates (Md = . ke pascates (Md = . , serta peningkatan juga terjadi pada pengukuran tindak lanjut (Md = . , sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan School Well-Being pada kelompok Eksperimen setelah diberikan Rational Emotive Behavioral Therapy atau ada perbedaan School Well-Being pada kelompok Eksperimen antara ketiga pengukuran yaitu Prates. Pascates dan Tindak Lanjut. Hasil penelitian ini, sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ahmed . , bahwa ada perbedaan School Well-Being pada siswa SMK yang signifikan antara ketiga pengukuran yaitu prates, pascates, dan tindak lanjut. Artinya ketiga pengukuran tersebut mengalami peningkatan yang dimulai dari prates, pascates maupun tindak lanjut setelah pemberian intervensi. Ditunjang juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Zakiyah. Humaedi dan Santoso . , bahwa ada perbedaan School Well-Being yang signifikan pada kelompok eksperimen dengan menggunakan tiga pengukuran yaitu prates, pascates dan follow up. Penelitian ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan guru bimbingan dan konseling setelah mengikuti pelatihan, intensitas membolos pada saat jam pelajaran daring berkurang . ebelum intervensi 25% siswa membolos pada jam pelajaran, setelah Page | 178 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA dilakukan intervensi 10% siswa yang membolo. , siswa mengerjakan tugas dan PR yang diberikan guru, dan siswa lebih memperhatikan ketika guru menjelaskan materi saat proses pelajaran secara daring berlangsung melalui zoom meeting. Selain itu 7 subjek sudah mulain mampu menerima dengan keadaan dirinya sendiri. Selain itu, 13 subjek penelitian sudah mulai berpikir positif dan mengetahui dampak bullying. Mereka mulai menerima keadaan dan fasilitas sekolah selama proses pembelajaran daring, mulai berani untuk mengungkapkan pendapat Ketika dalam forum. Selain itu, siswa sudah mampu untuk mengembangkan diri, meningkatkan aktualisasi diri seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif seperti mengikuti secara aktif kegiatan ahad ceria di asrama. Berdasarkan hasil uji hipotesis pada kelompok kontrol dari Uji Friedman menunjukkan bahwa ada perbedaan dari data School Well-Being kelompok Kontrol yang di ukur selama 3 kali (Prates. Pascates dan Tindak Lanju. , dengan nilai N 2 . , n =. = 378, p < 0. Data sebelumnya menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tetapi tidak signifikan dari prates (Md = . ke pascates (Md = . , sedangkan pada pengukuran tindak lanjut terjadi peningkatan yang signifikan (Md = . , sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan School Well-Being pada kelompok kontrol antara ketiga pengukuran yaitu Prates. Pascates dan Tindak Lanjut. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bimbingan dan konseling menyampaikan bahwa adanya terkontaminasi pada lingkungan subjek penelitian tinggal yaitu sama-sama berada dalam satu lingkungan sekolah dan asrama yang sama. Selain itu, adanya interaksi dan komunikasi yang intens antara kelompok eksperimen dan kontrol. Hasil dari pengujian hipotesis pada kelompok kontrol ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Helmi . , menyatakan bahwa terjadi peningkatan school wellbeing pada siswa SMA yang tidak signifikan antara ketiga pengukuran antara prates, pascates dan tindak lanjut. Penelitian yang dilakukan oleh Hasibuan dan Wulandari . menyatakan bahwa ada 4 hal yang mempengaruhi school well being yaitu faktor individual, tugas, kelompok dan organisassi. Faktor individual termasuk kepribadian, sikap, keterampilan, pengetahuan, pengalaman, biodata, self-efficacy, orientasi tujuan pembelajaran, dan kemampuan kepemimpinan (Kurniawan dan Sanyata, 2. Ditunjang juga dengan penelitian dari Diamantidis dan Chatzoglou . yang menyatakan bahwa ada 3 faktor yang berpengaruh pada school well being seseorang yaitu faktor lingkungan, tugas dan individu atau seseorang itu sendiri. Faktor lingkungan terdiri dari dukungan teman, budaya sekolah, iklim sekolah, dan dinamika lingkungan sekolah. Faktor tugas terdiri dari lingkungan sekolah . eskripsi tugas, prosedur dan lainny. , komunikasi antar teman, otonomi anggota atau kelompok dalam pertemanan (Konadi. Mudjirin dan Karneli, 2. Sedangkan faktor individu terdiri dari sikap proaktif, kemampuan beradaptasi, motivasi internal, komitmen, keterampilan yang feksibel dan level keterampilan. Selain itu, penelitian dari Susilowati . menunjukkan adanya peningkatan yang tidak signifikan antara ketiga pengukuran yaitu prates, pascates dan follow up. Hal ini terjadi dikarenakan adanya . carry-over effect . artisipan sudah terkontaminasi sama pengerjaan tes di post-test. dan cofounding factor . aktor pengganggu yg mempengaruhi followup jadi follow up nya menuru. seperti konsentrasi, komunikasi, dukungan teman dan iklim lingkunga. Page | 179 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA CONCLUSION Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti membagi pembahasan menjadi dua, yakni secara keseluruhan dan secara perdimensi. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan terdapat peran yang signifikan antara komitmen karier terhadap kesuksesan karier subjektif pada guru di Indonesia. Selain itu, jika dikaji secara perdimensi terdapat peran pada setiap dimensi komitmen karier terhadap dimensi kesuksesen karier Diantaranya adalah dimensi career identity terhadap seluruh dimensi kesuksesan karier subjektif. Dimensi career planning terhadap dimensi Meaningful work. Authenticity. Growth and Development dan Satisfaction. Selanjutnya dimensi career resilience terhadap dimensi Meaningful work. Influence. Authenticity, dan Growth and Development. Dari hasil penelitian membuktikan bahwa komitmen karier memiliki peran terhadap kesuksesan karier subjektif pada guru di Indonesia. Implikasi pada penelitian ini adalah diharapkan para guru dapat memiliki dan menumbukan komitmen karier terutama lebih terikat secara emosional terhadap kariernya, lebih berdedikasi dan terlibat dalam melakukan tugas dengan baik guna meningkatkan kesuksesan karier subjektifnya. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat mengumpulkan data menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara terhadap beberapa sampel agar fenomena yang terjadi di lapangan dapat terlihat secara keseluruhan dan lebih bersifat komprehensif. Selain itu diharapkan untuk melakukan penelitian yang sama kepada profesi lain selain guru dikarenakan penilaian kesuksesan karier subjektif dapat berubah dari waktu ke waktu pada seluruh fase karier. Penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan referensi dalam bidang keilmuan psikologi yang berkaitan dengan komitmen karier. Berdasarkan hasil, proses, dan hal-hal yang sangat memperngaruhi pelaksanaan intervensi, didapatkan beberapa hal sebagai berikut: . Ada perbedaan yang signifikan pada School Well-Being kelompok Eksperimen yang di ukur selama 3 kali yaitu Prates. Pascates dan Tindak Lanjut, sehingga Rational Emotive Behaviore Therapi terbukti efektif untuk memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan pelaku bullying yang irasional dan tidak logis menjadikan pandangan yang Selain itu, pelaku bullying dapat mengembangkan diri, meningkatkan aktualisasi diri seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. Ada perbedaan yang tidak signifikan pada School Well-Being kelompok kontrol yang diukur selama 3 kali yaitu prates, pascates dan tindak lanjut, hal ini disebabkan oleh carry-over effect . artisipan sudah terkontaminasi sama pengerjaan tes di post-tes. , terkontaminasi pada lingkungan subjek penelitian tinggal yaitu sama-sama berada dalam satu lingkungan sekolah dan asrama yang sama. Selain itu, adanya cofounding factor seperti interaksi dan komunikasi yang intens antara kelompok eksperimen dan kontrol. REFERENCES